Yang Terbaru

Physical Acting: Akting yang menggunakan kecerdasan gerak tubuh

Physical acting adalah jenis akting dimana selain ekspresi emosi, aktor juga menggunakan ketrampilan gerak tubuhnya. Contoh yang paling jelas adalah aktor film laga (seperti Jet Li, Jackie Chan), aktor komedi slapstick (seperti Buster Keaton) dan aktor film musical dance (seperti Gene Kelly, Patrick Swayze).

Physical acting dengan kata lain adalah akting dimana sang aktor “do their own stunts.” Hanya sedikit aktor yang dikenal bisa melakukan physical acting ini. Kebanyakan digantikan oleh stuntman maupun stand in (aktor pengganti untuk adegan non laga).


Kebetulan saya demen banget ama yang namanya physical acting. Jadi dalam kurikulum film (dan teater) yang saya bagikan ke teman-teman komunitas biasanya juga berisi latihan fisik (beladiri). Nah sekarang saya ingin sedikit menyinggung soal bikin film laga. Yang mau saya bicarain adalah aspek fisiknya dulu ya. Insyaallah saya juga akan menulis soal film laga: antara kualitas cerita dan pameran baku hantam.

Tarung dalam Film

Meski tarung dalam film itu dirancang, nggak beneran, ada baiknya aktor juga belajar beladiri yang betulan. Ini meminimalisir cedera dan memudahkan kerja sinematografer. Kalau aktornya masih payah dalam bergerak atau mengatur postur, sinematografer yang kelabakan merekayasa tata kamera. Editor juga bakal mumet kebanyakan memangkas gambar.

Kami sendiri biasanya dari awal mengedukasi aktor bahwa ada perbedaan antara tarung film dan tarung asli.


Koreografi laga dalam film selalu terikat oleh 3 hal:

-Koreografi itu sendiri
-Tata kamera/sinematografi
-Editing.

Penting sekali bagi aktor (laga terutama) untuk memiliki dasar beladiri.
Jadi nggak ada ruginya juga aktor umum berlatih beladiri secara benar. Kami kalau bikin film laga pasti melatih aktor pemula minimal satu bulan. Kami melatih posture, fight attitude, power dan mimic expression mereka. Memang lebih gampang melatih atlet yang udah bisa beladiri tapi kebanyakan mereka lebih susah dilatih akting. Sementara aktor yang baik haruslah juga "cerdas" secara fisik. Dalam latian keaktoran maupun teater, materi latihan beladiri sama pentingnya seperti tari dan nyanyi.



Stunts


Stunts adalah adegan-adegan yang beresiko secara fisik. Stunts bisa berupa gerakan dengan level kesulitan tinggi (misalnya akrobatik) maupun yang hanya butuh nyali dan serta perhitungan (semacam lompat dan jatuh). Bikin adegan stunt untuk film indie harus lebih cermat. Nggak ada asuransi dan nggak ada biaya untuk mengamankan diri. Jadi harus pinter-pinter mengontrol situasi dengan perlengkapan yang minim. Keep safe!

Yang paling awal kami lakukan ketika bikin film yang ada adegan stunt beresiko adalah KALKULASI.




Kita memperhitungkan semua kemungkinan atau resiko dari yang paling ringan hingga terparah. Jelas kami tak akan ambil resiko untuk beradegan bahaya yang tak bisa kami kontrol. Sebenarnya sih bukan soal kalo stuntmannya celaka. Yang susah itu gimana caranya ngomong ke orangtuanya ntar.

Bayangin gimana ngomongnya coba...

"Bu, anaknya jatuh dari helikopter saat main film kami..."

(guyon, Oooom...)

So, konco....Kami tak akan ambil resiko dimana aktor bisa cedera fisik yang sampai masuk rumah sakit. Kalau luka kecil atau baret-baret sih nggak papa lah.

Action!
Merangkak sisi kiri mobil yang kondisi jalan
Lawan telah menunggu
Fight!
Lalu lalang pengendara lain menyaksikan laga di atas bak mobil



Pleeeeease don't try our stunts on your drama film!!!!

Setelah kalkulasi dilakukan dengan matang. Kemudian kami akan mengakali bagaimana adegan itu bisa dilakukan dengan 99,0% AMAN. Realistis aja....kami masih ingin terus bikin film. Nggak lucu dong kalo kegiatan kami berhenti permanen gara-gara kapok oleh kecerobohan kita sendiri. 

Tim stuntman kami dulu punya motto "Berani dan Bego itu BEDA TIPIS!!!"

Jadi keep smart dalam melakukan adegan yang terlihat nekad. But be brave to be creative.
Physical acting adalah jenis akting dimana selain ekspresi emosi, aktor juga menggunakan ketrampilan gerak tubuhnya. Contoh yang paling jelas adalah aktor film laga (seperti Jet Li, Jackie Chan), aktor komedi slapstick (seperti Buster Keaton) dan aktor film musical dance (seperti Gene Kelly, Patrick Swayze).

Physical acting dengan kata lain adalah akting dimana sang aktor “do their own stunts.” Hanya sedikit aktor yang dikenal bisa melakukan physical acting ini. Kebanyakan digantikan oleh stuntman maupun stand in (aktor pengganti untuk adegan non laga).


Kebetulan saya demen banget ama yang namanya physical acting. Jadi dalam kurikulum film (dan teater) yang saya bagikan ke teman-teman komunitas biasanya juga berisi latihan fisik (beladiri). Nah sekarang saya ingin sedikit menyinggung soal bikin film laga. Yang mau saya bicarain adalah aspek fisiknya dulu ya. Insyaallah saya juga akan menulis soal film laga: antara kualitas cerita dan pameran baku hantam.

Tarung dalam Film

Meski tarung dalam film itu dirancang, nggak beneran, ada baiknya aktor juga belajar beladiri yang betulan. Ini meminimalisir cedera dan memudahkan kerja sinematografer. Kalau aktornya masih payah dalam bergerak atau mengatur postur, sinematografer yang kelabakan merekayasa tata kamera. Editor juga bakal mumet kebanyakan memangkas gambar.

Kami sendiri biasanya dari awal mengedukasi aktor bahwa ada perbedaan antara tarung film dan tarung asli.


Koreografi laga dalam film selalu terikat oleh 3 hal:

-Koreografi itu sendiri
-Tata kamera/sinematografi
-Editing.

Penting sekali bagi aktor (laga terutama) untuk memiliki dasar beladiri.
Jadi nggak ada ruginya juga aktor umum berlatih beladiri secara benar. Kami kalau bikin film laga pasti melatih aktor pemula minimal satu bulan. Kami melatih posture, fight attitude, power dan mimic expression mereka. Memang lebih gampang melatih atlet yang udah bisa beladiri tapi kebanyakan mereka lebih susah dilatih akting. Sementara aktor yang baik haruslah juga "cerdas" secara fisik. Dalam latian keaktoran maupun teater, materi latihan beladiri sama pentingnya seperti tari dan nyanyi.



Stunts


Stunts adalah adegan-adegan yang beresiko secara fisik. Stunts bisa berupa gerakan dengan level kesulitan tinggi (misalnya akrobatik) maupun yang hanya butuh nyali dan serta perhitungan (semacam lompat dan jatuh). Bikin adegan stunt untuk film indie harus lebih cermat. Nggak ada asuransi dan nggak ada biaya untuk mengamankan diri. Jadi harus pinter-pinter mengontrol situasi dengan perlengkapan yang minim. Keep safe!

Yang paling awal kami lakukan ketika bikin film yang ada adegan stunt beresiko adalah KALKULASI.




Kita memperhitungkan semua kemungkinan atau resiko dari yang paling ringan hingga terparah. Jelas kami tak akan ambil resiko untuk beradegan bahaya yang tak bisa kami kontrol. Sebenarnya sih bukan soal kalo stuntmannya celaka. Yang susah itu gimana caranya ngomong ke orangtuanya ntar.

Bayangin gimana ngomongnya coba...

"Bu, anaknya jatuh dari helikopter saat main film kami..."

(guyon, Oooom...)

So, konco....Kami tak akan ambil resiko dimana aktor bisa cedera fisik yang sampai masuk rumah sakit. Kalau luka kecil atau baret-baret sih nggak papa lah.

Action!
Merangkak sisi kiri mobil yang kondisi jalan
Lawan telah menunggu
Fight!
Lalu lalang pengendara lain menyaksikan laga di atas bak mobil



Pleeeeease don't try our stunts on your drama film!!!!

Setelah kalkulasi dilakukan dengan matang. Kemudian kami akan mengakali bagaimana adegan itu bisa dilakukan dengan 99,0% AMAN. Realistis aja....kami masih ingin terus bikin film. Nggak lucu dong kalo kegiatan kami berhenti permanen gara-gara kapok oleh kecerobohan kita sendiri. 

Tim stuntman kami dulu punya motto "Berani dan Bego itu BEDA TIPIS!!!"

Jadi keep smart dalam melakukan adegan yang terlihat nekad. But be brave to be creative.
Baca

Ketika Talents dan Kru Susah Diajak Kerjasama

Pernah nggak kamu kesulitan mengajak orang buat bikin film bareng?
Pernah nggak kamu merasa bahwa anggotamu susah diarahkan di lapangan?

Awal-awal bikin film indie, saya dulu berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Kalau mau bikin film saya ngajak siapa? Kalau bikin film bisa nggak kru-kru yang sama nubie-nya ama saya itu diatur? Begitu kelakon bikin film, di lapangan kenapa kok sepertinya anggota nggak inisiatif?
Dulu saya cuman bisa dongkol alias mangkel.
Bagaimanapun saya butuh orang lain untuk mewujudkan karya.

Dalam bikin film yang penuh keterbatasan dan ketidaktahuan, sokongan komunal sungguh berguna bagi saya. Ketika mulai berkarya di Wlingiwood, hal pertama yang saya lakukan adalah melibatkan diri dalam komunitas. Untunglah saya punya teman yang memiliki akses terhadap beberapa calon anggota. Kami pun mewujudkan komunitas film kami yang pertama.

Dengan berinteraksi dalam komunitas, saya tak hanya mendapatkan talent dan kru gratis. Dari interaksi komunal juga saya membangun skill penyutradaraan saya.  Secara bertahap saya pun semakin belajar mengontrol banyak aspek kreatif dalam produksi. Karena saya seringkali berhadapan dengan para nubie, saya juga mengadakan semacam “program edukasi” untuk mentransfer visi kreatif saya. Jadi proses bikin film bisa menjadi semacam “sekolah”.  

Kelas sharing akting

Latihan stunt fighting

Kelas apresiasi film klasik

Saya kasih anggota apa yang saya punya, dan dari reaksi timbal balik dengan mereka saya mendapatkan ilmu “berkomunikasi kreatif”. Komunikasi kreatif adalah istilah saya untuk cara berbagi gagasan, transfer visi serta membangun kepercayaan sesama tim untuk mewujudkan karya bersama.

Cara ini lumayan bisa meminimalisir keluhan seperti, “Kok orang-orang susah ya diajak kerjasama?...”
Saya bisa menghemat energi saya untuk dialokasikan ke aspek kreatif yang lain. Saya pun tak terlalu banyak mendongkol.

Memang ada type sutradara yang mempercayai bahwa marah adalah salah satu “tools” penyutradaraan. Kebetulan saya tak menganut paham itu. Bikin film harus lah fun. Ketika fun dan passionated, semua potensi akan optimal. Fun harus disertai passion. Kalau sekadar fun, yang terjadi nanti Cuma bermain tak jelas. Namun passion tanpa fun juga akan menjadi membosankan.


Bikin film (atau karya seni kolaboratif yang lain) adalah “menenun jaringan energi”. Semua yang terlibat mustinya merasakan berkahnya. “Greget” dari berkah itulah yang kita tularkan pada pemirsa.
Pernah nggak kamu kesulitan mengajak orang buat bikin film bareng?
Pernah nggak kamu merasa bahwa anggotamu susah diarahkan di lapangan?

Awal-awal bikin film indie, saya dulu berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Kalau mau bikin film saya ngajak siapa? Kalau bikin film bisa nggak kru-kru yang sama nubie-nya ama saya itu diatur? Begitu kelakon bikin film, di lapangan kenapa kok sepertinya anggota nggak inisiatif?
Dulu saya cuman bisa dongkol alias mangkel.
Bagaimanapun saya butuh orang lain untuk mewujudkan karya.

Dalam bikin film yang penuh keterbatasan dan ketidaktahuan, sokongan komunal sungguh berguna bagi saya. Ketika mulai berkarya di Wlingiwood, hal pertama yang saya lakukan adalah melibatkan diri dalam komunitas. Untunglah saya punya teman yang memiliki akses terhadap beberapa calon anggota. Kami pun mewujudkan komunitas film kami yang pertama.

Dengan berinteraksi dalam komunitas, saya tak hanya mendapatkan talent dan kru gratis. Dari interaksi komunal juga saya membangun skill penyutradaraan saya.  Secara bertahap saya pun semakin belajar mengontrol banyak aspek kreatif dalam produksi. Karena saya seringkali berhadapan dengan para nubie, saya juga mengadakan semacam “program edukasi” untuk mentransfer visi kreatif saya. Jadi proses bikin film bisa menjadi semacam “sekolah”.  

Kelas sharing akting

Latihan stunt fighting

Kelas apresiasi film klasik

Saya kasih anggota apa yang saya punya, dan dari reaksi timbal balik dengan mereka saya mendapatkan ilmu “berkomunikasi kreatif”. Komunikasi kreatif adalah istilah saya untuk cara berbagi gagasan, transfer visi serta membangun kepercayaan sesama tim untuk mewujudkan karya bersama.

Cara ini lumayan bisa meminimalisir keluhan seperti, “Kok orang-orang susah ya diajak kerjasama?...”
Saya bisa menghemat energi saya untuk dialokasikan ke aspek kreatif yang lain. Saya pun tak terlalu banyak mendongkol.

Memang ada type sutradara yang mempercayai bahwa marah adalah salah satu “tools” penyutradaraan. Kebetulan saya tak menganut paham itu. Bikin film harus lah fun. Ketika fun dan passionated, semua potensi akan optimal. Fun harus disertai passion. Kalau sekadar fun, yang terjadi nanti Cuma bermain tak jelas. Namun passion tanpa fun juga akan menjadi membosankan.


Bikin film (atau karya seni kolaboratif yang lain) adalah “menenun jaringan energi”. Semua yang terlibat mustinya merasakan berkahnya. “Greget” dari berkah itulah yang kita tularkan pada pemirsa.
Baca

Film dan Saya, Saya dan Film...Sebuah Kisah Cinta ha ha ha

Kegilaan pada film sudah saya mulai sejak kecil. Dahulu kala, di desa saya ada bioskop. Ya nggak ndeso banget, kota kecil di kabupaten lah. Sekarang mana ada bioskop di desa? Nah, tiap hari sepulang sekolah (saya masih SD tahun 80an) saya selalu lewat situ. Saya selalu mampir untuk melihat poster-poster film yang akan diputar. Waktu itu tiketnya seharga Rp. 400an. Pokoknya nggak sampai seribu lah. Jaman segitu Chiki rasa kaldu ayam (snack paling mewah untuk anak kere) harganya 200an seingat saya.

SAUR SEPUH (karya Imam Tantowi) adalah salah satu film yang menginspirasi saya untuk jadi pembuat film.
Poster ini saya bikin sewaktu masih SD. Bandingkan dengan aslinya he he he
BRAHMANA MANGGALA adalah film yang pertama saya tonton di bioskop.
Semacam "mockbuster" dari kesuksesan SAUR SEPUH mungkin?
Terlihat dari desain title yang sama.


Film-film yang diputar variatif. Indonesia, Mandarin, Bollywood dan Hollywood juga ada. Film kelas B-nya Cynthia Rothrock juga ada. Selain papan poster, tempat favorit saya di bioskop itu adalah tempat sampah.

Ya, tempat sampah!

Kenapa?

Karena di situ saya sering mengais-ngais mencari potongan slide film buat koleksi. Pada saat itu projectionist sering memotong beberapa slide film. Entah apa tujuannya. Mungkin biar filmnya cepet selesai? Atau mungkin sensor buat adegan yang "rated"? Sayang saya nggak pernah nemu slide yang adegan rated.

Balai Pertemuan Kelurahan ini dulu sewaktu saya kecil pernah jadi gedung bioskop yang ramai. 
Sekarang kondisinya sudah reot tetapi warga masih memakainya untuk main bulutangkis. 
Saya juga melakukan shooting di depannya. Hitung-hitung semacam nostalgia lah...

Ini adalah bagian samping gedung Balai Pertemuan eks bioskop tadi. 
Kira-kira di sini dulu ada cerukan tempat sampah. 
Di situlah saya mencari potongan seluloid film yang dibuang. 
Sekarang jadi tanah lapang untuk anak-anak kampung bermain. 
Selama beberapa hari saya ganggu keasyikan mereka karena 
saya pakai buat shooting film saya, SAKTI.
Panjang potongan slide yang dibuang bervariasi, ada yang cuma 3 sampai 4 frame (kira-kira 10 centi), ada yang agak panjang lagi sekitar 50 centi dan saya pernah nemu sekitar 2 meter (kurang lebih). Hitung aja kira-kira itu ada berapa frame. Dan lebih disayangkan lagi, koleksi itu sudah hilang karena saya tak menyimpannya dengan baik. Sayang waktu itu saya nggak se-"primpen" (rajin dan rapi dalam menyimpan) kayak tokoh Toto di Cinema Paradiso.

Saya begitu terkenang dengan suasana bioskop ndeso. Kursi yang dari rotan, bau asap rokok, celetuk penonton yang kampungan. Pernah ada kasus penonton yang "meledakkan" telur busuk. Untung pas bukan saat saya nonton. Dari semua romantisisme bioskop ndeso, yang paling saya ingat adalah suara. Tata suara bioskop kampung pastilah tidak stereo. Speakernya "gembrebeg". Tapi itu yang bikin saya terkesan sampai sekarang.

ALIENOSAURUS, film pertama saya
Bertahun-tahun saya mengidamkan bisa membuat film seperti itu. Tapi yah itu cuma keinginan sampai kita tiba di masa teknologi memungkinkan film bisa dibikin dengan murah. Film pertama bikinan saya itu aneh bin lucu...

Judulnya "Alienosaurus".

Saya waktu itu bahkan tidak tahu ada istilah "Camera rolling and action!". Saya tak tahu apa itu "scene", "take" dan "shot". Pokoknya saya bilang aja ke yang pegang kamera, "Mas ambil gambar dari sini, gini dan nanti gini...bla bla bla..."

Abis syuting saya pun nggak bisa ngedit. Saya minta bantuan kawan. Saya bilang ke dia, "Ntar ini potong sini, ini taruh situ, itu stop sampe sini...bla bla bla..."


Adegan dari ALIENOSAURUS, terinspirasi dari Jurassic Park-nya Steven Spielberg, salah satu sutradara favorit saya
Film adalah bentuk seni yang paling komprehensif. Ia bisa mencakup banyak hal mulai dari seni rupa, musik, audio, teknologi, ekonomi, ideologi, politik, sosial dan lain-lain. Film merupakan medium yang tepat untuk mengekspresikan sebanyak mungkin jenis ide kita ke dalam sebuah media tunggal.

Bagi saya pribadi, film menjadi semacam miniatur kehidupan interaktif dalam sebuah simulasi estetis. Ckkk ngomong opo sih.... :p

Di dalam kegiatan bikin film saya bisa memiliki saat berinteraksi dengan orang (selama produksi) dan bisa juga menyendiri dari keramaian (saat paska produksi), maka media ini cocok untuk saya yang suka berkolaborasi tapi punya sedikit sindrom reklusif.

Filmmaking adalah alat saya untuk berhubungan dengan masyarakat. Karena seringkali saya tak selalu klop dan cocok dengan masyarakat. Misalnya tetangga sering ngajak nongkrong main kartu, ngobrol ngalor ngidul...itu hal yang cukup sulit bagi saya. Saya kan nggak bisa memaksakan diri untuk berpura-pura enjoy dengan sebuah kegiatan yang hati saya tak terlibat. Saya tak tertarik dengan tema obrolan mereka...jujur aja. Bukan saya merasa lebih pintar. Mirip rasanya ketika kita ini kaum laki-laki dipaksa ngedengerin obrolan ibu-ibu arisan. Namun sebagai makhluk sosial, sebaiknya kita juga tidak memisahkan diri. Sekarang ini untuk kegiatan sosial kampung yang pasti saya hadiri hanyalah gotong royong kematian hehehe




Akan tetapi pernah juga gini...suatu saat saya bikinkan orang kampung film untuk ditonton bersama. Kami pinjam proyektor, kami nongkrong di pinggir jalan kampung nonton film. Padahal itu cuma dokumentasi ketika jalan-jalan bareng bersama warga satu blok. Semua seneng lihat wajahnya nongol di layar gede-gede. Di situ saya baru punya bahan obrolan yang klop ama isi otak saya.

Jadi film bisa menjadi "social tools" bagi saya.

Pada tahap selanjutnya, film menjadi semacam wahana refleksi. Ia mengungkapkan ide-ide tersembunyi, ide-ide yang tak cocok sekadar dikotbahkan. Film menjadi ekspresi pribadi, komunikator gagasan dan kadang sebagai (namun saya tak terjebak hanya pada) pendidikan. Kalian bisa; mengenal saya, memahami cita-cita saya, mengetahui kesukaan saya, merasakan perasaan saya...semuanya lewat film yang saya bikin.

You watch not merely my work but also what inside me.

Kalo kalian bagaimana?
Kegilaan pada film sudah saya mulai sejak kecil. Dahulu kala, di desa saya ada bioskop. Ya nggak ndeso banget, kota kecil di kabupaten lah. Sekarang mana ada bioskop di desa? Nah, tiap hari sepulang sekolah (saya masih SD tahun 80an) saya selalu lewat situ. Saya selalu mampir untuk melihat poster-poster film yang akan diputar. Waktu itu tiketnya seharga Rp. 400an. Pokoknya nggak sampai seribu lah. Jaman segitu Chiki rasa kaldu ayam (snack paling mewah untuk anak kere) harganya 200an seingat saya.

SAUR SEPUH (karya Imam Tantowi) adalah salah satu film yang menginspirasi saya untuk jadi pembuat film.
Poster ini saya bikin sewaktu masih SD. Bandingkan dengan aslinya he he he
BRAHMANA MANGGALA adalah film yang pertama saya tonton di bioskop.
Semacam "mockbuster" dari kesuksesan SAUR SEPUH mungkin?
Terlihat dari desain title yang sama.


Film-film yang diputar variatif. Indonesia, Mandarin, Bollywood dan Hollywood juga ada. Film kelas B-nya Cynthia Rothrock juga ada. Selain papan poster, tempat favorit saya di bioskop itu adalah tempat sampah.

Ya, tempat sampah!

Kenapa?

Karena di situ saya sering mengais-ngais mencari potongan slide film buat koleksi. Pada saat itu projectionist sering memotong beberapa slide film. Entah apa tujuannya. Mungkin biar filmnya cepet selesai? Atau mungkin sensor buat adegan yang "rated"? Sayang saya nggak pernah nemu slide yang adegan rated.

Balai Pertemuan Kelurahan ini dulu sewaktu saya kecil pernah jadi gedung bioskop yang ramai. 
Sekarang kondisinya sudah reot tetapi warga masih memakainya untuk main bulutangkis. 
Saya juga melakukan shooting di depannya. Hitung-hitung semacam nostalgia lah...

Ini adalah bagian samping gedung Balai Pertemuan eks bioskop tadi. 
Kira-kira di sini dulu ada cerukan tempat sampah. 
Di situlah saya mencari potongan seluloid film yang dibuang. 
Sekarang jadi tanah lapang untuk anak-anak kampung bermain. 
Selama beberapa hari saya ganggu keasyikan mereka karena 
saya pakai buat shooting film saya, SAKTI.
Panjang potongan slide yang dibuang bervariasi, ada yang cuma 3 sampai 4 frame (kira-kira 10 centi), ada yang agak panjang lagi sekitar 50 centi dan saya pernah nemu sekitar 2 meter (kurang lebih). Hitung aja kira-kira itu ada berapa frame. Dan lebih disayangkan lagi, koleksi itu sudah hilang karena saya tak menyimpannya dengan baik. Sayang waktu itu saya nggak se-"primpen" (rajin dan rapi dalam menyimpan) kayak tokoh Toto di Cinema Paradiso.

Saya begitu terkenang dengan suasana bioskop ndeso. Kursi yang dari rotan, bau asap rokok, celetuk penonton yang kampungan. Pernah ada kasus penonton yang "meledakkan" telur busuk. Untung pas bukan saat saya nonton. Dari semua romantisisme bioskop ndeso, yang paling saya ingat adalah suara. Tata suara bioskop kampung pastilah tidak stereo. Speakernya "gembrebeg". Tapi itu yang bikin saya terkesan sampai sekarang.

ALIENOSAURUS, film pertama saya
Bertahun-tahun saya mengidamkan bisa membuat film seperti itu. Tapi yah itu cuma keinginan sampai kita tiba di masa teknologi memungkinkan film bisa dibikin dengan murah. Film pertama bikinan saya itu aneh bin lucu...

Judulnya "Alienosaurus".

Saya waktu itu bahkan tidak tahu ada istilah "Camera rolling and action!". Saya tak tahu apa itu "scene", "take" dan "shot". Pokoknya saya bilang aja ke yang pegang kamera, "Mas ambil gambar dari sini, gini dan nanti gini...bla bla bla..."

Abis syuting saya pun nggak bisa ngedit. Saya minta bantuan kawan. Saya bilang ke dia, "Ntar ini potong sini, ini taruh situ, itu stop sampe sini...bla bla bla..."


Adegan dari ALIENOSAURUS, terinspirasi dari Jurassic Park-nya Steven Spielberg, salah satu sutradara favorit saya
Film adalah bentuk seni yang paling komprehensif. Ia bisa mencakup banyak hal mulai dari seni rupa, musik, audio, teknologi, ekonomi, ideologi, politik, sosial dan lain-lain. Film merupakan medium yang tepat untuk mengekspresikan sebanyak mungkin jenis ide kita ke dalam sebuah media tunggal.

Bagi saya pribadi, film menjadi semacam miniatur kehidupan interaktif dalam sebuah simulasi estetis. Ckkk ngomong opo sih.... :p

Di dalam kegiatan bikin film saya bisa memiliki saat berinteraksi dengan orang (selama produksi) dan bisa juga menyendiri dari keramaian (saat paska produksi), maka media ini cocok untuk saya yang suka berkolaborasi tapi punya sedikit sindrom reklusif.

Filmmaking adalah alat saya untuk berhubungan dengan masyarakat. Karena seringkali saya tak selalu klop dan cocok dengan masyarakat. Misalnya tetangga sering ngajak nongkrong main kartu, ngobrol ngalor ngidul...itu hal yang cukup sulit bagi saya. Saya kan nggak bisa memaksakan diri untuk berpura-pura enjoy dengan sebuah kegiatan yang hati saya tak terlibat. Saya tak tertarik dengan tema obrolan mereka...jujur aja. Bukan saya merasa lebih pintar. Mirip rasanya ketika kita ini kaum laki-laki dipaksa ngedengerin obrolan ibu-ibu arisan. Namun sebagai makhluk sosial, sebaiknya kita juga tidak memisahkan diri. Sekarang ini untuk kegiatan sosial kampung yang pasti saya hadiri hanyalah gotong royong kematian hehehe




Akan tetapi pernah juga gini...suatu saat saya bikinkan orang kampung film untuk ditonton bersama. Kami pinjam proyektor, kami nongkrong di pinggir jalan kampung nonton film. Padahal itu cuma dokumentasi ketika jalan-jalan bareng bersama warga satu blok. Semua seneng lihat wajahnya nongol di layar gede-gede. Di situ saya baru punya bahan obrolan yang klop ama isi otak saya.

Jadi film bisa menjadi "social tools" bagi saya.

Pada tahap selanjutnya, film menjadi semacam wahana refleksi. Ia mengungkapkan ide-ide tersembunyi, ide-ide yang tak cocok sekadar dikotbahkan. Film menjadi ekspresi pribadi, komunikator gagasan dan kadang sebagai (namun saya tak terjebak hanya pada) pendidikan. Kalian bisa; mengenal saya, memahami cita-cita saya, mengetahui kesukaan saya, merasakan perasaan saya...semuanya lewat film yang saya bikin.

You watch not merely my work but also what inside me.

Kalo kalian bagaimana?
Baca

Akting Untuk Film

Konsep akting untuk film saya bedakan dengan akting untuk panggung (pentas teater). Meski latian dasarnya sama, eksekusinya untuk dua media ini saya bedakan. Sebelum kita bicara soal beda dan detail, secara umum akting itu aturan umumnya adalah BELIEVABILITY. Akting yang membuat penonton masuk ke cerita.

Basis Latihan Akting

Saya membagi akting itu ada 2: Fisik dan Mental.

Akting Fisik adalah pendayagunaan tubuh untuk bergerak dan menunjang akting mental. Aktor laga, aktor penari, stunt fighter adalah yang paling banyak menggunakan akting jenis ini.

Akting Mental adalah permainan watak, karakter membuat penonton terbawa pada emosi yang kita bangun. Kalo aktornya akting nangis, kita juga ikut sedih. Kalo dia akting takut, kita juga merasakan ketakutannya.

Akting fisik dan mental itu satu kesatuan ya…jangan dipisahkan seperti Romeo dan Juliet.
Sehubungan dengan itu kalo latian akting biasanya saya mulai dari oleh fisik (terdiri dari napas, suara dan mimik wajah). Lalu latian ekspresi emosi (terdiri dari penghayatan, improvisasi dan imajinasi).

Berdasarkan eksekusinya saya membagi akting ada 2: Mayor dan minor. Mayor itu akting yang ada di naskah. Kalau minor itu pelengkap untuk menjiwai akting mayor tadi. Bisa berupa variasi sikap tubuh atau gesture. Sejauh aktor nyaman melakukan.




Murid-murid saya sedang latian akting natural

Eksekusi Akting

Nah, tadi saya tulis bahwa akting untuk film saya bedakan dengan akting untuk panggung (pentas teater). Maksudnya gini:

Akting teater: Ada unsur eksagerasi (exaggerate). Ada yang dilebih-lebihkan. Suara diperbesar volume agar proyeksinya nyampe ke penonton paling belakang. Sering perasaan diverbalisasikan. Misalnya ketika akting menunggu sesuatu sampai lama, aktor mengungkapkannya ke penonton. “Aduuuh kok lama banget sih?” Si aktor berkali-kali lihat jam, wajahnya gelisah, mondar-mandir dll.

Akting film: Saya mendekatinya lebih secara natural dan realis. Sewajarnya. Misal kalo akting menunggu sesuatu yang lama, saya visualisasikan gini: Shot aktor duduk diam. Wajah terlihat bete. Lalu ada shot daun bergoyang. Kamera bergerak pelan. Lalu ada shot close up jarum jam yang berdetak, kemudian ekstreme close up jari mengetuk-ngetuk meja dll.

Nah, di situ bedanya. Dalam film kita memadukan akting dan visual storytelling. Aktor nggak selalu harus mondar-mandir. Kegelisahan itu kita ungkapkan lewat editing dan pergerakan kamera.

Karena pendekatan film saya adalah realisme, maka saya tidak mendekati akting dengan cara seperti…"main teater yang direkam video".

Tentu bukan berarti akting yang verbalis atau exaggerated tadi salah samasekali. Nggaaaak. Cuman liat dulu konsepnya gimana. Di film juga ada yang konsepnya emang di-lebay-kan gitu.


Intinya, akting harus BELIEVABLE. Apa yang mau disampaikan ke penonton? kalau konsepnya lebay, ya tampilkan lebay. Kalo realis, maka tampilkan realis. Ada konsep dan porsinya masing-masing.

Gunakan teori akting manapun yang bisa mendukung performa aktor kita.
Konsep akting untuk film saya bedakan dengan akting untuk panggung (pentas teater). Meski latian dasarnya sama, eksekusinya untuk dua media ini saya bedakan. Sebelum kita bicara soal beda dan detail, secara umum akting itu aturan umumnya adalah BELIEVABILITY. Akting yang membuat penonton masuk ke cerita.

Basis Latihan Akting

Saya membagi akting itu ada 2: Fisik dan Mental.

Akting Fisik adalah pendayagunaan tubuh untuk bergerak dan menunjang akting mental. Aktor laga, aktor penari, stunt fighter adalah yang paling banyak menggunakan akting jenis ini.

Akting Mental adalah permainan watak, karakter membuat penonton terbawa pada emosi yang kita bangun. Kalo aktornya akting nangis, kita juga ikut sedih. Kalo dia akting takut, kita juga merasakan ketakutannya.

Akting fisik dan mental itu satu kesatuan ya…jangan dipisahkan seperti Romeo dan Juliet.
Sehubungan dengan itu kalo latian akting biasanya saya mulai dari oleh fisik (terdiri dari napas, suara dan mimik wajah). Lalu latian ekspresi emosi (terdiri dari penghayatan, improvisasi dan imajinasi).

Berdasarkan eksekusinya saya membagi akting ada 2: Mayor dan minor. Mayor itu akting yang ada di naskah. Kalau minor itu pelengkap untuk menjiwai akting mayor tadi. Bisa berupa variasi sikap tubuh atau gesture. Sejauh aktor nyaman melakukan.




Murid-murid saya sedang latian akting natural

Eksekusi Akting

Nah, tadi saya tulis bahwa akting untuk film saya bedakan dengan akting untuk panggung (pentas teater). Maksudnya gini:

Akting teater: Ada unsur eksagerasi (exaggerate). Ada yang dilebih-lebihkan. Suara diperbesar volume agar proyeksinya nyampe ke penonton paling belakang. Sering perasaan diverbalisasikan. Misalnya ketika akting menunggu sesuatu sampai lama, aktor mengungkapkannya ke penonton. “Aduuuh kok lama banget sih?” Si aktor berkali-kali lihat jam, wajahnya gelisah, mondar-mandir dll.

Akting film: Saya mendekatinya lebih secara natural dan realis. Sewajarnya. Misal kalo akting menunggu sesuatu yang lama, saya visualisasikan gini: Shot aktor duduk diam. Wajah terlihat bete. Lalu ada shot daun bergoyang. Kamera bergerak pelan. Lalu ada shot close up jarum jam yang berdetak, kemudian ekstreme close up jari mengetuk-ngetuk meja dll.

Nah, di situ bedanya. Dalam film kita memadukan akting dan visual storytelling. Aktor nggak selalu harus mondar-mandir. Kegelisahan itu kita ungkapkan lewat editing dan pergerakan kamera.

Karena pendekatan film saya adalah realisme, maka saya tidak mendekati akting dengan cara seperti…"main teater yang direkam video".

Tentu bukan berarti akting yang verbalis atau exaggerated tadi salah samasekali. Nggaaaak. Cuman liat dulu konsepnya gimana. Di film juga ada yang konsepnya emang di-lebay-kan gitu.


Intinya, akting harus BELIEVABLE. Apa yang mau disampaikan ke penonton? kalau konsepnya lebay, ya tampilkan lebay. Kalo realis, maka tampilkan realis. Ada konsep dan porsinya masing-masing.

Gunakan teori akting manapun yang bisa mendukung performa aktor kita.
Baca

Wawancara dengan Isaac Nabwana dari WAKALIWOOD, filmmaker Uganda (Bahasa Indonesia)

Begitu tahu caranya bagaimana Robert Rodriguez bikin El Mariachi, langsung saya melantik diri sebagai murid tak sah-nya. Kebanyakan dari film saya emang niru caranya Rodriguez yang penuh akal-akalan. Setidaknya saya dan Rodriguez punya beberapa kesamaan: tinggal di kota kecil (atau malah ndeso), peralatan terbatas, passion bikin film panjang dan demen film laga. Rodriguez bikinnya tahun 1992 sedangkan saya mulainya tahun 2010. Yah, saya emang juniornya.


Next Robert Rodriguez from Uganda.

Robert Rodriguez. Source: www.fedora.com
Filmnya Rodriguez's jadi legenda sedangkan film saya payah....kasihan bener :D
Gak papa lah. Yang penting saya belajar banyak dari Rodriguez. Kalo Rodriguez namain jurus filmmakingnya Mariachi style, saya namian punya saya Wlingiwood style...Wlingi kota tinggal saya. 

Rodriguez was shooting El Mariachi. Source: www.collider.com
Lalu pada 2014 saya nemu clip di Youtube, isinya orang teriak...TEBAATUSASULA!!! lalu jurus-jurus Kungfu dan aksi laga gila-gilaan. Saya baca ini film mana dan heeeeh? Uganda? Saya tahu Uganda cuman karena Idi Amin. baru tahu orang Uganda bisa bikin film ginian. Murah, gila dan keren. 

View of a place in Uganda. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Nggak cuman itu. Ternyata mereka bikinnya juga hebat...malah lebih ngeri daripada caranya Rodriguez. Belum lagi mereka sebut komunitasnya (atau semacam studio)...Wakaliwood. Wakaliwood? Kok kedengeran kayak Wlingiwood ya? :D wow! This is cool!

langsung deh saya samperin si biang kerok di belakang semua ini...Isaac Godfrey Geoffrey alias Isaac Nabwana. Kita chatting dikit via facebook.

Langsung kepikiran...kayaknya nih bakal jadi Rodriguez saya (baca: panutan semangat) berikutnya. Gilanya...semangat dan passion dia melebihi yang Wlingiwood lakukan di sini...Rodriguez aja mungkin kalah. Bayangkan....bikin film di Uganda dengan sarana minim namun talent potensial banyak. Wlingiwood aja gak punya sebanyak itu.


Isaac Nabwana in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Lantas di facebook page mereka nawarin wawancara buat dimuat di blog...dan gratis. Kebetulan kan udah ada blog gratisan kayak yang kalian baca ini. langsung saya sambut tawarannya. Gini ini hasilnya. Harapannya kita bisa belajar dari manusia gila kreatif gini.

Talents from Wakaliwood
Gugun: Halo, Masbro. Piye kabar sampeyan n Wakaliwood?

Nabwana: Ha ha ha. Apik wae, Mas! Terus berkarya. Sekarang kita juga punya teman baru dari Indonesia dan mulai sibuk mikirin hancurin negara kalian lewat film. Cuman temen loh yang kita gituin.

Gugun: Keren banget lho karya sampeyan. Langsung saya ngefans ama situ hahaha...Bro, ini awalnya gimana sih? Inspirasi dikau buat bikin film itu siapa?

Nabwana: Oh iya toh? Inspirasinya Abangku sendiri, Bro. Dulu dia sering ngintip ke gedung video (tempat biasa nonton film, mungkin semacam bioskop video atau apa lah gitu). Jaman itu saya masih kecil. Lalu kalo pulang dia biasanya cerita ulang soal filmnya. Film action yang dibintangi Buddy Spencer dan Chuck Norris. Saya terkesan banget sama cara dia cerita, jadinya saya pingin banget bisa bikin film.

Nabwana writing script. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Dulu belajar bikin film gimana, Mas? Yang ngajarin special effects, ngoperasiin camera, makai softwares dll. siapa?

Nabwana: Wah, susah tenan neng kene, Uganda iki, Bro. Apalagi 9 tahun silam pas aku mulai. Yang punya kamera dikit dan yang bisa ngajarin apalagi. Lalu saya kursus sebulan reparasi komputer jadi biar saya ntar bisa ngrakit komputer sendiri buat editing. Saya juga kerja keras bikin bata (heh beneran, bro?) buat beli kamera. Kita mah otodidak, bahkan soal After Effects juga. Internet payah di sini jadi cuma dikit tutorial yang bisa dipelajari.

Gugun: Kalo alat film kayak slider, jib, tripod, lighting etc itu gimana bikinnya?

Nabwana: Yang bikin Dauda Bisaso, aktor laga kita di sini tapi juga tukang props. Dia yang bikin senjata, dolly, jibs dll. Kita dapet rongsokan besinya di ghettos sini, kita utak-atik. Disain dia dapat dari internet and ngakalin biar dibikin lebih bagus.

Gugun: Dapat talents darimana, Masbro? Mereka juga passion kayak sampeyan, nggak?

Nabwana: Wah, kita semuanya passion, Mas. Ada yang dateng jauh-jauh dari Uganda cuman buat ikutan film action sini. Nggak semua dari kita sama bahasanya, tapi kita disatukan oleh cinta pada film. Lha itu Si Alan Ssali datang dari New York City buat ngikut Wakaliwood doang.

The community. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Kalian belajar Kungfu gimana sih? Yang nglatih siapa? kalian atlet bukan ya, soalnya kok Kungfu-nya keren! Saya tahu soalnya saya kan juga pernah main Kungfu hahaha

Nabwana: Bukenya Charles itu Master Sifu di Wakaliwood. Dia jadi Bruce U (Uganda's Bruce Lee) di film Captain Alex, dan jadi Pakde Benon di film Return of Uncle Benon (cooming soon). Kita temenan dari kecil. Dia gila Kungfu, aku gila film. Dia belajar dari nonton film dan dari majalah Cina. Sekarang dia jadi pendiri Uganda's International Kung Fu Team dan jadi bintang film laga di Wakaliwood!

Wakaliwood kid in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Masbro kerjanya sehari-hari buat nafkahin keluarga apa? Masbro kan udah nikah n punya anak. Susah nggak tetap mempertahankan passion di filmmaking passion sementara harus kasih makan keluarga?

Nabwana: Film kita itu dibikin dengan passion dan minim duit. Susah, Bro cari duit di sini. Aku kadang buat videoklip, nyuting manten atau dokumentasi acara kelulusan sekolah. Nggak banyak sih dapetnya. Pembajakan bikin jualan film di Uganda sini susah..

Ramon Film Productions, owned by Nabwana. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Ceritain dikit dong, Mas soal proyek terbarunya n hal keren apa nih yang bakal muncul ntar?

Nabwana: hahaha Tebaatusasula: EBOLA tuh rencana international film kita yang perdana! Pengennya sih fans Wakaliwood dan fans action seluruh dunia ikutan film kita ini. Kalian bisa kok jadi bintang laga film Ugandan tanpa musti pergi dari rumah. Kalian cuma syuting aja adegan kalian modar ntar kita masukin di film. GRATIS. Kalian lalu jadi bintang laga film Uganda. Fans keren dari Indonesia udah ada lho yang kirim video. Udah kita taruh juga tuh di film. Nih dia! Keren! 



Gugun: Rencana terdekat ngapain, Masbro? Ikutan festival internasional ato gimana?

Nabwana: Ya. Kita pengen sih bawa film kita ke dunia, lantas bikin orang-orang dari negara lain main ke Uganda, ke komunita skita. Cuma ya itu, Bro...duit ama visa yang jadi masalah. Kita pingin ama film kita ikutan ke festival tapi susah dapet visa. Kita juga udah diundang tapi ya itu...nggak bisa dateng deh kita.

Gugun: Suwun banget, Masro. Terakhir boleh gak minta foto spesial? Ada foto kamu dengan tulisan..."From IsaacNabwana of Wakaliwood to Gugun Ekalaya and Wlingiwood Filmmakers!" :D mau takjadiin jimat hahaha

Nabwana: No problem!!!! hahhahahaha Commando!

Catatan keras: Terjemahan wawancara ini telah ditulis ulang dengan adaptasi sana-sini. Bukan terjemahan mentah-mentah. Biar greget. Kalau mau baca aslinya di sini: 
http://gugunekalaya.blogspot.com/2015/03/interview-with-isaac-nabwana-of.html

Begitu deh. Kalo mau lihat salah satu trailer film mereka di sini:



Dan ini mini dokumenter tentang Isaac Nabwana:







Begitu tahu caranya bagaimana Robert Rodriguez bikin El Mariachi, langsung saya melantik diri sebagai murid tak sah-nya. Kebanyakan dari film saya emang niru caranya Rodriguez yang penuh akal-akalan. Setidaknya saya dan Rodriguez punya beberapa kesamaan: tinggal di kota kecil (atau malah ndeso), peralatan terbatas, passion bikin film panjang dan demen film laga. Rodriguez bikinnya tahun 1992 sedangkan saya mulainya tahun 2010. Yah, saya emang juniornya.


Next Robert Rodriguez from Uganda.

Robert Rodriguez. Source: www.fedora.com
Filmnya Rodriguez's jadi legenda sedangkan film saya payah....kasihan bener :D
Gak papa lah. Yang penting saya belajar banyak dari Rodriguez. Kalo Rodriguez namain jurus filmmakingnya Mariachi style, saya namian punya saya Wlingiwood style...Wlingi kota tinggal saya. 

Rodriguez was shooting El Mariachi. Source: www.collider.com
Lalu pada 2014 saya nemu clip di Youtube, isinya orang teriak...TEBAATUSASULA!!! lalu jurus-jurus Kungfu dan aksi laga gila-gilaan. Saya baca ini film mana dan heeeeh? Uganda? Saya tahu Uganda cuman karena Idi Amin. baru tahu orang Uganda bisa bikin film ginian. Murah, gila dan keren. 

View of a place in Uganda. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Nggak cuman itu. Ternyata mereka bikinnya juga hebat...malah lebih ngeri daripada caranya Rodriguez. Belum lagi mereka sebut komunitasnya (atau semacam studio)...Wakaliwood. Wakaliwood? Kok kedengeran kayak Wlingiwood ya? :D wow! This is cool!

langsung deh saya samperin si biang kerok di belakang semua ini...Isaac Godfrey Geoffrey alias Isaac Nabwana. Kita chatting dikit via facebook.

Langsung kepikiran...kayaknya nih bakal jadi Rodriguez saya (baca: panutan semangat) berikutnya. Gilanya...semangat dan passion dia melebihi yang Wlingiwood lakukan di sini...Rodriguez aja mungkin kalah. Bayangkan....bikin film di Uganda dengan sarana minim namun talent potensial banyak. Wlingiwood aja gak punya sebanyak itu.


Isaac Nabwana in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Lantas di facebook page mereka nawarin wawancara buat dimuat di blog...dan gratis. Kebetulan kan udah ada blog gratisan kayak yang kalian baca ini. langsung saya sambut tawarannya. Gini ini hasilnya. Harapannya kita bisa belajar dari manusia gila kreatif gini.

Talents from Wakaliwood
Gugun: Halo, Masbro. Piye kabar sampeyan n Wakaliwood?

Nabwana: Ha ha ha. Apik wae, Mas! Terus berkarya. Sekarang kita juga punya teman baru dari Indonesia dan mulai sibuk mikirin hancurin negara kalian lewat film. Cuman temen loh yang kita gituin.

Gugun: Keren banget lho karya sampeyan. Langsung saya ngefans ama situ hahaha...Bro, ini awalnya gimana sih? Inspirasi dikau buat bikin film itu siapa?

Nabwana: Oh iya toh? Inspirasinya Abangku sendiri, Bro. Dulu dia sering ngintip ke gedung video (tempat biasa nonton film, mungkin semacam bioskop video atau apa lah gitu). Jaman itu saya masih kecil. Lalu kalo pulang dia biasanya cerita ulang soal filmnya. Film action yang dibintangi Buddy Spencer dan Chuck Norris. Saya terkesan banget sama cara dia cerita, jadinya saya pingin banget bisa bikin film.

Nabwana writing script. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Dulu belajar bikin film gimana, Mas? Yang ngajarin special effects, ngoperasiin camera, makai softwares dll. siapa?

Nabwana: Wah, susah tenan neng kene, Uganda iki, Bro. Apalagi 9 tahun silam pas aku mulai. Yang punya kamera dikit dan yang bisa ngajarin apalagi. Lalu saya kursus sebulan reparasi komputer jadi biar saya ntar bisa ngrakit komputer sendiri buat editing. Saya juga kerja keras bikin bata (heh beneran, bro?) buat beli kamera. Kita mah otodidak, bahkan soal After Effects juga. Internet payah di sini jadi cuma dikit tutorial yang bisa dipelajari.

Gugun: Kalo alat film kayak slider, jib, tripod, lighting etc itu gimana bikinnya?

Nabwana: Yang bikin Dauda Bisaso, aktor laga kita di sini tapi juga tukang props. Dia yang bikin senjata, dolly, jibs dll. Kita dapet rongsokan besinya di ghettos sini, kita utak-atik. Disain dia dapat dari internet and ngakalin biar dibikin lebih bagus.

Gugun: Dapat talents darimana, Masbro? Mereka juga passion kayak sampeyan, nggak?

Nabwana: Wah, kita semuanya passion, Mas. Ada yang dateng jauh-jauh dari Uganda cuman buat ikutan film action sini. Nggak semua dari kita sama bahasanya, tapi kita disatukan oleh cinta pada film. Lha itu Si Alan Ssali datang dari New York City buat ngikut Wakaliwood doang.

The community. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Kalian belajar Kungfu gimana sih? Yang nglatih siapa? kalian atlet bukan ya, soalnya kok Kungfu-nya keren! Saya tahu soalnya saya kan juga pernah main Kungfu hahaha

Nabwana: Bukenya Charles itu Master Sifu di Wakaliwood. Dia jadi Bruce U (Uganda's Bruce Lee) di film Captain Alex, dan jadi Pakde Benon di film Return of Uncle Benon (cooming soon). Kita temenan dari kecil. Dia gila Kungfu, aku gila film. Dia belajar dari nonton film dan dari majalah Cina. Sekarang dia jadi pendiri Uganda's International Kung Fu Team dan jadi bintang film laga di Wakaliwood!

Wakaliwood kid in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Masbro kerjanya sehari-hari buat nafkahin keluarga apa? Masbro kan udah nikah n punya anak. Susah nggak tetap mempertahankan passion di filmmaking passion sementara harus kasih makan keluarga?

Nabwana: Film kita itu dibikin dengan passion dan minim duit. Susah, Bro cari duit di sini. Aku kadang buat videoklip, nyuting manten atau dokumentasi acara kelulusan sekolah. Nggak banyak sih dapetnya. Pembajakan bikin jualan film di Uganda sini susah..

Ramon Film Productions, owned by Nabwana. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Ceritain dikit dong, Mas soal proyek terbarunya n hal keren apa nih yang bakal muncul ntar?

Nabwana: hahaha Tebaatusasula: EBOLA tuh rencana international film kita yang perdana! Pengennya sih fans Wakaliwood dan fans action seluruh dunia ikutan film kita ini. Kalian bisa kok jadi bintang laga film Ugandan tanpa musti pergi dari rumah. Kalian cuma syuting aja adegan kalian modar ntar kita masukin di film. GRATIS. Kalian lalu jadi bintang laga film Uganda. Fans keren dari Indonesia udah ada lho yang kirim video. Udah kita taruh juga tuh di film. Nih dia! Keren! 



Gugun: Rencana terdekat ngapain, Masbro? Ikutan festival internasional ato gimana?

Nabwana: Ya. Kita pengen sih bawa film kita ke dunia, lantas bikin orang-orang dari negara lain main ke Uganda, ke komunita skita. Cuma ya itu, Bro...duit ama visa yang jadi masalah. Kita pingin ama film kita ikutan ke festival tapi susah dapet visa. Kita juga udah diundang tapi ya itu...nggak bisa dateng deh kita.

Gugun: Suwun banget, Masro. Terakhir boleh gak minta foto spesial? Ada foto kamu dengan tulisan..."From IsaacNabwana of Wakaliwood to Gugun Ekalaya and Wlingiwood Filmmakers!" :D mau takjadiin jimat hahaha

Nabwana: No problem!!!! hahhahahaha Commando!

Catatan keras: Terjemahan wawancara ini telah ditulis ulang dengan adaptasi sana-sini. Bukan terjemahan mentah-mentah. Biar greget. Kalau mau baca aslinya di sini: 
http://gugunekalaya.blogspot.com/2015/03/interview-with-isaac-nabwana-of.html

Begitu deh. Kalo mau lihat salah satu trailer film mereka di sini:



Dan ini mini dokumenter tentang Isaac Nabwana:







Baca

Interview with Isaac Nabwana of WAKALIWOOD, filmmaker from Uganda (in English)

It is very inspiring when I first time to know how Robert Rodriguez made his El Mariachi film. Soon I became his "student". I made my movie using tricks I learned from Rodriguez. Rodriguez and I have the same thing in common; living in a small town, limited by equipments, has a passion to make feature film and love action genre. Rodriguez did it in 1992, I did mine in 2010. I'm his junior.


Next Robert Rodriguez from Uganda.Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Robert Rodriguez. Source: www.fedora.com
Rodriguez's is legendary cult movie, but mine is suck...so pathetic :D
It's okay. I've learnt so much from Rodriguez. While Rodriguez called his style as Mariachi style, I called my techniques Wlingiwood style...Wlingi is my hometown. 

Rodriguez was shooting El Mariachi. Source: www.collider.com
Then in 2014 I found a clip in youtube. So crazy stuff with freaky shout...TEBAATUSASULA!!! I see crazy kungfu and crazy action scenes. And what the f...it comes from Uganda. The thing I know about Uganda is only Idi Amin. I never knew Ugandan make a film so cool like this. It's cheap, crazy but so awesome stuff.

View of a place in Uganda. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
However, this is not the only thing impressed me. Later I know that this crazy Ugandan made that film in so amazing way...more badass than Rodriguez did! Amazingly they called their community (or studio)...Wakaliwood. Wakaliwood? Sounds like Wlingiwood? :D wow! This is cool!

I contacted the guy behind all of this...Isaac Godfrey Geoffrey or better known as Isaac Nabwana. We chat a little through facebook. Well...I think Isaac would be my next "Rodriguez" in spirit. His spirit I think....surpassed my spirit and maybe Rodriguez's also. Imagine! They made it in Uganda! Very minimum equipments but a lot of potential talents. 

Isaac Nabwana in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Later in their facebook page, they offer to interview them for movie blog. I do have a blog about filmmaking (in Indonesian). So I answer that offer. I sent message to Nabwana and here is the result. Hope that we, all guerilla filmmakers, get big inspiration from this badass guy.

Talents from Wakaliwood
Gugun: Hello, Brother. How are you and Wakaliwood?

Nabwana: Ha ha ha. We are good! Always working. But now we have new friends in Indonesia, and busy to see how we can destroy your country in movies. We only do that to friends.

Gugun: It's very amazing the job you did you know. I instantly become the fans of yours hahaha...well, Brother...how did this all begin? What inspire you to make a movie?

Nabwana: Really, it was my older brother. he would often sneak into video halls, were we watch movies in Uganda. i was too young but he would go and come back and tell me the stories. movies with action, stars like Buddy Spencer and Chuck Norris. I loved the way he told the stories and made me want to make movies.

Nabwana writing script. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: How do you learn filmmaking? Who teach you special effects, operating camera, using softwares etc.?

Nabwana: It is not easy here in Uganda. Especially 9 years ago when i started. there were very few who had cameras and can teach. i took one month class in computer repair so i could build computers for editing, and worked very hard making bricks to afford a camera. really we taught ourselves. even software like After Effects. internet was poor so were few tutorials. 

Gugun: How do you make your film equipment such like slider, jib, tripod, lighting etc?

Nabwana: that is Dauda Bisaso, an action movie star here but also head builder. he makes all our guns, dolly, jibs, etc. we find scrap metal here in the ghettos, and just build. he finds a design maybe on the internet, and finds a way to make it better.

Gugun: How do you get your film talents? Do they have the same big passion as you?

Nabwana: we all have passion here. many come from very far in Ugandan to make action movies with us. not all of us even speak the same language, but we speak love of film. even Alan Ssali came from New York City to be part pf Wakaliwood

The community. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: How do you all guys learn Kungfu? Who train you? Are you athlete or something coz your Kungfu looks awesome! I know it because I've ever learn Kungfu also hahaha

Nabwana:Bukenya Charles is wakaliwood's Master Sifu. He is Bruce U (uganda's Bruce Lee) in Catain Alex, and Uncle Benon in Return of Uncle Benon (cooming soon). we are childhood friends and grew up together. but he loved kung fu more and i loved movies. he also taught himself by watching movies and magazines from China. now he is part and founder of Uganda's International Kung Fu Team and an action movie star with Wakaliwood!

Wakaliwood kid in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: What job do you do to make a living with your family? I know you have been married and have children. Is it difficult to maintain your filmmaking passion while you have to feed your family?

Nabwana: Our movies are made with passion, and vert little money. money is hard to find. for money i sometimes make music videos for musicians, or shoot a wedding or school graduation. it is not much money, but we get by. piracy makes selling films difficult here in Uganda.

Ramon Film Productions, owned by Nabwana. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Tell me a little bit about your recent project and what cool thing you offer in that film?

Nabwana: hahaha Tebaatusasula: EBOLA is going to be our 1st international film! we want fans of Wakaliwood and fans of action from all over the world to be part of the film. you can even be a ugandan action movie star without leaving home! just shoot yourselves dying and we put it in the movie. and it is FREE. you can become a Ugandan Action MOvie Star. in fact, some supa fans from indonesia have sent us themselves dying and we already are putting in movie. it is great! 


Gugun: What is your goal in the near future? Are you interested in international festival or what?

Nabwana: yes, we are interested in bringing our films to international, and having people from everywhere come to us in Uganda. but the challenge is money and a visa. we would like to go with our films to film festivals, but difficult to get visas, we have been invited, but so far cannot go.

Gugun: Big thanks, Brother. Now the last thing...could I, Gugun Ekalaya of Wlingiwood family, get your special photo. You photo yourself holding a paper with a message written like this..."From Isaac Nabwana of Wakaliwood to Gugun Ekalaya and Wlingiwood Filmmakers!" :D It will be my treasure hahaha

Nabwana: No problem!!!! hahhahahaha Commando!

Terjemahan lepas Bahasa Indonesia di sini:
http://gugunekalaya.blogspot.com/2015/03/wawancara-dengan-isaac-nabwana-dari.html


See one of their film trailer here:


And this is mini documentary about Isaac Nabwana:





It is very inspiring when I first time to know how Robert Rodriguez made his El Mariachi film. Soon I became his "student". I made my movie using tricks I learned from Rodriguez. Rodriguez and I have the same thing in common; living in a small town, limited by equipments, has a passion to make feature film and love action genre. Rodriguez did it in 1992, I did mine in 2010. I'm his junior.


Next Robert Rodriguez from Uganda.Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Robert Rodriguez. Source: www.fedora.com
Rodriguez's is legendary cult movie, but mine is suck...so pathetic :D
It's okay. I've learnt so much from Rodriguez. While Rodriguez called his style as Mariachi style, I called my techniques Wlingiwood style...Wlingi is my hometown. 

Rodriguez was shooting El Mariachi. Source: www.collider.com
Then in 2014 I found a clip in youtube. So crazy stuff with freaky shout...TEBAATUSASULA!!! I see crazy kungfu and crazy action scenes. And what the f...it comes from Uganda. The thing I know about Uganda is only Idi Amin. I never knew Ugandan make a film so cool like this. It's cheap, crazy but so awesome stuff.

View of a place in Uganda. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
However, this is not the only thing impressed me. Later I know that this crazy Ugandan made that film in so amazing way...more badass than Rodriguez did! Amazingly they called their community (or studio)...Wakaliwood. Wakaliwood? Sounds like Wlingiwood? :D wow! This is cool!

I contacted the guy behind all of this...Isaac Godfrey Geoffrey or better known as Isaac Nabwana. We chat a little through facebook. Well...I think Isaac would be my next "Rodriguez" in spirit. His spirit I think....surpassed my spirit and maybe Rodriguez's also. Imagine! They made it in Uganda! Very minimum equipments but a lot of potential talents. 

Isaac Nabwana in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Later in their facebook page, they offer to interview them for movie blog. I do have a blog about filmmaking (in Indonesian). So I answer that offer. I sent message to Nabwana and here is the result. Hope that we, all guerilla filmmakers, get big inspiration from this badass guy.

Talents from Wakaliwood
Gugun: Hello, Brother. How are you and Wakaliwood?

Nabwana: Ha ha ha. We are good! Always working. But now we have new friends in Indonesia, and busy to see how we can destroy your country in movies. We only do that to friends.

Gugun: It's very amazing the job you did you know. I instantly become the fans of yours hahaha...well, Brother...how did this all begin? What inspire you to make a movie?

Nabwana: Really, it was my older brother. he would often sneak into video halls, were we watch movies in Uganda. i was too young but he would go and come back and tell me the stories. movies with action, stars like Buddy Spencer and Chuck Norris. I loved the way he told the stories and made me want to make movies.

Nabwana writing script. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: How do you learn filmmaking? Who teach you special effects, operating camera, using softwares etc.?

Nabwana: It is not easy here in Uganda. Especially 9 years ago when i started. there were very few who had cameras and can teach. i took one month class in computer repair so i could build computers for editing, and worked very hard making bricks to afford a camera. really we taught ourselves. even software like After Effects. internet was poor so were few tutorials. 

Gugun: How do you make your film equipment such like slider, jib, tripod, lighting etc?

Nabwana: that is Dauda Bisaso, an action movie star here but also head builder. he makes all our guns, dolly, jibs, etc. we find scrap metal here in the ghettos, and just build. he finds a design maybe on the internet, and finds a way to make it better.

Gugun: How do you get your film talents? Do they have the same big passion as you?

Nabwana: we all have passion here. many come from very far in Ugandan to make action movies with us. not all of us even speak the same language, but we speak love of film. even Alan Ssali came from New York City to be part pf Wakaliwood

The community. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: How do you all guys learn Kungfu? Who train you? Are you athlete or something coz your Kungfu looks awesome! I know it because I've ever learn Kungfu also hahaha

Nabwana:Bukenya Charles is wakaliwood's Master Sifu. He is Bruce U (uganda's Bruce Lee) in Catain Alex, and Uncle Benon in Return of Uncle Benon (cooming soon). we are childhood friends and grew up together. but he loved kung fu more and i loved movies. he also taught himself by watching movies and magazines from China. now he is part and founder of Uganda's International Kung Fu Team and an action movie star with Wakaliwood!

Wakaliwood kid in action. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: What job do you do to make a living with your family? I know you have been married and have children. Is it difficult to maintain your filmmaking passion while you have to feed your family?

Nabwana: Our movies are made with passion, and vert little money. money is hard to find. for money i sometimes make music videos for musicians, or shoot a wedding or school graduation. it is not much money, but we get by. piracy makes selling films difficult here in Uganda.

Ramon Film Productions, owned by Nabwana. Source: Isaac Nabwana's facebook album.
Gugun: Tell me a little bit about your recent project and what cool thing you offer in that film?

Nabwana: hahaha Tebaatusasula: EBOLA is going to be our 1st international film! we want fans of Wakaliwood and fans of action from all over the world to be part of the film. you can even be a ugandan action movie star without leaving home! just shoot yourselves dying and we put it in the movie. and it is FREE. you can become a Ugandan Action MOvie Star. in fact, some supa fans from indonesia have sent us themselves dying and we already are putting in movie. it is great! 


Gugun: What is your goal in the near future? Are you interested in international festival or what?

Nabwana: yes, we are interested in bringing our films to international, and having people from everywhere come to us in Uganda. but the challenge is money and a visa. we would like to go with our films to film festivals, but difficult to get visas, we have been invited, but so far cannot go.

Gugun: Big thanks, Brother. Now the last thing...could I, Gugun Ekalaya of Wlingiwood family, get your special photo. You photo yourself holding a paper with a message written like this..."From Isaac Nabwana of Wakaliwood to Gugun Ekalaya and Wlingiwood Filmmakers!" :D It will be my treasure hahaha

Nabwana: No problem!!!! hahhahahaha Commando!

Terjemahan lepas Bahasa Indonesia di sini:
http://gugunekalaya.blogspot.com/2015/03/wawancara-dengan-isaac-nabwana-dari.html


See one of their film trailer here:


And this is mini documentary about Isaac Nabwana:





Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved