Yang Terbaru
Showing posts with label Movie Reviews. Show all posts
Showing posts with label Movie Reviews. Show all posts

REVIEW GUNDALA (Joko Anwar, 2019)

Seorang bocah jadi yatim piatu karena bapaknya tewas waktu demo di pabrik dan ibunya pergi, "lunga ora bali-bali" (go away never go home). Di jalanan ia hidup penuh kekerasan hingga seorang pemuda mengajarinya ilmu silat. Ya, supaya si bocah bisa beladiri dan mengatasi masalah sendiri.

Sementara itu seorang difabel bermasa lalu kelam menancapkan pengaruhnya di politik. Ia memiliki ratusan anak buah yang di antaranya punya kekuatan linuwih. Di antara penentangnya adalah seorang anggota dewan yang masih punya integritas. Ketika sang musuh kelam tadi membuat kekacauan nasional, sang bocah yatim piatu tadi muncul sebagai penghadang. Tentu saja kini ia udah gede dan kerja sebagai satpam.

Si pemuda ini punya masalah dengan geledek. Mungkin dia dulu suka nyumpahin terus kualat. Kita belum tahu mengapa geledek mengincar dia. Pemuda silat yang pernah ngajarin dia waktu bocah pernah nanya, "Lu punya masalah apa sama petir?"


==========

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tangan saya masih sibuk di meja kerja. Waduh, jam setengah enem kudu musti meluncur ke CGV nih. CGV itu di kota, saya di ndeso (tapi ya ora ndeso banget). Langsung saya mandi, melamun sekadarnya sambil gosok sabun eh gigi. Lalu pake baju tempur dan dengan kecepatan mengendarai yang astaghfirullah lambatnya, akhirnya sampe juga saya ke kota. Mepet banget waktunya. Untunglah Si Coklat, si traktor (orang yang mentraktir disebut traktor bukan sih?) belum keburu ninggalin saya. Lha gimana wong dia yang nraktir.

Sungguh sebuah pengharapan yang dag dig dug. Gundala diharapkan akan menjadi film sukses yang bisa membangkitkan genre marjinal ini. Gundala jelas bukan yang pertama mencoba genre superhero. Juga bukan pertama kali karakter ini difilmkan. Hampir semua genre superhero Indonesia gagal di tengah jalan. Penyebabnya adalah kegagalan eksekusi, kelemahan storytelling atau mungkin budget yang gak "ngejar patokan estetik".

Jadi... seperti apakah Gundala versi BumiLangit garapan Pak Joko yang JoKan ini?

Kita bahas dari 3 segi: CERITA, PERFORMA AKTOR, VISUAL, MUSIK, KOSTUM dan TATA LAGA.

Eh nggak jadi 3 tapi 6 ding.

=================

CERITA

Berbeda dari versi aslinya, Pak Joko mengubah cerita Sancaka secara signifikan. Sancaka bukan lagi seorang ilmuwan yang galau disamber geledek. Ia adalah bocah malang (tapi gak bisa bahasa Jawa walikan)... malang semalang-malangnya. Full of misery. Bapaknya nggak sugih kayak ortu Bruce Wayne, bukan ningrat dari Kraton Krypton kayak Kal-El, juga nggak masuk ABRI kayak Steve Rogers.

Masa lalu Sancaka terceritakan dengan runtut. Dia bukanlah tipe karakter yang disiksa secara terpaksa oleh sutradara. Kita iba karena memang mengikuti bahwa sumber derita ini cukup dekat dengan konteks sehari-hari. Bapaknya mlarat tapi idealis. Musuhnya jelas banyak. Bos pabrik tempatnya kerja jelas tak mau dia bersuara.

Sayangnya perjalanan Sancaka bocah yang mulus ini berubah jadi terseok-seok sewaktu dia dewasa. Tahu-tahu kita mengenal Sancaka yang sudah kerja secara normal jadi satpam. Gimana anak jalanan bisa "seberuntung itu" ya? Ketemu siapa dia? Bisa beli buku dari mana?

Ya nggak papa. Nanti di sekuelnya semoga kita tahu gimana Sancaka kok bisa dari pemuda jalanan trus dipercaya jadi satpam. Apa gak butuh ijazah minimal SD ya? Sancaka kan ninggalin rumah saat ia masih SD. Apa nunggu Ebtanas dulu? Kok ya beruntung Sancaka gak terjerumus jadi anak buah Pengkor atau malah jadi anak-anak punk jalanan.

Bagaimana Sancaka bisa dapat kekuatan petir?

Di versi asli adalah bahwa dia emang dilantik oleh bapak angkatnya yang rajanya geledek. Di film ini kita belum tahu sepenuhnya. Yang jelas sejak kecil dia ini "sambergeledekable". Kemana aja dia pergi, petir seolah mengejar. Ya mungkin dia pernah adu sumpah ama temen kali ya.... taruhan terus yang kalah bakal disamber petir.

Bagaimana kekuatan petir itu dikembangkan Sancaka, saya rasa cukup masuk akal. Tapi ya akalnya film, Broooo ora usah nggawa-nggawa sains lah. Saya suka dengan adegan bagaimana Sancaka ini dapat nama Gundala. Masuk akal dan cukup Indonesia. Itu akan anda jumpai di akhir cerita.

Di saat yang sama, kisah lain dibangun. Pengkor si musuh kita diceritakan punya akses ke tokoh-tokoh politik. Lewat kekuatan uang. Masa lalunya kelam. Sayangnya pertemuan Pengkor VS Sancaka tidak terbangun dengan meyakinkan. Gampang banget pula nemuin di mana sang hero berada. Jadi what for tu topeng? Apa biar gak kelilipan doang ya? But it's okay. Mungkin Sancaka mudah ketemu karena banyak orang lambenya turah. "Om, tau orang yang jago gelut bisa ngeluarin petir gak?" Dijawab, "Gue kasih tau lu mo bayar berapa?"

Saya rasa akan menarik jika kekelaman masa lalu Pengkor ini dibenturkan sama Gundala. Kan sama-sama anak yatim tuh. Tapi keduanya berjumpa ya gara-gara yang satu punya agenda, satunya ngacau.

Ada banyak karakter yang ditebar di film ini. Merpati, Godam, Sri Asih, Ki Wilawuk dll. Sebagian mengambil peran cerita yang signifikan, sebagian lain cuma jadi "easter egg". Bisa saya maklumi karena tujuan marketing dari film ini adalah membangun awalan dari sederetan film superhero yang intellectual propertynya dimiliki PT BumiLangit.

Kemunculan tokoh ini ada yang mulus, ada pula yang terasa dijejalkan. Belum juga Pengkor tergali maksimal eh muncullah musuh lain yang merebut kesangarannya. Bisa saya bilang, kebanyakan musuh di sini jadi malah gak fokus. Ingat, kita masih menginvestasikan perhatian pada masalah kacaunya negara di masa Sancaka jadi Gundala. Bagi saya, Pengkor terlalu singkat exposure-nya. Padahal latar belakangnya sangat menarik.

Sudah bagus saya jatuh hati pada karakter Sancaka bocah, tapi saya kayak missing ketika si bocah jadi dewasa. Don't get me wrong. Abimana is great. Exposure dia dengan kekuatan dan tanggung jawab lumayan jelas. Masalahnya, Pengkor yang harusnya bisa menyerang Sancaka lewat sisi sentimentalnya, gak dimanfaatin buat itu. Jadi bentroknya Gundala VS Pengkor ini cuma murni fisik. Jaman segini sayang loh kalo kita gak ekspose sisi psikologisnya. Meski arah itu bukan tanpa resiko. Ya.... too bad for Pak Pengkor.

Trus ada yang bikin jengkel nih. Apa alasan Pengkor melakukan semua kejahatan itu? Pak Joko bukannya "show" tapi malah "tell". Tell bukan dengan cara yang asyik lewat dialog ringkas tapi malah ngomong lama seolah ngejelasin kayak presentasi. Ini jadi anti klimaks sama pembangunan karakter Pengkor yang mustinya keep cool hanya dengan tindakan. Eh malah "presentasi".

Komedi adalah bagian penting dari film superhero. Fungsinya sebagai comic relief, biar gak tegang terus. Komedinya efektif banget. Gak maksa. The most ngakak scene adalah... preman pasar jadi manten. Bwahahahahaha ngakak saya. Terbaek deh Pak Jokooo.

Soal kekerasan gimana? Ya ini film keras. Secara storytelling itu perlu dan secara sinematik itu harus. Lho kok gitu?

Come oooon, this is not tahun seket, Pak. Jangan apa-apa kekerasan yang disalahin film. Kita bukan di jaman Anwar Congo, Pak. rating 13 tahun ke atas bagi saya masih okelah. Kalo anak kecil nonton paling-paling ntar malah bakal pingin jadi filmmaker. Kayak saya.

Menjelang akhir, fase penokohan menjadi riuh dengan bentrokan-bentrokan. Orang kadang nyamain pendekatan Pak Joko's Gundala dengan Batman ala Nolan. Menurut saya beda. Batman Nolan ada bentrok psikologis, konflik perasaan dan kepentingan. Gundala enggak. Tapi ya gak papa. Kecilnya aja udah menyedihkan. Karakter Sancaka ala Pak Joko ini saya apresiasi sebagai the best superhero character development in cinema. The best dibanding semua film Marvel DC. Yang gak terima samber geledek!

PERFORMA AKTOR

Nggak usah njlimet. Saya bilang semua tampil pas dengan porsinya. kalopun dialog terasa teatrikal kayak film jadul, menurut saya is okay. Ada kesan retronya.

Bront Palarae sebagai Pengkor meski kurang bikin menggigil, setidaknya ia gak lebay kayak musuh-musuh tipikal film laga yang demen ketawa. Cukup, namun bisa lebih baik lagi.

Tara Basro sebagai Wulan. Ya udah gitu aja. Manis. Tapi saya lebih suka Neng Pevita meski scene dia nylempit jadi kaget-kagetan menjelang akhir.

Ario Bayu sebagai Ghazul, teatrikal. Tapi mbayangin dia mustinya gimana lagi saya gak tahu hihihi. Emang akting dia gitu.

Lukman Sardi sebagai Ridwan Bahri, pas lah.

Kak Abigail. Sorry anoyying... itu Harley Quinn apa Gogo Yubari sih? Ketawanya bagusan Kuntilanak lagi...

Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka bocah, he is the gold.

Abimana sebagai Sancaka, pantes banget tapi.... latihan silatnya yang tekun ya, Mas. Biar pinggangnya lentur dan kakinya lincah hehehe.

Ada dua screen stealer yang sangat saya suka. Yakni penampilan Kang Cecep Arief rahman dan Faris Fadjar yang ternyata putera Kang cecep.

Pemunculan keduanya di film ini sangat memukau. Bahkan munculnya karakter penari sakti seremnya melampaui Ki Wilawuk. Faris sendiri kalau langkahnya benar, saya berharap ia akan jadi aktor laga potensial di kemudian hari.

Ki Wilawuk kurang serem. Masih lebih serem Sujiwo Tejo.

VISUAL

Tak sukar menebak preferensi sinematik Pak Joko. Apalagi sebelumnya beliau sudah pernah bikin film superhero lho... tuh film Kala.

Jadi anda akan nemu gambar ala Kala, Janji Joni, Pengabdi Setan dll. di film ini. Di beberapa bagian mungkin anda juga akan mencium bau-bau The Raid 1 & 2, Batman Begins dan bahkan Jaka Sembung. Adegan Ghazul mengambil jasad Ki Wilawuk itu mengingatkan saya pada adegan dukun antek Kumpeni mbangkitin jasad Ki Item yang punya ajian Rawe Rontek.

Sinematografer Ical Tanjung bermain gelap terang dengan sangat berani. Saat kecil sancaka, digambarkan dengan kelamnya sinar yang merasuk ruang. Ikut bikin perasaan kita sempit terhimpit.

Adegan Sancaka lari dikejar pengeroyok diambil dengan sangat cakep dan mengesankan. Mungkin saya akan mengingatnya sebagai yang terbaiksetelah Forrest Gump.

Gimana dengan efek? Soal satu ini netizen cerewetnya bukan main. Dipikirnya CGI itu cuma buat bikin gedung hancur, ledakan ama monster. Padahal memoles tampilan bangunan, arah cahaya dan obyek sehari-hari juga bisa dilakukan pakai CGI. Yang ini hasilnya bahkan tak dikenali secara visual.

CGI Gundala sudah pas. Ada satu yang kurang tapi (tu yang anggota DPR baru dan anak istri di gedung) ya sudahlah semoga di film berikutnya lebih mulus. Petirnya bisa lebih bagus tapi yang ini juga tak buruk. Mobil melayang itu oke juga. CGI bukan ya?

Visual Gundala adalah kombinasi kesuraman Horror ala Pak Joko, noirnya Batman dan kekumuhan ala The Raid.

MUSIK

Sebenarnya sih cukup, tapi mustinya bisa lebih kuat lagi. Terasa beberapa bar kayak Hans Zimmer's Batman juga Alan Silvestri's Avengers Theme. Saya aja selalu kebelet nyambungin nada gesekan stringnya dengan Theme-nya Avengers.

Leitmotif untuk karakter sang penari (Kang Cecep) bahkan malah paling bagus dibanding lainnya. Ada bau tradisional woodwindnya. Setiap ia muncul, musik ini terdengar mencekam. Kayak udah pasti mati aja yang ketemu dia.

Yak ampun, saya kok berani-beraninya ngritik guru sendiri. Mas Aghi, salah satu komposer film ini saya anggap guru saya. Saya pernah ikut kelas beliau yang singkat.

KOSTUM

Kalo liat kostum yang di poster, tentu kita tahu deh. Itu versi dummy-nya. Menurut saya itu lumayan. Keliatan indie dan handmade. Saya gak bisa bayangin Gundala ujug-ujug pake spandex item mengkilat dengan dua sayap di telinga. Keliatan oke mah kalo di komik, kalo bener-bener dilakukan... nggilani, Mas.

Ternyata tebakan kita bener. Kostum yang finalnya (versi budget dari rakyat) gak sesimple itu. Saya belum bisa katakan itu keren apa nggak. Soalnya adegannya remang. Tapi terlihat kostum itu industrial. Sayap di kupingnya terlihat okay. Full body armornya cukup nice. Tampilan mask? Canggih kayak bikinan Stark Industries. Mungkin saya perlu nonton film berikutnya.

Canggih kok kostumnya. Kayaknya bukan pesen ke anak magang lah. Dalam remang ia terlihat menjanjikan. Kita tunggu penampilannya dalam terang.

TATA LAGA

Hmmm... di bagian ini saya paling cerewet. Bukan berarti saya bisa bikin yang lebih bagus ya hihihi.

Anda melihat kedahsyatan silat, tapi sayangnya tetep belum selevel The Raid. Mungkin bisa saya bilang ini versi ketoprak dari The Raid.

Ada 3 komponen yang bikin adegan laga bagus: Koreografi, sinematografi dan editing.

Koreografinya bagus meski gerakannya mudah ditebak. Masalahnya ada pada fight rhytm-nya. Ritme yang tidak padat bikin ada celah di gerakan. Kita sebut ini "Telegraphic moves". Artinya pelaga terlihat mengantisipasi serangan secara atifisial. Kayak udah dikasih tahu sebelumnya, kayak diapalin dulu gerakannya. Itulah telegraphic moves. Hey aku mau serang kepala tuh, menghindar ya... eh menghindarnya kecepetaaaan. Belum diserang nih.

Adegan tarung keroyok juga tak tereksekusi secara layak. Masalah klasik semacam nyerangnya giliran masih saja muncul. Mas Abimana sih kurang latian. Latihan yang lebih keras yo mas. Sampeyan bisa deh.

Akibat kendornya Mas Abimana, tarung yang mustinya epic lawan anak-anak Pengkor jadi "pengkor" pula. Kedodoran dalam ritme, postur dan gerak. Penyakit lama nih. Musuh sesakti apapun kalo keroyokan, pasti gampang kalahnya. Disentil aja mencelat. Kalo satu doang, gak sakti amat susah banget dikalahin. Nampaknya pola gini masih saja terjadi. Eman-eman. Stunt performer yang talented macam Andrew Sulaeman pun kurang terekspos bakatnya. I would say Gundala's fight masih kurang trengginas.


======================

Sebagai sebuah upaya untuk menjual warisan kreatif bangsa, Gundala adalah langkah pertaruhan. Kalo gagal ya bakal ambyar cita-cita sinema laga linuwih (istilah saya untuk genre superhero).

Gundala itu bagus, meski harusnya bisa lebih bagus lagi. Pengalaman serupa kayak saya pas nonton film Pak Joko yang lain. Beliau di mata saya tetaplah yang terbaik, sutradara dengan visi yang lantang dan berprinsip. Tapi pujian saya soal film satu ini maaf... bukan kepada Pak Joko Anwar.

Melainkan kepada para produser yang berani nunjuk pak Joko.

Gak semua orang berduit rela membayar (in a huge amount) sutradara agar bebas dengan visi kreatifnya. Puji syukur para produser memilih Joko Anwar. Kenapa kok musti Pak Joko?

Di mata saya, Pak Joko masih satu-satunya sutradara berpengalaman yang punya visi dan taste untuk film genre. Beliau juga paham how to tell a story (meski belum mencapai puncaknya). Kedodoran di action design sih nanti bisa diserahkan ke action director yang jago.

Dan kita mustinya tak menilai karya film hanya semata ini karya anak bangsa, demi kebangkitan industri sinema bla-bala. Bagi saya itu bullshit. Film kalo bagus gak usah merengek. Dia akan berbicara dengan sendirinya. gak usah diaku masuk nominasi Oscar juga ora pateken. Apik ki yo apik.

Tapiiii... apik bergantung pada taste personal.

Kalo kamu ini fanatik Marvel DC dan menganggap itu patokan film superhero, maka ya ini bukan film buatmu.

Kamu yang sukanya drama mendayu remaja atau kisah megah sejarah ala Bumi Manusia, maka ini juga bukan film buat kamu.

Kalo kamu ini menjunjung moralitas dengan menyensor sana-sini adegan kekerasan tapi memperdengarkan ceramah kebencian secara wajar, ya ini gak pas buatmu juga.

Ini adalah film bagi yang mau merayakan kebangkitan karakter jagoan komik dalam sinema. Bukan buat orang cerewet yang nontonnya musti berat-berat macam Tarkovsky atau Lars Von Trier.

Ini adalah film buat merayakan masa kejayaan komik nasional 50 taun silam.

Tapi ya semoga BumiLangit berhati-hati. Memilih sutradara yang cukup teruji dan visioner, melanjutkan apa yang dibebankan pada Pak Joko bukan pula hal yang mudah.

Anyway...

NILAIIIIII

Ekspektasi VS realita?
AMAN!

Bagus nggak?
BISA LEBIH LAGI.

Recommend gak?
RECOMMENDED.

Film ini pas buat siapa?
SEMUA PENYUKA SUPERHERO terutama penyuka komiknya tapi bukan yang fanatik, penyuka film superhero alternatif, penyuka aktor-aktor yang main di filmnya dan yang mau dukung kebangkitan genre superhero nasional.

SELAMAT, Gundala. 8 of 10 nilai dari saya pembaca komik Gundala sekaligus penyuka genre laga.

From Wlingiwood with love.
Seorang bocah jadi yatim piatu karena bapaknya tewas waktu demo di pabrik dan ibunya pergi, "lunga ora bali-bali" (go away never go home). Di jalanan ia hidup penuh kekerasan hingga seorang pemuda mengajarinya ilmu silat. Ya, supaya si bocah bisa beladiri dan mengatasi masalah sendiri.

Sementara itu seorang difabel bermasa lalu kelam menancapkan pengaruhnya di politik. Ia memiliki ratusan anak buah yang di antaranya punya kekuatan linuwih. Di antara penentangnya adalah seorang anggota dewan yang masih punya integritas. Ketika sang musuh kelam tadi membuat kekacauan nasional, sang bocah yatim piatu tadi muncul sebagai penghadang. Tentu saja kini ia udah gede dan kerja sebagai satpam.

Si pemuda ini punya masalah dengan geledek. Mungkin dia dulu suka nyumpahin terus kualat. Kita belum tahu mengapa geledek mengincar dia. Pemuda silat yang pernah ngajarin dia waktu bocah pernah nanya, "Lu punya masalah apa sama petir?"


==========

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tangan saya masih sibuk di meja kerja. Waduh, jam setengah enem kudu musti meluncur ke CGV nih. CGV itu di kota, saya di ndeso (tapi ya ora ndeso banget). Langsung saya mandi, melamun sekadarnya sambil gosok sabun eh gigi. Lalu pake baju tempur dan dengan kecepatan mengendarai yang astaghfirullah lambatnya, akhirnya sampe juga saya ke kota. Mepet banget waktunya. Untunglah Si Coklat, si traktor (orang yang mentraktir disebut traktor bukan sih?) belum keburu ninggalin saya. Lha gimana wong dia yang nraktir.

Sungguh sebuah pengharapan yang dag dig dug. Gundala diharapkan akan menjadi film sukses yang bisa membangkitkan genre marjinal ini. Gundala jelas bukan yang pertama mencoba genre superhero. Juga bukan pertama kali karakter ini difilmkan. Hampir semua genre superhero Indonesia gagal di tengah jalan. Penyebabnya adalah kegagalan eksekusi, kelemahan storytelling atau mungkin budget yang gak "ngejar patokan estetik".

Jadi... seperti apakah Gundala versi BumiLangit garapan Pak Joko yang JoKan ini?

Kita bahas dari 3 segi: CERITA, PERFORMA AKTOR, VISUAL, MUSIK, KOSTUM dan TATA LAGA.

Eh nggak jadi 3 tapi 6 ding.

=================

CERITA

Berbeda dari versi aslinya, Pak Joko mengubah cerita Sancaka secara signifikan. Sancaka bukan lagi seorang ilmuwan yang galau disamber geledek. Ia adalah bocah malang (tapi gak bisa bahasa Jawa walikan)... malang semalang-malangnya. Full of misery. Bapaknya nggak sugih kayak ortu Bruce Wayne, bukan ningrat dari Kraton Krypton kayak Kal-El, juga nggak masuk ABRI kayak Steve Rogers.

Masa lalu Sancaka terceritakan dengan runtut. Dia bukanlah tipe karakter yang disiksa secara terpaksa oleh sutradara. Kita iba karena memang mengikuti bahwa sumber derita ini cukup dekat dengan konteks sehari-hari. Bapaknya mlarat tapi idealis. Musuhnya jelas banyak. Bos pabrik tempatnya kerja jelas tak mau dia bersuara.

Sayangnya perjalanan Sancaka bocah yang mulus ini berubah jadi terseok-seok sewaktu dia dewasa. Tahu-tahu kita mengenal Sancaka yang sudah kerja secara normal jadi satpam. Gimana anak jalanan bisa "seberuntung itu" ya? Ketemu siapa dia? Bisa beli buku dari mana?

Ya nggak papa. Nanti di sekuelnya semoga kita tahu gimana Sancaka kok bisa dari pemuda jalanan trus dipercaya jadi satpam. Apa gak butuh ijazah minimal SD ya? Sancaka kan ninggalin rumah saat ia masih SD. Apa nunggu Ebtanas dulu? Kok ya beruntung Sancaka gak terjerumus jadi anak buah Pengkor atau malah jadi anak-anak punk jalanan.

Bagaimana Sancaka bisa dapat kekuatan petir?

Di versi asli adalah bahwa dia emang dilantik oleh bapak angkatnya yang rajanya geledek. Di film ini kita belum tahu sepenuhnya. Yang jelas sejak kecil dia ini "sambergeledekable". Kemana aja dia pergi, petir seolah mengejar. Ya mungkin dia pernah adu sumpah ama temen kali ya.... taruhan terus yang kalah bakal disamber petir.

Bagaimana kekuatan petir itu dikembangkan Sancaka, saya rasa cukup masuk akal. Tapi ya akalnya film, Broooo ora usah nggawa-nggawa sains lah. Saya suka dengan adegan bagaimana Sancaka ini dapat nama Gundala. Masuk akal dan cukup Indonesia. Itu akan anda jumpai di akhir cerita.

Di saat yang sama, kisah lain dibangun. Pengkor si musuh kita diceritakan punya akses ke tokoh-tokoh politik. Lewat kekuatan uang. Masa lalunya kelam. Sayangnya pertemuan Pengkor VS Sancaka tidak terbangun dengan meyakinkan. Gampang banget pula nemuin di mana sang hero berada. Jadi what for tu topeng? Apa biar gak kelilipan doang ya? But it's okay. Mungkin Sancaka mudah ketemu karena banyak orang lambenya turah. "Om, tau orang yang jago gelut bisa ngeluarin petir gak?" Dijawab, "Gue kasih tau lu mo bayar berapa?"

Saya rasa akan menarik jika kekelaman masa lalu Pengkor ini dibenturkan sama Gundala. Kan sama-sama anak yatim tuh. Tapi keduanya berjumpa ya gara-gara yang satu punya agenda, satunya ngacau.

Ada banyak karakter yang ditebar di film ini. Merpati, Godam, Sri Asih, Ki Wilawuk dll. Sebagian mengambil peran cerita yang signifikan, sebagian lain cuma jadi "easter egg". Bisa saya maklumi karena tujuan marketing dari film ini adalah membangun awalan dari sederetan film superhero yang intellectual propertynya dimiliki PT BumiLangit.

Kemunculan tokoh ini ada yang mulus, ada pula yang terasa dijejalkan. Belum juga Pengkor tergali maksimal eh muncullah musuh lain yang merebut kesangarannya. Bisa saya bilang, kebanyakan musuh di sini jadi malah gak fokus. Ingat, kita masih menginvestasikan perhatian pada masalah kacaunya negara di masa Sancaka jadi Gundala. Bagi saya, Pengkor terlalu singkat exposure-nya. Padahal latar belakangnya sangat menarik.

Sudah bagus saya jatuh hati pada karakter Sancaka bocah, tapi saya kayak missing ketika si bocah jadi dewasa. Don't get me wrong. Abimana is great. Exposure dia dengan kekuatan dan tanggung jawab lumayan jelas. Masalahnya, Pengkor yang harusnya bisa menyerang Sancaka lewat sisi sentimentalnya, gak dimanfaatin buat itu. Jadi bentroknya Gundala VS Pengkor ini cuma murni fisik. Jaman segini sayang loh kalo kita gak ekspose sisi psikologisnya. Meski arah itu bukan tanpa resiko. Ya.... too bad for Pak Pengkor.

Trus ada yang bikin jengkel nih. Apa alasan Pengkor melakukan semua kejahatan itu? Pak Joko bukannya "show" tapi malah "tell". Tell bukan dengan cara yang asyik lewat dialog ringkas tapi malah ngomong lama seolah ngejelasin kayak presentasi. Ini jadi anti klimaks sama pembangunan karakter Pengkor yang mustinya keep cool hanya dengan tindakan. Eh malah "presentasi".

Komedi adalah bagian penting dari film superhero. Fungsinya sebagai comic relief, biar gak tegang terus. Komedinya efektif banget. Gak maksa. The most ngakak scene adalah... preman pasar jadi manten. Bwahahahahaha ngakak saya. Terbaek deh Pak Jokooo.

Soal kekerasan gimana? Ya ini film keras. Secara storytelling itu perlu dan secara sinematik itu harus. Lho kok gitu?

Come oooon, this is not tahun seket, Pak. Jangan apa-apa kekerasan yang disalahin film. Kita bukan di jaman Anwar Congo, Pak. rating 13 tahun ke atas bagi saya masih okelah. Kalo anak kecil nonton paling-paling ntar malah bakal pingin jadi filmmaker. Kayak saya.

Menjelang akhir, fase penokohan menjadi riuh dengan bentrokan-bentrokan. Orang kadang nyamain pendekatan Pak Joko's Gundala dengan Batman ala Nolan. Menurut saya beda. Batman Nolan ada bentrok psikologis, konflik perasaan dan kepentingan. Gundala enggak. Tapi ya gak papa. Kecilnya aja udah menyedihkan. Karakter Sancaka ala Pak Joko ini saya apresiasi sebagai the best superhero character development in cinema. The best dibanding semua film Marvel DC. Yang gak terima samber geledek!

PERFORMA AKTOR

Nggak usah njlimet. Saya bilang semua tampil pas dengan porsinya. kalopun dialog terasa teatrikal kayak film jadul, menurut saya is okay. Ada kesan retronya.

Bront Palarae sebagai Pengkor meski kurang bikin menggigil, setidaknya ia gak lebay kayak musuh-musuh tipikal film laga yang demen ketawa. Cukup, namun bisa lebih baik lagi.

Tara Basro sebagai Wulan. Ya udah gitu aja. Manis. Tapi saya lebih suka Neng Pevita meski scene dia nylempit jadi kaget-kagetan menjelang akhir.

Ario Bayu sebagai Ghazul, teatrikal. Tapi mbayangin dia mustinya gimana lagi saya gak tahu hihihi. Emang akting dia gitu.

Lukman Sardi sebagai Ridwan Bahri, pas lah.

Kak Abigail. Sorry anoyying... itu Harley Quinn apa Gogo Yubari sih? Ketawanya bagusan Kuntilanak lagi...

Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka bocah, he is the gold.

Abimana sebagai Sancaka, pantes banget tapi.... latihan silatnya yang tekun ya, Mas. Biar pinggangnya lentur dan kakinya lincah hehehe.

Ada dua screen stealer yang sangat saya suka. Yakni penampilan Kang Cecep Arief rahman dan Faris Fadjar yang ternyata putera Kang cecep.

Pemunculan keduanya di film ini sangat memukau. Bahkan munculnya karakter penari sakti seremnya melampaui Ki Wilawuk. Faris sendiri kalau langkahnya benar, saya berharap ia akan jadi aktor laga potensial di kemudian hari.

Ki Wilawuk kurang serem. Masih lebih serem Sujiwo Tejo.

VISUAL

Tak sukar menebak preferensi sinematik Pak Joko. Apalagi sebelumnya beliau sudah pernah bikin film superhero lho... tuh film Kala.

Jadi anda akan nemu gambar ala Kala, Janji Joni, Pengabdi Setan dll. di film ini. Di beberapa bagian mungkin anda juga akan mencium bau-bau The Raid 1 & 2, Batman Begins dan bahkan Jaka Sembung. Adegan Ghazul mengambil jasad Ki Wilawuk itu mengingatkan saya pada adegan dukun antek Kumpeni mbangkitin jasad Ki Item yang punya ajian Rawe Rontek.

Sinematografer Ical Tanjung bermain gelap terang dengan sangat berani. Saat kecil sancaka, digambarkan dengan kelamnya sinar yang merasuk ruang. Ikut bikin perasaan kita sempit terhimpit.

Adegan Sancaka lari dikejar pengeroyok diambil dengan sangat cakep dan mengesankan. Mungkin saya akan mengingatnya sebagai yang terbaiksetelah Forrest Gump.

Gimana dengan efek? Soal satu ini netizen cerewetnya bukan main. Dipikirnya CGI itu cuma buat bikin gedung hancur, ledakan ama monster. Padahal memoles tampilan bangunan, arah cahaya dan obyek sehari-hari juga bisa dilakukan pakai CGI. Yang ini hasilnya bahkan tak dikenali secara visual.

CGI Gundala sudah pas. Ada satu yang kurang tapi (tu yang anggota DPR baru dan anak istri di gedung) ya sudahlah semoga di film berikutnya lebih mulus. Petirnya bisa lebih bagus tapi yang ini juga tak buruk. Mobil melayang itu oke juga. CGI bukan ya?

Visual Gundala adalah kombinasi kesuraman Horror ala Pak Joko, noirnya Batman dan kekumuhan ala The Raid.

MUSIK

Sebenarnya sih cukup, tapi mustinya bisa lebih kuat lagi. Terasa beberapa bar kayak Hans Zimmer's Batman juga Alan Silvestri's Avengers Theme. Saya aja selalu kebelet nyambungin nada gesekan stringnya dengan Theme-nya Avengers.

Leitmotif untuk karakter sang penari (Kang Cecep) bahkan malah paling bagus dibanding lainnya. Ada bau tradisional woodwindnya. Setiap ia muncul, musik ini terdengar mencekam. Kayak udah pasti mati aja yang ketemu dia.

Yak ampun, saya kok berani-beraninya ngritik guru sendiri. Mas Aghi, salah satu komposer film ini saya anggap guru saya. Saya pernah ikut kelas beliau yang singkat.

KOSTUM

Kalo liat kostum yang di poster, tentu kita tahu deh. Itu versi dummy-nya. Menurut saya itu lumayan. Keliatan indie dan handmade. Saya gak bisa bayangin Gundala ujug-ujug pake spandex item mengkilat dengan dua sayap di telinga. Keliatan oke mah kalo di komik, kalo bener-bener dilakukan... nggilani, Mas.

Ternyata tebakan kita bener. Kostum yang finalnya (versi budget dari rakyat) gak sesimple itu. Saya belum bisa katakan itu keren apa nggak. Soalnya adegannya remang. Tapi terlihat kostum itu industrial. Sayap di kupingnya terlihat okay. Full body armornya cukup nice. Tampilan mask? Canggih kayak bikinan Stark Industries. Mungkin saya perlu nonton film berikutnya.

Canggih kok kostumnya. Kayaknya bukan pesen ke anak magang lah. Dalam remang ia terlihat menjanjikan. Kita tunggu penampilannya dalam terang.

TATA LAGA

Hmmm... di bagian ini saya paling cerewet. Bukan berarti saya bisa bikin yang lebih bagus ya hihihi.

Anda melihat kedahsyatan silat, tapi sayangnya tetep belum selevel The Raid. Mungkin bisa saya bilang ini versi ketoprak dari The Raid.

Ada 3 komponen yang bikin adegan laga bagus: Koreografi, sinematografi dan editing.

Koreografinya bagus meski gerakannya mudah ditebak. Masalahnya ada pada fight rhytm-nya. Ritme yang tidak padat bikin ada celah di gerakan. Kita sebut ini "Telegraphic moves". Artinya pelaga terlihat mengantisipasi serangan secara atifisial. Kayak udah dikasih tahu sebelumnya, kayak diapalin dulu gerakannya. Itulah telegraphic moves. Hey aku mau serang kepala tuh, menghindar ya... eh menghindarnya kecepetaaaan. Belum diserang nih.

Adegan tarung keroyok juga tak tereksekusi secara layak. Masalah klasik semacam nyerangnya giliran masih saja muncul. Mas Abimana sih kurang latian. Latihan yang lebih keras yo mas. Sampeyan bisa deh.

Akibat kendornya Mas Abimana, tarung yang mustinya epic lawan anak-anak Pengkor jadi "pengkor" pula. Kedodoran dalam ritme, postur dan gerak. Penyakit lama nih. Musuh sesakti apapun kalo keroyokan, pasti gampang kalahnya. Disentil aja mencelat. Kalo satu doang, gak sakti amat susah banget dikalahin. Nampaknya pola gini masih saja terjadi. Eman-eman. Stunt performer yang talented macam Andrew Sulaeman pun kurang terekspos bakatnya. I would say Gundala's fight masih kurang trengginas.


======================

Sebagai sebuah upaya untuk menjual warisan kreatif bangsa, Gundala adalah langkah pertaruhan. Kalo gagal ya bakal ambyar cita-cita sinema laga linuwih (istilah saya untuk genre superhero).

Gundala itu bagus, meski harusnya bisa lebih bagus lagi. Pengalaman serupa kayak saya pas nonton film Pak Joko yang lain. Beliau di mata saya tetaplah yang terbaik, sutradara dengan visi yang lantang dan berprinsip. Tapi pujian saya soal film satu ini maaf... bukan kepada Pak Joko Anwar.

Melainkan kepada para produser yang berani nunjuk pak Joko.

Gak semua orang berduit rela membayar (in a huge amount) sutradara agar bebas dengan visi kreatifnya. Puji syukur para produser memilih Joko Anwar. Kenapa kok musti Pak Joko?

Di mata saya, Pak Joko masih satu-satunya sutradara berpengalaman yang punya visi dan taste untuk film genre. Beliau juga paham how to tell a story (meski belum mencapai puncaknya). Kedodoran di action design sih nanti bisa diserahkan ke action director yang jago.

Dan kita mustinya tak menilai karya film hanya semata ini karya anak bangsa, demi kebangkitan industri sinema bla-bala. Bagi saya itu bullshit. Film kalo bagus gak usah merengek. Dia akan berbicara dengan sendirinya. gak usah diaku masuk nominasi Oscar juga ora pateken. Apik ki yo apik.

Tapiiii... apik bergantung pada taste personal.

Kalo kamu ini fanatik Marvel DC dan menganggap itu patokan film superhero, maka ya ini bukan film buatmu.

Kamu yang sukanya drama mendayu remaja atau kisah megah sejarah ala Bumi Manusia, maka ini juga bukan film buat kamu.

Kalo kamu ini menjunjung moralitas dengan menyensor sana-sini adegan kekerasan tapi memperdengarkan ceramah kebencian secara wajar, ya ini gak pas buatmu juga.

Ini adalah film bagi yang mau merayakan kebangkitan karakter jagoan komik dalam sinema. Bukan buat orang cerewet yang nontonnya musti berat-berat macam Tarkovsky atau Lars Von Trier.

Ini adalah film buat merayakan masa kejayaan komik nasional 50 taun silam.

Tapi ya semoga BumiLangit berhati-hati. Memilih sutradara yang cukup teruji dan visioner, melanjutkan apa yang dibebankan pada Pak Joko bukan pula hal yang mudah.

Anyway...

NILAIIIIII

Ekspektasi VS realita?
AMAN!

Bagus nggak?
BISA LEBIH LAGI.

Recommend gak?
RECOMMENDED.

Film ini pas buat siapa?
SEMUA PENYUKA SUPERHERO terutama penyuka komiknya tapi bukan yang fanatik, penyuka film superhero alternatif, penyuka aktor-aktor yang main di filmnya dan yang mau dukung kebangkitan genre superhero nasional.

SELAMAT, Gundala. 8 of 10 nilai dari saya pembaca komik Gundala sekaligus penyuka genre laga.

From Wlingiwood with love.
Baca

KULDESAK (1998), LAHIRNYA ERA BARU FILMMAKER INDONESIA

Dulu sebelum era reformasi dimulai, 1999 ke belakang, untuk jadi sutradara musti ikut aturan yang ribet. Aturan yang hierarkis dan mendewakan senioritas. Dikatakan kalo mo jadi sutradara tuh musti ikut aturan dulu. Dimulai jadi kru, astrada, nulis naskah dll (dengan jumlah frekuensi yang ditentukan) barulah seseorang "direstui" jadi sutradara. Dengan aturan ini, kamu-kamu yang "dudu sopo-sopo just like me" nggak bakal bisa gampang deh jadi sutradara. Belum lagi jaman yang mbahmu dibilang luwih penak itu, film berada dalam pengaturan departemen penerangan. Jadi kamu nggak bisa bikin film seenak udelmu.


KULDESAK, yang kalo dalam bahasa Prancisnya cul-de-sac berarti jalan buntu, sejatinya adalah film multi plot. Ada lebih dari satu kisah di film itu. Tiap plot disutradarai oleh orang berbeda, 4 filmmaker muda pada masanya (kalo sekarang ya udah Om-om) yakni Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Namun keempat plot itu tidak dipisah dalam segmen yang tegas melainkan "dijahit" dalam satu film utuh. Nyambung ato enggak terserah interpretasi kita yang nonton.

Plot pertama mengisahkan Dina (Oppie Andaresta) seorang penjaga loket bioskop. Dina terobsesi pada seniman host TV Max Mollo (Dik Doank) dan hidup ngekost bertetangga sama Budi (Hary Suharyadi) dan Yanto, sepasang gay.

Plot kedua mengisahkan Andre (Ryan Hidayat), seorang musisi yang slacker. Ortunya sugih, dia gak bakal kekurangan. Tapi dia ada krisis eksistensial yang parah. Idolanya adalah Kurt Cobain. Sahabatnya terdekat, selain kesepian, adalah Hariolus (Iwa K.). Hariolus adalah gelandangan yang hidup di emperan toko dan piara burung hantu. Ia selain nge-rap punya bakat ngeramal. Takdir Andre selain dipengaruhi oleh Kurt Cobain, juga dipengaruhi oleh ramalan si Harioulus ini.

Plot ketiga bercerita tentang Aksan (Wong Aksan), anak pengusaha rental Laser Disc yang berteman dengan karyawan rental bernama Din (Tio Pakusadewo). Aksan sangat pingin bikin film namun tak pernah dapat restu dari ortu. Ya kalo lu suka otak-atik gathuk, you will know that "ortu" stands for ORA RESTU. Aksan ini sangat melek film. Dia ngerti mulai dari Robert Rodriguez hingga Tarantino. Suatu ketika ia punya ide gila buat mendanai produksi film, sebelum akhirnya dikacaukan oleh genk "eksistensialis hedon" yang beranggotakan Sophia Latjuba, Bucek Deep dan Maya Lubis.

Plot keempat bercerita tentang Lina (Bianca Adinegoro), karyawati biro iklan yang kemudian menemukan sisi gelap dari bosnya (Toro Margens). Ketika ia terperosok dalam perangkap yang dipasang si bos, ia melakukan aksi vigilante menggunakan pistol seakan film Hongkong noir.

Keempat kisah ini tidak saling berhubungan kecuali sebagian besar peristiwanya mengambil waktu malam. Para sutradara ini konon membuat filmnya secara gerilya, karena cara produksi mereka memang menentang aturan yang udah established. tahun itu, 1998, perfilman nasional memang sudah di ambang kehancuran karena minimnya produksi dan industri tontonan televisi sedang berkembang. Jadi selain bisa disebut sebagai pelopor indie filmmaking Indonesia, bisa juga disebut sebagai generasi peralihan dari era sebelumnya.

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/
KULDESAK membawa penyegaran secara tematis. Mereka tak lagi mengangkat tema-tema klasik percintaan, jodoh tanpa restu, cita-cita yang terhalang dll. Film ini lebih berbau eksistensial karena mewakili "aura" pada jamannya. Era bangkitnya industri pop yang diwakili oleh musik dari MTV, musik grunge dari Nirvana, passion dan idealisme dll. Film ini juga memperlihatkan bahwa generasi filmmaker baru saat itu sudah melek dengan sinema non mainstream dunia seperti Pulp Fiction, El Mariachi, Natural Born Killers dll.

Bahkan jejak "Tarantinoesque" kentara banget di plot kisah Aksan. Lakon yang dikendalikan oleh dialog yang nyerocos sambil menyebut beberapa referensi film, ini sangat Tarantinoesque. Syukurlah dialog-dialognya ngalir dan enak didengerin. Sinematografi dan editing pun sudah meninggalkan gaya-gaya umum sineas "tua". Adegan malamnya mengingatkan pada film Taxi Driver. Penggunaan palet warnanya bahkan sudah mendahului In The Mood For Love, ini kalo saya boleh lebay sih. Penyembah Wong Kar Wai jangan ngamuk!

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/

Secara keseluruhan, mungkin tema yang dibawa film ini berkisar soal "pertaruhan" antara eksistensi dan sepi.

Karakter Andre dan Dina mewakili sepi.

Andre adalah anak wong sugih yang kesepian dan mengidolakan pop artist. Musik dari Ahmad Dani bahkan kentara sekali mengadopsi gaya dari artis yang diidolakan karakter Andre. Yakni lagu "Datanglah Sebagai Dirimu", merupakan semacam "penafsiran" ulang dari "Comes As You Are" karya Kurt Cobain.

Dina adalah gadis kesepian yang juga mengidolakan pop artist, berteman dengan manusia marjinal yang beda orientasi sexual.

Simak kata-kata Dina ketika ditanyain Budi (maaf kalo gak sama persis, berdasar ingatan aja):

"Kamu kalo kesepian ngapain?"

"Ya sepi. Sepi gitu aja..."

Sementara itu Aksan dan Lina mewakili eksistensi.

Aksan adalah anak wong sugih yang ingin eksis namun tak menemukan dukungan dari keluarga. Aksan bilang kalo gak bikin film dia ntar bisa mati dah. Ada semangat pembaruan juga ketika Din, temannya bilang bahwa dia jangan niru-niru Teguh Karya, Eros Djarot, Garin Nugroho dll.

Lina adalah gadis pemberontak di perusahaan yang membalas dendam pada bos yang ternyata lebih buruk dari perusahaan miliknya. Di sebuah rapat Lina mengkonfrontasi atasannya secara langsung. Seakan Lina tu mau bilang "Gue di sini bukan cuma jongos tauk."

KULDESAK sekilas mungkin terasa style over substance, apalagi dengan berani (dan cerdas) menggunakan idiom visual yang kurang dipakai oleh filmmaker sebelumnya. Musik-musik populer menghiasi sekujur film. Mirip pendekatan Tarantino di Pulp Fiction. KULDESAK tidak hendak bicara ide-ide besar soal negara dan bukan pula mau mengkritisi politik dengan cara tersamar sekalipun. Meski itu adalah tahun yang kalo pake istilah Bung Karno adalah "vivere pericoloso", tahun yang nyrempet bahaya. Film ini berusaha "hadir" begitu saja. Ini adalah film yang mungkin oleh generasi akhir 90an dikatakan sebagai film yang "gue banget". Era baru film Indonesia telah (dicoba) lahir. Maka saya pikir akan menjadi "wajib" kita mengenang film yang udah berusia 20 tahunan ini. Apalagi bagi filmmaker indie yang menjadikan gerilya sebagai jurus andalan.
Dulu sebelum era reformasi dimulai, 1999 ke belakang, untuk jadi sutradara musti ikut aturan yang ribet. Aturan yang hierarkis dan mendewakan senioritas. Dikatakan kalo mo jadi sutradara tuh musti ikut aturan dulu. Dimulai jadi kru, astrada, nulis naskah dll (dengan jumlah frekuensi yang ditentukan) barulah seseorang "direstui" jadi sutradara. Dengan aturan ini, kamu-kamu yang "dudu sopo-sopo just like me" nggak bakal bisa gampang deh jadi sutradara. Belum lagi jaman yang mbahmu dibilang luwih penak itu, film berada dalam pengaturan departemen penerangan. Jadi kamu nggak bisa bikin film seenak udelmu.


KULDESAK, yang kalo dalam bahasa Prancisnya cul-de-sac berarti jalan buntu, sejatinya adalah film multi plot. Ada lebih dari satu kisah di film itu. Tiap plot disutradarai oleh orang berbeda, 4 filmmaker muda pada masanya (kalo sekarang ya udah Om-om) yakni Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Namun keempat plot itu tidak dipisah dalam segmen yang tegas melainkan "dijahit" dalam satu film utuh. Nyambung ato enggak terserah interpretasi kita yang nonton.

Plot pertama mengisahkan Dina (Oppie Andaresta) seorang penjaga loket bioskop. Dina terobsesi pada seniman host TV Max Mollo (Dik Doank) dan hidup ngekost bertetangga sama Budi (Hary Suharyadi) dan Yanto, sepasang gay.

Plot kedua mengisahkan Andre (Ryan Hidayat), seorang musisi yang slacker. Ortunya sugih, dia gak bakal kekurangan. Tapi dia ada krisis eksistensial yang parah. Idolanya adalah Kurt Cobain. Sahabatnya terdekat, selain kesepian, adalah Hariolus (Iwa K.). Hariolus adalah gelandangan yang hidup di emperan toko dan piara burung hantu. Ia selain nge-rap punya bakat ngeramal. Takdir Andre selain dipengaruhi oleh Kurt Cobain, juga dipengaruhi oleh ramalan si Harioulus ini.

Plot ketiga bercerita tentang Aksan (Wong Aksan), anak pengusaha rental Laser Disc yang berteman dengan karyawan rental bernama Din (Tio Pakusadewo). Aksan sangat pingin bikin film namun tak pernah dapat restu dari ortu. Ya kalo lu suka otak-atik gathuk, you will know that "ortu" stands for ORA RESTU. Aksan ini sangat melek film. Dia ngerti mulai dari Robert Rodriguez hingga Tarantino. Suatu ketika ia punya ide gila buat mendanai produksi film, sebelum akhirnya dikacaukan oleh genk "eksistensialis hedon" yang beranggotakan Sophia Latjuba, Bucek Deep dan Maya Lubis.

Plot keempat bercerita tentang Lina (Bianca Adinegoro), karyawati biro iklan yang kemudian menemukan sisi gelap dari bosnya (Toro Margens). Ketika ia terperosok dalam perangkap yang dipasang si bos, ia melakukan aksi vigilante menggunakan pistol seakan film Hongkong noir.

Keempat kisah ini tidak saling berhubungan kecuali sebagian besar peristiwanya mengambil waktu malam. Para sutradara ini konon membuat filmnya secara gerilya, karena cara produksi mereka memang menentang aturan yang udah established. tahun itu, 1998, perfilman nasional memang sudah di ambang kehancuran karena minimnya produksi dan industri tontonan televisi sedang berkembang. Jadi selain bisa disebut sebagai pelopor indie filmmaking Indonesia, bisa juga disebut sebagai generasi peralihan dari era sebelumnya.

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/
KULDESAK membawa penyegaran secara tematis. Mereka tak lagi mengangkat tema-tema klasik percintaan, jodoh tanpa restu, cita-cita yang terhalang dll. Film ini lebih berbau eksistensial karena mewakili "aura" pada jamannya. Era bangkitnya industri pop yang diwakili oleh musik dari MTV, musik grunge dari Nirvana, passion dan idealisme dll. Film ini juga memperlihatkan bahwa generasi filmmaker baru saat itu sudah melek dengan sinema non mainstream dunia seperti Pulp Fiction, El Mariachi, Natural Born Killers dll.

Bahkan jejak "Tarantinoesque" kentara banget di plot kisah Aksan. Lakon yang dikendalikan oleh dialog yang nyerocos sambil menyebut beberapa referensi film, ini sangat Tarantinoesque. Syukurlah dialog-dialognya ngalir dan enak didengerin. Sinematografi dan editing pun sudah meninggalkan gaya-gaya umum sineas "tua". Adegan malamnya mengingatkan pada film Taxi Driver. Penggunaan palet warnanya bahkan sudah mendahului In The Mood For Love, ini kalo saya boleh lebay sih. Penyembah Wong Kar Wai jangan ngamuk!

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/

Secara keseluruhan, mungkin tema yang dibawa film ini berkisar soal "pertaruhan" antara eksistensi dan sepi.

Karakter Andre dan Dina mewakili sepi.

Andre adalah anak wong sugih yang kesepian dan mengidolakan pop artist. Musik dari Ahmad Dani bahkan kentara sekali mengadopsi gaya dari artis yang diidolakan karakter Andre. Yakni lagu "Datanglah Sebagai Dirimu", merupakan semacam "penafsiran" ulang dari "Comes As You Are" karya Kurt Cobain.

Dina adalah gadis kesepian yang juga mengidolakan pop artist, berteman dengan manusia marjinal yang beda orientasi sexual.

Simak kata-kata Dina ketika ditanyain Budi (maaf kalo gak sama persis, berdasar ingatan aja):

"Kamu kalo kesepian ngapain?"

"Ya sepi. Sepi gitu aja..."

Sementara itu Aksan dan Lina mewakili eksistensi.

Aksan adalah anak wong sugih yang ingin eksis namun tak menemukan dukungan dari keluarga. Aksan bilang kalo gak bikin film dia ntar bisa mati dah. Ada semangat pembaruan juga ketika Din, temannya bilang bahwa dia jangan niru-niru Teguh Karya, Eros Djarot, Garin Nugroho dll.

Lina adalah gadis pemberontak di perusahaan yang membalas dendam pada bos yang ternyata lebih buruk dari perusahaan miliknya. Di sebuah rapat Lina mengkonfrontasi atasannya secara langsung. Seakan Lina tu mau bilang "Gue di sini bukan cuma jongos tauk."

KULDESAK sekilas mungkin terasa style over substance, apalagi dengan berani (dan cerdas) menggunakan idiom visual yang kurang dipakai oleh filmmaker sebelumnya. Musik-musik populer menghiasi sekujur film. Mirip pendekatan Tarantino di Pulp Fiction. KULDESAK tidak hendak bicara ide-ide besar soal negara dan bukan pula mau mengkritisi politik dengan cara tersamar sekalipun. Meski itu adalah tahun yang kalo pake istilah Bung Karno adalah "vivere pericoloso", tahun yang nyrempet bahaya. Film ini berusaha "hadir" begitu saja. Ini adalah film yang mungkin oleh generasi akhir 90an dikatakan sebagai film yang "gue banget". Era baru film Indonesia telah (dicoba) lahir. Maka saya pikir akan menjadi "wajib" kita mengenang film yang udah berusia 20 tahunan ini. Apalagi bagi filmmaker indie yang menjadikan gerilya sebagai jurus andalan.
Baca

GREEN BOOK (Peter Farrelly, 2018)

Tony (Viggo Mortensen) adalah tukang pukul klub malam yang kerjanya serabutan, temperamental namun merupakan seorang suami yang lembut pada istrinya. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang musisi klasik berpendidikan, "priyayi" kaya raya namun kesepian dengan kemegahan rumahnya. Suatu ketika, keduanya dipertemukan karena urusan kerjaan. Don hendak merekrut Tony sebagi sopir sekaligus bodyguardnya selama beberapa bulan.


Don membutuhkan seorang pengawal yang tangguh macam Tony untuk perjalanan tur konser di beberapa daerah di Amerika. Saat itu tahun 60an, Amerika masih rasis-rasisnya. Kondisi sosial tidak cukup baik bagi orang kulit hitam seperti Don. Meskipun Don lebih kaya dari kebanyakan kulit putih di sekitarnya. Ironisnya, Tony yang kulit putih termasuk warga miskin. Belum lagi ia keturunan Italia, kaum imigran, yang mana juga cukup direndahkan oleh warga Amerika kaukasian lainnya.

Sifat Tony yang "waton njeplak" berkebalikan dengan Don yang sangat santun dan penuh etiket. Selama perjalanan Don berkali-kali mewanti agar Tony tidak kebangetan berulah. Relasi profesional mereka berdua cukup terasa aneh. Seorang kulit hitam kaya membayar orang kulit putih miskin memang terasa ironi pada masa itu. Namun kelak interaksi Tony dan Don yang canggung ini berubah makin cair. Adegan makan KFC adalah salah satu yang cukup "heartwarming".


Judulnya sendiri, Green Book mengacu pada sebuah buku panduan perjalanan berjudul "The Negro Motorist Green Book". Nama lain buku ini adalah The Negro Motorist Green-Book, The Negro Travelers' Green Book, atau cukup disebut the Green Book saja. Buku yang terbit tahunan ini adalah panduan khusus buat pelancong kulit hitam Amerika. Aslinya diterbitkan oleh seorang Afro-American bernama Victor Hugo Green asal New York. Buku ini beredar antara tahun 1936 hingga 1966, selama era "Jim Crow laws", dimana diskriminasi untuk warga kulit hitam dilakukan terang-terangan dan bahkan beberapa legal. Buku ini menjadi penting karena beberapa warga kulit hitam telah mencapai status kelas menengah, cukup punya uang untuk bepergian antar negara bagian. Di film ini, Don memberikan Green Book pada Tony sebagai panduan mencari tempat penginapan yang ditujukan untuk orang kulit hitam.

Ini bukan tipe film yang membutuhkan twist dan klimaks. Ini adalah sebuah road movie yang mana sajian lezatnya terletak pada interaksi antar karakternya. Don adalah seorang yang cerdas dan berpendidikan. Apalagi soal musik. Tapi sepanjang jalan ia justru ":dikuliahi" oleh Tony yang akrab dengan musik-musik pop kulit hitam, yang jarang disentuh oleh Don yang lebih banyak main klasik.

Green Book adalah film yang mengungkapkan ironi kaum kulit hitam Amerika tahun 60an. Misalnya Don Shirley. Ia memang diperlakukan hormat sebagai artis, disambut dengan senyum. Akan tetapi sebagai pribadi ia tetaplah didiskriminasi. Konon, kenapa orang kulit putih tetap memerlukannya? Karena sajian musiknya akan membuat mereka (kaum kulit putih itu) merasa berbudaya. Ini sebuah pola pikir snobisme. Begitu panggung usai, Don akan menjadi warga sebagaimana kulit hitam pada umumnya. Ia tak boleh pakai toilet umum (yang hanya untuk orang kulit putih). Ia juga tak boleh makan di restoran (lagi-lagi hanya untuk kulit putih). "sudah tradisi" kata manajernya. Kemudian Tony akan menjadi sosok kulit putih penyelamatnya, "white savior".

Green Book adalah film yang menyenangkan. Hanya saja sayangnya, musik-musik yang dimainkan Don di konser kok kurang nyantol di telinga saya ya. Saya asing dengan komposisi karya Don Shirley (yang mana memang berdasarkan tokoh yang nyata). Apakah di tur konser dia memainkan karyanya sendiri ataukah karya komposer klasik? Saya belum mencari tahu. Selain yang diputar di mobil, musik yang menggembirakan adalah yang dimainkan Don di sebuah bar kulit hitam. Itu adegan favorit saya selain yang makan KFC.

Saya bilang ini film yang heartwarming (but not memorable enough). Tapi tetap saja layak ditonton karena performa duo Mahershala Ali dan Viggo Mortensen sungguh enak diikuti. Ali yang kharismatik dan Viggo transformatif. Ini bukan Viggo sebagaimana yang nampak di Lord of The Ring, Eastern Promises dan A History of Violence.

Di Green Book Viggo sungguh pas sebagai Tony. Tony "Lip" Vallelonga, seorang warga imigran, gemar makan banyak, mulut asal ngomong, suka berantem namun baik hati dan bersahabat. Interaksinya dengan karakter Don Shirley yang berkebalikan membuat kita menginvestasikan ekspektasi-ekspektasi. Apa yang akan terjadi jika Tony begini dan begitu? Perasaan kita akan mengalir bersama perjalanan mereka berdua.

Oh ya, Linda Cardellini sebagai Dolores Vallelonga merupakan screen stealer yang manis menurut saya. Sosok perempuan idaman yang klasik.

A trivia. Sebagaimana Don Shirley, jelas karakter Tony juga berdasarkan tokoh nyata. Lha wong memang berdasar kisah nyata. But do you know this fact? Tony Vallelonga yang asli ternyata juga seorang aktor. Ia pernah dapat peran kecil di film-film legendaris: The Godfather, Raging Bull, Goodfellas dll.

Nilai saya untuk film ini adalah 85 dari 100.
Tony (Viggo Mortensen) adalah tukang pukul klub malam yang kerjanya serabutan, temperamental namun merupakan seorang suami yang lembut pada istrinya. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang musisi klasik berpendidikan, "priyayi" kaya raya namun kesepian dengan kemegahan rumahnya. Suatu ketika, keduanya dipertemukan karena urusan kerjaan. Don hendak merekrut Tony sebagi sopir sekaligus bodyguardnya selama beberapa bulan.


Don membutuhkan seorang pengawal yang tangguh macam Tony untuk perjalanan tur konser di beberapa daerah di Amerika. Saat itu tahun 60an, Amerika masih rasis-rasisnya. Kondisi sosial tidak cukup baik bagi orang kulit hitam seperti Don. Meskipun Don lebih kaya dari kebanyakan kulit putih di sekitarnya. Ironisnya, Tony yang kulit putih termasuk warga miskin. Belum lagi ia keturunan Italia, kaum imigran, yang mana juga cukup direndahkan oleh warga Amerika kaukasian lainnya.

Sifat Tony yang "waton njeplak" berkebalikan dengan Don yang sangat santun dan penuh etiket. Selama perjalanan Don berkali-kali mewanti agar Tony tidak kebangetan berulah. Relasi profesional mereka berdua cukup terasa aneh. Seorang kulit hitam kaya membayar orang kulit putih miskin memang terasa ironi pada masa itu. Namun kelak interaksi Tony dan Don yang canggung ini berubah makin cair. Adegan makan KFC adalah salah satu yang cukup "heartwarming".


Judulnya sendiri, Green Book mengacu pada sebuah buku panduan perjalanan berjudul "The Negro Motorist Green Book". Nama lain buku ini adalah The Negro Motorist Green-Book, The Negro Travelers' Green Book, atau cukup disebut the Green Book saja. Buku yang terbit tahunan ini adalah panduan khusus buat pelancong kulit hitam Amerika. Aslinya diterbitkan oleh seorang Afro-American bernama Victor Hugo Green asal New York. Buku ini beredar antara tahun 1936 hingga 1966, selama era "Jim Crow laws", dimana diskriminasi untuk warga kulit hitam dilakukan terang-terangan dan bahkan beberapa legal. Buku ini menjadi penting karena beberapa warga kulit hitam telah mencapai status kelas menengah, cukup punya uang untuk bepergian antar negara bagian. Di film ini, Don memberikan Green Book pada Tony sebagai panduan mencari tempat penginapan yang ditujukan untuk orang kulit hitam.

Ini bukan tipe film yang membutuhkan twist dan klimaks. Ini adalah sebuah road movie yang mana sajian lezatnya terletak pada interaksi antar karakternya. Don adalah seorang yang cerdas dan berpendidikan. Apalagi soal musik. Tapi sepanjang jalan ia justru ":dikuliahi" oleh Tony yang akrab dengan musik-musik pop kulit hitam, yang jarang disentuh oleh Don yang lebih banyak main klasik.

Green Book adalah film yang mengungkapkan ironi kaum kulit hitam Amerika tahun 60an. Misalnya Don Shirley. Ia memang diperlakukan hormat sebagai artis, disambut dengan senyum. Akan tetapi sebagai pribadi ia tetaplah didiskriminasi. Konon, kenapa orang kulit putih tetap memerlukannya? Karena sajian musiknya akan membuat mereka (kaum kulit putih itu) merasa berbudaya. Ini sebuah pola pikir snobisme. Begitu panggung usai, Don akan menjadi warga sebagaimana kulit hitam pada umumnya. Ia tak boleh pakai toilet umum (yang hanya untuk orang kulit putih). Ia juga tak boleh makan di restoran (lagi-lagi hanya untuk kulit putih). "sudah tradisi" kata manajernya. Kemudian Tony akan menjadi sosok kulit putih penyelamatnya, "white savior".

Green Book adalah film yang menyenangkan. Hanya saja sayangnya, musik-musik yang dimainkan Don di konser kok kurang nyantol di telinga saya ya. Saya asing dengan komposisi karya Don Shirley (yang mana memang berdasarkan tokoh yang nyata). Apakah di tur konser dia memainkan karyanya sendiri ataukah karya komposer klasik? Saya belum mencari tahu. Selain yang diputar di mobil, musik yang menggembirakan adalah yang dimainkan Don di sebuah bar kulit hitam. Itu adegan favorit saya selain yang makan KFC.

Saya bilang ini film yang heartwarming (but not memorable enough). Tapi tetap saja layak ditonton karena performa duo Mahershala Ali dan Viggo Mortensen sungguh enak diikuti. Ali yang kharismatik dan Viggo transformatif. Ini bukan Viggo sebagaimana yang nampak di Lord of The Ring, Eastern Promises dan A History of Violence.

Di Green Book Viggo sungguh pas sebagai Tony. Tony "Lip" Vallelonga, seorang warga imigran, gemar makan banyak, mulut asal ngomong, suka berantem namun baik hati dan bersahabat. Interaksinya dengan karakter Don Shirley yang berkebalikan membuat kita menginvestasikan ekspektasi-ekspektasi. Apa yang akan terjadi jika Tony begini dan begitu? Perasaan kita akan mengalir bersama perjalanan mereka berdua.

Oh ya, Linda Cardellini sebagai Dolores Vallelonga merupakan screen stealer yang manis menurut saya. Sosok perempuan idaman yang klasik.

A trivia. Sebagaimana Don Shirley, jelas karakter Tony juga berdasarkan tokoh nyata. Lha wong memang berdasar kisah nyata. But do you know this fact? Tony Vallelonga yang asli ternyata juga seorang aktor. Ia pernah dapat peran kecil di film-film legendaris: The Godfather, Raging Bull, Goodfellas dll.

Nilai saya untuk film ini adalah 85 dari 100.
Baca

APA JANG KAU TJARI, PALUPI (Asrul Sani, 1969)

Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Tak banyak film Indonesia yang mengangkat latar di balik perfilman. Film tentang dunia film. Maka film ini menjadi sesuatu yang langka dari masa silam. Karena alasan itulah saya mau menontonnya.



Palupi (Farida Sjuman), adalah istri Haidar (Ismed M Noor) seorang sutradara teater. Usia Lu, demikian ia dipanggil, sudah melewati 30 dan ia mulai bosan. Maka Lu mendekati Chalil (Pitradjaja Burnama), sahabat Haidar yang sutradara film. Lu ingin main film untuk mengusir kebosanan. Chalil adalah seorang yang idealis tapi hidupnya lebih berwarna. Berbeda dengan Haidar yang suram. Sejak main film, hidup Lu dikelilingi kegemerlapan. Ia berkenalan dengan Sugito (Aedy Moward), pengusaha kaya yang royal dalam menjamu rekan-rekannya.

Perkembangan Lu menggusarkan Chalil. Lama-lama ia tak suka melihat Lu yang ambisius. Apa yang kau cari, Palupi? Itu yang Chalil tanyakan. Di matanya, Lu hanya mencari kemewahan yang tak ia dapatkan dari Haidar. Bahkan Lu juga berencana minta cerai dari Haidar. Melihat Lu yang mudah saja mendatangi undangan berfoya-foya dari Sugito, Chalil mulai marah.

Tapi Sugito memberikan perspektif yang lebih logis pada Chalil. Ini menarik untuk kita simak. Di sebuah pesta taman, Sugito menerangkan pada Chalil. Ada 3 macam orang yang hadir di pestanya:

-Golongan kawan sesama pengusaha. Mereka ini tersenyum manis (istilahnya "senyum profesional") padanya padahal menunggu waktu untuk membantainya.

-Golongan politisi. Mereka ini laksana kembang semusim. Musti dimanis-manisi selama mereka masih punya kuasa.

-Golongan benalu. Mereka ini yang suka menawarkan jasa baik, tapi akan menghilang kalau kantong kita sudah kempes.

Sugito memberikan pandangan baru pada Chalil bahwa semua pesta yang ia lakukan sebenarnya bukan dalam rangka foya-foya, melainkan untuk membangun relasi. Sugito juga menerangkan, kurang lebih begitulah jika perempuan tertarik padanya. Mereka datang bukan karena cinta melainkan karena rekening banknya. Makanya Lu (dan juga gadis lainnya) dianggap properti saja bagi Sugito. Sugito adalah bussinees man. Ia bertindak lebih pakai perhitungan, bukan emosi kayak Chalil.

Lu sebenarnya menyukai Chalil. Tapi Chalil tidak mudah jatuh cinta. Ia hanya bersimpati pada Lu. Perhatian Chalil sendiri malah terarah pada Putri (Widyawati), gadis tuna wicara anak pemilik warung tepi pantai. Tapi itu pun cuma semacam cinta platonik, karena Putri terlalu belia.

Kadang Lu teringat Haidar. Mantan suaminya itu adalah orang yang berhati lembut. Ia memperhatikan keindahan pada hal-hal kecil. Tapi konon memang pria macam gini membosankan. Karena itulah Lu meninggalkannya.

Apakah dengan memutuskan hubungan bersama Haidar, Lu menemukan kebahagiaan sejati?

========

1969 (tahun film ini diproduksi) adalah masa negara ini mulai lepas dari bayang-bayang orde lama. Era geger sama komunisme baru saja lewat 5 tahun. Industri film sedang menggeliat. Geliat ini akan semakin semarak di kurun tahun 70 - 80, lalu meredup di 90an dan kemudian bangkit di 2000an. Jadi dari latar waktu, ini adalah film yang menyongsong harapan baru perfilman nasional. Dengan logika yang saya pas-paskan belaka (cocoklogi), maka film ini saya review biar waktunya pas dengan perayaan hari film nasional yang ke 69 saat ini. Lha pas kan angka tahunnya juga.

Asrul Sani, sastrawan yang menjadi sutradara ini mengangkat karakter perempuan dan kegelisahannya. Palupi adalah karakter yang mewakili kegelisahan perempuan menjelang usia "non kinyis-kinyis". Kalau usia 17 dibilang sweet seventeen karena di usia ini seorang gadis mulai cantik-cantiknya, maka degradasi secara umum adalah ketika mulai masuk usia 30-40an. Karena tidak semua akan menua dengan anggun. Sama juga buat kami para pria. Tak semua penuaan berlangsung dengan gagah semacam Tom Cruise atau Keanu Reeves. Banyak dari kami ketika masuk usia 30 udah keliatan buluk dan arkhaik. Di usianya yang 32, Palupi mulai gelisah. Haidar si suami adalah seniman idealis yang membosankan. Jadi bagi Palupi, cinta saja mulai nggak cukup.

Maka Palupi lari menuju ke dunian yang ia rasa lebih benderang. Kebetulan kawan suaminya si Chalil adalah orang film. Tapi ternyata Chalil tidak bisa menerima Palupi. Palupi pun juga tidak yakin sama hatinya. Toh meski Palupi mencintai Chalil dan kadang merindukan sang mantan, eh dia malah hohohihe sama Sugito. Happinnes is not a simple thing for Palupi.

Makanya apa yang kau cari, Palupi? Maka ia pun kesukaran menjawabnya. Pada gemerlap (diwakili sosok Sugito)? Pada kesunyian (diwakili sosok Haidar)? Pada keteguhan (diwakili sosok Chalil)?

Palupi bukanlah sosok gila harta. Ia hanya bosan. Usia adalah hal signifikan yang jadi pemicu kegelisahan Palupi. Nampaknya ini pun masalah universal yang kita alami saat usia beranjak. Coba ingat, betapa bahagianya kalo anda-anda om dan tante sekalian dipanggil "mbak" atau "mas" ketika masuk minimarket. Ini tentu hal yang gak bisa dirasakan ketika kita masih anak SMA atau kuliahan. Saya sendiri merasakan ironi. Oleh anak SMA dipanggil "pak", tapi sama anak SD dipanggil "mas" (pinter kamu, Nak!).

Palupi, usia 32 sudah dianggap tua. Setidaknya salah satu gadis muda mengejeknya begitu. "Kau setua bibiku!". Jadi Palupi mengira bahwa ia musti berlomba dengan masa agar bisa hidup optimal. Aku musti bahagia, teriak Palupi. Ia musti menikmati hidup di saat ini. Carpediem! Tapi apakah Palupi berhasil? Itu soal lain lagi.

Lewat gambar-gambar noir dan penyuntingan (oleh Janis Badar) yang mengalir, Asrul Sani pun tidak hendak mengkotbahi kita jawabannya. Ia menunjukkan suasana batin Lu lewat musik menyayat gubahan maestro Trisutji Djuliaty Djuham (Trisutji Kamal).

Ini tipe film yang memakai semiotika "nyastra", jarang digunakan oleh film komersil nasional pada masanya. Nyastranya gimana? Simak bagaimana kehidupan artifisial selebriti disimbolkan lewat shot manekin. Manekin itu cantik tapi palsu. Juga lihat bagaimana kelembutan hati seorang lelaki membosankan disimbolkan lewat kegemarannya mengumpulkan kerang. Itu adalah hal remeh temeh yang hanya dipedulikan orang berhati mendalam. Adegan Lu naik truk sampah adalah puncak seluruh ironinya. Segemerlap apapun diri seseorang, ia akan tercampakkan ketika sudah tak bernilai untuk kepuasan orang lain.

Lu... demikian Palupi dipanggil. Mungkin ya kayak elu-elu semua hehehe. Gelisah mencari kebahagiaan yang sebenarnya bisa dicari di dalam hati masing-masing. Setidaknya demikianlah yang dinasehatkan Chalil. Well... dasar Chalil sok-sokan. Kagak semudah itu Chaleeeel...

Apa Jang Kau Tjari, Palupi adalah film dewasa. Dewasa bukan dalam arti "nganu" melainkan menyoroti problematika manusia dewasa. Tema soal pencarian kebahagiaan versus kesetiaan, idealisme versus pasar dan juga pencarian cinta sejati merupakan inti dari film ini.

Ini film yang masih bisa relevan hingga kapan pun.

=====



Secara teknis, berhubung ini film jadul dari sebuah negara berkembang di jaman orde baru awal, tentu kita tak usah berharap banyak. Dialognya terasa kaku dan kayak bacaan sastra lawas. ya mungkin karena saya mereview dari jaman saat ini.



Terlepas dari kualitas mastering filmnya, saya bisa lihat bahwa visi gambar sang sutradara terungkapkan dengan baik. Pergerakan kameranya sudah menggunakan bahasa yang umum di lakukan sinema klasik. Dan yang saya suka tentu saja, asap rokok di kegelapan. Itu syarat sebuah gambar film noir. Dengan aspect ratio widescreen (anamorphic), mustinya lebih cocok ditonton di layar lebar beneran. Tapi apakah film ini akan masuk ke daftar restorasi? Kita tunggu saja.

Selamat hari film nasional, 30 Maret 1950 - 2019.

Wlingi, 29 Maret 2019.
Baca

ONE CUT OF THE DEAD a.k.a KAMERA O TOMERU NA! (Shinichiro Ueda, 2017)

Apa yang terjadi ketika sekumpulan aktor diarahkan oleh seorang sutradara maniak? One Cut Of The Dead menyajikan premis dasar ini. Di sebuah bangunan bekas pabrik, satu tim filmmaker hendak membuat film zombie. Celakanya mereka bekerja di bawah orang yang salah. Si sutradara, alih-alih menggunakan aktor malah mengundang zombie beneran. Jadilah semua tim jadi santapan zombie yang haus daging tersebut.

Itu adalah cerita pembuka selama 37 menit di awal. Ini adalah saat anda harus sabar karena cerita sesungguhnya dimulai justru setelah itu. One Cut Of The Dead adalah jenis film yang sebaiknya anda tidak usah tahu apa-apa isi filmnya bagaimana. Beneran! Jadi tolong jangan ada spoiler bahkan clue atau hint untuk film ini. Sangat baik sekali kalau pikiran anda kosong dari harapan jika mau nonton film ini.

Makanya saya tak akan membahas garis ceritanya melainkan tentang apa yang bisa anda dapat dari nonton film ini. Saya bilang ini adalah film yang heartwarming. Secara khusus saya memang suka genre "film on film", apalagi dipadu dengan zombie. Tapi judul di film ini aslinya menipu kok hehehe.... dan jelas anda tak usah tahu tipuan apa yang bakal terjadi. nanti nggak seru.

Jika terutama anda adalah filmmaker, ini bisa sangat relate dengan apa yang anda alami dalam karier filmmaking. Baru kali ini deh saya nemu satu jenis film yang gak usah direview.


Beberapa referensi film genre "film on film" yang juga menarik:

-Be Kind Rewind (Michel Gondry, 2008)
-Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore, 1988)
-Super 8 (J.J. Abrams, 2011)
-Zi Yu Zi Le 自娱自乐 a.k.a Master of Everything (Xin Lee, 2004)
Apa yang terjadi ketika sekumpulan aktor diarahkan oleh seorang sutradara maniak? One Cut Of The Dead menyajikan premis dasar ini. Di sebuah bangunan bekas pabrik, satu tim filmmaker hendak membuat film zombie. Celakanya mereka bekerja di bawah orang yang salah. Si sutradara, alih-alih menggunakan aktor malah mengundang zombie beneran. Jadilah semua tim jadi santapan zombie yang haus daging tersebut.

Itu adalah cerita pembuka selama 37 menit di awal. Ini adalah saat anda harus sabar karena cerita sesungguhnya dimulai justru setelah itu. One Cut Of The Dead adalah jenis film yang sebaiknya anda tidak usah tahu apa-apa isi filmnya bagaimana. Beneran! Jadi tolong jangan ada spoiler bahkan clue atau hint untuk film ini. Sangat baik sekali kalau pikiran anda kosong dari harapan jika mau nonton film ini.

Makanya saya tak akan membahas garis ceritanya melainkan tentang apa yang bisa anda dapat dari nonton film ini. Saya bilang ini adalah film yang heartwarming. Secara khusus saya memang suka genre "film on film", apalagi dipadu dengan zombie. Tapi judul di film ini aslinya menipu kok hehehe.... dan jelas anda tak usah tahu tipuan apa yang bakal terjadi. nanti nggak seru.

Jika terutama anda adalah filmmaker, ini bisa sangat relate dengan apa yang anda alami dalam karier filmmaking. Baru kali ini deh saya nemu satu jenis film yang gak usah direview.


Beberapa referensi film genre "film on film" yang juga menarik:

-Be Kind Rewind (Michel Gondry, 2008)
-Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore, 1988)
-Super 8 (J.J. Abrams, 2011)
-Zi Yu Zi Le 自娱自乐 a.k.a Master of Everything (Xin Lee, 2004)
Baca

REVIEW WIRO SABLENG (Angga Dwimas Sasongko, 2018)

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Suatu senja, saat bulan CGI bergelayut di angkasa, pasukan Mahesa Birawa menyerbu desa tempat Wiro kecil tinggal. Mahesa membunuh kedua orangtuanya. Wiro lalu diangkat murid oleh Sinto Gendheng, seorang nenek pendekar yang kalo jalan tertatih-tatih pakai tongkat namun jago banget melompati atap.

Pokoknya Wiro nanti gedenya bergelar Wiro Sableng. Dari gurunya dia dapat ijazah berupa Kapak Naga Geni 212. Angka tersebut jelas bukan password wifi, bukan pula kode area, apalagi kode anu. Angka tersebut bermakna ajaran tasawwuf level ma’rifat. Dengan sebuah senjata yang kalo dimasukin ketek bisa ngilang itu, Wiro mendapat misi untuk membawa Mahesa Birawa kepada gurunya. Nah selama dalam perjalanan itu, Wiro ketemu dengan beberapa kawan. Ada Anggini, murid Dewa Tuak. Ada Bujang Gila Tapak Sakti. Dan yang penting ada Rara Murni yang sedang mengawal pangeran. Pangeran tersebut adalah putra dari Raja Kamandaka. Raja Kamandaka, seorang raja yang bersuara berat seperti Batman ini sedang menghadapi pemberontakan di kerajaannya.


Karena Rara Murni, Wiro pun ikut terlibat dalam urusan kerajaan itu. Lha ndilalah pula, ternyata Mahesa Birawa juga tergabung dengan para pemberontak yang didalangi oleh anggota kerajaan sendiri. Untungnya Wiro mendapat bantuan dari Bidadari Angin Timur (yang pakaiannya bergaya kebarat-baratan… kenapa kok gak bernama Bidadari Angin Barat?). Bidadari Angin Timur itu misterius. Dia muncul sewaktu-waktu. Datang tak dijemput, pulang tak dibayar.

Setelah melewati pertarungan dimana banyak pukulan ditahan-tahan biar gak kena beneran, Wiro berhasil mengalahkan para musuhnya. Tentunya berkat ajian-ajian VFX dan kapak resin eh Naga Geni 212. Film ditutup dengan after credit yang jangan anda lewatkan. Makanya kalo muncul tulisan-tulisan jangan keburu beranjak dari bangku.

===

Tak ada yang lebih mengharukan daripada melihat opening sequence 20th Century Fox dengan music fanfare-nya membuka sebuah film nasional. Dulu kala, saya suka iseng masang opening ini di video kacau bikinan saya. Tak terasa air mata berderai.

Film Wiro Sableng adalah tanda cinta persembahan untuk para penggemar cerita silat jadul. Selain juga yang garap masih keluarga kreator aslinya. Tentu gak perlu saya ingetin lagi kalo actor utamanya itu anaknya yang bikin Wiro Sableng. Ini film yang sudah ditunggu-tunggu para fans Wiro Sableng yang dulu terkesima dengan film layar lebar dan seri TV-nya.

Departemen artistik film ini sungguh terpuji menghadirkan lanskap dan setting fantasi. Setiap sudutnya begitu cermat dan hidup. Istana Sang Prabu Kamandaka begitu cemerlang menyala. Juga tata busananya yang meski antah berantah tapi menghadirkan aura greget. Kita lihat baju si Wiro, Nampak bener-bener handmade dan kadang kumal. Namanya pendekar mosok bajunya bersih?

Setelah sekian lama kita lupa Tony Hidayat, pemeran Wiro Sableng layar lebar awal nan jadul, juga susah move on dari Ken Ken yang sempat digantikan Abe Cancer, kini kita melihat Wiro dari sosok Vino G. Bastian. Tentu kita berharap banyak kan? Lha wong yang bikin itu bapaknya hehehe

Saya rasa Vino cukup oke membawakannya. Gerak-geriknya tidak canggung. Postur silatnya pun elok, hanya saja kurang polah. Mungkin Vino perlu mulai latian tricking atau akrobatik dikit. Biar greget lah, Om. Soalnya saya pun musti menyesuaikan asumsi pada Wiro yang sesuai cerita usia 20an namun (harus) diperankan oleh Om-om usia 30an. Lha gimana lagi emang ini persembahan anak buat sang ayahanda hehe pisss Mas Vino!

Sinto Gendheng… nenek yang suka ketawa-ketiwi ini diperankan oelh Mbak Ruth Marini dengan dramatik. Tentu ini bukan cuma karena prostetik make upnya. Mbak Ruth telah menubuh pada Sinto Gendheng. Gerak-geriknya sebagai pendekar tanpa tanding begitu bernyawa.

Di mata saya, actor yang paling cemerlang adalah Yayan Ruhian. Sejak dulu saya memuji aktingnya yang natural dan bisa menghidupkan karakter yang ia perankan. Jangan pikir ia cuma greget dalam meramu jurus, levelnya Kang Yayan ini udah aktor watak. Kehadiran Kang Yayan sebagai koreografer pula lah yang membuat pertarungan dalam film ini (mustinya) bernyawa. Mungkin apa karena kurang latian ya? Saya melihat banyak pukulan seakan tertahan dan terlontar seperti dalam ketoprak. Kecuali ketika duel Mahesa Birawa VS Wiro Sableng sendiri. Terasa wat wet wut dhiesss. Yang lain serasa hmmm… gimana gitu.  Bahkan cara melayang dan mendarat pun masih tertatih seakan kurang yakin kalo tim rigging stunt-nya menjaga mereka.

Pencuri hati dalam tayangan ini menurut saya adalah Aghniny Haque. Bening tapi perkasa, lembut tapi melecut. Hai, Kak Sherina… kamu juga imut tapi sayang kok karaktermu tertimbun sesuatu, yang jelas bukan pipimu. Untunglah gerak-gerikmu tak kaku karena dulu kau latian Wushu.  Fariz Alfarizi, kuharap ia jadi Sammo Hung-nya Indonesia.

Saat sempat melihat teasernya kemaren, saya sangat cemas dengan kualitas CGI-nya yang membuat saya istighfar. Untungnya yang udah tayang ini lumayan lebih polished. Meski begitu tetap saja bagi mata yang jeli ada kejanggalan estetis. Lihatlah adegan saat Rara Murni dan Pangeran digantung di pohon tepi jurang. Backgroundnya tampak kurang lebur dengan obyek utama. Juga saat Wiro menuruni gunung. Mirip kayak Super Mario Bros. Ndak masalah besar sih (untuk saat ini). Toh juga ini genrenya film silat kocak. 

Mas Angga Dwimas di mata saya adalah filmmaker yang saya respect. Terutama karena dia bikin Filosofi Kopi begitu menghibur dan jelas. Dia juga pernah menyutradarai sebuah klip laga yang dibintangi Julie Estelle. Setidaknya di situ saya percaya dia bisa menghandle adegan laga dengan baik. Jadi tak mencemaskan ketika setahun silam saya denger dia dipercaya Mbak Lala Timothy buat bikin Wiro Sableng reboot.

Namun saya ini orang bawel. Bagus gak cukup. Kudu unik dan beda. Bagaimana dengan film Wiro Sableng ini?... ya lumayan lah. Meski tone laganya cenderung "kemungfu", tapi saya rasakan warna olah gerak Master Yayan di sana. Ya hanya diperhalus aja bisar gak terlalu brutal buat ditonton sekeluarga.

Kalau anda cuma mo cari hiburan dan tanpa perlu mikir mendalam, saya rasa sungguh tak rugi nonton film ini. Jangan membandingkannya dengan film wuxia macam Crouching Tiger Hidden Dragon. Bahkan juga jangan dengan Kungfu Hustle. Meski storytellingnya tidak membuat sembelit, terlalu banyak hal mudah dan kebetulan terjadi di film ini. Anggaplah ketika nyawamu dalam keadaan genting, jika kau adalah tokoh penting untuk sekuel berikutnya, keberuntungan akan berada di pihakmu. Entah itu tiba-tiba ada pendekar lewat atau apa. Dalam film ini jarak antara tempat juga seakan dekat. Bahkan ndak sampai seperminuman teh. Ujug-ujug si pendekar bisa kemana pun tanpa naik kuda. Konflik dalam Wiro Sableng terlalu mudah muncul dan selesai.

Untungnya geguyon di dalamnya cukup efektif dan bisa bikin saya ketawa tulus. Kadang tidak saya duga arahnya. Yang penting humornya enggak maksa. Dan itu cukup untuk membuat saya suka. Wiro Sableng tak perlu mengejar menjadi drama silat yang berkelas (sekalipun wow banget ada cap 20th Century Fox). Cukuplah ia jujur dengan inspirasi material aslinya yang emang superkocak dan membuat kita jatuh cinta. Jadi penasaran nih sekuel berikutnya sesangar apa.

Problem sinema Indonesia itu bagi saya isinya ya cenderung gitu-gituuuuu aja. Kehadiran Wiro Sableng membuat warna bioskop nasional lebih semarak. Saya pikir jika sineas makin leluasa berkarya… kejayaan film kita di mata dunia tinggal sejarak seperlemparan batu saja.

Baca

REVIEW SULTAN AGUNG: Tahta, Perjuangan, Cinta (Hanung Bramantyo & X. Jo, 2018)

Raden Mas Rangsang adalah pemuda ningrat yang sedang menempuh pendidikan di sebuah padepokan. Padepokan ini dipimpin oleh Ki Jejer, guru sakti yang mampu bergerak secepat Flash or Quicksilver meski kalau jalan ya musti dibantu tongkat (as always in every old kungfu movie). 

Di sana Raden Mas Rangsang berlatih olah kanuragan, ngaji dan nembang. Selama di sana pula ia menjalin hubungan asmara dengan Lembayung, seorang gadis imut yang tidak pernah konsisten berbahasa Jawa sebagaimana semua karakter di dalamnya. 


Sayangnya setelah ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati wafat, kisah cinta itu musti kandas. Tentu saja. Lembayung cuma anak lurah. Ndak level masuk jajaran ningrat keraton. Maka Raden Mas Rangsang musti meninggalkan keindahan alam padepokan yang instagrammable. Musti move on dari kesyahduan kenangan berkhalwat berdua dengan Lembayung yang mirip banget sama Putri Marino. 

Lalu diangkatlah Raden Mas Rangsang jadi raja dengan beberapa gelar (terakhir ia bergelar Sultan Agung). Ia kini tumbuh dewasa dengan kumis makin tebal kayak Brama Kumbara versi Imam Tantowi. Problem politik yang ia hadapi mula-mula adalah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa terutama di Batavia. Tak mau kekuasannya digerogoti oleh kekuatan asing, Susuhunan menarik pajak gila-gilaan jika VOC mau buka cabang di Jawa. 

Seperti kita baca dari buku pelajaran PSPB, VOC tentu bukan cuma kantor dagang biasa. Mereka punya pasukan bersenjata lengkap. Bikin benteng pula. Bisa dimaklumi karena di masa itu penguasa setempat belum tentu bisa menjamin keamanan mereka. Jadi ingat korporat iblis macam di Resident Evil.

Nah, perseteruan-perseteruan dengan lokal membuat Sultan berang dan mengorganisir rencana perang. Ia memerintahkan agar teknologi senjata orang londo itu dijiplak dan diproduksi ulang. Ia juga merekrut rakyat Mataram yang badannya alus-alus kayak pekerja disain grafis kantoran untuk jadi tambahan kekuatan militer. Dengan semangat “mukti utawa mati” ribuan pasukan dikerahkan jalan kaki dari Mataram sampe monas…eh salah… Batavia maksud saya. Nggak semua jalan kaki ding. Ada yang naik gajah dan bahkan naik perahu CGI.

Kebijakan ini tentu tak selalu disenangi oleh orang-orang sekitar keraton. Ada pula yang mencoba menggagalkannya. Maka seperti sejarah yang terjadi, penyerangan itu bisa dibilang kacau balau karena pengkhianatan dan keraguan. Oh iya. Jangan lupa, karena Lembayung udah kadung jadi magnet cerita sedari awal maka ia ikutan pula ke Batavia melabrak para kumpeni dengan dalil dramatika. Udah cewek sendirian, jagoan pula. 

==

Apa yang bikin anda believe terhadap sebuah film? Saat nonton Apocalypto-nya Mel Gibson, seakan saya dibawa masuk pada masa Indian Maya kuno. Seakan saya bisa membaui bau tubuh mereka, merasakan tradisi yang mereka bangun dan saya benar-benar terasing ketika mereka berbicara. Kekunoan!

Ini juga yang saya rasakan dalam ketoprak layar lebar Sultan Agung. Perasaan saya adalah seakan nonton ketoprak kolaborasi aktor nasional dan lokal namun dalam panggung yang disetting ala sinema. Ini terobosan. Ndak banyak film kolosal mengambil pendekatan ketoprak laga. Koreografi yang dirancang begitu halus, mirip saat saya pas kecil dulu nonton show-nya Siswo Budoyo. Visual Effectnya juga begitu ciamik sebagaimana film Garuda Superhero. Ini kontribusi penting dari Co. Directornya, yakni X. Jo. Kekinian!

Sebagai sutradara yang nampaknya spesialis drama remaja baper-baperan dan biopic overnasionalistic, Mas Hanung kembali dengan ciri khasnya. Merekrut wajah-wajah yang terlalu familiar di jagad infotainment. Ia mencampurkan kehadiran mereka dengan aktor-aktor hebat yang nyaris tanpa cacat. Bisa berarti positif, karena pemunculan wajah-wajah kinclong selebriti bisa diimbangi dengan wajah pelakon tulen yang greget. Atau juga negative karena ini berarti jomplangnya kemampuan berlakon. Melihat Tante Merriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu membuat saya bertanya-tanya apakah perias jaman Mataram sudah bisa bikin bulu mata palsu secantik itu? Atau gaya alis kekinian pada wajah Adinia Wirasti? Apakah kulit para gadis desa sekitar padepokan Jejeran mulus-mulus seakan dirawat dengan anu beauty lotion?

Casting bukan hal yang mudah untuk continuity perubahan wajah karakter. Patut dipuji departemen casting memilih Marthino Lio untuk memerankan Raden Mas Rangsang yang ketika dewasa diperankan oleh Ario Bayu. Ini mungkin satu point bagus untuk film ini. Sementara itu cukup susah melihat Lembayung muda dalam wajah Putri Marino kemudian mendewasa dalam tubuh Adinia Wirasti. 

Okay…

Sekarang apa yang membuat anda betah menyaksikan ketoprak eh film dalam waktu 2 jam lebih beberapa menit?

Saya nggak berani nonton Game of Thrones karena takut ketagihan. Episodenya terlalu banyak dan saya takut nggak bisa berhenti nonton. Nah, dari situlah saya paham bahwa film itu bisa bikin melek atau ngantuk tak tergantung durasinya melainkan storytellingnya. Namun setelah nonton Sultan Agung, rupanya tak musti storytelling yang bisa bikin melek. Sepanjang film saya menebak-nebak adegan dan dialog yang hendak dilontarkan para pemainnya. Kebanyakan tepat. Itu yang bikin saya gak ngantuk.

Scoring yang tak konsisten dari langgam tetabuhan Jawa mendadak ngorkestra dramatis membuat saya makin susah tidur di dalam bioskop. Juga bahasa campuran yang dipakai. Meriam Bellina mengekspresikan kemarahan dalam bahasa Jawa mekso itu begitu epic dan mengusir bosan. 

Jangan lupa bahwa film ini bukan murni Mas Hanung yang bikin. Ada X. Jo yang mewakili corak kekinian dambaan anak pemuja VFX. Lanskap keraton Mataram dari atas itu merupakan yang terbaik yang pernah saya saksikan di perfilman nasional. Ndak semua anak Potosop bisa bikin. Meski shot itu cuma sekilas, cukuplah untuk membuat saya tidak ngantuk.

Well, lets go deeper.

Sempat cemas bahwa ini film yang kental chauvinisme Jawasentris, rupanya dugaan saya meleset. Para pejabat Mataram digambarkan dalam berbagai warna. Pengkhianatan tak murni karena keserakahan, melainkan juga hal lain (gak bisa saya sebutin ntar spoiler). Namun sayangnya orang-orang VOC digambarkan too one dimensional. Jan Pieterzon Coen Cuma digambarkan sebagai londo jahat yang gemar ketawa ala antagonis panggung teater. Padahal realita itu warna-warni. Tapi mengingat ini adalah ketoprak layar lebar…so it’s fine.

Politik adalah hal yang dilematik. Sultan beralasan bahwa penyerbuan ini tidak demi hari ini, melainkan untuk gaungnya di masa ratusan tahun ke depan. Namun para penentangnya juga punya alasan lain. Terlalu banyak rakyat jadi korban. Banyak anak kehilangan bapak, dan janda kehilangan suami. Beberapa orang bersekutu, bahkan terpaksa berselingkuh dengan VOC agar ambisi Sultan Agung tidak memakan lebih banyak korban. Apalagi pada penyerangan kedua, rencana penyerangan gagal karena lumbung logistik dibakar antek VOC.

Maka pada setiap ambisi kekuasaan, dipertanyakan. Semua ini untuk apa dan siapa? Bahkan saya juga mempertanyakan doktrin keluhuran nenek moyang kami para penguasa pendiri kebudayaan yang kami cintai ini.

We must be realistic when talking about politic, keluhuran itu pastinya tak melulu welas asih. Apalagi kalo sudah masa perang. Kepada para pengkhianat, panglima tempur pun tak segan memenggal kepala dan menancapkannya di tonggak kayu. Wow… anda percaya Mas Hanung bikin adegan pemenggalan kepala untuk tontonan keluarga ini? Tenang. Diblur kok hehehe. Nggak tau ya. Itu karena alasan kesadisan atau biar gak keliatan kalo kepalanya dibikin dari resin.

Untungnya perang di Jawa tak berlarut-larut. Kelak Sultan Agung banyak fokus mengembangkan kebudayaan dan tradisi yang kita kenal sebagai Kabudayan Jawi. Sedikit menyebut di antaranya. Beliaulah yang membakukan kebahasaan, sistem kalender dan mencipta gendhing. Saya justru lebih mengaguminya dari sisi ini daripada kiprah politiknya.

Bagaimanapun, saya ini penganut aliran yang tak menghakimi film pakai teks sejarah. Jadi saya gak peduli amat seberapa cocok sejarah asli dengan film ini. Tapiii…

And this is akhirul kalam...

Sebagai sebuah karya yang setidaknya musti believable, riset selalu jadi kewajiban. Setiap detail bangunan, pakaian dan alam adalah juga aktor-aktor bisu yang menghidupkan film. Departemen artistik musti cermat apakah bangunan masa itu menggunakan bata merah? Atau semen yang diukir seakan mirip batako dalam proyek taman kota oleh pemda kabupaten. Juga bagaimana warna corak pakaian sehari-hari yang dipakai orang Mataram. Berwarna pudar? Atau kayak baru beli di pasar Beringharjo? 

Ahamdulillah. Film berdurasi panjang ini bisa saya nikmati tanpa ngantuk sedikitpun dan menginspirasi saya bikin ulasan yang sama panjangnya. Bagi yang merindukan wajah aktor yang itu-itu saja, film Bumi Manusia nanti sungguh layak dinantikan.

Raden Mas Rangsang adalah pemuda ningrat yang sedang menempuh pendidikan di sebuah padepokan. Padepokan ini dipimpin oleh Ki Jejer, guru sakti yang mampu bergerak secepat Flash or Quicksilver meski kalau jalan ya musti dibantu tongkat (as always in every old kungfu movie). 

Di sana Raden Mas Rangsang berlatih olah kanuragan, ngaji dan nembang. Selama di sana pula ia menjalin hubungan asmara dengan Lembayung, seorang gadis imut yang tidak pernah konsisten berbahasa Jawa sebagaimana semua karakter di dalamnya. 


Sayangnya setelah ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati wafat, kisah cinta itu musti kandas. Tentu saja. Lembayung cuma anak lurah. Ndak level masuk jajaran ningrat keraton. Maka Raden Mas Rangsang musti meninggalkan keindahan alam padepokan yang instagrammable. Musti move on dari kesyahduan kenangan berkhalwat berdua dengan Lembayung yang mirip banget sama Putri Marino. 

Lalu diangkatlah Raden Mas Rangsang jadi raja dengan beberapa gelar (terakhir ia bergelar Sultan Agung). Ia kini tumbuh dewasa dengan kumis makin tebal kayak Brama Kumbara versi Imam Tantowi. Problem politik yang ia hadapi mula-mula adalah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa terutama di Batavia. Tak mau kekuasannya digerogoti oleh kekuatan asing, Susuhunan menarik pajak gila-gilaan jika VOC mau buka cabang di Jawa. 

Seperti kita baca dari buku pelajaran PSPB, VOC tentu bukan cuma kantor dagang biasa. Mereka punya pasukan bersenjata lengkap. Bikin benteng pula. Bisa dimaklumi karena di masa itu penguasa setempat belum tentu bisa menjamin keamanan mereka. Jadi ingat korporat iblis macam di Resident Evil.

Nah, perseteruan-perseteruan dengan lokal membuat Sultan berang dan mengorganisir rencana perang. Ia memerintahkan agar teknologi senjata orang londo itu dijiplak dan diproduksi ulang. Ia juga merekrut rakyat Mataram yang badannya alus-alus kayak pekerja disain grafis kantoran untuk jadi tambahan kekuatan militer. Dengan semangat “mukti utawa mati” ribuan pasukan dikerahkan jalan kaki dari Mataram sampe monas…eh salah… Batavia maksud saya. Nggak semua jalan kaki ding. Ada yang naik gajah dan bahkan naik perahu CGI.

Kebijakan ini tentu tak selalu disenangi oleh orang-orang sekitar keraton. Ada pula yang mencoba menggagalkannya. Maka seperti sejarah yang terjadi, penyerangan itu bisa dibilang kacau balau karena pengkhianatan dan keraguan. Oh iya. Jangan lupa, karena Lembayung udah kadung jadi magnet cerita sedari awal maka ia ikutan pula ke Batavia melabrak para kumpeni dengan dalil dramatika. Udah cewek sendirian, jagoan pula. 

==

Apa yang bikin anda believe terhadap sebuah film? Saat nonton Apocalypto-nya Mel Gibson, seakan saya dibawa masuk pada masa Indian Maya kuno. Seakan saya bisa membaui bau tubuh mereka, merasakan tradisi yang mereka bangun dan saya benar-benar terasing ketika mereka berbicara. Kekunoan!

Ini juga yang saya rasakan dalam ketoprak layar lebar Sultan Agung. Perasaan saya adalah seakan nonton ketoprak kolaborasi aktor nasional dan lokal namun dalam panggung yang disetting ala sinema. Ini terobosan. Ndak banyak film kolosal mengambil pendekatan ketoprak laga. Koreografi yang dirancang begitu halus, mirip saat saya pas kecil dulu nonton show-nya Siswo Budoyo. Visual Effectnya juga begitu ciamik sebagaimana film Garuda Superhero. Ini kontribusi penting dari Co. Directornya, yakni X. Jo. Kekinian!

Sebagai sutradara yang nampaknya spesialis drama remaja baper-baperan dan biopic overnasionalistic, Mas Hanung kembali dengan ciri khasnya. Merekrut wajah-wajah yang terlalu familiar di jagad infotainment. Ia mencampurkan kehadiran mereka dengan aktor-aktor hebat yang nyaris tanpa cacat. Bisa berarti positif, karena pemunculan wajah-wajah kinclong selebriti bisa diimbangi dengan wajah pelakon tulen yang greget. Atau juga negative karena ini berarti jomplangnya kemampuan berlakon. Melihat Tante Merriam Bellina sebagai Gusti Ratu Tulung Ayu membuat saya bertanya-tanya apakah perias jaman Mataram sudah bisa bikin bulu mata palsu secantik itu? Atau gaya alis kekinian pada wajah Adinia Wirasti? Apakah kulit para gadis desa sekitar padepokan Jejeran mulus-mulus seakan dirawat dengan anu beauty lotion?

Casting bukan hal yang mudah untuk continuity perubahan wajah karakter. Patut dipuji departemen casting memilih Marthino Lio untuk memerankan Raden Mas Rangsang yang ketika dewasa diperankan oleh Ario Bayu. Ini mungkin satu point bagus untuk film ini. Sementara itu cukup susah melihat Lembayung muda dalam wajah Putri Marino kemudian mendewasa dalam tubuh Adinia Wirasti. 

Okay…

Sekarang apa yang membuat anda betah menyaksikan ketoprak eh film dalam waktu 2 jam lebih beberapa menit?

Saya nggak berani nonton Game of Thrones karena takut ketagihan. Episodenya terlalu banyak dan saya takut nggak bisa berhenti nonton. Nah, dari situlah saya paham bahwa film itu bisa bikin melek atau ngantuk tak tergantung durasinya melainkan storytellingnya. Namun setelah nonton Sultan Agung, rupanya tak musti storytelling yang bisa bikin melek. Sepanjang film saya menebak-nebak adegan dan dialog yang hendak dilontarkan para pemainnya. Kebanyakan tepat. Itu yang bikin saya gak ngantuk.

Scoring yang tak konsisten dari langgam tetabuhan Jawa mendadak ngorkestra dramatis membuat saya makin susah tidur di dalam bioskop. Juga bahasa campuran yang dipakai. Meriam Bellina mengekspresikan kemarahan dalam bahasa Jawa mekso itu begitu epic dan mengusir bosan. 

Jangan lupa bahwa film ini bukan murni Mas Hanung yang bikin. Ada X. Jo yang mewakili corak kekinian dambaan anak pemuja VFX. Lanskap keraton Mataram dari atas itu merupakan yang terbaik yang pernah saya saksikan di perfilman nasional. Ndak semua anak Potosop bisa bikin. Meski shot itu cuma sekilas, cukuplah untuk membuat saya tidak ngantuk.

Well, lets go deeper.

Sempat cemas bahwa ini film yang kental chauvinisme Jawasentris, rupanya dugaan saya meleset. Para pejabat Mataram digambarkan dalam berbagai warna. Pengkhianatan tak murni karena keserakahan, melainkan juga hal lain (gak bisa saya sebutin ntar spoiler). Namun sayangnya orang-orang VOC digambarkan too one dimensional. Jan Pieterzon Coen Cuma digambarkan sebagai londo jahat yang gemar ketawa ala antagonis panggung teater. Padahal realita itu warna-warni. Tapi mengingat ini adalah ketoprak layar lebar…so it’s fine.

Politik adalah hal yang dilematik. Sultan beralasan bahwa penyerbuan ini tidak demi hari ini, melainkan untuk gaungnya di masa ratusan tahun ke depan. Namun para penentangnya juga punya alasan lain. Terlalu banyak rakyat jadi korban. Banyak anak kehilangan bapak, dan janda kehilangan suami. Beberapa orang bersekutu, bahkan terpaksa berselingkuh dengan VOC agar ambisi Sultan Agung tidak memakan lebih banyak korban. Apalagi pada penyerangan kedua, rencana penyerangan gagal karena lumbung logistik dibakar antek VOC.

Maka pada setiap ambisi kekuasaan, dipertanyakan. Semua ini untuk apa dan siapa? Bahkan saya juga mempertanyakan doktrin keluhuran nenek moyang kami para penguasa pendiri kebudayaan yang kami cintai ini.

We must be realistic when talking about politic, keluhuran itu pastinya tak melulu welas asih. Apalagi kalo sudah masa perang. Kepada para pengkhianat, panglima tempur pun tak segan memenggal kepala dan menancapkannya di tonggak kayu. Wow… anda percaya Mas Hanung bikin adegan pemenggalan kepala untuk tontonan keluarga ini? Tenang. Diblur kok hehehe. Nggak tau ya. Itu karena alasan kesadisan atau biar gak keliatan kalo kepalanya dibikin dari resin.

Untungnya perang di Jawa tak berlarut-larut. Kelak Sultan Agung banyak fokus mengembangkan kebudayaan dan tradisi yang kita kenal sebagai Kabudayan Jawi. Sedikit menyebut di antaranya. Beliaulah yang membakukan kebahasaan, sistem kalender dan mencipta gendhing. Saya justru lebih mengaguminya dari sisi ini daripada kiprah politiknya.

Bagaimanapun, saya ini penganut aliran yang tak menghakimi film pakai teks sejarah. Jadi saya gak peduli amat seberapa cocok sejarah asli dengan film ini. Tapiii…

And this is akhirul kalam...

Sebagai sebuah karya yang setidaknya musti believable, riset selalu jadi kewajiban. Setiap detail bangunan, pakaian dan alam adalah juga aktor-aktor bisu yang menghidupkan film. Departemen artistik musti cermat apakah bangunan masa itu menggunakan bata merah? Atau semen yang diukir seakan mirip batako dalam proyek taman kota oleh pemda kabupaten. Juga bagaimana warna corak pakaian sehari-hari yang dipakai orang Mataram. Berwarna pudar? Atau kayak baru beli di pasar Beringharjo? 

Ahamdulillah. Film berdurasi panjang ini bisa saya nikmati tanpa ngantuk sedikitpun dan menginspirasi saya bikin ulasan yang sama panjangnya. Bagi yang merindukan wajah aktor yang itu-itu saja, film Bumi Manusia nanti sungguh layak dinantikan.

Baca

Review A GHOST STORY (David Lowery, 2017)

Meski ada kata hantu pada judulnya, jangan berharap ini sebuah film horror. Juga jangan berharap ini film romantis macam yang pernah dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze. Saya agak kerepotan menggolongkan genre film ini. Apakah drama? Fantasy? Eksperimental? Supernatural?

A Ghost Story adalah kisah seorang musisi yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama pasangannya. Suatu ketika sebuah kecelakaan membunuhnya. Setelah ditinggalkan di ruang jenasah rumah sakit, ia pulang sendirian sebagai arwah gentayangan.


Biasanya hantu ala barat itu sering pakai baju putih dan tembus pandang. Sialannya (atau mungkin justru ini gregetnya) penampakan si arwah versi film ini malah komikal ala-ala hantu di cergam anak-anak. Ia pakai selimut kafan gombyor-gombyor dengan dua lubang mata. Sekilas mirip perempuan Taliban mixed dengan Ku Klux Klan. Padahal tak ada maksud melucu dengan pemilihan kostum ini.

Saya awalnya mengira ini film dark comedy. A Ghost Story, dengan gambar diam berlama-lama ala Yasujiro Ozu ini ternyata lebih mirip seperti puisi visual. Sureal dan nglangut. Dan kostum konyol itu ternyata cukup bikin merinding juga. Bukan karena serem wujudnya (pocong mah jauh lebih serem) melainkan karena ketidakpastian orientasi si arwah ini. Akan ke surga kah? Neraka kah?

Setelah jadi arwah, ia pulang ke rumah lamanya. Mendapati pasangannya berduka dan kesepian. Namun itu tak lama. Mantan pasangannya kemudian move on dan punya lelaki baru.

Kini gantian si arwah yang kesepian. Suatu ketika dilihatnya rumah sebelah. Ternyata di sana ada arwah semacam dirinya, sama-sama berselimut. Bahkan juga sama-sama tak pasti nasibnya. Arwah tetangga itu sedang menunggu sesuatu, tapi apakah itu dia lupa.

Selain itu si arwah juga menyaksikan perjalanan nasib rumahnya. Orang-orang berbeda datang silih berganti. Ia mampu menembus waktu, pergi ke masa silam dan masa depan. Namun tetap saja ia tak mau pindah dari rumah lamanya itu sekalipun runtuh dan dibangun gedung baru.

Satu hal yang dilakukan si arwah selain ngelayap penasaran: ia terus-terusan berusaha membongkar selipat kertas yang tertanam di gawang pintu. Di kertas itu dulu mantan kekasihnya pernah menuliskan sesuatu yang tak ia tahu.

===

A Ghost Story adalah puisi visual dan kolase adegan tentang kesepian, ketaktentuarahan dan kerinduan. David Lowery memilih sebuah ending yang tak berkesimpulan. Mungkin ia tak mau merusak nuansa ketidakpastian yang sudah terbangun kokoh. A Ghost Story saya rasa bukan kisah dengan pola tradisional semacam itu.

Jika anda menginginkan twist cerdas ala The Sixth Sense atau The Others, bisa jadi anda membenci film ini. Namun kalau anda terbiasa berlelah-lelah dengan filmnya Yasujiro Ozu, Ingmar Bergmann dan David Lynch, siapa tahu anda akan menyukainya.

Sekali lagi ini mungkin memang film puitik plus kolase adegan. Namun bagi selera saya, absurditas dan surealismenya itu seringkali asyik.

Meski ada kata hantu pada judulnya, jangan berharap ini sebuah film horror. Juga jangan berharap ini film romantis macam yang pernah dibintangi Demi Moore dan Patrick Swayze. Saya agak kerepotan menggolongkan genre film ini. Apakah drama? Fantasy? Eksperimental? Supernatural?

A Ghost Story adalah kisah seorang musisi yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama pasangannya. Suatu ketika sebuah kecelakaan membunuhnya. Setelah ditinggalkan di ruang jenasah rumah sakit, ia pulang sendirian sebagai arwah gentayangan.


Biasanya hantu ala barat itu sering pakai baju putih dan tembus pandang. Sialannya (atau mungkin justru ini gregetnya) penampakan si arwah versi film ini malah komikal ala-ala hantu di cergam anak-anak. Ia pakai selimut kafan gombyor-gombyor dengan dua lubang mata. Sekilas mirip perempuan Taliban mixed dengan Ku Klux Klan. Padahal tak ada maksud melucu dengan pemilihan kostum ini.

Saya awalnya mengira ini film dark comedy. A Ghost Story, dengan gambar diam berlama-lama ala Yasujiro Ozu ini ternyata lebih mirip seperti puisi visual. Sureal dan nglangut. Dan kostum konyol itu ternyata cukup bikin merinding juga. Bukan karena serem wujudnya (pocong mah jauh lebih serem) melainkan karena ketidakpastian orientasi si arwah ini. Akan ke surga kah? Neraka kah?

Setelah jadi arwah, ia pulang ke rumah lamanya. Mendapati pasangannya berduka dan kesepian. Namun itu tak lama. Mantan pasangannya kemudian move on dan punya lelaki baru.

Kini gantian si arwah yang kesepian. Suatu ketika dilihatnya rumah sebelah. Ternyata di sana ada arwah semacam dirinya, sama-sama berselimut. Bahkan juga sama-sama tak pasti nasibnya. Arwah tetangga itu sedang menunggu sesuatu, tapi apakah itu dia lupa.

Selain itu si arwah juga menyaksikan perjalanan nasib rumahnya. Orang-orang berbeda datang silih berganti. Ia mampu menembus waktu, pergi ke masa silam dan masa depan. Namun tetap saja ia tak mau pindah dari rumah lamanya itu sekalipun runtuh dan dibangun gedung baru.

Satu hal yang dilakukan si arwah selain ngelayap penasaran: ia terus-terusan berusaha membongkar selipat kertas yang tertanam di gawang pintu. Di kertas itu dulu mantan kekasihnya pernah menuliskan sesuatu yang tak ia tahu.

===

A Ghost Story adalah puisi visual dan kolase adegan tentang kesepian, ketaktentuarahan dan kerinduan. David Lowery memilih sebuah ending yang tak berkesimpulan. Mungkin ia tak mau merusak nuansa ketidakpastian yang sudah terbangun kokoh. A Ghost Story saya rasa bukan kisah dengan pola tradisional semacam itu.

Jika anda menginginkan twist cerdas ala The Sixth Sense atau The Others, bisa jadi anda membenci film ini. Namun kalau anda terbiasa berlelah-lelah dengan filmnya Yasujiro Ozu, Ingmar Bergmann dan David Lynch, siapa tahu anda akan menyukainya.

Sekali lagi ini mungkin memang film puitik plus kolase adegan. Namun bagi selera saya, absurditas dan surealismenya itu seringkali asyik.

Baca

Review THE WOLF OF WALL STREET (Martin Scorsese, 2013)

Apa menariknya kisah pialang saham dibanding dengan polisi, olahragawan, negarawan, selebriti dan lain-lain yang sering diangkat jadi film? Hmmm saya pikir tak ada menariknya sampai saya mengikuti kisah Jordan Bellfort.

Jordan Bellfort. Who is this man?

Pada 1987 Jordan Bellfort memulai karirnya dengan menjadi pialang saham di Wall Street pada firma L.F. Rothschild. Di sana lah pria lugu ini jadi rusak akhlak gara-gara pengaruh seniornya, Mark Hanna. Mark selain mengajari cara madat dan pesta bejat, membeberkan pada Jordan bahwa di L.F. Rothschild, semua pengetahuan soal pasar saham adalah omong kosong. Bahkan Mark bilang bahwa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk mencari sama-sama untung dengan klien melainkan adalah mempertebal kocek pribadi. Dari Mark, Jordan belajar kemahiran membujuk agar klien mau beli saham yang prospeknya lebih banyak ngibulnya. Sayangnya tak lama kemudian Wall Street dilanda krisis yang mengakibatkan L.F. Rothschild memangkas jumlah pekerja besar-besaran.


Sempat menganggur, Jordan kemudian bekerja pada sebuah firma pialang saham yang lebih receh. Memanfaatkan skill ngibul dari Wall Street, Jordan berhasil mendongkrak firma tersebut jadi besar. Tapi Jordan tak lama di situ. Ia memutuskan mendirikan Stratton Oakmont, firma pialang saham pribadinya bersama kawannya Donnie Azoff. Donnie ini tetangga apartemen yang sebenarnya punya bakat bejat lebih dulu. Dia menikahi sepupunya.

Dimulai dari Stratton Oakmont petualangan kriminal kelas tinggi Jordan Bellfort dimulai. Makin kaya ia makin menggila. Setiap perayaan kesuksesan penjualan saham, dirayakan di kantor dengan pesta pora mabuk, madat dan sex party. Atau ia mungkin cari cara lain yang lebih nyeleneh dan ekstrim. Gara-gara kecanduan nganu itulahlah ia cerai dengan istrinya lalu memilih perempuan baru yang lebih hot dan kinyis-kinyis bernama Naomi. Naomi Lapaglia, how hot she is in the scene... duh Gusti.

Sudah punya istri hot, tak menghentikan ke-"nggragasan" Jordan. Ia masih suka main perempuan mana saja sembari merayakan kesuksesan penjualan saham. Tentunya ajak-ajak partner sekantornya yakni Donnie CS. Ia punya tim awal yang beranggotakan orang-orang kacau namun menguntungkan. Istrinya tak terlalu peduli selama duit mengalir untuk kebutuhan nafkahnya.

Terlalu cepat kaya dan reputasi foya-foyanya udah notorious, FBI mulai menguntitnya. Petugas FBI Patrick Denham adalah orang yang bertanggungjawab untuk itu. Sebagai petugas yang anti suap, Patrick membuat Jordan menjadi sangat kerepotan. Segala hal dilakukan Jordan untuk menyelamatkan uangnya. Belum soal uang rampung, Jordan masih musti menanggung efek kecanduannya pada narkoba . Makin parah galaunya karena saat ia repot berurusan dengan hukum, Naomi minta cerai.

Setelah serangkaian kejadian, akhirnya Jordan dipenjara dan Stratton Oakmont ditutup pemerintah.

===

Sampai saya nulis ini, belum semua karya Martin Scorsese saya tonton. Karena Taxi Driver dan Raging Bull paling melekat, maka kesan utama saya soal Scorsese hanyalah film-film noir yang depresif. Saya lupa kalau ia pernah bikin Aviator yang semarak, Hugo yang hangat atau Departed yang thrilling (meski versi aslinya yang film Hongkong lebih thrilling lagi).

Saya belum nonton The King of Comedy, jadi kurang tahu apakan Scorsese juga bisa bikin film lucu. Tapi setelah nonton The Wolf of Wall Street, saya pikir wow..... bahkan sebelumnya tak mengira ini film komedi. Ngakak kagak bisa ditahan dah.

Sangat berbeda dengan Scorsese klasik yang saya kenal suka mengulur-ngulur phase bertutur. The Wolf of Wall Street melaju kencang dengan gigitan-gigitan yang pedas. Seakan naik bus Sumber Kencono, ngebut jelas gak pake seatbelt, sesekali nyebut "astaghfirullah". Dengan The Wolf of Wall Street saya musti tajam-tajam pasang kuping untuk setiap adegan yang berjalan.

Sesekali karakter Jordan "breaking the fourth wall" menerangkan bagaimana ia yang awalnya bocah lugu dengan moral code standar berevolusi jadi pria bejat berdompet super tebal. Sebuah teknik storytelling yang efektif namun tak buang-buang sekuens. Tentu beda dengan siasat ngakalin kegagalan bikin adegan.

Setiap dialog tak pernah sia-sia. Jarang sekali saya menikmati dialog selain dari filmnya Quentin Tarantino dan Richard Linklater. Dialogue in cinema.... if you do not do it right it will be a disaster. Entah mabok apa Si Leonardo Di Caprio hingga mulutnya bisa kendor kayak Chris Tucker. Berpasangan dengan Jonah Hill film ini kompak mengusung duo keparat laknat yang susah melarat. Jonah Hill sebagai Donnie... betapa jancuk karakter ini. You gonna hate him or love him. Dia ini guoblok dan kacau namun "ngrejekeni". Dia lah partner awal Jordan ketika memulai firmanya sendiri.

Tentu kita sering prihatin kenapa Leo kok gak segera dapat Oscar. Padahal kalau lihat dia sebagai Jordan Bellfort... it is full of greget. Dia menggali karakternya se-the best-the best-nya. Ya paling enggak dapet Golden Globe. Alhamdulillah lah ya Om Leo....

Dan dengan Margot Robbie as Naomi Lapaglia... performa yang legit (legit kue lapis sekaligus legitimate) dan juga pedas. Look at her foot hei you foot fetishes. Naomi, tipikal cewek bodi aduhay yang menguras kocek para tajirhay. As all we mahfum... cewek cakep itu, kalo gak dimaafkan ya dimanfaatkan. As long as he pays for it.

The Wolf of Wall Street adalah film yang berdebum-debum karena musik-musik pop bertaburan membuat petualangan naratif kita makin kencang. Sebuah eksekusi yang pas untuk cara tutur film komedi gelap macam gini. Apalagi awalnya nonton tanpa ekspektasi. Well...it is better if you watch a movie without expectation if you want an entertainment.

Tapi nampaknya saya nggak bisa merekomendasikan film ini secara umum. Not a movie you can watch with kids around. Why?

Film ini adalah film bejat dan amoral. A very polished immoral movie hehehe... dan itu yang jadi bahan kritikan buat The Wolf of Wall Street. Bahkan "film pendek" yang dibintangi duo Mela Siska aja jadi keliatan cemen.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu muda kaya raya bisa beli apa saja? Gimana cara kamu merayakan kesuksesan dengan seisi kantor yang moralnya ultra kendor semua, ntah cowok ama cewek. Apalagi nggak bakal ada yang ngggrebek kamu atau sekadar komplain karena berisik.

Jordan adalah orang sugih yang sampe bingung gimana ngebuang duit. Ia dapat duit lebih cepat daripada ia sempat mikir buat ngapain. Drugs, sex and adventure. Kalau ia nggak disetop bahkan bibi istrinya yang udah tuwir aja mau ia embat.

Yang bikin film ini nggak ramah volume kenceng atau nonton bareng tentunya adalah all nudity and sexual scene. Sangat meriah dan bejat-ly entertaining hahaha. Kalau sekadar pisuhan sih memang jadi "abjadnya dialog" di sini. ya... The Wolf of Wall Street kata media ada antara 506 sampai 569 penyebutan kata "fuck". But maybe you won't remember that or aware of that because of too many graphic nudity hahaha. Cewek bugil "pating tlecek neng endi-endi".

Tetapi, kalau anda mengikuti ceritanya dengan lancar anda mungkin tak bakal terlalu menggubris ketidaksenonohan itu.

Film ini bertutur dengan padat. Alur naratifnya kalau ibarat naik mobil, ngebutnya di jalan yang alus. Tentu itu bukan jalanan aspal di kabupaten Blitar (or your kabupaten maybe) ya. Tentunya juga bukan mobil semacam bus Sumber Kencono or of it's kind. Ini mobil luxury (sebutlah satu merk apa gitu karena saya nggak apal merk mobil lux). Meski ngebut goyangannya alus. Tapi tetap saja anda mungkin malah melewatkan pemandangan kanan kiri jalan yakni pajangan adegan tak senonoh yang kebangetan itu.

Dan seberapa "grande" pencapaian duniawi dirayakan dalam film ini, ujungnya tetaplah moral klasik. Karma akan membawamu ke penjara. Sayangnya saya kurang puas Jordan mendapat karma cuma sekadar itu. Mungkin bukan karena kejahatan kerah putihnya yang bikin saya sewot, mungkin saya cuma iri aja hahaha. Jordan however still a lucky bastard. In the movie or less in a real life. ya film ini memang adaptasi dari sebuah memoir. Jordan Bellfort adalah orang yang beneran ada dan bahkan juga nongol jadi cameo di film ini.

I give an honest laugh and applause for Mr. Scorsese for making this movie "bejatly" entertaining. Not recommended for nobar dengan kawan normal dan berakhlak.

Apa menariknya kisah pialang saham dibanding dengan polisi, olahragawan, negarawan, selebriti dan lain-lain yang sering diangkat jadi film? Hmmm saya pikir tak ada menariknya sampai saya mengikuti kisah Jordan Bellfort.

Jordan Bellfort. Who is this man?

Pada 1987 Jordan Bellfort memulai karirnya dengan menjadi pialang saham di Wall Street pada firma L.F. Rothschild. Di sana lah pria lugu ini jadi rusak akhlak gara-gara pengaruh seniornya, Mark Hanna. Mark selain mengajari cara madat dan pesta bejat, membeberkan pada Jordan bahwa di L.F. Rothschild, semua pengetahuan soal pasar saham adalah omong kosong. Bahkan Mark bilang bahwa yang dilakukan sebenarnya bukanlah untuk mencari sama-sama untung dengan klien melainkan adalah mempertebal kocek pribadi. Dari Mark, Jordan belajar kemahiran membujuk agar klien mau beli saham yang prospeknya lebih banyak ngibulnya. Sayangnya tak lama kemudian Wall Street dilanda krisis yang mengakibatkan L.F. Rothschild memangkas jumlah pekerja besar-besaran.


Sempat menganggur, Jordan kemudian bekerja pada sebuah firma pialang saham yang lebih receh. Memanfaatkan skill ngibul dari Wall Street, Jordan berhasil mendongkrak firma tersebut jadi besar. Tapi Jordan tak lama di situ. Ia memutuskan mendirikan Stratton Oakmont, firma pialang saham pribadinya bersama kawannya Donnie Azoff. Donnie ini tetangga apartemen yang sebenarnya punya bakat bejat lebih dulu. Dia menikahi sepupunya.

Dimulai dari Stratton Oakmont petualangan kriminal kelas tinggi Jordan Bellfort dimulai. Makin kaya ia makin menggila. Setiap perayaan kesuksesan penjualan saham, dirayakan di kantor dengan pesta pora mabuk, madat dan sex party. Atau ia mungkin cari cara lain yang lebih nyeleneh dan ekstrim. Gara-gara kecanduan nganu itulahlah ia cerai dengan istrinya lalu memilih perempuan baru yang lebih hot dan kinyis-kinyis bernama Naomi. Naomi Lapaglia, how hot she is in the scene... duh Gusti.

Sudah punya istri hot, tak menghentikan ke-"nggragasan" Jordan. Ia masih suka main perempuan mana saja sembari merayakan kesuksesan penjualan saham. Tentunya ajak-ajak partner sekantornya yakni Donnie CS. Ia punya tim awal yang beranggotakan orang-orang kacau namun menguntungkan. Istrinya tak terlalu peduli selama duit mengalir untuk kebutuhan nafkahnya.

Terlalu cepat kaya dan reputasi foya-foyanya udah notorious, FBI mulai menguntitnya. Petugas FBI Patrick Denham adalah orang yang bertanggungjawab untuk itu. Sebagai petugas yang anti suap, Patrick membuat Jordan menjadi sangat kerepotan. Segala hal dilakukan Jordan untuk menyelamatkan uangnya. Belum soal uang rampung, Jordan masih musti menanggung efek kecanduannya pada narkoba . Makin parah galaunya karena saat ia repot berurusan dengan hukum, Naomi minta cerai.

Setelah serangkaian kejadian, akhirnya Jordan dipenjara dan Stratton Oakmont ditutup pemerintah.

===

Sampai saya nulis ini, belum semua karya Martin Scorsese saya tonton. Karena Taxi Driver dan Raging Bull paling melekat, maka kesan utama saya soal Scorsese hanyalah film-film noir yang depresif. Saya lupa kalau ia pernah bikin Aviator yang semarak, Hugo yang hangat atau Departed yang thrilling (meski versi aslinya yang film Hongkong lebih thrilling lagi).

Saya belum nonton The King of Comedy, jadi kurang tahu apakan Scorsese juga bisa bikin film lucu. Tapi setelah nonton The Wolf of Wall Street, saya pikir wow..... bahkan sebelumnya tak mengira ini film komedi. Ngakak kagak bisa ditahan dah.

Sangat berbeda dengan Scorsese klasik yang saya kenal suka mengulur-ngulur phase bertutur. The Wolf of Wall Street melaju kencang dengan gigitan-gigitan yang pedas. Seakan naik bus Sumber Kencono, ngebut jelas gak pake seatbelt, sesekali nyebut "astaghfirullah". Dengan The Wolf of Wall Street saya musti tajam-tajam pasang kuping untuk setiap adegan yang berjalan.

Sesekali karakter Jordan "breaking the fourth wall" menerangkan bagaimana ia yang awalnya bocah lugu dengan moral code standar berevolusi jadi pria bejat berdompet super tebal. Sebuah teknik storytelling yang efektif namun tak buang-buang sekuens. Tentu beda dengan siasat ngakalin kegagalan bikin adegan.

Setiap dialog tak pernah sia-sia. Jarang sekali saya menikmati dialog selain dari filmnya Quentin Tarantino dan Richard Linklater. Dialogue in cinema.... if you do not do it right it will be a disaster. Entah mabok apa Si Leonardo Di Caprio hingga mulutnya bisa kendor kayak Chris Tucker. Berpasangan dengan Jonah Hill film ini kompak mengusung duo keparat laknat yang susah melarat. Jonah Hill sebagai Donnie... betapa jancuk karakter ini. You gonna hate him or love him. Dia ini guoblok dan kacau namun "ngrejekeni". Dia lah partner awal Jordan ketika memulai firmanya sendiri.

Tentu kita sering prihatin kenapa Leo kok gak segera dapat Oscar. Padahal kalau lihat dia sebagai Jordan Bellfort... it is full of greget. Dia menggali karakternya se-the best-the best-nya. Ya paling enggak dapet Golden Globe. Alhamdulillah lah ya Om Leo....

Dan dengan Margot Robbie as Naomi Lapaglia... performa yang legit (legit kue lapis sekaligus legitimate) dan juga pedas. Look at her foot hei you foot fetishes. Naomi, tipikal cewek bodi aduhay yang menguras kocek para tajirhay. As all we mahfum... cewek cakep itu, kalo gak dimaafkan ya dimanfaatkan. As long as he pays for it.

The Wolf of Wall Street adalah film yang berdebum-debum karena musik-musik pop bertaburan membuat petualangan naratif kita makin kencang. Sebuah eksekusi yang pas untuk cara tutur film komedi gelap macam gini. Apalagi awalnya nonton tanpa ekspektasi. Well...it is better if you watch a movie without expectation if you want an entertainment.

Tapi nampaknya saya nggak bisa merekomendasikan film ini secara umum. Not a movie you can watch with kids around. Why?

Film ini adalah film bejat dan amoral. A very polished immoral movie hehehe... dan itu yang jadi bahan kritikan buat The Wolf of Wall Street. Bahkan "film pendek" yang dibintangi duo Mela Siska aja jadi keliatan cemen.

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu muda kaya raya bisa beli apa saja? Gimana cara kamu merayakan kesuksesan dengan seisi kantor yang moralnya ultra kendor semua, ntah cowok ama cewek. Apalagi nggak bakal ada yang ngggrebek kamu atau sekadar komplain karena berisik.

Jordan adalah orang sugih yang sampe bingung gimana ngebuang duit. Ia dapat duit lebih cepat daripada ia sempat mikir buat ngapain. Drugs, sex and adventure. Kalau ia nggak disetop bahkan bibi istrinya yang udah tuwir aja mau ia embat.

Yang bikin film ini nggak ramah volume kenceng atau nonton bareng tentunya adalah all nudity and sexual scene. Sangat meriah dan bejat-ly entertaining hahaha. Kalau sekadar pisuhan sih memang jadi "abjadnya dialog" di sini. ya... The Wolf of Wall Street kata media ada antara 506 sampai 569 penyebutan kata "fuck". But maybe you won't remember that or aware of that because of too many graphic nudity hahaha. Cewek bugil "pating tlecek neng endi-endi".

Tetapi, kalau anda mengikuti ceritanya dengan lancar anda mungkin tak bakal terlalu menggubris ketidaksenonohan itu.

Film ini bertutur dengan padat. Alur naratifnya kalau ibarat naik mobil, ngebutnya di jalan yang alus. Tentu itu bukan jalanan aspal di kabupaten Blitar (or your kabupaten maybe) ya. Tentunya juga bukan mobil semacam bus Sumber Kencono or of it's kind. Ini mobil luxury (sebutlah satu merk apa gitu karena saya nggak apal merk mobil lux). Meski ngebut goyangannya alus. Tapi tetap saja anda mungkin malah melewatkan pemandangan kanan kiri jalan yakni pajangan adegan tak senonoh yang kebangetan itu.

Dan seberapa "grande" pencapaian duniawi dirayakan dalam film ini, ujungnya tetaplah moral klasik. Karma akan membawamu ke penjara. Sayangnya saya kurang puas Jordan mendapat karma cuma sekadar itu. Mungkin bukan karena kejahatan kerah putihnya yang bikin saya sewot, mungkin saya cuma iri aja hahaha. Jordan however still a lucky bastard. In the movie or less in a real life. ya film ini memang adaptasi dari sebuah memoir. Jordan Bellfort adalah orang yang beneran ada dan bahkan juga nongol jadi cameo di film ini.

I give an honest laugh and applause for Mr. Scorsese for making this movie "bejatly" entertaining. Not recommended for nobar dengan kawan normal dan berakhlak.

Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved