Yang Terbaru

REVIEW GUNDALA (Joko Anwar, 2019)

Seorang bocah jadi yatim piatu karena bapaknya tewas waktu demo di pabrik dan ibunya pergi, "lunga ora bali-bali" (go away never go home). Di jalanan ia hidup penuh kekerasan hingga seorang pemuda mengajarinya ilmu silat. Ya, supaya si bocah bisa beladiri dan mengatasi masalah sendiri.

Sementara itu seorang difabel bermasa lalu kelam menancapkan pengaruhnya di politik. Ia memiliki ratusan anak buah yang di antaranya punya kekuatan linuwih. Di antara penentangnya adalah seorang anggota dewan yang masih punya integritas. Ketika sang musuh kelam tadi membuat kekacauan nasional, sang bocah yatim piatu tadi muncul sebagai penghadang. Tentu saja kini ia udah gede dan kerja sebagai satpam.

Si pemuda ini punya masalah dengan geledek. Mungkin dia dulu suka nyumpahin terus kualat. Kita belum tahu mengapa geledek mengincar dia. Pemuda silat yang pernah ngajarin dia waktu bocah pernah nanya, "Lu punya masalah apa sama petir?"


==========

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tangan saya masih sibuk di meja kerja. Waduh, jam setengah enem kudu musti meluncur ke CGV nih. CGV itu di kota, saya di ndeso (tapi ya ora ndeso banget). Langsung saya mandi, melamun sekadarnya sambil gosok sabun eh gigi. Lalu pake baju tempur dan dengan kecepatan mengendarai yang astaghfirullah lambatnya, akhirnya sampe juga saya ke kota. Mepet banget waktunya. Untunglah Si Coklat, si traktor (orang yang mentraktir disebut traktor bukan sih?) belum keburu ninggalin saya. Lha gimana wong dia yang nraktir.

Sungguh sebuah pengharapan yang dag dig dug. Gundala diharapkan akan menjadi film sukses yang bisa membangkitkan genre marjinal ini. Gundala jelas bukan yang pertama mencoba genre superhero. Juga bukan pertama kali karakter ini difilmkan. Hampir semua genre superhero Indonesia gagal di tengah jalan. Penyebabnya adalah kegagalan eksekusi, kelemahan storytelling atau mungkin budget yang gak "ngejar patokan estetik".

Jadi... seperti apakah Gundala versi BumiLangit garapan Pak Joko yang JoKan ini?

Kita bahas dari 3 segi: CERITA, PERFORMA AKTOR, VISUAL, MUSIK, KOSTUM dan TATA LAGA.

Eh nggak jadi 3 tapi 6 ding.

=================

CERITA

Berbeda dari versi aslinya, Pak Joko mengubah cerita Sancaka secara signifikan. Sancaka bukan lagi seorang ilmuwan yang galau disamber geledek. Ia adalah bocah malang (tapi gak bisa bahasa Jawa walikan)... malang semalang-malangnya. Full of misery. Bapaknya nggak sugih kayak ortu Bruce Wayne, bukan ningrat dari Kraton Krypton kayak Kal-El, juga nggak masuk ABRI kayak Steve Rogers.

Masa lalu Sancaka terceritakan dengan runtut. Dia bukanlah tipe karakter yang disiksa secara terpaksa oleh sutradara. Kita iba karena memang mengikuti bahwa sumber derita ini cukup dekat dengan konteks sehari-hari. Bapaknya mlarat tapi idealis. Musuhnya jelas banyak. Bos pabrik tempatnya kerja jelas tak mau dia bersuara.

Sayangnya perjalanan Sancaka bocah yang mulus ini berubah jadi terseok-seok sewaktu dia dewasa. Tahu-tahu kita mengenal Sancaka yang sudah kerja secara normal jadi satpam. Gimana anak jalanan bisa "seberuntung itu" ya? Ketemu siapa dia? Bisa beli buku dari mana?

Ya nggak papa. Nanti di sekuelnya semoga kita tahu gimana Sancaka kok bisa dari pemuda jalanan trus dipercaya jadi satpam. Apa gak butuh ijazah minimal SD ya? Sancaka kan ninggalin rumah saat ia masih SD. Apa nunggu Ebtanas dulu? Kok ya beruntung Sancaka gak terjerumus jadi anak buah Pengkor atau malah jadi anak-anak punk jalanan.

Bagaimana Sancaka bisa dapat kekuatan petir?

Di versi asli adalah bahwa dia emang dilantik oleh bapak angkatnya yang rajanya geledek. Di film ini kita belum tahu sepenuhnya. Yang jelas sejak kecil dia ini "sambergeledekable". Kemana aja dia pergi, petir seolah mengejar. Ya mungkin dia pernah adu sumpah ama temen kali ya.... taruhan terus yang kalah bakal disamber petir.

Bagaimana kekuatan petir itu dikembangkan Sancaka, saya rasa cukup masuk akal. Tapi ya akalnya film, Broooo ora usah nggawa-nggawa sains lah. Saya suka dengan adegan bagaimana Sancaka ini dapat nama Gundala. Masuk akal dan cukup Indonesia. Itu akan anda jumpai di akhir cerita.

Di saat yang sama, kisah lain dibangun. Pengkor si musuh kita diceritakan punya akses ke tokoh-tokoh politik. Lewat kekuatan uang. Masa lalunya kelam. Sayangnya pertemuan Pengkor VS Sancaka tidak terbangun dengan meyakinkan. Gampang banget pula nemuin di mana sang hero berada. Jadi what for tu topeng? Apa biar gak kelilipan doang ya? But it's okay. Mungkin Sancaka mudah ketemu karena banyak orang lambenya turah. "Om, tau orang yang jago gelut bisa ngeluarin petir gak?" Dijawab, "Gue kasih tau lu mo bayar berapa?"

Saya rasa akan menarik jika kekelaman masa lalu Pengkor ini dibenturkan sama Gundala. Kan sama-sama anak yatim tuh. Tapi keduanya berjumpa ya gara-gara yang satu punya agenda, satunya ngacau.

Ada banyak karakter yang ditebar di film ini. Merpati, Godam, Sri Asih, Ki Wilawuk dll. Sebagian mengambil peran cerita yang signifikan, sebagian lain cuma jadi "easter egg". Bisa saya maklumi karena tujuan marketing dari film ini adalah membangun awalan dari sederetan film superhero yang intellectual propertynya dimiliki PT BumiLangit.

Kemunculan tokoh ini ada yang mulus, ada pula yang terasa dijejalkan. Belum juga Pengkor tergali maksimal eh muncullah musuh lain yang merebut kesangarannya. Bisa saya bilang, kebanyakan musuh di sini jadi malah gak fokus. Ingat, kita masih menginvestasikan perhatian pada masalah kacaunya negara di masa Sancaka jadi Gundala. Bagi saya, Pengkor terlalu singkat exposure-nya. Padahal latar belakangnya sangat menarik.

Sudah bagus saya jatuh hati pada karakter Sancaka bocah, tapi saya kayak missing ketika si bocah jadi dewasa. Don't get me wrong. Abimana is great. Exposure dia dengan kekuatan dan tanggung jawab lumayan jelas. Masalahnya, Pengkor yang harusnya bisa menyerang Sancaka lewat sisi sentimentalnya, gak dimanfaatin buat itu. Jadi bentroknya Gundala VS Pengkor ini cuma murni fisik. Jaman segini sayang loh kalo kita gak ekspose sisi psikologisnya. Meski arah itu bukan tanpa resiko. Ya.... too bad for Pak Pengkor.

Trus ada yang bikin jengkel nih. Apa alasan Pengkor melakukan semua kejahatan itu? Pak Joko bukannya "show" tapi malah "tell". Tell bukan dengan cara yang asyik lewat dialog ringkas tapi malah ngomong lama seolah ngejelasin kayak presentasi. Ini jadi anti klimaks sama pembangunan karakter Pengkor yang mustinya keep cool hanya dengan tindakan. Eh malah "presentasi".

Komedi adalah bagian penting dari film superhero. Fungsinya sebagai comic relief, biar gak tegang terus. Komedinya efektif banget. Gak maksa. The most ngakak scene adalah... preman pasar jadi manten. Bwahahahahaha ngakak saya. Terbaek deh Pak Jokooo.

Soal kekerasan gimana? Ya ini film keras. Secara storytelling itu perlu dan secara sinematik itu harus. Lho kok gitu?

Come oooon, this is not tahun seket, Pak. Jangan apa-apa kekerasan yang disalahin film. Kita bukan di jaman Anwar Congo, Pak. rating 13 tahun ke atas bagi saya masih okelah. Kalo anak kecil nonton paling-paling ntar malah bakal pingin jadi filmmaker. Kayak saya.

Menjelang akhir, fase penokohan menjadi riuh dengan bentrokan-bentrokan. Orang kadang nyamain pendekatan Pak Joko's Gundala dengan Batman ala Nolan. Menurut saya beda. Batman Nolan ada bentrok psikologis, konflik perasaan dan kepentingan. Gundala enggak. Tapi ya gak papa. Kecilnya aja udah menyedihkan. Karakter Sancaka ala Pak Joko ini saya apresiasi sebagai the best superhero character development in cinema. The best dibanding semua film Marvel DC. Yang gak terima samber geledek!

PERFORMA AKTOR

Nggak usah njlimet. Saya bilang semua tampil pas dengan porsinya. kalopun dialog terasa teatrikal kayak film jadul, menurut saya is okay. Ada kesan retronya.

Bront Palarae sebagai Pengkor meski kurang bikin menggigil, setidaknya ia gak lebay kayak musuh-musuh tipikal film laga yang demen ketawa. Cukup, namun bisa lebih baik lagi.

Tara Basro sebagai Wulan. Ya udah gitu aja. Manis. Tapi saya lebih suka Neng Pevita meski scene dia nylempit jadi kaget-kagetan menjelang akhir.

Ario Bayu sebagai Ghazul, teatrikal. Tapi mbayangin dia mustinya gimana lagi saya gak tahu hihihi. Emang akting dia gitu.

Lukman Sardi sebagai Ridwan Bahri, pas lah.

Kak Abigail. Sorry anoyying... itu Harley Quinn apa Gogo Yubari sih? Ketawanya bagusan Kuntilanak lagi...

Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka bocah, he is the gold.

Abimana sebagai Sancaka, pantes banget tapi.... latihan silatnya yang tekun ya, Mas. Biar pinggangnya lentur dan kakinya lincah hehehe.

Ada dua screen stealer yang sangat saya suka. Yakni penampilan Kang Cecep Arief rahman dan Faris Fadjar yang ternyata putera Kang cecep.

Pemunculan keduanya di film ini sangat memukau. Bahkan munculnya karakter penari sakti seremnya melampaui Ki Wilawuk. Faris sendiri kalau langkahnya benar, saya berharap ia akan jadi aktor laga potensial di kemudian hari.

Ki Wilawuk kurang serem. Masih lebih serem Sujiwo Tejo.

VISUAL

Tak sukar menebak preferensi sinematik Pak Joko. Apalagi sebelumnya beliau sudah pernah bikin film superhero lho... tuh film Kala.

Jadi anda akan nemu gambar ala Kala, Janji Joni, Pengabdi Setan dll. di film ini. Di beberapa bagian mungkin anda juga akan mencium bau-bau The Raid 1 & 2, Batman Begins dan bahkan Jaka Sembung. Adegan Ghazul mengambil jasad Ki Wilawuk itu mengingatkan saya pada adegan dukun antek Kumpeni mbangkitin jasad Ki Item yang punya ajian Rawe Rontek.

Sinematografer Ical Tanjung bermain gelap terang dengan sangat berani. Saat kecil sancaka, digambarkan dengan kelamnya sinar yang merasuk ruang. Ikut bikin perasaan kita sempit terhimpit.

Adegan Sancaka lari dikejar pengeroyok diambil dengan sangat cakep dan mengesankan. Mungkin saya akan mengingatnya sebagai yang terbaiksetelah Forrest Gump.

Gimana dengan efek? Soal satu ini netizen cerewetnya bukan main. Dipikirnya CGI itu cuma buat bikin gedung hancur, ledakan ama monster. Padahal memoles tampilan bangunan, arah cahaya dan obyek sehari-hari juga bisa dilakukan pakai CGI. Yang ini hasilnya bahkan tak dikenali secara visual.

CGI Gundala sudah pas. Ada satu yang kurang tapi (tu yang anggota DPR baru dan anak istri di gedung) ya sudahlah semoga di film berikutnya lebih mulus. Petirnya bisa lebih bagus tapi yang ini juga tak buruk. Mobil melayang itu oke juga. CGI bukan ya?

Visual Gundala adalah kombinasi kesuraman Horror ala Pak Joko, noirnya Batman dan kekumuhan ala The Raid.

MUSIK

Sebenarnya sih cukup, tapi mustinya bisa lebih kuat lagi. Terasa beberapa bar kayak Hans Zimmer's Batman juga Alan Silvestri's Avengers Theme. Saya aja selalu kebelet nyambungin nada gesekan stringnya dengan Theme-nya Avengers.

Leitmotif untuk karakter sang penari (Kang Cecep) bahkan malah paling bagus dibanding lainnya. Ada bau tradisional woodwindnya. Setiap ia muncul, musik ini terdengar mencekam. Kayak udah pasti mati aja yang ketemu dia.

Yak ampun, saya kok berani-beraninya ngritik guru sendiri. Mas Aghi, salah satu komposer film ini saya anggap guru saya. Saya pernah ikut kelas beliau yang singkat.

KOSTUM

Kalo liat kostum yang di poster, tentu kita tahu deh. Itu versi dummy-nya. Menurut saya itu lumayan. Keliatan indie dan handmade. Saya gak bisa bayangin Gundala ujug-ujug pake spandex item mengkilat dengan dua sayap di telinga. Keliatan oke mah kalo di komik, kalo bener-bener dilakukan... nggilani, Mas.

Ternyata tebakan kita bener. Kostum yang finalnya (versi budget dari rakyat) gak sesimple itu. Saya belum bisa katakan itu keren apa nggak. Soalnya adegannya remang. Tapi terlihat kostum itu industrial. Sayap di kupingnya terlihat okay. Full body armornya cukup nice. Tampilan mask? Canggih kayak bikinan Stark Industries. Mungkin saya perlu nonton film berikutnya.

Canggih kok kostumnya. Kayaknya bukan pesen ke anak magang lah. Dalam remang ia terlihat menjanjikan. Kita tunggu penampilannya dalam terang.

TATA LAGA

Hmmm... di bagian ini saya paling cerewet. Bukan berarti saya bisa bikin yang lebih bagus ya hihihi.

Anda melihat kedahsyatan silat, tapi sayangnya tetep belum selevel The Raid. Mungkin bisa saya bilang ini versi ketoprak dari The Raid.

Ada 3 komponen yang bikin adegan laga bagus: Koreografi, sinematografi dan editing.

Koreografinya bagus meski gerakannya mudah ditebak. Masalahnya ada pada fight rhytm-nya. Ritme yang tidak padat bikin ada celah di gerakan. Kita sebut ini "Telegraphic moves". Artinya pelaga terlihat mengantisipasi serangan secara atifisial. Kayak udah dikasih tahu sebelumnya, kayak diapalin dulu gerakannya. Itulah telegraphic moves. Hey aku mau serang kepala tuh, menghindar ya... eh menghindarnya kecepetaaaan. Belum diserang nih.

Adegan tarung keroyok juga tak tereksekusi secara layak. Masalah klasik semacam nyerangnya giliran masih saja muncul. Mas Abimana sih kurang latian. Latihan yang lebih keras yo mas. Sampeyan bisa deh.

Akibat kendornya Mas Abimana, tarung yang mustinya epic lawan anak-anak Pengkor jadi "pengkor" pula. Kedodoran dalam ritme, postur dan gerak. Penyakit lama nih. Musuh sesakti apapun kalo keroyokan, pasti gampang kalahnya. Disentil aja mencelat. Kalo satu doang, gak sakti amat susah banget dikalahin. Nampaknya pola gini masih saja terjadi. Eman-eman. Stunt performer yang talented macam Andrew Sulaeman pun kurang terekspos bakatnya. I would say Gundala's fight masih kurang trengginas.


======================

Sebagai sebuah upaya untuk menjual warisan kreatif bangsa, Gundala adalah langkah pertaruhan. Kalo gagal ya bakal ambyar cita-cita sinema laga linuwih (istilah saya untuk genre superhero).

Gundala itu bagus, meski harusnya bisa lebih bagus lagi. Pengalaman serupa kayak saya pas nonton film Pak Joko yang lain. Beliau di mata saya tetaplah yang terbaik, sutradara dengan visi yang lantang dan berprinsip. Tapi pujian saya soal film satu ini maaf... bukan kepada Pak Joko Anwar.

Melainkan kepada para produser yang berani nunjuk pak Joko.

Gak semua orang berduit rela membayar (in a huge amount) sutradara agar bebas dengan visi kreatifnya. Puji syukur para produser memilih Joko Anwar. Kenapa kok musti Pak Joko?

Di mata saya, Pak Joko masih satu-satunya sutradara berpengalaman yang punya visi dan taste untuk film genre. Beliau juga paham how to tell a story (meski belum mencapai puncaknya). Kedodoran di action design sih nanti bisa diserahkan ke action director yang jago.

Dan kita mustinya tak menilai karya film hanya semata ini karya anak bangsa, demi kebangkitan industri sinema bla-bala. Bagi saya itu bullshit. Film kalo bagus gak usah merengek. Dia akan berbicara dengan sendirinya. gak usah diaku masuk nominasi Oscar juga ora pateken. Apik ki yo apik.

Tapiiii... apik bergantung pada taste personal.

Kalo kamu ini fanatik Marvel DC dan menganggap itu patokan film superhero, maka ya ini bukan film buatmu.

Kamu yang sukanya drama mendayu remaja atau kisah megah sejarah ala Bumi Manusia, maka ini juga bukan film buat kamu.

Kalo kamu ini menjunjung moralitas dengan menyensor sana-sini adegan kekerasan tapi memperdengarkan ceramah kebencian secara wajar, ya ini gak pas buatmu juga.

Ini adalah film bagi yang mau merayakan kebangkitan karakter jagoan komik dalam sinema. Bukan buat orang cerewet yang nontonnya musti berat-berat macam Tarkovsky atau Lars Von Trier.

Ini adalah film buat merayakan masa kejayaan komik nasional 50 taun silam.

Tapi ya semoga BumiLangit berhati-hati. Memilih sutradara yang cukup teruji dan visioner, melanjutkan apa yang dibebankan pada Pak Joko bukan pula hal yang mudah.

Anyway...

NILAIIIIII

Ekspektasi VS realita?
AMAN!

Bagus nggak?
BISA LEBIH LAGI.

Recommend gak?
RECOMMENDED.

Film ini pas buat siapa?
SEMUA PENYUKA SUPERHERO terutama penyuka komiknya tapi bukan yang fanatik, penyuka film superhero alternatif, penyuka aktor-aktor yang main di filmnya dan yang mau dukung kebangkitan genre superhero nasional.

SELAMAT, Gundala. 8 of 10 nilai dari saya pembaca komik Gundala sekaligus penyuka genre laga.

From Wlingiwood with love.
Seorang bocah jadi yatim piatu karena bapaknya tewas waktu demo di pabrik dan ibunya pergi, "lunga ora bali-bali" (go away never go home). Di jalanan ia hidup penuh kekerasan hingga seorang pemuda mengajarinya ilmu silat. Ya, supaya si bocah bisa beladiri dan mengatasi masalah sendiri.

Sementara itu seorang difabel bermasa lalu kelam menancapkan pengaruhnya di politik. Ia memiliki ratusan anak buah yang di antaranya punya kekuatan linuwih. Di antara penentangnya adalah seorang anggota dewan yang masih punya integritas. Ketika sang musuh kelam tadi membuat kekacauan nasional, sang bocah yatim piatu tadi muncul sebagai penghadang. Tentu saja kini ia udah gede dan kerja sebagai satpam.

Si pemuda ini punya masalah dengan geledek. Mungkin dia dulu suka nyumpahin terus kualat. Kita belum tahu mengapa geledek mengincar dia. Pemuda silat yang pernah ngajarin dia waktu bocah pernah nanya, "Lu punya masalah apa sama petir?"


==========

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tangan saya masih sibuk di meja kerja. Waduh, jam setengah enem kudu musti meluncur ke CGV nih. CGV itu di kota, saya di ndeso (tapi ya ora ndeso banget). Langsung saya mandi, melamun sekadarnya sambil gosok sabun eh gigi. Lalu pake baju tempur dan dengan kecepatan mengendarai yang astaghfirullah lambatnya, akhirnya sampe juga saya ke kota. Mepet banget waktunya. Untunglah Si Coklat, si traktor (orang yang mentraktir disebut traktor bukan sih?) belum keburu ninggalin saya. Lha gimana wong dia yang nraktir.

Sungguh sebuah pengharapan yang dag dig dug. Gundala diharapkan akan menjadi film sukses yang bisa membangkitkan genre marjinal ini. Gundala jelas bukan yang pertama mencoba genre superhero. Juga bukan pertama kali karakter ini difilmkan. Hampir semua genre superhero Indonesia gagal di tengah jalan. Penyebabnya adalah kegagalan eksekusi, kelemahan storytelling atau mungkin budget yang gak "ngejar patokan estetik".

Jadi... seperti apakah Gundala versi BumiLangit garapan Pak Joko yang JoKan ini?

Kita bahas dari 3 segi: CERITA, PERFORMA AKTOR, VISUAL, MUSIK, KOSTUM dan TATA LAGA.

Eh nggak jadi 3 tapi 6 ding.

=================

CERITA

Berbeda dari versi aslinya, Pak Joko mengubah cerita Sancaka secara signifikan. Sancaka bukan lagi seorang ilmuwan yang galau disamber geledek. Ia adalah bocah malang (tapi gak bisa bahasa Jawa walikan)... malang semalang-malangnya. Full of misery. Bapaknya nggak sugih kayak ortu Bruce Wayne, bukan ningrat dari Kraton Krypton kayak Kal-El, juga nggak masuk ABRI kayak Steve Rogers.

Masa lalu Sancaka terceritakan dengan runtut. Dia bukanlah tipe karakter yang disiksa secara terpaksa oleh sutradara. Kita iba karena memang mengikuti bahwa sumber derita ini cukup dekat dengan konteks sehari-hari. Bapaknya mlarat tapi idealis. Musuhnya jelas banyak. Bos pabrik tempatnya kerja jelas tak mau dia bersuara.

Sayangnya perjalanan Sancaka bocah yang mulus ini berubah jadi terseok-seok sewaktu dia dewasa. Tahu-tahu kita mengenal Sancaka yang sudah kerja secara normal jadi satpam. Gimana anak jalanan bisa "seberuntung itu" ya? Ketemu siapa dia? Bisa beli buku dari mana?

Ya nggak papa. Nanti di sekuelnya semoga kita tahu gimana Sancaka kok bisa dari pemuda jalanan trus dipercaya jadi satpam. Apa gak butuh ijazah minimal SD ya? Sancaka kan ninggalin rumah saat ia masih SD. Apa nunggu Ebtanas dulu? Kok ya beruntung Sancaka gak terjerumus jadi anak buah Pengkor atau malah jadi anak-anak punk jalanan.

Bagaimana Sancaka bisa dapat kekuatan petir?

Di versi asli adalah bahwa dia emang dilantik oleh bapak angkatnya yang rajanya geledek. Di film ini kita belum tahu sepenuhnya. Yang jelas sejak kecil dia ini "sambergeledekable". Kemana aja dia pergi, petir seolah mengejar. Ya mungkin dia pernah adu sumpah ama temen kali ya.... taruhan terus yang kalah bakal disamber petir.

Bagaimana kekuatan petir itu dikembangkan Sancaka, saya rasa cukup masuk akal. Tapi ya akalnya film, Broooo ora usah nggawa-nggawa sains lah. Saya suka dengan adegan bagaimana Sancaka ini dapat nama Gundala. Masuk akal dan cukup Indonesia. Itu akan anda jumpai di akhir cerita.

Di saat yang sama, kisah lain dibangun. Pengkor si musuh kita diceritakan punya akses ke tokoh-tokoh politik. Lewat kekuatan uang. Masa lalunya kelam. Sayangnya pertemuan Pengkor VS Sancaka tidak terbangun dengan meyakinkan. Gampang banget pula nemuin di mana sang hero berada. Jadi what for tu topeng? Apa biar gak kelilipan doang ya? But it's okay. Mungkin Sancaka mudah ketemu karena banyak orang lambenya turah. "Om, tau orang yang jago gelut bisa ngeluarin petir gak?" Dijawab, "Gue kasih tau lu mo bayar berapa?"

Saya rasa akan menarik jika kekelaman masa lalu Pengkor ini dibenturkan sama Gundala. Kan sama-sama anak yatim tuh. Tapi keduanya berjumpa ya gara-gara yang satu punya agenda, satunya ngacau.

Ada banyak karakter yang ditebar di film ini. Merpati, Godam, Sri Asih, Ki Wilawuk dll. Sebagian mengambil peran cerita yang signifikan, sebagian lain cuma jadi "easter egg". Bisa saya maklumi karena tujuan marketing dari film ini adalah membangun awalan dari sederetan film superhero yang intellectual propertynya dimiliki PT BumiLangit.

Kemunculan tokoh ini ada yang mulus, ada pula yang terasa dijejalkan. Belum juga Pengkor tergali maksimal eh muncullah musuh lain yang merebut kesangarannya. Bisa saya bilang, kebanyakan musuh di sini jadi malah gak fokus. Ingat, kita masih menginvestasikan perhatian pada masalah kacaunya negara di masa Sancaka jadi Gundala. Bagi saya, Pengkor terlalu singkat exposure-nya. Padahal latar belakangnya sangat menarik.

Sudah bagus saya jatuh hati pada karakter Sancaka bocah, tapi saya kayak missing ketika si bocah jadi dewasa. Don't get me wrong. Abimana is great. Exposure dia dengan kekuatan dan tanggung jawab lumayan jelas. Masalahnya, Pengkor yang harusnya bisa menyerang Sancaka lewat sisi sentimentalnya, gak dimanfaatin buat itu. Jadi bentroknya Gundala VS Pengkor ini cuma murni fisik. Jaman segini sayang loh kalo kita gak ekspose sisi psikologisnya. Meski arah itu bukan tanpa resiko. Ya.... too bad for Pak Pengkor.

Trus ada yang bikin jengkel nih. Apa alasan Pengkor melakukan semua kejahatan itu? Pak Joko bukannya "show" tapi malah "tell". Tell bukan dengan cara yang asyik lewat dialog ringkas tapi malah ngomong lama seolah ngejelasin kayak presentasi. Ini jadi anti klimaks sama pembangunan karakter Pengkor yang mustinya keep cool hanya dengan tindakan. Eh malah "presentasi".

Komedi adalah bagian penting dari film superhero. Fungsinya sebagai comic relief, biar gak tegang terus. Komedinya efektif banget. Gak maksa. The most ngakak scene adalah... preman pasar jadi manten. Bwahahahahaha ngakak saya. Terbaek deh Pak Jokooo.

Soal kekerasan gimana? Ya ini film keras. Secara storytelling itu perlu dan secara sinematik itu harus. Lho kok gitu?

Come oooon, this is not tahun seket, Pak. Jangan apa-apa kekerasan yang disalahin film. Kita bukan di jaman Anwar Congo, Pak. rating 13 tahun ke atas bagi saya masih okelah. Kalo anak kecil nonton paling-paling ntar malah bakal pingin jadi filmmaker. Kayak saya.

Menjelang akhir, fase penokohan menjadi riuh dengan bentrokan-bentrokan. Orang kadang nyamain pendekatan Pak Joko's Gundala dengan Batman ala Nolan. Menurut saya beda. Batman Nolan ada bentrok psikologis, konflik perasaan dan kepentingan. Gundala enggak. Tapi ya gak papa. Kecilnya aja udah menyedihkan. Karakter Sancaka ala Pak Joko ini saya apresiasi sebagai the best superhero character development in cinema. The best dibanding semua film Marvel DC. Yang gak terima samber geledek!

PERFORMA AKTOR

Nggak usah njlimet. Saya bilang semua tampil pas dengan porsinya. kalopun dialog terasa teatrikal kayak film jadul, menurut saya is okay. Ada kesan retronya.

Bront Palarae sebagai Pengkor meski kurang bikin menggigil, setidaknya ia gak lebay kayak musuh-musuh tipikal film laga yang demen ketawa. Cukup, namun bisa lebih baik lagi.

Tara Basro sebagai Wulan. Ya udah gitu aja. Manis. Tapi saya lebih suka Neng Pevita meski scene dia nylempit jadi kaget-kagetan menjelang akhir.

Ario Bayu sebagai Ghazul, teatrikal. Tapi mbayangin dia mustinya gimana lagi saya gak tahu hihihi. Emang akting dia gitu.

Lukman Sardi sebagai Ridwan Bahri, pas lah.

Kak Abigail. Sorry anoyying... itu Harley Quinn apa Gogo Yubari sih? Ketawanya bagusan Kuntilanak lagi...

Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka bocah, he is the gold.

Abimana sebagai Sancaka, pantes banget tapi.... latihan silatnya yang tekun ya, Mas. Biar pinggangnya lentur dan kakinya lincah hehehe.

Ada dua screen stealer yang sangat saya suka. Yakni penampilan Kang Cecep Arief rahman dan Faris Fadjar yang ternyata putera Kang cecep.

Pemunculan keduanya di film ini sangat memukau. Bahkan munculnya karakter penari sakti seremnya melampaui Ki Wilawuk. Faris sendiri kalau langkahnya benar, saya berharap ia akan jadi aktor laga potensial di kemudian hari.

Ki Wilawuk kurang serem. Masih lebih serem Sujiwo Tejo.

VISUAL

Tak sukar menebak preferensi sinematik Pak Joko. Apalagi sebelumnya beliau sudah pernah bikin film superhero lho... tuh film Kala.

Jadi anda akan nemu gambar ala Kala, Janji Joni, Pengabdi Setan dll. di film ini. Di beberapa bagian mungkin anda juga akan mencium bau-bau The Raid 1 & 2, Batman Begins dan bahkan Jaka Sembung. Adegan Ghazul mengambil jasad Ki Wilawuk itu mengingatkan saya pada adegan dukun antek Kumpeni mbangkitin jasad Ki Item yang punya ajian Rawe Rontek.

Sinematografer Ical Tanjung bermain gelap terang dengan sangat berani. Saat kecil sancaka, digambarkan dengan kelamnya sinar yang merasuk ruang. Ikut bikin perasaan kita sempit terhimpit.

Adegan Sancaka lari dikejar pengeroyok diambil dengan sangat cakep dan mengesankan. Mungkin saya akan mengingatnya sebagai yang terbaiksetelah Forrest Gump.

Gimana dengan efek? Soal satu ini netizen cerewetnya bukan main. Dipikirnya CGI itu cuma buat bikin gedung hancur, ledakan ama monster. Padahal memoles tampilan bangunan, arah cahaya dan obyek sehari-hari juga bisa dilakukan pakai CGI. Yang ini hasilnya bahkan tak dikenali secara visual.

CGI Gundala sudah pas. Ada satu yang kurang tapi (tu yang anggota DPR baru dan anak istri di gedung) ya sudahlah semoga di film berikutnya lebih mulus. Petirnya bisa lebih bagus tapi yang ini juga tak buruk. Mobil melayang itu oke juga. CGI bukan ya?

Visual Gundala adalah kombinasi kesuraman Horror ala Pak Joko, noirnya Batman dan kekumuhan ala The Raid.

MUSIK

Sebenarnya sih cukup, tapi mustinya bisa lebih kuat lagi. Terasa beberapa bar kayak Hans Zimmer's Batman juga Alan Silvestri's Avengers Theme. Saya aja selalu kebelet nyambungin nada gesekan stringnya dengan Theme-nya Avengers.

Leitmotif untuk karakter sang penari (Kang Cecep) bahkan malah paling bagus dibanding lainnya. Ada bau tradisional woodwindnya. Setiap ia muncul, musik ini terdengar mencekam. Kayak udah pasti mati aja yang ketemu dia.

Yak ampun, saya kok berani-beraninya ngritik guru sendiri. Mas Aghi, salah satu komposer film ini saya anggap guru saya. Saya pernah ikut kelas beliau yang singkat.

KOSTUM

Kalo liat kostum yang di poster, tentu kita tahu deh. Itu versi dummy-nya. Menurut saya itu lumayan. Keliatan indie dan handmade. Saya gak bisa bayangin Gundala ujug-ujug pake spandex item mengkilat dengan dua sayap di telinga. Keliatan oke mah kalo di komik, kalo bener-bener dilakukan... nggilani, Mas.

Ternyata tebakan kita bener. Kostum yang finalnya (versi budget dari rakyat) gak sesimple itu. Saya belum bisa katakan itu keren apa nggak. Soalnya adegannya remang. Tapi terlihat kostum itu industrial. Sayap di kupingnya terlihat okay. Full body armornya cukup nice. Tampilan mask? Canggih kayak bikinan Stark Industries. Mungkin saya perlu nonton film berikutnya.

Canggih kok kostumnya. Kayaknya bukan pesen ke anak magang lah. Dalam remang ia terlihat menjanjikan. Kita tunggu penampilannya dalam terang.

TATA LAGA

Hmmm... di bagian ini saya paling cerewet. Bukan berarti saya bisa bikin yang lebih bagus ya hihihi.

Anda melihat kedahsyatan silat, tapi sayangnya tetep belum selevel The Raid. Mungkin bisa saya bilang ini versi ketoprak dari The Raid.

Ada 3 komponen yang bikin adegan laga bagus: Koreografi, sinematografi dan editing.

Koreografinya bagus meski gerakannya mudah ditebak. Masalahnya ada pada fight rhytm-nya. Ritme yang tidak padat bikin ada celah di gerakan. Kita sebut ini "Telegraphic moves". Artinya pelaga terlihat mengantisipasi serangan secara atifisial. Kayak udah dikasih tahu sebelumnya, kayak diapalin dulu gerakannya. Itulah telegraphic moves. Hey aku mau serang kepala tuh, menghindar ya... eh menghindarnya kecepetaaaan. Belum diserang nih.

Adegan tarung keroyok juga tak tereksekusi secara layak. Masalah klasik semacam nyerangnya giliran masih saja muncul. Mas Abimana sih kurang latian. Latihan yang lebih keras yo mas. Sampeyan bisa deh.

Akibat kendornya Mas Abimana, tarung yang mustinya epic lawan anak-anak Pengkor jadi "pengkor" pula. Kedodoran dalam ritme, postur dan gerak. Penyakit lama nih. Musuh sesakti apapun kalo keroyokan, pasti gampang kalahnya. Disentil aja mencelat. Kalo satu doang, gak sakti amat susah banget dikalahin. Nampaknya pola gini masih saja terjadi. Eman-eman. Stunt performer yang talented macam Andrew Sulaeman pun kurang terekspos bakatnya. I would say Gundala's fight masih kurang trengginas.


======================

Sebagai sebuah upaya untuk menjual warisan kreatif bangsa, Gundala adalah langkah pertaruhan. Kalo gagal ya bakal ambyar cita-cita sinema laga linuwih (istilah saya untuk genre superhero).

Gundala itu bagus, meski harusnya bisa lebih bagus lagi. Pengalaman serupa kayak saya pas nonton film Pak Joko yang lain. Beliau di mata saya tetaplah yang terbaik, sutradara dengan visi yang lantang dan berprinsip. Tapi pujian saya soal film satu ini maaf... bukan kepada Pak Joko Anwar.

Melainkan kepada para produser yang berani nunjuk pak Joko.

Gak semua orang berduit rela membayar (in a huge amount) sutradara agar bebas dengan visi kreatifnya. Puji syukur para produser memilih Joko Anwar. Kenapa kok musti Pak Joko?

Di mata saya, Pak Joko masih satu-satunya sutradara berpengalaman yang punya visi dan taste untuk film genre. Beliau juga paham how to tell a story (meski belum mencapai puncaknya). Kedodoran di action design sih nanti bisa diserahkan ke action director yang jago.

Dan kita mustinya tak menilai karya film hanya semata ini karya anak bangsa, demi kebangkitan industri sinema bla-bala. Bagi saya itu bullshit. Film kalo bagus gak usah merengek. Dia akan berbicara dengan sendirinya. gak usah diaku masuk nominasi Oscar juga ora pateken. Apik ki yo apik.

Tapiiii... apik bergantung pada taste personal.

Kalo kamu ini fanatik Marvel DC dan menganggap itu patokan film superhero, maka ya ini bukan film buatmu.

Kamu yang sukanya drama mendayu remaja atau kisah megah sejarah ala Bumi Manusia, maka ini juga bukan film buat kamu.

Kalo kamu ini menjunjung moralitas dengan menyensor sana-sini adegan kekerasan tapi memperdengarkan ceramah kebencian secara wajar, ya ini gak pas buatmu juga.

Ini adalah film bagi yang mau merayakan kebangkitan karakter jagoan komik dalam sinema. Bukan buat orang cerewet yang nontonnya musti berat-berat macam Tarkovsky atau Lars Von Trier.

Ini adalah film buat merayakan masa kejayaan komik nasional 50 taun silam.

Tapi ya semoga BumiLangit berhati-hati. Memilih sutradara yang cukup teruji dan visioner, melanjutkan apa yang dibebankan pada Pak Joko bukan pula hal yang mudah.

Anyway...

NILAIIIIII

Ekspektasi VS realita?
AMAN!

Bagus nggak?
BISA LEBIH LAGI.

Recommend gak?
RECOMMENDED.

Film ini pas buat siapa?
SEMUA PENYUKA SUPERHERO terutama penyuka komiknya tapi bukan yang fanatik, penyuka film superhero alternatif, penyuka aktor-aktor yang main di filmnya dan yang mau dukung kebangkitan genre superhero nasional.

SELAMAT, Gundala. 8 of 10 nilai dari saya pembaca komik Gundala sekaligus penyuka genre laga.

From Wlingiwood with love.
Baca

DASAR BELAJAR PERFILMAN Part 2 - DISTRIBUSI KE AUDIENCE

Hal yang saya nyaris selalu (hehehe) lupa adalah soal audience. Siapa sih yang mau nonton film saya?
Mempelajari bahwa tak ada film untuk "semua orang" maka dari awal kita musti paham siapa yang akan mengasup karya kita. Bahkan karya sebusuk apapun tetap akan ada penontonnya, sekalipun itu kita sendiri... misalnya. Jadi akan lebih bijak kalo dari awal kita udah targeting dulu.
Bioskop-bioskopan
Target audiens menentukan platform yang mau kita pilih. Mau offline atau online? Kedua platform ini banyak banget selukbeluk yang perlu dipelajari. Saya mendapat pelajaran dari postingan saya seperti pada ilustrasi. Sebuah konten yang saya unggah ke medsos pribadi dan ke medsos brand saya, ternyata signifikan sekali bedanya.
Di medsos pribadi, udah selang beberapa bulan yang view dikit banget. Sedangkan di medsos brand personal saya (Javora Studio), sehari langsung viral. Nyebelinnya, ketika saya posting di Youtube gak banyak yang mau nonton, padahal linknya saya posting via medsos brand personal tadi. Rupanya memang kita musti tau di portal mana engagement kita dengan audiens cukup tinggi. Youtube, yang dibilang platform ideal buat posting konten video kalo mau ditonton sebanyak mungkin orang, ternyata gak cukup ampuh dalam kasus saya.
Mau gak mau strategi berubah. Musti nguatin basis audience di Facebook jadinya. Youtube ndak cukup works bagi saya, orang lain mungkin beda. Hal yang sama juga sewaktu posting di instagram. Follower gak nambah-nambah eh di Facebook malah kenceng. Dan saya belum tahu bakal seberapa lama mereka bertahan.
Terus bagaimana dengan yang offline?
Beberapa senior di perfilman indie bilang kalo "Youtube (atau platform online lain) kills filmmaker". Ini berhubungan dengan kemungkinan meraih audiens lewat screening offline yang makin sering dijajaki. Jadi ada banyak di kota-kota besar kelompok pemutaran film indie. Mereka melakukannya secara sistematis, acaranya terprogram dan tak jarang berbayar pula. Ini meniru pola perbioskopan yang konvensional yakni menjual film secara langsung lewat ticketing.
Jual film secara langsung adalah strategi yang cukup berat. Emang siapa sih yang mau nonton film kita? Makanya di pemutaran independen begitu dibutuhkan peran programmer atau kurator. Ini mau gak mau juga "menyingkirkan" sebagian film yang tak masuk program. Yang lebih berat lagi, audiens offline di satu kota akan cenderung terbatas. Misalnya, kalo di ndeso kami, siapa sih yang mau nonton film laga bikinan kami dengan mbayar? Akan tetapi saat ini jejaring mulai merambat sedemikian rupa jadi sasaran audience pun tak lagi cuma di satu region saja. Sementara pemutaran filmnya offline, marketingnya tetap jalan secara online.
Ada banyak tantangan yang dihadapi dalam memanage audience ini. Kadang ini bisa menimbulkan kegalauan semacam... wah kudu bikin film yang ngikut orang kampung nih...
Rekan saya sesama filmmaker membuat perencanaan distribusinya dalam jangka 3 tahun. Tahun pertama mereka akan berlaga di festival-festival, tahun kedua akan berada di penyangan-penayangan independen, tahun ketiga baru masuk platform online terbatas semacam Viddsee. Mereka memutuskan tidak ke Youtube.
Manapun platform yang dipilih dan target audience yang disasar, saya pikir kuncinya adalah ENGAGEMENT. Itulah yang akan memberi darah pada karya kita. Memang akan menjadi tantangan ketika, peribahasanya....di antara orang-orang yang demennya mie goreng kuah, kita mau jualan pecel.
Jadi kata kunci di tulisan part 2 ini adalah AUDIENCE ENGAGEMENT. Itu yang musti ditemukan segera.
Hal yang saya nyaris selalu (hehehe) lupa adalah soal audience. Siapa sih yang mau nonton film saya?
Mempelajari bahwa tak ada film untuk "semua orang" maka dari awal kita musti paham siapa yang akan mengasup karya kita. Bahkan karya sebusuk apapun tetap akan ada penontonnya, sekalipun itu kita sendiri... misalnya. Jadi akan lebih bijak kalo dari awal kita udah targeting dulu.
Bioskop-bioskopan
Target audiens menentukan platform yang mau kita pilih. Mau offline atau online? Kedua platform ini banyak banget selukbeluk yang perlu dipelajari. Saya mendapat pelajaran dari postingan saya seperti pada ilustrasi. Sebuah konten yang saya unggah ke medsos pribadi dan ke medsos brand saya, ternyata signifikan sekali bedanya.
Di medsos pribadi, udah selang beberapa bulan yang view dikit banget. Sedangkan di medsos brand personal saya (Javora Studio), sehari langsung viral. Nyebelinnya, ketika saya posting di Youtube gak banyak yang mau nonton, padahal linknya saya posting via medsos brand personal tadi. Rupanya memang kita musti tau di portal mana engagement kita dengan audiens cukup tinggi. Youtube, yang dibilang platform ideal buat posting konten video kalo mau ditonton sebanyak mungkin orang, ternyata gak cukup ampuh dalam kasus saya.
Mau gak mau strategi berubah. Musti nguatin basis audience di Facebook jadinya. Youtube ndak cukup works bagi saya, orang lain mungkin beda. Hal yang sama juga sewaktu posting di instagram. Follower gak nambah-nambah eh di Facebook malah kenceng. Dan saya belum tahu bakal seberapa lama mereka bertahan.
Terus bagaimana dengan yang offline?
Beberapa senior di perfilman indie bilang kalo "Youtube (atau platform online lain) kills filmmaker". Ini berhubungan dengan kemungkinan meraih audiens lewat screening offline yang makin sering dijajaki. Jadi ada banyak di kota-kota besar kelompok pemutaran film indie. Mereka melakukannya secara sistematis, acaranya terprogram dan tak jarang berbayar pula. Ini meniru pola perbioskopan yang konvensional yakni menjual film secara langsung lewat ticketing.
Jual film secara langsung adalah strategi yang cukup berat. Emang siapa sih yang mau nonton film kita? Makanya di pemutaran independen begitu dibutuhkan peran programmer atau kurator. Ini mau gak mau juga "menyingkirkan" sebagian film yang tak masuk program. Yang lebih berat lagi, audiens offline di satu kota akan cenderung terbatas. Misalnya, kalo di ndeso kami, siapa sih yang mau nonton film laga bikinan kami dengan mbayar? Akan tetapi saat ini jejaring mulai merambat sedemikian rupa jadi sasaran audience pun tak lagi cuma di satu region saja. Sementara pemutaran filmnya offline, marketingnya tetap jalan secara online.
Ada banyak tantangan yang dihadapi dalam memanage audience ini. Kadang ini bisa menimbulkan kegalauan semacam... wah kudu bikin film yang ngikut orang kampung nih...
Rekan saya sesama filmmaker membuat perencanaan distribusinya dalam jangka 3 tahun. Tahun pertama mereka akan berlaga di festival-festival, tahun kedua akan berada di penyangan-penayangan independen, tahun ketiga baru masuk platform online terbatas semacam Viddsee. Mereka memutuskan tidak ke Youtube.
Manapun platform yang dipilih dan target audience yang disasar, saya pikir kuncinya adalah ENGAGEMENT. Itulah yang akan memberi darah pada karya kita. Memang akan menjadi tantangan ketika, peribahasanya....di antara orang-orang yang demennya mie goreng kuah, kita mau jualan pecel.
Jadi kata kunci di tulisan part 2 ini adalah AUDIENCE ENGAGEMENT. Itu yang musti ditemukan segera.
Baca

DASAR BELAJAR PERFILMAN Part 1 - VALUE

Saya belajar bikin film cukup telat. Jika kita bandingin dengan para the big guy of the industry, rasanya diri ini "telek cecak" banget. Spielberg usia 27 bikin Jaws. Me? Nothing.

Tak bisa dimungkiri kebanyakan orang belajar film selalu lewat hal paling teknisnya... kamera. Dimulai dengan belajar soal menggunakan kamera. Itu terjadi karena kompleksitas paling awal ya di soal kamera. Ada yang namanya sinematografi. Karena yang namanya film itu gak bisa asal shoot alias "astrada" asal terang gambar ada. Kita musti ngerti gimana cara menyetel, membidik, mengarahkan, menggerakkan dll.

Kenapa orang mau nonton film saya ini? Karena syutingnya di sekitar situ.

Di masa kemarin, hal gini ini mahal dan susah nyari tempat belajarnya. Saya menghabiskan waktu beberapa tahun untuk ngerti bagaimana kamera itu bekerja. Tahu teknis tak cukup, musti terus latian. Bikin gambar bagus perlu skill dan tentu saja alat terpenuhi.

Keberadaan Youtube mempermudah proses belajar. Bahkan bisa menginduksi secara "instant" sense of visual seseorang. Dengan mudahnya anak baru pegang kamera, asal sering nonton Yotube, akan punya semacam pegangan estetis. Dibarengi dengan makin canggihnya kamera plus aksesoris, tak lagi sulit bikin gambar yang orang syutingan manten bilang "cinematic". Namun di sini ada problem lama yang tak selalu terjawab tuntas.

Ada 5 tahap dalam produksi film: Development, Pre Production, Production, Post Production dan Distribution. Rata-rata alur belajar ini mentok sampai Post Pro dan bahkan bagian Development dan Pre Production di-skip. Akibatnya kita lebih ngerti soal kamera namun gak paham bikin cerita serta sayangnya tak ngerti juga abis berkarya mau dikemanakan. Apakah upload di Youtube sudah cukup?

Akan tetapi tiap orang mau fokus di mana ini ya sesuai kondisi masing-masing. Ada yang emang cuma demen ngulik kamera (dan sesungguhnya tak mau belajar perfilman secara utuh).

Saat ini perfilman dengan apapun modelnya: komersil-non komersil, indie-non indie, industri korporat-industri rumahan dll. Adalah semacam ekosistem. Ini dengan asumsi bahwa pelakunya ingin hidup ataupun menghidupi perfilman.

Kalau kita mau hidup lewat film, atau mau menghidupkan perfilman, setidaknya musti memahami yang namanya EKOSISTEM KREATIF di balik perfilman. Kita ulik dulu nyawa semua itu apa. Menurut saya, karena film adalah sebagaimana produk kesenian (plus teknologi dan kolaborasinya tentu aja) ia akan bersandar pada VALUE.

Film musti memiliki value untuk bisa dipertahankan dan diedarkan. Karena itulah ia diciptakan. Valuenya apa?

Mau menghibur? Mau ngasih informasi? Mau bikin propaganda?

Lewat value ini kita bisa menakar harga produksi dan harga "jual"nya. Kenapa film horror laku kera sdibanding film science fiction? Karena value yang ditawarkan nilainya tidak sama bagi semua orang. Ini tak melulu soal film cerdas atau bodo. Saya melihatnya lebih pada value yang ingin didapat. Apakah value itu sudah sampai pada audiens? Nah itu ada ilmunya sendiri.

Jika suatu karya film ada value, maka mata rantai ekosistem yang terlibat di dalamnya akan mendapat nyawa. Film itu akan bisa diedarkan tanpa terlalu memaksakan usaha dan biaya. Orang Jawa bilangnya... PAYU!

Ini tak melulu soal uang. Itu lain lagi. Menjual film untuk dapat uang, bagi kalangan indie, susyah banget, Bosss. Tapi kalo value, itu masih lah bisa diulik. Value juga yang bikin ekosistem bertahan.

Value sudah ditentukan sedari awal kita mau bikin film. Sorry aje, bikin film gak kayak pelukis tunggal yang pegang kuas dan menentukan gimana isi benaknya tercurah. Film itu kolaboratif dan makan biaya. Sering biaya itu terlampau besar untuk bisa dibalikkan modalnya. Maka di tahap development kita musti tentukan target pasar, muatan value selain cerita dan juga nanti rencana eksekusinya. Ribet ya.

Setelah pre production dan post, tantangan terakhir adalah distribusi. Industri yang sudah established, dengan perputaran omzetnya yang gede banget, tak terjangkau oleh para pemula. Mereka sudah mengikatkan pada ekosistem semi-tertutup dan kadang kayak mafia. Maka muncullah sistem alternatif di kalangan independen. Ini berjalan secara offline maupun online.

Bicara soal distribusi independen offline, kita akan lebih banyak bicara soal komunitas. Unit terkecil adalah filmmaker indie di kampung-kampung, lalu komunitas lokal termasuk sekolah dan yang paling gede adalah para pemutar film alternatif. Pemutar alternatif ini pun bekerja secara sistematis. Fasilitas memakai ruang komersil di publik macam cafe, perpustakaan, mini bioskop dan kalo lagi ada duit ya sewa studio bioskop beneran.

Untuk pertanggungjawaban mutu, digelarlah festival-festival yang mensyaratkan adanya pemrograman bagi film yang mau diputar. Ada kurator yang bertugas menyeleksi biar film yang diputer nggak ngasal.

Distribusi online lebih merdeka daripada offline. Karena pembuat akan menentukan sendiri pilih platform yang mana dengan segala plus minusnya. Platform online tidak memerlukan biaya besar selain biaya akses internet. Persebaran lebih masif. Sayangnya audience-creator engagement tak sekuat yang offline. sesuai watak umum dari mediumnya sendiri... shallow kalo saya bilang. Sedangkan offline menjanjikan engagement yang lebih kuat, karena pertemuan mata dengan layar terjadi secara fisik. Butuh niat bener loh kalo mo dateng ke screening itu. Yah keduanya tak musti dipertentangkan.

Engagement dengan audiens adalah salah satu value yang perlu dikejar oleh distribusi. Maka dari sini sejak awal mo bikin film, sebaiknya kita tentukan film nanti mau didistribusikan dengan cara apa? Online? Offline?

(bersambung)
Saya belajar bikin film cukup telat. Jika kita bandingin dengan para the big guy of the industry, rasanya diri ini "telek cecak" banget. Spielberg usia 27 bikin Jaws. Me? Nothing.

Tak bisa dimungkiri kebanyakan orang belajar film selalu lewat hal paling teknisnya... kamera. Dimulai dengan belajar soal menggunakan kamera. Itu terjadi karena kompleksitas paling awal ya di soal kamera. Ada yang namanya sinematografi. Karena yang namanya film itu gak bisa asal shoot alias "astrada" asal terang gambar ada. Kita musti ngerti gimana cara menyetel, membidik, mengarahkan, menggerakkan dll.

Kenapa orang mau nonton film saya ini? Karena syutingnya di sekitar situ.

Di masa kemarin, hal gini ini mahal dan susah nyari tempat belajarnya. Saya menghabiskan waktu beberapa tahun untuk ngerti bagaimana kamera itu bekerja. Tahu teknis tak cukup, musti terus latian. Bikin gambar bagus perlu skill dan tentu saja alat terpenuhi.

Keberadaan Youtube mempermudah proses belajar. Bahkan bisa menginduksi secara "instant" sense of visual seseorang. Dengan mudahnya anak baru pegang kamera, asal sering nonton Yotube, akan punya semacam pegangan estetis. Dibarengi dengan makin canggihnya kamera plus aksesoris, tak lagi sulit bikin gambar yang orang syutingan manten bilang "cinematic". Namun di sini ada problem lama yang tak selalu terjawab tuntas.

Ada 5 tahap dalam produksi film: Development, Pre Production, Production, Post Production dan Distribution. Rata-rata alur belajar ini mentok sampai Post Pro dan bahkan bagian Development dan Pre Production di-skip. Akibatnya kita lebih ngerti soal kamera namun gak paham bikin cerita serta sayangnya tak ngerti juga abis berkarya mau dikemanakan. Apakah upload di Youtube sudah cukup?

Akan tetapi tiap orang mau fokus di mana ini ya sesuai kondisi masing-masing. Ada yang emang cuma demen ngulik kamera (dan sesungguhnya tak mau belajar perfilman secara utuh).

Saat ini perfilman dengan apapun modelnya: komersil-non komersil, indie-non indie, industri korporat-industri rumahan dll. Adalah semacam ekosistem. Ini dengan asumsi bahwa pelakunya ingin hidup ataupun menghidupi perfilman.

Kalau kita mau hidup lewat film, atau mau menghidupkan perfilman, setidaknya musti memahami yang namanya EKOSISTEM KREATIF di balik perfilman. Kita ulik dulu nyawa semua itu apa. Menurut saya, karena film adalah sebagaimana produk kesenian (plus teknologi dan kolaborasinya tentu aja) ia akan bersandar pada VALUE.

Film musti memiliki value untuk bisa dipertahankan dan diedarkan. Karena itulah ia diciptakan. Valuenya apa?

Mau menghibur? Mau ngasih informasi? Mau bikin propaganda?

Lewat value ini kita bisa menakar harga produksi dan harga "jual"nya. Kenapa film horror laku kera sdibanding film science fiction? Karena value yang ditawarkan nilainya tidak sama bagi semua orang. Ini tak melulu soal film cerdas atau bodo. Saya melihatnya lebih pada value yang ingin didapat. Apakah value itu sudah sampai pada audiens? Nah itu ada ilmunya sendiri.

Jika suatu karya film ada value, maka mata rantai ekosistem yang terlibat di dalamnya akan mendapat nyawa. Film itu akan bisa diedarkan tanpa terlalu memaksakan usaha dan biaya. Orang Jawa bilangnya... PAYU!

Ini tak melulu soal uang. Itu lain lagi. Menjual film untuk dapat uang, bagi kalangan indie, susyah banget, Bosss. Tapi kalo value, itu masih lah bisa diulik. Value juga yang bikin ekosistem bertahan.

Value sudah ditentukan sedari awal kita mau bikin film. Sorry aje, bikin film gak kayak pelukis tunggal yang pegang kuas dan menentukan gimana isi benaknya tercurah. Film itu kolaboratif dan makan biaya. Sering biaya itu terlampau besar untuk bisa dibalikkan modalnya. Maka di tahap development kita musti tentukan target pasar, muatan value selain cerita dan juga nanti rencana eksekusinya. Ribet ya.

Setelah pre production dan post, tantangan terakhir adalah distribusi. Industri yang sudah established, dengan perputaran omzetnya yang gede banget, tak terjangkau oleh para pemula. Mereka sudah mengikatkan pada ekosistem semi-tertutup dan kadang kayak mafia. Maka muncullah sistem alternatif di kalangan independen. Ini berjalan secara offline maupun online.

Bicara soal distribusi independen offline, kita akan lebih banyak bicara soal komunitas. Unit terkecil adalah filmmaker indie di kampung-kampung, lalu komunitas lokal termasuk sekolah dan yang paling gede adalah para pemutar film alternatif. Pemutar alternatif ini pun bekerja secara sistematis. Fasilitas memakai ruang komersil di publik macam cafe, perpustakaan, mini bioskop dan kalo lagi ada duit ya sewa studio bioskop beneran.

Untuk pertanggungjawaban mutu, digelarlah festival-festival yang mensyaratkan adanya pemrograman bagi film yang mau diputar. Ada kurator yang bertugas menyeleksi biar film yang diputer nggak ngasal.

Distribusi online lebih merdeka daripada offline. Karena pembuat akan menentukan sendiri pilih platform yang mana dengan segala plus minusnya. Platform online tidak memerlukan biaya besar selain biaya akses internet. Persebaran lebih masif. Sayangnya audience-creator engagement tak sekuat yang offline. sesuai watak umum dari mediumnya sendiri... shallow kalo saya bilang. Sedangkan offline menjanjikan engagement yang lebih kuat, karena pertemuan mata dengan layar terjadi secara fisik. Butuh niat bener loh kalo mo dateng ke screening itu. Yah keduanya tak musti dipertentangkan.

Engagement dengan audiens adalah salah satu value yang perlu dikejar oleh distribusi. Maka dari sini sejak awal mo bikin film, sebaiknya kita tentukan film nanti mau didistribusikan dengan cara apa? Online? Offline?

(bersambung)
Baca

APA ITU CINEMATIC?

Pertamakali yang perlu diketahui adalah bahwa istilah ini punya arti yang berbeda di dalam bahasa aslinya (Inggris) dengan pemakaian sehari-hari di kalangan pekerja audio visual Indonesia.
Dalam bahasa Inggris, cinematic (kata sifat) berarti "yang berkaitan dengan sinema". Akar katanya adalah cinématique (bahasa Prancis) yang artinya "berkaitan dengan gerak" (kinematic). Bisa juga berarti "memiliki karakter kualitas seperti pada film sinema" (having qualities characteristic of motion picture).

Saya memahami bahwa istilah cinematic yang dipakai sehari-hari oleh rekan-rekan praktisi audio visual sehari-hari (sebut saja misalnya wedding videographer) mengambil makna terakhir. Cinematic, "berasa seolah film layar lebar" gitulah kurang lebih maunya.
Bagi saya, istilah itu sah-sah saja, tentu dengan lebih baik memahami asal kata dari cinematic itu sendiri. Sejarah teknologi dan seni audio visual kita memang awalnya dari cinema.
Cinema mengacu pada dua hal: tempat memutar film atau seni dari pembuatan film itu sendiri. Mengenai cinema sebagai sebutan untuk tempat, British English lebih banyak menggunakan istilah Cinema sedangkan American English lebih sering memakai istilah Theatre. Sedangkan cinema sebagai sebuah art biasa disalingtukarkan dengan istilah "motion pictures" atau movie. Ribetnya, kata movie sendiri juga sering ditukar-tukar dengan istilah cinema. Kalimat "go to the cinema" atau "go to the movies" memiliki makna yang sama yakni tempat muter film. Kalo dalam bahasa Indonesia, kita lebih akrab dengan istilah "bioskop" yang terambil dari kata bioscope. Bioscope sebenarnya mengacu pada alat, seperti yang dipakai untuk "Warwick Bioscope". Warwick Bioscope adalah nama jenis proyektor film dari tahun 1897.
Baik cinema, movie dan motion pictures sejak sejarah awalnya mengacu pada film. Nah, soal film ini ada berbagai pemaknaan. Kalau mengacu pada bendanya maka film adalah medium rekam. Yakni pita seluloid dengan lapisan emulsi peka cahaya. Namun begitu kita memasuki era rekam digital, istilah film bergeser jadi lebih substansial. Film juga bermakna seni bercerita audio visual naratif. Makanya meski direkam pakai medium digital pun masih disebut sebagai film. Festival yang merayakannya disebut sebagai festival film, bukan video.
Dalam seni audio visual yang sudah berumur seratus tahun lebih ini, ada kecenderungan menjadikan estetika visual era jadul sebagai tolok ukur. Yakni ketika semua serba manual. Banyak seniman audio visual (termasuk saya) memuja tampilan klasik tersebut. Film (sebagai medium rekam) dilihat lebih terasa indah dibanding video. Mungkin sebagaimana standar penggunaan font "courier new" pada skenario yang standar, ada rasa nostalgis di situ. Dari situlah ada kecenderungan mengejar yang namanya "film look". Maksudnya adalah hasil rekam video yang berasa kayak film. Apa saja itu?
-Grain yang seolah kayak dari film seluloid
-24 fps frame rate kayak film di bioskop
-Motion blur kayak film bioskop
-Kadang juga aspect ratio anamorphic (lebar) disebut sebagai "kayak film"
Sudah jelas medium digital kurang bisa menyamai kualitas film yang memang sebuah teknologi fisik dan kimiawi. Makanya film look hanya bisa meniru-niru tampilan agar berkesan "kayak disyut pake film beneran". Semua hal itu coba ditiru dengan memakai efek dari software editing.
Film look sering menjadi hal yang diinginkan para filmmaker yang bermedium digital. Semisal saya sendiri, saya tak ingin kalau film saya terlalu "video banget". Salah satu artinya saya lebih ingin terlihat ada grain daripada "digital artifact" (pecah-pecah). Kesan yang ingin saya munculkan adalah kalo nonton film saya, rasanya udah kayak film bisokop gitu aja. Tentu saja jauh sekali kalo mau ingin kayak film beneran. Namanya juga seolah-olah... kayak Indomie rasa soto. Apa ya bisa menyamai soto beneran?
Terus bagaimana dengan cinematic wedding video?
Kurang lebih ya kayak gitu tadi. Video manten yang gambarnya (doang) ingin terlihat seakan film bioskop. Apakah ini sudah mencakupi istilah sejati dari CINEMATIC? ya jelas tidak.
Cinematic, dalam arti sesungguh dan selengkapnya, adalah kualitas yang dimiliki film sinema (motion pictures). Apa aja sih kualitas tersebut? Ada 2 yakni yang terlihat secara inderawi (audio visual) dan yang terasa secara intelektual (narative storytelling).
Yang terasa secara audio visual:
-Tata suara
-Tata cahaya
-Tata gambar (mencakup angle kamera dan gerakannya)
-Dekor
-Tata busana
-Dll
Yang terasa secara intelektual:
-Penuturan cerita (Storytelling)
-Editing
-Pesan-pesan
-Dll.
Jadi, cinematic yang sejati tak cuma video yang main slowmotion, pasang black bar dan musik-musik orkestra. So bolehkah menggunakan istilah "cinematic" buat video manten?
Ya emang siapa mau ngelarang sih? Hehehe... saya pribadi sih bukan CINEMA-NAZI yang memburu orang-orang cari duit dengan bikin what so called "cinematic wedding video". Apakah istilah yang mereka pakai musti dipertanggungjawabkan?
Menurut saya sih enggak. Istilah itu sudah berada dalam koridor "bahasa orang pasar", itu merupakan gimmick marketing daripada sebagai istilah sinematografi.
Bagaimanapun, weeding videography dan filmmaking adalah dua hal yang berbeda. Alat yang dipakai boleh sama. Kami para filmmaker murah memakai kamera fotografi buat bikin film, maka kalopun ntar ada wedding videographer mau makai kamera cinema pun ya so what? Hehehe.....
Yang membedakan kedua hal: baik cinematic yang emang bener istilah film dengan cinematic yang gimmick.... adalah sasarannya. Film itu ada konsumennya sendiri dan wedding videography apalagi. Udah beda bidang, beda pula isi kepala orang yang menggeluti kedua hal itu.
Begitulah sudut pandang saya, penyuka sinema.
My showreel:
Artikel ini adalah penyegaran untuk artikel saya yang lama: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/08/perbedaan-esensial-videografi-dan.html


Pertamakali yang perlu diketahui adalah bahwa istilah ini punya arti yang berbeda di dalam bahasa aslinya (Inggris) dengan pemakaian sehari-hari di kalangan pekerja audio visual Indonesia.
Dalam bahasa Inggris, cinematic (kata sifat) berarti "yang berkaitan dengan sinema". Akar katanya adalah cinématique (bahasa Prancis) yang artinya "berkaitan dengan gerak" (kinematic). Bisa juga berarti "memiliki karakter kualitas seperti pada film sinema" (having qualities characteristic of motion picture).

Saya memahami bahwa istilah cinematic yang dipakai sehari-hari oleh rekan-rekan praktisi audio visual sehari-hari (sebut saja misalnya wedding videographer) mengambil makna terakhir. Cinematic, "berasa seolah film layar lebar" gitulah kurang lebih maunya.
Bagi saya, istilah itu sah-sah saja, tentu dengan lebih baik memahami asal kata dari cinematic itu sendiri. Sejarah teknologi dan seni audio visual kita memang awalnya dari cinema.
Cinema mengacu pada dua hal: tempat memutar film atau seni dari pembuatan film itu sendiri. Mengenai cinema sebagai sebutan untuk tempat, British English lebih banyak menggunakan istilah Cinema sedangkan American English lebih sering memakai istilah Theatre. Sedangkan cinema sebagai sebuah art biasa disalingtukarkan dengan istilah "motion pictures" atau movie. Ribetnya, kata movie sendiri juga sering ditukar-tukar dengan istilah cinema. Kalimat "go to the cinema" atau "go to the movies" memiliki makna yang sama yakni tempat muter film. Kalo dalam bahasa Indonesia, kita lebih akrab dengan istilah "bioskop" yang terambil dari kata bioscope. Bioscope sebenarnya mengacu pada alat, seperti yang dipakai untuk "Warwick Bioscope". Warwick Bioscope adalah nama jenis proyektor film dari tahun 1897.
Baik cinema, movie dan motion pictures sejak sejarah awalnya mengacu pada film. Nah, soal film ini ada berbagai pemaknaan. Kalau mengacu pada bendanya maka film adalah medium rekam. Yakni pita seluloid dengan lapisan emulsi peka cahaya. Namun begitu kita memasuki era rekam digital, istilah film bergeser jadi lebih substansial. Film juga bermakna seni bercerita audio visual naratif. Makanya meski direkam pakai medium digital pun masih disebut sebagai film. Festival yang merayakannya disebut sebagai festival film, bukan video.
Dalam seni audio visual yang sudah berumur seratus tahun lebih ini, ada kecenderungan menjadikan estetika visual era jadul sebagai tolok ukur. Yakni ketika semua serba manual. Banyak seniman audio visual (termasuk saya) memuja tampilan klasik tersebut. Film (sebagai medium rekam) dilihat lebih terasa indah dibanding video. Mungkin sebagaimana standar penggunaan font "courier new" pada skenario yang standar, ada rasa nostalgis di situ. Dari situlah ada kecenderungan mengejar yang namanya "film look". Maksudnya adalah hasil rekam video yang berasa kayak film. Apa saja itu?
-Grain yang seolah kayak dari film seluloid
-24 fps frame rate kayak film di bioskop
-Motion blur kayak film bioskop
-Kadang juga aspect ratio anamorphic (lebar) disebut sebagai "kayak film"
Sudah jelas medium digital kurang bisa menyamai kualitas film yang memang sebuah teknologi fisik dan kimiawi. Makanya film look hanya bisa meniru-niru tampilan agar berkesan "kayak disyut pake film beneran". Semua hal itu coba ditiru dengan memakai efek dari software editing.
Film look sering menjadi hal yang diinginkan para filmmaker yang bermedium digital. Semisal saya sendiri, saya tak ingin kalau film saya terlalu "video banget". Salah satu artinya saya lebih ingin terlihat ada grain daripada "digital artifact" (pecah-pecah). Kesan yang ingin saya munculkan adalah kalo nonton film saya, rasanya udah kayak film bisokop gitu aja. Tentu saja jauh sekali kalo mau ingin kayak film beneran. Namanya juga seolah-olah... kayak Indomie rasa soto. Apa ya bisa menyamai soto beneran?
Terus bagaimana dengan cinematic wedding video?
Kurang lebih ya kayak gitu tadi. Video manten yang gambarnya (doang) ingin terlihat seakan film bioskop. Apakah ini sudah mencakupi istilah sejati dari CINEMATIC? ya jelas tidak.
Cinematic, dalam arti sesungguh dan selengkapnya, adalah kualitas yang dimiliki film sinema (motion pictures). Apa aja sih kualitas tersebut? Ada 2 yakni yang terlihat secara inderawi (audio visual) dan yang terasa secara intelektual (narative storytelling).
Yang terasa secara audio visual:
-Tata suara
-Tata cahaya
-Tata gambar (mencakup angle kamera dan gerakannya)
-Dekor
-Tata busana
-Dll
Yang terasa secara intelektual:
-Penuturan cerita (Storytelling)
-Editing
-Pesan-pesan
-Dll.
Jadi, cinematic yang sejati tak cuma video yang main slowmotion, pasang black bar dan musik-musik orkestra. So bolehkah menggunakan istilah "cinematic" buat video manten?
Ya emang siapa mau ngelarang sih? Hehehe... saya pribadi sih bukan CINEMA-NAZI yang memburu orang-orang cari duit dengan bikin what so called "cinematic wedding video". Apakah istilah yang mereka pakai musti dipertanggungjawabkan?
Menurut saya sih enggak. Istilah itu sudah berada dalam koridor "bahasa orang pasar", itu merupakan gimmick marketing daripada sebagai istilah sinematografi.
Bagaimanapun, weeding videography dan filmmaking adalah dua hal yang berbeda. Alat yang dipakai boleh sama. Kami para filmmaker murah memakai kamera fotografi buat bikin film, maka kalopun ntar ada wedding videographer mau makai kamera cinema pun ya so what? Hehehe.....
Yang membedakan kedua hal: baik cinematic yang emang bener istilah film dengan cinematic yang gimmick.... adalah sasarannya. Film itu ada konsumennya sendiri dan wedding videography apalagi. Udah beda bidang, beda pula isi kepala orang yang menggeluti kedua hal itu.
Begitulah sudut pandang saya, penyuka sinema.
My showreel:
Artikel ini adalah penyegaran untuk artikel saya yang lama: https://gugunekalaya.blogspot.com/2019/08/perbedaan-esensial-videografi-dan.html


Baca

PERBEDAAN ESENSIAL VIDEOGRAFI DAN SINEMATOGRAFI

(oleh Gugun Arief, “handmade” filmmaker)

MULAI DARI ALAT

Mari kita mulai dulu dari peralatan yang digunakan. Video dan film (sinema) berbeda secara fisik. Video adalah gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita lihat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat pemutar baru nongol gambarnya. Contohnya coba lihat pada kaset video. Kalau anda cabut pitanya, gambarnya nggak keliatan di sana. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita terawang pita film, gambarnya akan kelihatan. Untuk bisa menikmatinya sebagai produk akhir, dibutuhkan alat pemutar (projector) yang akan memproyeksikan gambar itu secara optik di layar. Itu tadi definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.


Teknologi video adalah perkembangan lanjutan dari teknologi film seluloid. Film sendiri pada mulanya berkembang dari teknologi fotografi. Makanya meski urusannya gambar bergerak istilah “Director of Photography” digunakan. Seorang sinematografer musti paham kaidah-kaidah dasar fotografi sekaligus juga menguasai teknik videografi (jika filmnya memakai teknologi video).

Beberapa orang membedakan secara lebih detail perbedaan sinematografer dengan director of photography. Tapi itu bukan bahasan saya di artikel ini. Yang jelas perkembangan teknologi berpengaruh banyak dalam cara kita mendefinisikan sinematografi nantinya. Sekarang ini definisi video dan film telah bergeser secara esensial. Ada wilayah-wilayah yang beririsan dan bisa saling dipakai satu sama lain. Seorang videografer pun bukan tak mungkin menjelajahi sinematografi dan sebaliknya. Banyak filmmaker yang berawal dari videografer.

Sudah tak terhindarkan lagi, teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya dibuat pakai film, sekarang banyak digantikan video. Film-film blockbuster yang anda tonton di bioskop banyak yang disyuting penuh menggunakan teknologi video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film.

ESENSI SINEMATOGRAFI

Secara umum, dalam kompetisi, lomba dan atau festifal film ada kategori sinematografi terbaik namun tidak ada kategori videografi terbaik. Kenapa? Karena sinematografi lebih kompleks dibandingkan dengan videografi.

Videografi adalah hal-hal mengenai produksi karya audio visual yang memakai teknologi video: kamera, komputer editing, audio dll. Praktisinya disebut sebagai videografer. Karya yang tercakup dalam kerjaan videografer antara lain: dokumentasi, video klip, company profile dll. Karya-karya tersebut memerlukan pemahaman teknis soal cara penggunaan kamera, olah gambar, editing, pencahayaan dll. Dengan demikian biasanya videografer bekerja dalam tim yang lebih kecil. Seringkali ia sendiri yang pegang kamera. Videografer tidak dipusingkan dengan naskah, storytelling, blocking dll.

Sinematografi adalah hal-hal mengenai tata audio visual sebuah film. Agar bisa paham apa cakupan sinematografi, kita musti pahami dulu apakah pengertian substansial dari film.

Film adalah karya audio visual yang bercerita lewat karakter dalam plot tertentu. Tak peduli teknologi yang dipakai, asalkan karya tersebut menceritakan sesuatu lewat karakter maka disebut sebagai film. Cerita adalah tulang punggung sebuah film.

Karena dalam membuat film diperlukan banyak orang yang spesifik mengurusi satu bagian tertentu maka terjadi pembagian kerja kreatif. Sinematografi adalah kerja kreatif khusus yang berhubungan dengan audio visual (suara dan gambar). Sinematografer adalah seorang profesional yang memimpin beberapa orang dengan spesifikasi kerjaan teknis khusus (kameraman, tukang lampu, audio dll.) bekerja dekat dengan sutradara membantu mewujudkan visinya. Ia menjadi perwakilan mata sang sutradara. Ia harus memahami cerita yang sedang difilmkan, detail emosi, detail nuansa dan sebagainya. Itu nanti yang akan menjadi bahannya untuk mengeksekusi konsep visual sesuai visi sutradara. Maka, menjadi sinematografer musti punya wawasan konseptual dan kemahiran visual sekaligus.

Sejak berkembangnya teknologi video, sinematografer pun sebagian berurusan dengan videografi. Kamera apa yang cocok untuk adegan tertentu, lampu apa yang digunakan untuk memunculkan mood tertentu, bagaimana nanti visual effect di post produksi bisa dilakukan lebih praktis dll. Jadi videografi dalam hal ini bisa menjadi bagian dari sinematografi, namun tidak sebaliknya. Kalau sinematografi lebih ke konsep dan eksekusi audio visual sebuah film. Videografi lebih membahas hal-hal yang teknis, spesifik soal teknologi rekam video.

SINEMATOGRAFI DI ERA KIDS DAN OM-OM JAMAN NOW

Ini adalah jaman yang kita syukuri karena teknologi video jadi sangat terjangkau dan semua bisa bikin film. Alternatif putar film pun tak cuma di ruang-ruang bioskop namun juga di platform internet. Maka tak heran banyak orang dengan modal kamera dan bisa ngedit video lantas bilang dirinya sinematografer. Saya tak bermasalah dengan hal ini. Karena sinematografi adalah soal mewujudkan visi, bukan sekadar alat atau tim seabreg. Teknologi bisa usang tapi kreativitas visual manusia terus berjalan. Anda tentu ingat, komputer yang dipakai untuk bikin Jurassic Park kalah canggih dengan komputer yang anda pakai saat ini. Kamera untuk syuting Gone with The Wind, udah nggak praktis dibanding dengan kamera jaman sekarang.

Orang mulai jarang mau repot-repot syuting dengan seluloid kecuali beberapa filmmaker fanatik macam Nolan dan Tarantino. Cara produksi pun tak melulu mengikuti kaidah baku karena perubahan teknologi memangkas banyak kerepotan. Dulu sinematografer mutlak dibantu banyak orang karena teknologinya nggak praktis. Jaman berubah. Kini teknologi memungkinkan satu orang bisa menjadi semuanya: sutradara, kameraman, sinematografer, editor dan bahkan komposer. Bagi saya hal ini nggak perlu diejek. Atau kalau anda sangat perlu bahan ejekan, ejeklah Robert Rodriguez hehehe. Dia lah pelopor istilah “one man crew”. Dia sangat benci kalo kameranya dipegang orang lain.

Pada akhirnya relevansi perbedaan sinematografi dan videografi adalah soal kemana karya kita diarahkan. Kalau anda enjoy dibayar mengabadikan pasangan prewedding, bikin video 5 menitan yang isinya slomo atau aerial drone shot, atau dapet duit dari bikin company profile, demen nyobain gear terbaru, suka ngobrolin alat-alat baru di grup Whatsapp maka mungkin videografi adalah dunia anda. Sedang bagi anda yang ingin mengolah konsep visual yang paling pas dengan narasi, bekerja dengan naskah, aktor dan setting, memutar film di festival atau bahkan bioskop, mungkin anda cocok dengan dunia sinematografi.

Terakhir… kalo anda terinspirasi oleh nama di bawah ini maka anda akan tahu lebih pas di mana.

SAM KOLDER!…videografi
ROGER DEAKINS!…sinematografi.

Sekian. Angkat kamera anda dan mulailah syuting samting
(oleh Gugun Arief, “handmade” filmmaker)

MULAI DARI ALAT

Mari kita mulai dulu dari peralatan yang digunakan. Video dan film (sinema) berbeda secara fisik. Video adalah gambar yang terekam secara magnetis atau digital dalam media rekam. Kalo kita lihat media rekamnya, nggak keliatan gambarnya. Diputer di alat pemutar baru nongol gambarnya. Contohnya coba lihat pada kaset video. Kalau anda cabut pitanya, gambarnya nggak keliatan di sana. Sedangkan film, gambar direkam oleh emulsi kimia peka cahaya. Kalau kita terawang pita film, gambarnya akan kelihatan. Untuk bisa menikmatinya sebagai produk akhir, dibutuhkan alat pemutar (projector) yang akan memproyeksikan gambar itu secara optik di layar. Itu tadi definisi paling gampang soal video dan film secara fisik.


Teknologi video adalah perkembangan lanjutan dari teknologi film seluloid. Film sendiri pada mulanya berkembang dari teknologi fotografi. Makanya meski urusannya gambar bergerak istilah “Director of Photography” digunakan. Seorang sinematografer musti paham kaidah-kaidah dasar fotografi sekaligus juga menguasai teknik videografi (jika filmnya memakai teknologi video).

Beberapa orang membedakan secara lebih detail perbedaan sinematografer dengan director of photography. Tapi itu bukan bahasan saya di artikel ini. Yang jelas perkembangan teknologi berpengaruh banyak dalam cara kita mendefinisikan sinematografi nantinya. Sekarang ini definisi video dan film telah bergeser secara esensial. Ada wilayah-wilayah yang beririsan dan bisa saling dipakai satu sama lain. Seorang videografer pun bukan tak mungkin menjelajahi sinematografi dan sebaliknya. Banyak filmmaker yang berawal dari videografer.

Sudah tak terhindarkan lagi, teknologi film sudah banyak digantikan video. Tontonan layar lebar yang dulunya dibuat pakai film, sekarang banyak digantikan video. Film-film blockbuster yang anda tonton di bioskop banyak yang disyuting penuh menggunakan teknologi video. Namun lucunya produknya sendiri masih disebut film.

ESENSI SINEMATOGRAFI

Secara umum, dalam kompetisi, lomba dan atau festifal film ada kategori sinematografi terbaik namun tidak ada kategori videografi terbaik. Kenapa? Karena sinematografi lebih kompleks dibandingkan dengan videografi.

Videografi adalah hal-hal mengenai produksi karya audio visual yang memakai teknologi video: kamera, komputer editing, audio dll. Praktisinya disebut sebagai videografer. Karya yang tercakup dalam kerjaan videografer antara lain: dokumentasi, video klip, company profile dll. Karya-karya tersebut memerlukan pemahaman teknis soal cara penggunaan kamera, olah gambar, editing, pencahayaan dll. Dengan demikian biasanya videografer bekerja dalam tim yang lebih kecil. Seringkali ia sendiri yang pegang kamera. Videografer tidak dipusingkan dengan naskah, storytelling, blocking dll.

Sinematografi adalah hal-hal mengenai tata audio visual sebuah film. Agar bisa paham apa cakupan sinematografi, kita musti pahami dulu apakah pengertian substansial dari film.

Film adalah karya audio visual yang bercerita lewat karakter dalam plot tertentu. Tak peduli teknologi yang dipakai, asalkan karya tersebut menceritakan sesuatu lewat karakter maka disebut sebagai film. Cerita adalah tulang punggung sebuah film.

Karena dalam membuat film diperlukan banyak orang yang spesifik mengurusi satu bagian tertentu maka terjadi pembagian kerja kreatif. Sinematografi adalah kerja kreatif khusus yang berhubungan dengan audio visual (suara dan gambar). Sinematografer adalah seorang profesional yang memimpin beberapa orang dengan spesifikasi kerjaan teknis khusus (kameraman, tukang lampu, audio dll.) bekerja dekat dengan sutradara membantu mewujudkan visinya. Ia menjadi perwakilan mata sang sutradara. Ia harus memahami cerita yang sedang difilmkan, detail emosi, detail nuansa dan sebagainya. Itu nanti yang akan menjadi bahannya untuk mengeksekusi konsep visual sesuai visi sutradara. Maka, menjadi sinematografer musti punya wawasan konseptual dan kemahiran visual sekaligus.

Sejak berkembangnya teknologi video, sinematografer pun sebagian berurusan dengan videografi. Kamera apa yang cocok untuk adegan tertentu, lampu apa yang digunakan untuk memunculkan mood tertentu, bagaimana nanti visual effect di post produksi bisa dilakukan lebih praktis dll. Jadi videografi dalam hal ini bisa menjadi bagian dari sinematografi, namun tidak sebaliknya. Kalau sinematografi lebih ke konsep dan eksekusi audio visual sebuah film. Videografi lebih membahas hal-hal yang teknis, spesifik soal teknologi rekam video.

SINEMATOGRAFI DI ERA KIDS DAN OM-OM JAMAN NOW

Ini adalah jaman yang kita syukuri karena teknologi video jadi sangat terjangkau dan semua bisa bikin film. Alternatif putar film pun tak cuma di ruang-ruang bioskop namun juga di platform internet. Maka tak heran banyak orang dengan modal kamera dan bisa ngedit video lantas bilang dirinya sinematografer. Saya tak bermasalah dengan hal ini. Karena sinematografi adalah soal mewujudkan visi, bukan sekadar alat atau tim seabreg. Teknologi bisa usang tapi kreativitas visual manusia terus berjalan. Anda tentu ingat, komputer yang dipakai untuk bikin Jurassic Park kalah canggih dengan komputer yang anda pakai saat ini. Kamera untuk syuting Gone with The Wind, udah nggak praktis dibanding dengan kamera jaman sekarang.

Orang mulai jarang mau repot-repot syuting dengan seluloid kecuali beberapa filmmaker fanatik macam Nolan dan Tarantino. Cara produksi pun tak melulu mengikuti kaidah baku karena perubahan teknologi memangkas banyak kerepotan. Dulu sinematografer mutlak dibantu banyak orang karena teknologinya nggak praktis. Jaman berubah. Kini teknologi memungkinkan satu orang bisa menjadi semuanya: sutradara, kameraman, sinematografer, editor dan bahkan komposer. Bagi saya hal ini nggak perlu diejek. Atau kalau anda sangat perlu bahan ejekan, ejeklah Robert Rodriguez hehehe. Dia lah pelopor istilah “one man crew”. Dia sangat benci kalo kameranya dipegang orang lain.

Pada akhirnya relevansi perbedaan sinematografi dan videografi adalah soal kemana karya kita diarahkan. Kalau anda enjoy dibayar mengabadikan pasangan prewedding, bikin video 5 menitan yang isinya slomo atau aerial drone shot, atau dapet duit dari bikin company profile, demen nyobain gear terbaru, suka ngobrolin alat-alat baru di grup Whatsapp maka mungkin videografi adalah dunia anda. Sedang bagi anda yang ingin mengolah konsep visual yang paling pas dengan narasi, bekerja dengan naskah, aktor dan setting, memutar film di festival atau bahkan bioskop, mungkin anda cocok dengan dunia sinematografi.

Terakhir… kalo anda terinspirasi oleh nama di bawah ini maka anda akan tahu lebih pas di mana.

SAM KOLDER!…videografi
ROGER DEAKINS!…sinematografi.

Sekian. Angkat kamera anda dan mulailah syuting samting
Baca

KULDESAK (1998), LAHIRNYA ERA BARU FILMMAKER INDONESIA

Dulu sebelum era reformasi dimulai, 1999 ke belakang, untuk jadi sutradara musti ikut aturan yang ribet. Aturan yang hierarkis dan mendewakan senioritas. Dikatakan kalo mo jadi sutradara tuh musti ikut aturan dulu. Dimulai jadi kru, astrada, nulis naskah dll (dengan jumlah frekuensi yang ditentukan) barulah seseorang "direstui" jadi sutradara. Dengan aturan ini, kamu-kamu yang "dudu sopo-sopo just like me" nggak bakal bisa gampang deh jadi sutradara. Belum lagi jaman yang mbahmu dibilang luwih penak itu, film berada dalam pengaturan departemen penerangan. Jadi kamu nggak bisa bikin film seenak udelmu.


KULDESAK, yang kalo dalam bahasa Prancisnya cul-de-sac berarti jalan buntu, sejatinya adalah film multi plot. Ada lebih dari satu kisah di film itu. Tiap plot disutradarai oleh orang berbeda, 4 filmmaker muda pada masanya (kalo sekarang ya udah Om-om) yakni Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Namun keempat plot itu tidak dipisah dalam segmen yang tegas melainkan "dijahit" dalam satu film utuh. Nyambung ato enggak terserah interpretasi kita yang nonton.

Plot pertama mengisahkan Dina (Oppie Andaresta) seorang penjaga loket bioskop. Dina terobsesi pada seniman host TV Max Mollo (Dik Doank) dan hidup ngekost bertetangga sama Budi (Hary Suharyadi) dan Yanto, sepasang gay.

Plot kedua mengisahkan Andre (Ryan Hidayat), seorang musisi yang slacker. Ortunya sugih, dia gak bakal kekurangan. Tapi dia ada krisis eksistensial yang parah. Idolanya adalah Kurt Cobain. Sahabatnya terdekat, selain kesepian, adalah Hariolus (Iwa K.). Hariolus adalah gelandangan yang hidup di emperan toko dan piara burung hantu. Ia selain nge-rap punya bakat ngeramal. Takdir Andre selain dipengaruhi oleh Kurt Cobain, juga dipengaruhi oleh ramalan si Harioulus ini.

Plot ketiga bercerita tentang Aksan (Wong Aksan), anak pengusaha rental Laser Disc yang berteman dengan karyawan rental bernama Din (Tio Pakusadewo). Aksan sangat pingin bikin film namun tak pernah dapat restu dari ortu. Ya kalo lu suka otak-atik gathuk, you will know that "ortu" stands for ORA RESTU. Aksan ini sangat melek film. Dia ngerti mulai dari Robert Rodriguez hingga Tarantino. Suatu ketika ia punya ide gila buat mendanai produksi film, sebelum akhirnya dikacaukan oleh genk "eksistensialis hedon" yang beranggotakan Sophia Latjuba, Bucek Deep dan Maya Lubis.

Plot keempat bercerita tentang Lina (Bianca Adinegoro), karyawati biro iklan yang kemudian menemukan sisi gelap dari bosnya (Toro Margens). Ketika ia terperosok dalam perangkap yang dipasang si bos, ia melakukan aksi vigilante menggunakan pistol seakan film Hongkong noir.

Keempat kisah ini tidak saling berhubungan kecuali sebagian besar peristiwanya mengambil waktu malam. Para sutradara ini konon membuat filmnya secara gerilya, karena cara produksi mereka memang menentang aturan yang udah established. tahun itu, 1998, perfilman nasional memang sudah di ambang kehancuran karena minimnya produksi dan industri tontonan televisi sedang berkembang. Jadi selain bisa disebut sebagai pelopor indie filmmaking Indonesia, bisa juga disebut sebagai generasi peralihan dari era sebelumnya.

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/
KULDESAK membawa penyegaran secara tematis. Mereka tak lagi mengangkat tema-tema klasik percintaan, jodoh tanpa restu, cita-cita yang terhalang dll. Film ini lebih berbau eksistensial karena mewakili "aura" pada jamannya. Era bangkitnya industri pop yang diwakili oleh musik dari MTV, musik grunge dari Nirvana, passion dan idealisme dll. Film ini juga memperlihatkan bahwa generasi filmmaker baru saat itu sudah melek dengan sinema non mainstream dunia seperti Pulp Fiction, El Mariachi, Natural Born Killers dll.

Bahkan jejak "Tarantinoesque" kentara banget di plot kisah Aksan. Lakon yang dikendalikan oleh dialog yang nyerocos sambil menyebut beberapa referensi film, ini sangat Tarantinoesque. Syukurlah dialog-dialognya ngalir dan enak didengerin. Sinematografi dan editing pun sudah meninggalkan gaya-gaya umum sineas "tua". Adegan malamnya mengingatkan pada film Taxi Driver. Penggunaan palet warnanya bahkan sudah mendahului In The Mood For Love, ini kalo saya boleh lebay sih. Penyembah Wong Kar Wai jangan ngamuk!

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/

Secara keseluruhan, mungkin tema yang dibawa film ini berkisar soal "pertaruhan" antara eksistensi dan sepi.

Karakter Andre dan Dina mewakili sepi.

Andre adalah anak wong sugih yang kesepian dan mengidolakan pop artist. Musik dari Ahmad Dani bahkan kentara sekali mengadopsi gaya dari artis yang diidolakan karakter Andre. Yakni lagu "Datanglah Sebagai Dirimu", merupakan semacam "penafsiran" ulang dari "Comes As You Are" karya Kurt Cobain.

Dina adalah gadis kesepian yang juga mengidolakan pop artist, berteman dengan manusia marjinal yang beda orientasi sexual.

Simak kata-kata Dina ketika ditanyain Budi (maaf kalo gak sama persis, berdasar ingatan aja):

"Kamu kalo kesepian ngapain?"

"Ya sepi. Sepi gitu aja..."

Sementara itu Aksan dan Lina mewakili eksistensi.

Aksan adalah anak wong sugih yang ingin eksis namun tak menemukan dukungan dari keluarga. Aksan bilang kalo gak bikin film dia ntar bisa mati dah. Ada semangat pembaruan juga ketika Din, temannya bilang bahwa dia jangan niru-niru Teguh Karya, Eros Djarot, Garin Nugroho dll.

Lina adalah gadis pemberontak di perusahaan yang membalas dendam pada bos yang ternyata lebih buruk dari perusahaan miliknya. Di sebuah rapat Lina mengkonfrontasi atasannya secara langsung. Seakan Lina tu mau bilang "Gue di sini bukan cuma jongos tauk."

KULDESAK sekilas mungkin terasa style over substance, apalagi dengan berani (dan cerdas) menggunakan idiom visual yang kurang dipakai oleh filmmaker sebelumnya. Musik-musik populer menghiasi sekujur film. Mirip pendekatan Tarantino di Pulp Fiction. KULDESAK tidak hendak bicara ide-ide besar soal negara dan bukan pula mau mengkritisi politik dengan cara tersamar sekalipun. Meski itu adalah tahun yang kalo pake istilah Bung Karno adalah "vivere pericoloso", tahun yang nyrempet bahaya. Film ini berusaha "hadir" begitu saja. Ini adalah film yang mungkin oleh generasi akhir 90an dikatakan sebagai film yang "gue banget". Era baru film Indonesia telah (dicoba) lahir. Maka saya pikir akan menjadi "wajib" kita mengenang film yang udah berusia 20 tahunan ini. Apalagi bagi filmmaker indie yang menjadikan gerilya sebagai jurus andalan.
Dulu sebelum era reformasi dimulai, 1999 ke belakang, untuk jadi sutradara musti ikut aturan yang ribet. Aturan yang hierarkis dan mendewakan senioritas. Dikatakan kalo mo jadi sutradara tuh musti ikut aturan dulu. Dimulai jadi kru, astrada, nulis naskah dll (dengan jumlah frekuensi yang ditentukan) barulah seseorang "direstui" jadi sutradara. Dengan aturan ini, kamu-kamu yang "dudu sopo-sopo just like me" nggak bakal bisa gampang deh jadi sutradara. Belum lagi jaman yang mbahmu dibilang luwih penak itu, film berada dalam pengaturan departemen penerangan. Jadi kamu nggak bisa bikin film seenak udelmu.


KULDESAK, yang kalo dalam bahasa Prancisnya cul-de-sac berarti jalan buntu, sejatinya adalah film multi plot. Ada lebih dari satu kisah di film itu. Tiap plot disutradarai oleh orang berbeda, 4 filmmaker muda pada masanya (kalo sekarang ya udah Om-om) yakni Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Namun keempat plot itu tidak dipisah dalam segmen yang tegas melainkan "dijahit" dalam satu film utuh. Nyambung ato enggak terserah interpretasi kita yang nonton.

Plot pertama mengisahkan Dina (Oppie Andaresta) seorang penjaga loket bioskop. Dina terobsesi pada seniman host TV Max Mollo (Dik Doank) dan hidup ngekost bertetangga sama Budi (Hary Suharyadi) dan Yanto, sepasang gay.

Plot kedua mengisahkan Andre (Ryan Hidayat), seorang musisi yang slacker. Ortunya sugih, dia gak bakal kekurangan. Tapi dia ada krisis eksistensial yang parah. Idolanya adalah Kurt Cobain. Sahabatnya terdekat, selain kesepian, adalah Hariolus (Iwa K.). Hariolus adalah gelandangan yang hidup di emperan toko dan piara burung hantu. Ia selain nge-rap punya bakat ngeramal. Takdir Andre selain dipengaruhi oleh Kurt Cobain, juga dipengaruhi oleh ramalan si Harioulus ini.

Plot ketiga bercerita tentang Aksan (Wong Aksan), anak pengusaha rental Laser Disc yang berteman dengan karyawan rental bernama Din (Tio Pakusadewo). Aksan sangat pingin bikin film namun tak pernah dapat restu dari ortu. Ya kalo lu suka otak-atik gathuk, you will know that "ortu" stands for ORA RESTU. Aksan ini sangat melek film. Dia ngerti mulai dari Robert Rodriguez hingga Tarantino. Suatu ketika ia punya ide gila buat mendanai produksi film, sebelum akhirnya dikacaukan oleh genk "eksistensialis hedon" yang beranggotakan Sophia Latjuba, Bucek Deep dan Maya Lubis.

Plot keempat bercerita tentang Lina (Bianca Adinegoro), karyawati biro iklan yang kemudian menemukan sisi gelap dari bosnya (Toro Margens). Ketika ia terperosok dalam perangkap yang dipasang si bos, ia melakukan aksi vigilante menggunakan pistol seakan film Hongkong noir.

Keempat kisah ini tidak saling berhubungan kecuali sebagian besar peristiwanya mengambil waktu malam. Para sutradara ini konon membuat filmnya secara gerilya, karena cara produksi mereka memang menentang aturan yang udah established. tahun itu, 1998, perfilman nasional memang sudah di ambang kehancuran karena minimnya produksi dan industri tontonan televisi sedang berkembang. Jadi selain bisa disebut sebagai pelopor indie filmmaking Indonesia, bisa juga disebut sebagai generasi peralihan dari era sebelumnya.

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/
KULDESAK membawa penyegaran secara tematis. Mereka tak lagi mengangkat tema-tema klasik percintaan, jodoh tanpa restu, cita-cita yang terhalang dll. Film ini lebih berbau eksistensial karena mewakili "aura" pada jamannya. Era bangkitnya industri pop yang diwakili oleh musik dari MTV, musik grunge dari Nirvana, passion dan idealisme dll. Film ini juga memperlihatkan bahwa generasi filmmaker baru saat itu sudah melek dengan sinema non mainstream dunia seperti Pulp Fiction, El Mariachi, Natural Born Killers dll.

Bahkan jejak "Tarantinoesque" kentara banget di plot kisah Aksan. Lakon yang dikendalikan oleh dialog yang nyerocos sambil menyebut beberapa referensi film, ini sangat Tarantinoesque. Syukurlah dialog-dialognya ngalir dan enak didengerin. Sinematografi dan editing pun sudah meninggalkan gaya-gaya umum sineas "tua". Adegan malamnya mengingatkan pada film Taxi Driver. Penggunaan palet warnanya bahkan sudah mendahului In The Mood For Love, ini kalo saya boleh lebay sih. Penyembah Wong Kar Wai jangan ngamuk!

dari laman https://www.day-for-night.org/aperture-kuldesak/

Secara keseluruhan, mungkin tema yang dibawa film ini berkisar soal "pertaruhan" antara eksistensi dan sepi.

Karakter Andre dan Dina mewakili sepi.

Andre adalah anak wong sugih yang kesepian dan mengidolakan pop artist. Musik dari Ahmad Dani bahkan kentara sekali mengadopsi gaya dari artis yang diidolakan karakter Andre. Yakni lagu "Datanglah Sebagai Dirimu", merupakan semacam "penafsiran" ulang dari "Comes As You Are" karya Kurt Cobain.

Dina adalah gadis kesepian yang juga mengidolakan pop artist, berteman dengan manusia marjinal yang beda orientasi sexual.

Simak kata-kata Dina ketika ditanyain Budi (maaf kalo gak sama persis, berdasar ingatan aja):

"Kamu kalo kesepian ngapain?"

"Ya sepi. Sepi gitu aja..."

Sementara itu Aksan dan Lina mewakili eksistensi.

Aksan adalah anak wong sugih yang ingin eksis namun tak menemukan dukungan dari keluarga. Aksan bilang kalo gak bikin film dia ntar bisa mati dah. Ada semangat pembaruan juga ketika Din, temannya bilang bahwa dia jangan niru-niru Teguh Karya, Eros Djarot, Garin Nugroho dll.

Lina adalah gadis pemberontak di perusahaan yang membalas dendam pada bos yang ternyata lebih buruk dari perusahaan miliknya. Di sebuah rapat Lina mengkonfrontasi atasannya secara langsung. Seakan Lina tu mau bilang "Gue di sini bukan cuma jongos tauk."

KULDESAK sekilas mungkin terasa style over substance, apalagi dengan berani (dan cerdas) menggunakan idiom visual yang kurang dipakai oleh filmmaker sebelumnya. Musik-musik populer menghiasi sekujur film. Mirip pendekatan Tarantino di Pulp Fiction. KULDESAK tidak hendak bicara ide-ide besar soal negara dan bukan pula mau mengkritisi politik dengan cara tersamar sekalipun. Meski itu adalah tahun yang kalo pake istilah Bung Karno adalah "vivere pericoloso", tahun yang nyrempet bahaya. Film ini berusaha "hadir" begitu saja. Ini adalah film yang mungkin oleh generasi akhir 90an dikatakan sebagai film yang "gue banget". Era baru film Indonesia telah (dicoba) lahir. Maka saya pikir akan menjadi "wajib" kita mengenang film yang udah berusia 20 tahunan ini. Apalagi bagi filmmaker indie yang menjadikan gerilya sebagai jurus andalan.
Baca

DUNIA PERFILMAN DALAM SUDUT JANGKAUAN FILMMAKER GERILYA

Produksi film itu adalah sebuah kesatuan dari 5 fase: -Development (saat kita merancang cerita untuk film) -Pra Produksi (saat kita mempersiapkan apapun untuk mewujudkan cerita itu jadi film) -Produksi (saat kita mengambil gambar film) -Pasca produksi (saat kita menyunting atau mengedit gambar agar menjadi kesatuan utuh audio visual bercerita) -Distribusi (saat kita menyampaikan hasil produksi ke publik atau market) Di dunia profesional rata-rata pola ini sudah "established" dan jaringannya "established". Sehingga memunculkan anggapan "orangnya itu-itu saja". Para pemain baru akan merapat di salah satu simpul jaringan untuk masuk ke establishment. Bagaimana dengan yang gerilya, indie, low budget dll? Senior saya (meski masih seumuran langkah dia lebih panjang daripada saya) mengatakan bahwa merapat ke simpul adalah wajib. Kekuatan jejaring adalah oksigen buat para pegiat perfilman. Dan jejaring yang established dipandang lebih "memudahkan". Sendirian kelayapan cari ikan di lautan, ibarat kata, bisa mampus!
Lantas gimana dengan yang masih di luar jejaring? Karena mungkin riak yang mereka ciptakan terlalu kecil untuk membasahi "celana-celana mereka yang sudah sampai di pelataran industri". Dalam pasar kreatif, supply on demand itu lebih berdasar value daripada fungsi intrinsik. Bahasa sederhananya "orang pingin nonton film karena suka, bukan karena lapar. Gak nonton film gak bakal mati". Jadi se-value apa film kita (yang di luar pagar) ini bisa dilirik jejaring? Senior saya (tak cuma seorang) menyarankan setidaknya 2 hal: -Magang sama senior (termasuk siap dengan potensi "sikut-sikutannya") -Raih recognition di luar (untuk kemudian masuk jejaring lokal) More about value. Dalam pasar film, sebenarnya tidak ada "bagus" yang sejati. Istilah yang lebih tepat mungkin "recognition". Selaras dengan nasihat senior saya, seorang seniman Istana Negara, karya yang bagus itu laku. Laku kadang bukan soal quality tapi recognition. Bagaimana kedua hal ini bis adipertukarkan? Ada ruang diskusi dan debat yang lebar untuk itu. Apa saja value sebuah film? Di pasar tradisional, film dijual lewat tiket dan profitnya melulu dari situ. Jaman berubah, kebutuhan berubah. Orang tak terlalu menginvestasikan duit dan waktu buat nonton film (apalagi setelah ditonton tak ada bekasnya). Filmmaker mulai memperluas value dengan menjual semua aspek dalam film. Ada merchandise, ada acara jumpa artis, ada promosi lokasi, ada space iklan dll. Lewat pintu-pintu itulah monetize dilakukan. Maka filmmaker selalu berjejaring dengan para investor yang gak cuma dari bidang film saja. Film itu ibaratnya teras rumah saja. Di era "big data" gini, nambah lagi jualannya. Yakni para penontonnya sendiri. Para investor mengembangkan aplikasi agar terus terkoneksi dengan minta masyarakat dan bagaimana mereka mengolahnya untuk dimanfaatkan oleh industri. Di sini peluang terbesar ada pada potensi iklan. Bicara hal gini levelnya udah di jejaring tinggi. Lantas bagaimana dengan filmmaker luar pagar yang maish berjuang di level eksistensi? Mereka tetap menjalin napas. Hanya saja skalanya tidak semasif industri. Mereka belum bisa bermain big data karena modal dan resource. Maka yang diandalkan adalah komunal yang skala lokalnya bisa 100 orang itu aja udah bagus. Rata-rata pola produksi komunitas akan habis napas begitu masuk fase distribusi. Semua sudah lelah (dan sebagian kapok) di fase produksi. Padahal di Indonesia, sistem yang bisa melindungi passion mereka ini belum cukup established. Adanya BEKRAF dan Pusbang Film mungkin merupakan angin segar buat mereka yang sevisi dengan mereka. Pertanyaan masih muncul. Bagaimana dengan film-film yang tidak menyuarakan "agenda kebudayaan" nasional? Peter Jackson bikin film zombie amoral tanpa mengusung budaya New Zealand tapi disupport oleh film council di sana. Mungkinkah itu terjadi di Indonesia? Saya belum tahu. Pemutaran gerilya rata-rata valuenya masih di level apresiasi, belum cukup bisa dimonetize. Cara-cara lain yang dipakai adalah bikin pelatihan/workshop, jualan merchandise komunitas misalnya kaos, tote bag, topi dll. Jika dimanage dengan bagus nampaknya ini lumayan buat nutupin sebagian ongkos produksi. Cara-cara kreatif lain terus digali karena hampir tidak mungkin mengandalkan tiket. Terlebih belum ada ruang baku untuk nonton film komunitas. Biaya operasional dengan potensi keuntungan susah diseimbangkan. Ada pertanyaan yang mendasar juga seputar gerakan indie ini. Apakah mereka cuma sarana menuju ke dalam jejaring yang lebih besar? Atau tetap di situ berjuang menggali segala potensinya? Di mata penonton umum, sesungguhnya batasan indie dan industri tidaklah jelas amat. Bioskop bukan lagi tolok ukur "masuk industri" karena toh yang indie pun bisa masuk bioskop. Dulu indie adalah untuk menyebut gerakan yang low budget dan tak tergantung pemodal besar. Filmnya punya karakteristik visual yang khas karena production value yang rendah. Kini produksi dengan label indie pun punya kualitas artistik yang cukup mewah. Selain itu juga lincah bergerak lintas jejaring dan menyembulkan nama mereka di dunia perfilman. Ini baru pembahasan soal sistemnya, belum soal kualitas substansialnya.
Produksi film itu adalah sebuah kesatuan dari 5 fase: -Development (saat kita merancang cerita untuk film) -Pra Produksi (saat kita mempersiapkan apapun untuk mewujudkan cerita itu jadi film) -Produksi (saat kita mengambil gambar film) -Pasca produksi (saat kita menyunting atau mengedit gambar agar menjadi kesatuan utuh audio visual bercerita) -Distribusi (saat kita menyampaikan hasil produksi ke publik atau market) Di dunia profesional rata-rata pola ini sudah "established" dan jaringannya "established". Sehingga memunculkan anggapan "orangnya itu-itu saja". Para pemain baru akan merapat di salah satu simpul jaringan untuk masuk ke establishment. Bagaimana dengan yang gerilya, indie, low budget dll? Senior saya (meski masih seumuran langkah dia lebih panjang daripada saya) mengatakan bahwa merapat ke simpul adalah wajib. Kekuatan jejaring adalah oksigen buat para pegiat perfilman. Dan jejaring yang established dipandang lebih "memudahkan". Sendirian kelayapan cari ikan di lautan, ibarat kata, bisa mampus!
Lantas gimana dengan yang masih di luar jejaring? Karena mungkin riak yang mereka ciptakan terlalu kecil untuk membasahi "celana-celana mereka yang sudah sampai di pelataran industri". Dalam pasar kreatif, supply on demand itu lebih berdasar value daripada fungsi intrinsik. Bahasa sederhananya "orang pingin nonton film karena suka, bukan karena lapar. Gak nonton film gak bakal mati". Jadi se-value apa film kita (yang di luar pagar) ini bisa dilirik jejaring? Senior saya (tak cuma seorang) menyarankan setidaknya 2 hal: -Magang sama senior (termasuk siap dengan potensi "sikut-sikutannya") -Raih recognition di luar (untuk kemudian masuk jejaring lokal) More about value. Dalam pasar film, sebenarnya tidak ada "bagus" yang sejati. Istilah yang lebih tepat mungkin "recognition". Selaras dengan nasihat senior saya, seorang seniman Istana Negara, karya yang bagus itu laku. Laku kadang bukan soal quality tapi recognition. Bagaimana kedua hal ini bis adipertukarkan? Ada ruang diskusi dan debat yang lebar untuk itu. Apa saja value sebuah film? Di pasar tradisional, film dijual lewat tiket dan profitnya melulu dari situ. Jaman berubah, kebutuhan berubah. Orang tak terlalu menginvestasikan duit dan waktu buat nonton film (apalagi setelah ditonton tak ada bekasnya). Filmmaker mulai memperluas value dengan menjual semua aspek dalam film. Ada merchandise, ada acara jumpa artis, ada promosi lokasi, ada space iklan dll. Lewat pintu-pintu itulah monetize dilakukan. Maka filmmaker selalu berjejaring dengan para investor yang gak cuma dari bidang film saja. Film itu ibaratnya teras rumah saja. Di era "big data" gini, nambah lagi jualannya. Yakni para penontonnya sendiri. Para investor mengembangkan aplikasi agar terus terkoneksi dengan minta masyarakat dan bagaimana mereka mengolahnya untuk dimanfaatkan oleh industri. Di sini peluang terbesar ada pada potensi iklan. Bicara hal gini levelnya udah di jejaring tinggi. Lantas bagaimana dengan filmmaker luar pagar yang maish berjuang di level eksistensi? Mereka tetap menjalin napas. Hanya saja skalanya tidak semasif industri. Mereka belum bisa bermain big data karena modal dan resource. Maka yang diandalkan adalah komunal yang skala lokalnya bisa 100 orang itu aja udah bagus. Rata-rata pola produksi komunitas akan habis napas begitu masuk fase distribusi. Semua sudah lelah (dan sebagian kapok) di fase produksi. Padahal di Indonesia, sistem yang bisa melindungi passion mereka ini belum cukup established. Adanya BEKRAF dan Pusbang Film mungkin merupakan angin segar buat mereka yang sevisi dengan mereka. Pertanyaan masih muncul. Bagaimana dengan film-film yang tidak menyuarakan "agenda kebudayaan" nasional? Peter Jackson bikin film zombie amoral tanpa mengusung budaya New Zealand tapi disupport oleh film council di sana. Mungkinkah itu terjadi di Indonesia? Saya belum tahu. Pemutaran gerilya rata-rata valuenya masih di level apresiasi, belum cukup bisa dimonetize. Cara-cara lain yang dipakai adalah bikin pelatihan/workshop, jualan merchandise komunitas misalnya kaos, tote bag, topi dll. Jika dimanage dengan bagus nampaknya ini lumayan buat nutupin sebagian ongkos produksi. Cara-cara kreatif lain terus digali karena hampir tidak mungkin mengandalkan tiket. Terlebih belum ada ruang baku untuk nonton film komunitas. Biaya operasional dengan potensi keuntungan susah diseimbangkan. Ada pertanyaan yang mendasar juga seputar gerakan indie ini. Apakah mereka cuma sarana menuju ke dalam jejaring yang lebih besar? Atau tetap di situ berjuang menggali segala potensinya? Di mata penonton umum, sesungguhnya batasan indie dan industri tidaklah jelas amat. Bioskop bukan lagi tolok ukur "masuk industri" karena toh yang indie pun bisa masuk bioskop. Dulu indie adalah untuk menyebut gerakan yang low budget dan tak tergantung pemodal besar. Filmnya punya karakteristik visual yang khas karena production value yang rendah. Kini produksi dengan label indie pun punya kualitas artistik yang cukup mewah. Selain itu juga lincah bergerak lintas jejaring dan menyembulkan nama mereka di dunia perfilman. Ini baru pembahasan soal sistemnya, belum soal kualitas substansialnya.
Baca

APAKAH BUDGET GEDE JAMINAN LARISNYA FILM SUPERHERO?

Akhir-akhir ini saya menantikan sebuah film superhero nasional. Bukan karena film itu tentang apa atau dengan budget berapa melainkan karena siapa yang duduk sebagai sutradara.

Memang susah mau ngelarang orang nyinyir sama film superhero nasional. Hingga saat ini belum ada film superhero yang begitu gegap gempita disambut sebagai film laris dan sekaligus critically acclaimed.


Laris dan critically acclaimed adalah dua hal yang ada tolok ukurnya. Maka saya gak pake istilah "bagus" di sini. Bagus itu relatif sesuai selera pribadi. Tapi kalau laris itu ada ukurannya, dan critically acclaimed itu ada ilmunya.

Menyangka bahwa budget besar adalah jaminan mutu sebuah film adalah hal yang konyol. Apalagi jika mengira kalau kualitas bisa dijamin dengan biaya mahal. Ada film berkualitas yang memang butuh biaya mahal, ada juga yang tidak. Biaya lebih berhubungan dengan teknis eksekusi dan resource daripada kualitas itu sendiri. Saya sering pakai perumpamaan...

"Kasihlah anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?"

Hal demikian juga berlaku soal perlunya CGI dan efek berbiaya mahal. Apakah film Gundala, misalnya, dijamin sukses jika pakai efek CGI mahal tapi sutradaranya adalah (seandainya) A'a Gatot Brajamusti?

Adalah benar bahwa CGI yang bagus butuh banyak resource dan skill. Itu mahal. Betul sekali. Tapi alih-alih menentukan kualitas film secara keseluruhan, itu hanyalah merupakan alat bantu tata tutur. Karena film bukanlah showreel CGI melainkan sebuah karya naratif audio visual. Mengenai apakah butuh CGI dan tidak, itu keputusan kreatif filmmakernya.

Kalau anda perlu data, tengok misalnya film-film berikut ini:

JOHN CARTER (2012). Production budget: $263 million. Rugi: $122 million. Budget itu lebih mahal dari film di tahun yang sama yakni THE AVENGERS. Budget $220 million, namun pendapatannya $1.519 billion.

Itu film Hollywood yang emang big budget karena industri di sana besar. Kita ambil contoh yang lokal ya...

RAFATHAR (2017). Budget hampir mencapai 15 milyar rupiah. 15 besar nasional aja nggak masuk. Bandingkan saja dengan THE RAID (2011) yang budgetnya juga 15-an milyar rupiah.

Belum lagi kita sebut DILAN 1990 (2018) yang budgetnya "cuma" 11 milyar rupiah (bukan dollar) namun pendapatannya 250 milyar rupiah. Bandingin sama AYAT-AYAT CINTA 2 yang budgetnya 16 milyar rupiah, tapi pendapatannya "cuma" 104 milyar rupiah.

Jadi, kualitas cerita lah yang dicari. Penonton tak peduli biaya sebesar apapun dikeluarkan. Mereka cuma peduli apakah film itu berhasil menarik hati atau tidak. Makanya untuk itu diperlukan penanggungjawab kreativitas yang tepat, yakni sutradara. Tapi sutradara juga tak bisa kepilih tanpa adanya produser yang punya visi, dan sutradara tak bisa bekerja tanpa penulis yang handal. Sekalipun ada sutradara handal, penulis juga handal tetap saja karya mereka tak akan terwujud maksimal jika tak ada aktor yang handal. Film itu kerja kolektif kolaboratif.

Dalam manajemen produksi film, orang-orang yang punya kuasa kreatif dalam memutuskan eksekusi film ini disebut sebagai "above-the-line". Mutu sebuah film ditentukan oleh para above the line ini. Di bawah mereka ada "below-the-line". Mereka ini kru-kru teknis yang bekerja mewujudkan visi orang-orang di above the line.

Budget gede tak menjamin kualitas film sebagaimana kamera mahal gak lantas bikin anda jago fotografi. Hubungan keduanya bukanlah kausatif melainkan fungsional. Budget gede diperlukan untuk disain produksi gede, kamera mahal diperlukan untuk konsep pemotretan yang mahal pula.

Sekarang kita berandai-andai lagi. Kasih anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?

Bisa saja asalkan si anak ngerti soal siapa yang musti ia pilih sebagai above the line. Misalnya, si anak duduk sebagai Executive Producer, lalu dia mempekerjakan produser yang profesional. Produser itu nanti akan menyarankan memilih sutradara yang handal untuk proyek itu. Dengan duit tadi, si anak SD juga bisa menyewa professional consultant untuk film marketing dan distribusinya.

Jadi ya nggak bisa duit 400 milyar itu dibagi-bagi teman sekelasnya trus beli kamera mahal buat syuting. Nggak sama kayak bikin tugas kelompok lho ya, juragan...

(foto dari: Kapanlagi.com/ jika foto ini milik anda hubungi saya kalau mau di-unpost)
Akhir-akhir ini saya menantikan sebuah film superhero nasional. Bukan karena film itu tentang apa atau dengan budget berapa melainkan karena siapa yang duduk sebagai sutradara.

Memang susah mau ngelarang orang nyinyir sama film superhero nasional. Hingga saat ini belum ada film superhero yang begitu gegap gempita disambut sebagai film laris dan sekaligus critically acclaimed.


Laris dan critically acclaimed adalah dua hal yang ada tolok ukurnya. Maka saya gak pake istilah "bagus" di sini. Bagus itu relatif sesuai selera pribadi. Tapi kalau laris itu ada ukurannya, dan critically acclaimed itu ada ilmunya.

Menyangka bahwa budget besar adalah jaminan mutu sebuah film adalah hal yang konyol. Apalagi jika mengira kalau kualitas bisa dijamin dengan biaya mahal. Ada film berkualitas yang memang butuh biaya mahal, ada juga yang tidak. Biaya lebih berhubungan dengan teknis eksekusi dan resource daripada kualitas itu sendiri. Saya sering pakai perumpamaan...

"Kasihlah anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?"

Hal demikian juga berlaku soal perlunya CGI dan efek berbiaya mahal. Apakah film Gundala, misalnya, dijamin sukses jika pakai efek CGI mahal tapi sutradaranya adalah (seandainya) A'a Gatot Brajamusti?

Adalah benar bahwa CGI yang bagus butuh banyak resource dan skill. Itu mahal. Betul sekali. Tapi alih-alih menentukan kualitas film secara keseluruhan, itu hanyalah merupakan alat bantu tata tutur. Karena film bukanlah showreel CGI melainkan sebuah karya naratif audio visual. Mengenai apakah butuh CGI dan tidak, itu keputusan kreatif filmmakernya.

Kalau anda perlu data, tengok misalnya film-film berikut ini:

JOHN CARTER (2012). Production budget: $263 million. Rugi: $122 million. Budget itu lebih mahal dari film di tahun yang sama yakni THE AVENGERS. Budget $220 million, namun pendapatannya $1.519 billion.

Itu film Hollywood yang emang big budget karena industri di sana besar. Kita ambil contoh yang lokal ya...

RAFATHAR (2017). Budget hampir mencapai 15 milyar rupiah. 15 besar nasional aja nggak masuk. Bandingkan saja dengan THE RAID (2011) yang budgetnya juga 15-an milyar rupiah.

Belum lagi kita sebut DILAN 1990 (2018) yang budgetnya "cuma" 11 milyar rupiah (bukan dollar) namun pendapatannya 250 milyar rupiah. Bandingin sama AYAT-AYAT CINTA 2 yang budgetnya 16 milyar rupiah, tapi pendapatannya "cuma" 104 milyar rupiah.

Jadi, kualitas cerita lah yang dicari. Penonton tak peduli biaya sebesar apapun dikeluarkan. Mereka cuma peduli apakah film itu berhasil menarik hati atau tidak. Makanya untuk itu diperlukan penanggungjawab kreativitas yang tepat, yakni sutradara. Tapi sutradara juga tak bisa kepilih tanpa adanya produser yang punya visi, dan sutradara tak bisa bekerja tanpa penulis yang handal. Sekalipun ada sutradara handal, penulis juga handal tetap saja karya mereka tak akan terwujud maksimal jika tak ada aktor yang handal. Film itu kerja kolektif kolaboratif.

Dalam manajemen produksi film, orang-orang yang punya kuasa kreatif dalam memutuskan eksekusi film ini disebut sebagai "above-the-line". Mutu sebuah film ditentukan oleh para above the line ini. Di bawah mereka ada "below-the-line". Mereka ini kru-kru teknis yang bekerja mewujudkan visi orang-orang di above the line.

Budget gede tak menjamin kualitas film sebagaimana kamera mahal gak lantas bikin anda jago fotografi. Hubungan keduanya bukanlah kausatif melainkan fungsional. Budget gede diperlukan untuk disain produksi gede, kamera mahal diperlukan untuk konsep pemotretan yang mahal pula.

Sekarang kita berandai-andai lagi. Kasih anak SD budget 400 milyar USD dan naskah asli Infinity War. Bisakah ia bikin dengan kualitas setara jika digarap oleh Russo Brothers?

Bisa saja asalkan si anak ngerti soal siapa yang musti ia pilih sebagai above the line. Misalnya, si anak duduk sebagai Executive Producer, lalu dia mempekerjakan produser yang profesional. Produser itu nanti akan menyarankan memilih sutradara yang handal untuk proyek itu. Dengan duit tadi, si anak SD juga bisa menyewa professional consultant untuk film marketing dan distribusinya.

Jadi ya nggak bisa duit 400 milyar itu dibagi-bagi teman sekelasnya trus beli kamera mahal buat syuting. Nggak sama kayak bikin tugas kelompok lho ya, juragan...

(foto dari: Kapanlagi.com/ jika foto ini milik anda hubungi saya kalau mau di-unpost)
Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved