BISNIS MAKANAN TERMASUK EKRAF?

Mengutip tulisan di situsnya Gramedia:

"Menurut Departemen Perdagangan Republik Indonesia, ekonomi kreatif merupakan sebuah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut."
Definisi di atas terlalu melar, luas dan nggak begitu jelas. Oke, kita simak contohnya:
Menurut Simatupang (temannya Pak Hutabarat), ekonomi kreatif diartikan sebagai industri yang berfokus pada kreasi dan ekploitasi karya kepemilikan intelektual seperti seni, film, permainan atau desain fashion, dan termasuk layanan kreatif antar perusahan seperti iklan.
Yup saya setuju.
Menurut Howkins (temannya Mr. John), ekonomi kreatif terdiri dari periklanan, arsitektur, seni, kerajinan, desain, fashion, film, musik, seni pertunjukkan, penerbitan, penelitian dan pengembangan (R and D), perangkat lunak, mainan dan permainan, televisi dan radio, dan permainan video.
Yes setuju.
Akan tetapi ada juga yang memasukkan kuliner ke jenis ekraf. Saya kok kurang sepakat. Mencermati contoh-contoh di atas, saya menemukan bahwa satu ciri khusus dari ekraf itu adalah adanya konsep hak kekayaan intelektual. Ini berkonsekuensi adanya potensi pendapatan tak langsung berupa royalti atau lisensi.
Nah, setahu saya bisnis kuliner itu paling banter punya potensi dapet revenue gak langsung ya lewat sistem franchise (bayar lisensi) bukan royalti. Anda bisa tuh bikin ayam goreng mirip KFC tanpa bayar royalti buat "disainnya". Sejauh ini memang susah ngedaftarin resep penganan agar bisa dapet royalti. Lagipula kuliner itu masuk ke kategori bisnis makanan. Bikin ayam goreng, kecuali anda menerapkan rumus Fibonacci, pytagoras atau menghitung panas wajan pake rumus, nggak perlu intelektualitas tinggi. Pakai common sense aja. Asal nggak gosong ya berarti udah mateng.
Sekreatifnya anda mencipta makanan unik, sayangnya perlindungan untuk originalitas resep ini masih sulit. Mungkin hanya brandnya saja yg bisa dilindungi (pakai aturan hukum perdata yg umum) tapi kalo resep? Atau disain unik dari bentuk makanan? Bayangin anda nyiptain cilok bentuk hexagonal terus anda daftarin ke HAKI. Bisa nggak tuh dapat pencatatan dan perlindungan hukum? Bisnis makanan ini beda sekali dengan musik misalnya.
Tentang kerajinan saya juga ragu untuk dimasukin ke dalam ekraf. Karena kebanyakan konsep royalti atau lisensi nggak diterapkan di sana. Seni kerajinan ini lebih berbasis tradisi. Penjualannya juga seperti menjual barang biasa. Bandingkan dengan mainan, buku, rekaman dll yg melibatkan hak intelektual di atasnya. Tentu nggak semua kerajinan ya. Batik masih bisa masuk karena ranahnya disain visual. Bagaimana dgn suvenir, aksesori dll yg biasa dijual di tempat wisata?
Ah bagaimana dengan pariwisata? Ini juga saya rasa masuk ke jenis tersendiri saja. Karena nggak semua asetnya merupakan kreativitas. Yg kreatif mungkin yg jenis theme park.
Apa implikasi dari memasukkan satu bidang gak sesuai kategori yg jelas?
Ya ketimpangan, kesalahan urus, pencurian HAKI dll.
Di kabupaten yg labelnya ekraf itu seringkali cuma berisi lapak makanan dan jajanan. Mungkin dikiranya di kabupaten nggak ada disainer, animator, penulis, filmmaker.
Jadi kalo mau peduli pada ekraf itu bisa nih dimulai dengan penempatan kategori yg tepat.

Mengutip tulisan di situsnya Gramedia:

"Menurut Departemen Perdagangan Republik Indonesia, ekonomi kreatif merupakan sebuah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut."
Definisi di atas terlalu melar, luas dan nggak begitu jelas. Oke, kita simak contohnya:
Menurut Simatupang (temannya Pak Hutabarat), ekonomi kreatif diartikan sebagai industri yang berfokus pada kreasi dan ekploitasi karya kepemilikan intelektual seperti seni, film, permainan atau desain fashion, dan termasuk layanan kreatif antar perusahan seperti iklan.
Yup saya setuju.
Menurut Howkins (temannya Mr. John), ekonomi kreatif terdiri dari periklanan, arsitektur, seni, kerajinan, desain, fashion, film, musik, seni pertunjukkan, penerbitan, penelitian dan pengembangan (R and D), perangkat lunak, mainan dan permainan, televisi dan radio, dan permainan video.
Yes setuju.
Akan tetapi ada juga yang memasukkan kuliner ke jenis ekraf. Saya kok kurang sepakat. Mencermati contoh-contoh di atas, saya menemukan bahwa satu ciri khusus dari ekraf itu adalah adanya konsep hak kekayaan intelektual. Ini berkonsekuensi adanya potensi pendapatan tak langsung berupa royalti atau lisensi.
Nah, setahu saya bisnis kuliner itu paling banter punya potensi dapet revenue gak langsung ya lewat sistem franchise (bayar lisensi) bukan royalti. Anda bisa tuh bikin ayam goreng mirip KFC tanpa bayar royalti buat "disainnya". Sejauh ini memang susah ngedaftarin resep penganan agar bisa dapet royalti. Lagipula kuliner itu masuk ke kategori bisnis makanan. Bikin ayam goreng, kecuali anda menerapkan rumus Fibonacci, pytagoras atau menghitung panas wajan pake rumus, nggak perlu intelektualitas tinggi. Pakai common sense aja. Asal nggak gosong ya berarti udah mateng.
Sekreatifnya anda mencipta makanan unik, sayangnya perlindungan untuk originalitas resep ini masih sulit. Mungkin hanya brandnya saja yg bisa dilindungi (pakai aturan hukum perdata yg umum) tapi kalo resep? Atau disain unik dari bentuk makanan? Bayangin anda nyiptain cilok bentuk hexagonal terus anda daftarin ke HAKI. Bisa nggak tuh dapat pencatatan dan perlindungan hukum? Bisnis makanan ini beda sekali dengan musik misalnya.
Tentang kerajinan saya juga ragu untuk dimasukin ke dalam ekraf. Karena kebanyakan konsep royalti atau lisensi nggak diterapkan di sana. Seni kerajinan ini lebih berbasis tradisi. Penjualannya juga seperti menjual barang biasa. Bandingkan dengan mainan, buku, rekaman dll yg melibatkan hak intelektual di atasnya. Tentu nggak semua kerajinan ya. Batik masih bisa masuk karena ranahnya disain visual. Bagaimana dgn suvenir, aksesori dll yg biasa dijual di tempat wisata?
Ah bagaimana dengan pariwisata? Ini juga saya rasa masuk ke jenis tersendiri saja. Karena nggak semua asetnya merupakan kreativitas. Yg kreatif mungkin yg jenis theme park.
Apa implikasi dari memasukkan satu bidang gak sesuai kategori yg jelas?
Ya ketimpangan, kesalahan urus, pencurian HAKI dll.
Di kabupaten yg labelnya ekraf itu seringkali cuma berisi lapak makanan dan jajanan. Mungkin dikiranya di kabupaten nggak ada disainer, animator, penulis, filmmaker.
Jadi kalo mau peduli pada ekraf itu bisa nih dimulai dengan penempatan kategori yg tepat.
Baca

SERBUAN MICRO DRAMA

Hollywood secara komersil boleh dikatakan sebagai pemimpin kemajuan dunia hiburan global. Kebanyakan dari filmmaker atau penonton film angkatan saya melek film ya karena asupan film Barat (Hollywood). Padahal harta karun sinema banyak yang berasal dari film-film "asing" seperti Iran, Jepang, Prancis dll. Skala produksi yang besar memungkinkan mereka berekspansi masif dan dominan ke setiap penjuru dunia. Dominasi ini tak selalu bertahan. Sejak tahun 2000an Korea Selatan mulai merebut perhatian dengan ekspansi drama gaya mereka (drakor), masih satu gelombang dengan trend musik (K-Pop). Selama beberapa tahun pemirsa lokal tergila-gila dan kecanduan, bahkan jadi fans militan. Menyerang fans drakor hampir sama bahayanya dengan mengusik tentara lagi istirahat di barak.





Setelah serbuan Drakor, tahukah anda apa yang kini menggegerkan jagad hiburan dunia?


Micro drama (dalam bahasa Cina disebut duanju), film pendek 1 - 2 menitan yang dibuat di Cina mulai jadi fenomena global terutama sejak pandemik Covid-19. Disokong oleh kebiasaan orang nonton konten dalam format vertikal dan penggunaan media sosial terutama Tiktok yang juga dari Cina, micro drama menemukan target pasarnya secara masif. Cara konten ini dijual adalah bahwa biasanya 10 episode pertama gratis, selanjutnya baru nonton berbayar lewat subskripsi atau bayar satuan dengan harga murah banget. Banyak orang mengaku ketagihan nonton meski ceritanya nggak realistis dan hampir semuanya bombastis. Cewek cantik korban bullying membalas perlakuan orang dengan setimpal, pria miskin yang ternyata CEO perusahaan besar menyamar dan semacamnya adalah plot yang umum di microdrama. Teknik storytellingnya: kasih ending nggantung yang bikin penasaran di tiap episode.

Yang mengejutkan saya, ternyata penghasilan micro drama ini sudah melebihi pendapatan industri film konvensional di negerinya sono dalam rentang waktu yang sama. Makin kaget lagi saya ketika baca bahwa pasar terbesar mereka malah... AMERIKA! Gila kan? Micro drama yang secara tampilan production valuenya receh ternyata nggak sereceh itu juga. Ekosistem digital mereka sudah dipersiapkan dan diperkuat dengan AI. Algoritma mereka menarget penonton secara spesifik sekaligus global. Kalo anda scroll-scroll medsos sering nggak iklan micro drama nongol?

Penggunaan teknologi ini benar-benar disruptif pada pola produksi konvensional. Level skill manusia udah bisa direduksi besar-besaran. Mirip kayak produksi film low budget, bikin micro drama nggak perlu banyak kru dan alat yang ribet. Selain itu juga makin cepet. 2 bulan udah termasuk script development sekaligus produksinya. Anda tahu nggak? Untuk membuat target mereka lebih lokal lagi, Cina pakai AI untuk ngganti wajah aktor Cina jadi bule. Dubbingnya juga disesuaikan. Secara tampilan kita nggak tahu itu yang jadi John (misalnya) adalah Jian (misalnya juga).

Bagian distribusi adalah yang paling sulit dalam perfilman. Ini juga paling mahal. Cina sudah sangat siap akan hal ini. Jika film-film yang normal memakai OTT yang hanya untuk film panjang kayak Netflix, Disney plus, Hulu dll. Untuk micro drama ini mereka bikin apps yang khusus seperti Dramabox, Reelshort dll. Dengan demikian jangkauannya lebih gampang karena easy to use ga pake ribet. Budaya nonton serius selama 2 jam sudah tergeser dengan pola short attention span ini. Orang kebanyakan sukanya rebahan sambil nonton sesuatu yang gak pake mikir. Goblok tapi menghibur. Gak kayak kebijakan kamarentah. Goblok, berbahaya dan gak menghibur juga.

Karena fenomena global micro drama yang seakan mendadak ini (padahal ya nggak mendadak juga), pemerintah Cina kemudian ikut campur. Banyak tayangan dilarang karena dianggap tak sesuai dengan norma dan nilai kebangsaan Cina yang adi luhung. Luhung Binsar Panjaitan... Eh bukan. Ampun, Pak Luhut.

Back to the topic.

Cina sudah menyiapkan hal-hal begini sejak 2016 (kalo gak salah ya). Mereka pelajari budaya orang global mengakses tayangan lalu secara sistematis mendisrupsi kelakuan itu dengan menawarkan aplikasi-aplikasi medsos yang pas. Nggak selalu instan. Rata-rata butuh waktu 10an tahun untuk bener bisa populer di masyarakat. Di awal mereka juga gak selalu diterima. Tiktok dulu dicibir sebagai platform yang nggak jelas.

Dengan strategi dan aksi yang konsisten maka mereka sukses mengkonversi cibiran jadi pemujaaan. Fenomena micro drama global jadi buktinya. Akankah Cina menggusur dominasi Hollywood? Santai aja, kak. Korea Selatan aja meski masif tapi ya belum segitunya. Yang terpenting Indonesia bisa apa? Alih-alih memperkuat ekonomi kreatif digital, waktu luang orang-orang ini malah disalurkan jadi buzzer Neo Orba wakakakakak.

Hollywood secara komersil boleh dikatakan sebagai pemimpin kemajuan dunia hiburan global. Kebanyakan dari filmmaker atau penonton film angkatan saya melek film ya karena asupan film Barat (Hollywood). Padahal harta karun sinema banyak yang berasal dari film-film "asing" seperti Iran, Jepang, Prancis dll. Skala produksi yang besar memungkinkan mereka berekspansi masif dan dominan ke setiap penjuru dunia. Dominasi ini tak selalu bertahan. Sejak tahun 2000an Korea Selatan mulai merebut perhatian dengan ekspansi drama gaya mereka (drakor), masih satu gelombang dengan trend musik (K-Pop). Selama beberapa tahun pemirsa lokal tergila-gila dan kecanduan, bahkan jadi fans militan. Menyerang fans drakor hampir sama bahayanya dengan mengusik tentara lagi istirahat di barak.





Setelah serbuan Drakor, tahukah anda apa yang kini menggegerkan jagad hiburan dunia?


Micro drama (dalam bahasa Cina disebut duanju), film pendek 1 - 2 menitan yang dibuat di Cina mulai jadi fenomena global terutama sejak pandemik Covid-19. Disokong oleh kebiasaan orang nonton konten dalam format vertikal dan penggunaan media sosial terutama Tiktok yang juga dari Cina, micro drama menemukan target pasarnya secara masif. Cara konten ini dijual adalah bahwa biasanya 10 episode pertama gratis, selanjutnya baru nonton berbayar lewat subskripsi atau bayar satuan dengan harga murah banget. Banyak orang mengaku ketagihan nonton meski ceritanya nggak realistis dan hampir semuanya bombastis. Cewek cantik korban bullying membalas perlakuan orang dengan setimpal, pria miskin yang ternyata CEO perusahaan besar menyamar dan semacamnya adalah plot yang umum di microdrama. Teknik storytellingnya: kasih ending nggantung yang bikin penasaran di tiap episode.

Yang mengejutkan saya, ternyata penghasilan micro drama ini sudah melebihi pendapatan industri film konvensional di negerinya sono dalam rentang waktu yang sama. Makin kaget lagi saya ketika baca bahwa pasar terbesar mereka malah... AMERIKA! Gila kan? Micro drama yang secara tampilan production valuenya receh ternyata nggak sereceh itu juga. Ekosistem digital mereka sudah dipersiapkan dan diperkuat dengan AI. Algoritma mereka menarget penonton secara spesifik sekaligus global. Kalo anda scroll-scroll medsos sering nggak iklan micro drama nongol?

Penggunaan teknologi ini benar-benar disruptif pada pola produksi konvensional. Level skill manusia udah bisa direduksi besar-besaran. Mirip kayak produksi film low budget, bikin micro drama nggak perlu banyak kru dan alat yang ribet. Selain itu juga makin cepet. 2 bulan udah termasuk script development sekaligus produksinya. Anda tahu nggak? Untuk membuat target mereka lebih lokal lagi, Cina pakai AI untuk ngganti wajah aktor Cina jadi bule. Dubbingnya juga disesuaikan. Secara tampilan kita nggak tahu itu yang jadi John (misalnya) adalah Jian (misalnya juga).

Bagian distribusi adalah yang paling sulit dalam perfilman. Ini juga paling mahal. Cina sudah sangat siap akan hal ini. Jika film-film yang normal memakai OTT yang hanya untuk film panjang kayak Netflix, Disney plus, Hulu dll. Untuk micro drama ini mereka bikin apps yang khusus seperti Dramabox, Reelshort dll. Dengan demikian jangkauannya lebih gampang karena easy to use ga pake ribet. Budaya nonton serius selama 2 jam sudah tergeser dengan pola short attention span ini. Orang kebanyakan sukanya rebahan sambil nonton sesuatu yang gak pake mikir. Goblok tapi menghibur. Gak kayak kebijakan kamarentah. Goblok, berbahaya dan gak menghibur juga.

Karena fenomena global micro drama yang seakan mendadak ini (padahal ya nggak mendadak juga), pemerintah Cina kemudian ikut campur. Banyak tayangan dilarang karena dianggap tak sesuai dengan norma dan nilai kebangsaan Cina yang adi luhung. Luhung Binsar Panjaitan... Eh bukan. Ampun, Pak Luhut.

Back to the topic.

Cina sudah menyiapkan hal-hal begini sejak 2016 (kalo gak salah ya). Mereka pelajari budaya orang global mengakses tayangan lalu secara sistematis mendisrupsi kelakuan itu dengan menawarkan aplikasi-aplikasi medsos yang pas. Nggak selalu instan. Rata-rata butuh waktu 10an tahun untuk bener bisa populer di masyarakat. Di awal mereka juga gak selalu diterima. Tiktok dulu dicibir sebagai platform yang nggak jelas.

Dengan strategi dan aksi yang konsisten maka mereka sukses mengkonversi cibiran jadi pemujaaan. Fenomena micro drama global jadi buktinya. Akankah Cina menggusur dominasi Hollywood? Santai aja, kak. Korea Selatan aja meski masif tapi ya belum segitunya. Yang terpenting Indonesia bisa apa? Alih-alih memperkuat ekonomi kreatif digital, waktu luang orang-orang ini malah disalurkan jadi buzzer Neo Orba wakakakakak.

Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved