APAKAH ROBOT MENCIPTAKAN SENI?
Saat ini ada sebagian orang menyatakan bahwa gambar yang dibuat melewati software Artificial Intellegence (AI) boleh disebut seni. Prosesnya adalah si pembuat akan menentukan seperangkat perintah yang disebut prompt. Prompt ini haruslah detail sehingga nanti output dari olahan AI akan sesuai dengan kehendak si pembuat. Orang-orang tadi mengklaim bahwa pembuatan prompt adalah sebuah kreativitas yang perlu imajinasi sehingga dengan mengetik prompt saja dia layak menyebut dirinya "seniman kecerdasan buatan."
Mari kita ulas.
Sekalipun definisi seni berkembang dari masa ke masa dengan segala gaya dan tekniknya, sejauh ini masih disepakati bahwa seni adalah produk akal budi manusia. Manusia adalah satuan organik pemilik kesadaran yg merupakan agen penting kreativitas. Berbeda dgn macam-macam produk lainnya yg dibuat manusia, seni punya tujuan khas yakni menggerakkan perasaan manusia. Namun tak semua yg menggerakkan perasaan manusia adalah seni. Pemandangan dan bunga misalnya, meski keindahannya menggerakkan hati manusia, keduanya bukan seni. Biasanya para awam tidak memahami atau lupa definisi dasar ini. Seni adalah ungkapan manusia.
Dalam perkembangan jaman, alat yg dipakai manusia untuk bikin seni juga berubah. Dulu menggambar dilakukan dengan alat gores dan lembar atau papan. Sekarang bisa dilakukan dengan gawai. Komputer di sini adalah alat sehingga masih disebut seni. Outputnya disebut sebagai digital art.
Meskipun sama-sama pakai komputer, digital art berbeda dengan AI image. AI adalah kecerdasan otonom yg dibuat menyerupai kemampuan pikir manusia. Dia bisa mengeksekusi gagasan dari prompt secara otonom. Maka dari itu AI adalah robot. Robot memangkas peran manusiawi dalam mencipta karya. Di sinilah maka ia tidak disebut seni.
Seni berpusat pada manusia dan daya cipta rasa karsanya. Seni bukan soal indahnya bentuk. Seni selalu terkait dengan proses penciptaan makanya kenapa ada lukisan macam bikinan anak kecil dihargai jutaan. Apresiasi seni juga mengapresiasi pewujud gagasan. Pelukis tidak dianggap "telah mati". Buktinya nilai karya dipandang dari siapa penciptanya. Kalaupun hasil dari AI dibrli tinggi itu juga tidak lantas menjadikannya bisa disebut seni. Sama dengan orang yg membayar mahal untuk beli batu akik yg ada gambar mirip lafafz Allah atau apa.
Ada yg berargumem bahwa prompt itu gagasan sedangkan AI itu alat pewujudan gagasan sebagaimana pencipta dengan alat lukisnya. Ini salah. AI disebut cerdas karena dia dirancang otonom. Kuas seorang pelukis, pahat seorang pematung atau gitar seorang gitaris tidak bergerak otonom dengan program. Manusia lah yg mengendalikannya secara manual.
Bahkan kolase, seni merangkai gambar dari bahan yg sudah ada pun perlu penataan manual. Jangan lupa pula ada seni murni dan ada seni terapan. Digital music pun perlu composer untuk menata nada, bukan membiarkan komputer meramunya berdasar big data yg dipelajari dari jejak karya manusia.
Dalam seni musik ada yg namanya "aleatoric music". Konsepnya adalah bahwa bagian-bagian dari komposisi, sebagian atau keseluruhan dibikin lewat mengundi nada atau rumus probabilitas matematika. Dalam penciptaan ini sang komposer pun masih turut campur dengan menentukan set nada secara manual. Misal pada tahun 1951 John Cage, komposer Amerika membuat musik pakai pengacakan berbasis kitab I Ching.
Demikianlah. Seni itu berpusat pada interaksi manusia dengan materi gagasannya yg mana bisa saja melewati mesin agar terwujud. Jangankan robot atau segala macam mesin cerdas, lukisan yg dibikin binatang saja tidak disebut seni. Ada pula orang yg mengikatkan kuas bercat di dahan pohon yg ditaruh kanvas pada ujungnya. Lukisan nanti akan tercipta karena dahan yg bergoyang kena angin. Ini juga bukan seni. Namun bisa jadi projectnya (bukan hasil lukisannya) disebut sebagai seni. Seni instalasi misalnya.
Nah kalo orang-orang masih ingin ngeyel menyebut gambar yg dihasilkan AI sebagai seni, maka yg merupakan seni ya teknik bikin prompt itu. Lebih masuk akal. Sebutlah seni prompt (prompt art), bukannya seni AI.
Robot tidak bikin seni tapi pembikinan robot bisa menjadi sebuah seni. Begitu.
(Oleh Gugun Arief: filmmaker and comic artist) 4 Februari 2024
Saat ini ada sebagian orang menyatakan bahwa gambar yang dibuat melewati software Artificial Intellegence (AI) boleh disebut seni. Prosesnya adalah si pembuat akan menentukan seperangkat perintah yang disebut prompt. Prompt ini haruslah detail sehingga nanti output dari olahan AI akan sesuai dengan kehendak si pembuat. Orang-orang tadi mengklaim bahwa pembuatan prompt adalah sebuah kreativitas yang perlu imajinasi sehingga dengan mengetik prompt saja dia layak menyebut dirinya "seniman kecerdasan buatan."
Mari kita ulas.
Sekalipun definisi seni berkembang dari masa ke masa dengan segala gaya dan tekniknya, sejauh ini masih disepakati bahwa seni adalah produk akal budi manusia. Manusia adalah satuan organik pemilik kesadaran yg merupakan agen penting kreativitas. Berbeda dgn macam-macam produk lainnya yg dibuat manusia, seni punya tujuan khas yakni menggerakkan perasaan manusia. Namun tak semua yg menggerakkan perasaan manusia adalah seni. Pemandangan dan bunga misalnya, meski keindahannya menggerakkan hati manusia, keduanya bukan seni. Biasanya para awam tidak memahami atau lupa definisi dasar ini. Seni adalah ungkapan manusia.
Dalam perkembangan jaman, alat yg dipakai manusia untuk bikin seni juga berubah. Dulu menggambar dilakukan dengan alat gores dan lembar atau papan. Sekarang bisa dilakukan dengan gawai. Komputer di sini adalah alat sehingga masih disebut seni. Outputnya disebut sebagai digital art.
Meskipun sama-sama pakai komputer, digital art berbeda dengan AI image. AI adalah kecerdasan otonom yg dibuat menyerupai kemampuan pikir manusia. Dia bisa mengeksekusi gagasan dari prompt secara otonom. Maka dari itu AI adalah robot. Robot memangkas peran manusiawi dalam mencipta karya. Di sinilah maka ia tidak disebut seni.
Seni berpusat pada manusia dan daya cipta rasa karsanya. Seni bukan soal indahnya bentuk. Seni selalu terkait dengan proses penciptaan makanya kenapa ada lukisan macam bikinan anak kecil dihargai jutaan. Apresiasi seni juga mengapresiasi pewujud gagasan. Pelukis tidak dianggap "telah mati". Buktinya nilai karya dipandang dari siapa penciptanya. Kalaupun hasil dari AI dibrli tinggi itu juga tidak lantas menjadikannya bisa disebut seni. Sama dengan orang yg membayar mahal untuk beli batu akik yg ada gambar mirip lafafz Allah atau apa.
Ada yg berargumem bahwa prompt itu gagasan sedangkan AI itu alat pewujudan gagasan sebagaimana pencipta dengan alat lukisnya. Ini salah. AI disebut cerdas karena dia dirancang otonom. Kuas seorang pelukis, pahat seorang pematung atau gitar seorang gitaris tidak bergerak otonom dengan program. Manusia lah yg mengendalikannya secara manual.
Bahkan kolase, seni merangkai gambar dari bahan yg sudah ada pun perlu penataan manual. Jangan lupa pula ada seni murni dan ada seni terapan. Digital music pun perlu composer untuk menata nada, bukan membiarkan komputer meramunya berdasar big data yg dipelajari dari jejak karya manusia.
Dalam seni musik ada yg namanya "aleatoric music". Konsepnya adalah bahwa bagian-bagian dari komposisi, sebagian atau keseluruhan dibikin lewat mengundi nada atau rumus probabilitas matematika. Dalam penciptaan ini sang komposer pun masih turut campur dengan menentukan set nada secara manual. Misal pada tahun 1951 John Cage, komposer Amerika membuat musik pakai pengacakan berbasis kitab I Ching.
Demikianlah. Seni itu berpusat pada interaksi manusia dengan materi gagasannya yg mana bisa saja melewati mesin agar terwujud. Jangankan robot atau segala macam mesin cerdas, lukisan yg dibikin binatang saja tidak disebut seni. Ada pula orang yg mengikatkan kuas bercat di dahan pohon yg ditaruh kanvas pada ujungnya. Lukisan nanti akan tercipta karena dahan yg bergoyang kena angin. Ini juga bukan seni. Namun bisa jadi projectnya (bukan hasil lukisannya) disebut sebagai seni. Seni instalasi misalnya.
Nah kalo orang-orang masih ingin ngeyel menyebut gambar yg dihasilkan AI sebagai seni, maka yg merupakan seni ya teknik bikin prompt itu. Lebih masuk akal. Sebutlah seni prompt (prompt art), bukannya seni AI.
Robot tidak bikin seni tapi pembikinan robot bisa menjadi sebuah seni. Begitu.
(Oleh Gugun Arief: filmmaker and comic artist) 4 Februari 2024