Yang Terbaru
Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

HOW TO BE A KABUPATEN FILMMAKER: SEGRONJAL DEMI SEGRONJAL

Ini buat teman-teman yang tinggal di kabupaten yang ingin atau sedang berkarya film mungkin hal-hal berikut ini boleh jadi pertimbangan.



1. KONDISI PERFILMAN KABUPATEN
Dari pengamatan yang nggak metodis amat, biasanya perfilman di kabupaten itu dilakukan oleh amatir dan komunitas. Level kemajuan perfilman tiap kabupaten berbeda kondisi, tergantung pada kemajuan literasi orang-orangnya. Hal tipikal mengenai perfilman kabupaten biasanya:
- Mentok di jargon lokalitas. Tidak terbuka pada kemungkinan baru.
- Dibebani jargon menampilkan budaya dan kearifan lokal.
- Mandeg di distribusi. Abis diputar di komunitas, masuk harddisk selamanya.
Menurut saya, masalah perfilman kabupaten antara lain:
- Ketiadaan skema pendanaan eksternal yang konsisten. Biasanya filmmaker cenderung dibebani dengan hal-hal tipikal yang saya tulis di atas tadi.
- Ketersediaan talenta yang mumpuni. Meski banyak orang berbakat, nyatanya cukup sulit menemukan talent yang bersedia menyesuaikan dengan sistem kerja film yang standar. Dengan kata lain, maunya langsung syuting.
- Keberadaan skema distribusi yang minim. Belum ada entitas yang mengelola agar film diputar merata di wilayahnya sendiri. Kalau mau dibebankan di filmmaker, biasanya udah kecapekan duluan sehabis produksi.
- Banyak orang yang nggak ngerti soal ekosistem perfilman nasional dan pembuatnya nggak terhubung ke sana. Contohnya anak-anak SMA mentoknya ke FLS2N, jarang yang ke festival utama.
- Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai value budaya dari film. Pada nggak mau mbayar kalau dikasih tontonan. Ini mungkin sejak era Ken Arok adu pitik. Setahu saya nonton adu pitik jaman Ken Arok nggak bayar.
Dengan menyadari kondisi ini, maka anda bisa mengambil langkah-langkah yang perlu.
2. MELURUSKAN NIAT
Pertama-tama ketahui dulu tujuanmu berkarya, mau amatir apa profesional. Amatir artinya kamu cuman hobi aja, gak ada rencana terlalu jauh selain berkarya demi kepuasan batin. Profesional artinya kamu memiliki rencana bisnis yang diharapkan sustainable untuk pekerjaan jangka panjang. Kemungkinan kamu akan melibatkan banyak orang dengan kerjaan spesifik.
Untuk amatir. Jaman gini semua dimungkinkan dengan teknologi. Bikin film pakai HP doang juga udah dimungkinkan. Nggak ada kru? Bikin film yang dibintangi diri sendiri juga bisa. Untuk amatir namun lebih serius, ada baiknya membangun komunitas. Saya waktu pulang ke kabupaten dulu nggak ada teman bikin film. Lalu saya dan seorang teman membangun komunitas yang mengajari bikin film ke remaja-remaja SMA. Setelah karya pertama disusul lagi karya berikutnya yang membuat kita makin banyak belajar. Orang-orang yang dulu jadi murid lama-lama jadi kolaborator. Ko-Produser saya saat ini dulunya adalah murid saya.
Untuk profesional. Jangan dulu bayangin proyek-proyek besar di mana anda akan duduk di kursi sutradara dan peralatan syuting yang berat-berat. Jangan bayangin film anda diputer di bioskop-bioskop besar macam XXI atau CGV. Jika anda membayar kru dengan standar UMR, itu sudah langkah bagus menuju profesional. Juga ketika anda menghitung biaya makan saat syuting, transport dll.
Untuk jadi profesional di kabupaten sangat berat karena ekosistemnya belum ada. Makanya banyak orang kabupaten hijrah ke Jakarta. Kabar baiknya desentralisasi sekarang sedang berjalan. Aktivitas film mulai menyebar. Jogja adalah Mekkah baru untuk perfilman nasional. Purbalingga adalah the ndesopolitan of cinema. Makassar wah jangan ditanya ya. Banyak filmmaker hebat dari sana. Tapi gimana kalau kamu tinggal di kabupaten yang jalan propinsinya gronjal-gronjal kayak nasib percintaanku?
3. CARA JADI FILMMAKER KABUPATEN
Untuk masuk ke perfilman itu umumnya ada 3 cara:
- Sekolah film. Di sini kamu dapat privilege berupa jejaring. Kamu juga akan dapat akses ke teknologi standar industri. Lulus dari sini peluang kamu masuk industri agak lebih mudah karena modal jejaring itu. Kalaupun tidak lulus dan udah duluan diajak proyekan, kamu udah masuk circle.
- Orang dalam. Ada beberapa cerita orang yang gak sengaja masuk industri. Mungkin diajakin temennya, mungkin karena bapaknya produser atau jika kamu punya duit untuk masuk ke circle produksi tertentu.
- Festival. Ini cara merangkak dari bawah. Karyamu harus masuk festival sehingga mendapat kesempatan untuk masuk ke circle produksi. Festival adalah cara yang cukup fair namun sangat susah karena memilih yang terbaik di antara terbaik. Kamu bersaing dengan yang udah pro maupun orang-orang yang punya latar sekolah film.
Saya tidak sekolah film. Saya masuk ke perfilman lewat cara terakhir. Prosesnya ada selama 10 tahunan. Pertama bikin film 2006, masuk festival 2015, masuk profesional 2019.
4. MEMBENTUK EKOSISTEM DI KABUPATEN
Ekosistem artinya hadirnya sejumlah pihak yang berkepentingan dengan perfilman terutama kabupaten untuk bersinergi. Ekosistem yang sesungguhnya kompleks namun untuk level kabupaten kita bikin sederhana aja deh. 3 Ekosistem penting yang harus ada adalah:
1. Penonton. Penonton di sini idealnya yang juga sadar value dari film. Untuk itu perlu diedukasi. Edukasi bisa dilakukan oleh komunitas dengan menggelar diskusi selesai pemutaran.
2. Ruang putar. Idealnya ada pihak yang khusus menyediakan ruang putar entah di dalam ruang atau layar tancap keliling. Pembuat film tak selalu punya resource untuk ini. Kenyataannya sering dirangkap juga. Distribusi ideal kabupaten bisa dibagi berdasarkan satuan administratif. Jadi misal ketika film jadi, ada baiknya sudah direncanakan diputar di kecamatan mana saja.
3. Pembuat film. Ini meliputi sutradara, produser, talent dan kru. Di kabupaten biasanya hal ini dikerjakan secara komunal.
Kalau film cuma diputer di kabupaten, biasanya tipikalnya abis film diputer langsung ngendon di harddisk. Atau juga seringkali diupload di Yutub (ini ada plus minusnya). Bagaimana agar distribusi film hidup lebih lama?
Saatnya mikir sustainability.
5. SUSTAINABILITY DI KABUPATEN
Overview. Distribusi film independen saat ini masih berada pada tahap balita dan jumlah penonton film Indonesia belum cukup signifikan untuk membiayai balik modal yang dikeluarkan untuk produksi film independen. Untuk sustain di kabupaten nggak ada rumus pastinya. Tapi kalau mau ngeyel dengan tetap di kabupaten mungkin hal-hal ini bisa dipertimbangkan.
- Harus(nya) punya bisnis lain yang cukup buat hidup sehari-hari.
- Mengelola komunitas dan mengedukasinya.
- Berfestival dan berjejaring dengan filmmaker seindonesia.
- Mengkomersilkan intellectual property dari proyek film anda.
- Jadi bounty hunter. Ikut kompetisi film demi duit.
Ada juga hal-hal yang dilakukan beberapa orang untuk tetap berkarya namun saya tak menyarankan seperti mendekati pejabat yang mau nyaleg, terlalu bergantung pada kepedulian pemda dan semacamnya. Sebaiknya jangan berhutang untuk berkarya karena apa yang kita andalkan untuk membayarnya seringkali tidak pasti.

Ini buat teman-teman yang tinggal di kabupaten yang ingin atau sedang berkarya film mungkin hal-hal berikut ini boleh jadi pertimbangan.



1. KONDISI PERFILMAN KABUPATEN
Dari pengamatan yang nggak metodis amat, biasanya perfilman di kabupaten itu dilakukan oleh amatir dan komunitas. Level kemajuan perfilman tiap kabupaten berbeda kondisi, tergantung pada kemajuan literasi orang-orangnya. Hal tipikal mengenai perfilman kabupaten biasanya:
- Mentok di jargon lokalitas. Tidak terbuka pada kemungkinan baru.
- Dibebani jargon menampilkan budaya dan kearifan lokal.
- Mandeg di distribusi. Abis diputar di komunitas, masuk harddisk selamanya.
Menurut saya, masalah perfilman kabupaten antara lain:
- Ketiadaan skema pendanaan eksternal yang konsisten. Biasanya filmmaker cenderung dibebani dengan hal-hal tipikal yang saya tulis di atas tadi.
- Ketersediaan talenta yang mumpuni. Meski banyak orang berbakat, nyatanya cukup sulit menemukan talent yang bersedia menyesuaikan dengan sistem kerja film yang standar. Dengan kata lain, maunya langsung syuting.
- Keberadaan skema distribusi yang minim. Belum ada entitas yang mengelola agar film diputar merata di wilayahnya sendiri. Kalau mau dibebankan di filmmaker, biasanya udah kecapekan duluan sehabis produksi.
- Banyak orang yang nggak ngerti soal ekosistem perfilman nasional dan pembuatnya nggak terhubung ke sana. Contohnya anak-anak SMA mentoknya ke FLS2N, jarang yang ke festival utama.
- Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai value budaya dari film. Pada nggak mau mbayar kalau dikasih tontonan. Ini mungkin sejak era Ken Arok adu pitik. Setahu saya nonton adu pitik jaman Ken Arok nggak bayar.
Dengan menyadari kondisi ini, maka anda bisa mengambil langkah-langkah yang perlu.
2. MELURUSKAN NIAT
Pertama-tama ketahui dulu tujuanmu berkarya, mau amatir apa profesional. Amatir artinya kamu cuman hobi aja, gak ada rencana terlalu jauh selain berkarya demi kepuasan batin. Profesional artinya kamu memiliki rencana bisnis yang diharapkan sustainable untuk pekerjaan jangka panjang. Kemungkinan kamu akan melibatkan banyak orang dengan kerjaan spesifik.
Untuk amatir. Jaman gini semua dimungkinkan dengan teknologi. Bikin film pakai HP doang juga udah dimungkinkan. Nggak ada kru? Bikin film yang dibintangi diri sendiri juga bisa. Untuk amatir namun lebih serius, ada baiknya membangun komunitas. Saya waktu pulang ke kabupaten dulu nggak ada teman bikin film. Lalu saya dan seorang teman membangun komunitas yang mengajari bikin film ke remaja-remaja SMA. Setelah karya pertama disusul lagi karya berikutnya yang membuat kita makin banyak belajar. Orang-orang yang dulu jadi murid lama-lama jadi kolaborator. Ko-Produser saya saat ini dulunya adalah murid saya.
Untuk profesional. Jangan dulu bayangin proyek-proyek besar di mana anda akan duduk di kursi sutradara dan peralatan syuting yang berat-berat. Jangan bayangin film anda diputer di bioskop-bioskop besar macam XXI atau CGV. Jika anda membayar kru dengan standar UMR, itu sudah langkah bagus menuju profesional. Juga ketika anda menghitung biaya makan saat syuting, transport dll.
Untuk jadi profesional di kabupaten sangat berat karena ekosistemnya belum ada. Makanya banyak orang kabupaten hijrah ke Jakarta. Kabar baiknya desentralisasi sekarang sedang berjalan. Aktivitas film mulai menyebar. Jogja adalah Mekkah baru untuk perfilman nasional. Purbalingga adalah the ndesopolitan of cinema. Makassar wah jangan ditanya ya. Banyak filmmaker hebat dari sana. Tapi gimana kalau kamu tinggal di kabupaten yang jalan propinsinya gronjal-gronjal kayak nasib percintaanku?
3. CARA JADI FILMMAKER KABUPATEN
Untuk masuk ke perfilman itu umumnya ada 3 cara:
- Sekolah film. Di sini kamu dapat privilege berupa jejaring. Kamu juga akan dapat akses ke teknologi standar industri. Lulus dari sini peluang kamu masuk industri agak lebih mudah karena modal jejaring itu. Kalaupun tidak lulus dan udah duluan diajak proyekan, kamu udah masuk circle.
- Orang dalam. Ada beberapa cerita orang yang gak sengaja masuk industri. Mungkin diajakin temennya, mungkin karena bapaknya produser atau jika kamu punya duit untuk masuk ke circle produksi tertentu.
- Festival. Ini cara merangkak dari bawah. Karyamu harus masuk festival sehingga mendapat kesempatan untuk masuk ke circle produksi. Festival adalah cara yang cukup fair namun sangat susah karena memilih yang terbaik di antara terbaik. Kamu bersaing dengan yang udah pro maupun orang-orang yang punya latar sekolah film.
Saya tidak sekolah film. Saya masuk ke perfilman lewat cara terakhir. Prosesnya ada selama 10 tahunan. Pertama bikin film 2006, masuk festival 2015, masuk profesional 2019.
4. MEMBENTUK EKOSISTEM DI KABUPATEN
Ekosistem artinya hadirnya sejumlah pihak yang berkepentingan dengan perfilman terutama kabupaten untuk bersinergi. Ekosistem yang sesungguhnya kompleks namun untuk level kabupaten kita bikin sederhana aja deh. 3 Ekosistem penting yang harus ada adalah:
1. Penonton. Penonton di sini idealnya yang juga sadar value dari film. Untuk itu perlu diedukasi. Edukasi bisa dilakukan oleh komunitas dengan menggelar diskusi selesai pemutaran.
2. Ruang putar. Idealnya ada pihak yang khusus menyediakan ruang putar entah di dalam ruang atau layar tancap keliling. Pembuat film tak selalu punya resource untuk ini. Kenyataannya sering dirangkap juga. Distribusi ideal kabupaten bisa dibagi berdasarkan satuan administratif. Jadi misal ketika film jadi, ada baiknya sudah direncanakan diputar di kecamatan mana saja.
3. Pembuat film. Ini meliputi sutradara, produser, talent dan kru. Di kabupaten biasanya hal ini dikerjakan secara komunal.
Kalau film cuma diputer di kabupaten, biasanya tipikalnya abis film diputer langsung ngendon di harddisk. Atau juga seringkali diupload di Yutub (ini ada plus minusnya). Bagaimana agar distribusi film hidup lebih lama?
Saatnya mikir sustainability.
5. SUSTAINABILITY DI KABUPATEN
Overview. Distribusi film independen saat ini masih berada pada tahap balita dan jumlah penonton film Indonesia belum cukup signifikan untuk membiayai balik modal yang dikeluarkan untuk produksi film independen. Untuk sustain di kabupaten nggak ada rumus pastinya. Tapi kalau mau ngeyel dengan tetap di kabupaten mungkin hal-hal ini bisa dipertimbangkan.
- Harus(nya) punya bisnis lain yang cukup buat hidup sehari-hari.
- Mengelola komunitas dan mengedukasinya.
- Berfestival dan berjejaring dengan filmmaker seindonesia.
- Mengkomersilkan intellectual property dari proyek film anda.
- Jadi bounty hunter. Ikut kompetisi film demi duit.
Ada juga hal-hal yang dilakukan beberapa orang untuk tetap berkarya namun saya tak menyarankan seperti mendekati pejabat yang mau nyaleg, terlalu bergantung pada kepedulian pemda dan semacamnya. Sebaiknya jangan berhutang untuk berkarya karena apa yang kita andalkan untuk membayarnya seringkali tidak pasti.
Baca

ANXIETUS DOMICUPUS DI BALIK LAYAR (Catatan Sutradara)

MENCARI IDE

Dimulai sedari bulan oktober 2019, saya mengalami masalah dengan mood. Kondisi ini memuncak pada bulan Januari 2020. Mulai bulan Februari saya mulai kehilangan kesenangan pada hal-hal yang wajarnya sangat saya suka. Misalnya film. Saya tak begitu berselera menontonnya. Naluri saya mengatakan, jika film saja sudah tak menarik lagi, maka tak akan ada lagi hal lain yang bisa membangkitkan semangat saya. Sebelum ada himbauan karantina pun saya sudah mengurung diri berbulan-bulan. Sekuat hati saya paksakan tersenyum pada orang.

Kadang ada anak komunitas mampir, sedikit ngobrol ingin tahu saya lagi garap apa. Saya bilang, gak ada. Hari-hari saya isi dengan tidur dan latihan kanuragan. Tapi toh saya tetap gembrot karena banyak makan dan ngemil. Ketika ditanya apa saya mau bikin film lagi, saya bilang padanya: Mbok kamu produserin aku. Tentu dia bingung karena nggak punya duit. Saya bilang, "Sak nduwemu piro?" Bahkan kalo cuma ada 100 ribu aja saya mau jalan. Entah film macam apa itu nantinya.

Tiba-tiba saja, mulai ada keinginan bikin film lagi. Saya merindukan masa-masa syuting. Tahun lalu, sebelum pandemi dan sebelum depresi, kami bikin film yang seru. Kemudian saya merasa... Saya harus bikin film apapun agar semangat saya kembali pulih. Tapi film apa?

Pencarian ide dilakukan berdasarkan beberapa kriteria produksi sesuai kondisi yang selalu tim saya alami.

- Produksi maksimal 3 hari (terlalu banyak hari akan susah mengendalikan komitmen tim)
- Budget maksimal 500 ribu (masa pandemi susah cari uang, di mana pula nyarinya?)
- Kru maksimal 5 orang (kebanyakan kru saya sudah tinggal di luar kota)

Genre yang dipilih harus berdasar kriteria sesuai preferensi saya selaku produser:

- Monster movie durasi 5 - 10 menit (genre yang selalu ingin saya bikin)
- Harus bikin banyak orang suka (ini terlalu mengada-ada, saya tak bakat menyenangkan orang banyak)
- Membawa pesan relevan (tema pilihan: isu kesehatan mental dan internet)

Lalu hasil temuan ide:

- Dopamin dalam mie (karena saat depresi saya banyak makan mie instan)
- Tone film dark comedy (karena saya tak bisa bikin film yang di luar suasana hati)
- Genre ganti laga (kembali ke genre asal, lagipula bikin film monster tak ada dana cukup)

Bagaimana dengan biaya?

Ndilalah kok ada garapan yang kembali ngisi rekening. Alhamdulillah meskipun masih kurang kalo buat bikin film.

MENCARI PEMAIN

Saat ini komunitas film kami makin paceklik bakat. Kualitas anggota baru komunitas rata-rata menurun, kolaborator makin susah karena jarak dan kondisi baru mereka. Kolaborator lama ada yang pindah kota, menikah, berkembangbiak dan lain-lain sehingga agak susah mengikuti jadwal produksi. Pra produksi kami mulai akhir bulan Agustus 2020.


Kami dapatkan Angel, salah satu anggota baru, masih muda sekali baru kelas dua SMA. Dia tak nampak ada bakat aksi laga. Maka kami latih dia dalam waktu yang sangat singkat bahkan untuk aktor profesional, 6 hari! Saya hanya mengandalkan pengalaman dan sistem pelatihan yang saya ciptakan. Oh iya, selama masa mengurung diri saya menulis buku beladiri setebal 280an halaman agar otak tidak semakin depresif. Sebagian materi di dalamnya saya pakai untuk melatih koreografi film. Angel akan memerankan karakter utama, Dopaminus.

Pemain lainnya, Coklat udah langganan saya sejak 2010. Coklat baru menikah jadi udah lumayan sulit untuk mencari waktunya secara full. Paundra murid saya yang baru, langsung rekrut. Dia mahasiswa baru belum sibuk-sibuk amat. Produser eksekutif utamanya adalah Putera, karena saya punya hutang beberapa ratus ribu rupiah yang belum lunas. Putera baru lulus kuliah dan lagi nyari kerjaan. Ya udah saya todong jadi produser eksekutif ngerangkap kameramen. Urusan bayaran saya terapkan gali lubang tutup lubang dan untung dia setuju. Karena bikin VFX pedang sinar akan makan waktu, kami serahkan pada orang lain yakni Alif. Alif temannya Putera, suka edit-edit video dan robotika. Dia satu-satunya tim yang nggak pernah ketemu saya selama rangkaian produksi.

Tim kami total hanya 6 orang dan rencana syuting cuma punya waktu 3 hari. Budget membengkak, awalnya cuma 500an ribu belakangan dihitung film ini butuh setidaknya 5 jutaan. Ya udah hutang lagi... (sialan). Duit yang semula mau saya pakai mendanai film udah saya kerikiti secuil demi secuil untuk...beli cemilan. Saya beli cemilan macam Chitato atau wafer coklat, juga es krim nyaris tiap hari. Gila...Yah tapi demi kewarasan mental.

Sekarang dengan semakin mepetnya budget, kami peras lagi perencanaan pengeluaran biar makin irit. Lumayan... butuh 2 jutaan. 

MASA PRODUKSI

Bulan September 2020 produksi dimulai. Kami syuting di lingkungan sekitar, nggak pakai ijin karena toh receh sekali production valuenya. Sampai hari H ada satu peran yang belum fix dan terpaksa saya gantikan yakni karakter Endorfinus. Saya pakai kostum dari kelambu dan sarung bantal. Di post pro tampak memalukan, maka saya hapus semua frame berisi gambar saya. Saya ganti dengan puppet effect boneka gurita karet dalam robot kaleng. Tak ada waktu bikin animasi yang halus maka saya animasikan apa adanya.






Adegan laga, meski belum sempurna karena latihan cuma 6 hari, berjalan cukup lancar kecuali celana stuntfighter robek karena dipakai salto. Syuting berjalan sangat efektif dan ditonton anak-anak yang pulang mengaji dari langgar. Tetangga kami heran melihat ada orang pake kostum silat antah berantah. Produksi ini kadang saya rasa terlalu cepat sampai tak ada waktu buat merindukan suasana syuting.

POST PRODUKSI

Masih di bulan September 2020 post produksi dijalankan. Saat semua sudah bisa santai, saya sibuk di laptop siang malam. Kebetulan semua kerjaan saya (ngelatih, ngursusin dll) terhenti selama pandemi jadi saya bisa full time ngerjain film. Saya melakukan rotoscoping sendirian, memperbaiki gambar-gambar yang error dan mengutak-atik secara digital kekurangan yang ada. 


Animasi saya lakukan manual pakai aplikasi gratisan dari Playstore. Bukan aplikasi animasi, melainkan aplikasi ilustrasi digital. Ilustrasi itu nanti saya animasikan pakai software editing, bukan software animasi. Karena waktu yang terbatas, tak mungkin menganimasikan full frame. Jadi saya terapkan teknik dari anime Jepang, dua tiga gambar bisa ngisi beberapa sekuens frame.

Musik saya compose sendiri pakai digital sampling dan rekaman akustik. Kecuali musik penutup, saya ambil komposisi klasik yang saya aransemen ulang. Angel mengisi vokal, saya main musik akustiknya. Semua dilakukan secara remote dari rumah masing-masing.

DISTRIBUSI

Rencana awalnya film ini akan dibarengkan dengan peluncuran komik saya namun ternyata banyak kendalanya. Komik itu masih belum rampung sedangkan filmnya sudah beredar di festival. Pada bulan November 2020, Anxietus Domicupus masuk final di HelloFest ke 14 dan juga menyabet beberapa nominasi di Genflix Film Festival. Saya pribadi nggak berharap menang, karena itu film buat menanggulangi depresi saja, bukan dirancang untuk menang. Tujuan umum saya adalah selain ngobati psikis saya, juga agar film itu ditonton lebih banyak orang setidaknya penikmat film independen.

Kalau anda denger judulnya, Anxietus Domicupus (dibaca Angsietus Domikapus) sudah menyiratkan kandungan tematiknya: anxiety dan mie instan. Nggak ada hubungannya. Tapi selama anxiety saya banyak banget makan mie instan terutama yang cup noodles. Kebiasaan makan junk food rada berkurang setelah saya mulai latihan kanuragan lebih intens. Pengalaman itu saya bukukan tersendiri.


TENTANG FILM ANXIETUS DOMICUPUS

Dopaminus, seorang gadis pengidap kecemasan yang tinggal di sarkofagus terbang mendapat job mengantar barang ke Endorfinus, alien yang tinggal di planet mini. Di sana Dopaminus dibayang-bayangi oleh Rampokanus, anggota sekte berhaluan garis keras. Dopaminus menghajar mereka dalam pertarungan pedang. Sementara itu Dopaminus mencari jalan untuk meredakan kecemasannya.

Ini adalah sebuah tribute receh untuk Pink Floyd, Spaghetti Western, Star Wars, film Tampopo, film Cowboy Bebop dengan bumbu sedikit ludruk.
MENCARI IDE

Dimulai sedari bulan oktober 2019, saya mengalami masalah dengan mood. Kondisi ini memuncak pada bulan Januari 2020. Mulai bulan Februari saya mulai kehilangan kesenangan pada hal-hal yang wajarnya sangat saya suka. Misalnya film. Saya tak begitu berselera menontonnya. Naluri saya mengatakan, jika film saja sudah tak menarik lagi, maka tak akan ada lagi hal lain yang bisa membangkitkan semangat saya. Sebelum ada himbauan karantina pun saya sudah mengurung diri berbulan-bulan. Sekuat hati saya paksakan tersenyum pada orang.

Kadang ada anak komunitas mampir, sedikit ngobrol ingin tahu saya lagi garap apa. Saya bilang, gak ada. Hari-hari saya isi dengan tidur dan latihan kanuragan. Tapi toh saya tetap gembrot karena banyak makan dan ngemil. Ketika ditanya apa saya mau bikin film lagi, saya bilang padanya: Mbok kamu produserin aku. Tentu dia bingung karena nggak punya duit. Saya bilang, "Sak nduwemu piro?" Bahkan kalo cuma ada 100 ribu aja saya mau jalan. Entah film macam apa itu nantinya.

Tiba-tiba saja, mulai ada keinginan bikin film lagi. Saya merindukan masa-masa syuting. Tahun lalu, sebelum pandemi dan sebelum depresi, kami bikin film yang seru. Kemudian saya merasa... Saya harus bikin film apapun agar semangat saya kembali pulih. Tapi film apa?

Pencarian ide dilakukan berdasarkan beberapa kriteria produksi sesuai kondisi yang selalu tim saya alami.

- Produksi maksimal 3 hari (terlalu banyak hari akan susah mengendalikan komitmen tim)
- Budget maksimal 500 ribu (masa pandemi susah cari uang, di mana pula nyarinya?)
- Kru maksimal 5 orang (kebanyakan kru saya sudah tinggal di luar kota)

Genre yang dipilih harus berdasar kriteria sesuai preferensi saya selaku produser:

- Monster movie durasi 5 - 10 menit (genre yang selalu ingin saya bikin)
- Harus bikin banyak orang suka (ini terlalu mengada-ada, saya tak bakat menyenangkan orang banyak)
- Membawa pesan relevan (tema pilihan: isu kesehatan mental dan internet)

Lalu hasil temuan ide:

- Dopamin dalam mie (karena saat depresi saya banyak makan mie instan)
- Tone film dark comedy (karena saya tak bisa bikin film yang di luar suasana hati)
- Genre ganti laga (kembali ke genre asal, lagipula bikin film monster tak ada dana cukup)

Bagaimana dengan biaya?

Ndilalah kok ada garapan yang kembali ngisi rekening. Alhamdulillah meskipun masih kurang kalo buat bikin film.

MENCARI PEMAIN

Saat ini komunitas film kami makin paceklik bakat. Kualitas anggota baru komunitas rata-rata menurun, kolaborator makin susah karena jarak dan kondisi baru mereka. Kolaborator lama ada yang pindah kota, menikah, berkembangbiak dan lain-lain sehingga agak susah mengikuti jadwal produksi. Pra produksi kami mulai akhir bulan Agustus 2020.


Kami dapatkan Angel, salah satu anggota baru, masih muda sekali baru kelas dua SMA. Dia tak nampak ada bakat aksi laga. Maka kami latih dia dalam waktu yang sangat singkat bahkan untuk aktor profesional, 6 hari! Saya hanya mengandalkan pengalaman dan sistem pelatihan yang saya ciptakan. Oh iya, selama masa mengurung diri saya menulis buku beladiri setebal 280an halaman agar otak tidak semakin depresif. Sebagian materi di dalamnya saya pakai untuk melatih koreografi film. Angel akan memerankan karakter utama, Dopaminus.

Pemain lainnya, Coklat udah langganan saya sejak 2010. Coklat baru menikah jadi udah lumayan sulit untuk mencari waktunya secara full. Paundra murid saya yang baru, langsung rekrut. Dia mahasiswa baru belum sibuk-sibuk amat. Produser eksekutif utamanya adalah Putera, karena saya punya hutang beberapa ratus ribu rupiah yang belum lunas. Putera baru lulus kuliah dan lagi nyari kerjaan. Ya udah saya todong jadi produser eksekutif ngerangkap kameramen. Urusan bayaran saya terapkan gali lubang tutup lubang dan untung dia setuju. Karena bikin VFX pedang sinar akan makan waktu, kami serahkan pada orang lain yakni Alif. Alif temannya Putera, suka edit-edit video dan robotika. Dia satu-satunya tim yang nggak pernah ketemu saya selama rangkaian produksi.

Tim kami total hanya 6 orang dan rencana syuting cuma punya waktu 3 hari. Budget membengkak, awalnya cuma 500an ribu belakangan dihitung film ini butuh setidaknya 5 jutaan. Ya udah hutang lagi... (sialan). Duit yang semula mau saya pakai mendanai film udah saya kerikiti secuil demi secuil untuk...beli cemilan. Saya beli cemilan macam Chitato atau wafer coklat, juga es krim nyaris tiap hari. Gila...Yah tapi demi kewarasan mental.

Sekarang dengan semakin mepetnya budget, kami peras lagi perencanaan pengeluaran biar makin irit. Lumayan... butuh 2 jutaan. 

MASA PRODUKSI

Bulan September 2020 produksi dimulai. Kami syuting di lingkungan sekitar, nggak pakai ijin karena toh receh sekali production valuenya. Sampai hari H ada satu peran yang belum fix dan terpaksa saya gantikan yakni karakter Endorfinus. Saya pakai kostum dari kelambu dan sarung bantal. Di post pro tampak memalukan, maka saya hapus semua frame berisi gambar saya. Saya ganti dengan puppet effect boneka gurita karet dalam robot kaleng. Tak ada waktu bikin animasi yang halus maka saya animasikan apa adanya.






Adegan laga, meski belum sempurna karena latihan cuma 6 hari, berjalan cukup lancar kecuali celana stuntfighter robek karena dipakai salto. Syuting berjalan sangat efektif dan ditonton anak-anak yang pulang mengaji dari langgar. Tetangga kami heran melihat ada orang pake kostum silat antah berantah. Produksi ini kadang saya rasa terlalu cepat sampai tak ada waktu buat merindukan suasana syuting.

POST PRODUKSI

Masih di bulan September 2020 post produksi dijalankan. Saat semua sudah bisa santai, saya sibuk di laptop siang malam. Kebetulan semua kerjaan saya (ngelatih, ngursusin dll) terhenti selama pandemi jadi saya bisa full time ngerjain film. Saya melakukan rotoscoping sendirian, memperbaiki gambar-gambar yang error dan mengutak-atik secara digital kekurangan yang ada. 


Animasi saya lakukan manual pakai aplikasi gratisan dari Playstore. Bukan aplikasi animasi, melainkan aplikasi ilustrasi digital. Ilustrasi itu nanti saya animasikan pakai software editing, bukan software animasi. Karena waktu yang terbatas, tak mungkin menganimasikan full frame. Jadi saya terapkan teknik dari anime Jepang, dua tiga gambar bisa ngisi beberapa sekuens frame.

Musik saya compose sendiri pakai digital sampling dan rekaman akustik. Kecuali musik penutup, saya ambil komposisi klasik yang saya aransemen ulang. Angel mengisi vokal, saya main musik akustiknya. Semua dilakukan secara remote dari rumah masing-masing.

DISTRIBUSI

Rencana awalnya film ini akan dibarengkan dengan peluncuran komik saya namun ternyata banyak kendalanya. Komik itu masih belum rampung sedangkan filmnya sudah beredar di festival. Pada bulan November 2020, Anxietus Domicupus masuk final di HelloFest ke 14 dan juga menyabet beberapa nominasi di Genflix Film Festival. Saya pribadi nggak berharap menang, karena itu film buat menanggulangi depresi saja, bukan dirancang untuk menang. Tujuan umum saya adalah selain ngobati psikis saya, juga agar film itu ditonton lebih banyak orang setidaknya penikmat film independen.

Kalau anda denger judulnya, Anxietus Domicupus (dibaca Angsietus Domikapus) sudah menyiratkan kandungan tematiknya: anxiety dan mie instan. Nggak ada hubungannya. Tapi selama anxiety saya banyak banget makan mie instan terutama yang cup noodles. Kebiasaan makan junk food rada berkurang setelah saya mulai latihan kanuragan lebih intens. Pengalaman itu saya bukukan tersendiri.


TENTANG FILM ANXIETUS DOMICUPUS

Dopaminus, seorang gadis pengidap kecemasan yang tinggal di sarkofagus terbang mendapat job mengantar barang ke Endorfinus, alien yang tinggal di planet mini. Di sana Dopaminus dibayang-bayangi oleh Rampokanus, anggota sekte berhaluan garis keras. Dopaminus menghajar mereka dalam pertarungan pedang. Sementara itu Dopaminus mencari jalan untuk meredakan kecemasannya.

Ini adalah sebuah tribute receh untuk Pink Floyd, Spaghetti Western, Star Wars, film Tampopo, film Cowboy Bebop dengan bumbu sedikit ludruk.
Baca

FILM PENDEK NGGAK ADA NILAINYA

Pada bulan puasa tahun 2019 lalu, untuk pertamakalinya Javora Studio memproduksi film pendek live action. Tentu bukan benar-benar yang pertama karena sebelumnya kami memakai brand Javora Pictures (buat gagah-gagahan saja). Film itu dibikin selama 3 hari dan kami benar-benar belajar banyak hal dari produksi itu.
Film pendek adalah karya yang lebih sulit dijual daripada komik. Jualan komik perhitungan untung ruginya cukup sederhana. Anggota ekosistem yang diperlukan untuk menyokongnya juga nggak banyak banget. Asal pembaca suka dan mau, kita tinggal mengurus bagaimana produk bisa terwujud dan dikemas, lalu kirim ke pembeli. Biaya yang dihitung cuma ongkos produksi, biaya otak dan keringat, ongkos kemasan dan kirim. Film lebih ribet karena ekosistemnya lebih luas.
Film agar "laku" perlu eksposur tertentu di pasar. Untuk itu perlu ruang pamer. Jika disukai, tak semudah itu menjual copy dari kontennya. Kenyataannya cukup jarang orang mau keluar uang untuk membeli satu copy film pendek, yang mana lazimnya mudah ditonton via internet. Akibatnya film pendek baru punya value ketika dipajang dalam kumpulan film-film lain dalam platform yang sering dikunjungi. Di sini kita bersaing dengan film-film lain yang lebih menarik perhatian. Selesai nonton apa yang terjadi? Terlupakan begitu saja.
Bandingkan dengan komik. Meski selesai baca tak ingin baca lagi, setidaknya ia berubah value jadi benda koleksi. Mudah mengaksesnya sewaktu-waktu. Kita punya pengalaman yang fisik. Sedangkan film lebih rumit. Copy dari film hanya bisa ditonton dengan alat yang memiliki rentang tertentu berkaitan dengan teknologi, sebelum akhirnya obsolete. Jadi seakan film pendek nggak ada nilainya dibanding dengan karya lain yang lebih fisikal.
Jika komik cukup memerlukan satu platform semacam medsos untuk membuat eksposur ke calon penggemar, film menempuh jalan rada panjang. Sekalipun mudah saja mengunggah di platform online, untuk membuatnya bernilai ia kadang perlu nongol di festival dulu. Perlu dianggap layak atau penting sehingga baru "layak" dijual. Lebih repot lagi bahwa film memerlukan biaya lebih daripada bikin komik.
Tentu ini bukan soal mana medium karya yang lebih baik atau unggul. Kondisi yang musti diterima ini memerlukan banyak terobosan agar tetap bertahan di masa mendatang.
Film yang kami bikin tahun lalu ini telah menjalani kisah yang bermakna bagi kami pembuatnya. Sempat ditolak oleh sebuah festival besar, lalu masuk jadi finalis di festival nasional yang lain lagi dan kemudian dilirik oleh sebuah platform online besar nasional memberikan banyak pelajaran pada kami soal industri kreatif.


Tentu saja. kami bukan production house bermodal besar. Anda lihat, alat-alat yang kami pakai ini bukan alat profesional. Sebagai brand produksi kelas rumahan perjuangan masih cukup panjang.
Pada bulan puasa tahun 2019 lalu, untuk pertamakalinya Javora Studio memproduksi film pendek live action. Tentu bukan benar-benar yang pertama karena sebelumnya kami memakai brand Javora Pictures (buat gagah-gagahan saja). Film itu dibikin selama 3 hari dan kami benar-benar belajar banyak hal dari produksi itu.
Film pendek adalah karya yang lebih sulit dijual daripada komik. Jualan komik perhitungan untung ruginya cukup sederhana. Anggota ekosistem yang diperlukan untuk menyokongnya juga nggak banyak banget. Asal pembaca suka dan mau, kita tinggal mengurus bagaimana produk bisa terwujud dan dikemas, lalu kirim ke pembeli. Biaya yang dihitung cuma ongkos produksi, biaya otak dan keringat, ongkos kemasan dan kirim. Film lebih ribet karena ekosistemnya lebih luas.
Film agar "laku" perlu eksposur tertentu di pasar. Untuk itu perlu ruang pamer. Jika disukai, tak semudah itu menjual copy dari kontennya. Kenyataannya cukup jarang orang mau keluar uang untuk membeli satu copy film pendek, yang mana lazimnya mudah ditonton via internet. Akibatnya film pendek baru punya value ketika dipajang dalam kumpulan film-film lain dalam platform yang sering dikunjungi. Di sini kita bersaing dengan film-film lain yang lebih menarik perhatian. Selesai nonton apa yang terjadi? Terlupakan begitu saja.
Bandingkan dengan komik. Meski selesai baca tak ingin baca lagi, setidaknya ia berubah value jadi benda koleksi. Mudah mengaksesnya sewaktu-waktu. Kita punya pengalaman yang fisik. Sedangkan film lebih rumit. Copy dari film hanya bisa ditonton dengan alat yang memiliki rentang tertentu berkaitan dengan teknologi, sebelum akhirnya obsolete. Jadi seakan film pendek nggak ada nilainya dibanding dengan karya lain yang lebih fisikal.
Jika komik cukup memerlukan satu platform semacam medsos untuk membuat eksposur ke calon penggemar, film menempuh jalan rada panjang. Sekalipun mudah saja mengunggah di platform online, untuk membuatnya bernilai ia kadang perlu nongol di festival dulu. Perlu dianggap layak atau penting sehingga baru "layak" dijual. Lebih repot lagi bahwa film memerlukan biaya lebih daripada bikin komik.
Tentu ini bukan soal mana medium karya yang lebih baik atau unggul. Kondisi yang musti diterima ini memerlukan banyak terobosan agar tetap bertahan di masa mendatang.
Film yang kami bikin tahun lalu ini telah menjalani kisah yang bermakna bagi kami pembuatnya. Sempat ditolak oleh sebuah festival besar, lalu masuk jadi finalis di festival nasional yang lain lagi dan kemudian dilirik oleh sebuah platform online besar nasional memberikan banyak pelajaran pada kami soal industri kreatif.


Tentu saja. kami bukan production house bermodal besar. Anda lihat, alat-alat yang kami pakai ini bukan alat profesional. Sebagai brand produksi kelas rumahan perjuangan masih cukup panjang.
Baca

CARA DAPET DUIT DARI BIKIN KOMIK, FILM, ANIMASI DLL.

Saya akan membahas cara nyari duit dari bikin karya. Berdasar pengalaman saya baik yang gagal atau yang agak berhasil. Tulisan ini juga merupakan sebuah revisi dari postingan lama saya yang ini: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/10/hidup-dari-dan-menghidupi-ekosistem.html

Gambar 1: Diagram ekosistem kreatif yang menyeluruh, tapi versi sederhana. Sederhana aja udah ribet ya?

Gambar 2: Diagram yang fokus pada pola distribusi online. Saya nyari duit dari pola yang ini.

Gambar 3: Diagram yang fokus pada pola distribusi offline. Saya masih nyoba dan belum berhasil.

Gambar 4: Diagram yang fokus pada peran komunitas, edukator dll. Saya juga berada di bidang ini yakni sebagai pembina komunitas/klub.

8 ELEMEN DASAR EKOSISTEM (VERSI GUGUN):

1. KREATOR: Siapapun yang berkarya mewujudkan film secara LANGSUNG baik individu maupun kelompok usaha. Jadi bisa production house, klub, komunitas, individu, perseroan terbatas dll.
2. PLATFORM ONLINE: Merupakan wadah atau media pertemuan karya dengan audiens yang sifatnya ONLINE. Jadi kreator mengunggah karyanya ke platform ini baru nyampe ke audiens. Misalnya Youtube, Facebook, Instagram dll. Platform ini ada yang numpang (Youtube dkk.) ada yang bikin sendiri (kalo punya duit buat bayar programmer).
3. PLATFORM OFFLINE: Wadah pertemuan karya dengan audiens yang sifatnya OFFLINE. Termasuk di dalamnya TOKO (yang jual karya kreator), BIOSKOP (untuk karya film), ruang putar alternatif, pameran, festival, pemutaran dll. Di sini karya dan audiens berjumpa secara fisik. Antara kreator dan platform ini seringkali ada job perantara yakni DISTRIBUTOR. Indie biasanya distribusi ditangani sendiri.
4. AUDIENS: Mereka yang menjadi target pemasaran karya. Dalam hal ini terutama yang berdaya beli. Meski begitu yang tidak membeli pun punya peran sebagai promotor tak langsung.
Catatan: 4 pihak di atasi adalah elemen dasar ekosistem.
5. PENGIKLAN: Ini untuk yang tipe distribusinya lebih gede. Pengiklan adalah pemilik produk yang butuh eksposure di platform yang kita tempati. Produknya tak selalu berhubungan dengan konten yang kita buat. Film The Raid dulu iklannya minyak goreng.
6. PENDANA/INVESTOR: Pihak yang cari untung dari mendanai kreator berkarya. Keuntungan (lebih pasnya saya sebut VALUE) bisa berupa prestige dan material (modal kembali).
7. PENDIDIK, PEMBELAJAR DAN PENGAMAT: Saya belum nemu istilah yang pas. Ini istilah saya untuk para non kreator yang lebih berperan dalam pendidikan, pengulasan, dan pembelajaran kreatif. Posisi nomor 7 ini penting dalam meluaskan apresiasi sebuah konten.
8. PITCHING FORUM: Adalah forum yang mempertemukan secara formal para pendana dengan kreator. Forum ini tidak memberikan dana melainkan memberikan kesempatan para kreator dan pendana untuk mewujudkan konten.

GIMANA CARA DAPET DUITNYA?

DISTRIBUSI ONLINE:
Perhatikan bagian yang berwarna hijau. Itu adalah jalur di mana ada potensi uang. Ya tergantung kalo laku ya. Platform kayak Youtube dan Facebook saat ini ada revenue bagi postingan yang eligible. Saya belum pernah dapet duit dari cara ini. Saya dapet duitnya adalah dengan jualan barang yang relate sama konten postingan kita. Contohnya komik-komik di Javora Studio, beberapa dijual dalam versi cetak.

Dijual via pre oder

Apakah selalu laku? Ya enggak, Bro. Macam dagang di pasar gitu, ada yang beli ada yang enggak.
Untuk distribusi online yang paling susah adalah ngumpulin jumlah exposure konten kita yang terwujud dalam LIKES, FOLLOW dan SUBSCRIBE. Asumsi kita, katakanlah dari 100 orang follower maka kira-kira berapa kah yang berdaya beli. Kalo pengalaman saya dari 1000 follower rata-rata 10 orang yang bakal beli beneran hehehe. Edyan to.
Ingat tak semua follower berdaya beli atau mau beli. Jadi pinter-pinter kita aja bikin konten yang bisa dirupabendakan jadi barang jualan.

DISTRIBUSI OFFLINE:
Ini tipe jualan yang lebih langsung. Tapi ya kudu lewat platform dulu. Karena baik online maupun offline biasanya susah untuk jual langsung. Kreator indie dapet duit dari selain ticketing (jika karyanya berupa tontonan) juga merchandising. Kaos adalah yang paling sering dijual.
Cara distribusi ini susah berhasil kalo belum terkenal atau dipromosikan oleh yang udah terkenal duluan. Saya belum berhasil menjalani pola distribusi ini maybe because I'm "dudusoposopo". But I'll keep trying...bodo amat.

PERAN KOMUNITAS/KLUB DLL.
Kebetulan saya juga ngurusin dua klub film sekolah serta pernah jadi koordinator komunitas film lokal. Komunitas kami lumayan terekspose setelah masuk festival.
Basically susah bisa dapat duit dari komunitas, kecuali kalo berbentuk badan legal. Komunitas saya non legal. Duit bisa berupa bantuan dari lembaga pemerintah, bisa juga dari bagi hasil menang lomba. Untuk bisnis ini bukan hal yang cocok.
Peran komunitas adalah lebih ke media edukasi. Sasaran edukasi tak cuma anggota namun bisa juga masyarakat luas yakni dengan menyelenggarakan acara pameran, konser dan pemutaran.
Value atau untung yang didapat kreator adalah EXPOSURE atas konten. Ini bisa bersifat promosional. Namun bisa juga berupa kritik pedas. Komunitas lebih ke bidang peningkatan literasi. Kreator bisa mendapatkan inspirasi dan masukan dari sini. Duit? Jangan mikir itu dulu.

TENTANG SEKOLAH SENI
Biar diagramnya nggak ribet, sekolah seni dan variannya termasuk kursus dan workshop saya masukin juga ke golongan nomor 7 ini. Perannya adalah menyediakan pasokan pekerja yang butuh skill. Berlaku untuk kreator yang udah masuk industri skala besar. Kalo indie sih biasanya ya ditangani sendiri, anggota komunitas dididik lalu diajak kolaborasi dan melengkapi kebutuhan tim atau kru.
Sekolah punya peran lebih terstruktur dalam mendidik para pelaku industri kreatif. Saya nggak sekolah jadi gak bisa kasih ulasan banyak. Bisa dikata I created my own school. Komunitas dan klub seringkali berfungsi sebagai kelas.
Sekolah ini dapet duit ya dari iuran muridnya. Kalo saya dapet uang transport dari sekolah yang ada ekskul filmnya. Alih-alih jadi sumber duit, sekolah fungsinya lebih ke bakti sosial. Don't hope more than that. Kalo mau dapet duit sedikit lebih banyak ya bikin workshop. Syaratnya anda musti udah dikenal atau punya kompetensi. Saya kadang diundang ngasih workshop di institusi lokal.

Ngasih workshop
Begitulah hasil belajar saya sejauh ini. Maaf kalo judulnya click bait. Hai pembaca dewasa or adult, boleh follow Javora Studio, awas itu kontennya banyak yang NSFW tapi bukan murni porno... hanya nyrempet seperlunya.
Saya akan membahas cara nyari duit dari bikin karya. Berdasar pengalaman saya baik yang gagal atau yang agak berhasil. Tulisan ini juga merupakan sebuah revisi dari postingan lama saya yang ini: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/10/hidup-dari-dan-menghidupi-ekosistem.html

Gambar 1: Diagram ekosistem kreatif yang menyeluruh, tapi versi sederhana. Sederhana aja udah ribet ya?

Gambar 2: Diagram yang fokus pada pola distribusi online. Saya nyari duit dari pola yang ini.

Gambar 3: Diagram yang fokus pada pola distribusi offline. Saya masih nyoba dan belum berhasil.

Gambar 4: Diagram yang fokus pada peran komunitas, edukator dll. Saya juga berada di bidang ini yakni sebagai pembina komunitas/klub.

8 ELEMEN DASAR EKOSISTEM (VERSI GUGUN):

1. KREATOR: Siapapun yang berkarya mewujudkan film secara LANGSUNG baik individu maupun kelompok usaha. Jadi bisa production house, klub, komunitas, individu, perseroan terbatas dll.
2. PLATFORM ONLINE: Merupakan wadah atau media pertemuan karya dengan audiens yang sifatnya ONLINE. Jadi kreator mengunggah karyanya ke platform ini baru nyampe ke audiens. Misalnya Youtube, Facebook, Instagram dll. Platform ini ada yang numpang (Youtube dkk.) ada yang bikin sendiri (kalo punya duit buat bayar programmer).
3. PLATFORM OFFLINE: Wadah pertemuan karya dengan audiens yang sifatnya OFFLINE. Termasuk di dalamnya TOKO (yang jual karya kreator), BIOSKOP (untuk karya film), ruang putar alternatif, pameran, festival, pemutaran dll. Di sini karya dan audiens berjumpa secara fisik. Antara kreator dan platform ini seringkali ada job perantara yakni DISTRIBUTOR. Indie biasanya distribusi ditangani sendiri.
4. AUDIENS: Mereka yang menjadi target pemasaran karya. Dalam hal ini terutama yang berdaya beli. Meski begitu yang tidak membeli pun punya peran sebagai promotor tak langsung.
Catatan: 4 pihak di atasi adalah elemen dasar ekosistem.
5. PENGIKLAN: Ini untuk yang tipe distribusinya lebih gede. Pengiklan adalah pemilik produk yang butuh eksposure di platform yang kita tempati. Produknya tak selalu berhubungan dengan konten yang kita buat. Film The Raid dulu iklannya minyak goreng.
6. PENDANA/INVESTOR: Pihak yang cari untung dari mendanai kreator berkarya. Keuntungan (lebih pasnya saya sebut VALUE) bisa berupa prestige dan material (modal kembali).
7. PENDIDIK, PEMBELAJAR DAN PENGAMAT: Saya belum nemu istilah yang pas. Ini istilah saya untuk para non kreator yang lebih berperan dalam pendidikan, pengulasan, dan pembelajaran kreatif. Posisi nomor 7 ini penting dalam meluaskan apresiasi sebuah konten.
8. PITCHING FORUM: Adalah forum yang mempertemukan secara formal para pendana dengan kreator. Forum ini tidak memberikan dana melainkan memberikan kesempatan para kreator dan pendana untuk mewujudkan konten.

GIMANA CARA DAPET DUITNYA?

DISTRIBUSI ONLINE:
Perhatikan bagian yang berwarna hijau. Itu adalah jalur di mana ada potensi uang. Ya tergantung kalo laku ya. Platform kayak Youtube dan Facebook saat ini ada revenue bagi postingan yang eligible. Saya belum pernah dapet duit dari cara ini. Saya dapet duitnya adalah dengan jualan barang yang relate sama konten postingan kita. Contohnya komik-komik di Javora Studio, beberapa dijual dalam versi cetak.

Dijual via pre oder

Apakah selalu laku? Ya enggak, Bro. Macam dagang di pasar gitu, ada yang beli ada yang enggak.
Untuk distribusi online yang paling susah adalah ngumpulin jumlah exposure konten kita yang terwujud dalam LIKES, FOLLOW dan SUBSCRIBE. Asumsi kita, katakanlah dari 100 orang follower maka kira-kira berapa kah yang berdaya beli. Kalo pengalaman saya dari 1000 follower rata-rata 10 orang yang bakal beli beneran hehehe. Edyan to.
Ingat tak semua follower berdaya beli atau mau beli. Jadi pinter-pinter kita aja bikin konten yang bisa dirupabendakan jadi barang jualan.

DISTRIBUSI OFFLINE:
Ini tipe jualan yang lebih langsung. Tapi ya kudu lewat platform dulu. Karena baik online maupun offline biasanya susah untuk jual langsung. Kreator indie dapet duit dari selain ticketing (jika karyanya berupa tontonan) juga merchandising. Kaos adalah yang paling sering dijual.
Cara distribusi ini susah berhasil kalo belum terkenal atau dipromosikan oleh yang udah terkenal duluan. Saya belum berhasil menjalani pola distribusi ini maybe because I'm "dudusoposopo". But I'll keep trying...bodo amat.

PERAN KOMUNITAS/KLUB DLL.
Kebetulan saya juga ngurusin dua klub film sekolah serta pernah jadi koordinator komunitas film lokal. Komunitas kami lumayan terekspose setelah masuk festival.
Basically susah bisa dapat duit dari komunitas, kecuali kalo berbentuk badan legal. Komunitas saya non legal. Duit bisa berupa bantuan dari lembaga pemerintah, bisa juga dari bagi hasil menang lomba. Untuk bisnis ini bukan hal yang cocok.
Peran komunitas adalah lebih ke media edukasi. Sasaran edukasi tak cuma anggota namun bisa juga masyarakat luas yakni dengan menyelenggarakan acara pameran, konser dan pemutaran.
Value atau untung yang didapat kreator adalah EXPOSURE atas konten. Ini bisa bersifat promosional. Namun bisa juga berupa kritik pedas. Komunitas lebih ke bidang peningkatan literasi. Kreator bisa mendapatkan inspirasi dan masukan dari sini. Duit? Jangan mikir itu dulu.

TENTANG SEKOLAH SENI
Biar diagramnya nggak ribet, sekolah seni dan variannya termasuk kursus dan workshop saya masukin juga ke golongan nomor 7 ini. Perannya adalah menyediakan pasokan pekerja yang butuh skill. Berlaku untuk kreator yang udah masuk industri skala besar. Kalo indie sih biasanya ya ditangani sendiri, anggota komunitas dididik lalu diajak kolaborasi dan melengkapi kebutuhan tim atau kru.
Sekolah punya peran lebih terstruktur dalam mendidik para pelaku industri kreatif. Saya nggak sekolah jadi gak bisa kasih ulasan banyak. Bisa dikata I created my own school. Komunitas dan klub seringkali berfungsi sebagai kelas.
Sekolah ini dapet duit ya dari iuran muridnya. Kalo saya dapet uang transport dari sekolah yang ada ekskul filmnya. Alih-alih jadi sumber duit, sekolah fungsinya lebih ke bakti sosial. Don't hope more than that. Kalo mau dapet duit sedikit lebih banyak ya bikin workshop. Syaratnya anda musti udah dikenal atau punya kompetensi. Saya kadang diundang ngasih workshop di institusi lokal.

Ngasih workshop
Begitulah hasil belajar saya sejauh ini. Maaf kalo judulnya click bait. Hai pembaca dewasa or adult, boleh follow Javora Studio, awas itu kontennya banyak yang NSFW tapi bukan murni porno... hanya nyrempet seperlunya.
Baca

HIDUP DARI DAN MENGHIDUPI EKOSISTEM KREATIF

Oleh Gugun Javora Studio

Tulisan ini berdasarkan proses "trial and error" dalam menjual, memasarkan dan mendistribusikan karya saya. Mungkin nggak cocok ama teori akademik manapun lha wong emang saya nggak sekolah. Namun ini berdasar apa yang berfungsi pada saya.

MEMAHAMI EKOSISTEM

Mirip seperti alam biologis, industri kreatif itu terdiri dari banyak pelaku dan elemen yang semua harus saling menyokong dan menghidupi. Satu bagian mati yang lain akan terancam. Dari percobaan kecil saya, setidaknya teramati ada beberapa elemen dalam ekosistem yang saya maksud:

1. Kreator (siapapun yang berkarya baik individu maupun kelompok usaha)
2. Platform (saya sebut arena pertemuan karya dengan audiens. Ada yang online, ada yang offline. Termasuk di dalamnya pameran, festival, pemutaran dll.)
3. Audiens atau pembaca (mereka yang mengasup karya kita, terutama yang berdaya beli)

Tiga pihak ini adalah elemen dasar ekosistem. Selanjutnya...

4. Pengiklan (pemilik produk yang butuh eksposure di platform. Produknya tak selalu berhubungan dengan konten yang kita buat)
5. Pendana (atau investor. Pihak yang cari untung dari mendanai kreator berkarya)
6. Pengamat dan pembelajar (ini istilah saya untuk para non praktisi yang berperan penting dalam meluaskan apresiasi sebuah konten)
7. Pitching forum (forum yang mempertemukan secara formal para pendana dengan kreator)


Bagaimana masing-masing elemen ini berinteraksi dalam kegiatan saling menyokong dan menghidupi saya gambarkan dalam infografis. Di sini ada 3 "pengaliran" yang saya pandang sangat penting:

1. Distribusi produk (warna pink)
2. Distribusi value (warna biru)
3. Distribusi uang (warna hijau)

Anggap saja 3 hal "pengaliran" ini semacam darah dan oksigen. Semua harus lancar agar sustainable.
Setelah memahami ini tinggal kita putuskan peran kita apa. Dalam hal ini saya menjalani peran sebagai kreator. Platform saya saat ini adalah media sosial (Facebook). Konten yang saya bikin adalah komik, animasi dan film. Produk yang saya jual saat ini baru komik cetak.

MEMAHAMI WATAK DISTRIBUSI ONLINE

Pertama-tama kita musti memahami value dari exposure. Exposure adalah tingkatan kepedulian audiens pada karya kita. Semakin gede exposure maka akan makin mudah mendistribusikan karya dan pada ujungnya membantu menemukan para pembeli. Saya bisa berjualan komik cetak setelah dapat exposure gede untuk konten saya di media sosial. Dengan catatan konten yang dibikin bisa dibuat versi produknya. Contohnya saya memviralkan komik strip 2 panel, kemudian menjual komik cetak 200an halaman berdasar 2 panel yang viral itu.

Saya menemukan bahwa exposure konten kita akan meningkat jika kita:

1. Bikin karya viral
2. Punya branding yang mengingatkan audiens ke yang kita viralkan itu
3. Terus menjalin interaksi dengan audiens

Nah, dengan cara ini kita bisa mengukur kapan kira-kira konten tadi dikonversi jadi produk yang bisa dijual.
Selama proses testing audiens, saya juga menemukan fakta bahwa:

1. Karya bagus tak akan optimal exposurenya jika tidak ditaruh di platform yang exposurenya juga bagus. Contohnya saya posting konten di akun pribadi ternyata tak banyak yang respons. Namun begitu saya posting di page yang followernya banyak, langsung jadi viral.
2. Karya biasa akan lebih dapat exposure jika diposting di media yang followernya banyak (asalkan generik) atau jika dishare oleh "seleb medsos".
3. Konten dengan isu kekinian, kontroversial, NSFW dan related sama audiens akan lebih mudah disukai.

Jadi kata kuncinya adalah "viral". Distribusi akan jauh lebih mudah jika kita berhasil viral.

TARGETING PEMBELI

Setelah viral, langkah selanjutnya adalah mulai targeting. dari top fans, mana kah yang kira-kira berdaya beli dan berniat beli. Dengan mereka kita jalin interaksi intens. Adapun para penggemar lainnya bukan berarti tak berguna meski tidak beli produk kita. Selama mereka mendapat value dari konten kita, mereka akan terus memperluas exposure kita. Jadi tumbuhkan respect sama audiens baik yang membeli maupun tidak.

DARI KONTEN NON FISIK KE PRODUK YANG BISA DIJUAL

Konten yang saya maksud adalah lebih ke yang diunggah secara digital. Konten ini biasanya kita berikan gratis buat para pembaca. Jika exposurenya tinggi (minimal 1K share) maka kita bisa pertimbangkan untuk mengkonversinya sebagai produk. Dalam hal ini diperlukan ketrampilan storytelling. Ada dua macam konversi:

1. Langsung: Produk berdasarkan tema dari konten
2. Tak langsung: Produk tidak berdasarkan tema dari konten

Yang langsung sudah jelas. Yang tidak langsung ini maksudnya kita menggunakan exposure atas branding kita untuk berjualan. Sederhananya, misalnya kita bikin video viral. Jangan lupa kasih branding kita. Nah, dengan brand yang sudah dikenal kita berjualan memakai reputasi tadi. Dalam hal ini pengalaman berjualan online sangat diperlukan.

MERAWAT EKOSISTEM

Tidak selalu anda musti berjualan. Orang akan jenuh ditawari jika tak butuh. Sering-sering juga kita bikin konten yang memang murni menghibur. Tujuannya menciptakan "engagement" yang lebih langgeng. Saya hitungannya termasuk jarang berjualan. Yang saya lakukan adalah terus membangun ikatan dengan audiens. Semoga mereka menyukai, mencintai dan merestui karya-karya saya. Dalam industri kreatif, dalam pandangan saya, uang bukan segalanya. Ada kebahagiaan, pemenuhan diri dan interaksi sosial dan psikologis.

Kadang saya juga berperan sebagai edukator, reviewer, kritikus (amatiran tapi ya) untuk menjaga apresiasi pada karya tetap menyala. Exposure pada dunia konten itu harus tetap dipupuk. Bisa lewat diskusi, nulis artikel di medsos, saling promosi karya dll. Tak ada ruginya anda mempromosikan karya teman. Jangan melihatnya sebagai kompetitor melainkan sebagai pelengkap ekosistem.
Oleh Gugun Javora Studio

Tulisan ini berdasarkan proses "trial and error" dalam menjual, memasarkan dan mendistribusikan karya saya. Mungkin nggak cocok ama teori akademik manapun lha wong emang saya nggak sekolah. Namun ini berdasar apa yang berfungsi pada saya.

MEMAHAMI EKOSISTEM

Mirip seperti alam biologis, industri kreatif itu terdiri dari banyak pelaku dan elemen yang semua harus saling menyokong dan menghidupi. Satu bagian mati yang lain akan terancam. Dari percobaan kecil saya, setidaknya teramati ada beberapa elemen dalam ekosistem yang saya maksud:

1. Kreator (siapapun yang berkarya baik individu maupun kelompok usaha)
2. Platform (saya sebut arena pertemuan karya dengan audiens. Ada yang online, ada yang offline. Termasuk di dalamnya pameran, festival, pemutaran dll.)
3. Audiens atau pembaca (mereka yang mengasup karya kita, terutama yang berdaya beli)

Tiga pihak ini adalah elemen dasar ekosistem. Selanjutnya...

4. Pengiklan (pemilik produk yang butuh eksposure di platform. Produknya tak selalu berhubungan dengan konten yang kita buat)
5. Pendana (atau investor. Pihak yang cari untung dari mendanai kreator berkarya)
6. Pengamat dan pembelajar (ini istilah saya untuk para non praktisi yang berperan penting dalam meluaskan apresiasi sebuah konten)
7. Pitching forum (forum yang mempertemukan secara formal para pendana dengan kreator)


Bagaimana masing-masing elemen ini berinteraksi dalam kegiatan saling menyokong dan menghidupi saya gambarkan dalam infografis. Di sini ada 3 "pengaliran" yang saya pandang sangat penting:

1. Distribusi produk (warna pink)
2. Distribusi value (warna biru)
3. Distribusi uang (warna hijau)

Anggap saja 3 hal "pengaliran" ini semacam darah dan oksigen. Semua harus lancar agar sustainable.
Setelah memahami ini tinggal kita putuskan peran kita apa. Dalam hal ini saya menjalani peran sebagai kreator. Platform saya saat ini adalah media sosial (Facebook). Konten yang saya bikin adalah komik, animasi dan film. Produk yang saya jual saat ini baru komik cetak.

MEMAHAMI WATAK DISTRIBUSI ONLINE

Pertama-tama kita musti memahami value dari exposure. Exposure adalah tingkatan kepedulian audiens pada karya kita. Semakin gede exposure maka akan makin mudah mendistribusikan karya dan pada ujungnya membantu menemukan para pembeli. Saya bisa berjualan komik cetak setelah dapat exposure gede untuk konten saya di media sosial. Dengan catatan konten yang dibikin bisa dibuat versi produknya. Contohnya saya memviralkan komik strip 2 panel, kemudian menjual komik cetak 200an halaman berdasar 2 panel yang viral itu.

Saya menemukan bahwa exposure konten kita akan meningkat jika kita:

1. Bikin karya viral
2. Punya branding yang mengingatkan audiens ke yang kita viralkan itu
3. Terus menjalin interaksi dengan audiens

Nah, dengan cara ini kita bisa mengukur kapan kira-kira konten tadi dikonversi jadi produk yang bisa dijual.
Selama proses testing audiens, saya juga menemukan fakta bahwa:

1. Karya bagus tak akan optimal exposurenya jika tidak ditaruh di platform yang exposurenya juga bagus. Contohnya saya posting konten di akun pribadi ternyata tak banyak yang respons. Namun begitu saya posting di page yang followernya banyak, langsung jadi viral.
2. Karya biasa akan lebih dapat exposure jika diposting di media yang followernya banyak (asalkan generik) atau jika dishare oleh "seleb medsos".
3. Konten dengan isu kekinian, kontroversial, NSFW dan related sama audiens akan lebih mudah disukai.

Jadi kata kuncinya adalah "viral". Distribusi akan jauh lebih mudah jika kita berhasil viral.

TARGETING PEMBELI

Setelah viral, langkah selanjutnya adalah mulai targeting. dari top fans, mana kah yang kira-kira berdaya beli dan berniat beli. Dengan mereka kita jalin interaksi intens. Adapun para penggemar lainnya bukan berarti tak berguna meski tidak beli produk kita. Selama mereka mendapat value dari konten kita, mereka akan terus memperluas exposure kita. Jadi tumbuhkan respect sama audiens baik yang membeli maupun tidak.

DARI KONTEN NON FISIK KE PRODUK YANG BISA DIJUAL

Konten yang saya maksud adalah lebih ke yang diunggah secara digital. Konten ini biasanya kita berikan gratis buat para pembaca. Jika exposurenya tinggi (minimal 1K share) maka kita bisa pertimbangkan untuk mengkonversinya sebagai produk. Dalam hal ini diperlukan ketrampilan storytelling. Ada dua macam konversi:

1. Langsung: Produk berdasarkan tema dari konten
2. Tak langsung: Produk tidak berdasarkan tema dari konten

Yang langsung sudah jelas. Yang tidak langsung ini maksudnya kita menggunakan exposure atas branding kita untuk berjualan. Sederhananya, misalnya kita bikin video viral. Jangan lupa kasih branding kita. Nah, dengan brand yang sudah dikenal kita berjualan memakai reputasi tadi. Dalam hal ini pengalaman berjualan online sangat diperlukan.

MERAWAT EKOSISTEM

Tidak selalu anda musti berjualan. Orang akan jenuh ditawari jika tak butuh. Sering-sering juga kita bikin konten yang memang murni menghibur. Tujuannya menciptakan "engagement" yang lebih langgeng. Saya hitungannya termasuk jarang berjualan. Yang saya lakukan adalah terus membangun ikatan dengan audiens. Semoga mereka menyukai, mencintai dan merestui karya-karya saya. Dalam industri kreatif, dalam pandangan saya, uang bukan segalanya. Ada kebahagiaan, pemenuhan diri dan interaksi sosial dan psikologis.

Kadang saya juga berperan sebagai edukator, reviewer, kritikus (amatiran tapi ya) untuk menjaga apresiasi pada karya tetap menyala. Exposure pada dunia konten itu harus tetap dipupuk. Bisa lewat diskusi, nulis artikel di medsos, saling promosi karya dll. Tak ada ruginya anda mempromosikan karya teman. Jangan melihatnya sebagai kompetitor melainkan sebagai pelengkap ekosistem.
Baca

MARVEL PERJUANGAN

Tulisan ini buat nyemangatin murid-murid filmku di klub film MOVO yang juga dibimbing oleh komunitasku Wlingiwood Filmmakers. Juga para filmmaker muda yang kiprahnya masih berlatih di ajang lomba antar sekolah.

Saat ini hampir semua anak muda gaul kenal sama yang namanya Marvel. Ya, ini adalah perusahaan/studio film yang mengeluarkan lebih dari selusin film superhero paling populer dekade ini. Avengers: End Game kemarin menjadi film terlaris yang dikeluarkan oleh studio tersebut sampai 2019. Namun perjuangan menuju studio dengan produksi film terlaris sesungguhnya sangatlah tidak mulus. Diperlukan waktu 30 tahunan untuk bisa mencapai posisi seperti itu.

Marvel, dulunya Marvel Entertainment Group, yang sebenarnya berawal dari Marvel Comics adalah perusahaan hiburan yang fokus pada produksi dan jual lisensi karakter superhero terbitan Marvel Comics. Jadi mereka awalnya nggak bikin film, melainkan menjual lisensi. Ngomongin sejarah perusahaan emang ribet karena mereka terdiri dari banyak divisi, jadi itu kalian baca sendiri aja.

Jangan lupa. Sedari jaman jualan komik, Marvel punya saingan berat juga yakni DC, sesama perusahaan komik juga. Bahkan DC lebih duluan sukses menjual lisensi karakter mereka yakni Superman dan Batman sejak tahun 70an. Film tersukses mereka terakhir ini adalah Aquaman. Kita akan ngomongin Marvel karena dari mereka kita akan tarik inspirasi perjuangan. Sebelumnya perlu kita ketahui ya... Marvel itu perusahaan dengan banyak divisi. Untuk film adalah Marvel Studios. Saat ini Marvel Studios dimiliki oleh Walt Disney Company. Ya ya ya... itu perusahaan yang bikin Mickey Mouse. Selanjutnya seluruh tetek bengek perusahaan dengan branding Marvel kita sebut aja cukup Marvel.

Kita tengok dulu perjalanan Marvel dalam menghasilkan film-film terlaris mereka.

1986 - HOWARD THE DUCK: Ini film yang diproduseri George Lucas (yang bikin Star Wars tuh). Ancur. Duitnya mepet balik modal.

1989 - THE PUNISHER: Kali ini dilisensikan ke New World Pictures. Filmnya gagal juga.

1990 - CAPTAIN AMERICA: Pertamakalinya diproduksi ama Marvel sendiri (lewat Marvel Entertainment Group). Ancur banget dan gagal.

1994 - FANTASTIC FOUR: Dilisensikan ke (awas jangan dikasih huruf G) Neue Constantin Films. Gak jadi dirilis. Ini low budget banget dan bahkan melibatkan Roger Corman, produser spesialis low budget.

1998 - BLADE: Dilisensikan ke Amen Ra Films (bukan punyanya Amien Rais). Film ini menurut kritikus nggak bagus amat tapi menjadi filmnya Marvel yang sukses pertamakali. Bisa dikata ini adalah tonggak awal "Marvel perjuangan".

2000 - X-MEN: Kembali diproduksi sendiri oleh Marvel Entertainment Group. Ini adalah film superhero tersukses mereka sejauh itu. Sukses baik di bioskop maupun di mata kritikus. Sejak saat inilah mereka mulai berani keluar duit gede-gedean untuk bikin film superhero.

2002 - SPIDER-MAN:Diproduksi oleh Marvel Enterprises. Ini film yang SUKSES BESAR hingga orang-orang awam pun mulai kenal Marvel.

2003 - DAREDEVIL: Udah sukses ama X-Men dan Spider-Man eeeh gagal lagi ama film ini.

2003 - HULK: Agak sukses kecil tapi konon dibenci sama pecinta komiknya.

2005 - ELEKTRA: Ngikutin Daredevil. Mereka gagal lagi.

2005 - FANTASTIC FOUR: Film ini sukses kecil-kecilan. Salah satu produsernya adalah yang pernah bikin Fantastic Four tahun 1994 yang gak jadi rilis itu.

2008 - IRONMAN: Film TERSUKSES setelah Spider-Man bahkan sampe dapet nominasi piala Oscar pula. Meroketkan karir Robert Downey Jr. Iron Man merupakan rangkaian fase pertama dari serangkaian film yang nanti disebut sebagai Marvel Cinematic universe.

2008 - THE INCREDIBLE HULK: Sukses tipis-tipis aja. Nggak segede Iron Man.

Nah, setelah era turun naik ini kualitas film dari Marvel cenderung stabil. Jarang yang flop banget. Hingga nanti mereka mencapai puncaknya setelah 30 tahun dengan AVENGERS: END GAME.

Marvel identik dengan Stan Lee. Namun di industri sinemanya sebenarnya ada lebih banyak orang yang terlibat. Di belakang layar film-film mereka, setidaknya ada dua produser yang konsisten memperjuangkan prestasi sinematik Marvel. Yakni Avi Arad dan Kevin Feige.

Avi Arad pertama kali terlibat di film Blade sebagai produser. Ia terus berada di lingkaran itu hingga era Marvel Cinematic Universe. Sedangkan Kevin memulainya dari film X-Men hingga Avengers End Game. Mari hitung berapa tahun perjuangan mereka, Avi Arad sejak film Blade (jadi 20 tahunan) dan Kevin Feige sejak X-Men (nyaris 20 tahunan juga). Sedangkan perusahaannya yakni mulai dari Marvel Entertainment Group hingga Marvel Studio yang sejak 2009 dimilik Disney... ada sekitar 25 tahunan. Saat awalnya mereka bahkan tertinggal dari prestasi DC Comics yang menelurkan Superman (1978), film superhero pertama yang tersukses secara mainstream.

Jadi buat teman-teman yang cuma gagal di event lomba kabupaten atau malah propinsi. KEEP CALM! Be the MARVEL PERJUANGAN! Hehehehe adalah lebih penting jika kalian tetap konsisten dan persisten berkarya. Itu tentunya tidak sebatas waktu kalian ikut klub film di sekolah yang masa aktifnya cuman 2 - 3 tahunan.

Berkaryalah bukan cuma untuk prestasi, melainkan karena kita bersyukur dianugrahi passion dan talenta. See you at another screening!
Tulisan ini buat nyemangatin murid-murid filmku di klub film MOVO yang juga dibimbing oleh komunitasku Wlingiwood Filmmakers. Juga para filmmaker muda yang kiprahnya masih berlatih di ajang lomba antar sekolah.

Saat ini hampir semua anak muda gaul kenal sama yang namanya Marvel. Ya, ini adalah perusahaan/studio film yang mengeluarkan lebih dari selusin film superhero paling populer dekade ini. Avengers: End Game kemarin menjadi film terlaris yang dikeluarkan oleh studio tersebut sampai 2019. Namun perjuangan menuju studio dengan produksi film terlaris sesungguhnya sangatlah tidak mulus. Diperlukan waktu 30 tahunan untuk bisa mencapai posisi seperti itu.

Marvel, dulunya Marvel Entertainment Group, yang sebenarnya berawal dari Marvel Comics adalah perusahaan hiburan yang fokus pada produksi dan jual lisensi karakter superhero terbitan Marvel Comics. Jadi mereka awalnya nggak bikin film, melainkan menjual lisensi. Ngomongin sejarah perusahaan emang ribet karena mereka terdiri dari banyak divisi, jadi itu kalian baca sendiri aja.

Jangan lupa. Sedari jaman jualan komik, Marvel punya saingan berat juga yakni DC, sesama perusahaan komik juga. Bahkan DC lebih duluan sukses menjual lisensi karakter mereka yakni Superman dan Batman sejak tahun 70an. Film tersukses mereka terakhir ini adalah Aquaman. Kita akan ngomongin Marvel karena dari mereka kita akan tarik inspirasi perjuangan. Sebelumnya perlu kita ketahui ya... Marvel itu perusahaan dengan banyak divisi. Untuk film adalah Marvel Studios. Saat ini Marvel Studios dimiliki oleh Walt Disney Company. Ya ya ya... itu perusahaan yang bikin Mickey Mouse. Selanjutnya seluruh tetek bengek perusahaan dengan branding Marvel kita sebut aja cukup Marvel.

Kita tengok dulu perjalanan Marvel dalam menghasilkan film-film terlaris mereka.

1986 - HOWARD THE DUCK: Ini film yang diproduseri George Lucas (yang bikin Star Wars tuh). Ancur. Duitnya mepet balik modal.

1989 - THE PUNISHER: Kali ini dilisensikan ke New World Pictures. Filmnya gagal juga.

1990 - CAPTAIN AMERICA: Pertamakalinya diproduksi ama Marvel sendiri (lewat Marvel Entertainment Group). Ancur banget dan gagal.

1994 - FANTASTIC FOUR: Dilisensikan ke (awas jangan dikasih huruf G) Neue Constantin Films. Gak jadi dirilis. Ini low budget banget dan bahkan melibatkan Roger Corman, produser spesialis low budget.

1998 - BLADE: Dilisensikan ke Amen Ra Films (bukan punyanya Amien Rais). Film ini menurut kritikus nggak bagus amat tapi menjadi filmnya Marvel yang sukses pertamakali. Bisa dikata ini adalah tonggak awal "Marvel perjuangan".

2000 - X-MEN: Kembali diproduksi sendiri oleh Marvel Entertainment Group. Ini adalah film superhero tersukses mereka sejauh itu. Sukses baik di bioskop maupun di mata kritikus. Sejak saat inilah mereka mulai berani keluar duit gede-gedean untuk bikin film superhero.

2002 - SPIDER-MAN:Diproduksi oleh Marvel Enterprises. Ini film yang SUKSES BESAR hingga orang-orang awam pun mulai kenal Marvel.

2003 - DAREDEVIL: Udah sukses ama X-Men dan Spider-Man eeeh gagal lagi ama film ini.

2003 - HULK: Agak sukses kecil tapi konon dibenci sama pecinta komiknya.

2005 - ELEKTRA: Ngikutin Daredevil. Mereka gagal lagi.

2005 - FANTASTIC FOUR: Film ini sukses kecil-kecilan. Salah satu produsernya adalah yang pernah bikin Fantastic Four tahun 1994 yang gak jadi rilis itu.

2008 - IRONMAN: Film TERSUKSES setelah Spider-Man bahkan sampe dapet nominasi piala Oscar pula. Meroketkan karir Robert Downey Jr. Iron Man merupakan rangkaian fase pertama dari serangkaian film yang nanti disebut sebagai Marvel Cinematic universe.

2008 - THE INCREDIBLE HULK: Sukses tipis-tipis aja. Nggak segede Iron Man.

Nah, setelah era turun naik ini kualitas film dari Marvel cenderung stabil. Jarang yang flop banget. Hingga nanti mereka mencapai puncaknya setelah 30 tahun dengan AVENGERS: END GAME.

Marvel identik dengan Stan Lee. Namun di industri sinemanya sebenarnya ada lebih banyak orang yang terlibat. Di belakang layar film-film mereka, setidaknya ada dua produser yang konsisten memperjuangkan prestasi sinematik Marvel. Yakni Avi Arad dan Kevin Feige.

Avi Arad pertama kali terlibat di film Blade sebagai produser. Ia terus berada di lingkaran itu hingga era Marvel Cinematic Universe. Sedangkan Kevin memulainya dari film X-Men hingga Avengers End Game. Mari hitung berapa tahun perjuangan mereka, Avi Arad sejak film Blade (jadi 20 tahunan) dan Kevin Feige sejak X-Men (nyaris 20 tahunan juga). Sedangkan perusahaannya yakni mulai dari Marvel Entertainment Group hingga Marvel Studio yang sejak 2009 dimilik Disney... ada sekitar 25 tahunan. Saat awalnya mereka bahkan tertinggal dari prestasi DC Comics yang menelurkan Superman (1978), film superhero pertama yang tersukses secara mainstream.

Jadi buat teman-teman yang cuma gagal di event lomba kabupaten atau malah propinsi. KEEP CALM! Be the MARVEL PERJUANGAN! Hehehehe adalah lebih penting jika kalian tetap konsisten dan persisten berkarya. Itu tentunya tidak sebatas waktu kalian ikut klub film di sekolah yang masa aktifnya cuman 2 - 3 tahunan.

Berkaryalah bukan cuma untuk prestasi, melainkan karena kita bersyukur dianugrahi passion dan talenta. See you at another screening!
Baca

MENGGOLONGKAN PENONTON FILM (CARA BELAJAR MENGAPRESIASI FILM)

Sebagai penggemar film dengan rentang selera cukup lebar (weh syombong), saya sering jadi tempat bertanya referensi film bagus. Padahal referensi saya juga gak banyak amat. Saya sekarang malas nonton kalo filmnya gak bener-bener menyenangkan. Dan film yang paling menyenangkan adalah yang “nyanthol” di ingatan jangka panjang. Nggak peduli itu film yang critically acclaimed atau bukan. Nggak urgen bagi saya hehehe.

Yang utama dari suatu film bagi saya adalah “apa yang bisa saya dapat” dari menontonnya.

-Apakah film itu menghibur?
-Apakah film itu membuat saya terus mengingatnya?
-Apakah film itu memberi pengaruh tertentu bagi saya?

Jika sebuah film memberikan perpaduan ketiga dampak itu, maka saya anggap ia film terbaik (versi saya).

Bagi yang bertanya lebih serius soal film, saya sering berbagi metode dalam mensistematisasi referensi film. Ini karangan saya sendiri aja. Ya, karena saya emang belajar film kebanyakan dari nonton film. Jadi gimana caranya mensistematisasi asupan film kita, biar kita “melek film”?

SELALU MULAI DARI FIM YANG PALING KITA DEMEN.

Ini bikin proses belajar jadi asyik. Ngapain nonton film yang nggak ada ngaruhnya ama kita? Menghibur enggak, dapet pencerahan juga enggak...

Oke, berikut metode saya. Anak yang sekolah film mungkin diajari sistem yang lebih rinci. Ndak paham saya. Referensi film kita bagi dalam 3 lingkaran berlapis. Lingkaran ini saya namain:

3 LINGKARAN PENONTON FILM
(bisa dilihat diagramnya)


Sebelumnya perlu saya wanti-wanti, proses saya ini Hollywood centered. Karena asupan saya awal-awal adalah itu. Tidak masalah kalo anda menggantinya dengan Bollywood, Hongkong, Korea dll. MULAI DARI YANG ANDA SUKA. Ingat itu :)

LINGKARAN PERTAMA: AWAM

Ini adalah wilayahnya mereka yang nonton film cuma buat hiburan, setelah pulang mereka gak peduli itu film apa. Mereka tak kenal nama sutradaranya. Mereka adalah para cinema goers yang cuma butuh hiburan , jalan-jalan sama pacar atau cuma ikutan trend. Asupan mereka rata-rata blockbuster movie, atau film-film box office. Film-film laris gitu lah.

Ini bukan sesuatu yang salah lho ya. Bahkan saya dulu mengawalinya juga dari situ. Tontonlah film-film yang menyenangkan dulu. MULAI DARI FILM YANG KITA SUKA. Santai aja. Kalo udah bosen, baru deh masuk ke tahap berikutnya.

LINGKARAN KEDUA: FESTIVAL

Ini adalah wilayahnya film-film yang menang festival atau penghargaan populer. Caranya mempelajari level ini adalah dengan cara seperti berikut:

-Tonton film yang menang penghargaan bergengsi dunia. Ada banyak festival film yang memberikan penghargaan bergengsi di dunia. Tapi yang paling jadi pusat perhatian industri adalah 2 festival yakni: Academy Award dan Cannes. Terserah anda mau nonton yang baru atau lawas. Kalo nyari film, cari yang ada gambar daun palem dan tulisan menang atau masuk nominasi di Academy Award atau Cannes.

-Film yang berkesan bagi anda, ingat-ingat nama sutradaranya.

-Di level ini pelajarilah sekilas teknik dasar produksi film. Gak usah detail amat kecuali anda mau jadi filmmaker. Cukup buat membantu pemahaman aja.

-Kalo anda sudah bisa menikmati film-film dari lingkaran ini, maka kita siap menuju level berikutnya.

LINGKARAN KETIGA: FILM BUFF

Ini adalah levelnya penggemar, pecandu, geek, cinephilia, enthusiast dll. Awas, banyak orang rese di sini hahaha

Di lingkaran ini ada banyak sub-lingkaran penontonnya sendiri-sendiri. Anda boleh pilih salah satu aja atau mencoba semuanya kayak saya. Sebenarnya terserah anda mau memulai lewat lingkaran yang mana, tapi kalo saya paling gampang masuk lewat lingkaran GENRE.

GENRE FILM

Ini wilayahnya film-film dengan genre tertentu. Karena saya sudah terbiasa mengapresiasi di lingkaran penonton kedua (Festival), maka saya lebih mudah menilai film-film yang ada di lingkaran ini. Yang bisa dilakukan adalah:

-Tonton film yang pernah dapat penghargaan (apapun) dari genre tertentu. Bila anda menikmati, biasanya akan ada reaksi ketagihan berantai. Bisa jadi anda akan suka pada genre tertentu dan anda akan terus mencari film di genre tersebut.

-Kalau anda masih belum peduli sama genre, nggak afdol hehehe. Anda musti “melek genre”. Kalopun ternyata anda nanti cuma cinta pada satu genre ya gak papa.

-Mulailah menonton film genre kesukaan anda tapi bikinan negara-negara yang berbeda. Kalo misal, biasanya nonton film zombie Amerika, coba tonton zombie bikinan negara lain.

Di lingkaran Film Buff sudah lazim kalo anda akrab dengan nama banyak sutradara. Maka jika sudah merasa lumayan melek di lingkaran ini, sekarang cobalah mencari referensi film berbasis reputasi sutradaranya. Ada sutradara yang mengkhususkan diri di satu genre, ada pula yang versatile. Untuk sutradara yang punya genre khusus ini kita bisa mengamati lebih dalam. Apa yang menjadi keunggulan dan kekhasan sutradara tersebut?

Nah untuk membantu anda memahami, pelajarilah soal storytelling film. Di lingkaran Film Buff, anda musti punya banyak ilmu untuk membedah.

AUTEUR

Ini wilayahnya jika kita tertarik pada kekhasan sutradara tertentu. Anda akan merasakan bahwa satu sutradara gayanya begitu kentara sehingga anda langsung mengenali bahwa film itu bikinan dia. Auteur adalah sebutan kritikus untuk sutradara yang memiliki kekhasan, gaya dan keunikan. Istilah kita mungkin nyentrik. Untuk mempelajari lingkaran ini:

-Kenali apa yang jadi ciri khas sutradar tersebut di filmnya

-Kenali kolaborator tetapnya: bisa aktor, komposer, penulis dan lain-lain

Di lingkaran ini, anda sudah banyak dapat referensi.

CLASSIC

Ini adalah wilayah film-film lawas yang udah jadi klasik alias sejarah. Dari persilangan mengapresiasi film di lingkaran festival, genre dan auteur, tak akan sulit mengetahui film-film apa yang wajib anda tonton.

Kalo mau praktis bisa deh beli Criterion Collection. Itu kumpulan film-film klasik terpilih. Kalo gak ada bujet ya liat List of Best Film by AFI (American Film Institute) trus nyari streaming di internet.

Nha karena film klasik udah bejibun karena sejarah sinema dunia udah 100 tahunan, maka mungkin langkah-langkah berikut ini bisa mempermudah:

-Comot film yang paling anda suka entah dari genre atau mungkin yang anda sering denger judulnya aja.

-Amati apa yang membedakan film tersebut dengan film-film lain sejamannya.

-Pengaruh apa yang ditiru oleh film-film jaman sekarang dari film tersebut jika ada.

Lanjut ya. Kalo anda sudah melek di 3 sub-lingkaran tadi maka silakan mencicipi lingkaran-lingkaran yang lain seperti:

CULT: Film-film yang tidak menang penghargaan tapi dipuja oleh sekelompok penggemar dalam jangka waktu yang lama. Film yang secara standar disebut “jelek” pun bisa masuk di lingkaran ini. Di Indonesia contohnya Azrax. Saya belum nonton...hiks....

ART FILM (termasuk AVANT GARDE/EKSPERIMENTAL/NEW WAVE dll): Ini isinya film-film “aneh”, nyeleneh, beda, nggak pakem. Sebagian mungkin masuk lingkaran festival film tapi biasanya nggak disukai orang umum. Kalo udah masuk di lingkaran ini dan kenal ama nama-nama sutradaranya maka anda sudah lumayan melek film.

PENUTUP

Nah begitu anda sudah nyaman, enjoy asoy geboy keluar masuk lingkaran-lingkaran penonton film yang tadi maka anda bisa membangun kerangka apresiasi anda sendiri. Anda bisa mulai belajar sejarah film, kritik film, relasi film dengan bidang lain (misal politik, sosial dan budaya) dan apapun yang anda mau.

Oh iya, ini contoh proses belajar saya:

LINGKARAN PERTAMA: Tonton film-film keluaran Marvel atau yang lagi nge-hits misalnya Avengers, Ayat-Ayat Cinta dan semacamnya.

LINGKARAN KEDUA: Tonton film-fim yang masuk FFI, Academy Awards dan Cannes misalnya Posesif, Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak, La La Land dan semacamnya. Lama-lama tahu Stephen Spielberg, Martin Scorsese, Copolla, James Cameron dll.

LINGKARAN KETIGA:

GENRE: Karena sukanya action maka saya nonton semua film Jackie Chan, Bruce Lee dan Luc Besson lawas. Saya lumayan hapal ama judul-judulnya. Anda sukanya genre apa? Drama? Komedi? Tonton film-film genre kesukaan anda sebanyak-banyaknya.

AUTEUR: Saya nonton nyaris semua karya Quentin Tarantino dan Tim Burton serta sebagian karya Wes Anderson dan Stanley Kubrick.

CULT: Saya jadi penggemar sinema cult yang judulnya jarang diketahui orang seperti Only The Strong, Lady Terminator, El Mariachi dll.

ART FILM: Meski bukan penggemar setidaknya saya tahu karya Lars Von Trier, Luis Bunuel dan Pier Paolo Pasolini.

CLASSIC: Saya nonton film-film Akira Kurosawa, David Lean, film-film koboi (Spaghetti Western) karya Sergio Leone dan film-fim Alfred Hitchcock.

Sebagai tambahan kadang saya juga nonton film India, Perancis, Russia, Cina, Korea, Jepang dan Thailand yang tidak dibatasi lingkaran tertentu secara khusus.

Begitulah. Selamat menonton.
Sebagai penggemar film dengan rentang selera cukup lebar (weh syombong), saya sering jadi tempat bertanya referensi film bagus. Padahal referensi saya juga gak banyak amat. Saya sekarang malas nonton kalo filmnya gak bener-bener menyenangkan. Dan film yang paling menyenangkan adalah yang “nyanthol” di ingatan jangka panjang. Nggak peduli itu film yang critically acclaimed atau bukan. Nggak urgen bagi saya hehehe.

Yang utama dari suatu film bagi saya adalah “apa yang bisa saya dapat” dari menontonnya.

-Apakah film itu menghibur?
-Apakah film itu membuat saya terus mengingatnya?
-Apakah film itu memberi pengaruh tertentu bagi saya?

Jika sebuah film memberikan perpaduan ketiga dampak itu, maka saya anggap ia film terbaik (versi saya).

Bagi yang bertanya lebih serius soal film, saya sering berbagi metode dalam mensistematisasi referensi film. Ini karangan saya sendiri aja. Ya, karena saya emang belajar film kebanyakan dari nonton film. Jadi gimana caranya mensistematisasi asupan film kita, biar kita “melek film”?

SELALU MULAI DARI FIM YANG PALING KITA DEMEN.

Ini bikin proses belajar jadi asyik. Ngapain nonton film yang nggak ada ngaruhnya ama kita? Menghibur enggak, dapet pencerahan juga enggak...

Oke, berikut metode saya. Anak yang sekolah film mungkin diajari sistem yang lebih rinci. Ndak paham saya. Referensi film kita bagi dalam 3 lingkaran berlapis. Lingkaran ini saya namain:

3 LINGKARAN PENONTON FILM
(bisa dilihat diagramnya)


Sebelumnya perlu saya wanti-wanti, proses saya ini Hollywood centered. Karena asupan saya awal-awal adalah itu. Tidak masalah kalo anda menggantinya dengan Bollywood, Hongkong, Korea dll. MULAI DARI YANG ANDA SUKA. Ingat itu :)

LINGKARAN PERTAMA: AWAM

Ini adalah wilayahnya mereka yang nonton film cuma buat hiburan, setelah pulang mereka gak peduli itu film apa. Mereka tak kenal nama sutradaranya. Mereka adalah para cinema goers yang cuma butuh hiburan , jalan-jalan sama pacar atau cuma ikutan trend. Asupan mereka rata-rata blockbuster movie, atau film-film box office. Film-film laris gitu lah.

Ini bukan sesuatu yang salah lho ya. Bahkan saya dulu mengawalinya juga dari situ. Tontonlah film-film yang menyenangkan dulu. MULAI DARI FILM YANG KITA SUKA. Santai aja. Kalo udah bosen, baru deh masuk ke tahap berikutnya.

LINGKARAN KEDUA: FESTIVAL

Ini adalah wilayahnya film-film yang menang festival atau penghargaan populer. Caranya mempelajari level ini adalah dengan cara seperti berikut:

-Tonton film yang menang penghargaan bergengsi dunia. Ada banyak festival film yang memberikan penghargaan bergengsi di dunia. Tapi yang paling jadi pusat perhatian industri adalah 2 festival yakni: Academy Award dan Cannes. Terserah anda mau nonton yang baru atau lawas. Kalo nyari film, cari yang ada gambar daun palem dan tulisan menang atau masuk nominasi di Academy Award atau Cannes.

-Film yang berkesan bagi anda, ingat-ingat nama sutradaranya.

-Di level ini pelajarilah sekilas teknik dasar produksi film. Gak usah detail amat kecuali anda mau jadi filmmaker. Cukup buat membantu pemahaman aja.

-Kalo anda sudah bisa menikmati film-film dari lingkaran ini, maka kita siap menuju level berikutnya.

LINGKARAN KETIGA: FILM BUFF

Ini adalah levelnya penggemar, pecandu, geek, cinephilia, enthusiast dll. Awas, banyak orang rese di sini hahaha

Di lingkaran ini ada banyak sub-lingkaran penontonnya sendiri-sendiri. Anda boleh pilih salah satu aja atau mencoba semuanya kayak saya. Sebenarnya terserah anda mau memulai lewat lingkaran yang mana, tapi kalo saya paling gampang masuk lewat lingkaran GENRE.

GENRE FILM

Ini wilayahnya film-film dengan genre tertentu. Karena saya sudah terbiasa mengapresiasi di lingkaran penonton kedua (Festival), maka saya lebih mudah menilai film-film yang ada di lingkaran ini. Yang bisa dilakukan adalah:

-Tonton film yang pernah dapat penghargaan (apapun) dari genre tertentu. Bila anda menikmati, biasanya akan ada reaksi ketagihan berantai. Bisa jadi anda akan suka pada genre tertentu dan anda akan terus mencari film di genre tersebut.

-Kalau anda masih belum peduli sama genre, nggak afdol hehehe. Anda musti “melek genre”. Kalopun ternyata anda nanti cuma cinta pada satu genre ya gak papa.

-Mulailah menonton film genre kesukaan anda tapi bikinan negara-negara yang berbeda. Kalo misal, biasanya nonton film zombie Amerika, coba tonton zombie bikinan negara lain.

Di lingkaran Film Buff sudah lazim kalo anda akrab dengan nama banyak sutradara. Maka jika sudah merasa lumayan melek di lingkaran ini, sekarang cobalah mencari referensi film berbasis reputasi sutradaranya. Ada sutradara yang mengkhususkan diri di satu genre, ada pula yang versatile. Untuk sutradara yang punya genre khusus ini kita bisa mengamati lebih dalam. Apa yang menjadi keunggulan dan kekhasan sutradara tersebut?

Nah untuk membantu anda memahami, pelajarilah soal storytelling film. Di lingkaran Film Buff, anda musti punya banyak ilmu untuk membedah.

AUTEUR

Ini wilayahnya jika kita tertarik pada kekhasan sutradara tertentu. Anda akan merasakan bahwa satu sutradara gayanya begitu kentara sehingga anda langsung mengenali bahwa film itu bikinan dia. Auteur adalah sebutan kritikus untuk sutradara yang memiliki kekhasan, gaya dan keunikan. Istilah kita mungkin nyentrik. Untuk mempelajari lingkaran ini:

-Kenali apa yang jadi ciri khas sutradar tersebut di filmnya

-Kenali kolaborator tetapnya: bisa aktor, komposer, penulis dan lain-lain

Di lingkaran ini, anda sudah banyak dapat referensi.

CLASSIC

Ini adalah wilayah film-film lawas yang udah jadi klasik alias sejarah. Dari persilangan mengapresiasi film di lingkaran festival, genre dan auteur, tak akan sulit mengetahui film-film apa yang wajib anda tonton.

Kalo mau praktis bisa deh beli Criterion Collection. Itu kumpulan film-film klasik terpilih. Kalo gak ada bujet ya liat List of Best Film by AFI (American Film Institute) trus nyari streaming di internet.

Nha karena film klasik udah bejibun karena sejarah sinema dunia udah 100 tahunan, maka mungkin langkah-langkah berikut ini bisa mempermudah:

-Comot film yang paling anda suka entah dari genre atau mungkin yang anda sering denger judulnya aja.

-Amati apa yang membedakan film tersebut dengan film-film lain sejamannya.

-Pengaruh apa yang ditiru oleh film-film jaman sekarang dari film tersebut jika ada.

Lanjut ya. Kalo anda sudah melek di 3 sub-lingkaran tadi maka silakan mencicipi lingkaran-lingkaran yang lain seperti:

CULT: Film-film yang tidak menang penghargaan tapi dipuja oleh sekelompok penggemar dalam jangka waktu yang lama. Film yang secara standar disebut “jelek” pun bisa masuk di lingkaran ini. Di Indonesia contohnya Azrax. Saya belum nonton...hiks....

ART FILM (termasuk AVANT GARDE/EKSPERIMENTAL/NEW WAVE dll): Ini isinya film-film “aneh”, nyeleneh, beda, nggak pakem. Sebagian mungkin masuk lingkaran festival film tapi biasanya nggak disukai orang umum. Kalo udah masuk di lingkaran ini dan kenal ama nama-nama sutradaranya maka anda sudah lumayan melek film.

PENUTUP

Nah begitu anda sudah nyaman, enjoy asoy geboy keluar masuk lingkaran-lingkaran penonton film yang tadi maka anda bisa membangun kerangka apresiasi anda sendiri. Anda bisa mulai belajar sejarah film, kritik film, relasi film dengan bidang lain (misal politik, sosial dan budaya) dan apapun yang anda mau.

Oh iya, ini contoh proses belajar saya:

LINGKARAN PERTAMA: Tonton film-film keluaran Marvel atau yang lagi nge-hits misalnya Avengers, Ayat-Ayat Cinta dan semacamnya.

LINGKARAN KEDUA: Tonton film-fim yang masuk FFI, Academy Awards dan Cannes misalnya Posesif, Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak, La La Land dan semacamnya. Lama-lama tahu Stephen Spielberg, Martin Scorsese, Copolla, James Cameron dll.

LINGKARAN KETIGA:

GENRE: Karena sukanya action maka saya nonton semua film Jackie Chan, Bruce Lee dan Luc Besson lawas. Saya lumayan hapal ama judul-judulnya. Anda sukanya genre apa? Drama? Komedi? Tonton film-film genre kesukaan anda sebanyak-banyaknya.

AUTEUR: Saya nonton nyaris semua karya Quentin Tarantino dan Tim Burton serta sebagian karya Wes Anderson dan Stanley Kubrick.

CULT: Saya jadi penggemar sinema cult yang judulnya jarang diketahui orang seperti Only The Strong, Lady Terminator, El Mariachi dll.

ART FILM: Meski bukan penggemar setidaknya saya tahu karya Lars Von Trier, Luis Bunuel dan Pier Paolo Pasolini.

CLASSIC: Saya nonton film-film Akira Kurosawa, David Lean, film-film koboi (Spaghetti Western) karya Sergio Leone dan film-fim Alfred Hitchcock.

Sebagai tambahan kadang saya juga nonton film India, Perancis, Russia, Cina, Korea, Jepang dan Thailand yang tidak dibatasi lingkaran tertentu secara khusus.

Begitulah. Selamat menonton.
Baca

5 SUTRADARA DEWA YANG JADI "GURU" SAYA

Membandingkan para sutradara idola saya.

Saya bukan filmmaker sekolahan. Nggak pernah sekolah film dan cenderung (seperti kata Tarantino), belajar film dari nonton film. Meski begitu ya ada juga masa saya belajar film kepada orang-orang film. Teh Nia, Mbak Prita dan Om Lucky itu adalah beberapa guru saya. Kalo nggak saya akui ntar bisa kualat.

Kali ini saya mau membahas guru-guru film pertama saya. Saya akan bandingin apa saja tema yang sering mereka usung, kehebatan dan kekhasannya. Tentu perbandingan ini bukan dalam rangka  menilai mana yang lebih dan kurang antara mereka. Ini cuma sebuah ungkapan cinta dari seorang (self proclaimed) “murid” yang berguru secara “Ekalaya”. Ekalaya adalah tokoh dalam kisah Mahabharata. Ia belajar memanah dari Drona hanya dengan mengamati dan meniru.

Sutradara-sutradara yang saya bahas ini, filmnya selalu saya jadikan referensi. Mengidolakan mereka merupakan sebuah proses jatuh cinta. Jadi anda nggak perlu repot menyuruh saya membandingkan sutradara idola saya dengan yang lain, yang anda anggap lebih hebat hehehe. Banyak sutradara hebat dalam sejarah sinema dunia. Beberapa saya udah nonton, dan banyak yang belum. Pola saya nonton pun lebih ke “sakkarepku dhewe”. Agak beda beberapa tahun silam ketika saya mewajibkan diri menonton semua film-film terbaik atau yang menang festival.

Sebenarnya memilih “guru” begini bukan perkara siapa yang paling hebat. Kemarin saya gatal juga ketika ada yang sok menghujat satu filmmaker (dan kebetulan itu guru saya) tapi melupakan karya-karya dia yang lain. Ya seolah kalo pernah bikin satu film kacrut terus dia batal jadi “legend” gitu. Tapi ya hak orang-orang lah. Toh saya juga tidak akan demo menuntut apa-apa.

Saya memilih sutradara yang memang karyanya “kena”. Dan ini urusan hati hehehe. Art is about heart. Toh kalo memang ada yang lebih hebat tapi saya nggak jatuh cinta ya so what?

STEVEN SPIELBERG (Jaws, E.T., Jurassic Park, Artificial Intellegence, Minority Report)

Dia adalah idola saya yang awal-awal. Tentu saja karena dialah saya semakin gemar dinosaurus, sebuah kesukaan yang agak “kekanak-kanakan” di antara hobi sangar lainnya. Spielberg bagi saya nyaris tak pernah gagal dalam bertutur. Filmnya hampir selalu cocok untuk disuguhkan ke penonton umum.


Film-filmnya bertema “human VS technology”, kemanusiaan, rasialisme, perang, monster dan lain-lain. Dari tema-tema itu, kekuatan pendekatan Spielberg yang saya garis bawahi adalah “interaksi positif dengan sesuatu yang dianggap ancaman”. Saya nyebutnya “Spielbergian”. Jadi dia bisa membuat sesuatu yang “alien”, “liyan”, “monster” terasa lebih simpatik.

Film-filmnya tentang alien, artificial intellegence, monster, perburuan artefak nyaris selalu memuat simpati dalam kadar tertentu. Spielberg selalu memandang bahwa “ancaman” itu seringkali karena rasa insecure manusia. Bahkan monster semacam hiu dalam Jaws, dinosaurus dalam Jurassic Park dan lain-lain sebenarnya adalah makhluk yang memperjuangkan habitatnya sendiri, bukan invader. Perkecualian tentu saja War of The Worlds, salah satu film terlemah dia.

Kritikus bilang bahwa Spielberg adalah the best cinematic storyteller. Gelaran karyanya serasa agung dan megah. Nontonnya ndak manteb kalo nggak dibioskop. Sangat pas kalo dia diserahin bikin film-film epic kolosal. Seperti yang kita tonton pada Schindler List atau Saving Private Ryan. Kemegahan itu tentu jadi lengkap karena Spielberg punya kolaborator abadi… John Williams, komposer musik yang berjasa “memegahkan” banyak karya Spielberg.

Tapi apakah yang khas dari Spielberg dalam sekilas pandang? 

Kemegahan? Alien yang simpatik?

Kalo menurut saya pribadi lho ya.

TRACKING SHOT. Tracking shot-nya yang low angle itu khas banget. Itu lho yang ngambil gambar kameranya ngikutin obyek degan posisi pandang serendah level kaki. Entah kenapa selalu terasa wahhh kalo itu dibikin Spielberg. Ini juga bukan jenis shot yang khas satu sutradara. Banyak banget yang menerapkan teknik ini. Akan tetapi karena saya terkesannya via Spielberg maka ya saya sebut inilah shot yang “nyepielbergeni”.

DELAYED SCREAM. Ini istilah ngawur saya aja…abis gak nemu istilah lain. Jadi, ini pengadeganan nyepielbergeni yang lain. Seorang karakter yang ngeri biasanya dia nggak langsung njerit tapi kayak tertahan dulu, ngumpulin kekuatan teriak. Lalu dia teriak sambil mangap lebar…AAAAAAAAA!!!

EMOTIONAL CLOSE UP. Film Spielberg selalu peduli soal ekspresi. Terutama wajah dan mata. Jika ada kejadian yang mempengaruhi emosi karakter, kamera akan bergerak dekat-dekat ke sana. Misal ada mosnter nongol, kameranya nggak akan terlalu peduli sama si monsternya melainkan lebih ke reaksi si karakter. Nha ini bagi saya nyepielbergeni.

Yang jelas, Spielberg selalu menjadi unggul tanpa menjual ketelanjangan, dia gak lebay umbar muncratan darah dan ia nggak suka kasih “kenyenian” yang absurd.

CHRISTOPHER NOLAN (Memento, The Dark Knight, Inception)

Dia adalah panutan saya dalam storytelling yang mengulik-ulik plot. Sejak Memento, saya kecanduan sama karya-karyanya. The Dark Knight adalah film superhero terhebat yang bikin saya merinding tiap kali menontonnya.


Nolan, banyak yang mendewa-dewakannya. Saya juga sih hahaha. Tapi karya-karya mutakhirnya seperti The Dark Knight Rises dan Dunkirk menuai kontroversi. Mungkin pemujaan ke Nolan terlalu tinggi maka yang kemudian benci ya lebay juga. Sebuah dialektika dalam urusan maki-memaki…kalo dipuja terlalu tinggi, makiannya juga bakal selebay-lebaynya. Orang kok nggak mau bersyukur…. Andai dia orang Indonesia, terus kalian hujat njut diklaim Malaysia kapok kowe….

Nolan is the best with intricated plot. Film-filmnya njelimet. Dia adalah master dalam non-linear storytelling. Jadi non-linear itu kalo cerita nggak urut. Ia akan nyeritain kisah sepotong-sepotong. Cuma kasih bagian yang ada “hook”nya. Saat kita kena hook tadi, dia akan mengarahkan semua kepingan cerita ke satu arah. Tapi bisa jadi arah itu bukan seperti yang kita harapkan. Twist.
Tema yang digarap Nolan biasanya yang berhubungan dengan psikologi. Kita bisa lihat di Memento dan Prestige. Di situ karakternya orang-orang yang mumet. Lihatlah the best Joker version dari Heath Ledger. Senjata utamanya itu serangan psikologis. Inception. Jelas soal psikologi bawah sadar Freudian. Soal mimpi. Nolan adalah sutradara terbaik kalo mau nyeritain isi otak manusia.

Apa yang khas dari Nolan sekilas pandang?

Gak ada sih. Dia ndak ada ke-epican yang bisa saya labeli Nolanistik. Tapi ada satu pengadeganan yang saya sukai dari Nolan. SUDDEN INTERUPTING CHAOS (ini istilah nggaya-nggayaan saya sendiri). Sekerumunan massa ngumpul dalam pola tertentu, entah sedang baris atau ngumpul  dengan satu perhatian tertentu. Saat mereka sedang tenang atau terpusat, ada satu serangan dan kerumunan itu buyar mendadak. Adegannya di-shot secara wide angle. Ini ada di The Dark Knight (adegan upacara pemakaman) dan Dunkirk (adegan tiarap ramai-ramai). Nggak tau deh itu sering dipakai sutradara lain dengan cara yang lebih khas ato tidak. Tapi ya itu. Pokoknya Nolan itu handal kalau ngomongin isi kepala manusia.

Meski saya nggak selebay orang-orang itu, pada akhirnya saya juga gagal mendewakan Nolan. Soal intricated plot dan permainan psikologi, Park Chan Wok jauh lebih “sakit”, dan banyak filmmaker lain yang jago. Lagian untuk urusan ginian mestinya saya mereferensikan ke pelopornya. Alfred Hitchcock.

Kenggakseriusan Nolan bikin adegan gelut juga bikin saya jengkel. The Dark Knight Rises itu adegan gelutnya paling wagu. Mbok ya rekrut saya aja lah… (karepmu, cak…).
Juga ada yang bilang Nolan emotionless. Iya sih. Jarang saya temui karakter-karakter yang mengundang simpati secara emotional. Saya nggak bisa terharu, nangis atau bahagia dengan perjalanan tokoh-tokohnya. Paling banter cuma kasihan.

Tapi ya gitu deh… kalo ditanya sutradara mana yang suka bikin “mindblowing”, ya saya jatuh cintanya ke karya Nolan. Udah saya bilang, just like sebaris lyric dari lagunya Manis Manja Group …cinta itu…. nggak bisa dipaksa-paksa. Tapi kalian juga jangan lebay sama junjungan saya. Ngerti?

TIM BURTON (Batman, Scissorhand, Sleepy Hollow, Alice in Wonderland)

Ada yang bilang, seandainya film itu adalah masakan, Tim Burton punya saus yang khas. Hampir semua filmnya ia bumbui pake saus yang sama. Mbok mau bikin drama, action atau film keluarga…bumbunya mesti saus yang itu. Ada satu film dimana Burton cuma penulis cerita. Tapi karena saus si Burton kental banget, maka film itu identik dengan dia. Nightmare Before Christmass, sebenarnya karya Henry Sellick  tapi cantuman “Tim Burton’s” di judul banyak yang mengira itu disutradarinya. Emang sausnya kayak apa sih? Lets check it out.


Tema yang paling sering diungkap Burton adalah alienasi. Keterasingan dari kenormalan orang-orang. Karakternya seringkali aneh, wagu, freak…pokoknya terasing dari masyarakat normal. Seorang gadis dipandang aneh di dalam keluarganya (Beetle Juice), seorang gadis yang nggak bisa selaras ama masyarakat (Alice in Wonderland), seorang pria aneh yang badannya aneh dan punya dunia sendiri (Scissorhand). Mungkin karena ini saya jadi cocok ama Burton. Soalnya saya juga tipe manusia alienated.

Genre yang pas diolah Burton adalah genre fantasy horror. Rata-rata film Burton menampilkan hantu. Ada Sleepy Hollow, Beetle Juice, Vampire, Corpse Bride dan Nightmare Before Christmass. Burton punya feel sendiri soal horror. Mickey Mouse dan Barbie bisa aja dianggap horror sama Burton. Maka hantunya Burton nggak bakal serem tapi malah ngundang simpati.

Apa yang khas dari Tim Burton sekilas pandang?

SPIRALS AND STRIPES. Anda banyak melihat pola hiasan mlungker-mlungker seperti di Nightmare Before Christmas. Juga loreng-loreng ala ular weling atau zebracross pada tiang.

PALE FACE WITH INSOMNIAC EYES. Biasanya ada karakter berwajah sendu dan ada bayang di kelopak mata. Matanya bercelak item kayak kurang tidur.

BURTONISTIC NOIR. Noirnya ala Burton itu khas. Siang yang kerasa mendung terus, kalau malam cahayanya nggak tajam. Agak lembut, gloomy dan glowing. Fokus sorotan cahaya cenderung ke wajah, menegaskan PALE FACE INSOMNIAC EYES tadi.

Burton itu punya dunia sendiri. Dulu ada rumor ia mau garap satu versi Superman. Orang pada panik. Ya karena jangan-jangan filmnya dikasih saus serupa. Dia berhasil melakukan itu ke Batman tapi untuk Superman, orang akan cemas.

Terus apalagi yang membuat kesuraman itu makin Burtonistik?

Jelas musik dari Danny Elfman. Elfman punya jiwa musik yang tak kalah surem. Bahkan saya mulai mengamati musik film ya sejak denger Elfman di Nightmare Before Christmass-nya Tim Burton.
Kalau masa kecil anda terhibur sama Tim Burton, kemungkinan jiwa anda sama anehnya kayak dia…juga saya.

JAMES CAMERON (The Abyss, Terminator, Titanic, Avatar)

Ini jagonya sci-fi action terutama yang pake practical special effect. Off course Spielberg and others is also good tapi Cameron selalu punya visi yang hardcore. Nggak cuma sebagai sutradara, Cameron juga seorang penjelajah sejati. Anda tahu nggak James Cameron itu pelopor penjelajahan bawah laut? Yes. Dia adalah seorang inventor, engineer, philanthropist, and deep-sea explorer kelas berat. Sampai-sampai Rolex endorse dia. Rolex Deepsea Challenge, jam tangan mewah itu dibikin khusus untuk proyek ekspedisi bawah lautnya. Sebelum bikin Titanic, dia nyelam sendiri tuh ke bangkainya Titanic buat riset.


Sejak awal karirnya, Cameron mengusung tema “human vs technology vs nature/ecology”. Terminator, Titanic (ya), Avatar, Aliens dll. Di sini manusia berkonflik dengan teknologi yang ia ciptakan dan lingkungan yang ia diami. Saya sebut ini CAMERONIAN CONFLICT TRIANGLE. Ora usah protes. Aku gawe istilah sakkarepku dhewe. Terminator, robot canggih yang malah menjadikan kiamat bagi manusia. Tapi kok…Lho kenapa Titanic masuk?

Ya. Meski anda lebih mengingatnya sebagai film drama (me too..) tapi sesungguhnya latarnya adalah Cameronian conflict triangle tadi: Manusia yang ingin membangun (human) kapal tercanggih bernama Titanic (technology) tapi berhadapan dengan alam yang perkasa (nature).

Avatar lebih jelas lagi. Keserakahan manusia untuk mendapatkan sumber energi, dengan teknologi mereka menginvasi planet lain sehingga berhadapan dengan masyarakat pribumi dan tata alamnya. Bagi saya Avatar adalah film bertema ekologi yang terbaik.

James Cameron adalah filmmaker dengan visi yang kuat. Terobosan CGI yang akhirnya jadi kelumrahan saat ini dipelopori oleh Terminator dan Abyss-nya James Cameron. Tapi tidak lantas dia mati-matian ngejar CGI. Practical effect tetap menjadi andalannya. Sebagaimana Spielberg, ia piawai memadukannya. Bahkan CGI kalo di tangan cameron itu levelnya harus nerobos. Misalnya saat bikin Avatar. Cameron nunggu lebih dari 10 tahun agar teknologinya bisa mewujudkan visinya. Gila nggak tuh?

Yang saya garis bawahi dari cameron adalah kepeduliannya dengan isu lingkungan. Pada tema inilah James Cameron jago. He is not ordinary sci-fi VFX director. Tema bentrok manusia vs teknologi dan ekologi lah yang bikin ia dewa dalam hal ini. Michael Bay gak ada apa-apanya. Ingat Cameronian Conflict Triangle!

Terus apa yang khas dari James Cameron?

Secara visual Cameron nggak khas. Tapi karena dia seorang eksplorer bawah laut, maka jangan tanya kalo udah bikin film bau-bau air. Udah pasti makjbyur (maknyus).

Kekhasan Cameron lebih ke karakterisasi, yakni:

STRONG LADY. Karakter-karakter cewek di filmnya James Cameron itu musti strong. Bahkan muscular kayak misalnya aktris di Terminator, Linda Hamilton. Linda nggak ayu atau seanggun Madelaine Stowe tapi dempal dan atos ototnya hahaha. 

Ada lagi Sigourney Weaver di Aliens yang misuhi si alien “Get Away From Her You Bitch!”. Nggak cuma jagoan manusianya, alien yang cewek juga kudu strong…kayak Neytiri di Avatar. 

Bahkan nggak cuma karakter filmnya, Cameron ini emang demen perempuan strong. Lha itu mantan bojonya, Kathryn Bigelow juga perempuan strong. Sutradara perempuan peraih Oscar.

PRODUCTION VALUE. Film-film Cameron itu kebanyakan MAHALLLL. Nggak pernah ya dia bikin film kecil tentang drama keluarga gitu? Aliens, Terminator, Abyss, Avatar dll. Semuanya berbujet gede.

Di dalam produksinya, konon Cameron ini banyak dibenci kru. Orangnya keras kepala dan ofensif. Njaluk ditonyo. Mungkin gara-gara itulah pas dia bikin Titanic, ada orang yang kasih “racun” ke makanannya. Yakni jenis drugs yang bikin halusinasi. Pelakunya nggak pernah ketangkep.

STRONG VISION & INNOVATION. Itulah yang saya pelajari dari James Cameron.

QUENTIN TARANTINO (Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Kill Bill, Inglourious Basterds)

Piawai dalam menulis cerita namun lebay dalam membikin adegan jadi unik. Dia emang nyentrik. Plotnya canggih, greget dan menarik. Nyaris semua filmnya penuh dengan dialog panjang-panjang namun menggelitik. Karakter-karakternya penuh intrik. Dan saat konflik memuncak, darah akan muncrat dalam tata gerak yang artistik. Tak ada yang bakal protes adegannya lebay karena itulah Tarantino punya estetik. Dan saat kita terperangah terpesona dengan semua “Tarantinoesque” itu…saya sih cuman bisa misuh…jangkrik.


Tarantino, apapun yang ia bikin adalah emas. Dia nggak perlu teknik-teknik njlimetnya Nolan, kemegahan Spielberg atau visi big production value Cameron. Dia cuma perlu jadi the fucking Tarantino!

Tema-tema yang diusung Tarantino biasanya adalah soal kriminal. Di situ ada tokoh yang menyamar, tokoh yang terjebak keadaan dan ada tokoh yang nggak jelas motivasinya di awal. Baru nanti di ending semua akan terbongkar…tak lupa ada pembantaian. Mana film-film terkini Tarantino yang nggak bunuh-bunuhan?  

Tarantino sering menempatkan karakternya dalam situasi gawat namun dia akan keep cool seolah bisa mengatasi semuanya. Tentunya dengan resiko nyawa. Lihat saja Reservoir Dogs adegan akhir, saat semuanya saling todong. Semua keep cool and keep talking. Juga saat karakter yang diperankan Michael Fassbender terjebak oleh NAZI di sebuah café. Semua keep cool meski saling todong.
Okey, langsung aja deh. 

Apa yang khas dari Tarantino sekilas pandang?

Are you kidding me? SEMUANYA KHAS. Gayanya yang kadang homage ke film kelas B tak perlu saya sebut. Tarantino emang pemuja film cult.

DIALOG. Tarantino paling betah sama dialog. Yang nggak suka bakal bosen abis. Dialog Tarantinoesqe selalu khas, ada hooknya.

“What is cheersleader movie?”
“A movie about cheersleader.”

Absurd tapi fun.

UNDERCOVER GUYS. Sering di film Tarantino ada karakter yang nggak asli. Dia menyamar. Polisi menyamar, penjahat menyamar dll. Kadang para penyamar ini latihan dulu. Ketidakjelasan siapa kawan dan lawan inilah bumbu utama konflik dalam film-film Tarantino.

AESTHETIC BLOODBATH. Pokoknya nggak puas kalo gak ada darah muncrat di film Tarantino. Muncratnya diiringi desingan peluru yang asli bising. Darah akan muncrat ke dinding, lantai dan manapun. Karakternya banyak yang mati bersimbah darah.

KILLED ANGELS. Ini yang saya kurang demen. Tarantino gemar membunuh atau mencederai perempuan cantik. Sophie Fatale di Kill Bill, cewek seksi di Death Proof, cewek imut Prancis (Sophie Anne-Franck) di Inglourious Basterds dll. Jadi kalo ada cewek bening di film Tarantino, ati-ati. Dia mungkin akan mati. This is not spoilers. This is his fucking style.

OLD GOOD MUSICS. Nah ini kegilaan dia yang lain. Tarantino jarang pakai original score. Dia suka comot score dari film lawas yang terlupakan. Pilihannya selalu maknyus. Simak saja musik-musik di Kill Bill atau Inglourious Basterds. Itu musik yang bisa anda dengarkan  untuk cari inspirasi. Trend musik lawas dipake ulang di film kekinian itu udah dipelopori sama Tarantino. Emang banyak musik bagus tapi filmnya terlupakan atau mungkin nggak dikenal karena jelek. Tarantino adalah penyelamat harta karun semacam ini.

“When people ask me if I went to film school, I tell them, ‘No, I went to films,'”
(Quentin Tarantino)


Nah itu semua adalah para sutradara idola saya. Saya kagum visi mereka meski tak ingin menirunya mentah-mentah.

Agak nggak enak kenapa saya hanya memeras keseluruhan daftar sutradara bagus hanya menyisakan beliau-beliau ini. Banyak yang juga saya kagumi.

SERGIO LEONE dengan Spaghetti Westernnya, JACKIE CHAN dengan visi physical actingnya, FRANCIS FORD COPPOLLA dengan kemegahannya, MARTIN SCORSESE dengan kedalaman karakternya, DAVID LEAN dengan visi sinematografinya, ROBERT RODRIGUEZ dengan teknik low budgetnya, GIUSSEPPE TORNATORE dengan sensualitas komikalnya, AKIRA KUROSAWA legenda kemegahan sinema hitam putih, GUILLERMO DEL TORRO dengan dark fantasy-nya, ANDRE TARKOVSKY dengan puisi visualnya dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya saya suka belajar dari banyak film. Tapi kalo disuruh nyebutin which is the most influential, maka ya itu tadi. Namanya juga cinta.



Membandingkan para sutradara idola saya.

Saya bukan filmmaker sekolahan. Nggak pernah sekolah film dan cenderung (seperti kata Tarantino), belajar film dari nonton film. Meski begitu ya ada juga masa saya belajar film kepada orang-orang film. Teh Nia, Mbak Prita dan Om Lucky itu adalah beberapa guru saya. Kalo nggak saya akui ntar bisa kualat.

Kali ini saya mau membahas guru-guru film pertama saya. Saya akan bandingin apa saja tema yang sering mereka usung, kehebatan dan kekhasannya. Tentu perbandingan ini bukan dalam rangka  menilai mana yang lebih dan kurang antara mereka. Ini cuma sebuah ungkapan cinta dari seorang (self proclaimed) “murid” yang berguru secara “Ekalaya”. Ekalaya adalah tokoh dalam kisah Mahabharata. Ia belajar memanah dari Drona hanya dengan mengamati dan meniru.

Sutradara-sutradara yang saya bahas ini, filmnya selalu saya jadikan referensi. Mengidolakan mereka merupakan sebuah proses jatuh cinta. Jadi anda nggak perlu repot menyuruh saya membandingkan sutradara idola saya dengan yang lain, yang anda anggap lebih hebat hehehe. Banyak sutradara hebat dalam sejarah sinema dunia. Beberapa saya udah nonton, dan banyak yang belum. Pola saya nonton pun lebih ke “sakkarepku dhewe”. Agak beda beberapa tahun silam ketika saya mewajibkan diri menonton semua film-film terbaik atau yang menang festival.

Sebenarnya memilih “guru” begini bukan perkara siapa yang paling hebat. Kemarin saya gatal juga ketika ada yang sok menghujat satu filmmaker (dan kebetulan itu guru saya) tapi melupakan karya-karya dia yang lain. Ya seolah kalo pernah bikin satu film kacrut terus dia batal jadi “legend” gitu. Tapi ya hak orang-orang lah. Toh saya juga tidak akan demo menuntut apa-apa.

Saya memilih sutradara yang memang karyanya “kena”. Dan ini urusan hati hehehe. Art is about heart. Toh kalo memang ada yang lebih hebat tapi saya nggak jatuh cinta ya so what?

STEVEN SPIELBERG (Jaws, E.T., Jurassic Park, Artificial Intellegence, Minority Report)

Dia adalah idola saya yang awal-awal. Tentu saja karena dialah saya semakin gemar dinosaurus, sebuah kesukaan yang agak “kekanak-kanakan” di antara hobi sangar lainnya. Spielberg bagi saya nyaris tak pernah gagal dalam bertutur. Filmnya hampir selalu cocok untuk disuguhkan ke penonton umum.


Film-filmnya bertema “human VS technology”, kemanusiaan, rasialisme, perang, monster dan lain-lain. Dari tema-tema itu, kekuatan pendekatan Spielberg yang saya garis bawahi adalah “interaksi positif dengan sesuatu yang dianggap ancaman”. Saya nyebutnya “Spielbergian”. Jadi dia bisa membuat sesuatu yang “alien”, “liyan”, “monster” terasa lebih simpatik.

Film-filmnya tentang alien, artificial intellegence, monster, perburuan artefak nyaris selalu memuat simpati dalam kadar tertentu. Spielberg selalu memandang bahwa “ancaman” itu seringkali karena rasa insecure manusia. Bahkan monster semacam hiu dalam Jaws, dinosaurus dalam Jurassic Park dan lain-lain sebenarnya adalah makhluk yang memperjuangkan habitatnya sendiri, bukan invader. Perkecualian tentu saja War of The Worlds, salah satu film terlemah dia.

Kritikus bilang bahwa Spielberg adalah the best cinematic storyteller. Gelaran karyanya serasa agung dan megah. Nontonnya ndak manteb kalo nggak dibioskop. Sangat pas kalo dia diserahin bikin film-film epic kolosal. Seperti yang kita tonton pada Schindler List atau Saving Private Ryan. Kemegahan itu tentu jadi lengkap karena Spielberg punya kolaborator abadi… John Williams, komposer musik yang berjasa “memegahkan” banyak karya Spielberg.

Tapi apakah yang khas dari Spielberg dalam sekilas pandang? 

Kemegahan? Alien yang simpatik?

Kalo menurut saya pribadi lho ya.

TRACKING SHOT. Tracking shot-nya yang low angle itu khas banget. Itu lho yang ngambil gambar kameranya ngikutin obyek degan posisi pandang serendah level kaki. Entah kenapa selalu terasa wahhh kalo itu dibikin Spielberg. Ini juga bukan jenis shot yang khas satu sutradara. Banyak banget yang menerapkan teknik ini. Akan tetapi karena saya terkesannya via Spielberg maka ya saya sebut inilah shot yang “nyepielbergeni”.

DELAYED SCREAM. Ini istilah ngawur saya aja…abis gak nemu istilah lain. Jadi, ini pengadeganan nyepielbergeni yang lain. Seorang karakter yang ngeri biasanya dia nggak langsung njerit tapi kayak tertahan dulu, ngumpulin kekuatan teriak. Lalu dia teriak sambil mangap lebar…AAAAAAAAA!!!

EMOTIONAL CLOSE UP. Film Spielberg selalu peduli soal ekspresi. Terutama wajah dan mata. Jika ada kejadian yang mempengaruhi emosi karakter, kamera akan bergerak dekat-dekat ke sana. Misal ada mosnter nongol, kameranya nggak akan terlalu peduli sama si monsternya melainkan lebih ke reaksi si karakter. Nha ini bagi saya nyepielbergeni.

Yang jelas, Spielberg selalu menjadi unggul tanpa menjual ketelanjangan, dia gak lebay umbar muncratan darah dan ia nggak suka kasih “kenyenian” yang absurd.

CHRISTOPHER NOLAN (Memento, The Dark Knight, Inception)

Dia adalah panutan saya dalam storytelling yang mengulik-ulik plot. Sejak Memento, saya kecanduan sama karya-karyanya. The Dark Knight adalah film superhero terhebat yang bikin saya merinding tiap kali menontonnya.


Nolan, banyak yang mendewa-dewakannya. Saya juga sih hahaha. Tapi karya-karya mutakhirnya seperti The Dark Knight Rises dan Dunkirk menuai kontroversi. Mungkin pemujaan ke Nolan terlalu tinggi maka yang kemudian benci ya lebay juga. Sebuah dialektika dalam urusan maki-memaki…kalo dipuja terlalu tinggi, makiannya juga bakal selebay-lebaynya. Orang kok nggak mau bersyukur…. Andai dia orang Indonesia, terus kalian hujat njut diklaim Malaysia kapok kowe….

Nolan is the best with intricated plot. Film-filmnya njelimet. Dia adalah master dalam non-linear storytelling. Jadi non-linear itu kalo cerita nggak urut. Ia akan nyeritain kisah sepotong-sepotong. Cuma kasih bagian yang ada “hook”nya. Saat kita kena hook tadi, dia akan mengarahkan semua kepingan cerita ke satu arah. Tapi bisa jadi arah itu bukan seperti yang kita harapkan. Twist.
Tema yang digarap Nolan biasanya yang berhubungan dengan psikologi. Kita bisa lihat di Memento dan Prestige. Di situ karakternya orang-orang yang mumet. Lihatlah the best Joker version dari Heath Ledger. Senjata utamanya itu serangan psikologis. Inception. Jelas soal psikologi bawah sadar Freudian. Soal mimpi. Nolan adalah sutradara terbaik kalo mau nyeritain isi otak manusia.

Apa yang khas dari Nolan sekilas pandang?

Gak ada sih. Dia ndak ada ke-epican yang bisa saya labeli Nolanistik. Tapi ada satu pengadeganan yang saya sukai dari Nolan. SUDDEN INTERUPTING CHAOS (ini istilah nggaya-nggayaan saya sendiri). Sekerumunan massa ngumpul dalam pola tertentu, entah sedang baris atau ngumpul  dengan satu perhatian tertentu. Saat mereka sedang tenang atau terpusat, ada satu serangan dan kerumunan itu buyar mendadak. Adegannya di-shot secara wide angle. Ini ada di The Dark Knight (adegan upacara pemakaman) dan Dunkirk (adegan tiarap ramai-ramai). Nggak tau deh itu sering dipakai sutradara lain dengan cara yang lebih khas ato tidak. Tapi ya itu. Pokoknya Nolan itu handal kalau ngomongin isi kepala manusia.

Meski saya nggak selebay orang-orang itu, pada akhirnya saya juga gagal mendewakan Nolan. Soal intricated plot dan permainan psikologi, Park Chan Wok jauh lebih “sakit”, dan banyak filmmaker lain yang jago. Lagian untuk urusan ginian mestinya saya mereferensikan ke pelopornya. Alfred Hitchcock.

Kenggakseriusan Nolan bikin adegan gelut juga bikin saya jengkel. The Dark Knight Rises itu adegan gelutnya paling wagu. Mbok ya rekrut saya aja lah… (karepmu, cak…).
Juga ada yang bilang Nolan emotionless. Iya sih. Jarang saya temui karakter-karakter yang mengundang simpati secara emotional. Saya nggak bisa terharu, nangis atau bahagia dengan perjalanan tokoh-tokohnya. Paling banter cuma kasihan.

Tapi ya gitu deh… kalo ditanya sutradara mana yang suka bikin “mindblowing”, ya saya jatuh cintanya ke karya Nolan. Udah saya bilang, just like sebaris lyric dari lagunya Manis Manja Group …cinta itu…. nggak bisa dipaksa-paksa. Tapi kalian juga jangan lebay sama junjungan saya. Ngerti?

TIM BURTON (Batman, Scissorhand, Sleepy Hollow, Alice in Wonderland)

Ada yang bilang, seandainya film itu adalah masakan, Tim Burton punya saus yang khas. Hampir semua filmnya ia bumbui pake saus yang sama. Mbok mau bikin drama, action atau film keluarga…bumbunya mesti saus yang itu. Ada satu film dimana Burton cuma penulis cerita. Tapi karena saus si Burton kental banget, maka film itu identik dengan dia. Nightmare Before Christmass, sebenarnya karya Henry Sellick  tapi cantuman “Tim Burton’s” di judul banyak yang mengira itu disutradarinya. Emang sausnya kayak apa sih? Lets check it out.


Tema yang paling sering diungkap Burton adalah alienasi. Keterasingan dari kenormalan orang-orang. Karakternya seringkali aneh, wagu, freak…pokoknya terasing dari masyarakat normal. Seorang gadis dipandang aneh di dalam keluarganya (Beetle Juice), seorang gadis yang nggak bisa selaras ama masyarakat (Alice in Wonderland), seorang pria aneh yang badannya aneh dan punya dunia sendiri (Scissorhand). Mungkin karena ini saya jadi cocok ama Burton. Soalnya saya juga tipe manusia alienated.

Genre yang pas diolah Burton adalah genre fantasy horror. Rata-rata film Burton menampilkan hantu. Ada Sleepy Hollow, Beetle Juice, Vampire, Corpse Bride dan Nightmare Before Christmass. Burton punya feel sendiri soal horror. Mickey Mouse dan Barbie bisa aja dianggap horror sama Burton. Maka hantunya Burton nggak bakal serem tapi malah ngundang simpati.

Apa yang khas dari Tim Burton sekilas pandang?

SPIRALS AND STRIPES. Anda banyak melihat pola hiasan mlungker-mlungker seperti di Nightmare Before Christmas. Juga loreng-loreng ala ular weling atau zebracross pada tiang.

PALE FACE WITH INSOMNIAC EYES. Biasanya ada karakter berwajah sendu dan ada bayang di kelopak mata. Matanya bercelak item kayak kurang tidur.

BURTONISTIC NOIR. Noirnya ala Burton itu khas. Siang yang kerasa mendung terus, kalau malam cahayanya nggak tajam. Agak lembut, gloomy dan glowing. Fokus sorotan cahaya cenderung ke wajah, menegaskan PALE FACE INSOMNIAC EYES tadi.

Burton itu punya dunia sendiri. Dulu ada rumor ia mau garap satu versi Superman. Orang pada panik. Ya karena jangan-jangan filmnya dikasih saus serupa. Dia berhasil melakukan itu ke Batman tapi untuk Superman, orang akan cemas.

Terus apalagi yang membuat kesuraman itu makin Burtonistik?

Jelas musik dari Danny Elfman. Elfman punya jiwa musik yang tak kalah surem. Bahkan saya mulai mengamati musik film ya sejak denger Elfman di Nightmare Before Christmass-nya Tim Burton.
Kalau masa kecil anda terhibur sama Tim Burton, kemungkinan jiwa anda sama anehnya kayak dia…juga saya.

JAMES CAMERON (The Abyss, Terminator, Titanic, Avatar)

Ini jagonya sci-fi action terutama yang pake practical special effect. Off course Spielberg and others is also good tapi Cameron selalu punya visi yang hardcore. Nggak cuma sebagai sutradara, Cameron juga seorang penjelajah sejati. Anda tahu nggak James Cameron itu pelopor penjelajahan bawah laut? Yes. Dia adalah seorang inventor, engineer, philanthropist, and deep-sea explorer kelas berat. Sampai-sampai Rolex endorse dia. Rolex Deepsea Challenge, jam tangan mewah itu dibikin khusus untuk proyek ekspedisi bawah lautnya. Sebelum bikin Titanic, dia nyelam sendiri tuh ke bangkainya Titanic buat riset.


Sejak awal karirnya, Cameron mengusung tema “human vs technology vs nature/ecology”. Terminator, Titanic (ya), Avatar, Aliens dll. Di sini manusia berkonflik dengan teknologi yang ia ciptakan dan lingkungan yang ia diami. Saya sebut ini CAMERONIAN CONFLICT TRIANGLE. Ora usah protes. Aku gawe istilah sakkarepku dhewe. Terminator, robot canggih yang malah menjadikan kiamat bagi manusia. Tapi kok…Lho kenapa Titanic masuk?

Ya. Meski anda lebih mengingatnya sebagai film drama (me too..) tapi sesungguhnya latarnya adalah Cameronian conflict triangle tadi: Manusia yang ingin membangun (human) kapal tercanggih bernama Titanic (technology) tapi berhadapan dengan alam yang perkasa (nature).

Avatar lebih jelas lagi. Keserakahan manusia untuk mendapatkan sumber energi, dengan teknologi mereka menginvasi planet lain sehingga berhadapan dengan masyarakat pribumi dan tata alamnya. Bagi saya Avatar adalah film bertema ekologi yang terbaik.

James Cameron adalah filmmaker dengan visi yang kuat. Terobosan CGI yang akhirnya jadi kelumrahan saat ini dipelopori oleh Terminator dan Abyss-nya James Cameron. Tapi tidak lantas dia mati-matian ngejar CGI. Practical effect tetap menjadi andalannya. Sebagaimana Spielberg, ia piawai memadukannya. Bahkan CGI kalo di tangan cameron itu levelnya harus nerobos. Misalnya saat bikin Avatar. Cameron nunggu lebih dari 10 tahun agar teknologinya bisa mewujudkan visinya. Gila nggak tuh?

Yang saya garis bawahi dari cameron adalah kepeduliannya dengan isu lingkungan. Pada tema inilah James Cameron jago. He is not ordinary sci-fi VFX director. Tema bentrok manusia vs teknologi dan ekologi lah yang bikin ia dewa dalam hal ini. Michael Bay gak ada apa-apanya. Ingat Cameronian Conflict Triangle!

Terus apa yang khas dari James Cameron?

Secara visual Cameron nggak khas. Tapi karena dia seorang eksplorer bawah laut, maka jangan tanya kalo udah bikin film bau-bau air. Udah pasti makjbyur (maknyus).

Kekhasan Cameron lebih ke karakterisasi, yakni:

STRONG LADY. Karakter-karakter cewek di filmnya James Cameron itu musti strong. Bahkan muscular kayak misalnya aktris di Terminator, Linda Hamilton. Linda nggak ayu atau seanggun Madelaine Stowe tapi dempal dan atos ototnya hahaha. 

Ada lagi Sigourney Weaver di Aliens yang misuhi si alien “Get Away From Her You Bitch!”. Nggak cuma jagoan manusianya, alien yang cewek juga kudu strong…kayak Neytiri di Avatar. 

Bahkan nggak cuma karakter filmnya, Cameron ini emang demen perempuan strong. Lha itu mantan bojonya, Kathryn Bigelow juga perempuan strong. Sutradara perempuan peraih Oscar.

PRODUCTION VALUE. Film-film Cameron itu kebanyakan MAHALLLL. Nggak pernah ya dia bikin film kecil tentang drama keluarga gitu? Aliens, Terminator, Abyss, Avatar dll. Semuanya berbujet gede.

Di dalam produksinya, konon Cameron ini banyak dibenci kru. Orangnya keras kepala dan ofensif. Njaluk ditonyo. Mungkin gara-gara itulah pas dia bikin Titanic, ada orang yang kasih “racun” ke makanannya. Yakni jenis drugs yang bikin halusinasi. Pelakunya nggak pernah ketangkep.

STRONG VISION & INNOVATION. Itulah yang saya pelajari dari James Cameron.

QUENTIN TARANTINO (Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Kill Bill, Inglourious Basterds)

Piawai dalam menulis cerita namun lebay dalam membikin adegan jadi unik. Dia emang nyentrik. Plotnya canggih, greget dan menarik. Nyaris semua filmnya penuh dengan dialog panjang-panjang namun menggelitik. Karakter-karakternya penuh intrik. Dan saat konflik memuncak, darah akan muncrat dalam tata gerak yang artistik. Tak ada yang bakal protes adegannya lebay karena itulah Tarantino punya estetik. Dan saat kita terperangah terpesona dengan semua “Tarantinoesque” itu…saya sih cuman bisa misuh…jangkrik.


Tarantino, apapun yang ia bikin adalah emas. Dia nggak perlu teknik-teknik njlimetnya Nolan, kemegahan Spielberg atau visi big production value Cameron. Dia cuma perlu jadi the fucking Tarantino!

Tema-tema yang diusung Tarantino biasanya adalah soal kriminal. Di situ ada tokoh yang menyamar, tokoh yang terjebak keadaan dan ada tokoh yang nggak jelas motivasinya di awal. Baru nanti di ending semua akan terbongkar…tak lupa ada pembantaian. Mana film-film terkini Tarantino yang nggak bunuh-bunuhan?  

Tarantino sering menempatkan karakternya dalam situasi gawat namun dia akan keep cool seolah bisa mengatasi semuanya. Tentunya dengan resiko nyawa. Lihat saja Reservoir Dogs adegan akhir, saat semuanya saling todong. Semua keep cool and keep talking. Juga saat karakter yang diperankan Michael Fassbender terjebak oleh NAZI di sebuah café. Semua keep cool meski saling todong.
Okey, langsung aja deh. 

Apa yang khas dari Tarantino sekilas pandang?

Are you kidding me? SEMUANYA KHAS. Gayanya yang kadang homage ke film kelas B tak perlu saya sebut. Tarantino emang pemuja film cult.

DIALOG. Tarantino paling betah sama dialog. Yang nggak suka bakal bosen abis. Dialog Tarantinoesqe selalu khas, ada hooknya.

“What is cheersleader movie?”
“A movie about cheersleader.”

Absurd tapi fun.

UNDERCOVER GUYS. Sering di film Tarantino ada karakter yang nggak asli. Dia menyamar. Polisi menyamar, penjahat menyamar dll. Kadang para penyamar ini latihan dulu. Ketidakjelasan siapa kawan dan lawan inilah bumbu utama konflik dalam film-film Tarantino.

AESTHETIC BLOODBATH. Pokoknya nggak puas kalo gak ada darah muncrat di film Tarantino. Muncratnya diiringi desingan peluru yang asli bising. Darah akan muncrat ke dinding, lantai dan manapun. Karakternya banyak yang mati bersimbah darah.

KILLED ANGELS. Ini yang saya kurang demen. Tarantino gemar membunuh atau mencederai perempuan cantik. Sophie Fatale di Kill Bill, cewek seksi di Death Proof, cewek imut Prancis (Sophie Anne-Franck) di Inglourious Basterds dll. Jadi kalo ada cewek bening di film Tarantino, ati-ati. Dia mungkin akan mati. This is not spoilers. This is his fucking style.

OLD GOOD MUSICS. Nah ini kegilaan dia yang lain. Tarantino jarang pakai original score. Dia suka comot score dari film lawas yang terlupakan. Pilihannya selalu maknyus. Simak saja musik-musik di Kill Bill atau Inglourious Basterds. Itu musik yang bisa anda dengarkan  untuk cari inspirasi. Trend musik lawas dipake ulang di film kekinian itu udah dipelopori sama Tarantino. Emang banyak musik bagus tapi filmnya terlupakan atau mungkin nggak dikenal karena jelek. Tarantino adalah penyelamat harta karun semacam ini.

“When people ask me if I went to film school, I tell them, ‘No, I went to films,'”
(Quentin Tarantino)


Nah itu semua adalah para sutradara idola saya. Saya kagum visi mereka meski tak ingin menirunya mentah-mentah.

Agak nggak enak kenapa saya hanya memeras keseluruhan daftar sutradara bagus hanya menyisakan beliau-beliau ini. Banyak yang juga saya kagumi.

SERGIO LEONE dengan Spaghetti Westernnya, JACKIE CHAN dengan visi physical actingnya, FRANCIS FORD COPPOLLA dengan kemegahannya, MARTIN SCORSESE dengan kedalaman karakternya, DAVID LEAN dengan visi sinematografinya, ROBERT RODRIGUEZ dengan teknik low budgetnya, GIUSSEPPE TORNATORE dengan sensualitas komikalnya, AKIRA KUROSAWA legenda kemegahan sinema hitam putih, GUILLERMO DEL TORRO dengan dark fantasy-nya, ANDRE TARKOVSKY dengan puisi visualnya dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya saya suka belajar dari banyak film. Tapi kalo disuruh nyebutin which is the most influential, maka ya itu tadi. Namanya juga cinta.



Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved