Yang Terbaru

19 Plot Device and Literary Techniques: Bikin cerita film kita lebih asyik

Plot device adalah, gampangnya, sesuatu yang berfungsi menggerakkan cerita. Semacam “alat” dalam bercerita untuk mengarahkan pikiran pembaca/pemirsa. Plot device bisa saja membuat cerita lebih menarik, asyik, nggak mudah ditebak atau justru malah bikin bosan. Semua tergantung cara penulis mengolah cerita.

Literary technique adalah cara atau teknik bercerita. Ada cara bercerita urut dari awal hingga akhir, ada pula cara bercerita dengan mencuplik bagian akhir, lalu ke awal kejadian kemudian lompat ke bagian lain dan sebagainya.


Untuk membuat cerita menarik, kita bisa menggunakan cara manapun dengan memanfaatkan plot device yang umum.

Berikut ini 19 plot device dan literary technique yang sering dipakai dalam film (atau novel juga sih). Fokus saya adalah film karena saya emang filmmaker dan ini adalah blog berbau film J Maka sengaja saya jadikan dalam satu daftar.

1)      Flashback: Menceritakan apa yang terjadi di masa silam yang penting bagi kejadian sekarang. Contoh film dimana ada flashback adalah di film Titanic ketika Rose bercerita masa lalunya di kapal Titanic.

2)      Reverse chronology: Bercerita dengan cara mundur. Misalnya beberapa bagian dalam film Memento karya Christopher Nolan.

3)      In medias res: Cerita bermula dari pertengahan cerita di mana banyak hal belum jelas akan diterangkan secara perlahan lewat flashback. Sementara itu cerita terus berjalan ke depan tanpa penonton tahu akhirnya bagaimana. Misalnya film Inception karya Christopher Nolan

4)      Flash forward: Menceritakan kejadian di masa depan yang kemudian diperinci proses menuju ke sananya. Misalnya film Cinema Paradiso karya Giuseppe Tornatore.

5)      Non-linear: Cerita terbagi dalam fragmen acak sehingga penonton harus menghubungkan sendiri. Dipakai untuk menciptakan twist karena ada keping cerita belum terbaca pada awal. Umum di film detektif semacam Sherlock Holmes namun juga ada di film drama misalnya 500 Days of Summer karya Marc Webb.

6)      Narative hooks: Kunci cerita yang membuat penonton bertahan menikmati. Biasaya sangat terasa di serial TV. Misalnya serial Desperate Housewife. Setiap serial berakhir, pasti ada clue yang membuat kita seakan “terpaksa” menantikan kelanjutannya. Di film panjang (feature), adanya satu hal yang belum “selesai” membuat penonton merasa harus terus menonton hingga selesai.

7)      Foreshadowing ala Chekov Gun: Memperlihatkan sesuatu yang terlihat tak penting di awal cerita lalu tidak diceritakan lagi. Belakangan ternyata itu elemen yang vital di bagian lanjut cerita. Contohnya topi dalam film The Prestige karya Christopher Nolan.

8)      Frame story: Cerita dalam cerita. Contohnya kisah 1001 Malam.

9)      Ticking clock scenario: Cerita dimana waktu dibatasi bagi tokoh untuk menyelamatkan diri. Misalnya film Speed yang disutradarai Jan De Bont.

10)  Red herring/umpan palsu: Penonton diarahkan menuju satu kesimpulan yang nantinya bakal salah. Sering dipakai dalam film detektif atau thriller. Penonton dibawa percaya bahwa seorang tokoh merupakan pelaku kejahatan padahal sebenarnya pelakunya adalah orang lain. Misalnya film Scream karya Kevin Williamson.

11)  Deux Ex Machina: Semua masalah pelik dimentahkan dengan hadirnya orang ketiga yang menyelesaikan persoalan dengan gampangnya. Misalnya kehadiran Gandalf di saat genting dalam trilogi Lord of the Rings karya Peter Jackson.

12)  Cliffhanger: Cerita yang endingnya menggantung.

13)  Penghubung tak berguna/benang hijau/mata rantai yang copot: Satu hal atau benda yang menghubungkan banyak kejadian yang tak secara langsung berhubungan. Misalnya film Babel karya Alejandro González Iñárritu.

14)  Time loops: perulangan waktu yang mewujudkan kejadian baru. Misalnya film 12 Monkeys karya Terry Gilliam.

15)  Twist: Puntiran kejadian sehingga penonton jadi salah duga. Contoh film yang ada twist adalah A.I. yang disutradari Steven Spielberg.

16)  Anagnorisis: Ketika protagonis menyadari identitas sebenarnya dari dirinya yang merupakan penjelasan dari misteri-misteri di awal mula cerita. Misalnya film Fight Club karya David Fincher.

17)  Unreliable narrator: Adanya tokoh yang berbicara bohong di awal cerita, membawa penonton percaya itu adalah kejadian yang sedang terjadi dalam cerita. Contohnya film Usual Suspect yang disutradarai Bryan Singer.

18)  Peripeteia: Pembalikan nasib secara tiba-tiba namun logis sehingga menjadi semacam twist. Misalnya pembalikan nasib karakter utama dalam film Kungfu Hustle karya Stephen Chow.

19)  MacGuffin: Suatu hal yang menjadi motivasi karakter untuk dikejar. Bisa juga ia merupakan sebuah benda yang diburu oleh para pelaku cerita untuk menyelesaikan suatu misi. Hal ini menjadi penentu jalan cerita. Disebut juga plot coupons jika benda itu ada beberapa dan harus dijadikan satu agar berfungsi. Contohnya film Lord of The Rings (yang disatukan adalah cincin sakti) dan serial animasi Dragon Ball (yang disatukan adalah bola naga).

Nah, tujuan saya mengumpulkan 19 point ini adalah untuk membantu anda, penulis film indie, dalam membikin cerita yang semakin asyik. Karena saya adalah pembikin bukan kritikus, jadi jangan nanya judul film tertentu terus itu menggunakan teknik atau device yang mana ya hehehe...


Plot device adalah, gampangnya, sesuatu yang berfungsi menggerakkan cerita. Semacam “alat” dalam bercerita untuk mengarahkan pikiran pembaca/pemirsa. Plot device bisa saja membuat cerita lebih menarik, asyik, nggak mudah ditebak atau justru malah bikin bosan. Semua tergantung cara penulis mengolah cerita.

Literary technique adalah cara atau teknik bercerita. Ada cara bercerita urut dari awal hingga akhir, ada pula cara bercerita dengan mencuplik bagian akhir, lalu ke awal kejadian kemudian lompat ke bagian lain dan sebagainya.


Untuk membuat cerita menarik, kita bisa menggunakan cara manapun dengan memanfaatkan plot device yang umum.

Berikut ini 19 plot device dan literary technique yang sering dipakai dalam film (atau novel juga sih). Fokus saya adalah film karena saya emang filmmaker dan ini adalah blog berbau film J Maka sengaja saya jadikan dalam satu daftar.

1)      Flashback: Menceritakan apa yang terjadi di masa silam yang penting bagi kejadian sekarang. Contoh film dimana ada flashback adalah di film Titanic ketika Rose bercerita masa lalunya di kapal Titanic.

2)      Reverse chronology: Bercerita dengan cara mundur. Misalnya beberapa bagian dalam film Memento karya Christopher Nolan.

3)      In medias res: Cerita bermula dari pertengahan cerita di mana banyak hal belum jelas akan diterangkan secara perlahan lewat flashback. Sementara itu cerita terus berjalan ke depan tanpa penonton tahu akhirnya bagaimana. Misalnya film Inception karya Christopher Nolan

4)      Flash forward: Menceritakan kejadian di masa depan yang kemudian diperinci proses menuju ke sananya. Misalnya film Cinema Paradiso karya Giuseppe Tornatore.

5)      Non-linear: Cerita terbagi dalam fragmen acak sehingga penonton harus menghubungkan sendiri. Dipakai untuk menciptakan twist karena ada keping cerita belum terbaca pada awal. Umum di film detektif semacam Sherlock Holmes namun juga ada di film drama misalnya 500 Days of Summer karya Marc Webb.

6)      Narative hooks: Kunci cerita yang membuat penonton bertahan menikmati. Biasaya sangat terasa di serial TV. Misalnya serial Desperate Housewife. Setiap serial berakhir, pasti ada clue yang membuat kita seakan “terpaksa” menantikan kelanjutannya. Di film panjang (feature), adanya satu hal yang belum “selesai” membuat penonton merasa harus terus menonton hingga selesai.

7)      Foreshadowing ala Chekov Gun: Memperlihatkan sesuatu yang terlihat tak penting di awal cerita lalu tidak diceritakan lagi. Belakangan ternyata itu elemen yang vital di bagian lanjut cerita. Contohnya topi dalam film The Prestige karya Christopher Nolan.

8)      Frame story: Cerita dalam cerita. Contohnya kisah 1001 Malam.

9)      Ticking clock scenario: Cerita dimana waktu dibatasi bagi tokoh untuk menyelamatkan diri. Misalnya film Speed yang disutradarai Jan De Bont.

10)  Red herring/umpan palsu: Penonton diarahkan menuju satu kesimpulan yang nantinya bakal salah. Sering dipakai dalam film detektif atau thriller. Penonton dibawa percaya bahwa seorang tokoh merupakan pelaku kejahatan padahal sebenarnya pelakunya adalah orang lain. Misalnya film Scream karya Kevin Williamson.

11)  Deux Ex Machina: Semua masalah pelik dimentahkan dengan hadirnya orang ketiga yang menyelesaikan persoalan dengan gampangnya. Misalnya kehadiran Gandalf di saat genting dalam trilogi Lord of the Rings karya Peter Jackson.

12)  Cliffhanger: Cerita yang endingnya menggantung.

13)  Penghubung tak berguna/benang hijau/mata rantai yang copot: Satu hal atau benda yang menghubungkan banyak kejadian yang tak secara langsung berhubungan. Misalnya film Babel karya Alejandro González Iñárritu.

14)  Time loops: perulangan waktu yang mewujudkan kejadian baru. Misalnya film 12 Monkeys karya Terry Gilliam.

15)  Twist: Puntiran kejadian sehingga penonton jadi salah duga. Contoh film yang ada twist adalah A.I. yang disutradari Steven Spielberg.

16)  Anagnorisis: Ketika protagonis menyadari identitas sebenarnya dari dirinya yang merupakan penjelasan dari misteri-misteri di awal mula cerita. Misalnya film Fight Club karya David Fincher.

17)  Unreliable narrator: Adanya tokoh yang berbicara bohong di awal cerita, membawa penonton percaya itu adalah kejadian yang sedang terjadi dalam cerita. Contohnya film Usual Suspect yang disutradarai Bryan Singer.

18)  Peripeteia: Pembalikan nasib secara tiba-tiba namun logis sehingga menjadi semacam twist. Misalnya pembalikan nasib karakter utama dalam film Kungfu Hustle karya Stephen Chow.

19)  MacGuffin: Suatu hal yang menjadi motivasi karakter untuk dikejar. Bisa juga ia merupakan sebuah benda yang diburu oleh para pelaku cerita untuk menyelesaikan suatu misi. Hal ini menjadi penentu jalan cerita. Disebut juga plot coupons jika benda itu ada beberapa dan harus dijadikan satu agar berfungsi. Contohnya film Lord of The Rings (yang disatukan adalah cincin sakti) dan serial animasi Dragon Ball (yang disatukan adalah bola naga).

Nah, tujuan saya mengumpulkan 19 point ini adalah untuk membantu anda, penulis film indie, dalam membikin cerita yang semakin asyik. Karena saya adalah pembikin bukan kritikus, jadi jangan nanya judul film tertentu terus itu menggunakan teknik atau device yang mana ya hehehe...


Baca

5 Cabang Kreativitas: Semacam pemetaan dalam proses berkarya

Rajah ini kunamai "Lima Cabang Kreativitas". Lima hal dalam cabang itu menentukan kualitas karya kreatif kita.


1. Passion alias kecintaan, hasrat, gairah. Berkarya dengan passion akan memiliki nilai. Tanpa passion, karya hanya akan menjadi barang mati. tak ada maknanya bagi kita karena kita melakukannya tanpa hasrat.

2. Spirit, semangat. Udah passion tapi kalo nggak semangat berkarya ya akhirnya cuma jadi khayalan. Spirit ini ditentukan oleh level "baterai kreatif" dalam diri kita.

3. Skill, ketrampilan. Orang Cina menyebut skill sebagai "kungfu". Kalau sudah passion, semangat udah ada, sekarang kita harus terus berkarya sampai kita tak mengalami hambatan teknis. Udah mahir. Kalau skill berhasil dibentuk, maka kita bisa mewujudkan ide kreatif dengan nyaman.

4. Interaction atau interaksi (opo yo boso Jawane?). jadi ketika karya sudah jadi atau ditampilkan, karya itu perlu berinteraksi dengan apresiator. Mendapat respon. Apakah karya kita mempengaruhi mereka? Apakah karya kita sudah bagus? Dengan berinteraksi, kita akan dapat banyak masukan atau kritik.

5. Taste, cita rasa. Ini puncak pencapaian berkarya kreatif. Karya dengan taste yang khas, unik, beda, gila akan mendapat tempat di hati. Nggak garing, gitu istilah ngepopnya. Karena bisa saja seseorang udah punya 4 hal yang sebelumnya tapi jika karyanya nggak ada taste, maka karyanya akan garing. Wong Jowo ngomong...wagu! Taste inilah yang "mahal". Taste itu melewati pencarian yang panjang. Inilah kenapa setiap karya kadang ada penyuka ada juga pembenci. Hubungannya adalah dengan taste! Tiap orang memiliki taste berbeda. Taste saya, kamu, dia, beda.

Nah, pesan saya (yang jelas-jelas menggurui) untuk kali ini adalah:

Segera upgrade baterai kreatif kalian!
Cari taste kalian!

"Satu karya buruk lebih baik daripada seribu cocotan bagus!
Rajah ini kunamai "Lima Cabang Kreativitas". Lima hal dalam cabang itu menentukan kualitas karya kreatif kita.


1. Passion alias kecintaan, hasrat, gairah. Berkarya dengan passion akan memiliki nilai. Tanpa passion, karya hanya akan menjadi barang mati. tak ada maknanya bagi kita karena kita melakukannya tanpa hasrat.

2. Spirit, semangat. Udah passion tapi kalo nggak semangat berkarya ya akhirnya cuma jadi khayalan. Spirit ini ditentukan oleh level "baterai kreatif" dalam diri kita.

3. Skill, ketrampilan. Orang Cina menyebut skill sebagai "kungfu". Kalau sudah passion, semangat udah ada, sekarang kita harus terus berkarya sampai kita tak mengalami hambatan teknis. Udah mahir. Kalau skill berhasil dibentuk, maka kita bisa mewujudkan ide kreatif dengan nyaman.

4. Interaction atau interaksi (opo yo boso Jawane?). jadi ketika karya sudah jadi atau ditampilkan, karya itu perlu berinteraksi dengan apresiator. Mendapat respon. Apakah karya kita mempengaruhi mereka? Apakah karya kita sudah bagus? Dengan berinteraksi, kita akan dapat banyak masukan atau kritik.

5. Taste, cita rasa. Ini puncak pencapaian berkarya kreatif. Karya dengan taste yang khas, unik, beda, gila akan mendapat tempat di hati. Nggak garing, gitu istilah ngepopnya. Karena bisa saja seseorang udah punya 4 hal yang sebelumnya tapi jika karyanya nggak ada taste, maka karyanya akan garing. Wong Jowo ngomong...wagu! Taste inilah yang "mahal". Taste itu melewati pencarian yang panjang. Inilah kenapa setiap karya kadang ada penyuka ada juga pembenci. Hubungannya adalah dengan taste! Tiap orang memiliki taste berbeda. Taste saya, kamu, dia, beda.

Nah, pesan saya (yang jelas-jelas menggurui) untuk kali ini adalah:

Segera upgrade baterai kreatif kalian!
Cari taste kalian!

"Satu karya buruk lebih baik daripada seribu cocotan bagus!
Baca

THE MIST (Frank Darabont 2007), sebuah film monster yang endingnya sangat dancuk.

Setelah saya nonton karya Pak Darabont yang klasik The Shawshank Redemption, begitu nonton ini saya jadi misuh-misuh...wah film dancuk nih :D
Dancuk of what? Lets check it out...


Filmnya ceritanya begini

Di sebuah kota kecil yang mungkin cuma sekecil Wlingi, David Drayton (Thomas Jane) seorang ilustrator poster film bersama beberapa orang terjebak di sebuah mini market. Kita sebut aja mini market meski lebih luas daripada Indomaret namun nggak segede Mirota Kampus. Ketika orang-orang sedang belanja di minimarket ini, tiba-tiba saja muncul kabut yang entah darimana. Kabut itu kemudian ternyata membawa beberapa makhluk aneh. Ada yang berupa tentakel bergigi, makhluk mirip kelelawar berparuh, laba-laba berbenang asam dan ada pula semacam kepiting raksasa sebesar kaiju-nya Pacific Rim.


Kemunculan monster-monster itu satu per satu memakan orang-orang yang bertahan di mini market. Di situlah terjadi persoalan antar orang-orang. Ada yang ingin keluar dan ada yang ingin bertahan. Persoalan makin runyam karena salah seorang warga kota bernama Mrs. Carmody (Marcia Gay Harden) mulai berkotbah tentang akhir jaman. Tak ubahnya wahabi khawarij, Mrs. Carmody mengancam-ancam bikin ketakutan anak kecil. Dia mulai mendosa-dosakan orang (dengan cara yang mirip dengan mengkafir-kafirkan orang). Mrs. Carmody mengutuk para ilmuwan yang lancang membongkar misteri Tuhan.

Awalnya Mrs. Carmody nggak digubris, namun ketika situasi semakin genting, yaitu ketika korban monster makin banyak, Mrs. Carmody mulai dapat pengikut. Di saat orang-orang panik dan mencari solusi menyelamatkan diri, Mrs. Carmody malah borkotbah makin menjadi-jadi dan satu per satu mengimaninya. Akhirnya yang tidak mempercayai Mrs. Carmody jadi minoritas. Ini membuat Mrs. Carmody makin memuncak. Ia bahkan mulai menghalalkan darah orang yang menentangnya. Kotbah Mrs. Carmody pun makan korban.

Kini David Drayton bersama segelintir minoritas berusaha lepas dari Mrs. Carmody di tengah ancaman monster di kabut. Repotnya, David membawa putranya yang masih kecil bersamanya.

Trus, endingnya yang dancuk tu gimana, Cak?

Sori, meskipun ini film lawas dan sebenarnya juga merupakan adaptasi dari novella-nya Stephen King, ada baiknya kalian tonton sendiri. Katanya Frank Darabont juga mengubah endingnya agar dramatis. Dan memang the ending is dancuk enough...hehehe

If you like monsters film, you kudu ndeleng iki with your konco-konco monster fans.
Setelah saya nonton karya Pak Darabont yang klasik The Shawshank Redemption, begitu nonton ini saya jadi misuh-misuh...wah film dancuk nih :D
Dancuk of what? Lets check it out...


Filmnya ceritanya begini

Di sebuah kota kecil yang mungkin cuma sekecil Wlingi, David Drayton (Thomas Jane) seorang ilustrator poster film bersama beberapa orang terjebak di sebuah mini market. Kita sebut aja mini market meski lebih luas daripada Indomaret namun nggak segede Mirota Kampus. Ketika orang-orang sedang belanja di minimarket ini, tiba-tiba saja muncul kabut yang entah darimana. Kabut itu kemudian ternyata membawa beberapa makhluk aneh. Ada yang berupa tentakel bergigi, makhluk mirip kelelawar berparuh, laba-laba berbenang asam dan ada pula semacam kepiting raksasa sebesar kaiju-nya Pacific Rim.


Kemunculan monster-monster itu satu per satu memakan orang-orang yang bertahan di mini market. Di situlah terjadi persoalan antar orang-orang. Ada yang ingin keluar dan ada yang ingin bertahan. Persoalan makin runyam karena salah seorang warga kota bernama Mrs. Carmody (Marcia Gay Harden) mulai berkotbah tentang akhir jaman. Tak ubahnya wahabi khawarij, Mrs. Carmody mengancam-ancam bikin ketakutan anak kecil. Dia mulai mendosa-dosakan orang (dengan cara yang mirip dengan mengkafir-kafirkan orang). Mrs. Carmody mengutuk para ilmuwan yang lancang membongkar misteri Tuhan.

Awalnya Mrs. Carmody nggak digubris, namun ketika situasi semakin genting, yaitu ketika korban monster makin banyak, Mrs. Carmody mulai dapat pengikut. Di saat orang-orang panik dan mencari solusi menyelamatkan diri, Mrs. Carmody malah borkotbah makin menjadi-jadi dan satu per satu mengimaninya. Akhirnya yang tidak mempercayai Mrs. Carmody jadi minoritas. Ini membuat Mrs. Carmody makin memuncak. Ia bahkan mulai menghalalkan darah orang yang menentangnya. Kotbah Mrs. Carmody pun makan korban.

Kini David Drayton bersama segelintir minoritas berusaha lepas dari Mrs. Carmody di tengah ancaman monster di kabut. Repotnya, David membawa putranya yang masih kecil bersamanya.

Trus, endingnya yang dancuk tu gimana, Cak?

Sori, meskipun ini film lawas dan sebenarnya juga merupakan adaptasi dari novella-nya Stephen King, ada baiknya kalian tonton sendiri. Katanya Frank Darabont juga mengubah endingnya agar dramatis. Dan memang the ending is dancuk enough...hehehe

If you like monsters film, you kudu ndeleng iki with your konco-konco monster fans.
Baca

Tentang Visualisasi KEKERASAN

Hal-hal yang menggelisahkan saya akhir-akhir ini adalah semakin parahnya cara TV menyensor visualisasi kekerasan. Menonton film laga jadi nggak nikmat. Begitu pukulan mau kena sasaran tiba-tiba adegan kepotong. Jelas beda kekerasan dalam film dengan tayangan berita kriminal. Berita kriminal sekalipun gambar udah diblur aura kekerasannya tetap aja terasa, malah semakin terasa keras. Kegalauan saya semakin menjadi ketika TV mulai menyensor gambar-gambar yang tidak masuk kategori keras...belahan payudara. Mungkin TV berniat biak agar anak kecil semakin penasaran dengan mencari video penampakan aslinya.


Saya ini mirip Tarantino, sangat gemar kekerasan dalam film, namun tidak dalam kehidupan nyata. Banyak orang sebaliknya. Nah, ini kadang bikin crash ama orang-orang. Adegan film saya yang berandal digampar tabung gas kadang juga dikritik...padahal itu tabung gasnya nggak rusak, masih tetap keras. Saya jadi mikir...kekerasan itu sebenarnya apa sih? Saya bicara kekerasan yang bahasa Inggrisnya "violence" ya...bukan keras yang lawan kata kenyal...eh lunak....lunak mayak....Lunak Mayak kenyal (lihat Luna Maya di TV barusan....rindu videonya...) oits! Kembali ke topik!







Apakah kekerasan itu adalah ketika kita jadi korban? Kalau orang lain korbannya mungkin bukan kekerasan?
Apakah kekerasan itu jika dilakukan golongan lain pada kita? Kalau kita pelakunya bukan kekerasan?

Pelajaran agama Islam yang saya terima sejak keci di antaranya tentang sejarah peperangan nabi. Itu kekerasan bukan?
Saya membaca kisah-kisah Yesus yang disalib tentara Romawi. Kekerasan bukan?
Baca sejarah pun isinya perang, pengkhianatan, pembunuhan....
Saya pun jadi bingung ketika ada film laga yang dituding sebagai media yang mengajarkan kekerasan. Jadi konsep kekerasan itu apa?

Mengutip artikel wikipedia...

Violence is defined by the World Health Organization as "the intentional use of physical force or power, threatened or actual, against oneself, another person, or against a group or community, which either results in or has a high likelihood of resulting in injury, death, psychological harm, maldevelopment, or deprivation", but acknowledges that the inclusion of "the use of power" in its definition expands on the conventional meaning of the word.[2] This definition involves intentionality with the committing of the act itself, irrespective of the outcome it produces. However, generally, anything that is excited in an injurious or damaging way may be described as violent even if not meant to be violence (by a person and against a person).

Oke bahasa Inggris...males ah nerjemahin. Baiklah...saya akan merumuskan teori saya sendiri...

Kehidupan kita selain kasih sayang dan persaudaraan pastinya juga mengandung unsur "kekerasan", konfrontasi fisik maupun psikologis, pembelaan diri, invasi dan lain-lain. Ada banyak manifestasi kekerasan. Jadi pada tahap ini saya menerima bahwa kekerasan dalam berbagai kadar dan manifestasinya adalah bagian dari kehidupan ras manusia. Anda makan binatang aja bisa disebut sebagai "kekerasan" menurut kaum vegan.

Karena itu kekerasan harus dikelola.

Kekerasan adalah tindakan merugikan secara fisik dan psikis yang dilakukan antar pihak (bisa individu atau kelompok) tanpa pembenaran moral dan hukum. Jika dikaitkan dengan nilai agama maka kata kekerasan akan menjadi ambigu karena patokan nilai yang dipegang tiap pihak berbeda. Di sini yang akan menyebut kekerasan adalah pihak korban. Di tahap ini kekerasan menjadi sesuatu yang subyektif. Kekerasan mungkin memang bukan sesuatu yang bisa dideskripsikan secara universal...itulah dancuknya.

Kalau kamu merasa kata-kata dan tindakanmu berpotensi menyakiti seseorang, mungkin kamu akan menggunakan cara lain dalam melakukannya.
Kalau kamu nyakitin hatiku, bagi aku itu kekerasan...bagi kamu mungkin biasa aja... (halah ngomong opooo to, mblo..)

Kekerasan tidak bisa dikerangkeng dalam pelabelan sepihak. Kekerasan selalu berada dalam konteks. Maka haruslah di-manage. Masalahnya juga nggak semua orang bijak dalam manajemen "kekerasan". Setiap kelompok selalu rentan melakukan atau terkena kekerasan. Antar umat beragama, antar fans kesebelasan sepak bola, antar instansi pejabat dll.

Nah, sekarang bagaimana tentang visualisasi kekerasan dalam media?

Saya sepakat itu dibatasi untuk anak kecil (atau orang tua dengan pikiran anak kecil), cuma ya jangan banget-banget lah...daripada menyensor adegan yang bikin kenikmatan nonton berkrang kenapa nggak juga nayangin "behind the scene". Jadi ada proses edukasi soal visualisasi kekerasan tadi. Anak-anak tahu kalau adegan itu rekayasa dan gak bisa ditiru. Makanya orangtua kalau bisa juga mendampingi. Tapi repot juga sih kalau orangtua si anak adalah anggota DPRD...kan sibuk menyusun anggaran demi kesejahteraan rakyat.

Perbanyak ekskul film di sekolah-sekolah...biar anak-anak tahu bahwa visualisasi kekerasan itu bukan nilai hidup yang bis adilakukan di dunia nyata. Kan itu juga bakal ngasih kerjaan buat filmmaker edukator desa kayak saya (heheheh)

Menurut saya sensor tidak selalu merupakan jawaban untuk membentengi moral. Wrong censorship spreads wrong messages.


Hal-hal yang menggelisahkan saya akhir-akhir ini adalah semakin parahnya cara TV menyensor visualisasi kekerasan. Menonton film laga jadi nggak nikmat. Begitu pukulan mau kena sasaran tiba-tiba adegan kepotong. Jelas beda kekerasan dalam film dengan tayangan berita kriminal. Berita kriminal sekalipun gambar udah diblur aura kekerasannya tetap aja terasa, malah semakin terasa keras. Kegalauan saya semakin menjadi ketika TV mulai menyensor gambar-gambar yang tidak masuk kategori keras...belahan payudara. Mungkin TV berniat biak agar anak kecil semakin penasaran dengan mencari video penampakan aslinya.


Saya ini mirip Tarantino, sangat gemar kekerasan dalam film, namun tidak dalam kehidupan nyata. Banyak orang sebaliknya. Nah, ini kadang bikin crash ama orang-orang. Adegan film saya yang berandal digampar tabung gas kadang juga dikritik...padahal itu tabung gasnya nggak rusak, masih tetap keras. Saya jadi mikir...kekerasan itu sebenarnya apa sih? Saya bicara kekerasan yang bahasa Inggrisnya "violence" ya...bukan keras yang lawan kata kenyal...eh lunak....lunak mayak....Lunak Mayak kenyal (lihat Luna Maya di TV barusan....rindu videonya...) oits! Kembali ke topik!







Apakah kekerasan itu adalah ketika kita jadi korban? Kalau orang lain korbannya mungkin bukan kekerasan?
Apakah kekerasan itu jika dilakukan golongan lain pada kita? Kalau kita pelakunya bukan kekerasan?

Pelajaran agama Islam yang saya terima sejak keci di antaranya tentang sejarah peperangan nabi. Itu kekerasan bukan?
Saya membaca kisah-kisah Yesus yang disalib tentara Romawi. Kekerasan bukan?
Baca sejarah pun isinya perang, pengkhianatan, pembunuhan....
Saya pun jadi bingung ketika ada film laga yang dituding sebagai media yang mengajarkan kekerasan. Jadi konsep kekerasan itu apa?

Mengutip artikel wikipedia...

Violence is defined by the World Health Organization as "the intentional use of physical force or power, threatened or actual, against oneself, another person, or against a group or community, which either results in or has a high likelihood of resulting in injury, death, psychological harm, maldevelopment, or deprivation", but acknowledges that the inclusion of "the use of power" in its definition expands on the conventional meaning of the word.[2] This definition involves intentionality with the committing of the act itself, irrespective of the outcome it produces. However, generally, anything that is excited in an injurious or damaging way may be described as violent even if not meant to be violence (by a person and against a person).

Oke bahasa Inggris...males ah nerjemahin. Baiklah...saya akan merumuskan teori saya sendiri...

Kehidupan kita selain kasih sayang dan persaudaraan pastinya juga mengandung unsur "kekerasan", konfrontasi fisik maupun psikologis, pembelaan diri, invasi dan lain-lain. Ada banyak manifestasi kekerasan. Jadi pada tahap ini saya menerima bahwa kekerasan dalam berbagai kadar dan manifestasinya adalah bagian dari kehidupan ras manusia. Anda makan binatang aja bisa disebut sebagai "kekerasan" menurut kaum vegan.

Karena itu kekerasan harus dikelola.

Kekerasan adalah tindakan merugikan secara fisik dan psikis yang dilakukan antar pihak (bisa individu atau kelompok) tanpa pembenaran moral dan hukum. Jika dikaitkan dengan nilai agama maka kata kekerasan akan menjadi ambigu karena patokan nilai yang dipegang tiap pihak berbeda. Di sini yang akan menyebut kekerasan adalah pihak korban. Di tahap ini kekerasan menjadi sesuatu yang subyektif. Kekerasan mungkin memang bukan sesuatu yang bisa dideskripsikan secara universal...itulah dancuknya.

Kalau kamu merasa kata-kata dan tindakanmu berpotensi menyakiti seseorang, mungkin kamu akan menggunakan cara lain dalam melakukannya.
Kalau kamu nyakitin hatiku, bagi aku itu kekerasan...bagi kamu mungkin biasa aja... (halah ngomong opooo to, mblo..)

Kekerasan tidak bisa dikerangkeng dalam pelabelan sepihak. Kekerasan selalu berada dalam konteks. Maka haruslah di-manage. Masalahnya juga nggak semua orang bijak dalam manajemen "kekerasan". Setiap kelompok selalu rentan melakukan atau terkena kekerasan. Antar umat beragama, antar fans kesebelasan sepak bola, antar instansi pejabat dll.

Nah, sekarang bagaimana tentang visualisasi kekerasan dalam media?

Saya sepakat itu dibatasi untuk anak kecil (atau orang tua dengan pikiran anak kecil), cuma ya jangan banget-banget lah...daripada menyensor adegan yang bikin kenikmatan nonton berkrang kenapa nggak juga nayangin "behind the scene". Jadi ada proses edukasi soal visualisasi kekerasan tadi. Anak-anak tahu kalau adegan itu rekayasa dan gak bisa ditiru. Makanya orangtua kalau bisa juga mendampingi. Tapi repot juga sih kalau orangtua si anak adalah anggota DPRD...kan sibuk menyusun anggaran demi kesejahteraan rakyat.

Perbanyak ekskul film di sekolah-sekolah...biar anak-anak tahu bahwa visualisasi kekerasan itu bukan nilai hidup yang bis adilakukan di dunia nyata. Kan itu juga bakal ngasih kerjaan buat filmmaker edukator desa kayak saya (heheheh)

Menurut saya sensor tidak selalu merupakan jawaban untuk membentengi moral. Wrong censorship spreads wrong messages.


Baca

Referensi Wajib Untuk Filmmaker Pemula

Sebagai pelatih ekskul film, di awal pertemuan komunitas saya biasanya memutarkan film-film terpilih. Teman-teman peserta ekskul perlu mendapat referensi yang bagus sebelum memulai belajar film. Seperti Quentin Tarantino, kalau mau belajar film ya nonton film. Dengan nonton kita dapat referensi dan membangun taste.


Saya selalu membedakan antara belajar videografi dengan belajar filmmaking. Beda!
Videografi adalah soal alat. Film adalah soal bercerita. Tapi otomatis seorang filmmaker akan belajar videografi sedangkan videografer belum tentu.
 

Setidaknya ada 3 film wajib yang saya putarkan buat teman-teman:

1. Super 8 (J.J Abrams)
2. Be Kind Rewind (Michel Gondry)
3. Cinema Paradiso (Giusseppe Tornatore)

Kenapa 3 film itu?

Karena 3 film itu bagus dan juga bercerita soal filmmaking.
Terus film Indonesia mana?

Nah di situlah saya merasa sedih... (*langsung disabet expandable baton)

Jujur aja...tanpa mengecilkan karya filmmaker nasional...saya belum menemukan film Indonesia yang cocok untuk usia teman-teman ekskul, bercerita soal filmmaking tanpa menggurui. Belum ada film nasional yang mencapai taraf "legend" soal filmmaking...sori kecap...eh sori to sey.

So...lets mulai gawe filem n ra kakean cangkem kayak penulis artikel ini.



Sebagai pelatih ekskul film, di awal pertemuan komunitas saya biasanya memutarkan film-film terpilih. Teman-teman peserta ekskul perlu mendapat referensi yang bagus sebelum memulai belajar film. Seperti Quentin Tarantino, kalau mau belajar film ya nonton film. Dengan nonton kita dapat referensi dan membangun taste.


Saya selalu membedakan antara belajar videografi dengan belajar filmmaking. Beda!
Videografi adalah soal alat. Film adalah soal bercerita. Tapi otomatis seorang filmmaker akan belajar videografi sedangkan videografer belum tentu.
 

Setidaknya ada 3 film wajib yang saya putarkan buat teman-teman:

1. Super 8 (J.J Abrams)
2. Be Kind Rewind (Michel Gondry)
3. Cinema Paradiso (Giusseppe Tornatore)

Kenapa 3 film itu?

Karena 3 film itu bagus dan juga bercerita soal filmmaking.
Terus film Indonesia mana?

Nah di situlah saya merasa sedih... (*langsung disabet expandable baton)

Jujur aja...tanpa mengecilkan karya filmmaker nasional...saya belum menemukan film Indonesia yang cocok untuk usia teman-teman ekskul, bercerita soal filmmaking tanpa menggurui. Belum ada film nasional yang mencapai taraf "legend" soal filmmaking...sori kecap...eh sori to sey.

So...lets mulai gawe filem n ra kakean cangkem kayak penulis artikel ini.



Baca

Filmmaking: Tentang Alat dan Proses Berkarya (saya)

Selama bikin film saya cenderung hanya bisa memakai alat seadanya. Nggak pernah punya akses ke alat yang canggih-canggih banget. Nih reviewnya.


-Kamera saku Sony dan Kodak: Aslinya cuma kamera foto yang ada fitur video. Resolusinya cuma sampai 640 X 480. Sama teman sudah dibilangin, "Nggak bisa buat filem itu, Pamaaaan!". Saya nekad. Yah hasilnya sekelas gambar jaman format VCD :) keuntungan portabilitas tinggi, kekurangan yaaaa semuanya: gambar resolusi rendah mau diapain coba? Akhirnya ya bikin aja kayak film rusak.

-Kamera syuting manten (MD10000). Gambarnya lumayan (576p), repotnya masih pakai kaset. Harga kaset 25 ribu dan selesai syuting harus dicapture dulu ke harddisk selama sejaman. Keren buat pamer...kayak syuting film beneran.

-Handycam, gambar setara 11-12 ama kamera syuting manten. Sama repotnya soal capture dari kaset namun portabilitas lebih enak.

-DSLR's, yang saya pakai pertama 550D (pinjam). Belum bisa makainya, masih "nggumunan" ama kamera resolusi tinggi setelah sebelumnya cuma pake kamera saku. Terakhir saya pakai 650D yang cukup cepat pakai, layarnya touchscreen. Kecepatan penting bagi guerilla filmmaker kayak saya. Selain itu juga nyoba 700D dan 70D yang secara kualitas mirip-mirip.

Nah, karena most of kita sedoyo nggak affordable buat dapet gears mahal macam Sony a7s, maka gunakan cara Ninja. Ketahui kelebihan dan kekurangan alat yang kita punya buat berkarya.

Memang sih ide sering dibatasi oleh alat. Eksekusi jadi terbatas. Tapi masak mau mengeluh terus. Gak punya ini lah...gak punya itu lah...

Sewaktu pakai DSLR untuk pertamakalinya, saya nggak paham apa itu segitiga eksposyur (panganan opo meneh iki?) Ketika gambar nggak terang kami genjot ISO gak tanggung-tanggung. Nggak paham apa itu noise. Ulah kami ini jadi bahan ketawaan dalam hati para videografer senior. Kok tahu kalau ketawa dalam hati? Ya tahu...saya kan melihatnya pakai hati juga.

Paling tidak kami udah berani berkarya deh.


Sudah umum pemula macam kita melakukan kesalahan. Namun lebih umum lagi yang tidak melakukan kesalahan...karena mereka tidak bikin karya.

Lama-lama saya nggak pernah lagi mempertanyakan alat mana yang paling bagus. Namun pertanyaan saya menjadi:

"Nih alat bisa diapain aja?"

Know your weakness to build your strength. Just like Ninja.

Itulah kenapa, dalam sharing soal filmmaking saya selalu tekankan passion dan kreativitas nomor satu, alat nomor dua.

"Taste" nomor satu, teknik nomor dua.

Gitu...

Nah, karena pengalaman berkarya itu saya sering ditanya gimana sih caranya bikin film?


Ya bikin aja. Kalau kita emang ingin dan passionated, kita akan tertuntun secara otomatis untuk mewujudkannya. Film pertama saya dibikin tanpa pengetahuan samasekali. Saya dibantu anak-anak yang paham kamera, editing lebih dulu. Saya bahkan nggak tahu cara menyutradarai :D

Hasilnya ultra kacrut bin najissss :D tapi di situ saya dapat pengalaman pertama dan SPIRIT!!!!

Prosesnya gini...

80an=saat SD, bikin film memakai kamera dari kardus, lensa dari corong/pitingan lampu bohlam, aktornya teman-teman main sekampung, kostum dari kertas, knockoff dari Saur Sepuh. Hasilnya cuma imajinasi tentang film yang sudah jadi. Aktor-aktor lantas digantikan wayang dari kardus saat screening pake lampu senter ke tembok.

Lalu saya menunggu laaaaamaaaaaaa....sampai suatu ketika...

2006=bikin film sendiri pertamakali padahal nggak tahu caranya, film dinosaurus wagu, kameranya MD10000

2009=pertamakali tahu cara nyutradarai, horor wagu, pakai kamera saku

2010=pertamakali bikin film panjang, film laga wagu, direct banyak kru n hasilnya kacrut tapi menyenangkan, MD10000

2011=pertamakali sadar yang namanya pace dalam film, film monster gagal, handycam

2012=mulai mementingkan cara bertutur, belajar DSLR, green screen, koreografi kompleks, akting yang natural, film superhero aneh, EOS550D plus kamera saku

2014=pertamakali bikin FULL HD, mulai paham watak lensa, belajar lighting, cara tutur dengan pace lebih cepat, koreografi lebih dinamik, makin paham screen direction, film laga pendek dan film drama noir nanggung, EOS650D, 700D dan 70D, shotgunmic

2015=akan mulai belajar AUDIO!!!! :)

Itu cara saya belajar. Bertahun-tahun lewat proses trial n error. Di desa kami (Wlingiwood) belajar film itu dengan bikin film dan menemukan kesalahanmu di sana.


Saya ngajarin juga kegilaan ini di beberapa sekolah n komunitas. Kreativitas tidak ditentukan alat tapi passion. Dalam proses ini, kami menemukan istilah yang namanya "baterai kreatif". Itu adalah hal yang paling berharga kami punya. Alat nggak terlalu jadi kendala (sebagian besar film kami dibuat dengan pinjaman dan bantuan). Yang susah nyari team dan talent yang passionated. Tak jarang kami harus ngajarin dari nol.

Karena kami tidak pernah sekolah film. Semua ilmu kami dapat dengan mencoba dan sedikit mencuri lewat pergaulan (yang juga nggak banyak amat).

Kami banyak terima masukan, celaan dan bantuan. Semua kami terima dengan tulus, lapang dada sembari misuh keras dalam hati (misuhnya gini=jiancukkk ora melu gawe mung nylathu....) :p

Kalau dikritik jangan membela diri hehehe bikin pengritik bungkam dengan karya yang lebih baik atau diam (misuh dalam hati)

Kritikus perlu untuk mengevaluasi kita, kalau pencela...pisuhin aja.

Film Indonesia sangat maju...dalam urusan mencela tapi tertinggal puluhan tahun dalam cara bertutur, pilihan tematik dan sedikit teknis. Jadi komunitas kami memutuskan tidak akan mengkritik dan mulai membikin.

Berproses....berproses dan berproses.


Selama bikin film saya cenderung hanya bisa memakai alat seadanya. Nggak pernah punya akses ke alat yang canggih-canggih banget. Nih reviewnya.


-Kamera saku Sony dan Kodak: Aslinya cuma kamera foto yang ada fitur video. Resolusinya cuma sampai 640 X 480. Sama teman sudah dibilangin, "Nggak bisa buat filem itu, Pamaaaan!". Saya nekad. Yah hasilnya sekelas gambar jaman format VCD :) keuntungan portabilitas tinggi, kekurangan yaaaa semuanya: gambar resolusi rendah mau diapain coba? Akhirnya ya bikin aja kayak film rusak.

-Kamera syuting manten (MD10000). Gambarnya lumayan (576p), repotnya masih pakai kaset. Harga kaset 25 ribu dan selesai syuting harus dicapture dulu ke harddisk selama sejaman. Keren buat pamer...kayak syuting film beneran.

-Handycam, gambar setara 11-12 ama kamera syuting manten. Sama repotnya soal capture dari kaset namun portabilitas lebih enak.

-DSLR's, yang saya pakai pertama 550D (pinjam). Belum bisa makainya, masih "nggumunan" ama kamera resolusi tinggi setelah sebelumnya cuma pake kamera saku. Terakhir saya pakai 650D yang cukup cepat pakai, layarnya touchscreen. Kecepatan penting bagi guerilla filmmaker kayak saya. Selain itu juga nyoba 700D dan 70D yang secara kualitas mirip-mirip.

Nah, karena most of kita sedoyo nggak affordable buat dapet gears mahal macam Sony a7s, maka gunakan cara Ninja. Ketahui kelebihan dan kekurangan alat yang kita punya buat berkarya.

Memang sih ide sering dibatasi oleh alat. Eksekusi jadi terbatas. Tapi masak mau mengeluh terus. Gak punya ini lah...gak punya itu lah...

Sewaktu pakai DSLR untuk pertamakalinya, saya nggak paham apa itu segitiga eksposyur (panganan opo meneh iki?) Ketika gambar nggak terang kami genjot ISO gak tanggung-tanggung. Nggak paham apa itu noise. Ulah kami ini jadi bahan ketawaan dalam hati para videografer senior. Kok tahu kalau ketawa dalam hati? Ya tahu...saya kan melihatnya pakai hati juga.

Paling tidak kami udah berani berkarya deh.


Sudah umum pemula macam kita melakukan kesalahan. Namun lebih umum lagi yang tidak melakukan kesalahan...karena mereka tidak bikin karya.

Lama-lama saya nggak pernah lagi mempertanyakan alat mana yang paling bagus. Namun pertanyaan saya menjadi:

"Nih alat bisa diapain aja?"

Know your weakness to build your strength. Just like Ninja.

Itulah kenapa, dalam sharing soal filmmaking saya selalu tekankan passion dan kreativitas nomor satu, alat nomor dua.

"Taste" nomor satu, teknik nomor dua.

Gitu...

Nah, karena pengalaman berkarya itu saya sering ditanya gimana sih caranya bikin film?


Ya bikin aja. Kalau kita emang ingin dan passionated, kita akan tertuntun secara otomatis untuk mewujudkannya. Film pertama saya dibikin tanpa pengetahuan samasekali. Saya dibantu anak-anak yang paham kamera, editing lebih dulu. Saya bahkan nggak tahu cara menyutradarai :D

Hasilnya ultra kacrut bin najissss :D tapi di situ saya dapat pengalaman pertama dan SPIRIT!!!!

Prosesnya gini...

80an=saat SD, bikin film memakai kamera dari kardus, lensa dari corong/pitingan lampu bohlam, aktornya teman-teman main sekampung, kostum dari kertas, knockoff dari Saur Sepuh. Hasilnya cuma imajinasi tentang film yang sudah jadi. Aktor-aktor lantas digantikan wayang dari kardus saat screening pake lampu senter ke tembok.

Lalu saya menunggu laaaaamaaaaaaa....sampai suatu ketika...

2006=bikin film sendiri pertamakali padahal nggak tahu caranya, film dinosaurus wagu, kameranya MD10000

2009=pertamakali tahu cara nyutradarai, horor wagu, pakai kamera saku

2010=pertamakali bikin film panjang, film laga wagu, direct banyak kru n hasilnya kacrut tapi menyenangkan, MD10000

2011=pertamakali sadar yang namanya pace dalam film, film monster gagal, handycam

2012=mulai mementingkan cara bertutur, belajar DSLR, green screen, koreografi kompleks, akting yang natural, film superhero aneh, EOS550D plus kamera saku

2014=pertamakali bikin FULL HD, mulai paham watak lensa, belajar lighting, cara tutur dengan pace lebih cepat, koreografi lebih dinamik, makin paham screen direction, film laga pendek dan film drama noir nanggung, EOS650D, 700D dan 70D, shotgunmic

2015=akan mulai belajar AUDIO!!!! :)

Itu cara saya belajar. Bertahun-tahun lewat proses trial n error. Di desa kami (Wlingiwood) belajar film itu dengan bikin film dan menemukan kesalahanmu di sana.


Saya ngajarin juga kegilaan ini di beberapa sekolah n komunitas. Kreativitas tidak ditentukan alat tapi passion. Dalam proses ini, kami menemukan istilah yang namanya "baterai kreatif". Itu adalah hal yang paling berharga kami punya. Alat nggak terlalu jadi kendala (sebagian besar film kami dibuat dengan pinjaman dan bantuan). Yang susah nyari team dan talent yang passionated. Tak jarang kami harus ngajarin dari nol.

Karena kami tidak pernah sekolah film. Semua ilmu kami dapat dengan mencoba dan sedikit mencuri lewat pergaulan (yang juga nggak banyak amat).

Kami banyak terima masukan, celaan dan bantuan. Semua kami terima dengan tulus, lapang dada sembari misuh keras dalam hati (misuhnya gini=jiancukkk ora melu gawe mung nylathu....) :p

Kalau dikritik jangan membela diri hehehe bikin pengritik bungkam dengan karya yang lebih baik atau diam (misuh dalam hati)

Kritikus perlu untuk mengevaluasi kita, kalau pencela...pisuhin aja.

Film Indonesia sangat maju...dalam urusan mencela tapi tertinggal puluhan tahun dalam cara bertutur, pilihan tematik dan sedikit teknis. Jadi komunitas kami memutuskan tidak akan mengkritik dan mulai membikin.

Berproses....berproses dan berproses.


Baca

Film yang bagus itu yang gimana sih?

Ayo kita ngobrolin soal film bagus. What is a good movie? What is a bad movie?
Soal bagus atau tidak di mana-mana pasti relatif. Ini juga berlaku umum di jenis seni manapun. Musik, lukisan, batu akik? (itu masuk seni bukan ya?)


Kita mulai dari tolok ukurnya dulu. Konon sih (entah kata siapa) film bagus adalah film yang diakui dalam festival-festival film katakanlah Academy Awards, Cannes, Golden Globe, FFI dan semacamnya. Tapi mengapa film yang dikategorikan bagus, menyabet banyak nominasi atau menang di Best Picture kok nggak seru? Udah gitu filmnya sepi penonton pula…

Banyak juga yang nanya kenapa kok jarang film silat, film superhero, film drama valentine (pokoke film seru lah) jarang bisa dapet penghargaan?
Nah, festival film memang punya “politik”-nya sendiri dalam meng-hegemoni selera. Jadi penyelenggaranya memang punya semacam standar buat menentukan kualitas sebuah karya. Mirip-mirip kurasi buat lukisan yang bisa masuk pameran gitu lah. Film dikategorikan bagus, setidaknya jika film tersebut memenuhi beberapa kriteria universal. Kalau menurut pemahaman saya, iki mbuh bener opo ora lho ya hehehehe…film bagus (untuk kategori fiksi) itu antara lain:
  1.  Apakah menyajikan visi artistik yang baru, belum pernah ada sebelumnya
  2.  Apakah cara bertuturnya unik, menyinggung tema-tema besar tanpa terkesan preachy atau menggurui
  3. Apakah akting para aktornya begitu menghanyutkan sehingga penonton tanpa sadar telah “dibawa” masuk ke alam fiksi sebuah film.  
  4. Apakah film itu menawarkan “taste” atau citarasa tertentu yang memukau dewan juri.
  5. Apakah film itu mencapai sebuah hal secara teknis dan artistik yang mampu memberi standar baru dalam perfilman terkini

Tentunya dalam menilai 5 poin ini dibutuhkan orang-orang yang kompeten dalam perfilman. Mereka mustinya orang yang sudah berpengalaman dan paham selukbeluk film. Juga mesti diingat bahwa festival film itu hanya mencakup "geografi kreativitas" (cieee istilahnya) di wilayah tertentu. Hollywood? Bollywood? Wlingiwood (manaaa pula ini)? 

Terus adil nggak sih menilai film berdasar selera segelintir orang semacam itu?

Kalo menurut saya sih ini bukan soal adil atau nggak adil. Ini cuma salah satu pengkategorian selera saja. Lagipula selain festival yang mainstream, ada banyak festival khusus yang memberi penghargaan terhadap selera film jenis tertentu. Kriteria mereka pun spesifik untuk genre tertentu itu. Misalnya ada festival film horror, festival film laga dll.

Nggak pernah ada sebuah kesimpulan fixed soal film apa yang bagus atau tidak. Kita nggak bisa membuat selera itu sama. Semua punya seleranya sendiri-sendiri. film yang kamu anggap kelas dewa bisa jadi cuma film kacrut di hadapan para pecinta film lainnya. Tenang aja…kamu nggak salah.
Terus yang salah apa?

Yang salah adalah kalau kamu maksain diri nonton film yang emang bukan genre kamu. “Maksa” ama rela mengapresiasi beda lho. Soalnya ada orang yang fanatik ama genre tertentu menganggap genre lain sampah. Dia nggak mau menengok “kebenaran” di luar genre filmnya. Dia fundamentalis satu genre film tertentu. Ada juga yang kayak gitu.

Jadi yang fanatik horror ala Suster Ngesot kemungkinan ya bakal mumet suruh nonton The Sixth Sense, yang fundamentalis Twilight Saga jangan nonton The Raid, yang suka Tree of Life bakal mencret nonton CJR, yang suka nonton film baku pukul ala Flash Point mungkin bakal sembelit nonton The Red Belt.

Ada juga orang yang pluralis dalam menonton film. Dia cukup kuat mencerna film “berat” macam 12 Monkeys namun juga bisa nonton blockbuster movie macam Final Destination. Ngerti film macam Bourne Trilogy tapi tak menganggap Machete kacrut dll.

Nggak ada urusan ama bener dan salah. Toh nonton film intinya adalah terhibur.

Jadi bedakanlah film yang kamu mau tonton.

Mau terhibur? Tercerahkan? Mendapat wacana baru? Mendapat referensi baru?

Kamu mewakili genre kamu masing-masing.  You have your own taste.
Lantas bagaimana menjadi penonton yang baik?

Ya jadilah penonton yang apresiatif di genre kamu sendiri. Tulislah review yang bertanggungjawab untuk mengkritisi maupun memuji. Itu penting bagi filmmaker untuk membuat karya yang lebih memuaskan kalian.

Kami para filmmaker sering lho dihujat bikin film jelek hanya karena penontonnya salah genre (cieeee curhat).

Jadi inget kata Joko Anwar:



Bikin film itu ribet. Banyak energi dan modal yang dikeluarkan untuk mewujudkan sebuah karya.
Nonton film itu juga nggak selalu gampang. Kita udah kadung ekspektasi tinggi, bayar tiket nonton eh yang bikin film nggak niat. Jadi?

Jangan salah ama genre kamu.

Genre kamu dan cara kamu mengapresiasinya adalah selera dan kapasitas otakmu wahahahahaah


Ayo kita ngobrolin soal film bagus. What is a good movie? What is a bad movie?
Soal bagus atau tidak di mana-mana pasti relatif. Ini juga berlaku umum di jenis seni manapun. Musik, lukisan, batu akik? (itu masuk seni bukan ya?)


Kita mulai dari tolok ukurnya dulu. Konon sih (entah kata siapa) film bagus adalah film yang diakui dalam festival-festival film katakanlah Academy Awards, Cannes, Golden Globe, FFI dan semacamnya. Tapi mengapa film yang dikategorikan bagus, menyabet banyak nominasi atau menang di Best Picture kok nggak seru? Udah gitu filmnya sepi penonton pula…

Banyak juga yang nanya kenapa kok jarang film silat, film superhero, film drama valentine (pokoke film seru lah) jarang bisa dapet penghargaan?
Nah, festival film memang punya “politik”-nya sendiri dalam meng-hegemoni selera. Jadi penyelenggaranya memang punya semacam standar buat menentukan kualitas sebuah karya. Mirip-mirip kurasi buat lukisan yang bisa masuk pameran gitu lah. Film dikategorikan bagus, setidaknya jika film tersebut memenuhi beberapa kriteria universal. Kalau menurut pemahaman saya, iki mbuh bener opo ora lho ya hehehehe…film bagus (untuk kategori fiksi) itu antara lain:
  1.  Apakah menyajikan visi artistik yang baru, belum pernah ada sebelumnya
  2.  Apakah cara bertuturnya unik, menyinggung tema-tema besar tanpa terkesan preachy atau menggurui
  3. Apakah akting para aktornya begitu menghanyutkan sehingga penonton tanpa sadar telah “dibawa” masuk ke alam fiksi sebuah film.  
  4. Apakah film itu menawarkan “taste” atau citarasa tertentu yang memukau dewan juri.
  5. Apakah film itu mencapai sebuah hal secara teknis dan artistik yang mampu memberi standar baru dalam perfilman terkini

Tentunya dalam menilai 5 poin ini dibutuhkan orang-orang yang kompeten dalam perfilman. Mereka mustinya orang yang sudah berpengalaman dan paham selukbeluk film. Juga mesti diingat bahwa festival film itu hanya mencakup "geografi kreativitas" (cieee istilahnya) di wilayah tertentu. Hollywood? Bollywood? Wlingiwood (manaaa pula ini)? 

Terus adil nggak sih menilai film berdasar selera segelintir orang semacam itu?

Kalo menurut saya sih ini bukan soal adil atau nggak adil. Ini cuma salah satu pengkategorian selera saja. Lagipula selain festival yang mainstream, ada banyak festival khusus yang memberi penghargaan terhadap selera film jenis tertentu. Kriteria mereka pun spesifik untuk genre tertentu itu. Misalnya ada festival film horror, festival film laga dll.

Nggak pernah ada sebuah kesimpulan fixed soal film apa yang bagus atau tidak. Kita nggak bisa membuat selera itu sama. Semua punya seleranya sendiri-sendiri. film yang kamu anggap kelas dewa bisa jadi cuma film kacrut di hadapan para pecinta film lainnya. Tenang aja…kamu nggak salah.
Terus yang salah apa?

Yang salah adalah kalau kamu maksain diri nonton film yang emang bukan genre kamu. “Maksa” ama rela mengapresiasi beda lho. Soalnya ada orang yang fanatik ama genre tertentu menganggap genre lain sampah. Dia nggak mau menengok “kebenaran” di luar genre filmnya. Dia fundamentalis satu genre film tertentu. Ada juga yang kayak gitu.

Jadi yang fanatik horror ala Suster Ngesot kemungkinan ya bakal mumet suruh nonton The Sixth Sense, yang fundamentalis Twilight Saga jangan nonton The Raid, yang suka Tree of Life bakal mencret nonton CJR, yang suka nonton film baku pukul ala Flash Point mungkin bakal sembelit nonton The Red Belt.

Ada juga orang yang pluralis dalam menonton film. Dia cukup kuat mencerna film “berat” macam 12 Monkeys namun juga bisa nonton blockbuster movie macam Final Destination. Ngerti film macam Bourne Trilogy tapi tak menganggap Machete kacrut dll.

Nggak ada urusan ama bener dan salah. Toh nonton film intinya adalah terhibur.

Jadi bedakanlah film yang kamu mau tonton.

Mau terhibur? Tercerahkan? Mendapat wacana baru? Mendapat referensi baru?

Kamu mewakili genre kamu masing-masing.  You have your own taste.
Lantas bagaimana menjadi penonton yang baik?

Ya jadilah penonton yang apresiatif di genre kamu sendiri. Tulislah review yang bertanggungjawab untuk mengkritisi maupun memuji. Itu penting bagi filmmaker untuk membuat karya yang lebih memuaskan kalian.

Kami para filmmaker sering lho dihujat bikin film jelek hanya karena penontonnya salah genre (cieeee curhat).

Jadi inget kata Joko Anwar:



Bikin film itu ribet. Banyak energi dan modal yang dikeluarkan untuk mewujudkan sebuah karya.
Nonton film itu juga nggak selalu gampang. Kita udah kadung ekspektasi tinggi, bayar tiket nonton eh yang bikin film nggak niat. Jadi?

Jangan salah ama genre kamu.

Genre kamu dan cara kamu mengapresiasinya adalah selera dan kapasitas otakmu wahahahahaah


Baca

GODZILLA 2014 Gugun's review

Bikin film itu selalu tak bisa membahagiakan semua orang. Beberapa mungkin ingin nonton monster ngamuk yang dihajar habis oleh tentara, sementara yang lain ingin nonton film monster yang nggak cuma jual efek digital.

Godzilla yang ini adalah favorit terbaru saya. Dimulai dengan adegan yang atmosfirnya mirip film Jurassic Park (favorit abadi saya). Ada gunung, ada helikopter perusahaan dan ada ilmuwan. Jadi ingat adegan Alan Grant Cs dibawa helikopter Ingen ke Isla Sorna. 

Berikutnya serangkaian kejadian lintas generasi mengungkapkan kemunculan makhluk ini. Antara lain terjadinya bencana-bencana tidak wajar, adanya sinyal-sinyal elektromagnetis berpola tertentu dan adanya hal-hal yang disembunyikan otoritas sejak lama. 

Alur bertutur Godzilla menitikberatkan pada drama. Godzilla sang superstarnya sendiri baru muncul (dalam wujud utuh gak cuman zirah) nyaris satu jam setelah film mulai. Jadi nggak sabar....

Dari awal ketegangan justru dibangun dengan teror kemunculan MUTO (mirip nama chef yang jago akrobat alat dapur). MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Object) adalah makhluk konsumen limbah radioaktif berwujud paduan walang sangit dengan atlit egrang. Nih MUTO kalau makan bom nggak dikupas lebih dulu. E'ek-nya pasti berupa bongkahan besi padat. 

Beberapa orang mungkin sudah "angop" alias ngantuk dengan banyaknya drama di film ini tapi entahlah....dari awal saya sudah jatuh cinta ama plot dan konsepnya. 

Alfa predator, demikian julukan lain dari Mas Godzilla ini. Ia adalah makhluk yang lahir untuk menyeimbangkan ekologi. Kemunculan MUTO pun tidak sekadar sebagai monster kurang kerjaan mengobrak-abrik bumi, melainkan juga sebagai wujud "karma ekologis". Nah, tema ekologi inilah yang terutama memikat hati saya.

Walhasil ketika dua makhluk ultra bongsor, yakni Mas Godzilla dan MUTO bertemu, jadinya bukan sekadar monster berantem. Ada pesan berharga yang disampaikan, bahwa sebagai manusia, jika kita merusak keharmonisan semesta, maka akan ada energi yang dilepaskan untuk mengembalikannya. Besarnya energi itu akan sebanding dengan kerusakan yang dibuat tadi. MUTO adalah karma perbuatan manusia dengan sampah-sampah beratnya. Godzilla datang untuk mengembalikan keseimbangannya dengan cara....

Gelut! Merusak kota yang capek-capek dibangun manusia. Dan yang keren tuh...Godzilla yang ini mirip ama Godzilla jadul versi Jepang, punya jurus "abab nuklir". Tahu abab? Tanya teman anda yang orang Jawa.

Ini film yang secara substansi lebih baik daripada Pacific Rim maupun Godzilla versi 1998 (sama-sama jual Kaiju). Gareth Edwards mampu menanganinya dengan baik.

Disain sang bintang, "Si Kadal Cringih-cringih" yaitu Mas Godzilla, dibuat mirip ama yang versi Jepang. Gendut dan bermuka bijaksana seperti beruang-nya Masha. Ah...jadi inget muka saya sendiri....Lucu juga lihat Mas Godzilla kalo jalan kayak orang pakai kostum. Kalo Godzilla Amerika versi 1998 mirip dinosaurus sama Iguana.

Saya juga suka dengan music score-nya Alexander Desplat. Megah dan heroik. Choir sectionnya mengingatkan saya pada Danny Elfman yang juga komposer favorit saya. Yang paling berkesan adalah denting tuts piano register bawah saat Mas Godzilla muncul di antara gedung malam-malam. 

Film ini mungkin mengecewakan bagi yang cuma ingin lihat monster sangar yang gedenya "sak hoh-hah" ngamuk dan dibantai. Tapi mungkin bisa menghibur penggemar film monster ala Spielbergian dengan tema ekologis di dalamnya.

Bagi saya yang kurang dari GODZILLA 2014 ini adalah nihilnya sentuhan humor. Dari awal serius terus. Dan lagi-lagi....kenapa ya monsternya suka banget syuting malam-malam? Saya pingin banget lihat monster beraksi siang bolong. Cloverfield, Jurassic Park, G30SPKI dll monsternya beraksi malam-malam. Kapan yah ada film monster yang banyak beraksi siang hari?

Satu lagi....nggak nyesel saya beli merchandise figure-nya. Keren buat ditimang-timang sambil nonton filmnya hehehe...hmmm NECA ngeluarin MUTO juga nggak sih?




Bikin film itu selalu tak bisa membahagiakan semua orang. Beberapa mungkin ingin nonton monster ngamuk yang dihajar habis oleh tentara, sementara yang lain ingin nonton film monster yang nggak cuma jual efek digital.

Godzilla yang ini adalah favorit terbaru saya. Dimulai dengan adegan yang atmosfirnya mirip film Jurassic Park (favorit abadi saya). Ada gunung, ada helikopter perusahaan dan ada ilmuwan. Jadi ingat adegan Alan Grant Cs dibawa helikopter Ingen ke Isla Sorna. 

Berikutnya serangkaian kejadian lintas generasi mengungkapkan kemunculan makhluk ini. Antara lain terjadinya bencana-bencana tidak wajar, adanya sinyal-sinyal elektromagnetis berpola tertentu dan adanya hal-hal yang disembunyikan otoritas sejak lama. 

Alur bertutur Godzilla menitikberatkan pada drama. Godzilla sang superstarnya sendiri baru muncul (dalam wujud utuh gak cuman zirah) nyaris satu jam setelah film mulai. Jadi nggak sabar....

Dari awal ketegangan justru dibangun dengan teror kemunculan MUTO (mirip nama chef yang jago akrobat alat dapur). MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Object) adalah makhluk konsumen limbah radioaktif berwujud paduan walang sangit dengan atlit egrang. Nih MUTO kalau makan bom nggak dikupas lebih dulu. E'ek-nya pasti berupa bongkahan besi padat. 

Beberapa orang mungkin sudah "angop" alias ngantuk dengan banyaknya drama di film ini tapi entahlah....dari awal saya sudah jatuh cinta ama plot dan konsepnya. 

Alfa predator, demikian julukan lain dari Mas Godzilla ini. Ia adalah makhluk yang lahir untuk menyeimbangkan ekologi. Kemunculan MUTO pun tidak sekadar sebagai monster kurang kerjaan mengobrak-abrik bumi, melainkan juga sebagai wujud "karma ekologis". Nah, tema ekologi inilah yang terutama memikat hati saya.

Walhasil ketika dua makhluk ultra bongsor, yakni Mas Godzilla dan MUTO bertemu, jadinya bukan sekadar monster berantem. Ada pesan berharga yang disampaikan, bahwa sebagai manusia, jika kita merusak keharmonisan semesta, maka akan ada energi yang dilepaskan untuk mengembalikannya. Besarnya energi itu akan sebanding dengan kerusakan yang dibuat tadi. MUTO adalah karma perbuatan manusia dengan sampah-sampah beratnya. Godzilla datang untuk mengembalikan keseimbangannya dengan cara....

Gelut! Merusak kota yang capek-capek dibangun manusia. Dan yang keren tuh...Godzilla yang ini mirip ama Godzilla jadul versi Jepang, punya jurus "abab nuklir". Tahu abab? Tanya teman anda yang orang Jawa.

Ini film yang secara substansi lebih baik daripada Pacific Rim maupun Godzilla versi 1998 (sama-sama jual Kaiju). Gareth Edwards mampu menanganinya dengan baik.

Disain sang bintang, "Si Kadal Cringih-cringih" yaitu Mas Godzilla, dibuat mirip ama yang versi Jepang. Gendut dan bermuka bijaksana seperti beruang-nya Masha. Ah...jadi inget muka saya sendiri....Lucu juga lihat Mas Godzilla kalo jalan kayak orang pakai kostum. Kalo Godzilla Amerika versi 1998 mirip dinosaurus sama Iguana.

Saya juga suka dengan music score-nya Alexander Desplat. Megah dan heroik. Choir sectionnya mengingatkan saya pada Danny Elfman yang juga komposer favorit saya. Yang paling berkesan adalah denting tuts piano register bawah saat Mas Godzilla muncul di antara gedung malam-malam. 

Film ini mungkin mengecewakan bagi yang cuma ingin lihat monster sangar yang gedenya "sak hoh-hah" ngamuk dan dibantai. Tapi mungkin bisa menghibur penggemar film monster ala Spielbergian dengan tema ekologis di dalamnya.

Bagi saya yang kurang dari GODZILLA 2014 ini adalah nihilnya sentuhan humor. Dari awal serius terus. Dan lagi-lagi....kenapa ya monsternya suka banget syuting malam-malam? Saya pingin banget lihat monster beraksi siang bolong. Cloverfield, Jurassic Park, G30SPKI dll monsternya beraksi malam-malam. Kapan yah ada film monster yang banyak beraksi siang hari?

Satu lagi....nggak nyesel saya beli merchandise figure-nya. Keren buat ditimang-timang sambil nonton filmnya hehehe...hmmm NECA ngeluarin MUTO juga nggak sih?




Baca

CARA PALING CEPAT MENGEVALUASI KUALITAS FILM BIKINAN SENDIRI

Ini adalah kelanjutan dari penerapan artikel “CARA PALING CEPAT MEMULAI BIKIN FILM”. Jadi jangan baca kalau belum menerapkan artikel tersebut. Artikelnya disini nih


Setelah kamu mengalami rasanya bikin film, karyamu diapresiasi biasanya akan banyak masukan. Masukan bisa berarti juga celaan. Sekarang apa yang musti kamu lakukan untuk memperbaiki filmmu?
Perhatikan! Sekarang kamu boleh mulai serius untuk bikin film.
Ada 3 hal dasar yang menentukan kualitas film kamu:


Gambar
Gambar yang bagus adalah: Fokusnya pas, cahayanya cakep, sudut pengambilan gambarnya bagus, gerakan kameranya bagus. Tambahan lagi warnanya cantik.
Coba rasakan apakah dalam filmmu fokus lensanya pas pada obyek yang seharusnya?
Apakah cahayanya pas? Nggak kurang nggak lebih?
Apakah kamu menerapkan sudut pengambilan gambar yang mendukung cerita?
Apakah kameramu bergerak dengan mulus? Nggak asal goncang-goncang?
Apakah warna filmmu tidak mentah?

Suara
Suara film yang bagus adalah: Nggak bising saat ada dialog, sambungan suara antar potongan gambar terdengar mulus. Musik pengiring adegannya pas.
Coba dengarkan apakah suara filmmu terdengar mengganggu?
Apakah suara dialognya jelas terdengar?
Apakah musik pengiringnya sudah pas?

Sambungan antar gambar
Disebut montase atau editing. Pergantian gambar terasa pas, sesuai cerita. Nggak bertele-tele tapi juga tidak terlalu cepat. Saking pasnya, kita jadi hanyut dalam cerita dan lupa kalau film itu terdiri dari potongan-potongan gambar.
Coba tonton bareng orang lain. Apakah filmmu bikin bosan atau ngantuk? Apakah ada bagian yang kelamaan atau terlalu cepat?
--------
Coba kamu evaluasi film kamu berdasar 3 point tadi. Kalau kamu merasa tidak puas dan mau memperbaiki di produksi berikutnya, rencanakanlah filmmu baik-baik dengan mengingat 3 hal tadi: Gambar, suara dan sambungan antar gambar.
Ini adalah kelanjutan dari penerapan artikel “CARA PALING CEPAT MEMULAI BIKIN FILM”. Jadi jangan baca kalau belum menerapkan artikel tersebut. Artikelnya disini nih


Setelah kamu mengalami rasanya bikin film, karyamu diapresiasi biasanya akan banyak masukan. Masukan bisa berarti juga celaan. Sekarang apa yang musti kamu lakukan untuk memperbaiki filmmu?
Perhatikan! Sekarang kamu boleh mulai serius untuk bikin film.
Ada 3 hal dasar yang menentukan kualitas film kamu:


Gambar
Gambar yang bagus adalah: Fokusnya pas, cahayanya cakep, sudut pengambilan gambarnya bagus, gerakan kameranya bagus. Tambahan lagi warnanya cantik.
Coba rasakan apakah dalam filmmu fokus lensanya pas pada obyek yang seharusnya?
Apakah cahayanya pas? Nggak kurang nggak lebih?
Apakah kamu menerapkan sudut pengambilan gambar yang mendukung cerita?
Apakah kameramu bergerak dengan mulus? Nggak asal goncang-goncang?
Apakah warna filmmu tidak mentah?

Suara
Suara film yang bagus adalah: Nggak bising saat ada dialog, sambungan suara antar potongan gambar terdengar mulus. Musik pengiring adegannya pas.
Coba dengarkan apakah suara filmmu terdengar mengganggu?
Apakah suara dialognya jelas terdengar?
Apakah musik pengiringnya sudah pas?

Sambungan antar gambar
Disebut montase atau editing. Pergantian gambar terasa pas, sesuai cerita. Nggak bertele-tele tapi juga tidak terlalu cepat. Saking pasnya, kita jadi hanyut dalam cerita dan lupa kalau film itu terdiri dari potongan-potongan gambar.
Coba tonton bareng orang lain. Apakah filmmu bikin bosan atau ngantuk? Apakah ada bagian yang kelamaan atau terlalu cepat?
--------
Coba kamu evaluasi film kamu berdasar 3 point tadi. Kalau kamu merasa tidak puas dan mau memperbaiki di produksi berikutnya, rencanakanlah filmmu baik-baik dengan mengingat 3 hal tadi: Gambar, suara dan sambungan antar gambar.
Baca

CARA PALING CEPAT MEMULAI BIKIN FILM

Ini bukan tentang membuat film yang standar atau yang paling tepat. Ini adalah cara paling mudah untuk yang samasekali belum pernah bikin film. Gampangnya…ini adalah bagaimana cara kita mulai bikin film.


Pertama-tama yang dilakukan adalah:

Tonton film favoritmu
Kalau mau bikin film harus sudah pernah nonton film. Bisa di bioskop (paling dianjurkan!), di TV atau di internet. Dari situ kamu akan dapat ide, referensi dan gambaran film yang baik itu kayak gimana.

Tulis naskah
Tulislah cerita pendek. Cerita yang kamu ingin buat film. Kalau nggak ada cerita, maka kamu nggak akan bisa bikin film.
Tulislah cerita kamu dengan detail: setiap dandanan tokohnya,deskripsi lokasi dan kejadian, seolah kita benar-benar melihatnya di layar. Gunakan imajinasi.
Setelah kamu rasa ceritamu bagus dan kamu bisa bayangin filmnya jadi, saatnya tulis naskah.
Kalau kamu nggak pernah baca naskah untuk film, cara paling gampang adalah mencontek naskah yang asli. Kamu bisa cari di internet.
Atau kalau kamu malas, tulislah kembali cerita pendek kamu tadi dalam beberapa bagian yang disebut adegan atau “scene”. Paling gampangnya, tiap scene berarti satu kejadian di satu lokasi.

Kumpulkan peralatan
Alat bikin film paling dasar hanyalah kamera dan alat editing. Kamu bisa pinjam, beli, nyolong (haram!).
Kamera kamu bisa pakai jenis dan merk apapun pokoknya bisa rekam video lebih dari 1 menit.
Alat editing adalah komputer atau laptop.
Pelajari cara memakai kamera. Kamu harus tahu cara menyalakan dan mematikan. Kamu harus tahu tombol mana yang untuk merekam video. Kamu harus tahu tombol mana untuk mulai dan stop merekam. Kamu harus tahu caranya memindahkan file video dari kamera ke komputer.
Selain kamera kamu mungkin butuh lampu dan lain-lain.

Rencanakan syuting
Cari lokasi yang sesuai dengan film kamu. Lokasi harus aman, nggak ada penjahatnya, nggak ada binatang buasnya. Kecuali kamu mau syuting terus mati. Biasanya lokasi yang dekat rumah cukup enak buat syuting.
Kumpulkan aktor yang mau kamu ajak bikin film. Kalau nggak ada duit buat bayar mereka, bilang terus terang. Jangan nipu. Kasih mereka naskahnya dan jelaskan apa saja yang harus mereka lakukan sesuai adegan.
Rencanakan adegan mana yang nanti akan diambil duluan dan belakangan. Kamu pertimbangkan berdasarkan perasaan kamu, mana yang paling mudah atau mana yang paling susah. Buat janji kapan syuting mau dilakukan.

Syuting
Kumpul di tempat yang sudah direncanakan. Mulailah syuting.
Syuting biasanya diawali dengan aba-aba “camera rolling”. Artinya kamera mulai menyala dan aktor bersiap-siap. Lalu “Action”.
Saat “action” diteriakkan, aktor sudah mulai akting. Aturannya sederhana, pokoknya aktor jangan sampai lihat ke lensa kamera. Kalau aktornya sudah selesai, kita akan teriak “cut!”. Saat itu aktor stop akting dan kamera berhenti merekam. “Cut” juga bisa diteriakkan kalau aktornya salah akting.
Karena durasi baterai kamera terbatas, lakukan syuting dengan cermat. Secara umum satu adegan di satu lokasi sebaiknya dirampungkan hari itu juga. Ini buat jaga-jaga kalau besok aktornya kapok syuting bareng kamu.
Kalau syutingnya udah rampung, kamu bisa teriak “bungkus!”

Edit
Kalau seluruh agenda syuting sudah rampung, masukkan file videonya ke komputer.
Untuk mengedit ada banyak software, dari yang paling gampang sama yang paling rumit.
Pelajari cara memotong, menggabungkan video dan musik, video dengan audio (suara), cara memberi tulisan dan lain-lain.
Kalau nggak mau repot, cari teman yang bisa ngedit, lalu perintahkan dia menyusun video berdasarkan naskah yang kamu buat. Hasil akhir film kamu nanti akan menjadi satu file video.

Pamerkan
Kalau filmmu sudah jadi, pamerkan ke filmmaker keren yang tidak suka menghina pemula (seperti yang nulis artikel ini). Nanti kamu akan dapat masukan untuk membuat film yang lebih baik lagi. Atau bisa jadi dia akan meminjamimu alat-alat yang lebih layak.

Sudah sana bikin film gih!
Ini bukan tentang membuat film yang standar atau yang paling tepat. Ini adalah cara paling mudah untuk yang samasekali belum pernah bikin film. Gampangnya…ini adalah bagaimana cara kita mulai bikin film.


Pertama-tama yang dilakukan adalah:

Tonton film favoritmu
Kalau mau bikin film harus sudah pernah nonton film. Bisa di bioskop (paling dianjurkan!), di TV atau di internet. Dari situ kamu akan dapat ide, referensi dan gambaran film yang baik itu kayak gimana.

Tulis naskah
Tulislah cerita pendek. Cerita yang kamu ingin buat film. Kalau nggak ada cerita, maka kamu nggak akan bisa bikin film.
Tulislah cerita kamu dengan detail: setiap dandanan tokohnya,deskripsi lokasi dan kejadian, seolah kita benar-benar melihatnya di layar. Gunakan imajinasi.
Setelah kamu rasa ceritamu bagus dan kamu bisa bayangin filmnya jadi, saatnya tulis naskah.
Kalau kamu nggak pernah baca naskah untuk film, cara paling gampang adalah mencontek naskah yang asli. Kamu bisa cari di internet.
Atau kalau kamu malas, tulislah kembali cerita pendek kamu tadi dalam beberapa bagian yang disebut adegan atau “scene”. Paling gampangnya, tiap scene berarti satu kejadian di satu lokasi.

Kumpulkan peralatan
Alat bikin film paling dasar hanyalah kamera dan alat editing. Kamu bisa pinjam, beli, nyolong (haram!).
Kamera kamu bisa pakai jenis dan merk apapun pokoknya bisa rekam video lebih dari 1 menit.
Alat editing adalah komputer atau laptop.
Pelajari cara memakai kamera. Kamu harus tahu cara menyalakan dan mematikan. Kamu harus tahu tombol mana yang untuk merekam video. Kamu harus tahu tombol mana untuk mulai dan stop merekam. Kamu harus tahu caranya memindahkan file video dari kamera ke komputer.
Selain kamera kamu mungkin butuh lampu dan lain-lain.

Rencanakan syuting
Cari lokasi yang sesuai dengan film kamu. Lokasi harus aman, nggak ada penjahatnya, nggak ada binatang buasnya. Kecuali kamu mau syuting terus mati. Biasanya lokasi yang dekat rumah cukup enak buat syuting.
Kumpulkan aktor yang mau kamu ajak bikin film. Kalau nggak ada duit buat bayar mereka, bilang terus terang. Jangan nipu. Kasih mereka naskahnya dan jelaskan apa saja yang harus mereka lakukan sesuai adegan.
Rencanakan adegan mana yang nanti akan diambil duluan dan belakangan. Kamu pertimbangkan berdasarkan perasaan kamu, mana yang paling mudah atau mana yang paling susah. Buat janji kapan syuting mau dilakukan.

Syuting
Kumpul di tempat yang sudah direncanakan. Mulailah syuting.
Syuting biasanya diawali dengan aba-aba “camera rolling”. Artinya kamera mulai menyala dan aktor bersiap-siap. Lalu “Action”.
Saat “action” diteriakkan, aktor sudah mulai akting. Aturannya sederhana, pokoknya aktor jangan sampai lihat ke lensa kamera. Kalau aktornya sudah selesai, kita akan teriak “cut!”. Saat itu aktor stop akting dan kamera berhenti merekam. “Cut” juga bisa diteriakkan kalau aktornya salah akting.
Karena durasi baterai kamera terbatas, lakukan syuting dengan cermat. Secara umum satu adegan di satu lokasi sebaiknya dirampungkan hari itu juga. Ini buat jaga-jaga kalau besok aktornya kapok syuting bareng kamu.
Kalau syutingnya udah rampung, kamu bisa teriak “bungkus!”

Edit
Kalau seluruh agenda syuting sudah rampung, masukkan file videonya ke komputer.
Untuk mengedit ada banyak software, dari yang paling gampang sama yang paling rumit.
Pelajari cara memotong, menggabungkan video dan musik, video dengan audio (suara), cara memberi tulisan dan lain-lain.
Kalau nggak mau repot, cari teman yang bisa ngedit, lalu perintahkan dia menyusun video berdasarkan naskah yang kamu buat. Hasil akhir film kamu nanti akan menjadi satu file video.

Pamerkan
Kalau filmmu sudah jadi, pamerkan ke filmmaker keren yang tidak suka menghina pemula (seperti yang nulis artikel ini). Nanti kamu akan dapat masukan untuk membuat film yang lebih baik lagi. Atau bisa jadi dia akan meminjamimu alat-alat yang lebih layak.

Sudah sana bikin film gih!
Baca

Teknik Membuat Film (nyaris) Tanpa Duit


Independent atau indie

Sebelum saya uraikan teknik saya dalam membuat film (nyaris) tanpa duit (biaya), mari kita pahami dulu makna independen (yang populer dengan sebutan indie) beserta latar belakangnya.

Arti indie di sini bisa bermacam-macam, tergantung dari mana kita mulai membahasnya. Pada awalnya yang disebut dengan sinema independen adalah gerakan sekelompok pembuat film Amerika tahun 1908 yang ingin lari dari sebuah aturan bernama “Edison Trust”. Edison Trust adalah suatu perjanjian hukum yang dibuat oleh perusahaan milik Thomas Alfa Edison. Pada masa itu Edison menguasai banyak aspek yang berhubungan dengan film (mulai dari hak paten kamera hingga stok film). Untuk melindungi kepentingan bisnisnya, Edison mematenkan produknya sehingga siapapun yang bikin film memakai teknologinya harus membayar royalti kepadanya. Para pembuat film lain tidak suka terhadap aturan yang terlalu menguntungkan pihak Edison ini, sehingga mereka lari dari wilayah hukum dimana “Edison Trust” berlaku.

Para “pelarian” ini lalu menemukan Hollywood, sebuah pedesaan di wilayah California yang menyambut ramah kedatangan para pembuat film. Makin lama Hollywood berkembang setelah para pembuat film lain ikut-ikutan pindah ke situ. Dari Hollywood dimulailah apa yang disebut “studio system”, sebuah sistem pembuatan film yang kemudian mapan menjadi sistem yang dipakai oleh industri film di Amerika. Film-film yang mereka produksi kemudian dikenal dengan istilah film Hollywood. Puncak keemasan Hollywood melahirkan 5 studio besar yang mendominasi produksi film Amerika: Metro Goldwyn Meyer, RKO Pictures, Paramount Pictures, 20th Century Fox Studio dan Warner Bros.

Jadi, jika kita tilik dari sejarah, apa yang disebut sinema independen adalah gerakan awal pra-Hollywood. Namun ini belum selesai. Studio system adalah sistem tertutup yang kemudian memonopoli semua aspek industri perfilman Amerika saat itu. Lalu sekelompok pembuat film pun membuat semacam film alternatif, dengan budget rendah, aktor yang tak terkenal dan hanya diputar di bioskop kelas dua di Amerika. Inilah awal gerakan independen yang mempengaruhi gerakan indie saat ini.

Gerakan independen atau indie mencapai ledakannya pada tahun 90-an saat teknologi kamera digital diperkenalkan. Ledakan ini juga bersamaan dengan gerakan indie di bidang seni yang lain yaitu musik. Ciri dari gerakan sinema indie tahun ini adalah biasanya memakai mini DV. Tahun 2000-an mini DV tergeser dengan kamera digital yang berbasis harddisk atau kartu memori.

Mendefinisikan indie memang agak rancu. Indie bukan selalu berupa film dengan budget murah yang dibuat secara digital. Ada juga film indie dengan budget jutaan.

Secara umum indie adalah:

l  Tidak menggunakan sistem studio dalam pembuatannya dan tidak memakai label distributor besar dalam pemasarannya.
l  Dibuat dengan biaya yang diusahakan sendiri, bukan oleh investor atau studio dalam industri besar
l  Pemutarannya tidak di bioskop besar yang masuk jaringan industri

Indie juga mengacu pada semangat mandiri tak tergantung pada pemodal dan distributor besar.


Zero, micro dan low budget

Mari kita luruskan pemahaman soal budget atau pembiayaan. Dalam pemaknaan yang ketat, adalah tidak mungkin kita mewujudkan karya benar-benar “tanpa biaya”. Sekecil apapun, setiap hal memiliki nilai atau biaya. Definisi ini mungkin agak mengecewakan anda tapi itulah kenyataannya. Dalam film indie yang tanpa biaya kita tidak menghitung upah aktor, kru, biaya transport, biaya latihan, biaya sewa dll. Karena semuanya berstatus pinjam atau pakai gratis.

Software komputer yang kita pakaipun ada harganya. Karena software itu tidak dibeli khusus untuk film tertentu maka ini pun tidak kita hitung. Jika kita daftar secara sungguh-sungguh, biaya bikin film akan menjadi sangat mahal. Bayangkan, anda harus menghitung ongkos bensin tiap kru, tarif aktor, biaya sewa alat, biaya pemakaian lokasi, biaya keamanan, biaya logistik dll. Semua itu kita tidak hitung karena statusnya adalah: Pinjaman gratis!

Istilah zero budget sebenarnya adalah teknik dimana kita bisa mendapatkan pinjaman gratis untuk semua hal yang kita perlukan untuk bikin film.

Micro adalah istilah untuk pembiayaan yang sangat minim. Minim di sini relatif. 1 juta rupiah pun bisa dibilang minim jika dibandingkan dengan biaya produksi ala industri. Teman saya bahkan mengeluarkan sekitar 7 juta rupiah untuk sebuah film pendek. 7 juta tentu jumlah yang sangat kecil dibanding dengan film industri yang bisa menghabiskan berjuta-juta atau milyar. Dengan demikian film teman saya bisa disebut film low budget.

Sementara itu film SAKTI hanya mengeluarkan uang untuk beli nasi kotak, beberapa botol pewarna makanan, sebuah lampu dan barang-barang remeh lainnya yang totalnya tak sampai 500 ribu. Air minum kami beli sendiri pakai uang pribadi meskipun nanti minumnya dibagi-bagi. Dengan demikian, dibandingkan film teman saya maupun film industri, SAKTI bisa disebut sebagai film micro budget, nyaris tanpa biaya.

Jadi sebelum memulai apa yang saya namakan Bikin Film (nyaris) Tanpa Duit, anda harus memahami kenyataan tersebut. Ingat! Tak ada yang tak bernilai dalam produksi film. Tetapi tak selalu kita yang harus membayarnya.

Jika tak punya maka pinjamlah!
Jika ada yang bisa dibikin maka bikinlah sendiri!

Itu rumus saya.



Teknik Bikin Film (nyaris) Tanpa Biaya

Kredo teknik saya yang pertama adalah, “Jika tak punya maka pinjamlah!”
Saya tak memiliki alat film yang standar. Jika ingin membuat film dengan gambar yang berkualitas lumayan maka saya harus memakai alat yang bagus. Sayang saya tak punya uang untuk menyewa alat yang bagus itu. Satu-satunya cara adalah pinjam. Dalam urusan pinjam ini anda harus punya jaringan, teman, komunitas atau pihak manapun yang bisa meminjami anda secara gratis.

Seperti saya singgung sebelumnya jaringan sangatlah penting untuk seorang pembuat film indie. Kamera utama yang kami pakai dalam film SAKTI adalah pinjaman dari Kang Joe, koordinator komunitas kami. Lokasi yang kami pakai juga sebagian merupakan pinjaman dari kenalan. Misalnya rumah mewah tempat syuting kami adalah milik Mbak Aneke Kristin. Saya pribadi kenal baik dengan beliau, pertama karena beliau adalah mantan murid gitar saya (kebetulan saya guru les gitar he he), kedua karena beliau adalah teman kegiatan senam kakak saya.

Tentu saja yang terpenting dalam urusan pinjam-meminjam ini adalah menjaga kepercayaan sang pemilik. Jagalah milik mereka dengan baik hingga kegiatan usai.

Bukan cuma dapat pinjaman berupa barang. Tak jarang jaringan memberikan donasi berupa dana. Saat premiere film SAKTI, mendadak kami dapat sponsor dana dari mereka.

Keberadaan komunitas juga membantu mendapatkan tim yang banyak. Karena bikin film juga merupakan kegiatan komunitas maka tak ada biaya yang diperlukan untuk membayar kru. Di sini anda harus adil. Karena semua tak dibayar maka anda tak boleh seenaknya memperlakukan anggota tim (meskipun tak jarang justru anggota tim yang berlaku seenaknya pada anda). Sadarilah bahwa film adalah karya kolaboratif. Semua harus merasa memiliki.

Kredo teknik saya berikutnya adalah, “Jika ada yang bisa dibikin maka bikinlah sendiri!”

Membuat film indie tak cukup dengan kreatif. Kita harus super kreatif. Lighting dalam film kita dibikin hanya dengan tutup dandang serta lampu bohlam 100 watt. Microphone boom kita cuma dengan HP diikat pada galah. Kipas angin kita pakai lembaran kardus.

Membuat film apalagi yang bergenre fantasi akan memerlukan banyak akal-akalan. Sebagai sutradara ada baiknya anda paham semua trik kamera maupun special effect. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah. Jika terjadi demikian maka saya terpaksa melakukan compositing pada saat paska produksi. Gambar dia yang diambil hari ini akan saya gabungkan dengan gambar yang diambil di lain hari. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun dalam tim kita akan bekerja dengan beberapa orang dimana tugas akan dibagi-bagi (didelegasikan), kemampuan multi aspek akan memberikan keuntungan lebih bagi seorang pembuat film indie. Adalah suatu keuntungan jika kita memiliki keterampilan di berbagai aspek pembuatan film mulai dari kamera, suara, musik, special effect dan bahkan animasi. Dengan kemampuan multi ini kita bisa mandiri dan memiliki keleluasaan kreatif dengan film kita. Kita tak terlalu bergantung pada kemampuan orang lain (yang belum tentu tersedia). Selain itu kita juga mampu memberi penyelesaian masalah jika kru mengalami hambatan teknis.

Semoga menginspirasi anda dan lekaslah bikin film! Anda akan belajar lebih banyak dengan membikin film anda sendiri.

Independent atau indie

Sebelum saya uraikan teknik saya dalam membuat film (nyaris) tanpa duit (biaya), mari kita pahami dulu makna independen (yang populer dengan sebutan indie) beserta latar belakangnya.

Arti indie di sini bisa bermacam-macam, tergantung dari mana kita mulai membahasnya. Pada awalnya yang disebut dengan sinema independen adalah gerakan sekelompok pembuat film Amerika tahun 1908 yang ingin lari dari sebuah aturan bernama “Edison Trust”. Edison Trust adalah suatu perjanjian hukum yang dibuat oleh perusahaan milik Thomas Alfa Edison. Pada masa itu Edison menguasai banyak aspek yang berhubungan dengan film (mulai dari hak paten kamera hingga stok film). Untuk melindungi kepentingan bisnisnya, Edison mematenkan produknya sehingga siapapun yang bikin film memakai teknologinya harus membayar royalti kepadanya. Para pembuat film lain tidak suka terhadap aturan yang terlalu menguntungkan pihak Edison ini, sehingga mereka lari dari wilayah hukum dimana “Edison Trust” berlaku.

Para “pelarian” ini lalu menemukan Hollywood, sebuah pedesaan di wilayah California yang menyambut ramah kedatangan para pembuat film. Makin lama Hollywood berkembang setelah para pembuat film lain ikut-ikutan pindah ke situ. Dari Hollywood dimulailah apa yang disebut “studio system”, sebuah sistem pembuatan film yang kemudian mapan menjadi sistem yang dipakai oleh industri film di Amerika. Film-film yang mereka produksi kemudian dikenal dengan istilah film Hollywood. Puncak keemasan Hollywood melahirkan 5 studio besar yang mendominasi produksi film Amerika: Metro Goldwyn Meyer, RKO Pictures, Paramount Pictures, 20th Century Fox Studio dan Warner Bros.

Jadi, jika kita tilik dari sejarah, apa yang disebut sinema independen adalah gerakan awal pra-Hollywood. Namun ini belum selesai. Studio system adalah sistem tertutup yang kemudian memonopoli semua aspek industri perfilman Amerika saat itu. Lalu sekelompok pembuat film pun membuat semacam film alternatif, dengan budget rendah, aktor yang tak terkenal dan hanya diputar di bioskop kelas dua di Amerika. Inilah awal gerakan independen yang mempengaruhi gerakan indie saat ini.

Gerakan independen atau indie mencapai ledakannya pada tahun 90-an saat teknologi kamera digital diperkenalkan. Ledakan ini juga bersamaan dengan gerakan indie di bidang seni yang lain yaitu musik. Ciri dari gerakan sinema indie tahun ini adalah biasanya memakai mini DV. Tahun 2000-an mini DV tergeser dengan kamera digital yang berbasis harddisk atau kartu memori.

Mendefinisikan indie memang agak rancu. Indie bukan selalu berupa film dengan budget murah yang dibuat secara digital. Ada juga film indie dengan budget jutaan.

Secara umum indie adalah:

l  Tidak menggunakan sistem studio dalam pembuatannya dan tidak memakai label distributor besar dalam pemasarannya.
l  Dibuat dengan biaya yang diusahakan sendiri, bukan oleh investor atau studio dalam industri besar
l  Pemutarannya tidak di bioskop besar yang masuk jaringan industri

Indie juga mengacu pada semangat mandiri tak tergantung pada pemodal dan distributor besar.


Zero, micro dan low budget

Mari kita luruskan pemahaman soal budget atau pembiayaan. Dalam pemaknaan yang ketat, adalah tidak mungkin kita mewujudkan karya benar-benar “tanpa biaya”. Sekecil apapun, setiap hal memiliki nilai atau biaya. Definisi ini mungkin agak mengecewakan anda tapi itulah kenyataannya. Dalam film indie yang tanpa biaya kita tidak menghitung upah aktor, kru, biaya transport, biaya latihan, biaya sewa dll. Karena semuanya berstatus pinjam atau pakai gratis.

Software komputer yang kita pakaipun ada harganya. Karena software itu tidak dibeli khusus untuk film tertentu maka ini pun tidak kita hitung. Jika kita daftar secara sungguh-sungguh, biaya bikin film akan menjadi sangat mahal. Bayangkan, anda harus menghitung ongkos bensin tiap kru, tarif aktor, biaya sewa alat, biaya pemakaian lokasi, biaya keamanan, biaya logistik dll. Semua itu kita tidak hitung karena statusnya adalah: Pinjaman gratis!

Istilah zero budget sebenarnya adalah teknik dimana kita bisa mendapatkan pinjaman gratis untuk semua hal yang kita perlukan untuk bikin film.

Micro adalah istilah untuk pembiayaan yang sangat minim. Minim di sini relatif. 1 juta rupiah pun bisa dibilang minim jika dibandingkan dengan biaya produksi ala industri. Teman saya bahkan mengeluarkan sekitar 7 juta rupiah untuk sebuah film pendek. 7 juta tentu jumlah yang sangat kecil dibanding dengan film industri yang bisa menghabiskan berjuta-juta atau milyar. Dengan demikian film teman saya bisa disebut film low budget.

Sementara itu film SAKTI hanya mengeluarkan uang untuk beli nasi kotak, beberapa botol pewarna makanan, sebuah lampu dan barang-barang remeh lainnya yang totalnya tak sampai 500 ribu. Air minum kami beli sendiri pakai uang pribadi meskipun nanti minumnya dibagi-bagi. Dengan demikian, dibandingkan film teman saya maupun film industri, SAKTI bisa disebut sebagai film micro budget, nyaris tanpa biaya.

Jadi sebelum memulai apa yang saya namakan Bikin Film (nyaris) Tanpa Duit, anda harus memahami kenyataan tersebut. Ingat! Tak ada yang tak bernilai dalam produksi film. Tetapi tak selalu kita yang harus membayarnya.

Jika tak punya maka pinjamlah!
Jika ada yang bisa dibikin maka bikinlah sendiri!

Itu rumus saya.



Teknik Bikin Film (nyaris) Tanpa Biaya

Kredo teknik saya yang pertama adalah, “Jika tak punya maka pinjamlah!”
Saya tak memiliki alat film yang standar. Jika ingin membuat film dengan gambar yang berkualitas lumayan maka saya harus memakai alat yang bagus. Sayang saya tak punya uang untuk menyewa alat yang bagus itu. Satu-satunya cara adalah pinjam. Dalam urusan pinjam ini anda harus punya jaringan, teman, komunitas atau pihak manapun yang bisa meminjami anda secara gratis.

Seperti saya singgung sebelumnya jaringan sangatlah penting untuk seorang pembuat film indie. Kamera utama yang kami pakai dalam film SAKTI adalah pinjaman dari Kang Joe, koordinator komunitas kami. Lokasi yang kami pakai juga sebagian merupakan pinjaman dari kenalan. Misalnya rumah mewah tempat syuting kami adalah milik Mbak Aneke Kristin. Saya pribadi kenal baik dengan beliau, pertama karena beliau adalah mantan murid gitar saya (kebetulan saya guru les gitar he he), kedua karena beliau adalah teman kegiatan senam kakak saya.

Tentu saja yang terpenting dalam urusan pinjam-meminjam ini adalah menjaga kepercayaan sang pemilik. Jagalah milik mereka dengan baik hingga kegiatan usai.

Bukan cuma dapat pinjaman berupa barang. Tak jarang jaringan memberikan donasi berupa dana. Saat premiere film SAKTI, mendadak kami dapat sponsor dana dari mereka.

Keberadaan komunitas juga membantu mendapatkan tim yang banyak. Karena bikin film juga merupakan kegiatan komunitas maka tak ada biaya yang diperlukan untuk membayar kru. Di sini anda harus adil. Karena semua tak dibayar maka anda tak boleh seenaknya memperlakukan anggota tim (meskipun tak jarang justru anggota tim yang berlaku seenaknya pada anda). Sadarilah bahwa film adalah karya kolaboratif. Semua harus merasa memiliki.

Kredo teknik saya berikutnya adalah, “Jika ada yang bisa dibikin maka bikinlah sendiri!”

Membuat film indie tak cukup dengan kreatif. Kita harus super kreatif. Lighting dalam film kita dibikin hanya dengan tutup dandang serta lampu bohlam 100 watt. Microphone boom kita cuma dengan HP diikat pada galah. Kipas angin kita pakai lembaran kardus.

Membuat film apalagi yang bergenre fantasi akan memerlukan banyak akal-akalan. Sebagai sutradara ada baiknya anda paham semua trik kamera maupun special effect. Untuk beberapa kasus bahkan saya terpaksa menggunakan visual effect agar adegan tetap tersedia untuk editing meskipun aktornya tidak bisa shooting. Misalnya jika ada aktor yang pada hari tertentu tak bisa shooting sementara jadwal sudah sukar diubah. Jika terjadi demikian maka saya terpaksa melakukan compositing pada saat paska produksi. Gambar dia yang diambil hari ini akan saya gabungkan dengan gambar yang diambil di lain hari. Karena hal-hal yang kami hadapi semacam ini, saya sempat berkesimpulan bahwa untuk menjadi pembuat film indie yang tangguh, seseorang harus mumpuni dalam visual effect.

Meskipun dalam tim kita akan bekerja dengan beberapa orang dimana tugas akan dibagi-bagi (didelegasikan), kemampuan multi aspek akan memberikan keuntungan lebih bagi seorang pembuat film indie. Adalah suatu keuntungan jika kita memiliki keterampilan di berbagai aspek pembuatan film mulai dari kamera, suara, musik, special effect dan bahkan animasi. Dengan kemampuan multi ini kita bisa mandiri dan memiliki keleluasaan kreatif dengan film kita. Kita tak terlalu bergantung pada kemampuan orang lain (yang belum tentu tersedia). Selain itu kita juga mampu memberi penyelesaian masalah jika kru mengalami hambatan teknis.

Semoga menginspirasi anda dan lekaslah bikin film! Anda akan belajar lebih banyak dengan membikin film anda sendiri.
Baca

The Raid 2 Berandal: Pace Menyeimbangkan Drama dan Laga

Kadang penonton itu memang cerewet (hehehe). Mau film action begitu dikasih full action, protes ceritanya mana. Begitu dikasih drama, eh masih juga protes ah nanggung drama-dramaan segala...gebuk aja langsung!

Ya nggak gitu banget lah. Kalo saya ingin porsi yang seimbang antara cerita dan aksi laga. Karena cerita itulah yang menjadi alasan para karakter gebuk-gebukan di sebuah film. Kalo isinya cuman gebuk-gebukan dan nggak ada "cerita"nya, atau tanpa "drama", biasanya mending saya skip-skip aja...liat berantemnya doang.

Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Nah, dua tahun silam saya begitu dimanjakan oleh adegan gelut-gelutan dengan cerita yang sangat sederhana dalam The Raid Serbuan Maut. Waktu itu saya maklum bahwa cerita sesederhana itu sudah cukup menghibur saya, memberi alasan karakter Rama bacok-bacokan dalam filmnya.

Eits, tapi tunggu! Ternyata itu cuma permulaan. Cerita yang lebih dalam ternyata digelar di sekuelnya, The Raid 2 Berandal. Nhaa, film Berandal baru saja saya tonton ini tadi.

Kritik saya?

Ah nggak usah lah kritik...komentar saja.

Jurus Maut Kepitan Dengkul Julie Estelle

Saya puas karena saya tidak mengantuk sepanjang dua jam lebih. Saya puas karena adegan aksinya variatif, nggak cuma di satu ruang kayak Serbuan Maut. Bahkan saya merasa pertarungan Baseball Bat Man (Manusia Kelelawar Bola Dasar?...hahaha bukan! Manusia Tongkat Bisbol!) bersama saudarinya, The Hammer Girl alias Gadis Palu (tanpa arit) adalah bonus terindah dari film ini. Jurus kepitan dengkul Julie Estelle sungguh maknyut.

The Raid 2 Berandal
Official Poster Australia: The Raid 2 Berandal

Sinematografi pas mobil kejar-kejaran di jalan mengingatkan garapan Emmanuel Lubeszki di film Children of Men. Ultra sangar!

Cerita The Raid 2 tidak terlalu rumit. Kisah perseteruan mafia ala The God Father yang digabungkan dengan aksi spionase, dibumbui silat Indonesia. Ada polisi korup, ada mafia Jepang, ada mafia Arab bernama Jawa dll.

Matos 21: Official poster The Raid 2 Berandal
Yang bagus dari ceritanya adalah bagaimana Gareth Evans mengatur "pacing"-nya dengan tepat. Dramanya nggak berkepanjangan jadi menye-menye, alasan karakternya tawuran masih dalam "suspension of disbelief" yang wajar. Saya juga kaget bahwa karakter Prakoso yang diperankan Yayan Ruhian itu ternyata....wauw

Akting Arifin Putra yang agak sinetron di bagian awal ditebus dengan dahsyat pada menit-menit akhir saat bersama Tio Pakusadewo.

Tio Pakusadewo benar-benar bisa membawakan karakter mafia yang kalem, kejam dan taktis. Tindakannya selalu terukur dengan baik, kecuali mungkin saat membuang mayat di kolam pemancingan tepi jalan raya yang ramai.

Penampilan Iko Uwais juga lebih dramatis dari yang sebelumnya (tidak termasuk betapa cepatnya kakinya pulih meski sudah dikerat dua kerambit oleh Cecep Arief Rahman)

Dari sekian kedahsyatan film ini apa ya yang mengganjal?....

Hmmm sinematografi laganya masih terlalu "shaky" menurut saya. Eman-eman jurus silatnya banyak yang ilang. Apalagi tawuran Rama/Yuda di toilet itu.


Kadang penonton itu memang cerewet (hehehe). Mau film action begitu dikasih full action, protes ceritanya mana. Begitu dikasih drama, eh masih juga protes ah nanggung drama-dramaan segala...gebuk aja langsung!

Ya nggak gitu banget lah. Kalo saya ingin porsi yang seimbang antara cerita dan aksi laga. Karena cerita itulah yang menjadi alasan para karakter gebuk-gebukan di sebuah film. Kalo isinya cuman gebuk-gebukan dan nggak ada "cerita"nya, atau tanpa "drama", biasanya mending saya skip-skip aja...liat berantemnya doang.

Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Official Poster Inggris: The Raid 2 Berandal
Nah, dua tahun silam saya begitu dimanjakan oleh adegan gelut-gelutan dengan cerita yang sangat sederhana dalam The Raid Serbuan Maut. Waktu itu saya maklum bahwa cerita sesederhana itu sudah cukup menghibur saya, memberi alasan karakter Rama bacok-bacokan dalam filmnya.

Eits, tapi tunggu! Ternyata itu cuma permulaan. Cerita yang lebih dalam ternyata digelar di sekuelnya, The Raid 2 Berandal. Nhaa, film Berandal baru saja saya tonton ini tadi.

Kritik saya?

Ah nggak usah lah kritik...komentar saja.

Jurus Maut Kepitan Dengkul Julie Estelle

Saya puas karena saya tidak mengantuk sepanjang dua jam lebih. Saya puas karena adegan aksinya variatif, nggak cuma di satu ruang kayak Serbuan Maut. Bahkan saya merasa pertarungan Baseball Bat Man (Manusia Kelelawar Bola Dasar?...hahaha bukan! Manusia Tongkat Bisbol!) bersama saudarinya, The Hammer Girl alias Gadis Palu (tanpa arit) adalah bonus terindah dari film ini. Jurus kepitan dengkul Julie Estelle sungguh maknyut.

The Raid 2 Berandal
Official Poster Australia: The Raid 2 Berandal

Sinematografi pas mobil kejar-kejaran di jalan mengingatkan garapan Emmanuel Lubeszki di film Children of Men. Ultra sangar!

Cerita The Raid 2 tidak terlalu rumit. Kisah perseteruan mafia ala The God Father yang digabungkan dengan aksi spionase, dibumbui silat Indonesia. Ada polisi korup, ada mafia Jepang, ada mafia Arab bernama Jawa dll.

Matos 21: Official poster The Raid 2 Berandal
Yang bagus dari ceritanya adalah bagaimana Gareth Evans mengatur "pacing"-nya dengan tepat. Dramanya nggak berkepanjangan jadi menye-menye, alasan karakternya tawuran masih dalam "suspension of disbelief" yang wajar. Saya juga kaget bahwa karakter Prakoso yang diperankan Yayan Ruhian itu ternyata....wauw

Akting Arifin Putra yang agak sinetron di bagian awal ditebus dengan dahsyat pada menit-menit akhir saat bersama Tio Pakusadewo.

Tio Pakusadewo benar-benar bisa membawakan karakter mafia yang kalem, kejam dan taktis. Tindakannya selalu terukur dengan baik, kecuali mungkin saat membuang mayat di kolam pemancingan tepi jalan raya yang ramai.

Penampilan Iko Uwais juga lebih dramatis dari yang sebelumnya (tidak termasuk betapa cepatnya kakinya pulih meski sudah dikerat dua kerambit oleh Cecep Arief Rahman)

Dari sekian kedahsyatan film ini apa ya yang mengganjal?....

Hmmm sinematografi laganya masih terlalu "shaky" menurut saya. Eman-eman jurus silatnya banyak yang ilang. Apalagi tawuran Rama/Yuda di toilet itu.


Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved