Yang Terbaru

Review Film Jadul: Krakatau (Sebuah Film Silat Thriller Noir)


Film dimulai dengan gambar gunung Krakatau diiringi musik "Valkyrie" dari Johan Strauss. Musiknya mbajak bukan ya?

Tersebutlah Wiraganda (Dicky Zulkarnaen), salah seorang murid lulusan summa cum laude dari perguruan silat Krakatau. Wira mendapat misi dari perguruannya untuk memanggil pulang seorang mantan murid yang menyimpang. Murid sesat tersebut telah menyalahi sumpah perguruan dan menetap di sebuah daerah bernama Tanjung Kayu. Namun anehnya kini jejaknya seakan lenyap ditelan godzilla. Apalagi hampir semua orang di daerah itu tutup mulut tentangnya.


Film Krakatau
Kredit gambar: jejakandromeda.com

Maka atas petunjuk Biang Terona (Rd Mochtar), kakak seperguruannya, Wiraganda pun memalsu nama menjadi Somad dan berangkat untuk menyelidiki keberadaan si murid sesat tadi. Dia cuma tahu bahwa si murid sesat ini lari dari perguruan untuk membalas dendam pada tuan tanah di Tanjung Kayu. Somad harus menjaga kerahasiaan identitasnya agar si murid sesat tak mencium keberadaannya.

Awal tiba di daerah itu, Somad tanpa sengaja menabrak Putri Pak Penghulu. Akibatnya Somad diganggu begundal-begundal tengil (salah satunya adalah Advent Bangun). Somad pun bisa mengelak dari mereka dengan beberapa trik silat. Pak Penghulu (A.N. Alcaff) merasa cemas kalau-kalau Si Somad ini datang untuk menjajal ilmu di Tanjung Kayu.

Malamnya begundal-begundal tadi ditanyai oleh kaki tangan Tirtaganda, apakah ada orang mencurigakan yang nongol di Tanjung Kayu. Somad pun lantas jadi tertuduh. Tirtaganda, tuan tanah yang berkuasa (Awang Darmawan) adalah seorang pemuda dengan potongan rambut perpaduan ala John Lenon dan Barry Prima yang mempunyai hobi ketawa. “Ahak ahak ahak...ehek ehek ehek...” begitu transkripsinya. Ada hal misterius seputar jatidirinya.

Kemampuan silat Somad membuat orang-orang curiga bahwa Somad lah pelaku pencurian barang milik Tirtaganda. Saat itu si Tirta memang sedang blingsatan karena kehilangan jam saku emas kesayangannya. Demi membersihkan nama baik, Somad pun menangkap pelakunya, Si Gobang (bukan Gobang-nya Barry Prima). Tapi bagaimana Gobang ditangkap oleh Somad atau apa motivasi Gobang mencuri dari Tirtaganda tidak jelas. Seperti ada scene yang terpotong di sini. Pertanyaan ingsun, “Kok berani-beraninya Gobang mencuri dari tuan tanah yang berkuasa dan sakti?” Mungkinkah adegan ini dipotong ama pabrik kasetnya?

Bekas luka pada Si Gobang membuat Tirta penasaran pada Somad. Kecurigaan itu dikuatkan oleh Boding (W.D. Mochtar), orang misterius yang menyamar sebagai perawat kuda di rumah Tirtaganda. Menurut diagnosisnya, luka punya Si Gobang khas akibat jurus para murid perguruan Krakatau. Jadi Tirtaganda menyuruh anak buahnya menguntit terus gerak-gerik Si Somad. Seorang pria bernama Surya (Muni Cader) mulai mendekati Somad sejak ia bisa mengalahkan Si Gobang. Bahkan ia memberi tumpangan nginap pada Somad.

Somad mulai mengorek info lebih banyak dari Pak Penghulu. Sayang Pak Penghulu hanya memberi sedikit clue tentang orang yang Somad cari. Begitu ditanya lebih jauh, ia takut memberi tahu. Pak Penghulu memperingatkan Somad bahwa jika ia terus mencari tahu, maka bahaya akan menimpa semua yang buka mulut. Akibatnya hanya dapat sedikit informasi.

Tirtaganda yang tak nyaman dengan eksistensi Somad mulai cari cara untuk mengusirnya. Ia memprovokasi Surya agar mengusir Somad. Surya bertingkah masa bodo.

Tirtaganda mulai mengusik Surya dengan mengganggu Inah bininya (Debbie Cynthia Dewi). Ternyata Surya tetap masa bodo, membuktikan ketakbecusannya sebagai suami yang bertanggungnancap eh bertanggungjawab. Justru Somad-lah yang lagi-lagi menolongnya. Ia lakukan secara rahasia agar Tirtaganda tak mengetahuinya. Satu anak buah Tirta tewas, lainnya pingsan.

Esoknya di acara pesta pelarungan sesajen Krakatau, Tirtaganda menuduh Somad sebagai pelaku pembunuhan semalam. Somad beralibi agar tak ketahuan. Tiba-tiba datang Surya yang marah-marah pada Tirta karena berani ganggu bininya. Tirtaganda mengelak dan menuduh bahwa pengganggu isteri Surya adalah orang yang sama dengan pembunuh anak buahnya.

Tirtaganda menggertak dengan membunuh seekor kuda. Ia bilang bahwa nasib orang itu akan sama dengan si kuda jika tertangkap nanti. Somad keep cool and never be so mad. Oh my god...kayaknya tuh kuda mati beneran deh. Ingsun tahu loh mana yang special effect dan mana yang bukan. Apalagi nih film jadul. Kepala kerbau dalam film itu juga asli.

Tirta juga menenangkan Surya yang mengancam akan membongkar rahasia Tirta. Ia mengajak Surya minum-minum. Surya pun mengajak Somad untuk ikutan minum. Akan tetapi Somad memilih menjenguk Inah yang katanya keseleo karena diganggu kemarin. Di sini kita tahu bahwa Surya bukan pecundang biasa. Ia tahu beberapa hal penting. Tapi Surya tetaplah pecundang karena dengan mudahnya ia dibungkam dengan ajakan minum.

Inah yang agak horny akan keperkasaan Somad mulai mancing-mancing. Situasi saat itu sedang sepi-sepi mesum. Angin bertiup sepoi-sepoi nafsu. Sengaja ia pingin di-”terapi” oleh Somad dengan pura-pura sakit sembari berbaring cuma pakai kemben. Kembennya juga tidak diikat sehingga sekali tarik bisa langsung “mak blakk gondhal-gandhul”. Untunglah (atau sayangnya) si Somad imannya cukup kuat. Ia tak mau memanfaatkan situasi meskipun Inah ber-body “semok bahenol asoy geboy aduhai semlohai bohai”. Inah pun menghormati keteguhan Somad (meski kita tak tahu apakah Somad ini tunduk di luar tapi “berdiri” di dalam).

Inah lalu keceplosan bicara. ia memberi sedikit clue bahwa ayahnya tahu tentang siapa yang Somad cari di Tanjung Kayu. Sedangkan dari pelaut mabuk yang ia kenal Somad mendapat info yang lain lagi. Katanya, ayah Inah yang mantan centeng di rumah juragan Tirtaganda itu tahu beberapa rahasia di dalamnya. Rupanya orang yang ia cari (si murid sesat dari Krakatau) terlibat di balik kekuasaan juragan Tirtaganda.

Somad menemui ayah Inah yang ternyata sekarat dibunuh seseorang. Saksinya seorang yang berhidung buesar buanget (beneran) berkata bahwa pelakunya adalah orang tua, bukan juragan Tirtaganda. Ketika Somad kembali menemui pelaut tua, nasibnya sama. Mati dibunuh secara misterius.

Meninggalnya sang ayah membuat Inah gusar. Ia memohon Somad agar pergi. Ia tak ingin Somad bernasib sama. Somad menampik. Inah jadi gemes.

Sementara itu lewat SMS (Spiritualy Message Service, layanan pesan gaib semacam telepati), Somad dipesan Biang Terona kakak seperguruannya untuk segera menyelesaikan misi. Krakatau akan meletus. Si murid sesat harus segera ditangkap karena jika tidak ia bisa kabur memanfaatkan situasi.

Inah pun lari ke tempat pertunjukan longser (kayak tayuban) dimana Tirtaganda dan Surya bersenang-senang. Inah mengakui kalau yang menolongnya dan membunuh anak buah Tirta adalah Somad. Tirtaganda pun meemberi dua hadiah pada Inah. Pertama, Tirta membunuh Surya, yang ternyata adalah abang tirinya sendiri. Surya adalah pewaris sah harta yang dikuasai Tirta. Kedua, Tirtaganda akan membunuh Somad. Ia ingin membuktikan bahwa ia lebih hebat dari Somad.

Mengetahui Surya tewas, Somad pun mulai paham bahwa Tirtaganda harus dihentikan. Ketika dicegah oleh Putri Pak Penghulu yang cantik, Somad menjawab, “Si Tirta terlalu zalim, aku wajib melawannya karena aku punya kemampuan...” dengan demikian ia mengucapkan hal yang sehaluan dengan fatwa Ben Parker (Pakliknya Spider-man). Dalam kekuatan yang besar tersimpan sebuah tanggungjawab yang besar.

Somad pun menghampiri Tirtaganda di arena longser. Di sana Tirta sudah kepanasan pingin duel dengan Somad alias Wiraganda. Tirtaganda bersenjatakan cambuk yang bisa menembakkan jarum beracun. Mereka bertarung sengit yang membuat terbunuhnya beberapa orang.

Suasana kacau karena bersamaan dengan itu gunung Krakatau meletus. Penduduk berbondong-bondong menyerbu kediaman Tirtaganda seolah-olah Tirta menimbun sembako. Entah apa yang mau diserbu karena dialog dalam filmnya pun cukup misterius, “Mungkin mereka mau berlindung dari banjir rupanya...atau mungkin karena ada sesuatu yang lain.”

Ibu Tirtaganda yang tak kalah misteriusnya (cuma muncul 2 kali) berkata, “Biarkan mereka masuk! Bukakan pintu gudang dan kemudian kau kunci!“

Kini Somad tahu siapa yang ia cari. Ia tahu hubungan dirinya dengan orang yang ia cari dan Tirtaganda.Tak begitu jelas nasib masing-masing karakter karena ada kejadian baru yang agak twist berpotensi memperpanjang cerita.

Lalu tulisan “TAMAT” mengakhiri film ini degan sebuah ending yang menggantung!

Krakatau adalah film bagus. Teramat bagus untuk genre dan jamannya. Bukan film silat biasa. Lebih tepatnya film silat thriller noir. Tapi sayang endingnya tak tersampaikan dengan struktur yang jelas. Asli bingung deh ingsun mencernanya. Perlu 2 atau 3 kali menonton. Atau jangan-jangan ada bagian yang terpotong oleh pabrik kasetnya?

Oya, penulis cerita ini adalah seorang dewa! Ia adalah Yang Mulia Ganes TH!

REVIEW KRAKATAU (Sandy Suwardy Hassan 1977)

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 28 Desember 2012 pukul 16:36

Film dimulai dengan gambar gunung Krakatau diiringi musik "Valkyrie" dari Johan Strauss. Musiknya mbajak bukan ya?

Tersebutlah Wiraganda (Dicky Zulkarnaen), salah seorang murid lulusan summa cum laude dari perguruan silat Krakatau. Wira mendapat misi dari perguruannya untuk memanggil pulang seorang mantan murid yang menyimpang. Murid sesat tersebut telah menyalahi sumpah perguruan dan menetap di sebuah daerah bernama Tanjung Kayu. Namun anehnya kini jejaknya seakan lenyap ditelan godzilla. Apalagi hampir semua orang di daerah itu tutup mulut tentangnya.


Film Krakatau
Kredit gambar: jejakandromeda.com

Maka atas petunjuk Biang Terona (Rd Mochtar), kakak seperguruannya, Wiraganda pun memalsu nama menjadi Somad dan berangkat untuk menyelidiki keberadaan si murid sesat tadi. Dia cuma tahu bahwa si murid sesat ini lari dari perguruan untuk membalas dendam pada tuan tanah di Tanjung Kayu. Somad harus menjaga kerahasiaan identitasnya agar si murid sesat tak mencium keberadaannya.

Awal tiba di daerah itu, Somad tanpa sengaja menabrak Putri Pak Penghulu. Akibatnya Somad diganggu begundal-begundal tengil (salah satunya adalah Advent Bangun). Somad pun bisa mengelak dari mereka dengan beberapa trik silat. Pak Penghulu (A.N. Alcaff) merasa cemas kalau-kalau Si Somad ini datang untuk menjajal ilmu di Tanjung Kayu.

Malamnya begundal-begundal tadi ditanyai oleh kaki tangan Tirtaganda, apakah ada orang mencurigakan yang nongol di Tanjung Kayu. Somad pun lantas jadi tertuduh. Tirtaganda, tuan tanah yang berkuasa (Awang Darmawan) adalah seorang pemuda dengan potongan rambut perpaduan ala John Lenon dan Barry Prima yang mempunyai hobi ketawa. “Ahak ahak ahak...ehek ehek ehek...” begitu transkripsinya. Ada hal misterius seputar jatidirinya.

Kemampuan silat Somad membuat orang-orang curiga bahwa Somad lah pelaku pencurian barang milik Tirtaganda. Saat itu si Tirta memang sedang blingsatan karena kehilangan jam saku emas kesayangannya. Demi membersihkan nama baik, Somad pun menangkap pelakunya, Si Gobang (bukan Gobang-nya Barry Prima). Tapi bagaimana Gobang ditangkap oleh Somad atau apa motivasi Gobang mencuri dari Tirtaganda tidak jelas. Seperti ada scene yang terpotong di sini. Pertanyaan ingsun, “Kok berani-beraninya Gobang mencuri dari tuan tanah yang berkuasa dan sakti?” Mungkinkah adegan ini dipotong ama pabrik kasetnya?

Bekas luka pada Si Gobang membuat Tirta penasaran pada Somad. Kecurigaan itu dikuatkan oleh Boding (W.D. Mochtar), orang misterius yang menyamar sebagai perawat kuda di rumah Tirtaganda. Menurut diagnosisnya, luka punya Si Gobang khas akibat jurus para murid perguruan Krakatau. Jadi Tirtaganda menyuruh anak buahnya menguntit terus gerak-gerik Si Somad. Seorang pria bernama Surya (Muni Cader) mulai mendekati Somad sejak ia bisa mengalahkan Si Gobang. Bahkan ia memberi tumpangan nginap pada Somad.

Somad mulai mengorek info lebih banyak dari Pak Penghulu. Sayang Pak Penghulu hanya memberi sedikit clue tentang orang yang Somad cari. Begitu ditanya lebih jauh, ia takut memberi tahu. Pak Penghulu memperingatkan Somad bahwa jika ia terus mencari tahu, maka bahaya akan menimpa semua yang buka mulut. Akibatnya hanya dapat sedikit informasi.

Tirtaganda yang tak nyaman dengan eksistensi Somad mulai cari cara untuk mengusirnya. Ia memprovokasi Surya agar mengusir Somad. Surya bertingkah masa bodo.

Tirtaganda mulai mengusik Surya dengan mengganggu Inah bininya (Debbie Cynthia Dewi). Ternyata Surya tetap masa bodo, membuktikan ketakbecusannya sebagai suami yang bertanggungnancap eh bertanggungjawab. Justru Somad-lah yang lagi-lagi menolongnya. Ia lakukan secara rahasia agar Tirtaganda tak mengetahuinya. Satu anak buah Tirta tewas, lainnya pingsan.

Esoknya di acara pesta pelarungan sesajen Krakatau, Tirtaganda menuduh Somad sebagai pelaku pembunuhan semalam. Somad beralibi agar tak ketahuan. Tiba-tiba datang Surya yang marah-marah pada Tirta karena berani ganggu bininya. Tirtaganda mengelak dan menuduh bahwa pengganggu isteri Surya adalah orang yang sama dengan pembunuh anak buahnya.

Tirtaganda menggertak dengan membunuh seekor kuda. Ia bilang bahwa nasib orang itu akan sama dengan si kuda jika tertangkap nanti. Somad keep cool and never be so mad. Oh my god...kayaknya tuh kuda mati beneran deh. Ingsun tahu loh mana yang special effect dan mana yang bukan. Apalagi nih film jadul. Kepala kerbau dalam film itu juga asli.

Tirta juga menenangkan Surya yang mengancam akan membongkar rahasia Tirta. Ia mengajak Surya minum-minum. Surya pun mengajak Somad untuk ikutan minum. Akan tetapi Somad memilih menjenguk Inah yang katanya keseleo karena diganggu kemarin. Di sini kita tahu bahwa Surya bukan pecundang biasa. Ia tahu beberapa hal penting. Tapi Surya tetaplah pecundang karena dengan mudahnya ia dibungkam dengan ajakan minum.

Inah yang agak horny akan keperkasaan Somad mulai mancing-mancing. Situasi saat itu sedang sepi-sepi mesum. Angin bertiup sepoi-sepoi nafsu. Sengaja ia pingin di-”terapi” oleh Somad dengan pura-pura sakit sembari berbaring cuma pakai kemben. Kembennya juga tidak diikat sehingga sekali tarik bisa langsung “mak blakk gondhal-gandhul”. Untunglah (atau sayangnya) si Somad imannya cukup kuat. Ia tak mau memanfaatkan situasi meskipun Inah ber-body “semok bahenol asoy geboy aduhai semlohai bohai”. Inah pun menghormati keteguhan Somad (meski kita tak tahu apakah Somad ini tunduk di luar tapi “berdiri” di dalam).

Inah lalu keceplosan bicara. ia memberi sedikit clue bahwa ayahnya tahu tentang siapa yang Somad cari di Tanjung Kayu. Sedangkan dari pelaut mabuk yang ia kenal Somad mendapat info yang lain lagi. Katanya, ayah Inah yang mantan centeng di rumah juragan Tirtaganda itu tahu beberapa rahasia di dalamnya. Rupanya orang yang ia cari (si murid sesat dari Krakatau) terlibat di balik kekuasaan juragan Tirtaganda.

Somad menemui ayah Inah yang ternyata sekarat dibunuh seseorang. Saksinya seorang yang berhidung buesar buanget (beneran) berkata bahwa pelakunya adalah orang tua, bukan juragan Tirtaganda. Ketika Somad kembali menemui pelaut tua, nasibnya sama. Mati dibunuh secara misterius.

Meninggalnya sang ayah membuat Inah gusar. Ia memohon Somad agar pergi. Ia tak ingin Somad bernasib sama. Somad menampik. Inah jadi gemes.

Sementara itu lewat SMS (Spiritualy Message Service, layanan pesan gaib semacam telepati), Somad dipesan Biang Terona kakak seperguruannya untuk segera menyelesaikan misi. Krakatau akan meletus. Si murid sesat harus segera ditangkap karena jika tidak ia bisa kabur memanfaatkan situasi.

Inah pun lari ke tempat pertunjukan longser (kayak tayuban) dimana Tirtaganda dan Surya bersenang-senang. Inah mengakui kalau yang menolongnya dan membunuh anak buah Tirta adalah Somad. Tirtaganda pun meemberi dua hadiah pada Inah. Pertama, Tirta membunuh Surya, yang ternyata adalah abang tirinya sendiri. Surya adalah pewaris sah harta yang dikuasai Tirta. Kedua, Tirtaganda akan membunuh Somad. Ia ingin membuktikan bahwa ia lebih hebat dari Somad.

Mengetahui Surya tewas, Somad pun mulai paham bahwa Tirtaganda harus dihentikan. Ketika dicegah oleh Putri Pak Penghulu yang cantik, Somad menjawab, “Si Tirta terlalu zalim, aku wajib melawannya karena aku punya kemampuan...” dengan demikian ia mengucapkan hal yang sehaluan dengan fatwa Ben Parker (Pakliknya Spider-man). Dalam kekuatan yang besar tersimpan sebuah tanggungjawab yang besar.

Somad pun menghampiri Tirtaganda di arena longser. Di sana Tirta sudah kepanasan pingin duel dengan Somad alias Wiraganda. Tirtaganda bersenjatakan cambuk yang bisa menembakkan jarum beracun. Mereka bertarung sengit yang membuat terbunuhnya beberapa orang.

Suasana kacau karena bersamaan dengan itu gunung Krakatau meletus. Penduduk berbondong-bondong menyerbu kediaman Tirtaganda seolah-olah Tirta menimbun sembako. Entah apa yang mau diserbu karena dialog dalam filmnya pun cukup misterius, “Mungkin mereka mau berlindung dari banjir rupanya...atau mungkin karena ada sesuatu yang lain.”

Ibu Tirtaganda yang tak kalah misteriusnya (cuma muncul 2 kali) berkata, “Biarkan mereka masuk! Bukakan pintu gudang dan kemudian kau kunci!“

Kini Somad tahu siapa yang ia cari. Ia tahu hubungan dirinya dengan orang yang ia cari dan Tirtaganda.Tak begitu jelas nasib masing-masing karakter karena ada kejadian baru yang agak twist berpotensi memperpanjang cerita.

Lalu tulisan “TAMAT” mengakhiri film ini degan sebuah ending yang menggantung!

Krakatau adalah film bagus. Teramat bagus untuk genre dan jamannya. Bukan film silat biasa. Lebih tepatnya film silat thriller noir. Tapi sayang endingnya tak tersampaikan dengan struktur yang jelas. Asli bingung deh ingsun mencernanya. Perlu 2 atau 3 kali menonton. Atau jangan-jangan ada bagian yang terpotong oleh pabrik kasetnya?

Oya, penulis cerita ini adalah seorang dewa! Ia adalah Yang Mulia Ganes TH!

REVIEW KRAKATAU (Sandy Suwardy Hassan 1977)

Oleh: Gugun Arief Gunawan
Dikirim di grup Facebook Obrolan Layar Lebar
Tertanggal 28 Desember 2012 pukul 16:36
Baca

SAKTI, Sebuah Film Indie dengan Sedikit Ambisi

Artikelnya panjang, bro...siapin kopi sana dulu gih...

Yakkk mulai!


SAKTI (2012)
5 orang gadis yang tidak saling mengenal terlibat dalam sebuah kejadian yang pelik. Ada Ratih, remaja yang memiliki paku-paku di dalam tubuhnya. Ada Dyah, wartawan muda yang membuat blingsatan seorang pejabat korup. Ada Sasmi, gadis putus sekolah yang ingin jadi penari namun malah terjebak dalam perdagangan manusia. Ada pula gadis lepas dari pusat rehabilitasi mental lalu menjadi pendekar dadakan. Terakhir ada Asih, gadis misterius dengan kekuatan api. Sebuah film superhero Jawa baru yang mungkin belum pernah anda saksikan di mana-mana...

(Sebuah catatan pengusir kejenuhan di sela-sela paska produksi)

Oleh: Cak Gugun

SAKTI adalah film panjang ketiga saya. Ceritanya adalah tentang beberapa orang yang “mendadak” memiliki kesaktian. Mereka yang tidak saling kenal itu kemudian terhubung dalam sebuah kejadian dalam hidup mereka. Terus terang saya mengambil sedikit struktur narasi dari film Amores Perros dan Babel (karya Alejandro González Iñárritu). Melihat sekilas tampilan SAKTI, banyak yang menyangka ini adalah film tentang mutant ala X-Men. Terlepas dari bahwa film ini semacam tribute buat Stan Lee (kreator X-Men) dan beberapa komikus nasional, film ini bukan tentang mutant. Kesaktian para karakternya tidak berasal dari evolusi genetik, bukan karena mantra, bukan karena karakternya alien dari planet lain dan juga bukan karena rekayasa teknologi. Jadi darimana kesaktian mereka berasal? Hmmm...tunggu aja filmnya. No spoiler please!

Film SAKTI berawal dari sebuah “ambisi kecil” untuk mengekspresikan kesukaan saya terhadap 3 hal. Hal itu adalah: beladiri, superhero dan visual effect. Karena ini adalah film laga, beberapa rekan mungkin khawatir bahwa saya bakal terjebak dalam semacam showreel koreografi saja. Saya usahakan hal itu tidak terjadi karena bagi saya semua genre film haruslah memiliki struktur dramatik, ada cerita yang mau disampaikan. Penonton tak cuma dihibur dengan keindahan koreografi saja tapi ada karakter yang membuat mereka bersimpati dalam menonton. Film-film laga yang banyak saya kenang adalah yang karakternya meyakinkan. Kita terlibat secara emosional dengan si karakter. Kita seakan ikut memberi dukungan moral agar si karakter menang dalam pertarungan. Kita juga akan ikut membenci si tokoh jahat karena aktingnya yang meyakinkan.

Film ini terwujud berkat kerja keras tim SAANANE KineProject dari Sanggar SAANANE bersama BARA Film (dua komunitas tempat saya berkiprah selama 4 tahun belakangan ini). Saya beruntung berada dalam komunitas kreatif yang kami bangun bersama-sama di kampung halaman ini. Karena komunitas tersebut lah film ini memungkinkan dibuat dengan sangat rendah biaya (bahkan nyaris nol) dan dalam waktu yang relatif singkat untuk sebuah film panjang.

Berbeda dengan film saya sebelumnya yang lebih banyak unsur coba-coba dan main-mainnya (saya akui itu), SAKTI adalah karya yang saya buat dengan lebih serius. Saya menghabiskan berlembar-lembar draft awal skenario, ada sekitar 17 draft yang masing-masing draft terdiri dari antara 70 sampai 90 halaman. Saya juga harus melatih aktor pemula baik untuk akting maupun koreografi kurang lebih selama 3 bulan. Pengambilan gambarnya kurang lebih memakan waktu 40 hari dengan jadwal yang sangat padat. Saat saya menulis ini bahkan filmnya belum selesai, yaitu sedang pada masa paska produksi di mana saya membuat visual effect dengan komputer. Ini adalah masa-masa paling melelahkan otak dan saya perlu refreshing dengan menulis seperti ini.

Ada banyak hal yang kami hadapi dalam membuat film ini. Ada saja aral mulai dari kondisi cuaca, kondisi lokasi, kondisi mental pemain dan kru dan juga kesalahan pengambilan gambar yang harus diulang-ulang. Dalam membuat film indie yang nyaris tanpa biaya, banyak hal menjadi tak terkendali. Misalnya, karena kami memakai lokasi umum yang tak ditutup maka kami harus mengambil gambar secepatnya. Jika tidak maka akan banyak gangguan dari orang lewat atau masyarakat yang menonton.

Kalau bisa syuting tiap adegan sebaiknya diselesaikan dalam satu hari. Kalau tidak, maka lain hari kemungkinan akan banyak perubahan di lokasi. Hal ini akan mengancam kontinuitas gambar (continuity). Bisa saja cuaca tak memungkinkan untuk shooting. Bisa saja ada barang yang berpindah dari lokasi. Contohnya, kami pernah mengambil gambar adegan laga selama 4 hari di lokasi yang tak terkontrol. Mendadak ada mobil di salah satu sudut lokasi. Mendadak backgroundnya terdapat tumpukan bambu-bambu panjang. Bagaimana mengakalinya? Apakah kita harus cari pemilik mobil atau bambu tadi kemudian memohonnya agar menyingkirkan semua benda itu?

Salah satu adegan laga
Itu sulit. Kami hanya punya waktu 2 jam untuk shooting. 2 jam itu sedikit untuk mengambil gambar adegan laga. Satu koreografi bisa kami ulang take sebanyak 5 sampai 10 kali. Apalagi kru di lapangan sedikit dan dirangkap.

Jika gambarnya dishot steady, mungkin bisa pakai matte painting saat paska produksi, tapi adegan laga gambarnya dinamik sekali. Dengan begitu satu-satunya cara yang aman dan nyaman adalah dengan mengakali angle kamera. Dalam hal ini script supervisor (yang mengawasi continuity) harus bertugas dengan cermat membantu sutradara dan kameramen mengambil gambar yang aman. Nah, hemat waktu dan tenaga!

Karena film indie ini tak berbiaya akibatnya kami juga tak punya posisi tawar yang kuat ketika ada aktor mundur mendadak dari tim atau membatalkan acara shooting tanpa konfirmasi jauh-jauh hari. Jika ini terjadi saya terpaksa mengubah naskah. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah maka saya terpaksa melakukan compositing agar dia tetap bisa berada dalam adegan yang diambil hari itu. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun mengandung unsur superhero, beladiri dan visual effect dalam kadar lumayan, saya ingin film ini cukup membumi. Saya berpikir bahwa penceritaan dan akting para pemain film ini haruslah diutamakan daripada sinematografi. Ini berangkat dari pengalaman saya dalam mengapresiasi film indie nasional. Saya melihat banyak film indie dibuat dengan gambar bagus tapi gagal menyentuh hati penonton karena hanya berkutat pada visual seraya mengabaikan cara bertutur.

Untuk alasan itu maka saya memutuskan bahwa mayoritas dialog dilakukan dalam bahasa ibu para aktornya yaitu Jawa. Saya menjadi tidak nyaman melihat kenyataan kebanyakan film indie daerah mengunakan bahasa Indonesia yang “medok”, tidak alami. Banyak yang menggunakan logat Jakarta yang jauh dari alam keseharian pemainnya. Belum lagi kejadian-kejadian dalam adegan yang kaku. Saya merasa menonton sebuah latian drama daripada merasakan film yang sesungguhnya.

Dialog dalam Film Sakti menggunakan bahasa Jawa
Dialog pemain menggunakan bahasa Jawa
Tentu saja bagi kami tantangannya adalah bagaimana aktor bisa natural dalam berakting bahasa Jawa tanpa terkesan main ludruk atau ketoprak. Kesan natural bisa dicapai jika aktor bisa rileks dalam berakting. Sebelumnya saya memberitahu pada mereka perbedaan akting untuk teater dan film. Saya ambil cara yang efektif untuk mengarahkan aktor di lapangan. Misalnya untuk adegan menangis, saya tidak mengintruksikan teori-teori akting pada pemain. Cukup saya ajak bicara secara pribadi untuk membayangkan kisah menyedihkan yang pernah atau bisa saja ia alami. Hasilnya, aktor jadi sedih beneran dan saya langsung instruksikan, “Camera rolling....action!”. Tentu saja dengan nada sedih agar mood aktor terjaga.

salah satu adegan Film Sakti
Sungguh sulit untuk menciptakan adegan menangis yang mengena, tidak berlebihan
SAKTI merupakan film genre campuran. Ada drama, ada laga dan ada visual effect. Koreografi beladiri adalah salah satu hal yang ingin saya tampilkan. Saya adalah anak yang besar dari menonton film-film silat Indonesia, laga Mandarin dan banyak baca komik. Semua asupan estetis yang saya dapat dari situ ingin saya ungkapkan dalam film ini. Superhero, meskipun punya kekuatan sakti, dia tetap harus bersilat. Itu akan menjadikan dia beda dengan superhero versi Amerika yang lebih mengandalkan kesaktian.

Untuk membuat adegan pertarungan yang bagus secara visual, saya dan tim saya melatih para aktor selama 3 bulan. Kami meramu gerakan-gerakan terbaik dari beberapa style beladiri. Untuk membiasakan aktor pemula terhadap gerakan-gerakan koreografi, saya melatih beberapa drill khusus untuk mereka. Memang susah jika kita harus melatih pemula dari dasar sekali. Maka saat casting kita memilih aktor yang punya kecerdasan tubuh lebih. Yang tak kalah penting, saya memberitahu perbedaan antara beladiri yang aplikatif dengan beladiri untuk koreografi film.

koreografi film Sakti
Proses latihan koreografi langsung dilakukan di lokasi shooting

Instruksi sutradara
Instruksi sutradara untuk adegan laga di tempat sempit
(kurang dari 1 meter)
Pengambilan gambar film Sakti
Pengambilan gambar. Saya pegang kamera,
boom siap di posisi dan clapper siap di-klak.
Camera rolling...and...action!
Lighting film Sakti
Lighting hemat: lampu 100 watt (Rp. 5000)
ditempel di tutup dandang (gratis minjem)
Filter lampu Film Sakti
Untuk filter lampu biar redup, tutupi dengan kaos
(kaos punya saya...tidak mungkin punya aktrisnya)
Kemudian, tentang visual effect. Ada banyak visual effect di film ini. Saya ingin mengusahakan agar terlihat lebih mending daripada sinetron laga di TV nasional. Adegan melempar api dan paku keluar dari tubuh dilakukan dengan teknik chroma key dan animasi. Beberapa adegan memerlukan green screen yang harus digarap dengan teliti dan telaten. Saya harus mengedit compositing gambar chroma key frame by frame gara-gara saya belum bisa menggunakan software motion tracking. Ini adalah saat-saat paling melelahkan dan menjemukan. Bayangkan! Adegan selama 30 detik (artinya ada 25 gambar/frame dikali 30) bisa memakan waktu 5 hari dalam pengerjaannya. Apalagi saya mengarapnya sendirian karena kebanyakan kawan kru belum bisa teknik ini. Saya bahkan kehilangan 1 harddisk (crash) untuk merendernya.

concept art film Sakti
Concept art untuk salah satu karakter di film SAKTI
Visual effect paku
Visual effect paku-paku keluar dari wajah
Visual api
Visual effect api
Untuk merekayasa background agar sesuai dengan naskah, saya memakai teknik matte painting. Ini adalah teknik sederhana yang bisa dilakukan dengan software photo editing semacam Photoshop. Sebuah teknik yang murah dan efektif. Memadai untuk saya yang cuma memakai komputer Pentium 4 (sudah kuno untuk jaman ini). Dengan matte painting kita bisa menciptakan lebih banyak kemungkinan lokasi di sekitar kita. Anda butuh shooting dengan background gedung-gedung tinggi yang tak tersedia di daerah anda? Jika anda menguasai teknik ini maka hal itu bisa anda rekayasa.

Rekayasa warna film
Adegan lab dengan warna yang sudah di-grading kebiruan
untuk kesan scientific
Terakhir, saya sering menghadapi pertanyaan: Mau dikemanakan film ini? Pertanyaan umum untuk film indie. Sejauh ini film kami hanya diputar di komunitas dan sekolah. Mau dibawa ke festival? Mau dijual ke produser? Mau diupload saja di internet?

Saya hanya bisa memimpikan. Suatu saat akan ada bioskop film khusus indie. Para indie filmmaker mendapat peluang berkarya dan memutar filmnya sepanjang tahun. Ada sponsorship yang bisa membiayai kegiatan itu sehingga seorang indie filmmaker bisa hidup dengan berprofesi sebagai INDIE FILMMAKER. Mungkinkah ini terjadi? Tentu saja mungkin...tapi dalam film.

Bioskop Film Indie
Bioskop khusus film indie. Sebuah mimpi...saja.
Ah, saya terlalu pusing memikirkannya. Apalagi saat saya sedang menggarap visual effect yang frame by frame ini. Saya cuma bisa bermimpi. Bagi saya membuat film sudah merupakan naluri berekspresi yang sering bertentangan dengan kebutuhan menjadi manusia normal berkecukupan ekonomis finansial. Nah, saya balik ke meja editing lagi ya...
Artikelnya panjang, bro...siapin kopi sana dulu gih...

Yakkk mulai!


SAKTI (2012)
5 orang gadis yang tidak saling mengenal terlibat dalam sebuah kejadian yang pelik. Ada Ratih, remaja yang memiliki paku-paku di dalam tubuhnya. Ada Dyah, wartawan muda yang membuat blingsatan seorang pejabat korup. Ada Sasmi, gadis putus sekolah yang ingin jadi penari namun malah terjebak dalam perdagangan manusia. Ada pula gadis lepas dari pusat rehabilitasi mental lalu menjadi pendekar dadakan. Terakhir ada Asih, gadis misterius dengan kekuatan api. Sebuah film superhero Jawa baru yang mungkin belum pernah anda saksikan di mana-mana...

(Sebuah catatan pengusir kejenuhan di sela-sela paska produksi)

Oleh: Cak Gugun

SAKTI adalah film panjang ketiga saya. Ceritanya adalah tentang beberapa orang yang “mendadak” memiliki kesaktian. Mereka yang tidak saling kenal itu kemudian terhubung dalam sebuah kejadian dalam hidup mereka. Terus terang saya mengambil sedikit struktur narasi dari film Amores Perros dan Babel (karya Alejandro González Iñárritu). Melihat sekilas tampilan SAKTI, banyak yang menyangka ini adalah film tentang mutant ala X-Men. Terlepas dari bahwa film ini semacam tribute buat Stan Lee (kreator X-Men) dan beberapa komikus nasional, film ini bukan tentang mutant. Kesaktian para karakternya tidak berasal dari evolusi genetik, bukan karena mantra, bukan karena karakternya alien dari planet lain dan juga bukan karena rekayasa teknologi. Jadi darimana kesaktian mereka berasal? Hmmm...tunggu aja filmnya. No spoiler please!

Film SAKTI berawal dari sebuah “ambisi kecil” untuk mengekspresikan kesukaan saya terhadap 3 hal. Hal itu adalah: beladiri, superhero dan visual effect. Karena ini adalah film laga, beberapa rekan mungkin khawatir bahwa saya bakal terjebak dalam semacam showreel koreografi saja. Saya usahakan hal itu tidak terjadi karena bagi saya semua genre film haruslah memiliki struktur dramatik, ada cerita yang mau disampaikan. Penonton tak cuma dihibur dengan keindahan koreografi saja tapi ada karakter yang membuat mereka bersimpati dalam menonton. Film-film laga yang banyak saya kenang adalah yang karakternya meyakinkan. Kita terlibat secara emosional dengan si karakter. Kita seakan ikut memberi dukungan moral agar si karakter menang dalam pertarungan. Kita juga akan ikut membenci si tokoh jahat karena aktingnya yang meyakinkan.

Film ini terwujud berkat kerja keras tim SAANANE KineProject dari Sanggar SAANANE bersama BARA Film (dua komunitas tempat saya berkiprah selama 4 tahun belakangan ini). Saya beruntung berada dalam komunitas kreatif yang kami bangun bersama-sama di kampung halaman ini. Karena komunitas tersebut lah film ini memungkinkan dibuat dengan sangat rendah biaya (bahkan nyaris nol) dan dalam waktu yang relatif singkat untuk sebuah film panjang.

Berbeda dengan film saya sebelumnya yang lebih banyak unsur coba-coba dan main-mainnya (saya akui itu), SAKTI adalah karya yang saya buat dengan lebih serius. Saya menghabiskan berlembar-lembar draft awal skenario, ada sekitar 17 draft yang masing-masing draft terdiri dari antara 70 sampai 90 halaman. Saya juga harus melatih aktor pemula baik untuk akting maupun koreografi kurang lebih selama 3 bulan. Pengambilan gambarnya kurang lebih memakan waktu 40 hari dengan jadwal yang sangat padat. Saat saya menulis ini bahkan filmnya belum selesai, yaitu sedang pada masa paska produksi di mana saya membuat visual effect dengan komputer. Ini adalah masa-masa paling melelahkan otak dan saya perlu refreshing dengan menulis seperti ini.

Ada banyak hal yang kami hadapi dalam membuat film ini. Ada saja aral mulai dari kondisi cuaca, kondisi lokasi, kondisi mental pemain dan kru dan juga kesalahan pengambilan gambar yang harus diulang-ulang. Dalam membuat film indie yang nyaris tanpa biaya, banyak hal menjadi tak terkendali. Misalnya, karena kami memakai lokasi umum yang tak ditutup maka kami harus mengambil gambar secepatnya. Jika tidak maka akan banyak gangguan dari orang lewat atau masyarakat yang menonton.

Kalau bisa syuting tiap adegan sebaiknya diselesaikan dalam satu hari. Kalau tidak, maka lain hari kemungkinan akan banyak perubahan di lokasi. Hal ini akan mengancam kontinuitas gambar (continuity). Bisa saja cuaca tak memungkinkan untuk shooting. Bisa saja ada barang yang berpindah dari lokasi. Contohnya, kami pernah mengambil gambar adegan laga selama 4 hari di lokasi yang tak terkontrol. Mendadak ada mobil di salah satu sudut lokasi. Mendadak backgroundnya terdapat tumpukan bambu-bambu panjang. Bagaimana mengakalinya? Apakah kita harus cari pemilik mobil atau bambu tadi kemudian memohonnya agar menyingkirkan semua benda itu?

Salah satu adegan laga
Itu sulit. Kami hanya punya waktu 2 jam untuk shooting. 2 jam itu sedikit untuk mengambil gambar adegan laga. Satu koreografi bisa kami ulang take sebanyak 5 sampai 10 kali. Apalagi kru di lapangan sedikit dan dirangkap.

Jika gambarnya dishot steady, mungkin bisa pakai matte painting saat paska produksi, tapi adegan laga gambarnya dinamik sekali. Dengan begitu satu-satunya cara yang aman dan nyaman adalah dengan mengakali angle kamera. Dalam hal ini script supervisor (yang mengawasi continuity) harus bertugas dengan cermat membantu sutradara dan kameramen mengambil gambar yang aman. Nah, hemat waktu dan tenaga!

Karena film indie ini tak berbiaya akibatnya kami juga tak punya posisi tawar yang kuat ketika ada aktor mundur mendadak dari tim atau membatalkan acara shooting tanpa konfirmasi jauh-jauh hari. Jika ini terjadi saya terpaksa mengubah naskah. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah maka saya terpaksa melakukan compositing agar dia tetap bisa berada dalam adegan yang diambil hari itu. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun mengandung unsur superhero, beladiri dan visual effect dalam kadar lumayan, saya ingin film ini cukup membumi. Saya berpikir bahwa penceritaan dan akting para pemain film ini haruslah diutamakan daripada sinematografi. Ini berangkat dari pengalaman saya dalam mengapresiasi film indie nasional. Saya melihat banyak film indie dibuat dengan gambar bagus tapi gagal menyentuh hati penonton karena hanya berkutat pada visual seraya mengabaikan cara bertutur.

Untuk alasan itu maka saya memutuskan bahwa mayoritas dialog dilakukan dalam bahasa ibu para aktornya yaitu Jawa. Saya menjadi tidak nyaman melihat kenyataan kebanyakan film indie daerah mengunakan bahasa Indonesia yang “medok”, tidak alami. Banyak yang menggunakan logat Jakarta yang jauh dari alam keseharian pemainnya. Belum lagi kejadian-kejadian dalam adegan yang kaku. Saya merasa menonton sebuah latian drama daripada merasakan film yang sesungguhnya.

Dialog dalam Film Sakti menggunakan bahasa Jawa
Dialog pemain menggunakan bahasa Jawa
Tentu saja bagi kami tantangannya adalah bagaimana aktor bisa natural dalam berakting bahasa Jawa tanpa terkesan main ludruk atau ketoprak. Kesan natural bisa dicapai jika aktor bisa rileks dalam berakting. Sebelumnya saya memberitahu pada mereka perbedaan akting untuk teater dan film. Saya ambil cara yang efektif untuk mengarahkan aktor di lapangan. Misalnya untuk adegan menangis, saya tidak mengintruksikan teori-teori akting pada pemain. Cukup saya ajak bicara secara pribadi untuk membayangkan kisah menyedihkan yang pernah atau bisa saja ia alami. Hasilnya, aktor jadi sedih beneran dan saya langsung instruksikan, “Camera rolling....action!”. Tentu saja dengan nada sedih agar mood aktor terjaga.

salah satu adegan Film Sakti
Sungguh sulit untuk menciptakan adegan menangis yang mengena, tidak berlebihan
SAKTI merupakan film genre campuran. Ada drama, ada laga dan ada visual effect. Koreografi beladiri adalah salah satu hal yang ingin saya tampilkan. Saya adalah anak yang besar dari menonton film-film silat Indonesia, laga Mandarin dan banyak baca komik. Semua asupan estetis yang saya dapat dari situ ingin saya ungkapkan dalam film ini. Superhero, meskipun punya kekuatan sakti, dia tetap harus bersilat. Itu akan menjadikan dia beda dengan superhero versi Amerika yang lebih mengandalkan kesaktian.

Untuk membuat adegan pertarungan yang bagus secara visual, saya dan tim saya melatih para aktor selama 3 bulan. Kami meramu gerakan-gerakan terbaik dari beberapa style beladiri. Untuk membiasakan aktor pemula terhadap gerakan-gerakan koreografi, saya melatih beberapa drill khusus untuk mereka. Memang susah jika kita harus melatih pemula dari dasar sekali. Maka saat casting kita memilih aktor yang punya kecerdasan tubuh lebih. Yang tak kalah penting, saya memberitahu perbedaan antara beladiri yang aplikatif dengan beladiri untuk koreografi film.

koreografi film Sakti
Proses latihan koreografi langsung dilakukan di lokasi shooting

Instruksi sutradara
Instruksi sutradara untuk adegan laga di tempat sempit
(kurang dari 1 meter)
Pengambilan gambar film Sakti
Pengambilan gambar. Saya pegang kamera,
boom siap di posisi dan clapper siap di-klak.
Camera rolling...and...action!
Lighting film Sakti
Lighting hemat: lampu 100 watt (Rp. 5000)
ditempel di tutup dandang (gratis minjem)
Filter lampu Film Sakti
Untuk filter lampu biar redup, tutupi dengan kaos
(kaos punya saya...tidak mungkin punya aktrisnya)
Kemudian, tentang visual effect. Ada banyak visual effect di film ini. Saya ingin mengusahakan agar terlihat lebih mending daripada sinetron laga di TV nasional. Adegan melempar api dan paku keluar dari tubuh dilakukan dengan teknik chroma key dan animasi. Beberapa adegan memerlukan green screen yang harus digarap dengan teliti dan telaten. Saya harus mengedit compositing gambar chroma key frame by frame gara-gara saya belum bisa menggunakan software motion tracking. Ini adalah saat-saat paling melelahkan dan menjemukan. Bayangkan! Adegan selama 30 detik (artinya ada 25 gambar/frame dikali 30) bisa memakan waktu 5 hari dalam pengerjaannya. Apalagi saya mengarapnya sendirian karena kebanyakan kawan kru belum bisa teknik ini. Saya bahkan kehilangan 1 harddisk (crash) untuk merendernya.

concept art film Sakti
Concept art untuk salah satu karakter di film SAKTI
Visual effect paku
Visual effect paku-paku keluar dari wajah
Visual api
Visual effect api
Untuk merekayasa background agar sesuai dengan naskah, saya memakai teknik matte painting. Ini adalah teknik sederhana yang bisa dilakukan dengan software photo editing semacam Photoshop. Sebuah teknik yang murah dan efektif. Memadai untuk saya yang cuma memakai komputer Pentium 4 (sudah kuno untuk jaman ini). Dengan matte painting kita bisa menciptakan lebih banyak kemungkinan lokasi di sekitar kita. Anda butuh shooting dengan background gedung-gedung tinggi yang tak tersedia di daerah anda? Jika anda menguasai teknik ini maka hal itu bisa anda rekayasa.

Rekayasa warna film
Adegan lab dengan warna yang sudah di-grading kebiruan
untuk kesan scientific
Terakhir, saya sering menghadapi pertanyaan: Mau dikemanakan film ini? Pertanyaan umum untuk film indie. Sejauh ini film kami hanya diputar di komunitas dan sekolah. Mau dibawa ke festival? Mau dijual ke produser? Mau diupload saja di internet?

Saya hanya bisa memimpikan. Suatu saat akan ada bioskop film khusus indie. Para indie filmmaker mendapat peluang berkarya dan memutar filmnya sepanjang tahun. Ada sponsorship yang bisa membiayai kegiatan itu sehingga seorang indie filmmaker bisa hidup dengan berprofesi sebagai INDIE FILMMAKER. Mungkinkah ini terjadi? Tentu saja mungkin...tapi dalam film.

Bioskop Film Indie
Bioskop khusus film indie. Sebuah mimpi...saja.
Ah, saya terlalu pusing memikirkannya. Apalagi saat saya sedang menggarap visual effect yang frame by frame ini. Saya cuma bisa bermimpi. Bagi saya membuat film sudah merupakan naluri berekspresi yang sering bertentangan dengan kebutuhan menjadi manusia normal berkecukupan ekonomis finansial. Nah, saya balik ke meja editing lagi ya...
Baca

Nightmare Before Christmas: Masterpiece Film Animasi Stopmotion

Tim Burton, walau film-filmnya jarang meledak di pasaran namun telah memiliki penggemar yang cukup fanatik. Saya boleh juga didaftar untuk dimasukkan ke situ.

Bagi saya Nightmare Before Christmas tak sekadar merupakan masterpiece film Tim Burton semata namun juga masterpiece untuk genre film animasi stopmotion. Sesungguhnya film ini bukan disutradarai oleh Tim Burton sendiri melainkan oleh Henry Sellick, seorang animator berbakat yang entah kenapa tak terdengar lagi gaungnya. Dalam film ini Tim Burton berlaku sebagai penulis cerita.

Nightmare Before Christmas

Cerita dibuka lewat Jack Skelington, sesosok makhluk berwujud tengkorak yang hidup di sebuah dunia yang suram. Jack merasa bosan dengan Halloween yang dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia merasa hampa dan lalu berjalan-jalan sendirian. Kemudian ia terperosok ke dalam dunia yang lain dengan dunianya. Dunia yang penuh warna di mana para makhluk di situ sedang merayakan natal. Jack heran lalu menyelidiki tentang apa itu hari natal. Dari situ Jack mendapatkan ide untuk ikut merayakan natal di sana dengan caranya sendiri. Jack memakai ide-ide seram yang biasanya ia pakai saat Halloween untuk untuk merayakan natal di kota manusia. Sally sesosok makhluk yang bersimpati pada Jack berusaha mencegah namun Jack tetap tak tergoyahkan. Pertama Jack menculik Santa Klaus dan kemudian menyamar sebagai dirinya. Tak seperti yang ia perkirakan, perayaan natal yang dibawanya menjadi bencana bagi kota. Jack pun dimusuhi oleh para manusia yang menganggapnya sebagai biang bencana.

Film ini bercerita dengan gaya yang sungguh tak lazim saat itu. Boneka-boneka berwajah horor yang membawa sebuah cerita jenaka dalam suasana suram (yang merupakan khas Burton). Secara visual Nightmare Before Christmas adalah film dengan tata artistik luar biasa. Film ini digarap dengan teknik stopmotion di mana para animator menggerakkan boneka secara manual lalu dipotret satu persatu. Hasilnya, film ini menjadi begitu unik dan tak tertandingi bahkan oleh animasi CGI sekalipun. Perhatikan karakter Jack Skelington yang aneh. Sesosok tengkorak hidup yang bisa bergerak seperti laba-laba. Sosok yang tak punya bola mata tetapi ekspresi wajahnya begitu hidup. Namun sayangnya cerita yang dibangun terasa sangat lemah. Tak dijelaskan kenapa kebosanan Jack dengan Halloween begitu penting untuk dijadikan tema cerita. Juga kemunculan tokoh Sally yang kurang bisa mendukung cerita selain sekadar mengingatkan Jack dan bersimpati padanya. Bahkan si Oogie-Boogie Man juga tak terlalu memiliki posisi yang kuat menjadi tokoh antagonis. Belum lagi saat Jack merayakan natal di kota manusia dengan cara Halloweennya. Apakah alasannya? Kedodoran ini membuat cerita jadi absurd. Padahal adegan awalnya begitu menjanjikan, yaitu saat Jack mulai bosan dengan rutinitas perayaan Halloweennya.

Namun kita boleh juga agak melupakan itu karena Danny Elfman telah membuat musik yang hebat untuk film ini. Filmnya sendiri memang bergaya opera, yaitu jalinan cerita banyak diungkapkan lewat lagu (Danny Elfman sendiri mengisi suara Jack saat menyanyi). Dari awal hingga akhir anda akan disuguhi oleh musik-musik bernuansa gelap dan suram. Simak lagu untuk menyambut Halloween yang dinyanyikan para makhluk-makhluk seram sahabat Jack Skelington. Di sinilah kita akan bisa merasakan chemistry duet Tim Burton-Danny Elfman. Simak betapa cocoknya antara visualisasi film itu dengan musik yang mengiringinya. Boleh untuk diketahui, Tim Burton hampir tak pernah memakai komposer musik selain Danny Elfman dalam film-filmnya. Jadi kekuatan Nightmare Before Christmas memang terletak pada musik dan visualisasinya. Saksikan kembalinya Tim Burton pada genre seperti ini lewat “Corpse Bride”. Di film itu ia bisa bercerita dengan lebih baik.
Tim Burton, walau film-filmnya jarang meledak di pasaran namun telah memiliki penggemar yang cukup fanatik. Saya boleh juga didaftar untuk dimasukkan ke situ.

Bagi saya Nightmare Before Christmas tak sekadar merupakan masterpiece film Tim Burton semata namun juga masterpiece untuk genre film animasi stopmotion. Sesungguhnya film ini bukan disutradarai oleh Tim Burton sendiri melainkan oleh Henry Sellick, seorang animator berbakat yang entah kenapa tak terdengar lagi gaungnya. Dalam film ini Tim Burton berlaku sebagai penulis cerita.

Nightmare Before Christmas

Cerita dibuka lewat Jack Skelington, sesosok makhluk berwujud tengkorak yang hidup di sebuah dunia yang suram. Jack merasa bosan dengan Halloween yang dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia merasa hampa dan lalu berjalan-jalan sendirian. Kemudian ia terperosok ke dalam dunia yang lain dengan dunianya. Dunia yang penuh warna di mana para makhluk di situ sedang merayakan natal. Jack heran lalu menyelidiki tentang apa itu hari natal. Dari situ Jack mendapatkan ide untuk ikut merayakan natal di sana dengan caranya sendiri. Jack memakai ide-ide seram yang biasanya ia pakai saat Halloween untuk untuk merayakan natal di kota manusia. Sally sesosok makhluk yang bersimpati pada Jack berusaha mencegah namun Jack tetap tak tergoyahkan. Pertama Jack menculik Santa Klaus dan kemudian menyamar sebagai dirinya. Tak seperti yang ia perkirakan, perayaan natal yang dibawanya menjadi bencana bagi kota. Jack pun dimusuhi oleh para manusia yang menganggapnya sebagai biang bencana.

Film ini bercerita dengan gaya yang sungguh tak lazim saat itu. Boneka-boneka berwajah horor yang membawa sebuah cerita jenaka dalam suasana suram (yang merupakan khas Burton). Secara visual Nightmare Before Christmas adalah film dengan tata artistik luar biasa. Film ini digarap dengan teknik stopmotion di mana para animator menggerakkan boneka secara manual lalu dipotret satu persatu. Hasilnya, film ini menjadi begitu unik dan tak tertandingi bahkan oleh animasi CGI sekalipun. Perhatikan karakter Jack Skelington yang aneh. Sesosok tengkorak hidup yang bisa bergerak seperti laba-laba. Sosok yang tak punya bola mata tetapi ekspresi wajahnya begitu hidup. Namun sayangnya cerita yang dibangun terasa sangat lemah. Tak dijelaskan kenapa kebosanan Jack dengan Halloween begitu penting untuk dijadikan tema cerita. Juga kemunculan tokoh Sally yang kurang bisa mendukung cerita selain sekadar mengingatkan Jack dan bersimpati padanya. Bahkan si Oogie-Boogie Man juga tak terlalu memiliki posisi yang kuat menjadi tokoh antagonis. Belum lagi saat Jack merayakan natal di kota manusia dengan cara Halloweennya. Apakah alasannya? Kedodoran ini membuat cerita jadi absurd. Padahal adegan awalnya begitu menjanjikan, yaitu saat Jack mulai bosan dengan rutinitas perayaan Halloweennya.

Namun kita boleh juga agak melupakan itu karena Danny Elfman telah membuat musik yang hebat untuk film ini. Filmnya sendiri memang bergaya opera, yaitu jalinan cerita banyak diungkapkan lewat lagu (Danny Elfman sendiri mengisi suara Jack saat menyanyi). Dari awal hingga akhir anda akan disuguhi oleh musik-musik bernuansa gelap dan suram. Simak lagu untuk menyambut Halloween yang dinyanyikan para makhluk-makhluk seram sahabat Jack Skelington. Di sinilah kita akan bisa merasakan chemistry duet Tim Burton-Danny Elfman. Simak betapa cocoknya antara visualisasi film itu dengan musik yang mengiringinya. Boleh untuk diketahui, Tim Burton hampir tak pernah memakai komposer musik selain Danny Elfman dalam film-filmnya. Jadi kekuatan Nightmare Before Christmas memang terletak pada musik dan visualisasinya. Saksikan kembalinya Tim Burton pada genre seperti ini lewat “Corpse Bride”. Di film itu ia bisa bercerita dengan lebih baik.
Baca

Impresi Debussy: Musik yang Bercerita

Saya agak menyesal karena baru sekarang menyadari keindahan musik Debussy. Karya komposer ini agak terlewatkan dari telinga saya sejak saya mulai menyukai musik komposisional beberapa tahun lalu. Karya-karya seperti Claire de Lune, Girl With a Flaxen Hair dan Golliwog's Cakewalk memang telah lama saya nikmati tapi saya baru benar-benar tersentuh setelah mendengar Prelude to the Afternoon of the Faun (Prélude à l'après-midi d'un faune) dan Arabesque No.1.

Menurut catatan yang saya tilik dari Ensiklopedia, Debussy merupakan pelopor daripada musik modern. Dia berhasil mengeksplorasi nada-nada secara menyeluruh dan membuatnya mengalir tanpa terikat pola tertentu. Musiknya langsung menimbulkan kesan yang kuat sehingga pikiran pun tak sempat menganalisisnya. Seperti membanjiri pendengarnya dengan ribuan warna seperti titik-titik warna yang menyusun sebuah lukisan.

Seringkali kesan itu berupa visual. Saya sering terbayang garis-garis yang melingkar, sapuan kuas yang lembut, cahaya dari pemandangan yang tajam dan gerakan-gerakan mengalir alamiah saat mendengar musik Debussy. Contohnya pada komposisi La Mer. Saya benar-benar terbayang akan laut, ombak dan camarnya. Bahkan sedemikian detail kesan itu pada saya sehingga saya seakan-akan sedang berbaring di atas pasir. Ada kesiur angin meniup rumput yang menyembul dari pasir tak jauh dari tempat saya berbaring. Lalu gesekan strings yang menyeruak di antara alunan instrumen tiup itu serupa riuh rendah kicauan camar. Musik Debussy melemparkan saya dalam alam khayal yang dibawa oleh gugusan nada-nadanya. Saya sendiri lebih suka menyebut musik semacam ini sebagai musik sinematografis. Musik yang melukiskan kejadian seperti film.

Dengan demikian saya jadi maklum kenapa aliran musik Debussy disebut dengan impresionis. Kesan psikis yang dihasilkan oleh warna musiknya memang serupa benar dengan sapuan kuas para pelukis impresionis semacam Renoir, Monet, Manet, Degas dan lain-lain. Selama ini saya terlalu menikmati musik sebagai tatanan semata. Permainan nada-nada dan irama. Tetapi musik Debussy membawakan lebih dari itu. Kesan yang mendalam. Musik yang tak hanya berbunyi namun juga bercerita.

Bagi saya yang tak paham benar teori musik, kesan adalah hal yang utama. Tentu saja. Mendengar musik yang tak berkesan akan seperti menemukan sampah di jalan yang kita lewati namun kita abaikan begitu saja. Dipungut juga tidak.   

Sagan-Jogja, 29 September 2007
Saya agak menyesal karena baru sekarang menyadari keindahan musik Debussy. Karya komposer ini agak terlewatkan dari telinga saya sejak saya mulai menyukai musik komposisional beberapa tahun lalu. Karya-karya seperti Claire de Lune, Girl With a Flaxen Hair dan Golliwog's Cakewalk memang telah lama saya nikmati tapi saya baru benar-benar tersentuh setelah mendengar Prelude to the Afternoon of the Faun (Prélude à l'après-midi d'un faune) dan Arabesque No.1.

Menurut catatan yang saya tilik dari Ensiklopedia, Debussy merupakan pelopor daripada musik modern. Dia berhasil mengeksplorasi nada-nada secara menyeluruh dan membuatnya mengalir tanpa terikat pola tertentu. Musiknya langsung menimbulkan kesan yang kuat sehingga pikiran pun tak sempat menganalisisnya. Seperti membanjiri pendengarnya dengan ribuan warna seperti titik-titik warna yang menyusun sebuah lukisan.

Seringkali kesan itu berupa visual. Saya sering terbayang garis-garis yang melingkar, sapuan kuas yang lembut, cahaya dari pemandangan yang tajam dan gerakan-gerakan mengalir alamiah saat mendengar musik Debussy. Contohnya pada komposisi La Mer. Saya benar-benar terbayang akan laut, ombak dan camarnya. Bahkan sedemikian detail kesan itu pada saya sehingga saya seakan-akan sedang berbaring di atas pasir. Ada kesiur angin meniup rumput yang menyembul dari pasir tak jauh dari tempat saya berbaring. Lalu gesekan strings yang menyeruak di antara alunan instrumen tiup itu serupa riuh rendah kicauan camar. Musik Debussy melemparkan saya dalam alam khayal yang dibawa oleh gugusan nada-nadanya. Saya sendiri lebih suka menyebut musik semacam ini sebagai musik sinematografis. Musik yang melukiskan kejadian seperti film.

Dengan demikian saya jadi maklum kenapa aliran musik Debussy disebut dengan impresionis. Kesan psikis yang dihasilkan oleh warna musiknya memang serupa benar dengan sapuan kuas para pelukis impresionis semacam Renoir, Monet, Manet, Degas dan lain-lain. Selama ini saya terlalu menikmati musik sebagai tatanan semata. Permainan nada-nada dan irama. Tetapi musik Debussy membawakan lebih dari itu. Kesan yang mendalam. Musik yang tak hanya berbunyi namun juga bercerita.

Bagi saya yang tak paham benar teori musik, kesan adalah hal yang utama. Tentu saja. Mendengar musik yang tak berkesan akan seperti menemukan sampah di jalan yang kita lewati namun kita abaikan begitu saja. Dipungut juga tidak.   

Sagan-Jogja, 29 September 2007
Baca

El Laberinto del Fauno: Film tentang Dunia Dongeng Terbaik

Film yang dalam edisi Inggrisnya berjudul Pan’s Labyrinth ini merupakan satu dari sedikit film Spanyol yang beredar secara luas. Kematangan desain kostumnya mendapat ganjaran piala Oscar pada tahun 2007, menempatkan Guillermo del Toro sebagai sutradara yang diperhitungkan setelah dikenal orang lewat debutnya menyutradarai Blade II dan Hellboy.

Pan’s Labyrinth

Dikisahkan bahwa di dunia bawah hidup seorang putri yang tertarik untuk mengunjungi dunia atas. Dunia bawah digambarkan sebagai tempat yang kelam namun tenang dan damai sementara dunia atas penuh dengan warna, cahaya matahari dan keindahan. Suatu saat sang putri melarikan diri dari istana untuk pergi ke dunia atas. Malang baginya, sinar matahari yang begitu terang lantas membutakannya. Karena ia tersesat dan tak tertolong lagi maka ia meninggal di sana. Mengetahui hal ini, sang raja ayahnya berduka. Namun ia percaya bahwa suatu saat roh putrinya akan kembali ke istana dengan suatu cara.

Adalah Ofelia, gadis yatim yang kini mempunyai ayah tiri bernama Kapten Vidal. Sejak itu hidupnya tak lagi menggembirakan. Ia harus bersikap manis pada ayah tirinya yang bengis. Ia juga harus menjaga kesehatan ibunya yang saat itu sedang hamil. Sementara itu perang yang tak kunjung selesai. Yang menghiburnya adalah Mercedes, pengasuhnya yang baik hati. Hanya pada dialah ia bisa lari dari segala kesedihannya.

Suatu saat ia memasuki sebuah Labirin misterius yang keramat. Di sana ia bertemu dengan Sang Faun yang memberitahu bahwa ia adalah seorang putri. Faun adalah utusan ayahnya untuk menjemputnya. Tetapi ia tak bisa pulang begitu saja. Ofelia harus melewati tiga ujian yang diberikan oleh Sang Faun. Ujian pertama bisa ia lewati dengan gemilang tetapi ia gagal pada ujian kedua. Sang Faun marah dan tak mau menemuinya lagi, artinya Ofelia akan tinggal di dunia manusia seterusnya, merasakan sakit dan penderitaan. Untunglah Sang Faun memaafkannya dan bersedia memberikan ujian terakhir. Ujian yang terakhir ini begitu berat bagi Ofelia.

Saat hal yang perlu kita garis bawahi sebelum menonton film ini adalah bahwa ini samasekali BUKAN FILM UNTUK ANAK-ANAK. Ada banyak adegan kekerasan di dalamnya. El Laberinto del Fauno (ELDF) adalah film tentang dongeng yang unik. Ada kritikus yang menyebutnya a Fairytales for the Growns (dongeng untuk orang dewasa). Bisakah anda bayangkan kisah peri-peri yang berbaur dengan cerita perang. Selain sihir dan mukjizat juga ada pistol dan peluru.

Begitulah. ELDF meramunya dalam sebuah film dengan cerita yang apik, tata cahaya yang indah, kostum yang sangat luar biasa dan tak ketinggalan pula music score yang sangat menyentuh. Pantaslah ia dapat ganjaran piala Oscar.

Kostum dan art design ELDF membuat kita tercengang. Perhatikanlah desain karakter Sang Faun yang jauh dari Faun tradisional di buku-buku mitologi. Faun (dalam bahasa Inggris Pan) adalah makhluk dewata berwujud manusia berkepala kambing. Dalam ELDF ia tak cuma digambarkan begitu saja. Sosoknya seperti pohon tua yang menyatu dengan lingkungan sekelilingnya, dinding labirin yang berlumut.

Tak cuma kecanggihan tata artistik, kita bisa melihat akting para pemain dalam film ini yang benar-benar pas. Kesempurnaan akting Doug Jones membuat kita merasa bahwa tokoh aneh ini benar-benar nyata. Ekspresinya yang misterius membuat kita bimbang apakah ia tokoh yang baik atau bukan. Sementara itu Ivana Baquero membawakan karakter Ofelia dengan wajar dan meyakinkan. Gadis kecil ini meskipun cantik, parasnya terselimuti kesenduan karena beban hidup yang menimpanya.

Ada pula Sergi Lopez memerankan Kapten Vidal yang begitu meyakinkan sebagai sosok kejam, disiplin dan sedingin es. Namun adegan paling menyeramkan yang dilakukannya bukanlah saat ia memukuli wajah orang sampai hancur atau saat menembak kepala musuh dengan santainya, melainkan saat ia terluka oleh pisau Mercedes. Luka itu merobek pipinya hingga ia harus menjahitnya sendiri. Anda boleh menyipitkan mata untuk membayangkan nyerinya. Apalagi melihat darahnya merembes dari perban saat ia minum. Hasil dari tata rias yang luar biasa.

Selain kecemerlangan penggarapan visual itu kita boleh memuji musik yang menguatkan jiwa film ini. Betapa sendunya lagu nina bobo yang dibawakan Mercedes untuk menenangkan Ofelia. Komposer film Javier Navarette menggubahnnya dalam nada-nada minor sederhana. Begitu mudah diingat tetapi sangat indah. Seolah-olah kita pernah mendengarnya ketika masih dalam janin sang bunda.

Setelah menonton film ini kepala kita masih akan terus dipenuhi dengan bayangan Sang Faun, wajah bengis Kapten Vidal serta penderitaan Ofelia. Tak ada film dongeng sekelam sekaligus seindah film ini. Ingatlah, ini bukan film untuk anak-anak! Benar-benar dongeng untuk orang dewasa….
Film yang dalam edisi Inggrisnya berjudul Pan’s Labyrinth ini merupakan satu dari sedikit film Spanyol yang beredar secara luas. Kematangan desain kostumnya mendapat ganjaran piala Oscar pada tahun 2007, menempatkan Guillermo del Toro sebagai sutradara yang diperhitungkan setelah dikenal orang lewat debutnya menyutradarai Blade II dan Hellboy.

Pan’s Labyrinth

Dikisahkan bahwa di dunia bawah hidup seorang putri yang tertarik untuk mengunjungi dunia atas. Dunia bawah digambarkan sebagai tempat yang kelam namun tenang dan damai sementara dunia atas penuh dengan warna, cahaya matahari dan keindahan. Suatu saat sang putri melarikan diri dari istana untuk pergi ke dunia atas. Malang baginya, sinar matahari yang begitu terang lantas membutakannya. Karena ia tersesat dan tak tertolong lagi maka ia meninggal di sana. Mengetahui hal ini, sang raja ayahnya berduka. Namun ia percaya bahwa suatu saat roh putrinya akan kembali ke istana dengan suatu cara.

Adalah Ofelia, gadis yatim yang kini mempunyai ayah tiri bernama Kapten Vidal. Sejak itu hidupnya tak lagi menggembirakan. Ia harus bersikap manis pada ayah tirinya yang bengis. Ia juga harus menjaga kesehatan ibunya yang saat itu sedang hamil. Sementara itu perang yang tak kunjung selesai. Yang menghiburnya adalah Mercedes, pengasuhnya yang baik hati. Hanya pada dialah ia bisa lari dari segala kesedihannya.

Suatu saat ia memasuki sebuah Labirin misterius yang keramat. Di sana ia bertemu dengan Sang Faun yang memberitahu bahwa ia adalah seorang putri. Faun adalah utusan ayahnya untuk menjemputnya. Tetapi ia tak bisa pulang begitu saja. Ofelia harus melewati tiga ujian yang diberikan oleh Sang Faun. Ujian pertama bisa ia lewati dengan gemilang tetapi ia gagal pada ujian kedua. Sang Faun marah dan tak mau menemuinya lagi, artinya Ofelia akan tinggal di dunia manusia seterusnya, merasakan sakit dan penderitaan. Untunglah Sang Faun memaafkannya dan bersedia memberikan ujian terakhir. Ujian yang terakhir ini begitu berat bagi Ofelia.

Saat hal yang perlu kita garis bawahi sebelum menonton film ini adalah bahwa ini samasekali BUKAN FILM UNTUK ANAK-ANAK. Ada banyak adegan kekerasan di dalamnya. El Laberinto del Fauno (ELDF) adalah film tentang dongeng yang unik. Ada kritikus yang menyebutnya a Fairytales for the Growns (dongeng untuk orang dewasa). Bisakah anda bayangkan kisah peri-peri yang berbaur dengan cerita perang. Selain sihir dan mukjizat juga ada pistol dan peluru.

Begitulah. ELDF meramunya dalam sebuah film dengan cerita yang apik, tata cahaya yang indah, kostum yang sangat luar biasa dan tak ketinggalan pula music score yang sangat menyentuh. Pantaslah ia dapat ganjaran piala Oscar.

Kostum dan art design ELDF membuat kita tercengang. Perhatikanlah desain karakter Sang Faun yang jauh dari Faun tradisional di buku-buku mitologi. Faun (dalam bahasa Inggris Pan) adalah makhluk dewata berwujud manusia berkepala kambing. Dalam ELDF ia tak cuma digambarkan begitu saja. Sosoknya seperti pohon tua yang menyatu dengan lingkungan sekelilingnya, dinding labirin yang berlumut.

Tak cuma kecanggihan tata artistik, kita bisa melihat akting para pemain dalam film ini yang benar-benar pas. Kesempurnaan akting Doug Jones membuat kita merasa bahwa tokoh aneh ini benar-benar nyata. Ekspresinya yang misterius membuat kita bimbang apakah ia tokoh yang baik atau bukan. Sementara itu Ivana Baquero membawakan karakter Ofelia dengan wajar dan meyakinkan. Gadis kecil ini meskipun cantik, parasnya terselimuti kesenduan karena beban hidup yang menimpanya.

Ada pula Sergi Lopez memerankan Kapten Vidal yang begitu meyakinkan sebagai sosok kejam, disiplin dan sedingin es. Namun adegan paling menyeramkan yang dilakukannya bukanlah saat ia memukuli wajah orang sampai hancur atau saat menembak kepala musuh dengan santainya, melainkan saat ia terluka oleh pisau Mercedes. Luka itu merobek pipinya hingga ia harus menjahitnya sendiri. Anda boleh menyipitkan mata untuk membayangkan nyerinya. Apalagi melihat darahnya merembes dari perban saat ia minum. Hasil dari tata rias yang luar biasa.

Selain kecemerlangan penggarapan visual itu kita boleh memuji musik yang menguatkan jiwa film ini. Betapa sendunya lagu nina bobo yang dibawakan Mercedes untuk menenangkan Ofelia. Komposer film Javier Navarette menggubahnnya dalam nada-nada minor sederhana. Begitu mudah diingat tetapi sangat indah. Seolah-olah kita pernah mendengarnya ketika masih dalam janin sang bunda.

Setelah menonton film ini kepala kita masih akan terus dipenuhi dengan bayangan Sang Faun, wajah bengis Kapten Vidal serta penderitaan Ofelia. Tak ada film dongeng sekelam sekaligus seindah film ini. Ingatlah, ini bukan film untuk anak-anak! Benar-benar dongeng untuk orang dewasa….
Baca

Review Film: Memento, Karya Cerdas Mengutak-atik Ingatan

Apa jadinya jika kita tak bisa lagi mengingat kejadian yang baru terjadi beberapa menit yang lalu, sementara kejadian yang terakhir kita ingat sebenarnya sudah lama sekali berlalu? Seperti rekaman pada pita kaset yang terhapus beberapa senti pada bagian akhir.
Poster Memento

Itulah yang terjadi pada Lenny (Guy Pierce). Sesuatu terjadi sehingga mengakibatkan ia menderita temporal memory loss dissorder (kehilangan ingatan jangka pendek). Yang menyedihkan, kejadian terakhir yang ia ingat adalah pemerkosaan dan pembunuhan  terhadap isterinya.

Kini ia hidup hanya dengan tujuan menemukan si penjahat itu lalu menghabisinya. Buruknya, ia hanya punya beberapa lembar foto dan catatan yang lupa kapan ia buat. Yang jelas ia tahu bahwa ingatannya tak lagi berguna. Catatan itu berguna untuk menentukan apa yang harus ia lakukan jika ingatannya terhapus lagi nanti. Ia harus mencatat, mencatat dan mencatat. Ia membawa terus catatan itu bahkan mentattokannya pada tubuhnya.

Ada suatu nama yang ia kejar. Tapi ia tak pernah tahu identitasnya. Waktu terus berjalan dan pencarian itu berujung pada hal yang tak terduga. Ironisnya, ia tak akan bisa mengingatnya. Ia hanya bisa mencatatnya. Sejauh apa catatan itu bisa membantunya?

MEMENTO adalah karya cerdas yang mengutak-atik sesuatu bernama ingatan. Sepanjang hidupnya manusia belajar dari ingatan. Manusia tak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali karena belajar dari ingatan. Ingatan adalah acuan bagi manusia untuk menentukan sikap dan perbuatannya. Bagaimana jika itu hilang?

Untuk mengatasi kelupaan, orang bijak selalu menyarankan untuk mencatat hal-hal yang penting. Akan tetapi bagaimana jika kita lupa mengapa catatan itu dibuat? Catatan itu kemudian hanya berupa pesan yang tak jelas acuannya. Seperti Lenny. Di catatan yang ia buat tertera nama pembunuh isterinya, tapi bagaimana ia tahu bahwa hal itu benar? Untuk mengetahui validitas catatan itu ia bahkan samasekali tak punya referensi. Apa yang bisa menjamin kebenaran sebuah catatan yang dibuat oleh penderita penyakit seperti dia.

Christopher Nolan tak diragukan lagi memang piawai mengemas ironi ingatan itu dalam MEMENTO. Karya yang dibuat berdasarkan cerita pendek Jonathan Nolan itu unggul dari banyak hal. Alurnya yang maju mundur dan juga permainan antara gambar berwarna dan hitam putih membuat kita memandang ingatan Lenny seperti beberapa kepingan puzzle. Sayangnya untuk menyusun puzzle itu kita tak punya rujukan yang jelas. Kita sama bingungnya seperti Lenny. Hanya ada foto-foto dan catatan yang menyuruh kita melakukan suatu hal. Hanya itu referensi satu-satunya. Maka apapun yang sebenarnya terjadi, kita harus percaya pada catatan. Benar atau tidak toh kita tak bisa mengingatnya.

Akting Guy Pierce cukup mengesankan sebagai orang yang sakit. Juga Carry Anne-Moss yang kompleks. Terlebih Joe Pantoliano. Bisa saya bilang ia sangat berhasil membawakan karakternya. Kita tak punya referensi apakah karakter yang ia bawakan adalah orang jahat atau bukan. Kita seolah-olah sama sakitnya dengan Lenny. Pembawaannya yang santai membuat kita percaya padanya meskipun samasekali tak tahu latarbelakangnya. Dalam MEMENTO, jarak kita dengan Lenny begitu dekat. Seolah-olah kita adalah Lenny itu sendiri.

Saya tak berkomentar banyak tentang music score yang digarap oleh David Julyan. Tak perlu menuntut lebih karena selama musiknya padu dengan jalan cerita, semuanya oke. Lagipula, MEMENTO tak perlu score yang terlalu megah ala simfoni John Williams. Begitu pula dengan tata kamera. Namun ada satu hal yang bagi saya berkesan. Yaitu di bagian awal, adegan Lenny menembak seseorang yang diputar secara terbalik.

Kata yang bisa saya berikan untuk film ini hanya satu: Cerdas!
Reaksi saya setelah nonton film ini hanya satu: Tepuk tangan!
Jika anda suka kecerdasan ini, bolehlah menengok karya Nolan yang lain terutama: The Prestige!
Apa jadinya jika kita tak bisa lagi mengingat kejadian yang baru terjadi beberapa menit yang lalu, sementara kejadian yang terakhir kita ingat sebenarnya sudah lama sekali berlalu? Seperti rekaman pada pita kaset yang terhapus beberapa senti pada bagian akhir.
Poster Memento

Itulah yang terjadi pada Lenny (Guy Pierce). Sesuatu terjadi sehingga mengakibatkan ia menderita temporal memory loss dissorder (kehilangan ingatan jangka pendek). Yang menyedihkan, kejadian terakhir yang ia ingat adalah pemerkosaan dan pembunuhan  terhadap isterinya.

Kini ia hidup hanya dengan tujuan menemukan si penjahat itu lalu menghabisinya. Buruknya, ia hanya punya beberapa lembar foto dan catatan yang lupa kapan ia buat. Yang jelas ia tahu bahwa ingatannya tak lagi berguna. Catatan itu berguna untuk menentukan apa yang harus ia lakukan jika ingatannya terhapus lagi nanti. Ia harus mencatat, mencatat dan mencatat. Ia membawa terus catatan itu bahkan mentattokannya pada tubuhnya.

Ada suatu nama yang ia kejar. Tapi ia tak pernah tahu identitasnya. Waktu terus berjalan dan pencarian itu berujung pada hal yang tak terduga. Ironisnya, ia tak akan bisa mengingatnya. Ia hanya bisa mencatatnya. Sejauh apa catatan itu bisa membantunya?

MEMENTO adalah karya cerdas yang mengutak-atik sesuatu bernama ingatan. Sepanjang hidupnya manusia belajar dari ingatan. Manusia tak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali karena belajar dari ingatan. Ingatan adalah acuan bagi manusia untuk menentukan sikap dan perbuatannya. Bagaimana jika itu hilang?

Untuk mengatasi kelupaan, orang bijak selalu menyarankan untuk mencatat hal-hal yang penting. Akan tetapi bagaimana jika kita lupa mengapa catatan itu dibuat? Catatan itu kemudian hanya berupa pesan yang tak jelas acuannya. Seperti Lenny. Di catatan yang ia buat tertera nama pembunuh isterinya, tapi bagaimana ia tahu bahwa hal itu benar? Untuk mengetahui validitas catatan itu ia bahkan samasekali tak punya referensi. Apa yang bisa menjamin kebenaran sebuah catatan yang dibuat oleh penderita penyakit seperti dia.

Christopher Nolan tak diragukan lagi memang piawai mengemas ironi ingatan itu dalam MEMENTO. Karya yang dibuat berdasarkan cerita pendek Jonathan Nolan itu unggul dari banyak hal. Alurnya yang maju mundur dan juga permainan antara gambar berwarna dan hitam putih membuat kita memandang ingatan Lenny seperti beberapa kepingan puzzle. Sayangnya untuk menyusun puzzle itu kita tak punya rujukan yang jelas. Kita sama bingungnya seperti Lenny. Hanya ada foto-foto dan catatan yang menyuruh kita melakukan suatu hal. Hanya itu referensi satu-satunya. Maka apapun yang sebenarnya terjadi, kita harus percaya pada catatan. Benar atau tidak toh kita tak bisa mengingatnya.

Akting Guy Pierce cukup mengesankan sebagai orang yang sakit. Juga Carry Anne-Moss yang kompleks. Terlebih Joe Pantoliano. Bisa saya bilang ia sangat berhasil membawakan karakternya. Kita tak punya referensi apakah karakter yang ia bawakan adalah orang jahat atau bukan. Kita seolah-olah sama sakitnya dengan Lenny. Pembawaannya yang santai membuat kita percaya padanya meskipun samasekali tak tahu latarbelakangnya. Dalam MEMENTO, jarak kita dengan Lenny begitu dekat. Seolah-olah kita adalah Lenny itu sendiri.

Saya tak berkomentar banyak tentang music score yang digarap oleh David Julyan. Tak perlu menuntut lebih karena selama musiknya padu dengan jalan cerita, semuanya oke. Lagipula, MEMENTO tak perlu score yang terlalu megah ala simfoni John Williams. Begitu pula dengan tata kamera. Namun ada satu hal yang bagi saya berkesan. Yaitu di bagian awal, adegan Lenny menembak seseorang yang diputar secara terbalik.

Kata yang bisa saya berikan untuk film ini hanya satu: Cerdas!
Reaksi saya setelah nonton film ini hanya satu: Tepuk tangan!
Jika anda suka kecerdasan ini, bolehlah menengok karya Nolan yang lain terutama: The Prestige!
Baca

Gugun's Recommended Movies


  1. Before Sunrise & Before Sunset-Richard Linklater (film terbaik tentang komunikasi)
  2. Jurassic Park-Steven Spielberg (film dengan visual effect terbaik)
  3. Trois Coleur: Blanc-Krzytov Kieslowski (film dark comedy terbaik)
  4. Les Fabuleux Destin d’Amelie Poulain-Jean-Pierre Jeunet (film terbaik tentang hal-hal kecil)
  5. Shawshank Redemption-Frank Darabont (film terbaik tentang semangat hidup)
  6. Forrest Gump-Robert Zemeckis (film terbaik tentang ketulusan tindakan)
  7. L'Appartement (film dengan plot terbaik)
  8. Happy Feet (film terbaik tentang ekosistem)
  9. Nightmare Before Christmas-Henry Sellick (film stopmotion artistik terbaik)
  10. Contact-Robert Zemeckis (film terbaik tentang alien)
  11. Fauteuils d’Orchestre-Danielle Thompson (film dengan happy ending terbaik)
  12. Bourne Identity (film spionase terbaik)
  13. The Exorcist-William Friedkin (film horror terbaik)
  14. Mean Girls (film remaja terbaik)
  15. El Laberinto del Fauno-Guillermo del Toro (film tentang dunia dongeng terbaik)
  16. The Parent’s Trap-Nancy Meyers (film drama keluarga terbaik)
  17. Spiderman 2-Sam Raimi (film action superhero terbaik)
  18. The Island (film science fiction terbaik)
  19. The Prestige-Christoper Nolan (film dengan twist ending terbaik)
  20. Rashomon-Akira Kurosawa (film dengan multi point of view terbaik)
Kalian punya versi kalian sendiri? Send it to me! I'm mad about movie!

  1. Before Sunrise & Before Sunset-Richard Linklater (film terbaik tentang komunikasi)
  2. Jurassic Park-Steven Spielberg (film dengan visual effect terbaik)
  3. Trois Coleur: Blanc-Krzytov Kieslowski (film dark comedy terbaik)
  4. Les Fabuleux Destin d’Amelie Poulain-Jean-Pierre Jeunet (film terbaik tentang hal-hal kecil)
  5. Shawshank Redemption-Frank Darabont (film terbaik tentang semangat hidup)
  6. Forrest Gump-Robert Zemeckis (film terbaik tentang ketulusan tindakan)
  7. L'Appartement (film dengan plot terbaik)
  8. Happy Feet (film terbaik tentang ekosistem)
  9. Nightmare Before Christmas-Henry Sellick (film stopmotion artistik terbaik)
  10. Contact-Robert Zemeckis (film terbaik tentang alien)
  11. Fauteuils d’Orchestre-Danielle Thompson (film dengan happy ending terbaik)
  12. Bourne Identity (film spionase terbaik)
  13. The Exorcist-William Friedkin (film horror terbaik)
  14. Mean Girls (film remaja terbaik)
  15. El Laberinto del Fauno-Guillermo del Toro (film tentang dunia dongeng terbaik)
  16. The Parent’s Trap-Nancy Meyers (film drama keluarga terbaik)
  17. Spiderman 2-Sam Raimi (film action superhero terbaik)
  18. The Island (film science fiction terbaik)
  19. The Prestige-Christoper Nolan (film dengan twist ending terbaik)
  20. Rashomon-Akira Kurosawa (film dengan multi point of view terbaik)
Kalian punya versi kalian sendiri? Send it to me! I'm mad about movie!
Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved