Yang Terbaru

MAESTRO MUSIK FILM YANG "UNDERDOG" DI HOLLYWOOD

Kalo biasanya saya ngreview film, sekarang saya ngreview musik deh. Tetap gak jauh dari film juga sih… saya mo ngobrolin musik film. Siapa dan apa yang mau kita obrolin?

Sehat terus ya, Mbah!

Yak inilah dia Ennio Morricone, komposer musik film kelas dewa yang di-underdog-in ama Hollywood (baca Academy Award) bertahun-tahun. Buat anda yang masih asing sama namanya, berikut saya kasih rekomendasi 7 besar karya musiknya untuk berkenalan. Saya tuliskan juga kapan dan kenapa musik tersebut perlu didengarkan.

7. OST My Name is Nobody : Dengarkan saat anda lagi gembira.

Ini musik untuk film koboi tapi nuansanya komedik. Aransemen musiknya ngepop kayak balada. Dominan gitar dan flute plus backing vocal. Mendengarnya saat anda jalan-jalan, makan bersama atau peneman istirahat sangatlah cocok.

6. Rabbia e Tarantella dari film Allonsanfàn : Dengarkan saat anda mau perang.

Ini musik gagah. Filmnya nggak terkenal tapi musiknya legend banget. Dipakai di filmnya Tarantino juga. Orkestrasinya dominan alat gesek. Kalau anda mau maju skripsi atau tesis, ini bisa menaikkan level kemantaban hati. Bayangkan anda seorang Jendral jaman Perang Dunia II hendak memimpin pasukan tempur lawan NAZI.

5. Main theme of Cinema Paradiso : Dengarkan saat anda jatuh cinta.

Cinema Paradiso adalah film yang indah meski ada pedihnya. Mendengarkan musik yang manis ini akan menyelimuti hati anda. Musik ini dibikin banyak versinya, dan semuanya indah. Ada yang trumpet (oleh Chris Botti), Cello (oleh Yo-Yo Ma) dan lain-lain. Aslinya berupa orkestrasi strings, piano dan alat tiup. Musik ini membuai. Bahkan saat anda sedih ia akan membelai. hati-hati melekatkan memori pada musik ini. Musik ini terlalu indah untuk anda tempeli kenangan buruk. 

4. OST A Fistful of Dollars : Dengarkan saat anda sedang berpetualang atau ingin semangat berjuang.

Musik yang sangat beraroma koboi ini cocok untuk anda senandungkan di atas kuda. Kalo sekarang ya di atas motor lah. Musiknya berupa petikan gitar dengan arpeggio dan slur mengiringi siulan. Sesekali ada ketukan dan suara lonceng. Lalu ada vokal choir "We can fight" yang kayaknya ditiru ama lagu soundtrack film-film Kungfu jadul. Tetapi yang jelas musiknya "ngoboi" banget. Serasa anda akan dikawal oleh semangat gembira, siap mendapat pengalaman baru yang berharga. Anda siap menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru, orang-orang baru dan tantangan baru. Selain Rabbia e Tarantella tadi, ini juga merupakan musik perjuangan yang bergairah.

3. Theme from Once Upon a Time in The West : Dengarkan saat anda belajar sesuatu yang berharga dari suatu kehilangan.

Ini musik sedih, menyayat sekaligus menambal luka. Diiringi gesekan dawai, suara soprano dengan register tinggi mengalun. Mungkin pas menemani kesedihan anda saat kehilangan, ditinggalkan atau dikhianati. Hati-hati, ini bisa membuat anda sembuh (dengan membongkar perihnya) tapi bisa juga malah bikin depresif. Kalau rasa anda benar-benar pas, anda bisa menitikkan air mata. Jangan sok tegar. Musik ini bisa mengiris lembaran tipis yang menutupi hati anda. Kalau anda mampu meresapi daya sembuhnya, musik ini seolah menyampaikan; sekelam apapun badaimu, kau akan jumpai mentari baru di ufuk sana. Just keep walking there.

2. Un Amico dari film Revolver : Dengarkan saat anda ingin menyembuhkan hati.

Sama kayak musik dari Once Upon A Time in The West. Ini musik yang menyimpan obat juga racun. Ada versi vokalnya juga. Anda yang mau sembuh mungkin terbantu. Tapi hati-hati, ini juga bisa bikin depresi. Naik turunnya dinamika melodinya, bisa bikin air mata anda tumpah. Musik ini juga dipakai ulang oleh Quentin Tarantino di Inglourious Basterds, di sebuah adegan yang tragis.

1. Gabriel’s Oboe dari film The Mission : Dengarkan saat anda sedang ingin merenungkan hidup.

Musik ini bernuansa teduh, menenangkan. Anda bisa merenungkan hal-hal yang telah anda hadapi, alami dan pelajari. Musik ini menjadi katalisator emosi, membuat jiwa anda tersucikan. Anda akan semangat menjadi orang yang baru dan belajar dari kepahitan. Ini musiknya relijius, karena memang dari film religi. Tapi anda tak usah kuatir bakal kena pendangkalan akidah. Musik Morricone berbicara secara universal. Aslinya pakai oboe tapi penyanyi Sarah Brightman bikin versi vocalnya juga. Itu awalnya nggak dikasih ijin sama Morricone tapi dia ngeyel merajuk terus sampai Morricone eneg. Dan makin tenarlah musik The Mission itu ke mana-mana. Anehnya pada 1986 juri Academy Award menyepelekannya.



Nah, silakan mulai dari manapun sesuka anda. Yang di luar list ini bukan berarti kurang bagus lho. Saya tuh sebenarnya malah susah mencomot 7 gini. Lha hampir semua musik Morricone itu bagus. Dengar aja coba…lalu ceritakan kesan yang anda rasakan.

Okay, setelah anda cobain tuh satu per satu rekomendasi saya, mungkin anda perlu tahu sekilas profil sang maestro.

Morricone lahir 10 November 1928 di Italia. Sejak 1946 Morricone udah bikin musik setidaknya ada 500 musik baik film bioskop maupun televisi. Itu belum termasuk 100 komposisi klasik yang bukan score (musik film). Perlu anda tahu juga, Moriconne juga pernah bikin musik buat Piala Dunia. Official World Cup music theme tahun 1978 itu karyanya.

Morricone terkenal sebagai peletak dasar “musik film koboi” yang dikenal dengan genre “Spaghetti Western”. Musiknya telah menjadi legenda bareng sama filmnya. Contoh yang terkenal jelas musik buat film-film Sergio Leone seperti The Good, the Bad and the Ugly, A Fistfull of Dollars dll.. Itu film-film yang mengawali tenarnya Clint Eastwood. Kalo anda tertarik ama film koboi ala Italia tersebut coba deh tonton. Anda akan dapat pengalaman sinematik klasik dan keren, juga musik hebat dari Morricone.

Morricone tak cuma hebat di Italia. Ketenarannya menggaung di Eropa dan Amerika. Film-film legendaris tahun 70 hingga 90-an banyak yang memakai karyanya. Meski begitu, Morricone nggak kunjung dapet piala Oscar. Kalo di Eropa sih dia udah dapet banyak penghargaan. Cuma juri Oscar aja yang seleranya “meslek”. Yang bikin saya gregetan, tahun 1986 komposisinya untuk The Mission kalah ama Herbie Hancock. Padahal sejarah menunjukkan bahwa musik The Mission lah yang terus bergaung sampe saat ini.

Kendati sering dapet nominasi, Moriconne nggak pernah menang Oscar. Yo kagak patek’en sih. Lha wong dia udah hebat tanpa dikasih piala apapun. A true maestro. Baru pada 2007, dia dapet Oscar. Tapi bukan lewat kompetisi. He received the Academy Honorary Award " for his magnificent and multifaceted contributions to the art of film music." Ya lumayan lah.
Baru deh, tahun 2016 Morricone dapet Oscar untuk musik filmnya Quentin Tarantino, The Hateful Eight. Sebelumnya Tarantino demen banget nyomot score-nya Morricone yang lawas-lawas untuk ia pake di filmnya. Ya Oscar sih gak usah dipeduliin amat. Lagian ia juga dapet Grammy Awards, Golden Globes, BAFTAs, David di Donatello, Nastro d'Argento dll. Udah lumayan banyak dan tetap tak sebanding dengan keagungan karya-karyanya.

Morricone saya bilang adalah "Mozart, Beethoven, Bach atau siapalah.." pokoknya penjaga musik sastra pada masanya. Di jaman ini, kita punya Ennio Morricone. Musik yang ia gubah tahun 70an sampe sekarang tetap enak didengar. Maestro ini memang terdidik ala tradisi konservatori musik klasik Eropa. Dia tak hanya menulis tapi juga mengorkestrasi dan meng-conduct musiknya sendiri. Sungguh luar biasa. Usianya saat ini udah mendekati 90 tapi masih aktif. makin sakti aja. Semoga Mbah Morricone sehat selalu.

Kesimpulan saya untuk musiknya Ennio Moriconne....

Indah, dalem, abadi dan khas. Mendengarnya seakan terus bergaung di lipatan waktu, sudut-sudut ruang dan labirin benak.


Kalo biasanya saya ngreview film, sekarang saya ngreview musik deh. Tetap gak jauh dari film juga sih… saya mo ngobrolin musik film. Siapa dan apa yang mau kita obrolin?

Sehat terus ya, Mbah!

Yak inilah dia Ennio Morricone, komposer musik film kelas dewa yang di-underdog-in ama Hollywood (baca Academy Award) bertahun-tahun. Buat anda yang masih asing sama namanya, berikut saya kasih rekomendasi 7 besar karya musiknya untuk berkenalan. Saya tuliskan juga kapan dan kenapa musik tersebut perlu didengarkan.

7. OST My Name is Nobody : Dengarkan saat anda lagi gembira.

Ini musik untuk film koboi tapi nuansanya komedik. Aransemen musiknya ngepop kayak balada. Dominan gitar dan flute plus backing vocal. Mendengarnya saat anda jalan-jalan, makan bersama atau peneman istirahat sangatlah cocok.

6. Rabbia e Tarantella dari film Allonsanfàn : Dengarkan saat anda mau perang.

Ini musik gagah. Filmnya nggak terkenal tapi musiknya legend banget. Dipakai di filmnya Tarantino juga. Orkestrasinya dominan alat gesek. Kalau anda mau maju skripsi atau tesis, ini bisa menaikkan level kemantaban hati. Bayangkan anda seorang Jendral jaman Perang Dunia II hendak memimpin pasukan tempur lawan NAZI.

5. Main theme of Cinema Paradiso : Dengarkan saat anda jatuh cinta.

Cinema Paradiso adalah film yang indah meski ada pedihnya. Mendengarkan musik yang manis ini akan menyelimuti hati anda. Musik ini dibikin banyak versinya, dan semuanya indah. Ada yang trumpet (oleh Chris Botti), Cello (oleh Yo-Yo Ma) dan lain-lain. Aslinya berupa orkestrasi strings, piano dan alat tiup. Musik ini membuai. Bahkan saat anda sedih ia akan membelai. hati-hati melekatkan memori pada musik ini. Musik ini terlalu indah untuk anda tempeli kenangan buruk. 

4. OST A Fistful of Dollars : Dengarkan saat anda sedang berpetualang atau ingin semangat berjuang.

Musik yang sangat beraroma koboi ini cocok untuk anda senandungkan di atas kuda. Kalo sekarang ya di atas motor lah. Musiknya berupa petikan gitar dengan arpeggio dan slur mengiringi siulan. Sesekali ada ketukan dan suara lonceng. Lalu ada vokal choir "We can fight" yang kayaknya ditiru ama lagu soundtrack film-film Kungfu jadul. Tetapi yang jelas musiknya "ngoboi" banget. Serasa anda akan dikawal oleh semangat gembira, siap mendapat pengalaman baru yang berharga. Anda siap menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru, orang-orang baru dan tantangan baru. Selain Rabbia e Tarantella tadi, ini juga merupakan musik perjuangan yang bergairah.

3. Theme from Once Upon a Time in The West : Dengarkan saat anda belajar sesuatu yang berharga dari suatu kehilangan.

Ini musik sedih, menyayat sekaligus menambal luka. Diiringi gesekan dawai, suara soprano dengan register tinggi mengalun. Mungkin pas menemani kesedihan anda saat kehilangan, ditinggalkan atau dikhianati. Hati-hati, ini bisa membuat anda sembuh (dengan membongkar perihnya) tapi bisa juga malah bikin depresif. Kalau rasa anda benar-benar pas, anda bisa menitikkan air mata. Jangan sok tegar. Musik ini bisa mengiris lembaran tipis yang menutupi hati anda. Kalau anda mampu meresapi daya sembuhnya, musik ini seolah menyampaikan; sekelam apapun badaimu, kau akan jumpai mentari baru di ufuk sana. Just keep walking there.

2. Un Amico dari film Revolver : Dengarkan saat anda ingin menyembuhkan hati.

Sama kayak musik dari Once Upon A Time in The West. Ini musik yang menyimpan obat juga racun. Ada versi vokalnya juga. Anda yang mau sembuh mungkin terbantu. Tapi hati-hati, ini juga bisa bikin depresi. Naik turunnya dinamika melodinya, bisa bikin air mata anda tumpah. Musik ini juga dipakai ulang oleh Quentin Tarantino di Inglourious Basterds, di sebuah adegan yang tragis.

1. Gabriel’s Oboe dari film The Mission : Dengarkan saat anda sedang ingin merenungkan hidup.

Musik ini bernuansa teduh, menenangkan. Anda bisa merenungkan hal-hal yang telah anda hadapi, alami dan pelajari. Musik ini menjadi katalisator emosi, membuat jiwa anda tersucikan. Anda akan semangat menjadi orang yang baru dan belajar dari kepahitan. Ini musiknya relijius, karena memang dari film religi. Tapi anda tak usah kuatir bakal kena pendangkalan akidah. Musik Morricone berbicara secara universal. Aslinya pakai oboe tapi penyanyi Sarah Brightman bikin versi vocalnya juga. Itu awalnya nggak dikasih ijin sama Morricone tapi dia ngeyel merajuk terus sampai Morricone eneg. Dan makin tenarlah musik The Mission itu ke mana-mana. Anehnya pada 1986 juri Academy Award menyepelekannya.



Nah, silakan mulai dari manapun sesuka anda. Yang di luar list ini bukan berarti kurang bagus lho. Saya tuh sebenarnya malah susah mencomot 7 gini. Lha hampir semua musik Morricone itu bagus. Dengar aja coba…lalu ceritakan kesan yang anda rasakan.

Okay, setelah anda cobain tuh satu per satu rekomendasi saya, mungkin anda perlu tahu sekilas profil sang maestro.

Morricone lahir 10 November 1928 di Italia. Sejak 1946 Morricone udah bikin musik setidaknya ada 500 musik baik film bioskop maupun televisi. Itu belum termasuk 100 komposisi klasik yang bukan score (musik film). Perlu anda tahu juga, Moriconne juga pernah bikin musik buat Piala Dunia. Official World Cup music theme tahun 1978 itu karyanya.

Morricone terkenal sebagai peletak dasar “musik film koboi” yang dikenal dengan genre “Spaghetti Western”. Musiknya telah menjadi legenda bareng sama filmnya. Contoh yang terkenal jelas musik buat film-film Sergio Leone seperti The Good, the Bad and the Ugly, A Fistfull of Dollars dll.. Itu film-film yang mengawali tenarnya Clint Eastwood. Kalo anda tertarik ama film koboi ala Italia tersebut coba deh tonton. Anda akan dapat pengalaman sinematik klasik dan keren, juga musik hebat dari Morricone.

Morricone tak cuma hebat di Italia. Ketenarannya menggaung di Eropa dan Amerika. Film-film legendaris tahun 70 hingga 90-an banyak yang memakai karyanya. Meski begitu, Morricone nggak kunjung dapet piala Oscar. Kalo di Eropa sih dia udah dapet banyak penghargaan. Cuma juri Oscar aja yang seleranya “meslek”. Yang bikin saya gregetan, tahun 1986 komposisinya untuk The Mission kalah ama Herbie Hancock. Padahal sejarah menunjukkan bahwa musik The Mission lah yang terus bergaung sampe saat ini.

Kendati sering dapet nominasi, Moriconne nggak pernah menang Oscar. Yo kagak patek’en sih. Lha wong dia udah hebat tanpa dikasih piala apapun. A true maestro. Baru pada 2007, dia dapet Oscar. Tapi bukan lewat kompetisi. He received the Academy Honorary Award " for his magnificent and multifaceted contributions to the art of film music." Ya lumayan lah.
Baru deh, tahun 2016 Morricone dapet Oscar untuk musik filmnya Quentin Tarantino, The Hateful Eight. Sebelumnya Tarantino demen banget nyomot score-nya Morricone yang lawas-lawas untuk ia pake di filmnya. Ya Oscar sih gak usah dipeduliin amat. Lagian ia juga dapet Grammy Awards, Golden Globes, BAFTAs, David di Donatello, Nastro d'Argento dll. Udah lumayan banyak dan tetap tak sebanding dengan keagungan karya-karyanya.

Morricone saya bilang adalah "Mozart, Beethoven, Bach atau siapalah.." pokoknya penjaga musik sastra pada masanya. Di jaman ini, kita punya Ennio Morricone. Musik yang ia gubah tahun 70an sampe sekarang tetap enak didengar. Maestro ini memang terdidik ala tradisi konservatori musik klasik Eropa. Dia tak hanya menulis tapi juga mengorkestrasi dan meng-conduct musiknya sendiri. Sungguh luar biasa. Usianya saat ini udah mendekati 90 tapi masih aktif. makin sakti aja. Semoga Mbah Morricone sehat selalu.

Kesimpulan saya untuk musiknya Ennio Moriconne....

Indah, dalem, abadi dan khas. Mendengarnya seakan terus bergaung di lipatan waktu, sudut-sudut ruang dan labirin benak.


Baca

PK (Rajkumar Hirani 2014), satirical Bollywood movie

Selama 4 tahunan, saya amati film yang dibintangi Aamir Khan selalu beda dengan tipikal film Bollywood pada umumnya. Drama, nyanyi, njoged, gelut dan cinta….sebuah kelengkapan genre “masala” yang khas India. Tapi film Aamir selalu beda. Tema yang tidak umum, storytelling yang asyik dan tentunya totalitas Aamir Khan membuat saya selalu “terpaksa” menengok film dia. Ya tapi saya jelas nggak sebrutal konco almamater saya si Mahfud Ikhwan lah ya. Jadi kalo anda termasuk orang yang setengah hati suka sama Bollywood, maka siapa tahu mata saya bisa mewakili anda hehehe…

"Jaggu..Jaggu...kamu kenapa kamu pakai baju? Kok nggak kayak di planet saya?"
"PK... gue gampar mulut lo!" PLOKKK!

PK  adalah film komedi satir soal agama. Saya nonton film ini setelah 3 Idiots dan Taare Zameen Par. Jadi kesan akan kecemerlangan filmnya Aamir masih fresh-freshnya.

Aamir Khan berperan sebagai alien bugil sixpack dari planet antah berantah. Profesinya di sono adalah ilmuwan “alienologi” yang wilayah kerjanya antar galaksi. Suatu ketika si alien ini ditugasi nyelidikin bumi. Ndilalah turunnya di Rajastan India. Ya bosen lah turunnya di Amerika melulu dan urusan ama Steven Spielberg. Alih-alih dapat kesan ramah-tamah yang mungkin hanya bisa ia dapat kalo turun di Indonesia, ia malah ketemu pria jahat yang menjambret kont...eh remote controlnya. Maklum aja, remote controlnya mirip kalung permata. Untung aja ia nggak diperkosa. Kalo diperkosa saya bakal stop nonton film ini seketika.

Walhasil si alien pun kelabakan mencari remote controlnya di mana-mana. Terpaksalah ia belajar bahasa manusia. Karena ke-O’on-annya, ia banyak bikin masalah di masyarakat bumi. Itulah asal si alien dapat julukan PK. PK dibaca pee-kay (pi-key) yang artinya mabuk… atau bisa juga kita artikan “piye karepe?”. Soalnya emang nih Alien tingkah lakunya kagak jelas “karepe arep piye”.

Petualangan besar PK dimulai ketika ia harus mencari Tuhan karena orang-orang yang ia tanya soal barangnya bilang, “Hanya Tuhan yang tahu.” Lantas alien yang berperadaban maju beberapa juta "stop" dari manusia ini mengartikannya secara harfiah. PK mengikuti ritual semua agama yang ia temui. Nggak tahu di planet asalnya ini ada agama apa enggak. Yang jelas dia ikut aja apa kata orang soal Tuhan. Andai dia lahir di Indonesia sih enak. Dapat warisan.

Petualangan PK antara lain juga mempertemukannya dengan orang bumi yang baik. Jaggu, seorang cewek hidung “mbangir” (ya jelaslah cewek India non Dravida) yang sedang bermasalah dengan hubungan cinta antar budaya dan agama. Sebenarnya, di saat yang sama ketika PK tiba, Jaggu (Anushka Sharma) yang India Hindu lagi ada hubungan “yang-yangan” Sarfaraz (Sushant Singh Rajput) yang Pakistan muslim. Hubungannya sudah diprediksi bubar sama seorang enterpreneur dukunisme bernama Tapasvi. Galaulah si Jaggu.

Sementara itu PK yang tak kunjung dapat nemu jawaban atas remotenya ini juga ikut-ikutan galau. Cuma di level spiritualitas yang beda. Jaggu galau pacar, PK galau Tuhan. Tuhan mana yang bisa menjawab di mana remote-nya? Lalu PK pun membongkar banyak keyakinan mapan untuk mempertanyakan. Kurang lebih PK nanya, “Kamu yang sok ceramah soal Tuhan itu emang kamu punya akses langsung ke nomor telpon-Nya?”

Dan begitulah premis film ini dibangun. Do we dial the right number?

Oke, my reviews, guys sedulur kabeh….

APIKE

Filmnya menghibur.  Jajaran castnya prima. Akting Aamir Khan nggak mengecewakan amat. Darimana pula ide alien  bugil ya? saya jadi inget adegannya Terminator (Sutradara James Cameron). Anoushka Sharma pun sexy dengan bibir (yang mungkin udah diphotoshop ama pisau bedah nggak tauk deh) juga cleavage-nya yang nauudzubillah indah merekah. Sanjay Dutt (tak kusangka-sangka) nongol dengan keren meski cuma sebagai peran pembantu. Gila! Aku kok bisa nggak ingat ama aktor India yang pertama kukenal ini.

Satu kalimat yang saya garis bawahi. PK mempertanyakan bagaimana mungkin manusia membela Tuhan? Semesta ini begitu besar dan bumi ini Cuma setitik kecil. Tuhan yang pastinya lebih besar dari alam semesta ini mau dibela oleh sekumpulan organisme yang kecil banget compared with all of the universe? Come on, guys…Tuhan tak mungkin dibela oleh manusia! Mungkin gitu kata hatinya PK.

O’owwww ini mulai sensitif yak! :D kalimat serupa pernah diucapkan Gus Dur dan langsung deh Gus Dur dikafirkan hehehe …Sudahlah….nggak usah mancing perkara lagi.

KURANGE

Horizon harapan saya begitu nanjak karena saya memang suka banget tema-tema spiritual dan agama. Begitu nonton saya langsung pasang muka lempeng…is that all? Mung ngono kuwi thok, guys? Mungkin saya terlalu berharap banyak.

Minusnya PK menurutku ada beberapa hal…

Pertama sosok si alien yang karakternya lebih mirip Forrest Gump. Mungkinkah di planet asalnya kemampuan mencerna majas bukan merupakan bagian dari kecerdasan? Soalnya nih si alien lugunya nggak ketulungan. Lihat aja! Betapa bingung dia nyari Tuhan yang “benar” di bumi. Bangsa alien yang mampu bikin UFO mirip awan kinton-nya Dragon Ball, ternyata bego banget dalam memahami  spiritualitas bumi hehehe…

Kedua kritiknya yang nanggung. Ia cuma ngritik pemberhalaan Tuhan dan agama di level permukaan sih. Simbol yang dipake di film ini kebanyakan juga jarang menyinggung umat yang itu. Itu. Ya..saya nggak enak ngomongnya karena saya bagian dari itu hehehe. Tapi saya paham. Karena umat yang itu (ya saya juga masuk) level lugunya mirip ama PK. Lugu tapi level kekerasannya mirip ama alien dari film Mars Attack-nya Tim Burton.  Daripada kena demo kan ya main aman aja…

So, kesimpulanhe gimanahe? Ki filmhe apikporahe? Piye karepe? (sorry lagi ngelatih bahasa India saya)


Well, it’s fun, good, entertaining but agak nanggung kalo ngritik. Tapi siapa tahu ada sekuelnya. PK tapi cewek....dan turun ke bumi bugil juga...(maunyaaaaaaa...)

Tontonlah PK…meski jogednya nggak sebanyak biasanya film India.
Selama 4 tahunan, saya amati film yang dibintangi Aamir Khan selalu beda dengan tipikal film Bollywood pada umumnya. Drama, nyanyi, njoged, gelut dan cinta….sebuah kelengkapan genre “masala” yang khas India. Tapi film Aamir selalu beda. Tema yang tidak umum, storytelling yang asyik dan tentunya totalitas Aamir Khan membuat saya selalu “terpaksa” menengok film dia. Ya tapi saya jelas nggak sebrutal konco almamater saya si Mahfud Ikhwan lah ya. Jadi kalo anda termasuk orang yang setengah hati suka sama Bollywood, maka siapa tahu mata saya bisa mewakili anda hehehe…

"Jaggu..Jaggu...kamu kenapa kamu pakai baju? Kok nggak kayak di planet saya?"
"PK... gue gampar mulut lo!" PLOKKK!

PK  adalah film komedi satir soal agama. Saya nonton film ini setelah 3 Idiots dan Taare Zameen Par. Jadi kesan akan kecemerlangan filmnya Aamir masih fresh-freshnya.

Aamir Khan berperan sebagai alien bugil sixpack dari planet antah berantah. Profesinya di sono adalah ilmuwan “alienologi” yang wilayah kerjanya antar galaksi. Suatu ketika si alien ini ditugasi nyelidikin bumi. Ndilalah turunnya di Rajastan India. Ya bosen lah turunnya di Amerika melulu dan urusan ama Steven Spielberg. Alih-alih dapat kesan ramah-tamah yang mungkin hanya bisa ia dapat kalo turun di Indonesia, ia malah ketemu pria jahat yang menjambret kont...eh remote controlnya. Maklum aja, remote controlnya mirip kalung permata. Untung aja ia nggak diperkosa. Kalo diperkosa saya bakal stop nonton film ini seketika.

Walhasil si alien pun kelabakan mencari remote controlnya di mana-mana. Terpaksalah ia belajar bahasa manusia. Karena ke-O’on-annya, ia banyak bikin masalah di masyarakat bumi. Itulah asal si alien dapat julukan PK. PK dibaca pee-kay (pi-key) yang artinya mabuk… atau bisa juga kita artikan “piye karepe?”. Soalnya emang nih Alien tingkah lakunya kagak jelas “karepe arep piye”.

Petualangan besar PK dimulai ketika ia harus mencari Tuhan karena orang-orang yang ia tanya soal barangnya bilang, “Hanya Tuhan yang tahu.” Lantas alien yang berperadaban maju beberapa juta "stop" dari manusia ini mengartikannya secara harfiah. PK mengikuti ritual semua agama yang ia temui. Nggak tahu di planet asalnya ini ada agama apa enggak. Yang jelas dia ikut aja apa kata orang soal Tuhan. Andai dia lahir di Indonesia sih enak. Dapat warisan.

Petualangan PK antara lain juga mempertemukannya dengan orang bumi yang baik. Jaggu, seorang cewek hidung “mbangir” (ya jelaslah cewek India non Dravida) yang sedang bermasalah dengan hubungan cinta antar budaya dan agama. Sebenarnya, di saat yang sama ketika PK tiba, Jaggu (Anushka Sharma) yang India Hindu lagi ada hubungan “yang-yangan” Sarfaraz (Sushant Singh Rajput) yang Pakistan muslim. Hubungannya sudah diprediksi bubar sama seorang enterpreneur dukunisme bernama Tapasvi. Galaulah si Jaggu.

Sementara itu PK yang tak kunjung dapat nemu jawaban atas remotenya ini juga ikut-ikutan galau. Cuma di level spiritualitas yang beda. Jaggu galau pacar, PK galau Tuhan. Tuhan mana yang bisa menjawab di mana remote-nya? Lalu PK pun membongkar banyak keyakinan mapan untuk mempertanyakan. Kurang lebih PK nanya, “Kamu yang sok ceramah soal Tuhan itu emang kamu punya akses langsung ke nomor telpon-Nya?”

Dan begitulah premis film ini dibangun. Do we dial the right number?

Oke, my reviews, guys sedulur kabeh….

APIKE

Filmnya menghibur.  Jajaran castnya prima. Akting Aamir Khan nggak mengecewakan amat. Darimana pula ide alien  bugil ya? saya jadi inget adegannya Terminator (Sutradara James Cameron). Anoushka Sharma pun sexy dengan bibir (yang mungkin udah diphotoshop ama pisau bedah nggak tauk deh) juga cleavage-nya yang nauudzubillah indah merekah. Sanjay Dutt (tak kusangka-sangka) nongol dengan keren meski cuma sebagai peran pembantu. Gila! Aku kok bisa nggak ingat ama aktor India yang pertama kukenal ini.

Satu kalimat yang saya garis bawahi. PK mempertanyakan bagaimana mungkin manusia membela Tuhan? Semesta ini begitu besar dan bumi ini Cuma setitik kecil. Tuhan yang pastinya lebih besar dari alam semesta ini mau dibela oleh sekumpulan organisme yang kecil banget compared with all of the universe? Come on, guys…Tuhan tak mungkin dibela oleh manusia! Mungkin gitu kata hatinya PK.

O’owwww ini mulai sensitif yak! :D kalimat serupa pernah diucapkan Gus Dur dan langsung deh Gus Dur dikafirkan hehehe …Sudahlah….nggak usah mancing perkara lagi.

KURANGE

Horizon harapan saya begitu nanjak karena saya memang suka banget tema-tema spiritual dan agama. Begitu nonton saya langsung pasang muka lempeng…is that all? Mung ngono kuwi thok, guys? Mungkin saya terlalu berharap banyak.

Minusnya PK menurutku ada beberapa hal…

Pertama sosok si alien yang karakternya lebih mirip Forrest Gump. Mungkinkah di planet asalnya kemampuan mencerna majas bukan merupakan bagian dari kecerdasan? Soalnya nih si alien lugunya nggak ketulungan. Lihat aja! Betapa bingung dia nyari Tuhan yang “benar” di bumi. Bangsa alien yang mampu bikin UFO mirip awan kinton-nya Dragon Ball, ternyata bego banget dalam memahami  spiritualitas bumi hehehe…

Kedua kritiknya yang nanggung. Ia cuma ngritik pemberhalaan Tuhan dan agama di level permukaan sih. Simbol yang dipake di film ini kebanyakan juga jarang menyinggung umat yang itu. Itu. Ya..saya nggak enak ngomongnya karena saya bagian dari itu hehehe. Tapi saya paham. Karena umat yang itu (ya saya juga masuk) level lugunya mirip ama PK. Lugu tapi level kekerasannya mirip ama alien dari film Mars Attack-nya Tim Burton.  Daripada kena demo kan ya main aman aja…

So, kesimpulanhe gimanahe? Ki filmhe apikporahe? Piye karepe? (sorry lagi ngelatih bahasa India saya)


Well, it’s fun, good, entertaining but agak nanggung kalo ngritik. Tapi siapa tahu ada sekuelnya. PK tapi cewek....dan turun ke bumi bugil juga...(maunyaaaaaaa...)

Tontonlah PK…meski jogednya nggak sebanyak biasanya film India.
Baca

NGOBROLIN BOLLYWOOD AMA MAHFUD IKHWAN

Apakah anda suka film Bollywood?

Apakah anda masih ngerasa film India tuh norak abis? Lihat aja tiap ketemu tiang musti njoged dan nyanyi. India dengan tari dan nyanyi nyaris identik kayak film Hongkong dengan Kungfu. Tapi kalo nggak mendalami satu hal ya semuanya akan tampak sama saja.

Saya nonton film Bollywood sejak SD, yakni di TPI. TPI (waktu itu Televisi Pendidikan Indonesia) merupakan TV pertama yang menayangkan film-film India. Kebanyakan durasi film India adalah 3 jam, maka ada yang khas dari cara TPI menayangkannya. Biasanya filmnya dipotong jadi 4 bagian dan ditayangkan seminggu sekali, seperti jadi miniseri.

Bintang Hollywood yang saya kenal pertama adalah Sanjay Dutt, Amitabh Bachchan dan Salman Khan. Kalo perempuan Madhuri Dixit dan Aishwarya Rai.

Aishwarya Rai, kecantikan yang tak tertolak

Tapi ada jenuhnya juga ketika nonton India temanya itu-itu aja. Sama kayak bosannya saya ama serial Kungfu Mandarin. Ketika nonton film-film Amir Khan yang terkini, saya seolah menemukan harapan dalam nonton film India. 3 Idiots, Taree Zamin Paar, PK dan saat saya nulis ini yang terbaru adalah Dangal. 3 Idiots adalah film pertama yang bikin saya berharap ada perkembangan baru di Bollywood.

Menyetir motor matic, ia adalah mimpi buruk. Menodongkan pistol apalagi... Madhuri Dixit

Kecantikan klasik Madhuri Dixit

Jujur aja selera musikal saya bukanlah musikal Bollywood. Tapi kalo ngelihat Katrina Kaif goyang....kok guilty pleasure banget ya? Atau sexynya Aishwarya Rai dalam Dhoom 2....owww gilti pleserrrrr!!!

Selera saya soal kecantikan fisik juga cenderung "orientalis" atau "manis pedesaan" atau "keimutan Syar'i"..."kebahenolan akrobatik" juga suka. India? Hmmm... sebenarnya not my type. Tapi ya ada kecualinya.

Kecantikan klasik Madhuri Dixit adalah sesuatu yang saya wow-kan, imut kekinian kayak Alia Bhatt juga sesuatu yang saya ahhh-kan. Belum lagi Katrina Kaif yang jelas oohhhh-istic.

Keseksian tak terelakkan...Katrina

A guilty pleasure....Katrina Kaif

Alternatif romance selain Korean Drama....Bollywood sweetness

Ada yang lebih manis dari Alia Bhatt?

Nah untuk mengenal (kenal aja dulu...paham belakangan haha) soal film India. Saya mau ngobrol ama pakarnya. Dia adalah satu-satunya (setahu saya) orang yang nulis referensi mendalam berbahasa Indonesia soal Bollywood.

Dapatkan bukunya.

MAHFUD IKHWAN, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini adalah penulis buku “Aku dan Film India melawan Dunia” (penerbit EA Books 2017). Dia bisa saya bilang “Wikipedia berjalan soal Bollywood” dalam bahasa Indonesia.

Kita mulai obrolan ini.

===========

GUGUN: Pertama. Sebenarnya Bollywood itu istilah dari siapa? Mengacu ke industri film yang mana?

MAHFUD: Hahaha... itu sebenarnya baru muncul di awal 90-an. diberikan oleh jurnalis mereka. Jadi semacam nebeng tenar, biar naik kelas. Ini sebenarnya berbarengan dengan keterbukaan ekonomi pasca rejim (sok) sosialis Indira Gandhi.

MAHFUD: Bollywood hanya mengacu kepada industri film di Bombay (sekarang Mumbai). Tapi, istilah Bollywood segera dikopi oleh industri-industri film di bagian lain di India. macam di Kolkata, Chennai, Sochi, Hyderabad, dst.

GUGUN: Bahasa apa yang dipakai di film Bollywood?

MAHFUD: Bollywood memakai bahasa Hindi. Kira-kira mungkin ragam pasaran dari Urdu, bahasa resmi yang dulu dipakai oleh kesultanan Muslim yang jatuh bangun di India utara.

GUGUN: Kalau yang berbahasa Tamil?

MAHFUD: Industri film di India tersebar "merata" di setiap regionnya. dan mereka memakai bahasa masing-masing. Chennai pakai Tamil, Kolkata pakai Bengali, Kerala pakai Malayalam, Hyderabad pake Telugu, dst.

GUGUN: Jadi peta industrinya itu gimana? Berdasarkan daerahnya kah?

MAHFUD: Tentu saja. dan itu hebatnya. Cuma yang tak terhindarkan adalah dominasi Bollywood dengan bahasa Hindi-nya.


GUGUN: Nah jadi inikah bedanya India dengan Amerika ya? kalo Hollywood kan tidak ada pengelompokan berdasarkan daerah. Mereka berawal dari studio system. Begitu atau bagaimana?

MAHFUD: Studio system sebenarnya juga terjadi di India. Dan karena itu, beberapa pusat industri film lebih mendominasi dibanding yang lain. Cuma, diversitas bahasa menuntut industri untuk memberi penonton film yang berbahasa daerahnya. Sistem dubbing ditempuh, tapi itu sering dianggap nggak efektif. Makanya yang dilakukan akhirnya saling me-remake. Ini hal yang sangat khas India.

GUGUN: Jadi pengelompokan daerah tadi berdasarkan sasaran penonton atau lokasi industrinya?

MAHFUD:  Lokasi industri melayani daerahnya. Film-film Tamil tak akan ditonton di utara. Kalau ada yang bagus di selatan, maka yangg utara nge-dubb atau me-remake. Contoh hasil dubbing adalah Bahubali (yang aslinya berbahasa Telugu). Sementara film-film Hindi kadang butuh di-remake agar penonton di Bengal atau Kerala mau menonton. Tapi, Bollywood, karena kekuatan modal dan dominasi kulturalnya, tentu saja kadang melewati sekat-sekat yang kubilang itu.

GUGUN: Jadi kalo misalnya kalau mau bikin film yang mau ditonton di Bengal maka filmnya musti diproduksi di Bengal atau yang satu "rayon" kedaerahan?

MAHFUD:  Aku tak tahu. Tapi logisnya, untuk membuat film berbahasa Bengal, setidaknya kau butuh aktor-aktor Bengal dan keterjangkauan distribusinya. Maka ya bikinnya di Kolkatta. Tapi, mungkin yang belum aku sebut dari tadi sebenarnya adalah perbedaan karakter di masing-masing industri. Dan itu mempengaruhi di mana kau bikin film, dengan siapa kau minta dibikinin music score, dst. Tapi lagi-lagi, di luar desentralisasi itu, bagaimana pun, Bollywood adalah tempat uang dan tempat ketenaran. Jadi ia pada akhirnya tetap menjadi centre. Contoh menarik adalah sutradara Rituparno Gosh. Ia sangat Bengal. filmnya selalu tak lebih dari dua jam, nggak pakai nari-nari, seringnya pakai bahasa Bengal atau malah kadang pakai bahasa Inggris. Tapi untuk mengangkat filmnya, ia sering memakai bintang-bintang Bollywood. Jadinya adalah film-film seni yang ditonton relatif banyak orang.

GUGUN: Jadi dalam perindustrian film India, seberapa besar signifikansi kedaerahan tadi? Sebagai perbandingan di Indonesia, penonton film di daerah pun lebih mengapresiasi film nasional (bisa dibaca Jakarta). Kalau yang daerah murni, biasanya levelnya cuma film TV dan tayangnya di daerah pula. Dan di daerah ini jarang yang levelnya sampai jadi industri. Kalau pun ada dan bisa diitung mungkin cuma Makassar. Purbalingga yang gudangnya filmmaker daerah saja distribusi offline-nya cuma di festival.

MAHFUD:  Indonesia jelas bukan bandingan. Pusat-pusat film selain Mumbai, seperti Kolkatta atau Chenai, punya superstarnya sendiri-sendiri, komposer-komposer hebatnya sendiri, dan penyanyi-penyanyi joss-nya sendiri. dan mereka kadang memproduksi film-film yang lebih hebat, lebih mahal, dan lebih tenar dibanding Bollywood. Contohnya Bahubali. Contoh lain adalah sosok Rajinikant di film-film Tamil. Orang ini dipuja di India selatan lebih dari Shah Rukh atau Bahchchan di utara.

GUGUN: Oo jadi ternyata daerah saling jor-joran bikin film ya? Jadi selera mereka tidak sentral kayak di sini?

MAHFUD:  Jelas. Tapi kalau ngomong sentralisme ya masih Bollywood. Kau bisa gugling atau baca di Wikipedia soal daerah mana saja yang merupakan penghasil film terbesar. Juga siapa superstar di masing-masing daerah itu dan film apa yang paling terkenal dari sana.

GUGUN: Kalau film India yang beda apa? Yang nggak tipikal njoged dan nyanyi.

Karya Satyajit Ray, "The World of Apu" tahun 1959 (Courtesy of Janus Films). Jangan nyari orang njoged.

MAHFUD:  Kalo mau nyari yang arthouse, biasanya banyak ditemukan di film-film Bengal (tradisi seni tinggi mereka nggilani (luar biasa ngeri) soalnya, dan terutama pematronan mereka kepada realisme romantik ala Satyajit Ray. Tapi, arthouse juga ditemukan di film-film selatan, baik di Tamil maupun Malayalam, yang punya tradisi sinema kiri. Tapi, Bollywood juga banyak arthouse-nya.

GUGUN: Sekarang soal genre. Biasanya saya nontonnya drama. Kadang ada juga sci-fi kayak film Ra-One dan Enthiran. Baru-baru ini yang heboh adalah Bahubali. Gimana pendapatmu soal film itu? Sebenarnya sevariatif apa sih genre film di India/Bollywood?

MAHFUD:  Bahubali 1 wis nonton tapi yang 2 belum. CGI-nya mengagumkan. Tapi sebagai penonton film India level snob, kisah dan kesan yang kudapat sih biasa saja, hehehe... Bahubali kupikir adalah jawaban untuk 300-nya Hollywood. Itu saja, hahaha...
Dan ngomong soalgenre, yang pertama mesti disebut adalah Masala. Itu mengatasi semua genre di Bollywood. Dalam satu film ada drama, eksyen, komedi.

GUGUN: Jadi masala adalah film Bollywood dengan unsur drama, laga dan komedi?

MAHFUD:  Begitulah. Tapi masala bisa menampung lebih banyak hal lagi. Fiksi sains misalnya. Itu lah kenapa disebut masala. Masala itu kalau aku bayangkan kayak gado-gado di sini. Isinya macem-macem, rasanya macem-macem.  Meski begitu, beriring dengan mengglobalnya Bollywood, beberapa genre akhirnya menegaskan diri. Kini kita bisa ketemu film-film komedi slapstik, komedi romantis, komedi yang bertumpu pada dialog. Yang rame sejak tahun 2000-an adalah horror. Horror erotis terutama. Sport moviesekarang sedang jaya-jayanya. Puncaknya mungkin Dangal-nya Aamir Khan. Selain itu juga sedang marak bikin biopic.

GUGUN: Contoh film-film yang bergenre tadi apa saja? Misal khusus sci-fi, horror dll. kalo action sih jelas ada ya.

MAHFUD:  Fiksi sains contohnya pada Ra-One itu. Tapi, Ra-One sebenarnya kalah dulu dan kalah keren sama Robot (Enthiran), film Tamil yang mirip Bicentinal Man yang dibintangi Rajinikant. Film yang perlu kamu tonton untuk visual effect dengan sentuhan fiksi sains adalah Eaga. Lagi-lagi ini film selatan.

Kemudian francais-nya Krisshh adalah genre superhero. Dimulai dari tahun 1986, Mr.India, anak yatim piatu yang bisa menghilang. Belakangan di film-film Tamil banyak yang macam ini hehe....

GUGUN: Gimana dengan horror? kenapa jarang film horror India ya? Hanya satu judul film india horror yang saya ingat. Nagin. Itu aja juga gak pernah nonton. Hanya gara-gara posternya dipasang di bioskop kampung saya.

MAHFUD:  Horror Bollywood memang jarang muncul di Indonesia sih. Tapi belakangan ini dominan kok. Coba kamu gugling film “Ek Thi Dayan”.

GUGUN: Sekarang film-film yang arthouse. Yang baru terutama. Film apa yang dapat international acclaim?

MAHFUD:  Lha, ini yang biasanya kurang apdet. Soalnya arthouse ini biasanya juga gak rame-rame dibahas baik oleh koran-koran lokal sana apalagi oleh koran-koran di sini. Jadi seringnya telat. Tapi yang belum lama ini kutonton adalah “Visaranai”. Film dari Hyderabad. Ini thriller hukum yang menggigit dan bikin menggigil. Dapat perhatian di Venice. Tapi begini sih, bagaimana pun aku selalu lebih menyukai yang industrial namun tetap bagus. Film-film Bollywood yang keluar dari pakem film-film Bollywood, tapi tetap dimainkan para bintang. Ya film-film dengan nuansa gelap. Film-film gangster asyik-asyik tuh. Itu jauh lebih memuaskanku sebagai penonton film India. Sebab, rata-rata yang arthouse itu tampak seperti hanya ingin ditonton orang Eropa.

GUGUN:  Kenapa film india berdurasi 3 jam?

MAHFUD:  Karena mereka butuh menempatkan setidaknya sedikitnya 7 lagu yang mana masing-masing durasinya 7 menit. Film-film yang nggak pake lagu (atau yang OST-nya ditaruh sebagai bekgron biasanya ya sekitar 2 jam-an). Coba cek film-film Rituparno Gosh. Juga film Bollywood lain yang tidak mainstream.

GUGUN: Jadi mereka ini pakai “4 structure act narrative” yang mana satu act-nya adalah njoged ya? hahaha

MAHFUD:  Tentu saja, haha...

GUGUN: Sekarang tentang cast. Ini agak bau-bau rasial bahasannya. Yang saya lihat para aktor adalah yang berdarah "Arya". Sementara India yang "gelap" paling-paling jadi penjahat hehehe. Sebenarnya gimana petanya? Sebagai bandingan, di Hollywood ada isu “whitewashing”, dimana aktor-aktor Kaukasia memerankan karakter Asia. Di masa lalu tak banyak porsi untuk aktor kulit hitam. Sebenarnya etnografi aktor Bollywood itu gimana?

MAHFUD:  hahaha.. ini agak sulit aku ngejawabnya. Mungkin karena memang belum baca. Lagipula hal beginian tak terlalu menarik perhatianku. Sebab, sederhananya, industri film India itu rasis, paternalistik, klientalistik, dan tentu saja korup. Dan itu gak perlu kucari tahu.

GUGUN: Ya secara visual kan kita lihat aktor dan yang njoged di latar itu paras dan bodynya wow semua. Tapi kalo lihat profil masyarakat aslinya kok beda? Termasuk india lokal di sini. Sorry, bukan maksud merendahkan.

MAHFUD:  Penonton film India itu sama dengn penonton film Indonesia. Mereka butuh eskapisme dari hidup yang rumit. Mereka butuh mimpi. Mereka butuh realitas yg berbeda dengan realitas yang mereka alami. Mereka butuh melihat rumah megah, perempuan-perempuan bening dan bahenol, pahlawan gagah, dst. Makanya yang mendominasi adalah orang-orang dari utara. Kalo mau cari yang “gelap”, coba cek bosnya, sutradaranya, produsernya, hahaha.. soal yang aku bilang terakhir itu sudah jadi anekdot. Mihir Bose menulis, di studio-studio yang sumpek di Bollywood, bos-bos berkulit gelap dan berbaju putih, dengan ketek basah oleh keringat, membawa koper-koper penuh uang yang mungkin dipinjamnya dari para mafia Mumbai (yang berkulit lebih gelap lagi) hahaha…

Tapi kalo mau lihat diversiti ras, coba cek ke film-film selatan. Rajinikant itu nggak putih dan nggak tampan dalam “standar industri”. Di industri film Malayalam, aktor-aktor penguasanya sudah pada gendut dengan kumis segede singkong gosong. Mereka sudah pada tuwir menunggu pensiun. Biasanya mereka mulai mengorbitkan anak-anak atau menantunya. 

Sebagai bahanreferensi ini aku kasih contoh.  Salt N' Pepper. Ini adalah film komediromantik plus kuliner yang asyik. Bintang cowoknya amit-amit itemnya. dan diakeren. 

Lal, aktor tenar yang lebih mirip bapak kost-mu.... atau calon mertuamu

Kamu musti tahu bintang Malayalam satu ini. M. P. Michael yang tenar dengan nama panggungnya, Lal. Tidak terlalu item (seperti di filmnya) sih, tapi jelas ini bukan sosok idaman mbak-mbak penggemar serial India di Indonesia. 

Soal perbedaan orang India di film sama orang India di dunia nyata ini aku ada cerita. Seorang teman yang kerja di Malaysia mentah-mentah menolak untuk percaya bahwa Shah Rukh, Aamir, atau Salman itu orang India. Sebab sehari-hari ia bergaul dengan orang-orang India di Malaysia (yang disebutnya sebagai Bangla itu) itemnya minta ampun. "Mana ada org India putih?", begitu katanya hahaha..

============


Apakah anda suka film Bollywood?

Apakah anda masih ngerasa film India tuh norak abis? Lihat aja tiap ketemu tiang musti njoged dan nyanyi. India dengan tari dan nyanyi nyaris identik kayak film Hongkong dengan Kungfu. Tapi kalo nggak mendalami satu hal ya semuanya akan tampak sama saja.

Saya nonton film Bollywood sejak SD, yakni di TPI. TPI (waktu itu Televisi Pendidikan Indonesia) merupakan TV pertama yang menayangkan film-film India. Kebanyakan durasi film India adalah 3 jam, maka ada yang khas dari cara TPI menayangkannya. Biasanya filmnya dipotong jadi 4 bagian dan ditayangkan seminggu sekali, seperti jadi miniseri.

Bintang Hollywood yang saya kenal pertama adalah Sanjay Dutt, Amitabh Bachchan dan Salman Khan. Kalo perempuan Madhuri Dixit dan Aishwarya Rai.

Aishwarya Rai, kecantikan yang tak tertolak

Tapi ada jenuhnya juga ketika nonton India temanya itu-itu aja. Sama kayak bosannya saya ama serial Kungfu Mandarin. Ketika nonton film-film Amir Khan yang terkini, saya seolah menemukan harapan dalam nonton film India. 3 Idiots, Taree Zamin Paar, PK dan saat saya nulis ini yang terbaru adalah Dangal. 3 Idiots adalah film pertama yang bikin saya berharap ada perkembangan baru di Bollywood.

Menyetir motor matic, ia adalah mimpi buruk. Menodongkan pistol apalagi... Madhuri Dixit

Kecantikan klasik Madhuri Dixit

Jujur aja selera musikal saya bukanlah musikal Bollywood. Tapi kalo ngelihat Katrina Kaif goyang....kok guilty pleasure banget ya? Atau sexynya Aishwarya Rai dalam Dhoom 2....owww gilti pleserrrrr!!!

Selera saya soal kecantikan fisik juga cenderung "orientalis" atau "manis pedesaan" atau "keimutan Syar'i"..."kebahenolan akrobatik" juga suka. India? Hmmm... sebenarnya not my type. Tapi ya ada kecualinya.

Kecantikan klasik Madhuri Dixit adalah sesuatu yang saya wow-kan, imut kekinian kayak Alia Bhatt juga sesuatu yang saya ahhh-kan. Belum lagi Katrina Kaif yang jelas oohhhh-istic.

Keseksian tak terelakkan...Katrina

A guilty pleasure....Katrina Kaif

Alternatif romance selain Korean Drama....Bollywood sweetness

Ada yang lebih manis dari Alia Bhatt?

Nah untuk mengenal (kenal aja dulu...paham belakangan haha) soal film India. Saya mau ngobrol ama pakarnya. Dia adalah satu-satunya (setahu saya) orang yang nulis referensi mendalam berbahasa Indonesia soal Bollywood.

Dapatkan bukunya.

MAHFUD IKHWAN, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini adalah penulis buku “Aku dan Film India melawan Dunia” (penerbit EA Books 2017). Dia bisa saya bilang “Wikipedia berjalan soal Bollywood” dalam bahasa Indonesia.

Kita mulai obrolan ini.

===========

GUGUN: Pertama. Sebenarnya Bollywood itu istilah dari siapa? Mengacu ke industri film yang mana?

MAHFUD: Hahaha... itu sebenarnya baru muncul di awal 90-an. diberikan oleh jurnalis mereka. Jadi semacam nebeng tenar, biar naik kelas. Ini sebenarnya berbarengan dengan keterbukaan ekonomi pasca rejim (sok) sosialis Indira Gandhi.

MAHFUD: Bollywood hanya mengacu kepada industri film di Bombay (sekarang Mumbai). Tapi, istilah Bollywood segera dikopi oleh industri-industri film di bagian lain di India. macam di Kolkata, Chennai, Sochi, Hyderabad, dst.

GUGUN: Bahasa apa yang dipakai di film Bollywood?

MAHFUD: Bollywood memakai bahasa Hindi. Kira-kira mungkin ragam pasaran dari Urdu, bahasa resmi yang dulu dipakai oleh kesultanan Muslim yang jatuh bangun di India utara.

GUGUN: Kalau yang berbahasa Tamil?

MAHFUD: Industri film di India tersebar "merata" di setiap regionnya. dan mereka memakai bahasa masing-masing. Chennai pakai Tamil, Kolkata pakai Bengali, Kerala pakai Malayalam, Hyderabad pake Telugu, dst.

GUGUN: Jadi peta industrinya itu gimana? Berdasarkan daerahnya kah?

MAHFUD: Tentu saja. dan itu hebatnya. Cuma yang tak terhindarkan adalah dominasi Bollywood dengan bahasa Hindi-nya.


GUGUN: Nah jadi inikah bedanya India dengan Amerika ya? kalo Hollywood kan tidak ada pengelompokan berdasarkan daerah. Mereka berawal dari studio system. Begitu atau bagaimana?

MAHFUD: Studio system sebenarnya juga terjadi di India. Dan karena itu, beberapa pusat industri film lebih mendominasi dibanding yang lain. Cuma, diversitas bahasa menuntut industri untuk memberi penonton film yang berbahasa daerahnya. Sistem dubbing ditempuh, tapi itu sering dianggap nggak efektif. Makanya yang dilakukan akhirnya saling me-remake. Ini hal yang sangat khas India.

GUGUN: Jadi pengelompokan daerah tadi berdasarkan sasaran penonton atau lokasi industrinya?

MAHFUD:  Lokasi industri melayani daerahnya. Film-film Tamil tak akan ditonton di utara. Kalau ada yang bagus di selatan, maka yangg utara nge-dubb atau me-remake. Contoh hasil dubbing adalah Bahubali (yang aslinya berbahasa Telugu). Sementara film-film Hindi kadang butuh di-remake agar penonton di Bengal atau Kerala mau menonton. Tapi, Bollywood, karena kekuatan modal dan dominasi kulturalnya, tentu saja kadang melewati sekat-sekat yang kubilang itu.

GUGUN: Jadi kalo misalnya kalau mau bikin film yang mau ditonton di Bengal maka filmnya musti diproduksi di Bengal atau yang satu "rayon" kedaerahan?

MAHFUD:  Aku tak tahu. Tapi logisnya, untuk membuat film berbahasa Bengal, setidaknya kau butuh aktor-aktor Bengal dan keterjangkauan distribusinya. Maka ya bikinnya di Kolkatta. Tapi, mungkin yang belum aku sebut dari tadi sebenarnya adalah perbedaan karakter di masing-masing industri. Dan itu mempengaruhi di mana kau bikin film, dengan siapa kau minta dibikinin music score, dst. Tapi lagi-lagi, di luar desentralisasi itu, bagaimana pun, Bollywood adalah tempat uang dan tempat ketenaran. Jadi ia pada akhirnya tetap menjadi centre. Contoh menarik adalah sutradara Rituparno Gosh. Ia sangat Bengal. filmnya selalu tak lebih dari dua jam, nggak pakai nari-nari, seringnya pakai bahasa Bengal atau malah kadang pakai bahasa Inggris. Tapi untuk mengangkat filmnya, ia sering memakai bintang-bintang Bollywood. Jadinya adalah film-film seni yang ditonton relatif banyak orang.

GUGUN: Jadi dalam perindustrian film India, seberapa besar signifikansi kedaerahan tadi? Sebagai perbandingan di Indonesia, penonton film di daerah pun lebih mengapresiasi film nasional (bisa dibaca Jakarta). Kalau yang daerah murni, biasanya levelnya cuma film TV dan tayangnya di daerah pula. Dan di daerah ini jarang yang levelnya sampai jadi industri. Kalau pun ada dan bisa diitung mungkin cuma Makassar. Purbalingga yang gudangnya filmmaker daerah saja distribusi offline-nya cuma di festival.

MAHFUD:  Indonesia jelas bukan bandingan. Pusat-pusat film selain Mumbai, seperti Kolkatta atau Chenai, punya superstarnya sendiri-sendiri, komposer-komposer hebatnya sendiri, dan penyanyi-penyanyi joss-nya sendiri. dan mereka kadang memproduksi film-film yang lebih hebat, lebih mahal, dan lebih tenar dibanding Bollywood. Contohnya Bahubali. Contoh lain adalah sosok Rajinikant di film-film Tamil. Orang ini dipuja di India selatan lebih dari Shah Rukh atau Bahchchan di utara.

GUGUN: Oo jadi ternyata daerah saling jor-joran bikin film ya? Jadi selera mereka tidak sentral kayak di sini?

MAHFUD:  Jelas. Tapi kalau ngomong sentralisme ya masih Bollywood. Kau bisa gugling atau baca di Wikipedia soal daerah mana saja yang merupakan penghasil film terbesar. Juga siapa superstar di masing-masing daerah itu dan film apa yang paling terkenal dari sana.

GUGUN: Kalau film India yang beda apa? Yang nggak tipikal njoged dan nyanyi.

Karya Satyajit Ray, "The World of Apu" tahun 1959 (Courtesy of Janus Films). Jangan nyari orang njoged.

MAHFUD:  Kalo mau nyari yang arthouse, biasanya banyak ditemukan di film-film Bengal (tradisi seni tinggi mereka nggilani (luar biasa ngeri) soalnya, dan terutama pematronan mereka kepada realisme romantik ala Satyajit Ray. Tapi, arthouse juga ditemukan di film-film selatan, baik di Tamil maupun Malayalam, yang punya tradisi sinema kiri. Tapi, Bollywood juga banyak arthouse-nya.

GUGUN: Sekarang soal genre. Biasanya saya nontonnya drama. Kadang ada juga sci-fi kayak film Ra-One dan Enthiran. Baru-baru ini yang heboh adalah Bahubali. Gimana pendapatmu soal film itu? Sebenarnya sevariatif apa sih genre film di India/Bollywood?

MAHFUD:  Bahubali 1 wis nonton tapi yang 2 belum. CGI-nya mengagumkan. Tapi sebagai penonton film India level snob, kisah dan kesan yang kudapat sih biasa saja, hehehe... Bahubali kupikir adalah jawaban untuk 300-nya Hollywood. Itu saja, hahaha...
Dan ngomong soalgenre, yang pertama mesti disebut adalah Masala. Itu mengatasi semua genre di Bollywood. Dalam satu film ada drama, eksyen, komedi.

GUGUN: Jadi masala adalah film Bollywood dengan unsur drama, laga dan komedi?

MAHFUD:  Begitulah. Tapi masala bisa menampung lebih banyak hal lagi. Fiksi sains misalnya. Itu lah kenapa disebut masala. Masala itu kalau aku bayangkan kayak gado-gado di sini. Isinya macem-macem, rasanya macem-macem.  Meski begitu, beriring dengan mengglobalnya Bollywood, beberapa genre akhirnya menegaskan diri. Kini kita bisa ketemu film-film komedi slapstik, komedi romantis, komedi yang bertumpu pada dialog. Yang rame sejak tahun 2000-an adalah horror. Horror erotis terutama. Sport moviesekarang sedang jaya-jayanya. Puncaknya mungkin Dangal-nya Aamir Khan. Selain itu juga sedang marak bikin biopic.

GUGUN: Contoh film-film yang bergenre tadi apa saja? Misal khusus sci-fi, horror dll. kalo action sih jelas ada ya.

MAHFUD:  Fiksi sains contohnya pada Ra-One itu. Tapi, Ra-One sebenarnya kalah dulu dan kalah keren sama Robot (Enthiran), film Tamil yang mirip Bicentinal Man yang dibintangi Rajinikant. Film yang perlu kamu tonton untuk visual effect dengan sentuhan fiksi sains adalah Eaga. Lagi-lagi ini film selatan.

Kemudian francais-nya Krisshh adalah genre superhero. Dimulai dari tahun 1986, Mr.India, anak yatim piatu yang bisa menghilang. Belakangan di film-film Tamil banyak yang macam ini hehe....

GUGUN: Gimana dengan horror? kenapa jarang film horror India ya? Hanya satu judul film india horror yang saya ingat. Nagin. Itu aja juga gak pernah nonton. Hanya gara-gara posternya dipasang di bioskop kampung saya.

MAHFUD:  Horror Bollywood memang jarang muncul di Indonesia sih. Tapi belakangan ini dominan kok. Coba kamu gugling film “Ek Thi Dayan”.

GUGUN: Sekarang film-film yang arthouse. Yang baru terutama. Film apa yang dapat international acclaim?

MAHFUD:  Lha, ini yang biasanya kurang apdet. Soalnya arthouse ini biasanya juga gak rame-rame dibahas baik oleh koran-koran lokal sana apalagi oleh koran-koran di sini. Jadi seringnya telat. Tapi yang belum lama ini kutonton adalah “Visaranai”. Film dari Hyderabad. Ini thriller hukum yang menggigit dan bikin menggigil. Dapat perhatian di Venice. Tapi begini sih, bagaimana pun aku selalu lebih menyukai yang industrial namun tetap bagus. Film-film Bollywood yang keluar dari pakem film-film Bollywood, tapi tetap dimainkan para bintang. Ya film-film dengan nuansa gelap. Film-film gangster asyik-asyik tuh. Itu jauh lebih memuaskanku sebagai penonton film India. Sebab, rata-rata yang arthouse itu tampak seperti hanya ingin ditonton orang Eropa.

GUGUN:  Kenapa film india berdurasi 3 jam?

MAHFUD:  Karena mereka butuh menempatkan setidaknya sedikitnya 7 lagu yang mana masing-masing durasinya 7 menit. Film-film yang nggak pake lagu (atau yang OST-nya ditaruh sebagai bekgron biasanya ya sekitar 2 jam-an). Coba cek film-film Rituparno Gosh. Juga film Bollywood lain yang tidak mainstream.

GUGUN: Jadi mereka ini pakai “4 structure act narrative” yang mana satu act-nya adalah njoged ya? hahaha

MAHFUD:  Tentu saja, haha...

GUGUN: Sekarang tentang cast. Ini agak bau-bau rasial bahasannya. Yang saya lihat para aktor adalah yang berdarah "Arya". Sementara India yang "gelap" paling-paling jadi penjahat hehehe. Sebenarnya gimana petanya? Sebagai bandingan, di Hollywood ada isu “whitewashing”, dimana aktor-aktor Kaukasia memerankan karakter Asia. Di masa lalu tak banyak porsi untuk aktor kulit hitam. Sebenarnya etnografi aktor Bollywood itu gimana?

MAHFUD:  hahaha.. ini agak sulit aku ngejawabnya. Mungkin karena memang belum baca. Lagipula hal beginian tak terlalu menarik perhatianku. Sebab, sederhananya, industri film India itu rasis, paternalistik, klientalistik, dan tentu saja korup. Dan itu gak perlu kucari tahu.

GUGUN: Ya secara visual kan kita lihat aktor dan yang njoged di latar itu paras dan bodynya wow semua. Tapi kalo lihat profil masyarakat aslinya kok beda? Termasuk india lokal di sini. Sorry, bukan maksud merendahkan.

MAHFUD:  Penonton film India itu sama dengn penonton film Indonesia. Mereka butuh eskapisme dari hidup yang rumit. Mereka butuh mimpi. Mereka butuh realitas yg berbeda dengan realitas yang mereka alami. Mereka butuh melihat rumah megah, perempuan-perempuan bening dan bahenol, pahlawan gagah, dst. Makanya yang mendominasi adalah orang-orang dari utara. Kalo mau cari yang “gelap”, coba cek bosnya, sutradaranya, produsernya, hahaha.. soal yang aku bilang terakhir itu sudah jadi anekdot. Mihir Bose menulis, di studio-studio yang sumpek di Bollywood, bos-bos berkulit gelap dan berbaju putih, dengan ketek basah oleh keringat, membawa koper-koper penuh uang yang mungkin dipinjamnya dari para mafia Mumbai (yang berkulit lebih gelap lagi) hahaha…

Tapi kalo mau lihat diversiti ras, coba cek ke film-film selatan. Rajinikant itu nggak putih dan nggak tampan dalam “standar industri”. Di industri film Malayalam, aktor-aktor penguasanya sudah pada gendut dengan kumis segede singkong gosong. Mereka sudah pada tuwir menunggu pensiun. Biasanya mereka mulai mengorbitkan anak-anak atau menantunya. 

Sebagai bahanreferensi ini aku kasih contoh.  Salt N' Pepper. Ini adalah film komediromantik plus kuliner yang asyik. Bintang cowoknya amit-amit itemnya. dan diakeren. 

Lal, aktor tenar yang lebih mirip bapak kost-mu.... atau calon mertuamu

Kamu musti tahu bintang Malayalam satu ini. M. P. Michael yang tenar dengan nama panggungnya, Lal. Tidak terlalu item (seperti di filmnya) sih, tapi jelas ini bukan sosok idaman mbak-mbak penggemar serial India di Indonesia. 

Soal perbedaan orang India di film sama orang India di dunia nyata ini aku ada cerita. Seorang teman yang kerja di Malaysia mentah-mentah menolak untuk percaya bahwa Shah Rukh, Aamir, atau Salman itu orang India. Sebab sehari-hari ia bergaul dengan orang-orang India di Malaysia (yang disebutnya sebagai Bangla itu) itemnya minta ampun. "Mana ada org India putih?", begitu katanya hahaha..

============


Baca

COLLATERAL dan 2 FILM PEMBUNUH BAYARAN YANG LAIN

Ada 3 film tentang pembunuh bayaran yang jadi favorit teratas saya:
1. Collateral
2. John Wick
3. Leon
Collateral dengan realismenya, John Wick dengan mitologinya dan Leon dengan noir-nya.
Selain 3 di atas, beberapa judul yang perlu saya sebut dengan hormat antara lain: Nikita-nya Luc Besson (sama kayak Leon), The Killer-nya John Woo dan Le Samourai-nya Jean-Pierre Melville.


Collateral adalah film klasik terbaik dari Tom Cruise. Meski saya mengagumi Tom yang selalu total sebagai filmmaker (sejak Mission Impossible), saya selalu cemas ketika dia akting di film-film yang lain. John Reacher pun tak terlalu bisa mengesankan saya.
Tapi Collateral adalah film yang memorable. Pembunuh bayaran yang maniak sama musik jazz, mungkin hanya tertandingi oleh Leon yang hobi miara tanaman sri rejeki. Seandainya ia berada di realm-nya John Wick, keduanya merupakan lawan yang tangguh.
Collateral adalah film terbaik Michael Mann selain Heat.
Ada 3 film tentang pembunuh bayaran yang jadi favorit teratas saya:
1. Collateral
2. John Wick
3. Leon
Collateral dengan realismenya, John Wick dengan mitologinya dan Leon dengan noir-nya.
Selain 3 di atas, beberapa judul yang perlu saya sebut dengan hormat antara lain: Nikita-nya Luc Besson (sama kayak Leon), The Killer-nya John Woo dan Le Samourai-nya Jean-Pierre Melville.


Collateral adalah film klasik terbaik dari Tom Cruise. Meski saya mengagumi Tom yang selalu total sebagai filmmaker (sejak Mission Impossible), saya selalu cemas ketika dia akting di film-film yang lain. John Reacher pun tak terlalu bisa mengesankan saya.
Tapi Collateral adalah film yang memorable. Pembunuh bayaran yang maniak sama musik jazz, mungkin hanya tertandingi oleh Leon yang hobi miara tanaman sri rejeki. Seandainya ia berada di realm-nya John Wick, keduanya merupakan lawan yang tangguh.
Collateral adalah film terbaik Michael Mann selain Heat.
Baca

THE ASSIGNMENT: FILM SPIONASE BAGUS YANG DIREMEHKAN

The Assignment (Christian Duguay, 1997) adalah film thriller spionase yang tak terkenal dan teremehkan. Sutradarnya nggak terkenal dan deretan pemainnya bukan barisan pemain fim box office kecuali Ben Kingsley dan Donald Sutherland. Padahal ini adalah film yang sangat bagus menurut saya. Kisahnya adalah perburuan teroris terkenal Carlos The Jackal. Carlos The Jackal alias Ilyich Ramírez Sánchez adalah teroris yang benar-benar ada dan sekarang sedang dipenjara seumur hidup di Perancis. Yang belajar sejarah perlawanan Palestina dan PLO mungkin masih ingat.


Apa bagusnya?

Plotnya yang seru dan performa meyakinkan Aidan Quinn.

Ceritanya adalah tentang Annibal Ramirez, seorang perwira angkatan laut yang direkrut CIA untuk melacak Carlos The Jackal. Annibal Ramirez punya kemiripan fisik yang nyaris identik dengan Carlos (yang nama aslinya ada Ramirez-nya juga). Skenarionya adalah, Annibal akan menyamar sebagai Carlos, lalu mengorek info detail soal rencana-rencananya yang mungkin dibocorkan ke beberapa orang. Salah satu tantangan beratnya adalah bahkan Annibal harus mampu menyamar sebagai Carlos di depan kekasih Carlos sendiri. Bayangin aja, menyamar sebagai kekasih di hadapan orang yang udah apal bau keteknya.

Meski capture scene ini serasa ber-aura film kelas B atau straight to DVD, percayalah, filmnya nggak semengerikan itu hehehe a good movie actually.

Tapi The Assignment nggak mau ngawur dengan memainkan suspension of disbelief pemirsa. Sebelum ditugaskan, Annibal musti menjalani latihan berat yang membuat kepribadiannya nyaris berubah sempurna. Sampai-sampai rumahtangganya ikutan kacau. Isterinya bingung sama perubahan sifat si Annibal.

Pelatihan Annibal adalah salah satu adegan terbaik soal pelatihan agen spionase. Saya sebutin salah satunya. Saat membuka kulkas, Annibal musti ingat detail isinya dalam sekilas pandang. Misal sarden di rak mana, susu di rak mana, terus lengkapnya isi kulkas apa aja.

Donald, Aidan and Ben. Aidan nggak terkenal-terkenal.

Yang paling menegangkan adalah ketika Annibal pada akhirnya berhadapan dengan Carlos yang asli dan CIA susah membedaan keduanya.

Bagi saya ini adalah a cult classic. Sayang sekali sampe sekarang filmnya nggak terkenal, nggak ada cult follower dan cuma sesekali tayang di TV (btw saya dulu nontonnya di TV).

Karir aktor utamanya redup sampai saat ini. Sutradaranya juga nggak terkenal-terkenal. Kalau Ben Kingsley dan Donald masih kedengeran lah.

Kalo suka film thriller spionase, ini salah satu yang recommended untuk anda.
The Assignment (Christian Duguay, 1997) adalah film thriller spionase yang tak terkenal dan teremehkan. Sutradarnya nggak terkenal dan deretan pemainnya bukan barisan pemain fim box office kecuali Ben Kingsley dan Donald Sutherland. Padahal ini adalah film yang sangat bagus menurut saya. Kisahnya adalah perburuan teroris terkenal Carlos The Jackal. Carlos The Jackal alias Ilyich Ramírez Sánchez adalah teroris yang benar-benar ada dan sekarang sedang dipenjara seumur hidup di Perancis. Yang belajar sejarah perlawanan Palestina dan PLO mungkin masih ingat.


Apa bagusnya?

Plotnya yang seru dan performa meyakinkan Aidan Quinn.

Ceritanya adalah tentang Annibal Ramirez, seorang perwira angkatan laut yang direkrut CIA untuk melacak Carlos The Jackal. Annibal Ramirez punya kemiripan fisik yang nyaris identik dengan Carlos (yang nama aslinya ada Ramirez-nya juga). Skenarionya adalah, Annibal akan menyamar sebagai Carlos, lalu mengorek info detail soal rencana-rencananya yang mungkin dibocorkan ke beberapa orang. Salah satu tantangan beratnya adalah bahkan Annibal harus mampu menyamar sebagai Carlos di depan kekasih Carlos sendiri. Bayangin aja, menyamar sebagai kekasih di hadapan orang yang udah apal bau keteknya.

Meski capture scene ini serasa ber-aura film kelas B atau straight to DVD, percayalah, filmnya nggak semengerikan itu hehehe a good movie actually.

Tapi The Assignment nggak mau ngawur dengan memainkan suspension of disbelief pemirsa. Sebelum ditugaskan, Annibal musti menjalani latihan berat yang membuat kepribadiannya nyaris berubah sempurna. Sampai-sampai rumahtangganya ikutan kacau. Isterinya bingung sama perubahan sifat si Annibal.

Pelatihan Annibal adalah salah satu adegan terbaik soal pelatihan agen spionase. Saya sebutin salah satunya. Saat membuka kulkas, Annibal musti ingat detail isinya dalam sekilas pandang. Misal sarden di rak mana, susu di rak mana, terus lengkapnya isi kulkas apa aja.

Donald, Aidan and Ben. Aidan nggak terkenal-terkenal.

Yang paling menegangkan adalah ketika Annibal pada akhirnya berhadapan dengan Carlos yang asli dan CIA susah membedaan keduanya.

Bagi saya ini adalah a cult classic. Sayang sekali sampe sekarang filmnya nggak terkenal, nggak ada cult follower dan cuma sesekali tayang di TV (btw saya dulu nontonnya di TV).

Karir aktor utamanya redup sampai saat ini. Sutradaranya juga nggak terkenal-terkenal. Kalau Ben Kingsley dan Donald masih kedengeran lah.

Kalo suka film thriller spionase, ini salah satu yang recommended untuk anda.
Baca

ANTARA POCONG DAN ZOMBIE: MENGENANG GEORGE A. ROMERO (1940 – 2017)

Dunia film horror musti berterimakasih pada Mbah George Andrew Romero. Mbah inilah yang membawa genre zombie mewabah.

Seperti yang sejarah sinema populer kisahkan, Mbah Romero mulai mengguncang jagad film horror dengan kisah “Malam Si Mayat Hidup” alias “Night of the Living Dead” pada tahun 1968. Ini adalah pelopor film zombie modern. Kesuksesan film berbujet rendah ini diikuti dengan karya-karyanya yang lain seperti Fajar Sang Modar (Dawn of the Dead, 1978), Hari Sang Modar (Day of The Dead, 1985) dan lain-lain. Larisnya film mayat hidup bikin produser-produser lain segera ikutan bikin film serupa yang pokoknya ada kata “The Dead”-nya.


Sejarah sinema horror dunia mencatat, Night of the Living Dead adalah pelopor film zombie modern. Pengaruhnya masih berjalan hingga kini, zombie sudah menjadi subgenre tersendiri. Anda penggemar zombie? Pasti anda tak melewatkan serial “Si Modar Jalan” alias The Walking Dead. Yang suka main game pasti ingat Resident Evil. Yang demen Korea mungkin suka Train To Busan yang sempat laris kemarin-kemarin. Agak jauh ke belakang, dari Hongkong juga ada Jiangshi alias “jumping corpse”, si zombie blasteran vampire yang jalannya melompat-lompat.

Kalau film zombie Indonesia gimana? Kita kan mahfum ya negara ini suka latah kalau bikin film (yang maunya) laris.

Nggak usah jauh-jauh latah sama Mbah Romero sih, kita juga punya zombie khas indonesia: Zombie Bungkus alias POCONG!

Baik pocong maupun zombie punya kesamaan:

-Keduanya sama-sama mayat. Hantu lain cuma arwah, yang ini mayatnya yang aktif.

-Keduanya suka bergerak. Zombie berjalan, pocong melompat (kecuali kalau capek). Makanya pocong bisa lebih sehat daripada zombie.

-Keduanya suka membunuh manusia lain tanpa mikir. Pocong mungkin cuma doyan nggigit, tapi kalau zombie suka makan orang. Zombie versi Return of The Living Dead sukanya makan otak…mungkin karena itu mereka jadi pinter dikit.

Memang tak ada koneksi jelas antara film pocong dengan film zombie-nya George A. Romero. Pengabdi Setan (Sisworo Gautama Putra, 1980) yang tahun ini diremake sama Joko Anwar konon lebih mirip film Phantasm (Don Coscarelli, 1979). Film pocong non zombie semisal Setan Pocong (Bachroem Halilintar, 1988) agaknya lebih terinspirasi oleh urban legend. Kalau pocong yang muncul di filmnya Warkop DKI Setan Kredit (Iksan Lahardi, 1981) nggak jelas terinspirasi siapa. Tapi itu film emang lucu banget. Pocongnya bisa kungfu.

Film pocong kembali laris di era pasca milenium baik di televisi (serial Pocong Mumun, 2002) dan sederet film bioskop “horror nggak serius”, misalnya Pocong Jadi Pocong, Pocong Mandi Goyang Pinggul, Pocong Ngesot dan lain-lain. Pengecualian tentu saja untuk film Pocongnya Rudi Soejarwo pada 2006. Konon Pocong 2 dibikin karena Pocong yang ori dicekal. Rudi Sudjarwo, bukan tipe sutradara yang menjual jiwanya untuk sekadar bikin film asal seram.

Adapun film bioskop Indonesia yang mau mencoba menghidupkan genre zombie ala barat (bukan pocong) di Indonesia adalah Kampung Zombie (Billy Christian & Helfi Kardit, 2015) dan Jakarta Undead (Rico Michael, rencana rilis 2017 namun entah…). Sayangnya nampaknya film zombie yang pertama tidak memberikan jotosan yang menohok dari segi logika cerita dan storytelling. Gagal seram.

Sebenarnya bikin film zombie bukan lagi soal tren-trenan. Pengaruh George A. Romero sudah mendarahdaging dalam perjalanan film horror. Banyak film zombie dibuat, diperbarui dan mengusung tema-tema baru.


Film zombie Romero yang klasik sarat dengan metafor. Beberapa kritikus menganggapnya sebagai sebuah kisah subversif soal kolapsnya masyarakat Amerika. Perang Vietnam yang tak didukung pada masa itu seakan mengirim putra bangsa menjadi zombie, bertarung tanpa alasan ideologis yang jelas. Mereka membunuh atau terbunuh. Seakan Amerika menjadi zombie, memakan daging warganya sendiri. Tingginya konsumerisme masyarakat Amerika juga makin lama mirip zombie. Kapitalisme ibarat mayat yang cuma haus daging manusia. Bergerak tanpa perasaan memangsa manusia-manusia lemah. Beda sama hantu-hantu legenda yang beraksi tunggal. Zombie beraksi dalam gerombolan. Kemusnahan mereka juga tak memberikan arti dan simpati. Alih-alih sebagi roh gentayangan, label mereka cuma “bekas orang hidup”. Makanya dikasih nama The Living Dead. Orangnya mati, tapi tubuhnya hidup. Udah gitu nggragas pula.

Hari ini pula metafor zombie bisa kita geser. Zombie juga merupakan pertarungan ideologis. Manusia hidup, mempersepsi orang lain sebagai zombie jika ideologinya berbeda. Mereka seakan sah untuk dihabisi tanpa interogasi. Dalam film zombie, salah satu pantangan adalah ngajak zombie ngobrol. Bisa dibrakoti kita kalau memperlakukan zombie dengan cinta kasih. Zombie adalah liyan. Mereka tak boleh berkembang. Pembasmian hanya bisa dilakukan dengan pemusnahan massal kayak di Return of The Living Dead.

Pocong agaknya masih agak mending. Ada beberapa pocong masih bisa diajak bicara, main-main. Lagian mereka nggak bisa nguber. Bisa kesrimpet kain mereka sendiri lah. Setidaknya dalam serial Mumun dia adalah superhero. Dia adalah bekas manusia yang belum selesai urusannya. Kain pocongnya membelit membatasi geraknya. Udah mati, nggak bebas pula geraknya. Maka pocong saya bilang ia mengusung ideologi kaum marjinal yang tertindas. Siapa yang bisa menguasai kaum tertindas? Ya mungkin marjinalitas mereka sendiri.

Marjinalitas ini bisa dimanfaatkan kaum penguasa. Ada kunci untuk menaklukkannya. Ibaratnya adalah nyolong tali pocong. Siapa yang bisa dapat tali pocong, dia akan sakti. Nggak usahlah dimakan segala kayak Sumanto. Makanya orang yang main politik suka nguber “tali pocong” kaum marjinal. Kepada mereka dikasih janji-janji. Tapi mereka sendiri terbelenggu oleh marjinalitas mereka. Mereka hanya pendulang suara. Mau protes? Mana bisa lha wong mereka cuma rakyat jelata. Mereka adalah pocong yang terikat di sekujur tubuhnya. Ndak bisa naik kelas jadi vampire, hantu yang lebih elit. Pocong nggak bisa lari, bisanya lompat. Marjinal bisa protes tapi nggak bisa bikin perubahan.

Namun setidaknya pocong itu muslim (duh…bahaya nih ngomongin agama). Masih hormat sama ajaran agama. Beda ama zombie yang gak mempan ayat kursi. Tapi saya rasa pocong dan zombie bisa berteman. Mereka bisa memaknai ulang aspirasi mereka yang ditekan. Pocong bisa belajar cara berorganisasi kayak zombie, dan zombie belajar kesalehan ala pocong…..ngelantur ya hehehe..

Ya udah. Yang paling jelas sebaiknya mereka hari ini turut berduka. George A. Romero, legenda film horror baru saja tiada 16 Juli 2017 kemarin. Semoga kita masih sadar sebagai manusia. Tidak berwatak zombie yang waton nggerudug memangsa manusia, yang hanya bergerak tanpa dorongan jiwa, mayat hidup peradaban.


Dunia film horror musti berterimakasih pada Mbah George Andrew Romero. Mbah inilah yang membawa genre zombie mewabah.

Seperti yang sejarah sinema populer kisahkan, Mbah Romero mulai mengguncang jagad film horror dengan kisah “Malam Si Mayat Hidup” alias “Night of the Living Dead” pada tahun 1968. Ini adalah pelopor film zombie modern. Kesuksesan film berbujet rendah ini diikuti dengan karya-karyanya yang lain seperti Fajar Sang Modar (Dawn of the Dead, 1978), Hari Sang Modar (Day of The Dead, 1985) dan lain-lain. Larisnya film mayat hidup bikin produser-produser lain segera ikutan bikin film serupa yang pokoknya ada kata “The Dead”-nya.


Sejarah sinema horror dunia mencatat, Night of the Living Dead adalah pelopor film zombie modern. Pengaruhnya masih berjalan hingga kini, zombie sudah menjadi subgenre tersendiri. Anda penggemar zombie? Pasti anda tak melewatkan serial “Si Modar Jalan” alias The Walking Dead. Yang suka main game pasti ingat Resident Evil. Yang demen Korea mungkin suka Train To Busan yang sempat laris kemarin-kemarin. Agak jauh ke belakang, dari Hongkong juga ada Jiangshi alias “jumping corpse”, si zombie blasteran vampire yang jalannya melompat-lompat.

Kalau film zombie Indonesia gimana? Kita kan mahfum ya negara ini suka latah kalau bikin film (yang maunya) laris.

Nggak usah jauh-jauh latah sama Mbah Romero sih, kita juga punya zombie khas indonesia: Zombie Bungkus alias POCONG!

Baik pocong maupun zombie punya kesamaan:

-Keduanya sama-sama mayat. Hantu lain cuma arwah, yang ini mayatnya yang aktif.

-Keduanya suka bergerak. Zombie berjalan, pocong melompat (kecuali kalau capek). Makanya pocong bisa lebih sehat daripada zombie.

-Keduanya suka membunuh manusia lain tanpa mikir. Pocong mungkin cuma doyan nggigit, tapi kalau zombie suka makan orang. Zombie versi Return of The Living Dead sukanya makan otak…mungkin karena itu mereka jadi pinter dikit.

Memang tak ada koneksi jelas antara film pocong dengan film zombie-nya George A. Romero. Pengabdi Setan (Sisworo Gautama Putra, 1980) yang tahun ini diremake sama Joko Anwar konon lebih mirip film Phantasm (Don Coscarelli, 1979). Film pocong non zombie semisal Setan Pocong (Bachroem Halilintar, 1988) agaknya lebih terinspirasi oleh urban legend. Kalau pocong yang muncul di filmnya Warkop DKI Setan Kredit (Iksan Lahardi, 1981) nggak jelas terinspirasi siapa. Tapi itu film emang lucu banget. Pocongnya bisa kungfu.

Film pocong kembali laris di era pasca milenium baik di televisi (serial Pocong Mumun, 2002) dan sederet film bioskop “horror nggak serius”, misalnya Pocong Jadi Pocong, Pocong Mandi Goyang Pinggul, Pocong Ngesot dan lain-lain. Pengecualian tentu saja untuk film Pocongnya Rudi Soejarwo pada 2006. Konon Pocong 2 dibikin karena Pocong yang ori dicekal. Rudi Sudjarwo, bukan tipe sutradara yang menjual jiwanya untuk sekadar bikin film asal seram.

Adapun film bioskop Indonesia yang mau mencoba menghidupkan genre zombie ala barat (bukan pocong) di Indonesia adalah Kampung Zombie (Billy Christian & Helfi Kardit, 2015) dan Jakarta Undead (Rico Michael, rencana rilis 2017 namun entah…). Sayangnya nampaknya film zombie yang pertama tidak memberikan jotosan yang menohok dari segi logika cerita dan storytelling. Gagal seram.

Sebenarnya bikin film zombie bukan lagi soal tren-trenan. Pengaruh George A. Romero sudah mendarahdaging dalam perjalanan film horror. Banyak film zombie dibuat, diperbarui dan mengusung tema-tema baru.


Film zombie Romero yang klasik sarat dengan metafor. Beberapa kritikus menganggapnya sebagai sebuah kisah subversif soal kolapsnya masyarakat Amerika. Perang Vietnam yang tak didukung pada masa itu seakan mengirim putra bangsa menjadi zombie, bertarung tanpa alasan ideologis yang jelas. Mereka membunuh atau terbunuh. Seakan Amerika menjadi zombie, memakan daging warganya sendiri. Tingginya konsumerisme masyarakat Amerika juga makin lama mirip zombie. Kapitalisme ibarat mayat yang cuma haus daging manusia. Bergerak tanpa perasaan memangsa manusia-manusia lemah. Beda sama hantu-hantu legenda yang beraksi tunggal. Zombie beraksi dalam gerombolan. Kemusnahan mereka juga tak memberikan arti dan simpati. Alih-alih sebagi roh gentayangan, label mereka cuma “bekas orang hidup”. Makanya dikasih nama The Living Dead. Orangnya mati, tapi tubuhnya hidup. Udah gitu nggragas pula.

Hari ini pula metafor zombie bisa kita geser. Zombie juga merupakan pertarungan ideologis. Manusia hidup, mempersepsi orang lain sebagai zombie jika ideologinya berbeda. Mereka seakan sah untuk dihabisi tanpa interogasi. Dalam film zombie, salah satu pantangan adalah ngajak zombie ngobrol. Bisa dibrakoti kita kalau memperlakukan zombie dengan cinta kasih. Zombie adalah liyan. Mereka tak boleh berkembang. Pembasmian hanya bisa dilakukan dengan pemusnahan massal kayak di Return of The Living Dead.

Pocong agaknya masih agak mending. Ada beberapa pocong masih bisa diajak bicara, main-main. Lagian mereka nggak bisa nguber. Bisa kesrimpet kain mereka sendiri lah. Setidaknya dalam serial Mumun dia adalah superhero. Dia adalah bekas manusia yang belum selesai urusannya. Kain pocongnya membelit membatasi geraknya. Udah mati, nggak bebas pula geraknya. Maka pocong saya bilang ia mengusung ideologi kaum marjinal yang tertindas. Siapa yang bisa menguasai kaum tertindas? Ya mungkin marjinalitas mereka sendiri.

Marjinalitas ini bisa dimanfaatkan kaum penguasa. Ada kunci untuk menaklukkannya. Ibaratnya adalah nyolong tali pocong. Siapa yang bisa dapat tali pocong, dia akan sakti. Nggak usahlah dimakan segala kayak Sumanto. Makanya orang yang main politik suka nguber “tali pocong” kaum marjinal. Kepada mereka dikasih janji-janji. Tapi mereka sendiri terbelenggu oleh marjinalitas mereka. Mereka hanya pendulang suara. Mau protes? Mana bisa lha wong mereka cuma rakyat jelata. Mereka adalah pocong yang terikat di sekujur tubuhnya. Ndak bisa naik kelas jadi vampire, hantu yang lebih elit. Pocong nggak bisa lari, bisanya lompat. Marjinal bisa protes tapi nggak bisa bikin perubahan.

Namun setidaknya pocong itu muslim (duh…bahaya nih ngomongin agama). Masih hormat sama ajaran agama. Beda ama zombie yang gak mempan ayat kursi. Tapi saya rasa pocong dan zombie bisa berteman. Mereka bisa memaknai ulang aspirasi mereka yang ditekan. Pocong bisa belajar cara berorganisasi kayak zombie, dan zombie belajar kesalehan ala pocong…..ngelantur ya hehehe..

Ya udah. Yang paling jelas sebaiknya mereka hari ini turut berduka. George A. Romero, legenda film horror baru saja tiada 16 Juli 2017 kemarin. Semoga kita masih sadar sebagai manusia. Tidak berwatak zombie yang waton nggerudug memangsa manusia, yang hanya bergerak tanpa dorongan jiwa, mayat hidup peradaban.


Baca

THE WITCH (Robert Eggers 2015)

Di jaman Inggris lama, hidup Wlliam beserta keluarganya: Catherine sang istri, Thomasin anak gadis tertua yang baru merekah kecantikannya, Caleb adiknya yang kadang nafsu melihat dada kakaknya, si kembar Jonas- Mercy yang suka ngobrol sama kambing dan termuda adalah Samuel yang masih bayi. William adalah pemeluk Kristen yang taat. Namun ia juga selalu merasa bahwa cara beragamanya lah yang paling benar. Dengan jemaat gereja setempat ia nggak rukun dan saling mengkafirkan.


Akibatnya William diusir dari desanya. Ia pun mengungsikan keluarganya ke hutan. Di sana ia mencoba memulai hidup baru dengan bertanam jagung dan berburu. Kebiasaan beribadahnya tetap meski udah nggak gabung gereja. Mereka selalu menghafal kitab suci dan berdoa. Berburu pun isinya rapalan ayat.

Suatu hari, Thomasin momong adik bayinya Samuel main cilukba. Saat matanya ciluk (nutup), Samuel diculik penyihir bugil. Oleh si penyihir, Samuel dicincang jadi body lotion. Konon body lotion dari baby oil ini (yes it is literally oil from baby), bisa bikin mereka terbang.


William sebenarnya nggak becus bertani dan berburu. Keluarganya mulai kelaparan. Tapi William terus mencekokinya dengan ajaran agama. Istrinya sudah nggak betah dan nyaris gila. Selain masih meratapi hilangnya Samuel, keluarga ini terancam kelaparan. Masalah makin runyam ketika Caleb juga diculik penyihir dan kutukan jahat dibawa ke seluruh anggota keluarga.

Mampukah William dan keluarganya mempertahankan iman di saat lapar dan ujian jahat?

Bayangan saya soal penyihir barat itu tak pernah menakutkan. Soalnya asupan masa kecil saya adalah majalah Bobo dan komik Walt Disney. Bayangan saya selalu Juwita dan Si Sirik, Madam Mikmak dan paling-paling Snow White & 7 Dwarfs. Snow White adalah gadis perawan (?) yang hidup tanpa ikatan resmi dengan 7 kakek tua. Cucu bukan, istri juga enggak (kayaknya).

Film The Witch mencoba menceritakan ulang kisah-kisah seram soal penyihir yang jadi bagian dari folklore lama. Penyihir yang tinggal di hutan, naik sapu dan suka berburu orang coba dituturkan ulang lewat film ini. Kita akan merasakan seolah-olah hidup dalam kengerian masa itu, lewat setting, dialog dan bahkan visualisasi mencekam lewat gambar-gambar bersaturasi rendah.

The Witch bukan film horror kacangan. Ia tak latah menghadirkan perang supranatural antara manusia yang taat dan penyihir kafir. Perang sebenarnya adalah di dalam batin manusia sendiri. Kita bisa merasakan itu ketika bencana tiba, masing-masing anggota keluarga William tidak saling mempercayai. Satu per satu kebohongan diungkap. Tak ada yang lugu di keluarga William.

Pesan moral yang saya dapat adalah, miskin itu bisa bikin iman jatuh hehehe bukan kemiskinan itu sendiri yang menghancurkan iman. Melainkan rapuhnya diri ketika kemiskinan menggerogoti kemandirian dalam mengambil keputusan. 

Okay. Sekarang penilaian berimbang... J

APIKE:

-Visualisasi yang keren. Sinematografi yang sangat-sangat beautiful. Hutan yang luas itu seakan malah bikin klaustrofobia. Bukan cuma karena aspect rationya namun juga cekaman cerita. Apalagi dipadu dengan scoring gesekan strings yang dissonance (melenceng).

-Disain kostum yang memukau. Nadyan muka para karakter masih bersih-bersih dan giginya rapih, tapi kostum nampak seakan dari jamannya. Lungset tak disetrika. Terasa otentik.

-Pembangunan konflik yang rapi dari awal ke tengah. Keluarga taat yang kemudian terjatuh dalam godaan iblis.

-Casting yang perfect terutama William (diperankan oleh Ralph Ineson). Deep voice-nya membuat saya melek untuk mengamati karakter ini lebih daripada yang lain. Juga Caleb (Harvey Scrimshaw). Scrimshaw memerankan karakter Caleb yang mulai puber dan galau. Sungguh repot hidup di keluarga bermoralitas ketat namun di sisi lain harus menahan gejolak pubertas di depan kakaknya yang sedang ranum. Rasa berdosa karena kecenderungan incest bertarung dengan perjuangan mempertahankan iman. Catherine (Kate Dickie) terlihat sangat rentan sebagai ibu yang peratap. Sejak Samuel diculik penyihir, Catherine yang sebelumnya beriman mulai kufur selangkah demi selangkah.

-Black Philip adalah hal yang paling mencekam di film ini. Bisa dibilang ngalah-ngalahin penyihirnya. Dia adalah seekor wedhus gibas eh maksudnya kambing hitam.  Black Philip hanya mau bicara sama si kembar Jonas-Mercy. Dialah yang jadi katalisator fitnah antara masing-masing anggota keluarga.

KURANGE:

-Kadang The Witch kurang tegas mengenai apa yang disampaikan? Apakah soal iman vs kekufuran? Soal dosa dan penebusan? Soal korupnya manusia yang sok beriman? Ya tone-tone itu ada dan bagi saya kurang nggigit pesannya.

-Thomasin (Anya Taylor-Joy) adalah karakter yang mustinya bisa lebih selain menjual keranuman. Dia adalah kunci cerita namun rasanya potensinya kurang keluar semuanya. Kalo bugilnya kurang total sih saya maklum hehehe soalnya ini bukan film yang tepat untuk jual aurat.

-Karakter penyihir nggak terlalu dapat panggung. Ngapain sih mereka? This can be bad or good. Mereka misterius, nggak jelas maunya, nggak jelas modus operandinya. Emang sih kemisteriusan bisa bikin suasana tambah horror, tapi konsekuensinya kayak cuma jadi plot device yang kurang nyantol. Cuma tempelan.

Jadi? Bagus nggak?

-BAGUS. Refreshing film horror yang mengangkat tema penyihir. Film penyihir terakhir yang saya tonton cuma Blair Witch Project belasan tahun silam.

-Recommended? SURE! Buat penggemar genre horror barat.



-
Di jaman Inggris lama, hidup Wlliam beserta keluarganya: Catherine sang istri, Thomasin anak gadis tertua yang baru merekah kecantikannya, Caleb adiknya yang kadang nafsu melihat dada kakaknya, si kembar Jonas- Mercy yang suka ngobrol sama kambing dan termuda adalah Samuel yang masih bayi. William adalah pemeluk Kristen yang taat. Namun ia juga selalu merasa bahwa cara beragamanya lah yang paling benar. Dengan jemaat gereja setempat ia nggak rukun dan saling mengkafirkan.


Akibatnya William diusir dari desanya. Ia pun mengungsikan keluarganya ke hutan. Di sana ia mencoba memulai hidup baru dengan bertanam jagung dan berburu. Kebiasaan beribadahnya tetap meski udah nggak gabung gereja. Mereka selalu menghafal kitab suci dan berdoa. Berburu pun isinya rapalan ayat.

Suatu hari, Thomasin momong adik bayinya Samuel main cilukba. Saat matanya ciluk (nutup), Samuel diculik penyihir bugil. Oleh si penyihir, Samuel dicincang jadi body lotion. Konon body lotion dari baby oil ini (yes it is literally oil from baby), bisa bikin mereka terbang.


William sebenarnya nggak becus bertani dan berburu. Keluarganya mulai kelaparan. Tapi William terus mencekokinya dengan ajaran agama. Istrinya sudah nggak betah dan nyaris gila. Selain masih meratapi hilangnya Samuel, keluarga ini terancam kelaparan. Masalah makin runyam ketika Caleb juga diculik penyihir dan kutukan jahat dibawa ke seluruh anggota keluarga.

Mampukah William dan keluarganya mempertahankan iman di saat lapar dan ujian jahat?

Bayangan saya soal penyihir barat itu tak pernah menakutkan. Soalnya asupan masa kecil saya adalah majalah Bobo dan komik Walt Disney. Bayangan saya selalu Juwita dan Si Sirik, Madam Mikmak dan paling-paling Snow White & 7 Dwarfs. Snow White adalah gadis perawan (?) yang hidup tanpa ikatan resmi dengan 7 kakek tua. Cucu bukan, istri juga enggak (kayaknya).

Film The Witch mencoba menceritakan ulang kisah-kisah seram soal penyihir yang jadi bagian dari folklore lama. Penyihir yang tinggal di hutan, naik sapu dan suka berburu orang coba dituturkan ulang lewat film ini. Kita akan merasakan seolah-olah hidup dalam kengerian masa itu, lewat setting, dialog dan bahkan visualisasi mencekam lewat gambar-gambar bersaturasi rendah.

The Witch bukan film horror kacangan. Ia tak latah menghadirkan perang supranatural antara manusia yang taat dan penyihir kafir. Perang sebenarnya adalah di dalam batin manusia sendiri. Kita bisa merasakan itu ketika bencana tiba, masing-masing anggota keluarga William tidak saling mempercayai. Satu per satu kebohongan diungkap. Tak ada yang lugu di keluarga William.

Pesan moral yang saya dapat adalah, miskin itu bisa bikin iman jatuh hehehe bukan kemiskinan itu sendiri yang menghancurkan iman. Melainkan rapuhnya diri ketika kemiskinan menggerogoti kemandirian dalam mengambil keputusan. 

Okay. Sekarang penilaian berimbang... J

APIKE:

-Visualisasi yang keren. Sinematografi yang sangat-sangat beautiful. Hutan yang luas itu seakan malah bikin klaustrofobia. Bukan cuma karena aspect rationya namun juga cekaman cerita. Apalagi dipadu dengan scoring gesekan strings yang dissonance (melenceng).

-Disain kostum yang memukau. Nadyan muka para karakter masih bersih-bersih dan giginya rapih, tapi kostum nampak seakan dari jamannya. Lungset tak disetrika. Terasa otentik.

-Pembangunan konflik yang rapi dari awal ke tengah. Keluarga taat yang kemudian terjatuh dalam godaan iblis.

-Casting yang perfect terutama William (diperankan oleh Ralph Ineson). Deep voice-nya membuat saya melek untuk mengamati karakter ini lebih daripada yang lain. Juga Caleb (Harvey Scrimshaw). Scrimshaw memerankan karakter Caleb yang mulai puber dan galau. Sungguh repot hidup di keluarga bermoralitas ketat namun di sisi lain harus menahan gejolak pubertas di depan kakaknya yang sedang ranum. Rasa berdosa karena kecenderungan incest bertarung dengan perjuangan mempertahankan iman. Catherine (Kate Dickie) terlihat sangat rentan sebagai ibu yang peratap. Sejak Samuel diculik penyihir, Catherine yang sebelumnya beriman mulai kufur selangkah demi selangkah.

-Black Philip adalah hal yang paling mencekam di film ini. Bisa dibilang ngalah-ngalahin penyihirnya. Dia adalah seekor wedhus gibas eh maksudnya kambing hitam.  Black Philip hanya mau bicara sama si kembar Jonas-Mercy. Dialah yang jadi katalisator fitnah antara masing-masing anggota keluarga.

KURANGE:

-Kadang The Witch kurang tegas mengenai apa yang disampaikan? Apakah soal iman vs kekufuran? Soal dosa dan penebusan? Soal korupnya manusia yang sok beriman? Ya tone-tone itu ada dan bagi saya kurang nggigit pesannya.

-Thomasin (Anya Taylor-Joy) adalah karakter yang mustinya bisa lebih selain menjual keranuman. Dia adalah kunci cerita namun rasanya potensinya kurang keluar semuanya. Kalo bugilnya kurang total sih saya maklum hehehe soalnya ini bukan film yang tepat untuk jual aurat.

-Karakter penyihir nggak terlalu dapat panggung. Ngapain sih mereka? This can be bad or good. Mereka misterius, nggak jelas maunya, nggak jelas modus operandinya. Emang sih kemisteriusan bisa bikin suasana tambah horror, tapi konsekuensinya kayak cuma jadi plot device yang kurang nyantol. Cuma tempelan.

Jadi? Bagus nggak?

-BAGUS. Refreshing film horror yang mengangkat tema penyihir. Film penyihir terakhir yang saya tonton cuma Blair Witch Project belasan tahun silam.

-Recommended? SURE! Buat penggemar genre horror barat.



-
Baca

KENAPA KAMU DIBOHONGI FILM KOK MAU AJA?

Film yang sukses itu adalah film yang berhasil ngapusi. Lha kok bisa? Ngawur tenan mase iki. Film yang bener itu ya kudu pake logika lah. Nha justru itu. Film itu saking pinternya ngapusi, semuanya jadi nampak logis hehehe

Istilahnya itu “Suspension of Disbelief”, yakni seberapa jauh sebuah film ngapusi anda, tapi andanya fine-fine aja. Istilah ini bisa dipakai juga dalam bentuk karya fiksi yang lain; novel, cerpen dan lain-lain. Bagaimana kita diapusi tapi tetep fine? Itu karena cara bercerita yang maknyus.

"What do you know?! Haven't you heard of suspension of disbelief?" — Ed Wood
(movie directed by Tim Burton, 1994)

Misalnya Superman. Seperti kita tahu kostum standarnya adalah baju senam ketat warna biru, nggak pake topeng, jubah merah tersampir di punggung, logo S di dada dan pake sempak merah bersabuk kuning. Setidaknya itu gambaran Superman klasik. Versi Man of Steel-nya Zack Snyder emang bid’ah karena gak pake sempak lagi. Nah, alter ego Superman ini namanya Clark Kent, seorang jurnalis di perusahaan media. Sehari-harinya, Clark Kent ini Cuma pakai kacamata untuk menyamarkan identitas aslinya. Orang-orang satu kota tetep gak ngenalin dia. Apa ya mungkin? Tapi sejauh ini itu no problem. Karena kita udah cukup terhibur sama cerita Superman, maka kita nggak protes. Dalam keseharian tentu itu nggak realistis. Bisa dibayangin, misalnya anda yang biasanya pake kacamata dan kemeja, suatu hari demi menghindari debt collector terus anda Cuma pakai sempak dan nggak pake kacamata. Mungkinkah anda tidak dikenali? Itulah cara kerja suspension of disbelief dalam film.

Jadi gimana sih logika film itu?

Sebenarnya ya sama aja. Logika kan universal. Tapi kita musti sadar kalau istilah logika dalam filsafat berbeda maknanya dalam bahasa sehari-hari. Sehubungan dengan itu, kita harus membedakan dulu antara logis dan realistis. Logis kalo di filsafat kan ada kaidahnya sedangkan kalo realistis itu adalah soal peluang kemungkinan. Alien dari planet lain datang ke bumi, secara logis mungkin. Tapi secara realistis tidak. Seandainya secara realistis planet Krypton itu nyata, bisa repot kita. Bayangin aja misalnya Superman itu ke bumi dalam rangka dakwah agama asli Krypton gitu. Perang agama bisa jadi antar galaksi. Ceritanya bakal jadi Religious Star Wars.

Kalo film kartun udah beda lagi lho. Suspension of disbeliefnya bisa parah banget dan justru itu selling point-nya. Misal film-filmnya Tom and Jerry. Ditabok martil jadi gepeng, eh abis itu sehat kembali. Di universe kartun Walt Disney, Gufi itu anjing (bukan makian). Nah tapi ada Pluto yang juga anjing tapi dia beda ama Gufi. Gufi pake baju bisa ngomong, tapi Pluto enggak. Mungkin Gufi itu anjing sapiens yakni anjing yang telah makan buah khuldi. Jadi Gufi ini kelak bakal dimintai pertanggungjawaban atas amal dan perbuatannya, kalo Pluto tidak. 

Balik ke soal logika film. Misalnya dalam cerita berikut.

Gara-gara emaknya salah baca surat kontrak, Timun Mas menjadi korban perbudakan oleh Buto Terong. Demi menyelamatkan diri, Timun Mas pergi ke luar negeri (bukan ke masa lalu). Di sana ia bilang pada emaknya agar tidak bikin kontrak sama Buto Terong. Kemudian Timun Mas lahir setelah Buto Terong batal bikin kontra sama emaknya.

Anda bisa membaca bahwa cerita di atas superkacau. Kaitan peristiwanya jelas-jelas nggak logis. Tentu saja karena prinsip sebab akibat dilanggar di situ. Namun istilah “logis” yang berbeda juga sering dijumpai pada kalimat berikut ini:

“Pasangan nganu itu nggak logis. Yang cewek cantik dan cerdas, yang cowok jelek dan miskin. Ya mungkin si cewek kena pelet kali ya?”

Kalo logis di sini artinya kurang atau nggak realistis. Secara realistis (baca aja probabilitas statistik) bisa nggak cewek dengan karakter gitu dapat cowok dengan kondisi begitu?

Film, peristiwanya sering tidak realistis namun tetap logis. Prinsip kausalitas tak boleh dilanggar. Misal ada karakter mati di awal, maka nggak logis kalo dia hidup lagi tanpa ada penjelasan. Dalam membikin cerita yang nggak realistis si filmmaker bebas-bebas aja berimajinasi.

Yang repot ketika mbahas film genre sejarah. Emang ada film yang musti “setia” pada sejarah, tapi ada juga film yang berlatar sejarah “alternatif” alias ngarang. Misalnya film Inglourious Basterds (sutradara Quentin Tarantino). Di situ Adolf Hitler mati ditembak di bioskop. Tak ada yang protes sih. Mungkin karena Hitler bukan tokoh agama. Ada juga film Abraham Lincoln jadi tukang basmi vampir. Nha yang repot di sini. Kalo misal bikin film berlatar Majapahit, bisa diprotes kalo gak sesuai sejarah. Lho itu Gajah Madanya kok bukan Islam? (BTW udah fixed belum sih Gajah Mada agamanya apa?)

Genre religi juga sama repotnya. Di Hollywood, bikin karakter pendeta pervert, korup dll itu udah biasa. Nah di Indonesia, kita musti pakai suspension of disbelief demi stabilitas sosial. Jangan ada tokoh agama korup, perempuan berhijab jangan jadi antagonis dll. Jadi meski dalam kesehariannya beda ya musti pake suspensioan of disbelief lah kalo mau aman hehehe. Sudah belajar dari kasus pemenang festival film polisi dan video kampanye Ahok kemarin kan? Anda kasih satu aja karakter nggak bener di antara karakter seagama yang bener, pasti deh yang satu itu diributin.


Suspension of disbelief juga terjadi dalam sehari-hari. Berapa banyak kita percaya tentang sesuatu, bahwa itu oke, itu real hanya berdasarkan testimoni orang lain? Kita merasa fine karena itu enjoyable, apalagi kita tak merasa penasaran menyelidikinya secara mendalam. Film Matrix (sutradara Wachowski brothers) dan juga Truman Show (sutradara Peter Weir) adalah film yang mendalam mengenai suspension of disbelief dalam kehidupan nyata. Bagi yang belum nonton saya rekomendasikan deh. Film selain merupakan produk hiburan, juga bisa jadi media pembelajaran terasyik soal realitas hehehe.

Film yang sukses itu adalah film yang berhasil ngapusi. Lha kok bisa? Ngawur tenan mase iki. Film yang bener itu ya kudu pake logika lah. Nha justru itu. Film itu saking pinternya ngapusi, semuanya jadi nampak logis hehehe

Istilahnya itu “Suspension of Disbelief”, yakni seberapa jauh sebuah film ngapusi anda, tapi andanya fine-fine aja. Istilah ini bisa dipakai juga dalam bentuk karya fiksi yang lain; novel, cerpen dan lain-lain. Bagaimana kita diapusi tapi tetep fine? Itu karena cara bercerita yang maknyus.

"What do you know?! Haven't you heard of suspension of disbelief?" — Ed Wood
(movie directed by Tim Burton, 1994)

Misalnya Superman. Seperti kita tahu kostum standarnya adalah baju senam ketat warna biru, nggak pake topeng, jubah merah tersampir di punggung, logo S di dada dan pake sempak merah bersabuk kuning. Setidaknya itu gambaran Superman klasik. Versi Man of Steel-nya Zack Snyder emang bid’ah karena gak pake sempak lagi. Nah, alter ego Superman ini namanya Clark Kent, seorang jurnalis di perusahaan media. Sehari-harinya, Clark Kent ini Cuma pakai kacamata untuk menyamarkan identitas aslinya. Orang-orang satu kota tetep gak ngenalin dia. Apa ya mungkin? Tapi sejauh ini itu no problem. Karena kita udah cukup terhibur sama cerita Superman, maka kita nggak protes. Dalam keseharian tentu itu nggak realistis. Bisa dibayangin, misalnya anda yang biasanya pake kacamata dan kemeja, suatu hari demi menghindari debt collector terus anda Cuma pakai sempak dan nggak pake kacamata. Mungkinkah anda tidak dikenali? Itulah cara kerja suspension of disbelief dalam film.

Jadi gimana sih logika film itu?

Sebenarnya ya sama aja. Logika kan universal. Tapi kita musti sadar kalau istilah logika dalam filsafat berbeda maknanya dalam bahasa sehari-hari. Sehubungan dengan itu, kita harus membedakan dulu antara logis dan realistis. Logis kalo di filsafat kan ada kaidahnya sedangkan kalo realistis itu adalah soal peluang kemungkinan. Alien dari planet lain datang ke bumi, secara logis mungkin. Tapi secara realistis tidak. Seandainya secara realistis planet Krypton itu nyata, bisa repot kita. Bayangin aja misalnya Superman itu ke bumi dalam rangka dakwah agama asli Krypton gitu. Perang agama bisa jadi antar galaksi. Ceritanya bakal jadi Religious Star Wars.

Kalo film kartun udah beda lagi lho. Suspension of disbeliefnya bisa parah banget dan justru itu selling point-nya. Misal film-filmnya Tom and Jerry. Ditabok martil jadi gepeng, eh abis itu sehat kembali. Di universe kartun Walt Disney, Gufi itu anjing (bukan makian). Nah tapi ada Pluto yang juga anjing tapi dia beda ama Gufi. Gufi pake baju bisa ngomong, tapi Pluto enggak. Mungkin Gufi itu anjing sapiens yakni anjing yang telah makan buah khuldi. Jadi Gufi ini kelak bakal dimintai pertanggungjawaban atas amal dan perbuatannya, kalo Pluto tidak. 

Balik ke soal logika film. Misalnya dalam cerita berikut.

Gara-gara emaknya salah baca surat kontrak, Timun Mas menjadi korban perbudakan oleh Buto Terong. Demi menyelamatkan diri, Timun Mas pergi ke luar negeri (bukan ke masa lalu). Di sana ia bilang pada emaknya agar tidak bikin kontrak sama Buto Terong. Kemudian Timun Mas lahir setelah Buto Terong batal bikin kontra sama emaknya.

Anda bisa membaca bahwa cerita di atas superkacau. Kaitan peristiwanya jelas-jelas nggak logis. Tentu saja karena prinsip sebab akibat dilanggar di situ. Namun istilah “logis” yang berbeda juga sering dijumpai pada kalimat berikut ini:

“Pasangan nganu itu nggak logis. Yang cewek cantik dan cerdas, yang cowok jelek dan miskin. Ya mungkin si cewek kena pelet kali ya?”

Kalo logis di sini artinya kurang atau nggak realistis. Secara realistis (baca aja probabilitas statistik) bisa nggak cewek dengan karakter gitu dapat cowok dengan kondisi begitu?

Film, peristiwanya sering tidak realistis namun tetap logis. Prinsip kausalitas tak boleh dilanggar. Misal ada karakter mati di awal, maka nggak logis kalo dia hidup lagi tanpa ada penjelasan. Dalam membikin cerita yang nggak realistis si filmmaker bebas-bebas aja berimajinasi.

Yang repot ketika mbahas film genre sejarah. Emang ada film yang musti “setia” pada sejarah, tapi ada juga film yang berlatar sejarah “alternatif” alias ngarang. Misalnya film Inglourious Basterds (sutradara Quentin Tarantino). Di situ Adolf Hitler mati ditembak di bioskop. Tak ada yang protes sih. Mungkin karena Hitler bukan tokoh agama. Ada juga film Abraham Lincoln jadi tukang basmi vampir. Nha yang repot di sini. Kalo misal bikin film berlatar Majapahit, bisa diprotes kalo gak sesuai sejarah. Lho itu Gajah Madanya kok bukan Islam? (BTW udah fixed belum sih Gajah Mada agamanya apa?)

Genre religi juga sama repotnya. Di Hollywood, bikin karakter pendeta pervert, korup dll itu udah biasa. Nah di Indonesia, kita musti pakai suspension of disbelief demi stabilitas sosial. Jangan ada tokoh agama korup, perempuan berhijab jangan jadi antagonis dll. Jadi meski dalam kesehariannya beda ya musti pake suspensioan of disbelief lah kalo mau aman hehehe. Sudah belajar dari kasus pemenang festival film polisi dan video kampanye Ahok kemarin kan? Anda kasih satu aja karakter nggak bener di antara karakter seagama yang bener, pasti deh yang satu itu diributin.


Suspension of disbelief juga terjadi dalam sehari-hari. Berapa banyak kita percaya tentang sesuatu, bahwa itu oke, itu real hanya berdasarkan testimoni orang lain? Kita merasa fine karena itu enjoyable, apalagi kita tak merasa penasaran menyelidikinya secara mendalam. Film Matrix (sutradara Wachowski brothers) dan juga Truman Show (sutradara Peter Weir) adalah film yang mendalam mengenai suspension of disbelief dalam kehidupan nyata. Bagi yang belum nonton saya rekomendasikan deh. Film selain merupakan produk hiburan, juga bisa jadi media pembelajaran terasyik soal realitas hehehe.

Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved