Yang Terbaru

DASAR BELAJAR PERFILMAN Part 2 - DISTRIBUSI KE AUDIENCE

Hal yang saya nyaris selalu (hehehe) lupa adalah soal audience. Siapa sih yang mau nonton film saya?
Mempelajari bahwa tak ada film untuk "semua orang" maka dari awal kita musti paham siapa yang akan mengasup karya kita. Bahkan karya sebusuk apapun tetap akan ada penontonnya, sekalipun itu kita sendiri... misalnya. Jadi akan lebih bijak kalo dari awal kita udah targeting dulu.
Bioskop-bioskopan
Target audiens menentukan platform yang mau kita pilih. Mau offline atau online? Kedua platform ini banyak banget selukbeluk yang perlu dipelajari. Saya mendapat pelajaran dari postingan saya seperti pada ilustrasi. Sebuah konten yang saya unggah ke medsos pribadi dan ke medsos brand saya, ternyata signifikan sekali bedanya.
Di medsos pribadi, udah selang beberapa bulan yang view dikit banget. Sedangkan di medsos brand personal saya (Javora Studio), sehari langsung viral. Nyebelinnya, ketika saya posting di Youtube gak banyak yang mau nonton, padahal linknya saya posting via medsos brand personal tadi. Rupanya memang kita musti tau di portal mana engagement kita dengan audiens cukup tinggi. Youtube, yang dibilang platform ideal buat posting konten video kalo mau ditonton sebanyak mungkin orang, ternyata gak cukup ampuh dalam kasus saya.
Mau gak mau strategi berubah. Musti nguatin basis audience di Facebook jadinya. Youtube ndak cukup works bagi saya, orang lain mungkin beda. Hal yang sama juga sewaktu posting di instagram. Follower gak nambah-nambah eh di Facebook malah kenceng. Dan saya belum tahu bakal seberapa lama mereka bertahan.
Terus bagaimana dengan yang offline?
Beberapa senior di perfilman indie bilang kalo "Youtube (atau platform online lain) kills filmmaker". Ini berhubungan dengan kemungkinan meraih audiens lewat screening offline yang makin sering dijajaki. Jadi ada banyak di kota-kota besar kelompok pemutaran film indie. Mereka melakukannya secara sistematis, acaranya terprogram dan tak jarang berbayar pula. Ini meniru pola perbioskopan yang konvensional yakni menjual film secara langsung lewat ticketing.
Jual film secara langsung adalah strategi yang cukup berat. Emang siapa sih yang mau nonton film kita? Makanya di pemutaran independen begitu dibutuhkan peran programmer atau kurator. Ini mau gak mau juga "menyingkirkan" sebagian film yang tak masuk program. Yang lebih berat lagi, audiens offline di satu kota akan cenderung terbatas. Misalnya, kalo di ndeso kami, siapa sih yang mau nonton film laga bikinan kami dengan mbayar? Akan tetapi saat ini jejaring mulai merambat sedemikian rupa jadi sasaran audience pun tak lagi cuma di satu region saja. Sementara pemutaran filmnya offline, marketingnya tetap jalan secara online.
Ada banyak tantangan yang dihadapi dalam memanage audience ini. Kadang ini bisa menimbulkan kegalauan semacam... wah kudu bikin film yang ngikut orang kampung nih...
Rekan saya sesama filmmaker membuat perencanaan distribusinya dalam jangka 3 tahun. Tahun pertama mereka akan berlaga di festival-festival, tahun kedua akan berada di penyangan-penayangan independen, tahun ketiga baru masuk platform online terbatas semacam Viddsee. Mereka memutuskan tidak ke Youtube.
Manapun platform yang dipilih dan target audience yang disasar, saya pikir kuncinya adalah ENGAGEMENT. Itulah yang akan memberi darah pada karya kita. Memang akan menjadi tantangan ketika, peribahasanya....di antara orang-orang yang demennya mie goreng kuah, kita mau jualan pecel.
Jadi kata kunci di tulisan part 2 ini adalah AUDIENCE ENGAGEMENT. Itu yang musti ditemukan segera.
Hal yang saya nyaris selalu (hehehe) lupa adalah soal audience. Siapa sih yang mau nonton film saya?
Mempelajari bahwa tak ada film untuk "semua orang" maka dari awal kita musti paham siapa yang akan mengasup karya kita. Bahkan karya sebusuk apapun tetap akan ada penontonnya, sekalipun itu kita sendiri... misalnya. Jadi akan lebih bijak kalo dari awal kita udah targeting dulu.
Bioskop-bioskopan
Target audiens menentukan platform yang mau kita pilih. Mau offline atau online? Kedua platform ini banyak banget selukbeluk yang perlu dipelajari. Saya mendapat pelajaran dari postingan saya seperti pada ilustrasi. Sebuah konten yang saya unggah ke medsos pribadi dan ke medsos brand saya, ternyata signifikan sekali bedanya.
Di medsos pribadi, udah selang beberapa bulan yang view dikit banget. Sedangkan di medsos brand personal saya (Javora Studio), sehari langsung viral. Nyebelinnya, ketika saya posting di Youtube gak banyak yang mau nonton, padahal linknya saya posting via medsos brand personal tadi. Rupanya memang kita musti tau di portal mana engagement kita dengan audiens cukup tinggi. Youtube, yang dibilang platform ideal buat posting konten video kalo mau ditonton sebanyak mungkin orang, ternyata gak cukup ampuh dalam kasus saya.
Mau gak mau strategi berubah. Musti nguatin basis audience di Facebook jadinya. Youtube ndak cukup works bagi saya, orang lain mungkin beda. Hal yang sama juga sewaktu posting di instagram. Follower gak nambah-nambah eh di Facebook malah kenceng. Dan saya belum tahu bakal seberapa lama mereka bertahan.
Terus bagaimana dengan yang offline?
Beberapa senior di perfilman indie bilang kalo "Youtube (atau platform online lain) kills filmmaker". Ini berhubungan dengan kemungkinan meraih audiens lewat screening offline yang makin sering dijajaki. Jadi ada banyak di kota-kota besar kelompok pemutaran film indie. Mereka melakukannya secara sistematis, acaranya terprogram dan tak jarang berbayar pula. Ini meniru pola perbioskopan yang konvensional yakni menjual film secara langsung lewat ticketing.
Jual film secara langsung adalah strategi yang cukup berat. Emang siapa sih yang mau nonton film kita? Makanya di pemutaran independen begitu dibutuhkan peran programmer atau kurator. Ini mau gak mau juga "menyingkirkan" sebagian film yang tak masuk program. Yang lebih berat lagi, audiens offline di satu kota akan cenderung terbatas. Misalnya, kalo di ndeso kami, siapa sih yang mau nonton film laga bikinan kami dengan mbayar? Akan tetapi saat ini jejaring mulai merambat sedemikian rupa jadi sasaran audience pun tak lagi cuma di satu region saja. Sementara pemutaran filmnya offline, marketingnya tetap jalan secara online.
Ada banyak tantangan yang dihadapi dalam memanage audience ini. Kadang ini bisa menimbulkan kegalauan semacam... wah kudu bikin film yang ngikut orang kampung nih...
Rekan saya sesama filmmaker membuat perencanaan distribusinya dalam jangka 3 tahun. Tahun pertama mereka akan berlaga di festival-festival, tahun kedua akan berada di penyangan-penayangan independen, tahun ketiga baru masuk platform online terbatas semacam Viddsee. Mereka memutuskan tidak ke Youtube.
Manapun platform yang dipilih dan target audience yang disasar, saya pikir kuncinya adalah ENGAGEMENT. Itulah yang akan memberi darah pada karya kita. Memang akan menjadi tantangan ketika, peribahasanya....di antara orang-orang yang demennya mie goreng kuah, kita mau jualan pecel.
Jadi kata kunci di tulisan part 2 ini adalah AUDIENCE ENGAGEMENT. Itu yang musti ditemukan segera.
Baca

DASAR BELAJAR PERFILMAN Part 1 - VALUE

Saya belajar bikin film cukup telat. Jika kita bandingin dengan para the big guy of the industry, rasanya diri ini "telek cecak" banget. Spielberg usia 27 bikin Jaws. Me? Nothing.

Tak bisa dimungkiri kebanyakan orang belajar film selalu lewat hal paling teknisnya... kamera. Dimulai dengan belajar soal menggunakan kamera. Itu terjadi karena kompleksitas paling awal ya di soal kamera. Ada yang namanya sinematografi. Karena yang namanya film itu gak bisa asal shoot alias "astrada" asal terang gambar ada. Kita musti ngerti gimana cara menyetel, membidik, mengarahkan, menggerakkan dll.

Kenapa orang mau nonton film saya ini? Karena syutingnya di sekitar situ.

Di masa kemarin, hal gini ini mahal dan susah nyari tempat belajarnya. Saya menghabiskan waktu beberapa tahun untuk ngerti bagaimana kamera itu bekerja. Tahu teknis tak cukup, musti terus latian. Bikin gambar bagus perlu skill dan tentu saja alat terpenuhi.

Keberadaan Youtube mempermudah proses belajar. Bahkan bisa menginduksi secara "instant" sense of visual seseorang. Dengan mudahnya anak baru pegang kamera, asal sering nonton Yotube, akan punya semacam pegangan estetis. Dibarengi dengan makin canggihnya kamera plus aksesoris, tak lagi sulit bikin gambar yang orang syutingan manten bilang "cinematic". Namun di sini ada problem lama yang tak selalu terjawab tuntas.

Ada 5 tahap dalam produksi film: Development, Pre Production, Production, Post Production dan Distribution. Rata-rata alur belajar ini mentok sampai Post Pro dan bahkan bagian Development dan Pre Production di-skip. Akibatnya kita lebih ngerti soal kamera namun gak paham bikin cerita serta sayangnya tak ngerti juga abis berkarya mau dikemanakan. Apakah upload di Youtube sudah cukup?

Akan tetapi tiap orang mau fokus di mana ini ya sesuai kondisi masing-masing. Ada yang emang cuma demen ngulik kamera (dan sesungguhnya tak mau belajar perfilman secara utuh).

Saat ini perfilman dengan apapun modelnya: komersil-non komersil, indie-non indie, industri korporat-industri rumahan dll. Adalah semacam ekosistem. Ini dengan asumsi bahwa pelakunya ingin hidup ataupun menghidupi perfilman.

Kalau kita mau hidup lewat film, atau mau menghidupkan perfilman, setidaknya musti memahami yang namanya EKOSISTEM KREATIF di balik perfilman. Kita ulik dulu nyawa semua itu apa. Menurut saya, karena film adalah sebagaimana produk kesenian (plus teknologi dan kolaborasinya tentu aja) ia akan bersandar pada VALUE.

Film musti memiliki value untuk bisa dipertahankan dan diedarkan. Karena itulah ia diciptakan. Valuenya apa?

Mau menghibur? Mau ngasih informasi? Mau bikin propaganda?

Lewat value ini kita bisa menakar harga produksi dan harga "jual"nya. Kenapa film horror laku kera sdibanding film science fiction? Karena value yang ditawarkan nilainya tidak sama bagi semua orang. Ini tak melulu soal film cerdas atau bodo. Saya melihatnya lebih pada value yang ingin didapat. Apakah value itu sudah sampai pada audiens? Nah itu ada ilmunya sendiri.

Jika suatu karya film ada value, maka mata rantai ekosistem yang terlibat di dalamnya akan mendapat nyawa. Film itu akan bisa diedarkan tanpa terlalu memaksakan usaha dan biaya. Orang Jawa bilangnya... PAYU!

Ini tak melulu soal uang. Itu lain lagi. Menjual film untuk dapat uang, bagi kalangan indie, susyah banget, Bosss. Tapi kalo value, itu masih lah bisa diulik. Value juga yang bikin ekosistem bertahan.

Value sudah ditentukan sedari awal kita mau bikin film. Sorry aje, bikin film gak kayak pelukis tunggal yang pegang kuas dan menentukan gimana isi benaknya tercurah. Film itu kolaboratif dan makan biaya. Sering biaya itu terlampau besar untuk bisa dibalikkan modalnya. Maka di tahap development kita musti tentukan target pasar, muatan value selain cerita dan juga nanti rencana eksekusinya. Ribet ya.

Setelah pre production dan post, tantangan terakhir adalah distribusi. Industri yang sudah established, dengan perputaran omzetnya yang gede banget, tak terjangkau oleh para pemula. Mereka sudah mengikatkan pada ekosistem semi-tertutup dan kadang kayak mafia. Maka muncullah sistem alternatif di kalangan independen. Ini berjalan secara offline maupun online.

Bicara soal distribusi independen offline, kita akan lebih banyak bicara soal komunitas. Unit terkecil adalah filmmaker indie di kampung-kampung, lalu komunitas lokal termasuk sekolah dan yang paling gede adalah para pemutar film alternatif. Pemutar alternatif ini pun bekerja secara sistematis. Fasilitas memakai ruang komersil di publik macam cafe, perpustakaan, mini bioskop dan kalo lagi ada duit ya sewa studio bioskop beneran.

Untuk pertanggungjawaban mutu, digelarlah festival-festival yang mensyaratkan adanya pemrograman bagi film yang mau diputar. Ada kurator yang bertugas menyeleksi biar film yang diputer nggak ngasal.

Distribusi online lebih merdeka daripada offline. Karena pembuat akan menentukan sendiri pilih platform yang mana dengan segala plus minusnya. Platform online tidak memerlukan biaya besar selain biaya akses internet. Persebaran lebih masif. Sayangnya audience-creator engagement tak sekuat yang offline. sesuai watak umum dari mediumnya sendiri... shallow kalo saya bilang. Sedangkan offline menjanjikan engagement yang lebih kuat, karena pertemuan mata dengan layar terjadi secara fisik. Butuh niat bener loh kalo mo dateng ke screening itu. Yah keduanya tak musti dipertentangkan.

Engagement dengan audiens adalah salah satu value yang perlu dikejar oleh distribusi. Maka dari sini sejak awal mo bikin film, sebaiknya kita tentukan film nanti mau didistribusikan dengan cara apa? Online? Offline?

(bersambung)
Saya belajar bikin film cukup telat. Jika kita bandingin dengan para the big guy of the industry, rasanya diri ini "telek cecak" banget. Spielberg usia 27 bikin Jaws. Me? Nothing.

Tak bisa dimungkiri kebanyakan orang belajar film selalu lewat hal paling teknisnya... kamera. Dimulai dengan belajar soal menggunakan kamera. Itu terjadi karena kompleksitas paling awal ya di soal kamera. Ada yang namanya sinematografi. Karena yang namanya film itu gak bisa asal shoot alias "astrada" asal terang gambar ada. Kita musti ngerti gimana cara menyetel, membidik, mengarahkan, menggerakkan dll.

Kenapa orang mau nonton film saya ini? Karena syutingnya di sekitar situ.

Di masa kemarin, hal gini ini mahal dan susah nyari tempat belajarnya. Saya menghabiskan waktu beberapa tahun untuk ngerti bagaimana kamera itu bekerja. Tahu teknis tak cukup, musti terus latian. Bikin gambar bagus perlu skill dan tentu saja alat terpenuhi.

Keberadaan Youtube mempermudah proses belajar. Bahkan bisa menginduksi secara "instant" sense of visual seseorang. Dengan mudahnya anak baru pegang kamera, asal sering nonton Yotube, akan punya semacam pegangan estetis. Dibarengi dengan makin canggihnya kamera plus aksesoris, tak lagi sulit bikin gambar yang orang syutingan manten bilang "cinematic". Namun di sini ada problem lama yang tak selalu terjawab tuntas.

Ada 5 tahap dalam produksi film: Development, Pre Production, Production, Post Production dan Distribution. Rata-rata alur belajar ini mentok sampai Post Pro dan bahkan bagian Development dan Pre Production di-skip. Akibatnya kita lebih ngerti soal kamera namun gak paham bikin cerita serta sayangnya tak ngerti juga abis berkarya mau dikemanakan. Apakah upload di Youtube sudah cukup?

Akan tetapi tiap orang mau fokus di mana ini ya sesuai kondisi masing-masing. Ada yang emang cuma demen ngulik kamera (dan sesungguhnya tak mau belajar perfilman secara utuh).

Saat ini perfilman dengan apapun modelnya: komersil-non komersil, indie-non indie, industri korporat-industri rumahan dll. Adalah semacam ekosistem. Ini dengan asumsi bahwa pelakunya ingin hidup ataupun menghidupi perfilman.

Kalau kita mau hidup lewat film, atau mau menghidupkan perfilman, setidaknya musti memahami yang namanya EKOSISTEM KREATIF di balik perfilman. Kita ulik dulu nyawa semua itu apa. Menurut saya, karena film adalah sebagaimana produk kesenian (plus teknologi dan kolaborasinya tentu aja) ia akan bersandar pada VALUE.

Film musti memiliki value untuk bisa dipertahankan dan diedarkan. Karena itulah ia diciptakan. Valuenya apa?

Mau menghibur? Mau ngasih informasi? Mau bikin propaganda?

Lewat value ini kita bisa menakar harga produksi dan harga "jual"nya. Kenapa film horror laku kera sdibanding film science fiction? Karena value yang ditawarkan nilainya tidak sama bagi semua orang. Ini tak melulu soal film cerdas atau bodo. Saya melihatnya lebih pada value yang ingin didapat. Apakah value itu sudah sampai pada audiens? Nah itu ada ilmunya sendiri.

Jika suatu karya film ada value, maka mata rantai ekosistem yang terlibat di dalamnya akan mendapat nyawa. Film itu akan bisa diedarkan tanpa terlalu memaksakan usaha dan biaya. Orang Jawa bilangnya... PAYU!

Ini tak melulu soal uang. Itu lain lagi. Menjual film untuk dapat uang, bagi kalangan indie, susyah banget, Bosss. Tapi kalo value, itu masih lah bisa diulik. Value juga yang bikin ekosistem bertahan.

Value sudah ditentukan sedari awal kita mau bikin film. Sorry aje, bikin film gak kayak pelukis tunggal yang pegang kuas dan menentukan gimana isi benaknya tercurah. Film itu kolaboratif dan makan biaya. Sering biaya itu terlampau besar untuk bisa dibalikkan modalnya. Maka di tahap development kita musti tentukan target pasar, muatan value selain cerita dan juga nanti rencana eksekusinya. Ribet ya.

Setelah pre production dan post, tantangan terakhir adalah distribusi. Industri yang sudah established, dengan perputaran omzetnya yang gede banget, tak terjangkau oleh para pemula. Mereka sudah mengikatkan pada ekosistem semi-tertutup dan kadang kayak mafia. Maka muncullah sistem alternatif di kalangan independen. Ini berjalan secara offline maupun online.

Bicara soal distribusi independen offline, kita akan lebih banyak bicara soal komunitas. Unit terkecil adalah filmmaker indie di kampung-kampung, lalu komunitas lokal termasuk sekolah dan yang paling gede adalah para pemutar film alternatif. Pemutar alternatif ini pun bekerja secara sistematis. Fasilitas memakai ruang komersil di publik macam cafe, perpustakaan, mini bioskop dan kalo lagi ada duit ya sewa studio bioskop beneran.

Untuk pertanggungjawaban mutu, digelarlah festival-festival yang mensyaratkan adanya pemrograman bagi film yang mau diputar. Ada kurator yang bertugas menyeleksi biar film yang diputer nggak ngasal.

Distribusi online lebih merdeka daripada offline. Karena pembuat akan menentukan sendiri pilih platform yang mana dengan segala plus minusnya. Platform online tidak memerlukan biaya besar selain biaya akses internet. Persebaran lebih masif. Sayangnya audience-creator engagement tak sekuat yang offline. sesuai watak umum dari mediumnya sendiri... shallow kalo saya bilang. Sedangkan offline menjanjikan engagement yang lebih kuat, karena pertemuan mata dengan layar terjadi secara fisik. Butuh niat bener loh kalo mo dateng ke screening itu. Yah keduanya tak musti dipertentangkan.

Engagement dengan audiens adalah salah satu value yang perlu dikejar oleh distribusi. Maka dari sini sejak awal mo bikin film, sebaiknya kita tentukan film nanti mau didistribusikan dengan cara apa? Online? Offline?

(bersambung)
Baca

APA ITU CINEMATIC?

Pertamakali yang perlu diketahui adalah bahwa istilah ini punya arti yang berbeda di dalam bahasa aslinya (Inggris) dengan pemakaian sehari-hari di kalangan pekerja audio visual Indonesia.
Dalam bahasa Inggris, cinematic (kata sifat) berarti "yang berkaitan dengan sinema". Akar katanya adalah cinématique (bahasa Prancis) yang artinya "berkaitan dengan gerak" (kinematic). Bisa juga berarti "memiliki karakter kualitas seperti pada film sinema" (having qualities characteristic of motion picture).

Saya memahami bahwa istilah cinematic yang dipakai sehari-hari oleh rekan-rekan praktisi audio visual sehari-hari (sebut saja misalnya wedding videographer) mengambil makna terakhir. Cinematic, "berasa seolah film layar lebar" gitulah kurang lebih maunya.
Bagi saya, istilah itu sah-sah saja, tentu dengan lebih baik memahami asal kata dari cinematic itu sendiri. Sejarah teknologi dan seni audio visual kita memang awalnya dari cinema.
Cinema mengacu pada dua hal: tempat memutar film atau seni dari pembuatan film itu sendiri. Mengenai cinema sebagai sebutan untuk tempat, British English lebih banyak menggunakan istilah Cinema sedangkan American English lebih sering memakai istilah Theatre. Sedangkan cinema sebagai sebuah art biasa disalingtukarkan dengan istilah "motion pictures" atau movie. Ribetnya, kata movie sendiri juga sering ditukar-tukar dengan istilah cinema. Kalimat "go to the cinema" atau "go to the movies" memiliki makna yang sama yakni tempat muter film. Kalo dalam bahasa Indonesia, kita lebih akrab dengan istilah "bioskop" yang terambil dari kata bioscope. Bioscope sebenarnya mengacu pada alat, seperti yang dipakai untuk "Warwick Bioscope". Warwick Bioscope adalah nama jenis proyektor film dari tahun 1897.
Baik cinema, movie dan motion pictures sejak sejarah awalnya mengacu pada film. Nah, soal film ini ada berbagai pemaknaan. Kalau mengacu pada bendanya maka film adalah medium rekam. Yakni pita seluloid dengan lapisan emulsi peka cahaya. Namun begitu kita memasuki era rekam digital, istilah film bergeser jadi lebih substansial. Film juga bermakna seni bercerita audio visual naratif. Makanya meski direkam pakai medium digital pun masih disebut sebagai film. Festival yang merayakannya disebut sebagai festival film, bukan video.
Dalam seni audio visual yang sudah berumur seratus tahun lebih ini, ada kecenderungan menjadikan estetika visual era jadul sebagai tolok ukur. Yakni ketika semua serba manual. Banyak seniman audio visual (termasuk saya) memuja tampilan klasik tersebut. Film (sebagai medium rekam) dilihat lebih terasa indah dibanding video. Mungkin sebagaimana standar penggunaan font "courier new" pada skenario yang standar, ada rasa nostalgis di situ. Dari situlah ada kecenderungan mengejar yang namanya "film look". Maksudnya adalah hasil rekam video yang berasa kayak film. Apa saja itu?
-Grain yang seolah kayak dari film seluloid
-24 fps frame rate kayak film di bioskop
-Motion blur kayak film bioskop
-Kadang juga aspect ratio anamorphic (lebar) disebut sebagai "kayak film"
Sudah jelas medium digital kurang bisa menyamai kualitas film yang memang sebuah teknologi fisik dan kimiawi. Makanya film look hanya bisa meniru-niru tampilan agar berkesan "kayak disyut pake film beneran". Semua hal itu coba ditiru dengan memakai efek dari software editing.
Film look sering menjadi hal yang diinginkan para filmmaker yang bermedium digital. Semisal saya sendiri, saya tak ingin kalau film saya terlalu "video banget". Salah satu artinya saya lebih ingin terlihat ada grain daripada "digital artifact" (pecah-pecah). Kesan yang ingin saya munculkan adalah kalo nonton film saya, rasanya udah kayak film bisokop gitu aja. Tentu saja jauh sekali kalo mau ingin kayak film beneran. Namanya juga seolah-olah... kayak Indomie rasa soto. Apa ya bisa menyamai soto beneran?
Terus bagaimana dengan cinematic wedding video?
Kurang lebih ya kayak gitu tadi. Video manten yang gambarnya (doang) ingin terlihat seakan film bioskop. Apakah ini sudah mencakupi istilah sejati dari CINEMATIC? ya jelas tidak.
Cinematic, dalam arti sesungguh dan selengkapnya, adalah kualitas yang dimiliki film sinema (motion pictures). Apa aja sih kualitas tersebut? Ada 2 yakni yang terlihat secara inderawi (audio visual) dan yang terasa secara intelektual (narative storytelling).
Yang terasa secara audio visual:
-Tata suara
-Tata cahaya
-Tata gambar (mencakup angle kamera dan gerakannya)
-Dekor
-Tata busana
-Dll
Yang terasa secara intelektual:
-Penuturan cerita (Storytelling)
-Editing
-Pesan-pesan
-Dll.
Jadi, cinematic yang sejati tak cuma video yang main slowmotion, pasang black bar dan musik-musik orkestra. So bolehkah menggunakan istilah "cinematic" buat video manten?
Ya emang siapa mau ngelarang sih? Hehehe... saya pribadi sih bukan CINEMA-NAZI yang memburu orang-orang cari duit dengan bikin what so called "cinematic wedding video". Apakah istilah yang mereka pakai musti dipertanggungjawabkan?
Menurut saya sih enggak. Istilah itu sudah berada dalam koridor "bahasa orang pasar", itu merupakan gimmick marketing daripada sebagai istilah sinematografi.
Bagaimanapun, weeding videography dan filmmaking adalah dua hal yang berbeda. Alat yang dipakai boleh sama. Kami para filmmaker murah memakai kamera fotografi buat bikin film, maka kalopun ntar ada wedding videographer mau makai kamera cinema pun ya so what? Hehehe.....
Yang membedakan kedua hal: baik cinematic yang emang bener istilah film dengan cinematic yang gimmick.... adalah sasarannya. Film itu ada konsumennya sendiri dan wedding videography apalagi. Udah beda bidang, beda pula isi kepala orang yang menggeluti kedua hal itu.
Begitulah sudut pandang saya, penyuka sinema.
My showreel:
Artikel ini adalah penyegaran untuk artikel saya yang lama: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/08/perbedaan-esensial-videografi-dan.html


Pertamakali yang perlu diketahui adalah bahwa istilah ini punya arti yang berbeda di dalam bahasa aslinya (Inggris) dengan pemakaian sehari-hari di kalangan pekerja audio visual Indonesia.
Dalam bahasa Inggris, cinematic (kata sifat) berarti "yang berkaitan dengan sinema". Akar katanya adalah cinématique (bahasa Prancis) yang artinya "berkaitan dengan gerak" (kinematic). Bisa juga berarti "memiliki karakter kualitas seperti pada film sinema" (having qualities characteristic of motion picture).

Saya memahami bahwa istilah cinematic yang dipakai sehari-hari oleh rekan-rekan praktisi audio visual sehari-hari (sebut saja misalnya wedding videographer) mengambil makna terakhir. Cinematic, "berasa seolah film layar lebar" gitulah kurang lebih maunya.
Bagi saya, istilah itu sah-sah saja, tentu dengan lebih baik memahami asal kata dari cinematic itu sendiri. Sejarah teknologi dan seni audio visual kita memang awalnya dari cinema.
Cinema mengacu pada dua hal: tempat memutar film atau seni dari pembuatan film itu sendiri. Mengenai cinema sebagai sebutan untuk tempat, British English lebih banyak menggunakan istilah Cinema sedangkan American English lebih sering memakai istilah Theatre. Sedangkan cinema sebagai sebuah art biasa disalingtukarkan dengan istilah "motion pictures" atau movie. Ribetnya, kata movie sendiri juga sering ditukar-tukar dengan istilah cinema. Kalimat "go to the cinema" atau "go to the movies" memiliki makna yang sama yakni tempat muter film. Kalo dalam bahasa Indonesia, kita lebih akrab dengan istilah "bioskop" yang terambil dari kata bioscope. Bioscope sebenarnya mengacu pada alat, seperti yang dipakai untuk "Warwick Bioscope". Warwick Bioscope adalah nama jenis proyektor film dari tahun 1897.
Baik cinema, movie dan motion pictures sejak sejarah awalnya mengacu pada film. Nah, soal film ini ada berbagai pemaknaan. Kalau mengacu pada bendanya maka film adalah medium rekam. Yakni pita seluloid dengan lapisan emulsi peka cahaya. Namun begitu kita memasuki era rekam digital, istilah film bergeser jadi lebih substansial. Film juga bermakna seni bercerita audio visual naratif. Makanya meski direkam pakai medium digital pun masih disebut sebagai film. Festival yang merayakannya disebut sebagai festival film, bukan video.
Dalam seni audio visual yang sudah berumur seratus tahun lebih ini, ada kecenderungan menjadikan estetika visual era jadul sebagai tolok ukur. Yakni ketika semua serba manual. Banyak seniman audio visual (termasuk saya) memuja tampilan klasik tersebut. Film (sebagai medium rekam) dilihat lebih terasa indah dibanding video. Mungkin sebagaimana standar penggunaan font "courier new" pada skenario yang standar, ada rasa nostalgis di situ. Dari situlah ada kecenderungan mengejar yang namanya "film look". Maksudnya adalah hasil rekam video yang berasa kayak film. Apa saja itu?
-Grain yang seolah kayak dari film seluloid
-24 fps frame rate kayak film di bioskop
-Motion blur kayak film bioskop
-Kadang juga aspect ratio anamorphic (lebar) disebut sebagai "kayak film"
Sudah jelas medium digital kurang bisa menyamai kualitas film yang memang sebuah teknologi fisik dan kimiawi. Makanya film look hanya bisa meniru-niru tampilan agar berkesan "kayak disyut pake film beneran". Semua hal itu coba ditiru dengan memakai efek dari software editing.
Film look sering menjadi hal yang diinginkan para filmmaker yang bermedium digital. Semisal saya sendiri, saya tak ingin kalau film saya terlalu "video banget". Salah satu artinya saya lebih ingin terlihat ada grain daripada "digital artifact" (pecah-pecah). Kesan yang ingin saya munculkan adalah kalo nonton film saya, rasanya udah kayak film bisokop gitu aja. Tentu saja jauh sekali kalo mau ingin kayak film beneran. Namanya juga seolah-olah... kayak Indomie rasa soto. Apa ya bisa menyamai soto beneran?
Terus bagaimana dengan cinematic wedding video?
Kurang lebih ya kayak gitu tadi. Video manten yang gambarnya (doang) ingin terlihat seakan film bioskop. Apakah ini sudah mencakupi istilah sejati dari CINEMATIC? ya jelas tidak.
Cinematic, dalam arti sesungguh dan selengkapnya, adalah kualitas yang dimiliki film sinema (motion pictures). Apa aja sih kualitas tersebut? Ada 2 yakni yang terlihat secara inderawi (audio visual) dan yang terasa secara intelektual (narative storytelling).
Yang terasa secara audio visual:
-Tata suara
-Tata cahaya
-Tata gambar (mencakup angle kamera dan gerakannya)
-Dekor
-Tata busana
-Dll
Yang terasa secara intelektual:
-Penuturan cerita (Storytelling)
-Editing
-Pesan-pesan
-Dll.
Jadi, cinematic yang sejati tak cuma video yang main slowmotion, pasang black bar dan musik-musik orkestra. So bolehkah menggunakan istilah "cinematic" buat video manten?
Ya emang siapa mau ngelarang sih? Hehehe... saya pribadi sih bukan CINEMA-NAZI yang memburu orang-orang cari duit dengan bikin what so called "cinematic wedding video". Apakah istilah yang mereka pakai musti dipertanggungjawabkan?
Menurut saya sih enggak. Istilah itu sudah berada dalam koridor "bahasa orang pasar", itu merupakan gimmick marketing daripada sebagai istilah sinematografi.
Bagaimanapun, weeding videography dan filmmaking adalah dua hal yang berbeda. Alat yang dipakai boleh sama. Kami para filmmaker murah memakai kamera fotografi buat bikin film, maka kalopun ntar ada wedding videographer mau makai kamera cinema pun ya so what? Hehehe.....
Yang membedakan kedua hal: baik cinematic yang emang bener istilah film dengan cinematic yang gimmick.... adalah sasarannya. Film itu ada konsumennya sendiri dan wedding videography apalagi. Udah beda bidang, beda pula isi kepala orang yang menggeluti kedua hal itu.
Begitulah sudut pandang saya, penyuka sinema.
My showreel:
Artikel ini adalah penyegaran untuk artikel saya yang lama: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/08/perbedaan-esensial-videografi-dan.html


Baca

PERBEDAAN ESENSIAL VIDEOGRAFI DAN SINEMATOGRAFI

(oleh Gugun Arief, “handmade” filmmaker)

MULAI DARI ALAT

Mari kita mulai dulu dari peralatan yang digunakan. Video dan film (sinema) berbeda secara fisik. Video adalah gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita lihat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat pemutar baru nongol gambarnya. Contohnya coba lihat pada kaset video. Kalau anda cabut pitanya, gambarnya nggak keliatan di sana. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita terawang pita film, gambarnya akan kelihatan. Untuk bisa menikmatinya sebagai produk akhir, dibutuhkan alat pemutar (projector) yang akan memproyeksikan gambar itu secara optik di layar. Itu tadi definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.


Teknologi video adalah perkembangan lanjutan dari teknologi film seluloid. Film sendiri pada mulanya berkembang dari teknologi fotografi. Makanya meski urusannya gambar bergerak istilah “Director of Photography” digunakan. Seorang sinematografer musti paham kaidah-kaidah dasar fotografi sekaligus juga menguasai teknik videografi (jika filmnya memakai teknologi video).

Beberapa orang membedakan secara lebih detail perbedaan sinematografer dengan director of photography. Tapi itu bukan bahasan saya di artikel ini. Yang jelas perkembangan teknologi berpengaruh banyak dalam cara kita mendefinisikan sinematografi nantinya. Sekarang ini definisi video dan film telah bergeser secara esensial. Ada wilayah-wilayah yang beririsan dan bisa saling dipakai satu sama lain. Seorang videografer pun bukan tak mungkin menjelajahi sinematografi dan sebaliknya. Banyak filmmaker yang berawal dari videografer.

Sudah tak terhindarkan lagi, teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya dibuat pakai film, sekarang banyak digantikan video. Film-film blockbuster yang anda tonton di bioskop banyak yang disyuting penuh menggunakan teknologi video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film.

ESENSI SINEMATOGRAFI

Secara umum, dalam kompetisi, lomba dan atau festifal film ada kategori sinematografi terbaik namun tidak ada kategori videografi terbaik. Kenapa? Karena sinematografi lebih kompleks dibandingkan dengan videografi.

Videografi adalah hal-hal mengenai produksi karya audio visual yang memakai teknologi video: kamera, komputer editing, audio dll. Praktisinya disebut sebagai videografer. Karya yang tercakup dalam kerjaan videografer antara lain: dokumentasi, video klip, company profile dll. Karya-karya tersebut memerlukan pemahaman teknis soal cara penggunaan kamera, olah gambar, editing, pencahayaan dll. Dengan demikian biasanya videografer bekerja dalam tim yang lebih kecil. Seringkali ia sendiri yang pegang kamera. Videografer tidak dipusingkan dengan naskah, storytelling, blocking dll.

Sinematografi adalah hal-hal mengenai tata audio visual sebuah film. Agar bisa paham apa cakupan sinematografi, kita musti pahami dulu apakah pengertian substansial dari film.

Film adalah karya audio visual yang bercerita lewat karakter dalam plot tertentu. Tak peduli teknologi yang dipakai, asalkan karya tersebut menceritakan sesuatu lewat karakter maka disebut sebagai film. Cerita adalah tulang punggung sebuah film.

Karena dalam membuat film diperlukan banyak orang yang spesifik mengurusi satu bagian tertentu maka terjadi pembagian kerja kreatif. Sinematografi adalah kerja kreatif khusus yang berhubungan dengan audio visual (suara dan gambar). Sinematografer adalah seorang profesional yang memimpin beberapa orang dengan spesifikasi kerjaan teknis khusus (kameraman, tukang lampu, audio dll.) bekerja dekat dengan sutradara membantu mewujudkan visinya. Ia menjadi perwakilan mata sang sutradara. Ia harus memahami cerita yang sedang difilmkan, detail emosi, detail nuansa dan sebagainya. Itu nanti yang akan menjadi bahannya untuk mengeksekusi konsep visual sesuai visi sutradara. Maka, menjadi sinematografer musti punya wawasan konseptual dan kemahiran visual sekaligus.

Sejak berkembangnya teknologi video, sinematografer pun sebagian berurusan dengan videografi. Kamera apa yang cocok untuk adegan tertentu, lampu apa yang digunakan untuk memunculkan mood tertentu, bagaimana nanti visual effect di post produksi bisa dilakukan lebih praktis dll. Jadi videografi dalam hal ini bisa menjadi bagian dari sinematografi, namun tidak sebaliknya. Kalau sinematografi lebih ke konsep dan eksekusi audio visual sebuah film. Videografi lebih membahas hal-hal yang teknis, spesifik soal teknologi rekam video.

SINEMATOGRAFI DI ERA KIDS DAN OM-OM JAMAN NOW

Ini adalah jaman yang kita syukuri karena teknologi video jadi sangat terjangkau dan semua bisa bikin film. Alternatif putar film pun tak cuma di ruang-ruang bioskop namun juga di platform internet. Maka tak heran banyak orang dengan modal kamera dan bisa ngedit video lantas bilang dirinya sinematografer. Saya tak bermasalah dengan hal ini. Karena sinematografi adalah soal mewujudkan visi, bukan sekadar alat atau tim seabreg. Teknologi bisa usang tapi kreativitas visual manusia terus berjalan. Anda tentu ingat, komputer yang dipakai untuk bikin Jurassic Park kalah canggih dengan komputer yang anda pakai saat ini. Kamera untuk syuting Gone with The Wind, udah nggak praktis dibanding dengan kamera jaman sekarang.

Orang mulai jarang mau repot-repot syuting dengan seluloid kecuali beberapa filmmaker fanatik macam Nolan dan Tarantino. Cara produksi pun tak melulu mengikuti kaidah baku karena perubahan teknologi memangkas banyak kerepotan. Dulu sinematografer mutlak dibantu banyak orang karena teknologinya nggak praktis. Jaman berubah. Kini teknologi memungkinkan satu orang bisa menjadi semuanya: sutradara, kameraman, sinematografer, editor dan bahkan komposer. Bagi saya hal ini nggak perlu diejek. Atau kalau anda sangat perlu bahan ejekan, ejeklah Robert Rodriguez hehehe. Dia lah pelopor istilah “one man crew”. Dia sangat benci kalo kameranya dipegang orang lain.

Pada akhirnya relevansi perbedaan sinematografi dan videografi adalah soal kemana karya kita diarahkan. Kalau anda enjoy dibayar mengabadikan pasangan prewedding, bikin video 5 menitan yang isinya slomo atau aerial drone shot, atau dapet duit dari bikin company profile, demen nyobain gear terbaru, suka ngobrolin alat-alat baru di grup Whatsapp maka mungkin videografi adalah dunia anda. Sedang bagi anda yang ingin mengolah konsep visual yang paling pas dengan narasi, bekerja dengan naskah, aktor dan setting, memutar film di festival atau bahkan bioskop, mungkin anda cocok dengan dunia sinematografi.

Terakhir… kalo anda terinspirasi oleh nama di bawah ini maka anda akan tahu lebih pas di mana.

SAM KOLDER!…videografi
ROGER DEAKINS!…sinematografi.

Sekian. Angkat kamera anda dan mulailah syuting samting
(oleh Gugun Arief, “handmade” filmmaker)

MULAI DARI ALAT

Mari kita mulai dulu dari peralatan yang digunakan. Video dan film (sinema) berbeda secara fisik. Video adalah gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita lihat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat pemutar baru nongol gambarnya. Contohnya coba lihat pada kaset video. Kalau anda cabut pitanya, gambarnya nggak keliatan di sana. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita terawang pita film, gambarnya akan kelihatan. Untuk bisa menikmatinya sebagai produk akhir, dibutuhkan alat pemutar (projector) yang akan memproyeksikan gambar itu secara optik di layar. Itu tadi definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.


Teknologi video adalah perkembangan lanjutan dari teknologi film seluloid. Film sendiri pada mulanya berkembang dari teknologi fotografi. Makanya meski urusannya gambar bergerak istilah “Director of Photography” digunakan. Seorang sinematografer musti paham kaidah-kaidah dasar fotografi sekaligus juga menguasai teknik videografi (jika filmnya memakai teknologi video).

Beberapa orang membedakan secara lebih detail perbedaan sinematografer dengan director of photography. Tapi itu bukan bahasan saya di artikel ini. Yang jelas perkembangan teknologi berpengaruh banyak dalam cara kita mendefinisikan sinematografi nantinya. Sekarang ini definisi video dan film telah bergeser secara esensial. Ada wilayah-wilayah yang beririsan dan bisa saling dipakai satu sama lain. Seorang videografer pun bukan tak mungkin menjelajahi sinematografi dan sebaliknya. Banyak filmmaker yang berawal dari videografer.

Sudah tak terhindarkan lagi, teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya dibuat pakai film, sekarang banyak digantikan video. Film-film blockbuster yang anda tonton di bioskop banyak yang disyuting penuh menggunakan teknologi video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film.

ESENSI SINEMATOGRAFI

Secara umum, dalam kompetisi, lomba dan atau festifal film ada kategori sinematografi terbaik namun tidak ada kategori videografi terbaik. Kenapa? Karena sinematografi lebih kompleks dibandingkan dengan videografi.

Videografi adalah hal-hal mengenai produksi karya audio visual yang memakai teknologi video: kamera, komputer editing, audio dll. Praktisinya disebut sebagai videografer. Karya yang tercakup dalam kerjaan videografer antara lain: dokumentasi, video klip, company profile dll. Karya-karya tersebut memerlukan pemahaman teknis soal cara penggunaan kamera, olah gambar, editing, pencahayaan dll. Dengan demikian biasanya videografer bekerja dalam tim yang lebih kecil. Seringkali ia sendiri yang pegang kamera. Videografer tidak dipusingkan dengan naskah, storytelling, blocking dll.

Sinematografi adalah hal-hal mengenai tata audio visual sebuah film. Agar bisa paham apa cakupan sinematografi, kita musti pahami dulu apakah pengertian substansial dari film.

Film adalah karya audio visual yang bercerita lewat karakter dalam plot tertentu. Tak peduli teknologi yang dipakai, asalkan karya tersebut menceritakan sesuatu lewat karakter maka disebut sebagai film. Cerita adalah tulang punggung sebuah film.

Karena dalam membuat film diperlukan banyak orang yang spesifik mengurusi satu bagian tertentu maka terjadi pembagian kerja kreatif. Sinematografi adalah kerja kreatif khusus yang berhubungan dengan audio visual (suara dan gambar). Sinematografer adalah seorang profesional yang memimpin beberapa orang dengan spesifikasi kerjaan teknis khusus (kameraman, tukang lampu, audio dll.) bekerja dekat dengan sutradara membantu mewujudkan visinya. Ia menjadi perwakilan mata sang sutradara. Ia harus memahami cerita yang sedang difilmkan, detail emosi, detail nuansa dan sebagainya. Itu nanti yang akan menjadi bahannya untuk mengeksekusi konsep visual sesuai visi sutradara. Maka, menjadi sinematografer musti punya wawasan konseptual dan kemahiran visual sekaligus.

Sejak berkembangnya teknologi video, sinematografer pun sebagian berurusan dengan videografi. Kamera apa yang cocok untuk adegan tertentu, lampu apa yang digunakan untuk memunculkan mood tertentu, bagaimana nanti visual effect di post produksi bisa dilakukan lebih praktis dll. Jadi videografi dalam hal ini bisa menjadi bagian dari sinematografi, namun tidak sebaliknya. Kalau sinematografi lebih ke konsep dan eksekusi audio visual sebuah film. Videografi lebih membahas hal-hal yang teknis, spesifik soal teknologi rekam video.

SINEMATOGRAFI DI ERA KIDS DAN OM-OM JAMAN NOW

Ini adalah jaman yang kita syukuri karena teknologi video jadi sangat terjangkau dan semua bisa bikin film. Alternatif putar film pun tak cuma di ruang-ruang bioskop namun juga di platform internet. Maka tak heran banyak orang dengan modal kamera dan bisa ngedit video lantas bilang dirinya sinematografer. Saya tak bermasalah dengan hal ini. Karena sinematografi adalah soal mewujudkan visi, bukan sekadar alat atau tim seabreg. Teknologi bisa usang tapi kreativitas visual manusia terus berjalan. Anda tentu ingat, komputer yang dipakai untuk bikin Jurassic Park kalah canggih dengan komputer yang anda pakai saat ini. Kamera untuk syuting Gone with The Wind, udah nggak praktis dibanding dengan kamera jaman sekarang.

Orang mulai jarang mau repot-repot syuting dengan seluloid kecuali beberapa filmmaker fanatik macam Nolan dan Tarantino. Cara produksi pun tak melulu mengikuti kaidah baku karena perubahan teknologi memangkas banyak kerepotan. Dulu sinematografer mutlak dibantu banyak orang karena teknologinya nggak praktis. Jaman berubah. Kini teknologi memungkinkan satu orang bisa menjadi semuanya: sutradara, kameraman, sinematografer, editor dan bahkan komposer. Bagi saya hal ini nggak perlu diejek. Atau kalau anda sangat perlu bahan ejekan, ejeklah Robert Rodriguez hehehe. Dia lah pelopor istilah “one man crew”. Dia sangat benci kalo kameranya dipegang orang lain.

Pada akhirnya relevansi perbedaan sinematografi dan videografi adalah soal kemana karya kita diarahkan. Kalau anda enjoy dibayar mengabadikan pasangan prewedding, bikin video 5 menitan yang isinya slomo atau aerial drone shot, atau dapet duit dari bikin company profile, demen nyobain gear terbaru, suka ngobrolin alat-alat baru di grup Whatsapp maka mungkin videografi adalah dunia anda. Sedang bagi anda yang ingin mengolah konsep visual yang paling pas dengan narasi, bekerja dengan naskah, aktor dan setting, memutar film di festival atau bahkan bioskop, mungkin anda cocok dengan dunia sinematografi.

Terakhir… kalo anda terinspirasi oleh nama di bawah ini maka anda akan tahu lebih pas di mana.

SAM KOLDER!…videografi
ROGER DEAKINS!…sinematografi.

Sekian. Angkat kamera anda dan mulailah syuting samting
Baca

KULDESAK (1998), LAHIRNYA ERA BARU FILMMAKER INDONESIA

Dulu sebelum era reformasi dimulai, 1999 ke belakang, untuk jadi sutradara musti ikut aturan yang ribet. Aturan yang hierarkis dan mendewakan senioritas. Dikatakan kalo mo jadi sutradara tuh musti ikut aturan dulu. Dimulai jadi kru, astrada, nulis naskah dll (dengan jumlah frekuensi yang ditentukan) barulah seseorang "direstui" jadi sutradara. Dengan aturan ini, kamu-kamu yang "dudu sopo-sopo just like me" nggak bakal bisa gampang deh jadi sutradara. Belum lagi jaman yang mbahmu dibilang luwih penak itu, film berada dalam pengaturan departemen penerangan. Jadi kamu nggak bisa bikin film seenak udelmu.


KULDESAK, yang kalo dalam bahasa Prancisnya cul-de-sac berarti jalan buntu, sejatinya adalah film multi plot. Ada lebih dari satu kisah di film itu. Tiap plot disutradarai oleh orang berbeda, 4 filmmaker muda pada masanya (kalo sekarang ya udah Om-om) yakni Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Namun keempat plot itu tidak dipisah dalam segmen yang tegas melainkan "dijahit" dalam satu film utuh. Nyambung ato enggak terserah interpretasi kita yang nonton.

Plot pertama mengisahkan Dina (Oppie Andaresta) seorang penjaga loket bioskop. Dina terobsesi pada seniman host TV Max Mollo (Dik Doank) dan hidup ngekost bertetangga sama Budi (Hary Suharyadi) dan Yanto, sepasang gay.

Plot kedua mengisahkan Andre (Ryan Hidayat), seorang musisi yang slacker. Ortunya sugih, dia gak bakal kekurangan. Tapi dia ada krisis eksistensial yang parah. Idolanya adalah Kurt Cobain. Sahabatnya terdekat, selain kesepian, adalah Hariolus (Iwa K.). Hariolus adalah gelandangan yang hidup di emperan toko dan piara burung hantu. Ia selain nge-rap punya bakat ngeramal. Takdir Andre selain dipengaruhi oleh Kurt Cobain, juga dipengaruhi oleh ramalan si Harioulus ini.

Plot ketiga bercerita tentang Aksan (Wong Aksan), anak pengusaha rental Laser Disc yang berteman dengan karyawan rental bernama Din (Tio Pakusadewo). Aksan sangat pingin bikin film namun tak pernah dapat restu dari ortu. Ya kalo lu suka otak-atik gathuk, you will know that "ortu" stands for ORA RESTU. Aksan ini sangat melek film. Dia ngerti mulai dari Robert Rodriguez hingga Tarantino. Suatu ketika ia punya ide gila buat mendanai produksi film, sebelum akhirnya dikacaukan oleh genk "eksistensialis hedon" yang beranggotakan Sophia Latjuba, Bucek Deep dan Maya Lubis.

Plot keempat bercerita tentang Lina (Bianca Adinegoro), karyawati biro iklan yang kemudian menemukan sisi gelap dari bosnya (Toro Margens). Ketika ia terperosok dalam perangkap yang dipasang si bos, ia melakukan aksi vigilante menggunakan pistol seakan film Hongkong noir.

Keempat kisah ini tidak saling berhubungan kecuali sebagian besar peristiwanya mengambil waktu malam. Para sutradara ini konon membuat filmnya secara gerilya, karena cara produksi mereka memang menentang aturan yang udah established. tahun itu, 1998, perfilman nasional memang sudah di ambang kehancuran karena minimnya produksi dan industri tontonan televisi sedang berkembang. Jadi selain bisa disebut sebagai pelopor indie filmmaking Indonesia, bisa juga disebut sebagai generasi peralihan dari era sebelumnya.

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/
KULDESAK membawa penyegaran secara tematis. Mereka tak lagi mengangkat tema-tema klasik percintaan, jodoh tanpa restu, cita-cita yang terhalang dll. Film ini lebih berbau eksistensial karena mewakili "aura" pada jamannya. Era bangkitnya industri pop yang diwakili oleh musik dari MTV, musik grunge dari Nirvana, passion dan idealisme dll. Film ini juga memperlihatkan bahwa generasi filmmaker baru saat itu sudah melek dengan sinema non mainstream dunia seperti Pulp Fiction, El Mariachi, Natural Born Killers dll.

Bahkan jejak "Tarantinoesque" kentara banget di plot kisah Aksan. Lakon yang dikendalikan oleh dialog yang nyerocos sambil menyebut beberapa referensi film, ini sangat Tarantinoesque. Syukurlah dialog-dialognya ngalir dan enak didengerin. Sinematografi dan editing pun sudah meninggalkan gaya-gaya umum sineas "tua". Adegan malamnya mengingatkan pada film Taxi Driver. Penggunaan palet warnanya bahkan sudah mendahului In The Mood For Love, ini kalo saya boleh lebay sih. Penyembah Wong Kar Wai jangan ngamuk!

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/

Secara keseluruhan, mungkin tema yang dibawa film ini berkisar soal "pertaruhan" antara eksistensi dan sepi.

Karakter Andre dan Dina mewakili sepi.

Andre adalah anak wong sugih yang kesepian dan mengidolakan pop artist. Musik dari Ahmad Dani bahkan kentara sekali mengadopsi gaya dari artis yang diidolakan karakter Andre. Yakni lagu "Datanglah Sebagai Dirimu", merupakan semacam "penafsiran" ulang dari "Comes As You Are" karya Kurt Cobain.

Dina adalah gadis kesepian yang juga mengidolakan pop artist, berteman dengan manusia marjinal yang beda orientasi sexual.

Simak kata-kata Dina ketika ditanyain Budi (maaf kalo gak sama persis, berdasar ingatan aja):

"Kamu kalo kesepian ngapain?"

"Ya sepi. Sepi gitu aja..."

Sementara itu Aksan dan Lina mewakili eksistensi.

Aksan adalah anak wong sugih yang ingin eksis namun tak menemukan dukungan dari keluarga. Aksan bilang kalo gak bikin film dia ntar bisa mati dah. Ada semangat pembaruan juga ketika Din, temannya bilang bahwa dia jangan niru-niru Teguh Karya, Eros Djarot, Garin Nugroho dll.

Lina adalah gadis pemberontak di perusahaan yang membalas dendam pada bos yang ternyata lebih buruk dari perusahaan miliknya. Di sebuah rapat Lina mengkonfrontasi atasannya secara langsung. Seakan Lina tu mau bilang "Gue di sini bukan cuma jongos tauk."

KULDESAK sekilas mungkin terasa style over substance, apalagi dengan berani (dan cerdas) menggunakan idiom visual yang kurang dipakai oleh filmmaker sebelumnya. Musik-musik populer menghiasi sekujur film. Mirip pendekatan Tarantino di Pulp Fiction. KULDESAK tidak hendak bicara ide-ide besar soal negara dan bukan pula mau mengkritisi politik dengan cara tersamar sekalipun. Meski itu adalah tahun yang kalo pake istilah Bung Karno adalah "vivere pericoloso", tahun yang nyrempet bahaya. Film ini berusaha "hadir" begitu saja. Ini adalah film yang mungkin oleh generasi akhir 90an dikatakan sebagai film yang "gue banget". Era baru film Indonesia telah (dicoba) lahir. Maka saya pikir akan menjadi "wajib" kita mengenang film yang udah berusia 20 tahunan ini. Apalagi bagi filmmaker indie yang menjadikan gerilya sebagai jurus andalan.
Dulu sebelum era reformasi dimulai, 1999 ke belakang, untuk jadi sutradara musti ikut aturan yang ribet. Aturan yang hierarkis dan mendewakan senioritas. Dikatakan kalo mo jadi sutradara tuh musti ikut aturan dulu. Dimulai jadi kru, astrada, nulis naskah dll (dengan jumlah frekuensi yang ditentukan) barulah seseorang "direstui" jadi sutradara. Dengan aturan ini, kamu-kamu yang "dudu sopo-sopo just like me" nggak bakal bisa gampang deh jadi sutradara. Belum lagi jaman yang mbahmu dibilang luwih penak itu, film berada dalam pengaturan departemen penerangan. Jadi kamu nggak bisa bikin film seenak udelmu.


KULDESAK, yang kalo dalam bahasa Prancisnya cul-de-sac berarti jalan buntu, sejatinya adalah film multi plot. Ada lebih dari satu kisah di film itu. Tiap plot disutradarai oleh orang berbeda, 4 filmmaker muda pada masanya (kalo sekarang ya udah Om-om) yakni Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Namun keempat plot itu tidak dipisah dalam segmen yang tegas melainkan "dijahit" dalam satu film utuh. Nyambung ato enggak terserah interpretasi kita yang nonton.

Plot pertama mengisahkan Dina (Oppie Andaresta) seorang penjaga loket bioskop. Dina terobsesi pada seniman host TV Max Mollo (Dik Doank) dan hidup ngekost bertetangga sama Budi (Hary Suharyadi) dan Yanto, sepasang gay.

Plot kedua mengisahkan Andre (Ryan Hidayat), seorang musisi yang slacker. Ortunya sugih, dia gak bakal kekurangan. Tapi dia ada krisis eksistensial yang parah. Idolanya adalah Kurt Cobain. Sahabatnya terdekat, selain kesepian, adalah Hariolus (Iwa K.). Hariolus adalah gelandangan yang hidup di emperan toko dan piara burung hantu. Ia selain nge-rap punya bakat ngeramal. Takdir Andre selain dipengaruhi oleh Kurt Cobain, juga dipengaruhi oleh ramalan si Harioulus ini.

Plot ketiga bercerita tentang Aksan (Wong Aksan), anak pengusaha rental Laser Disc yang berteman dengan karyawan rental bernama Din (Tio Pakusadewo). Aksan sangat pingin bikin film namun tak pernah dapat restu dari ortu. Ya kalo lu suka otak-atik gathuk, you will know that "ortu" stands for ORA RESTU. Aksan ini sangat melek film. Dia ngerti mulai dari Robert Rodriguez hingga Tarantino. Suatu ketika ia punya ide gila buat mendanai produksi film, sebelum akhirnya dikacaukan oleh genk "eksistensialis hedon" yang beranggotakan Sophia Latjuba, Bucek Deep dan Maya Lubis.

Plot keempat bercerita tentang Lina (Bianca Adinegoro), karyawati biro iklan yang kemudian menemukan sisi gelap dari bosnya (Toro Margens). Ketika ia terperosok dalam perangkap yang dipasang si bos, ia melakukan aksi vigilante menggunakan pistol seakan film Hongkong noir.

Keempat kisah ini tidak saling berhubungan kecuali sebagian besar peristiwanya mengambil waktu malam. Para sutradara ini konon membuat filmnya secara gerilya, karena cara produksi mereka memang menentang aturan yang udah established. tahun itu, 1998, perfilman nasional memang sudah di ambang kehancuran karena minimnya produksi dan industri tontonan televisi sedang berkembang. Jadi selain bisa disebut sebagai pelopor indie filmmaking Indonesia, bisa juga disebut sebagai generasi peralihan dari era sebelumnya.

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/
KULDESAK membawa penyegaran secara tematis. Mereka tak lagi mengangkat tema-tema klasik percintaan, jodoh tanpa restu, cita-cita yang terhalang dll. Film ini lebih berbau eksistensial karena mewakili "aura" pada jamannya. Era bangkitnya industri pop yang diwakili oleh musik dari MTV, musik grunge dari Nirvana, passion dan idealisme dll. Film ini juga memperlihatkan bahwa generasi filmmaker baru saat itu sudah melek dengan sinema non mainstream dunia seperti Pulp Fiction, El Mariachi, Natural Born Killers dll.

Bahkan jejak "Tarantinoesque" kentara banget di plot kisah Aksan. Lakon yang dikendalikan oleh dialog yang nyerocos sambil menyebut beberapa referensi film, ini sangat Tarantinoesque. Syukurlah dialog-dialognya ngalir dan enak didengerin. Sinematografi dan editing pun sudah meninggalkan gaya-gaya umum sineas "tua". Adegan malamnya mengingatkan pada film Taxi Driver. Penggunaan palet warnanya bahkan sudah mendahului In The Mood For Love, ini kalo saya boleh lebay sih. Penyembah Wong Kar Wai jangan ngamuk!

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/

Secara keseluruhan, mungkin tema yang dibawa film ini berkisar soal "pertaruhan" antara eksistensi dan sepi.

Karakter Andre dan Dina mewakili sepi.

Andre adalah anak wong sugih yang kesepian dan mengidolakan pop artist. Musik dari Ahmad Dani bahkan kentara sekali mengadopsi gaya dari artis yang diidolakan karakter Andre. Yakni lagu "Datanglah Sebagai Dirimu", merupakan semacam "penafsiran" ulang dari "Comes As You Are" karya Kurt Cobain.

Dina adalah gadis kesepian yang juga mengidolakan pop artist, berteman dengan manusia marjinal yang beda orientasi sexual.

Simak kata-kata Dina ketika ditanyain Budi (maaf kalo gak sama persis, berdasar ingatan aja):

"Kamu kalo kesepian ngapain?"

"Ya sepi. Sepi gitu aja..."

Sementara itu Aksan dan Lina mewakili eksistensi.

Aksan adalah anak wong sugih yang ingin eksis namun tak menemukan dukungan dari keluarga. Aksan bilang kalo gak bikin film dia ntar bisa mati dah. Ada semangat pembaruan juga ketika Din, temannya bilang bahwa dia jangan niru-niru Teguh Karya, Eros Djarot, Garin Nugroho dll.

Lina adalah gadis pemberontak di perusahaan yang membalas dendam pada bos yang ternyata lebih buruk dari perusahaan miliknya. Di sebuah rapat Lina mengkonfrontasi atasannya secara langsung. Seakan Lina tu mau bilang "Gue di sini bukan cuma jongos tauk."

KULDESAK sekilas mungkin terasa style over substance, apalagi dengan berani (dan cerdas) menggunakan idiom visual yang kurang dipakai oleh filmmaker sebelumnya. Musik-musik populer menghiasi sekujur film. Mirip pendekatan Tarantino di Pulp Fiction. KULDESAK tidak hendak bicara ide-ide besar soal negara dan bukan pula mau mengkritisi politik dengan cara tersamar sekalipun. Meski itu adalah tahun yang kalo pake istilah Bung Karno adalah "vivere pericoloso", tahun yang nyrempet bahaya. Film ini berusaha "hadir" begitu saja. Ini adalah film yang mungkin oleh generasi akhir 90an dikatakan sebagai film yang "gue banget". Era baru film Indonesia telah (dicoba) lahir. Maka saya pikir akan menjadi "wajib" kita mengenang film yang udah berusia 20 tahunan ini. Apalagi bagi filmmaker indie yang menjadikan gerilya sebagai jurus andalan.
Baca

DUNIA PERFILMAN DALAM SUDUT JANGKAUAN FILMMAKER GERILYA

Produksi film itu adalah sebuah kesatuan dari 5 fase: -Development (saat kita merancang cerita untuk film) -Pra Produksi (saat kita mempersiapkan apapun untuk mewujudkan cerita itu jadi film) -Produksi (saat kita mengambil gambar film) -Pasca produksi (saat kita menyunting atau mengedit gambar agar menjadi kesatuan utuh audio visual bercerita) -Distribusi (saat kita menyampaikan hasil produksi ke publik atau market) Di dunia profesional rata-rata pola ini sudah "established" dan jaringannya "established". Sehingga memunculkan anggapan "orangnya itu-itu saja". Para pemain baru akan merapat di salah satu simpul jaringan untuk masuk ke establishment. Bagaimana dengan yang gerilya, indie, low budget dll? Senior saya (meski masih seumuran langkah dia lebih panjang daripada saya) mengatakan bahwa merapat ke simpul adalah wajib. Kekuatan jejaring adalah oksigen buat para pegiat perfilman. Dan jejaring yang established dipandang lebih "memudahkan". Sendirian kelayapan cari ikan di lautan, ibarat kata, bisa mampus!
Lantas gimana dengan yang masih di luar jejaring? Karena mungkin riak yang mereka ciptakan terlalu kecil untuk membasahi "celana-celana mereka yang sudah sampai di pelataran industri". Dalam pasar kreatif, supply on demand itu lebih berdasar value daripada fungsi intrinsik. Bahasa sederhananya "orang pingin nonton film karena suka, bukan karena lapar. Gak nonton film gak bakal mati". Jadi se-value apa film kita (yang di luar pagar) ini bisa dilirik jejaring? Senior saya (tak cuma seorang) menyarankan setidaknya 2 hal: -Magang sama senior (termasuk siap dengan potensi "sikut-sikutannya") -Raih recognition di luar (untuk kemudian masuk jejaring lokal) More about value. Dalam pasar film, sebenarnya tidak ada "bagus" yang sejati. Istilah yang lebih tepat mungkin "recognition". Selaras dengan nasihat senior saya, seorang seniman Istana Negara, karya yang bagus itu laku. Laku kadang bukan soal quality tapi recognition. Bagaimana kedua hal ini bis adipertukarkan? Ada ruang diskusi dan debat yang lebar untuk itu. Apa saja value sebuah film? Di pasar tradisional, film dijual lewat tiket dan profitnya melulu dari situ. Jaman berubah, kebutuhan berubah. Orang tak terlalu menginvestasikan duit dan waktu buat nonton film (apalagi setelah ditonton tak ada bekasnya). Filmmaker mulai memperluas value dengan menjual semua aspek dalam film. Ada merchandise, ada acara jumpa artis, ada promosi lokasi, ada space iklan dll. Lewat pintu-pintu itulah monetize dilakukan. Maka filmmaker selalu berjejaring dengan para investor yang gak cuma dari bidang film saja. Film itu ibaratnya teras rumah saja. Di era "big data" gini, nambah lagi jualannya. Yakni para penontonnya sendiri. Para investor mengembangkan aplikasi agar terus terkoneksi dengan minta masyarakat dan bagaimana mereka mengolahnya untuk dimanfaatkan oleh industri. Di sini peluang terbesar ada pada potensi iklan. Bicara hal gini levelnya udah di jejaring tinggi. Lantas bagaimana dengan filmmaker luar pagar yang maish berjuang di level eksistensi? Mereka tetap menjalin napas. Hanya saja skalanya tidak semasif industri. Mereka belum bisa bermain big data karena modal dan resource. Maka yang diandalkan adalah komunal yang skala lokalnya bisa 100 orang itu aja udah bagus. Rata-rata pola produksi komunitas akan habis napas begitu masuk fase distribusi. Semua sudah lelah (dan sebagian kapok) di fase produksi. Padahal di Indonesia, sistem yang bisa melindungi passion mereka ini belum cukup established. Adanya BEKRAF dan Pusbang Film mungkin merupakan angin segar buat mereka yang sevisi dengan mereka. Pertanyaan masih muncul. Bagaimana dengan film-film yang tidak menyuarakan "agenda kebudayaan" nasional? Peter Jackson bikin film zombie amoral tanpa mengusung budaya New Zealand tapi disupport oleh film council di sana. Mungkinkah itu terjadi di Indonesia? Saya belum tahu. Pemutaran gerilya rata-rata valuenya masih di level apresiasi, belum cukup bisa dimonetize. Cara-cara lain yang dipakai adalah bikin pelatihan/workshop, jualan merchandise komunitas misalnya kaos, tote bag, topi dll. Jika dimanage dengan bagus nampaknya ini lumayan buat nutupin sebagian ongkos produksi. Cara-cara kreatif lain terus digali karena hampir tidak mungkin mengandalkan tiket. Terlebih belum ada ruang baku untuk nonton film komunitas. Biaya operasional dengan potensi keuntungan susah diseimbangkan. Ada pertanyaan yang mendasar juga seputar gerakan indie ini. Apakah mereka cuma sarana menuju ke dalam jejaring yang lebih besar? Atau tetap di situ berjuang menggali segala potensinya? Di mata penonton umum, sesungguhnya batasan indie dan industri tidaklah jelas amat. Bioskop bukan lagi tolok ukur "masuk industri" karena toh yang indie pun bisa masuk bioskop. Dulu indie adalah untuk menyebut gerakan yang low budget dan tak tergantung pemodal besar. Filmnya punya karakteristik visual yang khas karena production value yang rendah. Kini produksi dengan label indie pun punya kualitas artistik yang cukup mewah. Selain itu juga lincah bergerak lintas jejaring dan menyembulkan nama mereka di dunia perfilman. Ini baru pembahasan soal sistemnya, belum soal kualitas substansialnya.
Produksi film itu adalah sebuah kesatuan dari 5 fase: -Development (saat kita merancang cerita untuk film) -Pra Produksi (saat kita mempersiapkan apapun untuk mewujudkan cerita itu jadi film) -Produksi (saat kita mengambil gambar film) -Pasca produksi (saat kita menyunting atau mengedit gambar agar menjadi kesatuan utuh audio visual bercerita) -Distribusi (saat kita menyampaikan hasil produksi ke publik atau market) Di dunia profesional rata-rata pola ini sudah "established" dan jaringannya "established". Sehingga memunculkan anggapan "orangnya itu-itu saja". Para pemain baru akan merapat di salah satu simpul jaringan untuk masuk ke establishment. Bagaimana dengan yang gerilya, indie, low budget dll? Senior saya (meski masih seumuran langkah dia lebih panjang daripada saya) mengatakan bahwa merapat ke simpul adalah wajib. Kekuatan jejaring adalah oksigen buat para pegiat perfilman. Dan jejaring yang established dipandang lebih "memudahkan". Sendirian kelayapan cari ikan di lautan, ibarat kata, bisa mampus!
Lantas gimana dengan yang masih di luar jejaring? Karena mungkin riak yang mereka ciptakan terlalu kecil untuk membasahi "celana-celana mereka yang sudah sampai di pelataran industri". Dalam pasar kreatif, supply on demand itu lebih berdasar value daripada fungsi intrinsik. Bahasa sederhananya "orang pingin nonton film karena suka, bukan karena lapar. Gak nonton film gak bakal mati". Jadi se-value apa film kita (yang di luar pagar) ini bisa dilirik jejaring? Senior saya (tak cuma seorang) menyarankan setidaknya 2 hal: -Magang sama senior (termasuk siap dengan potensi "sikut-sikutannya") -Raih recognition di luar (untuk kemudian masuk jejaring lokal) More about value. Dalam pasar film, sebenarnya tidak ada "bagus" yang sejati. Istilah yang lebih tepat mungkin "recognition". Selaras dengan nasihat senior saya, seorang seniman Istana Negara, karya yang bagus itu laku. Laku kadang bukan soal quality tapi recognition. Bagaimana kedua hal ini bis adipertukarkan? Ada ruang diskusi dan debat yang lebar untuk itu. Apa saja value sebuah film? Di pasar tradisional, film dijual lewat tiket dan profitnya melulu dari situ. Jaman berubah, kebutuhan berubah. Orang tak terlalu menginvestasikan duit dan waktu buat nonton film (apalagi setelah ditonton tak ada bekasnya). Filmmaker mulai memperluas value dengan menjual semua aspek dalam film. Ada merchandise, ada acara jumpa artis, ada promosi lokasi, ada space iklan dll. Lewat pintu-pintu itulah monetize dilakukan. Maka filmmaker selalu berjejaring dengan para investor yang gak cuma dari bidang film saja. Film itu ibaratnya teras rumah saja. Di era "big data" gini, nambah lagi jualannya. Yakni para penontonnya sendiri. Para investor mengembangkan aplikasi agar terus terkoneksi dengan minta masyarakat dan bagaimana mereka mengolahnya untuk dimanfaatkan oleh industri. Di sini peluang terbesar ada pada potensi iklan. Bicara hal gini levelnya udah di jejaring tinggi. Lantas bagaimana dengan filmmaker luar pagar yang maish berjuang di level eksistensi? Mereka tetap menjalin napas. Hanya saja skalanya tidak semasif industri. Mereka belum bisa bermain big data karena modal dan resource. Maka yang diandalkan adalah komunal yang skala lokalnya bisa 100 orang itu aja udah bagus. Rata-rata pola produksi komunitas akan habis napas begitu masuk fase distribusi. Semua sudah lelah (dan sebagian kapok) di fase produksi. Padahal di Indonesia, sistem yang bisa melindungi passion mereka ini belum cukup established. Adanya BEKRAF dan Pusbang Film mungkin merupakan angin segar buat mereka yang sevisi dengan mereka. Pertanyaan masih muncul. Bagaimana dengan film-film yang tidak menyuarakan "agenda kebudayaan" nasional? Peter Jackson bikin film zombie amoral tanpa mengusung budaya New Zealand tapi disupport oleh film council di sana. Mungkinkah itu terjadi di Indonesia? Saya belum tahu. Pemutaran gerilya rata-rata valuenya masih di level apresiasi, belum cukup bisa dimonetize. Cara-cara lain yang dipakai adalah bikin pelatihan/workshop, jualan merchandise komunitas misalnya kaos, tote bag, topi dll. Jika dimanage dengan bagus nampaknya ini lumayan buat nutupin sebagian ongkos produksi. Cara-cara kreatif lain terus digali karena hampir tidak mungkin mengandalkan tiket. Terlebih belum ada ruang baku untuk nonton film komunitas. Biaya operasional dengan potensi keuntungan susah diseimbangkan. Ada pertanyaan yang mendasar juga seputar gerakan indie ini. Apakah mereka cuma sarana menuju ke dalam jejaring yang lebih besar? Atau tetap di situ berjuang menggali segala potensinya? Di mata penonton umum, sesungguhnya batasan indie dan industri tidaklah jelas amat. Bioskop bukan lagi tolok ukur "masuk industri" karena toh yang indie pun bisa masuk bioskop. Dulu indie adalah untuk menyebut gerakan yang low budget dan tak tergantung pemodal besar. Filmnya punya karakteristik visual yang khas karena production value yang rendah. Kini produksi dengan label indie pun punya kualitas artistik yang cukup mewah. Selain itu juga lincah bergerak lintas jejaring dan menyembulkan nama mereka di dunia perfilman. Ini baru pembahasan soal sistemnya, belum soal kualitas substansialnya.
Baca

APAKAH BUDGET GEDE JAMINAN LARISNYA FILM SUPERHERO?

Akhir-akhir ini saya menantikan sebuah film superhero nasional. Bukan karena film itu tentang apa atau dengan budget berapa melainkan karena siapa yang duduk sebagai sutradara.

Memang susah mau ngelarang orang nyinyir sama film superhero nasional. Hingga saat ini belum ada film superhero yang begitu gegap gempita disambut sebagai film laris dan sekaligus critically acclaimed.


Laris dan critically acclaimed adalah dua hal yang ada tolok ukurnya. Maka saya gak pake istilah "bagus" di sini. Bagus itu relatif sesuai selera pribadi. Tapi kalau laris itu ada ukurannya, dan critically acclaimed itu ada ilmunya.

Menyangka bahwa budget besar adalah jaminan mutu sebuah film adalah hal yang konyol. Apalagi jika mengira kalau kualitas bisa dijamin dengan biaya mahal. Ada film berkualitas yang memang butuh biaya mahal, ada juga yang tidak. Biaya lebih berhubungan dengan teknis eksekusi dan resource daripada kualitas itu sendiri. Saya sering pakai perumpamaan...

"Kasihlah anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?"

Hal demikian juga berlaku soal perlunya CGI dan efek berbiaya mahal. Apakah film Gundala, misalnya, dijamin sukses jika pakai efek CGI mahal tapi sutradaranya adalah (seandainya) A'a Gatot Brajamusti?

Adalah benar bahwa CGI yang bagus butuh banyak resource dan skill. Itu mahal. Betul sekali. Tapi alih-alih menentukan kualitas film secara keseluruhan, itu hanyalah merupakan alat bantu tata tutur. Karena film bukanlah showreel CGI melainkan sebuah karya naratif audio visual. Mengenai apakah butuh CGI dan tidak, itu keputusan kreatif filmmakernya.

Kalau anda perlu data, tengok misalnya film-film berikut ini:

JOHN CARTER (2012). Production budget: $263 million. Rugi: $122 million. Budget itu lebih mahal dari film di tahun yang sama yakni THE AVENGERS. Budget $220 million, namun pendapatannya $1.519 billion.

Itu film Hollywood yang emang big budget karena industri di sana besar. Kita ambil contoh yang lokal ya...

RAFATHAR (2017). Budget hampir mencapai 15 milyar rupiah. 15 besar nasional aja nggak masuk. Bandingkan saja dengan THE RAID (2011) yang budgetnya juga 15-an milyar rupiah.

Belum lagi kita sebut DILAN 1990 (2018) yang budgetnya "cuma" 11 milyar rupiah (bukan dollar) namun pendapatannya 250 milyar rupiah. Bandingin sama AYAT-AYAT CINTA 2 yang budgetnya 16 milyar rupiah, tapi pendapatannya "cuma" 104 milyar rupiah.

Jadi, kualitas cerita lah yang dicari. Penonton tak peduli biaya sebesar apapun dikeluarkan. Mereka cuma peduli apakah film itu berhasil menarik hati atau tidak. Makanya untuk itu diperlukan penanggungjawab kreativitas yang tepat, yakni sutradara. Tapi sutradara juga tak bisa kepilih tanpa adanya produser yang punya visi, dan sutradara tak bisa bekerja tanpa penulis yang handal. Sekalipun ada sutradara handal, penulis juga handal tetap saja karya mereka tak akan terwujud maksimal jika tak ada aktor yang handal. Film itu kerja kolektif kolaboratif.

Dalam manajemen produksi film, orang-orang yang punya kuasa kreatif dalam memutuskan eksekusi film ini disebut sebagai "above-the-line". Mutu sebuah film ditentukan oleh para above the line ini. Di bawah mereka ada "below-the-line". Mereka ini kru-kru teknis yang bekerja mewujudkan visi orang-orang di above the line.

Budget gede tak menjamin kualitas film sebagaimana kamera mahal gak lantas bikin anda jago fotografi. Hubungan keduanya bukanlah kausatif melainkan fungsional. Budget gede diperlukan untuk disain produksi gede, kamera mahal diperlukan untuk konsep pemotretan yang mahal pula.

Sekarang kita berandai-andai lagi. Kasih anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?

Bisa saja asalkan si anak ngerti soal siapa yang musti ia pilih sebagai above the line. Misalnya, si anak duduk sebagai Executive Producer, lalu dia mempekerjakan produser yang profesional. Produser itu nanti akan menyarankan memilih sutradara yang handal untuk proyek itu. Dengan duit tadi, si anak SD juga bisa menyewa professional consultant untuk film marketing dan distribusinya.

Jadi ya nggak bisa duit 400 milyar itu dibagi-bagi teman sekelasnya trus beli kamera mahal buat syuting. Nggak sama kayak bikin tugas kelompok lho ya, juragan...

(foto dari: Kapanlagi.com/ jika foto ini milik anda hubungi saya kalau mau di-unpost)
Akhir-akhir ini saya menantikan sebuah film superhero nasional. Bukan karena film itu tentang apa atau dengan budget berapa melainkan karena siapa yang duduk sebagai sutradara.

Memang susah mau ngelarang orang nyinyir sama film superhero nasional. Hingga saat ini belum ada film superhero yang begitu gegap gempita disambut sebagai film laris dan sekaligus critically acclaimed.


Laris dan critically acclaimed adalah dua hal yang ada tolok ukurnya. Maka saya gak pake istilah "bagus" di sini. Bagus itu relatif sesuai selera pribadi. Tapi kalau laris itu ada ukurannya, dan critically acclaimed itu ada ilmunya.

Menyangka bahwa budget besar adalah jaminan mutu sebuah film adalah hal yang konyol. Apalagi jika mengira kalau kualitas bisa dijamin dengan biaya mahal. Ada film berkualitas yang memang butuh biaya mahal, ada juga yang tidak. Biaya lebih berhubungan dengan teknis eksekusi dan resource daripada kualitas itu sendiri. Saya sering pakai perumpamaan...

"Kasihlah anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?"

Hal demikian juga berlaku soal perlunya CGI dan efek berbiaya mahal. Apakah film Gundala, misalnya, dijamin sukses jika pakai efek CGI mahal tapi sutradaranya adalah (seandainya) A'a Gatot Brajamusti?

Adalah benar bahwa CGI yang bagus butuh banyak resource dan skill. Itu mahal. Betul sekali. Tapi alih-alih menentukan kualitas film secara keseluruhan, itu hanyalah merupakan alat bantu tata tutur. Karena film bukanlah showreel CGI melainkan sebuah karya naratif audio visual. Mengenai apakah butuh CGI dan tidak, itu keputusan kreatif filmmakernya.

Kalau anda perlu data, tengok misalnya film-film berikut ini:

JOHN CARTER (2012). Production budget: $263 million. Rugi: $122 million. Budget itu lebih mahal dari film di tahun yang sama yakni THE AVENGERS. Budget $220 million, namun pendapatannya $1.519 billion.

Itu film Hollywood yang emang big budget karena industri di sana besar. Kita ambil contoh yang lokal ya...

RAFATHAR (2017). Budget hampir mencapai 15 milyar rupiah. 15 besar nasional aja nggak masuk. Bandingkan saja dengan THE RAID (2011) yang budgetnya juga 15-an milyar rupiah.

Belum lagi kita sebut DILAN 1990 (2018) yang budgetnya "cuma" 11 milyar rupiah (bukan dollar) namun pendapatannya 250 milyar rupiah. Bandingin sama AYAT-AYAT CINTA 2 yang budgetnya 16 milyar rupiah, tapi pendapatannya "cuma" 104 milyar rupiah.

Jadi, kualitas cerita lah yang dicari. Penonton tak peduli biaya sebesar apapun dikeluarkan. Mereka cuma peduli apakah film itu berhasil menarik hati atau tidak. Makanya untuk itu diperlukan penanggungjawab kreativitas yang tepat, yakni sutradara. Tapi sutradara juga tak bisa kepilih tanpa adanya produser yang punya visi, dan sutradara tak bisa bekerja tanpa penulis yang handal. Sekalipun ada sutradara handal, penulis juga handal tetap saja karya mereka tak akan terwujud maksimal jika tak ada aktor yang handal. Film itu kerja kolektif kolaboratif.

Dalam manajemen produksi film, orang-orang yang punya kuasa kreatif dalam memutuskan eksekusi film ini disebut sebagai "above-the-line". Mutu sebuah film ditentukan oleh para above the line ini. Di bawah mereka ada "below-the-line". Mereka ini kru-kru teknis yang bekerja mewujudkan visi orang-orang di above the line.

Budget gede tak menjamin kualitas film sebagaimana kamera mahal gak lantas bikin anda jago fotografi. Hubungan keduanya bukanlah kausatif melainkan fungsional. Budget gede diperlukan untuk disain produksi gede, kamera mahal diperlukan untuk konsep pemotretan yang mahal pula.

Sekarang kita berandai-andai lagi. Kasih anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?

Bisa saja asalkan si anak ngerti soal siapa yang musti ia pilih sebagai above the line. Misalnya, si anak duduk sebagai Executive Producer, lalu dia mempekerjakan produser yang profesional. Produser itu nanti akan menyarankan memilih sutradara yang handal untuk proyek itu. Dengan duit tadi, si anak SD juga bisa menyewa professional consultant untuk film marketing dan distribusinya.

Jadi ya nggak bisa duit 400 milyar itu dibagi-bagi teman sekelasnya trus beli kamera mahal buat syuting. Nggak sama kayak bikin tugas kelompok lho ya, juragan...

(foto dari: Kapanlagi.com/ jika foto ini milik anda hubungi saya kalau mau di-unpost)
Baca

PERFILMAN INDONESIA: ANTARA INDUSTRI, INDEPENDEN DAN NON INDEPENDEN

Berdasarkan pendanaan, cara pemasaran dan watak kebebasannya secara umum saya melihat perfilman nasional sebagai dua macam: non independen dan independen.

Saya adalah pelaku independen. Bahasa gaulnya... indie. Namun saya bukan penggemar kopi dan senja, melainkan es jeruk dan bakda dhuhur.

Seperti apakah industri film indonesia?


Pengetahuan saya terbatas pada yang saya jumpai atau saya tahu dari teman-teman saya di perfilman. Jadi kalo ada info tambahan atau koreksi, monggo saja.

Industri film Indonesia berdasarkan pelakunya:

-Pekerja film (ya aktor, sutradara, kameramen, komposer, kru, penulis, tukang gulung kabel dll. Istilah umum saya buat menyebut tenaga kreatif maupun teknis)

-Perusahaan film (dengan bentuk perusahaannya masing-masing seperti PT, CV dll. Ini merupakan badan usaha yang legal)

-Komunitas (mirip dengan individu. Komunitas tak selalu punya bentuk legal kayak perusahaan. Jika legal biasanya setidaknya berbentuk sanggar atau yayasan. Meskipun bisa mendatangkan profit, orientasinya bukan ke situ.)

-Distributor film (pihak yang memasarkan film ke berbagai platform.)

-Pengusaha bioskop (terutama untuk film-film layar lebar dan sebagian film independen)

-Individu (pribadi yang mengucurkan dana dan atau merekrut orang-orang memproduksi film. Biasanya pelaku indie)

-Badan Pemerintah (pihak yang secara tidak langsung memproduksi. Biasanya bekerjasama dengan swasta untuk mewujudkan)

Kita ulas bareng-bareng.

Perusahaan film, karena sudah berbadan hukum jelas sekali posisinya. Ada standar yang musti dipenuhi dalam memproduksi dan membayar upah. Yaaa meski di lapangan bisa saja not that perfect hahaha. Namun paling tidak, kalau sudah berwujud perusahaan, auditnya lebih mudah lah.

Perusahaan film ini nggak bisa sendirian cari duit. Film bukan sebuah produk yang rata-rata dihasilkan full "in house". Mereka perlu pekerja film yang berada di luar perusahaan. Mereka merekrut sutradara, aktor, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Nanti pun mereka akan bekerjasama dengan distributor, penyedia pemutaran (bioskop) dll.

Sedangkan yang pelaku individu cakupannya bisa luas. Untuk skala kecil, biasanya individu yang langsung berurusan dengan produksi. Para pembuat film indie misalnya, secara individu memproduseri sendiri. Biasanya juga tanpa production house, melainkan cuma "label" virtual yang orang-orangnya bongkar pasang (skeleton crew). Pelaku individu ini tak terlalu memerlukan bentuk perusahaan karena beda cara kerjanya. Begitu juga dengan komunitas. Jadi nanti tentu beda pula pendapatan ekonomisnya.

Adapun instansi pemerintah, meski bukan badan hukum untuk bikin film, banyak sekali proyek-proyek departemen yang membutuhkan produk film. Biasanya mereka butuh profile instansi, materi penyuluhan, iklan layanan masyarakat dll. Apalagi jika departemen yang berkepentingan dengan pariwisata daerah. Sebagai media propaganda, film dibutuhkan oleh instansi ini. Biasanya proyeknya akan ditenderkan ke publik.


Apakah suatu film mau diputar di bioskop, platform digital, atau screening terbatas? Semua akan berbeda dalam proses kerja, tantangan dan level penghargaan ekonomisnya. Jadi kalau bicara soal perfilman indonesia, saya pikir kita perlu spesifik. Independen atau non independen?

Saya akan jabarkan apa yang saya maksud dengan independen (indie).

Independen adalah menghasilkan produk tanpa bantuan investasi dari pihak yang bukan termasuk dalam struktur produksi. Ini definisi saya. Misal saya bikin film, ya pakai duit saya sendiri, saya urus mulai dari manajemen hingga distribusi. Makna independen adalah tidak bergantung pada pihak luar. Definisi saya mengikuti prinsip itu. Yang jelas ini tidak bergantung pada besaran dana. Indie nggak musti low budget. Untung ya dinikmati sendiri, rugi ya ditanggung sendiri. Itulah indie.

Non independen adalah jika film itu didanai oleh investor. Jika perusahaan maka yang punya andil finansial jelas para pemegang saham. Yang ini jarang yang low budget, meskipun relatif ukurannya. Non independen sangat bergantung pada rantai usaha yang lain. Mereka melewati distributor, pengusaha bioskop dan bahkan juga berurusan dengan asosiasi.

Tapi bisa juga non independen dengan low budget. Yakni jika ada kelompok indie, tapi dananya memakai sponsor pihak lain (yang nggak masuk struktur produksi) hehehe. Anda bisa saja memperdebatkan hal ini. Namun setidaknya, secara pendanaan ini nggak independen.

So... karena saya adalah di jalur independen, maka sisi ini yang lebih saya bahas.

Beberapa hari yang lalu saya bersama teman-teman aktivis dan pelaku perfilman sedaerah, diberi penghargaan oleh dewan kesenian dan gubernur. Nah, pertanyaan saya apakah peran yang bisa diambil pemerintah dalam memajukan perfilman daerah atau nasional? Cukupkah penghargaan seremonial semacam itu?

Saya tahu saat ini ada Bekraf dan juga Departemen Pendidikan yang memiliki kucuran dana bagi proposal produksi film. Tentunya untuk memproduksi film yang sesuai dengan misi mereka. Di Indonesia, saya belum tahu pemerintah mau mendanai film genre. Meskipun justru film genre-lah yang mengangkat martabat film Indonesia di dunia. Beda yaaa ama New Zealand. Peter Jackson bikin film zombie-zombiean aja dikasih dana.

Ini masalah dobel problem buat saya pribadi. Saya ini mendakwa diri saya sebagai pembuat film bergenre. Nah, indie dan bikin film genre... jauh lah dari kemudahan mendapat bantuan dana hehehe. Lha ya wong namanya indie... mosok minta dana ke pemerintah. Meskipun kalo dikasih ya nggak nolak loh hahaha asal boleh bikin film genre.

Namun bukan berarti kita ndak butuh sama sekali lho. Setidaknya di level perijinan, perlindungan hukum dan hak-hak kebudayaan kayaknya kita juga perlu kehadiran pemerintah. Saya miris ketika mendengar sebuah film yang berprestasi dilarang tayang gara-gara tuduhan berdasar moralitas tertentu.

Filmmaker indie ada dinamikanya tersendiri. Tak semua lho menuntut minta diperhatikan dan dikasih dana (dikasih duit ya mau lah tapi kan itu bukan satu-satunya kepentingan kami di perfilman hehehe). Pengakuan bahwa kami layak berkarya itu pun juga penting. Pengakuan ini berwujud hal-hal yang saya sebut tadi. Secara komunal pun kami sudah mengorganisir diri. Kami juga menerapkan manajemen produksi dan standar kreatif. Jadi tak selalu yang namanya indie itu berantakan cara kerjanya.

Soal ekonomi, sudah jelas itu masalah semua orang berusaha. Film indie bergelut dengan level apresiasi. Ada yang memang merupakan pilihan, ada pula memang yang terkendala akses. Akses di sini tidak seteknis itu. Dalam perfilman, kenal sama orang film, tidak selalu membuat karier perfilman berjalan lancar.

Tentu saja, kenal kan bukan berarti cocok dalam sebuah tim produksi. Namun pertemuan karya-karya perfilman selain bioskop tetaplah perlu untuk menjalin banyak kemungkinan.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah? Dalam hal ini setidaknya pemerintah bisa memfasilitasi misalnya perijinan lokasi, penyediaan gedung dan juga dana-dana untuk menggelar acara perfilman di masyarakat. Adanya bioskop keliling adalah hal yang bisa diapresiasi. Meskipun saya tidak memantau perkembangannya sih.

Terlebih lagi jika ternyata sebuah film indie diapresiasi secara internasional, maka pemerintah bisa berperan juga disitu. Misalnya menanggung biaya akomodasi para pelakunya agar bisa menghadiri festival-festival. Kan ada nilai ekonomisnya juga itu.

Saya berharap, para pejabat nantinya lebih melek soal sinema dan literasinya. Itu sebuah pekerjaan besar. Saya pribadi baru bisa bergerak di level kecil, sempit dan ndeso.

Perfilman Indonesia, dengan kekurangannya masih terus melangkah. baik independen maupun non independen menyumbangkan peran dengan cara masing-masing. Pemerintah bisa berperan dengan memastikan bahwa langkah itu tidak dijegal.

Sekian.

(Wlingiwood, 29 April 2019)
Berdasarkan pendanaan, cara pemasaran dan watak kebebasannya secara umum saya melihat perfilman nasional sebagai dua macam: non independen dan independen.

Saya adalah pelaku independen. Bahasa gaulnya... indie. Namun saya bukan penggemar kopi dan senja, melainkan es jeruk dan bakda dhuhur.

Seperti apakah industri film indonesia?


Pengetahuan saya terbatas pada yang saya jumpai atau saya tahu dari teman-teman saya di perfilman. Jadi kalo ada info tambahan atau koreksi, monggo saja.

Industri film Indonesia berdasarkan pelakunya:

-Pekerja film (ya aktor, sutradara, kameramen, komposer, kru, penulis, tukang gulung kabel dll. Istilah umum saya buat menyebut tenaga kreatif maupun teknis)

-Perusahaan film (dengan bentuk perusahaannya masing-masing seperti PT, CV dll. Ini merupakan badan usaha yang legal)

-Komunitas (mirip dengan individu. Komunitas tak selalu punya bentuk legal kayak perusahaan. Jika legal biasanya setidaknya berbentuk sanggar atau yayasan. Meskipun bisa mendatangkan profit, orientasinya bukan ke situ.)

-Distributor film (pihak yang memasarkan film ke berbagai platform.)

-Pengusaha bioskop (terutama untuk film-film layar lebar dan sebagian film independen)

-Individu (pribadi yang mengucurkan dana dan atau merekrut orang-orang memproduksi film. Biasanya pelaku indie)

-Badan Pemerintah (pihak yang secara tidak langsung memproduksi. Biasanya bekerjasama dengan swasta untuk mewujudkan)

Kita ulas bareng-bareng.

Perusahaan film, karena sudah berbadan hukum jelas sekali posisinya. Ada standar yang musti dipenuhi dalam memproduksi dan membayar upah. Yaaa meski di lapangan bisa saja not that perfect hahaha. Namun paling tidak, kalau sudah berwujud perusahaan, auditnya lebih mudah lah.

Perusahaan film ini nggak bisa sendirian cari duit. Film bukan sebuah produk yang rata-rata dihasilkan full "in house". Mereka perlu pekerja film yang berada di luar perusahaan. Mereka merekrut sutradara, aktor, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Nanti pun mereka akan bekerjasama dengan distributor, penyedia pemutaran (bioskop) dll.

Sedangkan yang pelaku individu cakupannya bisa luas. Untuk skala kecil, biasanya individu yang langsung berurusan dengan produksi. Para pembuat film indie misalnya, secara individu memproduseri sendiri. Biasanya juga tanpa production house, melainkan cuma "label" virtual yang orang-orangnya bongkar pasang (skeleton crew). Pelaku individu ini tak terlalu memerlukan bentuk perusahaan karena beda cara kerjanya. Begitu juga dengan komunitas. Jadi nanti tentu beda pula pendapatan ekonomisnya.

Adapun instansi pemerintah, meski bukan badan hukum untuk bikin film, banyak sekali proyek-proyek departemen yang membutuhkan produk film. Biasanya mereka butuh profile instansi, materi penyuluhan, iklan layanan masyarakat dll. Apalagi jika departemen yang berkepentingan dengan pariwisata daerah. Sebagai media propaganda, film dibutuhkan oleh instansi ini. Biasanya proyeknya akan ditenderkan ke publik.


Apakah suatu film mau diputar di bioskop, platform digital, atau screening terbatas? Semua akan berbeda dalam proses kerja, tantangan dan level penghargaan ekonomisnya. Jadi kalau bicara soal perfilman indonesia, saya pikir kita perlu spesifik. Independen atau non independen?

Saya akan jabarkan apa yang saya maksud dengan independen (indie).

Independen adalah menghasilkan produk tanpa bantuan investasi dari pihak yang bukan termasuk dalam struktur produksi. Ini definisi saya. Misal saya bikin film, ya pakai duit saya sendiri, saya urus mulai dari manajemen hingga distribusi. Makna independen adalah tidak bergantung pada pihak luar. Definisi saya mengikuti prinsip itu. Yang jelas ini tidak bergantung pada besaran dana. Indie nggak musti low budget. Untung ya dinikmati sendiri, rugi ya ditanggung sendiri. Itulah indie.

Non independen adalah jika film itu didanai oleh investor. Jika perusahaan maka yang punya andil finansial jelas para pemegang saham. Yang ini jarang yang low budget, meskipun relatif ukurannya. Non independen sangat bergantung pada rantai usaha yang lain. Mereka melewati distributor, pengusaha bioskop dan bahkan juga berurusan dengan asosiasi.

Tapi bisa juga non independen dengan low budget. Yakni jika ada kelompok indie, tapi dananya memakai sponsor pihak lain (yang nggak masuk struktur produksi) hehehe. Anda bisa saja memperdebatkan hal ini. Namun setidaknya, secara pendanaan ini nggak independen.

So... karena saya adalah di jalur independen, maka sisi ini yang lebih saya bahas.

Beberapa hari yang lalu saya bersama teman-teman aktivis dan pelaku perfilman sedaerah, diberi penghargaan oleh dewan kesenian dan gubernur. Nah, pertanyaan saya apakah peran yang bisa diambil pemerintah dalam memajukan perfilman daerah atau nasional? Cukupkah penghargaan seremonial semacam itu?

Saya tahu saat ini ada Bekraf dan juga Departemen Pendidikan yang memiliki kucuran dana bagi proposal produksi film. Tentunya untuk memproduksi film yang sesuai dengan misi mereka. Di Indonesia, saya belum tahu pemerintah mau mendanai film genre. Meskipun justru film genre-lah yang mengangkat martabat film Indonesia di dunia. Beda yaaa ama New Zealand. Peter Jackson bikin film zombie-zombiean aja dikasih dana.

Ini masalah dobel problem buat saya pribadi. Saya ini mendakwa diri saya sebagai pembuat film bergenre. Nah, indie dan bikin film genre... jauh lah dari kemudahan mendapat bantuan dana hehehe. Lha ya wong namanya indie... mosok minta dana ke pemerintah. Meskipun kalo dikasih ya nggak nolak loh hahaha asal boleh bikin film genre.

Namun bukan berarti kita ndak butuh sama sekali lho. Setidaknya di level perijinan, perlindungan hukum dan hak-hak kebudayaan kayaknya kita juga perlu kehadiran pemerintah. Saya miris ketika mendengar sebuah film yang berprestasi dilarang tayang gara-gara tuduhan berdasar moralitas tertentu.

Filmmaker indie ada dinamikanya tersendiri. Tak semua lho menuntut minta diperhatikan dan dikasih dana (dikasih duit ya mau lah tapi kan itu bukan satu-satunya kepentingan kami di perfilman hehehe). Pengakuan bahwa kami layak berkarya itu pun juga penting. Pengakuan ini berwujud hal-hal yang saya sebut tadi. Secara komunal pun kami sudah mengorganisir diri. Kami juga menerapkan manajemen produksi dan standar kreatif. Jadi tak selalu yang namanya indie itu berantakan cara kerjanya.

Soal ekonomi, sudah jelas itu masalah semua orang berusaha. Film indie bergelut dengan level apresiasi. Ada yang memang merupakan pilihan, ada pula memang yang terkendala akses. Akses di sini tidak seteknis itu. Dalam perfilman, kenal sama orang film, tidak selalu membuat karier perfilman berjalan lancar.

Tentu saja, kenal kan bukan berarti cocok dalam sebuah tim produksi. Namun pertemuan karya-karya perfilman selain bioskop tetaplah perlu untuk menjalin banyak kemungkinan.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah? Dalam hal ini setidaknya pemerintah bisa memfasilitasi misalnya perijinan lokasi, penyediaan gedung dan juga dana-dana untuk menggelar acara perfilman di masyarakat. Adanya bioskop keliling adalah hal yang bisa diapresiasi. Meskipun saya tidak memantau perkembangannya sih.

Terlebih lagi jika ternyata sebuah film indie diapresiasi secara internasional, maka pemerintah bisa berperan juga disitu. Misalnya menanggung biaya akomodasi para pelakunya agar bisa menghadiri festival-festival. Kan ada nilai ekonomisnya juga itu.

Saya berharap, para pejabat nantinya lebih melek soal sinema dan literasinya. Itu sebuah pekerjaan besar. Saya pribadi baru bisa bergerak di level kecil, sempit dan ndeso.

Perfilman Indonesia, dengan kekurangannya masih terus melangkah. baik independen maupun non independen menyumbangkan peran dengan cara masing-masing. Pemerintah bisa berperan dengan memastikan bahwa langkah itu tidak dijegal.

Sekian.

(Wlingiwood, 29 April 2019)
Baca

MARVEL PERJUANGAN

Tulisan ini buat nyemangatin murid-murid filmku di klub film MOVO yang juga dibimbing oleh komunitasku Wlingiwood Filmmakers. Juga para filmmaker muda yang kiprahnya masih berlatih di ajang lomba antar sekolah.

Saat ini hampir semua anak muda gaul kenal sama yang namanya Marvel. Ya, ini adalah perusahaan/studio film yang mengeluarkan lebih dari selusin film superhero paling populer dekade ini. Avengers: End Game kemarin menjadi film terlaris yang dikeluarkan oleh studio tersebut sampai 2019. Namun perjuangan menuju studio dengan produksi film terlaris sesungguhnya sangatlah tidak mulus. Diperlukan waktu 30 tahunan untuk bisa mencapai posisi seperti itu.

Marvel, dulunya Marvel Entertainment Group, yang sebenarnya berawal dari Marvel Comics adalah perusahaan hiburan yang fokus pada produksi dan jual lisensi karakter superhero terbitan Marvel Comics. Jadi mereka awalnya nggak bikin film, melainkan menjual lisensi. Ngomongin sejarah perusahaan emang ribet karena mereka terdiri dari banyak divisi, jadi itu kalian baca sendiri aja.

Jangan lupa. Sedari jaman jualan komik, Marvel punya saingan berat juga yakni DC, sesama perusahaan komik juga. Bahkan DC lebih duluan sukses menjual lisensi karakter mereka yakni Superman dan Batman sejak tahun 70an. Film tersukses mereka terakhir ini adalah Aquaman. Kita akan ngomongin Marvel karena dari mereka kita akan tarik inspirasi perjuangan. Sebelumnya perlu kita ketahui ya... Marvel itu perusahaan dengan banyak divisi. Untuk film adalah Marvel Studios. Saat ini Marvel Studios dimiliki oleh Walt Disney Company. Ya ya ya... itu perusahaan yang bikin Mickey Mouse. Selanjutnya seluruh tetek bengek perusahaan dengan branding Marvel kita sebut aja cukup Marvel.

Kita tengok dulu perjalanan Marvel dalam menghasilkan film-film terlaris mereka.

1986 - HOWARD THE DUCK: Ini film yang diproduseri George Lucas (yang bikin Star Wars tuh). Ancur. Duitnya mepet balik modal.

1989 - THE PUNISHER: Kali ini dilisensikan ke New World Pictures. Filmnya gagal juga.

1990 - CAPTAIN AMERICA: Pertamakalinya diproduksi ama Marvel sendiri (lewat Marvel Entertainment Group). Ancur banget dan gagal.

1994 - FANTASTIC FOUR: Dilisensikan ke (awas jangan dikasih huruf G) Neue Constantin Films. Gak jadi dirilis. Ini low budget banget dan bahkan melibatkan Roger Corman, produser spesialis low budget.

1998 - BLADE: Dilisensikan ke Amen Ra Films (bukan punyanya Amien Rais). Film ini menurut kritikus nggak bagus amat tapi menjadi filmnya Marvel yang sukses pertamakali. Bisa dikata ini adalah tonggak awal "Marvel perjuangan".

2000 - X-MEN: Kembali diproduksi sendiri oleh Marvel Entertainment Group. Ini adalah film superhero tersukses mereka sejauh itu. Sukses baik di bioskop maupun di mata kritikus. Sejak saat inilah mereka mulai berani keluar duit gede-gedean untuk bikin film superhero.

2002 - SPIDER-MAN:Diproduksi oleh Marvel Enterprises. Ini film yang SUKSES BESAR hingga orang-orang awam pun mulai kenal Marvel.

2003 - DAREDEVIL: Udah sukses ama X-Men dan Spider-Man eeeh gagal lagi ama film ini.

2003 - HULK: Agak sukses kecil tapi konon dibenci sama pecinta komiknya.

2005 - ELEKTRA: Ngikutin Daredevil. Mereka gagal lagi.

2005 - FANTASTIC FOUR: Film ini sukses kecil-kecilan. Salah satu produsernya adalah yang pernah bikin Fantastic Four tahun 1994 yang gak jadi rilis itu.

2008 - IRONMAN: Film TERSUKSES setelah Spider-Man bahkan sampe dapet nominasi piala Oscar pula. Meroketkan karir Robert Downey Jr. Iron Man merupakan rangkaian fase pertama dari serangkaian film yang nanti disebut sebagai Marvel Cinematic universe.

2008 - THE INCREDIBLE HULK: Sukses tipis-tipis aja. Nggak segede Iron Man.

Nah, setelah era turun naik ini kualitas film dari Marvel cenderung stabil. Jarang yang flop banget. Hingga nanti mereka mencapai puncaknya setelah 30 tahun dengan AVENGERS: END GAME.

Marvel identik dengan Stan Lee. Namun di industri sinemanya sebenarnya ada lebih banyak orang yang terlibat. Di belakang layar film-film mereka, setidaknya ada dua produser yang konsisten memperjuangkan prestasi sinematik Marvel. Yakni Avi Arad dan Kevin Feige.

Avi Arad pertama kali terlibat di film Blade sebagai produser. Ia terus berada di lingkaran itu hingga era Marvel Cinematic Universe. Sedangkan Kevin memulainya dari film X-Men hingga Avengers End Game. Mari hitung berapa tahun perjuangan mereka, Avi Arad sejak film Blade (jadi 20 tahunan) dan Kevin Feige sejak X-Men (nyaris 20 tahunan juga). Sedangkan perusahaannya yakni mulai dari Marvel Entertainment Group hingga Marvel Studio yang sejak 2009 dimilik Disney... ada sekitar 25 tahunan. Saat awalnya mereka bahkan tertinggal dari prestasi DC Comics yang menelurkan Superman (1978), film superhero pertama yang tersukses secara mainstream.

Jadi buat teman-teman yang cuma gagal di event lomba kabupaten atau malah propinsi. KEEP CALM! Be the MARVEL PERJUANGAN! Hehehehe adalah lebih penting jika kalian tetap konsisten dan persisten berkarya. Itu tentunya tidak sebatas waktu kalian ikut klub film di sekolah yang masa aktifnya cuman 2 - 3 tahunan.

Berkaryalah bukan cuma untuk prestasi, melainkan karena kita bersyukur dianugrahi passion dan talenta. See you at another screening!
Tulisan ini buat nyemangatin murid-murid filmku di klub film MOVO yang juga dibimbing oleh komunitasku Wlingiwood Filmmakers. Juga para filmmaker muda yang kiprahnya masih berlatih di ajang lomba antar sekolah.

Saat ini hampir semua anak muda gaul kenal sama yang namanya Marvel. Ya, ini adalah perusahaan/studio film yang mengeluarkan lebih dari selusin film superhero paling populer dekade ini. Avengers: End Game kemarin menjadi film terlaris yang dikeluarkan oleh studio tersebut sampai 2019. Namun perjuangan menuju studio dengan produksi film terlaris sesungguhnya sangatlah tidak mulus. Diperlukan waktu 30 tahunan untuk bisa mencapai posisi seperti itu.

Marvel, dulunya Marvel Entertainment Group, yang sebenarnya berawal dari Marvel Comics adalah perusahaan hiburan yang fokus pada produksi dan jual lisensi karakter superhero terbitan Marvel Comics. Jadi mereka awalnya nggak bikin film, melainkan menjual lisensi. Ngomongin sejarah perusahaan emang ribet karena mereka terdiri dari banyak divisi, jadi itu kalian baca sendiri aja.

Jangan lupa. Sedari jaman jualan komik, Marvel punya saingan berat juga yakni DC, sesama perusahaan komik juga. Bahkan DC lebih duluan sukses menjual lisensi karakter mereka yakni Superman dan Batman sejak tahun 70an. Film tersukses mereka terakhir ini adalah Aquaman. Kita akan ngomongin Marvel karena dari mereka kita akan tarik inspirasi perjuangan. Sebelumnya perlu kita ketahui ya... Marvel itu perusahaan dengan banyak divisi. Untuk film adalah Marvel Studios. Saat ini Marvel Studios dimiliki oleh Walt Disney Company. Ya ya ya... itu perusahaan yang bikin Mickey Mouse. Selanjutnya seluruh tetek bengek perusahaan dengan branding Marvel kita sebut aja cukup Marvel.

Kita tengok dulu perjalanan Marvel dalam menghasilkan film-film terlaris mereka.

1986 - HOWARD THE DUCK: Ini film yang diproduseri George Lucas (yang bikin Star Wars tuh). Ancur. Duitnya mepet balik modal.

1989 - THE PUNISHER: Kali ini dilisensikan ke New World Pictures. Filmnya gagal juga.

1990 - CAPTAIN AMERICA: Pertamakalinya diproduksi ama Marvel sendiri (lewat Marvel Entertainment Group). Ancur banget dan gagal.

1994 - FANTASTIC FOUR: Dilisensikan ke (awas jangan dikasih huruf G) Neue Constantin Films. Gak jadi dirilis. Ini low budget banget dan bahkan melibatkan Roger Corman, produser spesialis low budget.

1998 - BLADE: Dilisensikan ke Amen Ra Films (bukan punyanya Amien Rais). Film ini menurut kritikus nggak bagus amat tapi menjadi filmnya Marvel yang sukses pertamakali. Bisa dikata ini adalah tonggak awal "Marvel perjuangan".

2000 - X-MEN: Kembali diproduksi sendiri oleh Marvel Entertainment Group. Ini adalah film superhero tersukses mereka sejauh itu. Sukses baik di bioskop maupun di mata kritikus. Sejak saat inilah mereka mulai berani keluar duit gede-gedean untuk bikin film superhero.

2002 - SPIDER-MAN:Diproduksi oleh Marvel Enterprises. Ini film yang SUKSES BESAR hingga orang-orang awam pun mulai kenal Marvel.

2003 - DAREDEVIL: Udah sukses ama X-Men dan Spider-Man eeeh gagal lagi ama film ini.

2003 - HULK: Agak sukses kecil tapi konon dibenci sama pecinta komiknya.

2005 - ELEKTRA: Ngikutin Daredevil. Mereka gagal lagi.

2005 - FANTASTIC FOUR: Film ini sukses kecil-kecilan. Salah satu produsernya adalah yang pernah bikin Fantastic Four tahun 1994 yang gak jadi rilis itu.

2008 - IRONMAN: Film TERSUKSES setelah Spider-Man bahkan sampe dapet nominasi piala Oscar pula. Meroketkan karir Robert Downey Jr. Iron Man merupakan rangkaian fase pertama dari serangkaian film yang nanti disebut sebagai Marvel Cinematic universe.

2008 - THE INCREDIBLE HULK: Sukses tipis-tipis aja. Nggak segede Iron Man.

Nah, setelah era turun naik ini kualitas film dari Marvel cenderung stabil. Jarang yang flop banget. Hingga nanti mereka mencapai puncaknya setelah 30 tahun dengan AVENGERS: END GAME.

Marvel identik dengan Stan Lee. Namun di industri sinemanya sebenarnya ada lebih banyak orang yang terlibat. Di belakang layar film-film mereka, setidaknya ada dua produser yang konsisten memperjuangkan prestasi sinematik Marvel. Yakni Avi Arad dan Kevin Feige.

Avi Arad pertama kali terlibat di film Blade sebagai produser. Ia terus berada di lingkaran itu hingga era Marvel Cinematic Universe. Sedangkan Kevin memulainya dari film X-Men hingga Avengers End Game. Mari hitung berapa tahun perjuangan mereka, Avi Arad sejak film Blade (jadi 20 tahunan) dan Kevin Feige sejak X-Men (nyaris 20 tahunan juga). Sedangkan perusahaannya yakni mulai dari Marvel Entertainment Group hingga Marvel Studio yang sejak 2009 dimilik Disney... ada sekitar 25 tahunan. Saat awalnya mereka bahkan tertinggal dari prestasi DC Comics yang menelurkan Superman (1978), film superhero pertama yang tersukses secara mainstream.

Jadi buat teman-teman yang cuma gagal di event lomba kabupaten atau malah propinsi. KEEP CALM! Be the MARVEL PERJUANGAN! Hehehehe adalah lebih penting jika kalian tetap konsisten dan persisten berkarya. Itu tentunya tidak sebatas waktu kalian ikut klub film di sekolah yang masa aktifnya cuman 2 - 3 tahunan.

Berkaryalah bukan cuma untuk prestasi, melainkan karena kita bersyukur dianugrahi passion dan talenta. See you at another screening!
Baca

GREEN BOOK (Peter Farrelly, 2018)

Tony (Viggo Mortensen) adalah tukang pukul klub malam yang kerjanya serabutan, temperamental namun merupakan seorang suami yang lembut pada istrinya. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang musisi klasik berpendidikan, "priyayi" kaya raya namun kesepian dengan kemegahan rumahnya. Suatu ketika, keduanya dipertemukan karena urusan kerjaan. Don hendak merekrut Tony sebagi sopir sekaligus bodyguardnya selama beberapa bulan.


Don membutuhkan seorang pengawal yang tangguh macam Tony untuk perjalanan tur konser di beberapa daerah di Amerika. Saat itu tahun 60an, Amerika masih rasis-rasisnya. Kondisi sosial tidak cukup baik bagi orang kulit hitam seperti Don. Meskipun Don lebih kaya dari kebanyakan kulit putih di sekitarnya. Ironisnya, Tony yang kulit putih termasuk warga miskin. Belum lagi ia keturunan Italia, kaum imigran, yang mana juga cukup direndahkan oleh warga Amerika kaukasian lainnya.

Sifat Tony yang "waton njeplak" berkebalikan dengan Don yang sangat santun dan penuh etiket. Selama perjalanan Don berkali-kali mewanti agar Tony tidak kebangetan berulah. Relasi profesional mereka berdua cukup terasa aneh. Seorang kulit hitam kaya membayar orang kulit putih miskin memang terasa ironi pada masa itu. Namun kelak interaksi Tony dan Don yang canggung ini berubah makin cair. Adegan makan KFC adalah salah satu yang cukup "heartwarming".


Judulnya sendiri, Green Book mengacu pada sebuah buku panduan perjalanan berjudul "The Negro Motorist Green Book". Nama lain buku ini adalah The Negro Motorist Green-Book, The Negro Travelers' Green Book, atau cukup disebut the Green Book saja. Buku yang terbit tahunan ini adalah panduan khusus buat pelancong kulit hitam Amerika. Aslinya diterbitkan oleh seorang Afro-American bernama Victor Hugo Green asal New York. Buku ini beredar antara tahun 1936 hingga 1966, selama era "Jim Crow laws", dimana diskriminasi untuk warga kulit hitam dilakukan terang-terangan dan bahkan beberapa legal. Buku ini menjadi penting karena beberapa warga kulit hitam telah mencapai status kelas menengah, cukup punya uang untuk bepergian antar negara bagian. Di film ini, Don memberikan Green Book pada Tony sebagai panduan mencari tempat penginapan yang ditujukan untuk orang kulit hitam.

Ini bukan tipe film yang membutuhkan twist dan klimaks. Ini adalah sebuah road movie yang mana sajian lezatnya terletak pada interaksi antar karakternya. Don adalah seorang yang cerdas dan berpendidikan. Apalagi soal musik. Tapi sepanjang jalan ia justru ":dikuliahi" oleh Tony yang akrab dengan musik-musik pop kulit hitam, yang jarang disentuh oleh Don yang lebih banyak main klasik.

Green Book adalah film yang mengungkapkan ironi kaum kulit hitam Amerika tahun 60an. Misalnya Don Shirley. Ia memang diperlakukan hormat sebagai artis, disambut dengan senyum. Akan tetapi sebagai pribadi ia tetaplah didiskriminasi. Konon, kenapa orang kulit putih tetap memerlukannya? Karena sajian musiknya akan membuat mereka (kaum kulit putih itu) merasa berbudaya. Ini sebuah pola pikir snobisme. Begitu panggung usai, Don akan menjadi warga sebagaimana kulit hitam pada umumnya. Ia tak boleh pakai toilet umum (yang hanya untuk orang kulit putih). Ia juga tak boleh makan di restoran (lagi-lagi hanya untuk kulit putih). "sudah tradisi" kata manajernya. Kemudian Tony akan menjadi sosok kulit putih penyelamatnya, "white savior".

Green Book adalah film yang menyenangkan. Hanya saja sayangnya, musik-musik yang dimainkan Don di konser kok kurang nyantol di telinga saya ya. Saya asing dengan komposisi karya Don Shirley (yang mana memang berdasarkan tokoh yang nyata). Apakah di tur konser dia memainkan karyanya sendiri ataukah karya komposer klasik? Saya belum mencari tahu. Selain yang diputar di mobil, musik yang menggembirakan adalah yang dimainkan Don di sebuah bar kulit hitam. Itu adegan favorit saya selain yang makan KFC.

Saya bilang ini film yang heartwarming (but not memorable enough). Tapi tetap saja layak ditonton karena performa duo Mahershala Ali dan Viggo Mortensen sungguh enak diikuti. Ali yang kharismatik dan Viggo transformatif. Ini bukan Viggo sebagaimana yang nampak di Lord of The Ring, Eastern Promises dan A History of Violence.

Di Green Book Viggo sungguh pas sebagai Tony. Tony "Lip" Vallelonga, seorang warga imigran, gemar makan banyak, mulut asal ngomong, suka berantem namun baik hati dan bersahabat. Interaksinya dengan karakter Don Shirley yang berkebalikan membuat kita menginvestasikan ekspektasi-ekspektasi. Apa yang akan terjadi jika Tony begini dan begitu? Perasaan kita akan mengalir bersama perjalanan mereka berdua.

Oh ya, Linda Cardellini sebagai Dolores Vallelonga merupakan screen stealer yang manis menurut saya. Sosok perempuan idaman yang klasik.

A trivia. Sebagaimana Don Shirley, jelas karakter Tony juga berdasarkan tokoh nyata. Lha wong memang berdasar kisah nyata. But do you know this fact? Tony Vallelonga yang asli ternyata juga seorang aktor. Ia pernah dapat peran kecil di film-film legendaris: The Godfather, Raging Bull, Goodfellas dll.

Nilai saya untuk film ini adalah 85 dari 100.
Tony (Viggo Mortensen) adalah tukang pukul klub malam yang kerjanya serabutan, temperamental namun merupakan seorang suami yang lembut pada istrinya. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang musisi klasik berpendidikan, "priyayi" kaya raya namun kesepian dengan kemegahan rumahnya. Suatu ketika, keduanya dipertemukan karena urusan kerjaan. Don hendak merekrut Tony sebagi sopir sekaligus bodyguardnya selama beberapa bulan.


Don membutuhkan seorang pengawal yang tangguh macam Tony untuk perjalanan tur konser di beberapa daerah di Amerika. Saat itu tahun 60an, Amerika masih rasis-rasisnya. Kondisi sosial tidak cukup baik bagi orang kulit hitam seperti Don. Meskipun Don lebih kaya dari kebanyakan kulit putih di sekitarnya. Ironisnya, Tony yang kulit putih termasuk warga miskin. Belum lagi ia keturunan Italia, kaum imigran, yang mana juga cukup direndahkan oleh warga Amerika kaukasian lainnya.

Sifat Tony yang "waton njeplak" berkebalikan dengan Don yang sangat santun dan penuh etiket. Selama perjalanan Don berkali-kali mewanti agar Tony tidak kebangetan berulah. Relasi profesional mereka berdua cukup terasa aneh. Seorang kulit hitam kaya membayar orang kulit putih miskin memang terasa ironi pada masa itu. Namun kelak interaksi Tony dan Don yang canggung ini berubah makin cair. Adegan makan KFC adalah salah satu yang cukup "heartwarming".


Judulnya sendiri, Green Book mengacu pada sebuah buku panduan perjalanan berjudul "The Negro Motorist Green Book". Nama lain buku ini adalah The Negro Motorist Green-Book, The Negro Travelers' Green Book, atau cukup disebut the Green Book saja. Buku yang terbit tahunan ini adalah panduan khusus buat pelancong kulit hitam Amerika. Aslinya diterbitkan oleh seorang Afro-American bernama Victor Hugo Green asal New York. Buku ini beredar antara tahun 1936 hingga 1966, selama era "Jim Crow laws", dimana diskriminasi untuk warga kulit hitam dilakukan terang-terangan dan bahkan beberapa legal. Buku ini menjadi penting karena beberapa warga kulit hitam telah mencapai status kelas menengah, cukup punya uang untuk bepergian antar negara bagian. Di film ini, Don memberikan Green Book pada Tony sebagai panduan mencari tempat penginapan yang ditujukan untuk orang kulit hitam.

Ini bukan tipe film yang membutuhkan twist dan klimaks. Ini adalah sebuah road movie yang mana sajian lezatnya terletak pada interaksi antar karakternya. Don adalah seorang yang cerdas dan berpendidikan. Apalagi soal musik. Tapi sepanjang jalan ia justru ":dikuliahi" oleh Tony yang akrab dengan musik-musik pop kulit hitam, yang jarang disentuh oleh Don yang lebih banyak main klasik.

Green Book adalah film yang mengungkapkan ironi kaum kulit hitam Amerika tahun 60an. Misalnya Don Shirley. Ia memang diperlakukan hormat sebagai artis, disambut dengan senyum. Akan tetapi sebagai pribadi ia tetaplah didiskriminasi. Konon, kenapa orang kulit putih tetap memerlukannya? Karena sajian musiknya akan membuat mereka (kaum kulit putih itu) merasa berbudaya. Ini sebuah pola pikir snobisme. Begitu panggung usai, Don akan menjadi warga sebagaimana kulit hitam pada umumnya. Ia tak boleh pakai toilet umum (yang hanya untuk orang kulit putih). Ia juga tak boleh makan di restoran (lagi-lagi hanya untuk kulit putih). "sudah tradisi" kata manajernya. Kemudian Tony akan menjadi sosok kulit putih penyelamatnya, "white savior".

Green Book adalah film yang menyenangkan. Hanya saja sayangnya, musik-musik yang dimainkan Don di konser kok kurang nyantol di telinga saya ya. Saya asing dengan komposisi karya Don Shirley (yang mana memang berdasarkan tokoh yang nyata). Apakah di tur konser dia memainkan karyanya sendiri ataukah karya komposer klasik? Saya belum mencari tahu. Selain yang diputar di mobil, musik yang menggembirakan adalah yang dimainkan Don di sebuah bar kulit hitam. Itu adegan favorit saya selain yang makan KFC.

Saya bilang ini film yang heartwarming (but not memorable enough). Tapi tetap saja layak ditonton karena performa duo Mahershala Ali dan Viggo Mortensen sungguh enak diikuti. Ali yang kharismatik dan Viggo transformatif. Ini bukan Viggo sebagaimana yang nampak di Lord of The Ring, Eastern Promises dan A History of Violence.

Di Green Book Viggo sungguh pas sebagai Tony. Tony "Lip" Vallelonga, seorang warga imigran, gemar makan banyak, mulut asal ngomong, suka berantem namun baik hati dan bersahabat. Interaksinya dengan karakter Don Shirley yang berkebalikan membuat kita menginvestasikan ekspektasi-ekspektasi. Apa yang akan terjadi jika Tony begini dan begitu? Perasaan kita akan mengalir bersama perjalanan mereka berdua.

Oh ya, Linda Cardellini sebagai Dolores Vallelonga merupakan screen stealer yang manis menurut saya. Sosok perempuan idaman yang klasik.

A trivia. Sebagaimana Don Shirley, jelas karakter Tony juga berdasarkan tokoh nyata. Lha wong memang berdasar kisah nyata. But do you know this fact? Tony Vallelonga yang asli ternyata juga seorang aktor. Ia pernah dapat peran kecil di film-film legendaris: The Godfather, Raging Bull, Goodfellas dll.

Nilai saya untuk film ini adalah 85 dari 100.
Baca

APA JANG KAU TJARI, PALUPI (Asrul Sani, 1969)

Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Baca

ONE CUT OF THE DEAD a.k.a KAMERA O TOMERU NA! (Shinichiro Ueda, 2017)

Apa yang terjadi ketika sekumpulan aktor diarahkan oleh seorang sutradara maniak? One Cut Of The Dead menyajikan premis dasar ini. Di sebuah bangunan bekas pabrik, satu tim filmmaker hendak membuat film zombie. Celakanya mereka bekerja di bawah orang yang salah. Si sutradara, alih-alih menggunakan aktor malah mengundang zombie beneran. Jadilah semua tim jadi santapan zombie yang haus daging tersebut.

Itu adalah cerita pembuka selama 37 menit di awal. Ini adalah saat anda harus sabar karena cerita sesungguhnya dimulai justru setelah itu. One Cut Of The Dead adalah jenis film yang sebaiknya anda tidak usah tahu apa-apa isi filmnya bagaimana. Beneran! Jadi tolong jangan ada spoiler bahkan clue atau hint untuk film ini. Sangat baik sekali kalau pikiran anda kosong dari harapan jika mau nonton film ini.

Makanya saya tak akan membahas garis ceritanya melainkan tentang apa yang bisa anda dapat dari nonton film ini. Saya bilang ini adalah film yang heartwarming. Secara khusus saya memang suka genre "film on film", apalagi dipadu dengan zombie. Tapi judul di film ini aslinya menipu kok hehehe.... dan jelas anda tak usah tahu tipuan apa yang bakal terjadi. nanti nggak seru.

Jika terutama anda adalah filmmaker, ini bisa sangat relate dengan apa yang anda alami dalam karier filmmaking. Baru kali ini deh saya nemu satu jenis film yang gak usah direview.


Beberapa referensi film genre "film on film" yang juga menarik:

-Be Kind Rewind (Michel Gondry, 2008)
-Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore, 1988)
-Super 8 (J.J. Abrams, 2011)
-Zi Yu Zi Le 自娱自乐 a.k.a Master of Everything (Xin Lee, 2004)
Apa yang terjadi ketika sekumpulan aktor diarahkan oleh seorang sutradara maniak? One Cut Of The Dead menyajikan premis dasar ini. Di sebuah bangunan bekas pabrik, satu tim filmmaker hendak membuat film zombie. Celakanya mereka bekerja di bawah orang yang salah. Si sutradara, alih-alih menggunakan aktor malah mengundang zombie beneran. Jadilah semua tim jadi santapan zombie yang haus daging tersebut.

Itu adalah cerita pembuka selama 37 menit di awal. Ini adalah saat anda harus sabar karena cerita sesungguhnya dimulai justru setelah itu. One Cut Of The Dead adalah jenis film yang sebaiknya anda tidak usah tahu apa-apa isi filmnya bagaimana. Beneran! Jadi tolong jangan ada spoiler bahkan clue atau hint untuk film ini. Sangat baik sekali kalau pikiran anda kosong dari harapan jika mau nonton film ini.

Makanya saya tak akan membahas garis ceritanya melainkan tentang apa yang bisa anda dapat dari nonton film ini. Saya bilang ini adalah film yang heartwarming. Secara khusus saya memang suka genre "film on film", apalagi dipadu dengan zombie. Tapi judul di film ini aslinya menipu kok hehehe.... dan jelas anda tak usah tahu tipuan apa yang bakal terjadi. nanti nggak seru.

Jika terutama anda adalah filmmaker, ini bisa sangat relate dengan apa yang anda alami dalam karier filmmaking. Baru kali ini deh saya nemu satu jenis film yang gak usah direview.


Beberapa referensi film genre "film on film" yang juga menarik:

-Be Kind Rewind (Michel Gondry, 2008)
-Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore, 1988)
-Super 8 (J.J. Abrams, 2011)
-Zi Yu Zi Le 自娱自乐 a.k.a Master of Everything (Xin Lee, 2004)
Baca

REVIEW WIRO SABLENG (Angga Dwimas Sasongko, 2018)

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved