Yang Terbaru

SEJARAH RINGKAS FILM INDEPENDEN DI INDONESIA DAN DI KAMPUNG SAYA - BAGIAN VIII (dari 13 bagian)

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================


 VIII. EXHIBISI FILM INDEPENDEN INDONESIA SEJAK TAHUN 1999 


FESTIVAL FILM

Pada tahun 1999 Departemen Penerangan dibubarkan oleh presiden Abdurrahman Wahid. Perfilman kemudian diawasi oleh Kementrian Negara Pariwisata dan Kebudayaan. Imbas dari hal ini adalah melonggarnya sensor negara berserta aturan birokratifnya. Maka otomatis ini dimanfaatkan para pegiat dan pemerhati film untuk bergerak. Yang profesional memproduksi film tanpa kekangan, sedangkan yang amatir mendirikan organisasi, komunitas dan ruang exhibisi film sebagai sarana edukasi alternatif.

Kita flashback sebentar ke masa orde baru. Bicara soal ruang ekshibisi film, di Indonesia didominasi oleh Festival Film Indonesia sejak tahun 1955. Pada tahun 1987 beberapa wartawan, pengamat film dan pemerhati Budaya mengorganisir Festival Film Bandung (FFB), yang kemudian diubah jadi Forum Film Bandung karena tekanan pemerintah. Kehadiran FFB menjadi wacana alternatif diluar FFI. FFI selama bertahun-tahun menjadi tolok ukur kemajuan perfilman Indonesia, yang mana digugat pada tahun 2006 karena skandal film "Ekskul" (Nayato Fio Nuala, 2006). Dengan demikian kehadiran wacana alternatif dirasa urgen demi perkembangan film nasional. Lantas siapakah yang paling awal menjawab kebutuhan ini?

Mulai tahun 1999, diadakanlah Festival Film Video Independen Indonesia (FFVII) yang kemudian berganti menjadi Festival Film Pendek Konfiden pada tahun 2006. Konfiden kemudian berbentuk Yayasan, membuka submisi untuk film-film independen yang diproduksi oleh siapapun di Indonesia, gratis dan diselenggarakan per tahun. Penyelenggaraan Konfiden tercatat pada tahun 1999, 2000, 2001, 2002, 2006, 2007, 2008, 2009 dan 2010. Sejak 2010 festival ini mengubah arah dari ekshibisi film menjadi pengarsipan yakni dengan dimulainya website Film Indonesia di filmindonesia.or.id

Di kurun awal pasca reformasi ini ada festival lain yang diselenggarakan oleh beragam pihak. Antara lain:

·         JiFFest (Jakarta International Film Festival) yang memutar film-film tak hanya dari Hollywood, tetapi juga negara asing lain, seperti Iran, Prancis, Belanda dan Jerman. JiFFest memfokuskan programnya untuk film-film alternatif. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia (MMFI) meskipun pendanaannya tidak mandiri. JiFFest yang awalnya mendapat donatur dari asing ini terus terselenggara hingga berhenti pada tahun 2010 karena masalah dana. 

·         Europe on Screen oleh Pusat Budaya Eropa, Lembaga Eropa dan Kedutaan Besar Eropa. Festival ini pada awalnya bernama European Film Festival (1999 dan 2003) dan merupakan bagian dari JiFFest (2004, 2005 dan 2006). Kemudian festival tersebut menggunakan nama Europe on Screen sejak 2007 dan diselenggarakan secara mandiri dari JiFFest. Berbeda dengan Festival Film Pendek Konfiden, Europe on Screen mengadakan roadshow pemutaran di beberapa kota di Indonesia seperti Medan, Bandung, Jogja, Surabaya dan Denpasar. Festival ini diselenggarakan setiap tahun dan hingga kini masih berlangsung. 

·         OK. Video — Jakarta International Video Festival (sekarang bernama OK.Video: Jakarta International Video Festival) yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa di Jakarta. OK. Video - Jakarta International Video Festival adalah festival seni video internasional pertama di Indonesia yang telah diselenggarakan sejak 2003 oleh Ruang Rupa, sebuah organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta. OK. Video membuka ruang bagi karya-karya yang membahas fenomena sosial dan budaya di Indonesia dan mancanegara dalam format festival bertema spesifik. 

·         LA Indie Movie, sebuah festival yang disponsori perusahaan rokok. Dimulai pada 2007 dibawah manajemen pimpinan Garin Nugroho. Festival ini juga memunculkan para aktor dan aktris yang memulai debut sebagai sutradara film pendek misalnya Ringo Agus Rahman, Wulan Guritno dan lain-lain. 

Untuk kategori, fokus dan genre yang lebih spesifik ada beberapa festivalnya, antara lain: 

·         Festival Film Animasi Indonesia (FFAI) diselenggarakan sejak 2001. Sesuai namanya festival ini khusus untuk kategori animasi dan bertaraf internasional. 

·         Q! Film Festival Jakarta diselenggarakan sejak 2002. Festival ini mengangkat dan mengkampanyekan wacana lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT). Diselenggarakan di Jakarta oleh Q-Munity. Diklamim sebagai festival terbesar di Asia untuk area fokus kampanyenya namun diselenggarakan secara tertutup karena sering menuai kontroversi. 

·         Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta diselenggarakan sejak 2002. Sesuai namanya, festival ini hanya menerima kategori dokumenter. Festival ini diselenggarakan oleh Komunitas Dokumenter. 

·         HelloFest Jakarta diselenggarakan sejak 2004. Digagas oleh HelloMotion Academy, sebuah sekolah singkat animasi. Awalnya festival ini memfokuskan pada kategori animasi, namun belakangan juga mencakup film live action. HelloFest memfokuskan pada popular culture sehingga festival ini memiliki banyak pengunjung. 

·         Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Jogjakarta diselenggarakan sejak 2006. JAFF bekerjasama dengan NETPAC (Network for The Promotion of Asian Cinema) yang berpusat di Srilanka. JAFF memfokuskan diri pada perkembangan film Asia. 

·         Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) diselenggarakan sejak 2007. Awalnya bernama ScreamfestIndo. Festival ini mengkhususkan pada genre fantastic (horror, thriller, sci-fi, anime dan fantasy). Kegiatan iNAFFF mendapat dukungan penuh dari brand rokok, diselenggarakan setiap tahun dengan menggandeng bioskop BlitzMegaplex di Bandung dan Jakarta. iNAFFF sudah tak terselenggara sejak 2011. 

Selain festival besar di level nasional dan internasional tersebut, ada banyak pula festival atau pemutaran film yang diselenggarakan oleh komunitas daerah dan kampus. Misalnya Festival Film Purbalingga, Festival Film Solo, Sewon Screening, Malang Film Festival, Festival Film Ponorogo (FEFO), Bali Documentary Film Festival, Moviement Film Festival Mataram NTB, Festival Film Cianjur, Festival Film Pelajar, Festival Film Lampung, Festival Film Kalimantan Barat dan lain sebagainya. Pendanaan festival macam ini lebih swadaya daripada festival yang besar tadi.

Peran media televisi juga tak bisa dilupakan. SCTV menyelenggarakan Festival Film Independen Indonesia (FFII) pada 2002 dan juga Indonesian Short Film Festival (ISFF) pada 2015. Global TV menyelenggarakan Global Indie Film Festival (GIFF) pada 2005. Metro TV menyelenggarakan Eagle Awards juga pada 2005. Festival-festival tersebut baik yang bertaraf internasional, lokal, on air atau off air menjadi ajang exhibisi bagi komunitas pembuat film independen yang mulai tumbuh.

Mulai mapannya platform internet membuat iklim perfilman makin mudah. Bahkan kini dikenal istilah "Youtuber", yakni orang yang menggunakan platform Youtube untuk berkarya. Tak sedikit para Youtuber ini kelak ikut dalam arus perfilman. Memiliki jumlah subscriber yang signifikan, membuat sang Youtuber punya posisi tawar untuk go industrial. Ini belum terjadi sebelumnya di mana dulu proses menemukan talent hanya dilakukan oleh produser resmi dan agensi. Tak semua orang bisa atau boleh jadi bintang. Internet mendorong banyak orang membuat film sendiri dan melakukan distribusi mandiri. Beberapa filmmaker yang berangkat dari Youtube misalnya Chandra Liow yang memulai debut film panjangnya "Bucin" (2020) setelah bertahun-tahun berkarya di Youtube, M. Amrul Ummami yang populer dengan film pendek "Cinta Subuh" (2014) yang kemudian membuat film panjang pertamanya "Mengejar Halal" (2017), Bayu Eko Moektito yang dikenal dengan nama Bayu Skak yang lewat serangkaian vlognya di Youtube kemudian mewujudkan "Yo Wis Ben" (2018) dan lain-lain. Novelis populer Raditya Dika juga mendistribusikan "Malam Minggu Miko" (2012), serial independennya lewat kanal Youtube sebelum ditayangkan oleh Kompas TV.

Platform internet juga menjadi ruang baru untuk festival online. Yang terkemuka adalah Piala Maya yang dipelopori oleh Hafiz Husni dengan direktur festivalnya Rangga Wisesa. Meski awalnya hanya merupakan aktivtitas memberikan pilihan film terbaik di Twitter, acara ini kemudian menjadi acara resmi offline sejak 15 Desember 2012 di Jakarta (lalu terpaksa online pada 2021 karena pandemi Covid-19). Media lokal, Liputan6.com menjuluki Piala Maya sebagai "Indonesian Golden Globe" (dengan berasumsi bahwa FFI adalah Indonesian Academy Awards). Penjurian dilakukan secara independen melibatkan lebih dari 200 orang yang kompeten di industri, akademisi dan para jurnalis. Piala Maya memiliki kategori yang tidak diselenggarakan oleh FFI atau jarang ada di festival lainnya. Misalnya ada kategori untuk Disain Poster Terpilih.

 


RUANG EKSHIBISI FILM ALTERNATIF

Kali ini kita singgung sedikit soal ekshibisi selain festival dan bioskop. Lembaga afiliasi asing seperti Institute Francais d'Indonesie (IFI) sudah sejak lama menyediakan ruang pemutaran film yang kerap diisi dengan pemutaran film independen. Di Taman Ismail Marzuki juga ada Kine Forum yang memutar film-film non komersil dengan jumlah kursi tak sebanyak bioskop reguler. Bagaimana dengan ruang yang dikelola secara mandiri (non pemerintah atau bukan organisasi)?

Di Bandung, Kineruku didirikan pada 29 Maret 2003 oleh Ariani Darmawan bersama rekannya Oky Kusprianto. Awalnya bernama Rumah Buku Kineruku yang pada Januari 2012 berubah menjadi Kineruku saja. Kineruku adalah kafe yang dilengkapi perpustakaan yang berisi buku-buku, musik dan film. Tempat ini juga dipakai untuk pemutaran dan diskusi film.

Di Yogyakarta, Kedai Kebun Forum (KKF) didirikan oleh pasangan Yustina Neni dan Agung Kurniawan sejak September 1996 sebagai sebuah restoran dan galeri alternatif. KKF memiliki ruang pertunjukkan yang dapat digunakan sebagai tempat pemutaran film, diskusi dan teater. Sementara itu ada juga Kinoki, sebuah rumah makan yang juga menjadi ruang kolektif film didirikan oleh Elida Tamalagi pada 2005. Kinoki juga memiliki ruang putar film alternatif. Kritikus film Adrian Pasaribu, Windu Jusuf dan Makbul Mubarak pada masa awal belajarnya sering menjadikan Kinoki tempat berkumpul dan berdiskusi. Kelak mereka mendirikan Cinema Poetica, media kritik film yang independen. Elida Tamalagi meninggal pada 13 September 2011 sehingga kegiatan di sini tak berlanjut lagi. Adrian Pasaribu menyebut Elida sebagai mentor yang mengajarinya literasi film. 

Sedikit sorotan khusus untuk Elida. Patricia Elida Tamalagi pernah menjadi programmer di Konfiden sejak tahun 2007. Elida terlibat sebagai produser, penata artistik, dan penanggung jawab pemain pada film "Kuda Laut" (2009). Film itu sempat diikutkan kompetisi SEA Shorts Program Cinemanila International Film Festival 2009. Pada tahun 2010, Elida mengikuti Berlinale Talent Campus, di Berlin, Jerman.

Di Jakarta beberapa ruang putar alternatif juga didirikan. Misalnya Paviliun 28 yang dikelola personal oleh Eugene Panji sejak Juni 2015 di Jakarta. Ruang putar ini menyatu dengan restoran dan kafe, kapasitasnya sekitar 40 orang. Di sini diputar film-film non arus utama dan juga jadi tempat berdiskusi. Mirip dengan Paviliun 28, ada lagi ruang putar di Jakarta dengan konsep serupa yakni Kinosaurus yang berdiri sejak Desember 2015. Kapasitasnya lebih kecil, 30an orang. Lewat organisasi yang menaunginya, Yayasan Cipta Citra, Kinosaurus yang dipelopori 4 orang ini (Muhammad Zaidy, Meiske Taurisia, Edwin, dan Adinda Simanjuntak) tak hanya sebagai tempat memutar film tapi juga untuk menyelenggarakan banyak program pengembangan perfilman. Sayangnya karena terbatasnya pendanaan, Kinosaurus harus beralih online untuk sementara waktu.

Di Makassar ada Rumata’ Artspace yang didirikan oleh Riri Riza dan Lili Yulianti Farid pada 18 Februari 2011. Rumata dijalankan secara independen dengan pendanaan yang sebagian besar berasal dari sumbangan publik. Ruang budaya ini memiliki galeri dan ruang pemutaran film. Program unggulan Rumata antara lain Makassar International Writers Festival dan Makassar-South East Asian Film Academy, atau yang lebih dikenal dengan sebutan SEAScreen.

Ruang-ruang putar alternatif tersebut berfungsi salah satunya memperpanjang rantai distribusi film independen.

(Kembali ke Bagian VI - VII)                                        (Bersambung ke Bagian IX)

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================


 VIII. EXHIBISI FILM INDEPENDEN INDONESIA SEJAK TAHUN 1999 


FESTIVAL FILM

Pada tahun 1999 Departemen Penerangan dibubarkan oleh presiden Abdurrahman Wahid. Perfilman kemudian diawasi oleh Kementrian Negara Pariwisata dan Kebudayaan. Imbas dari hal ini adalah melonggarnya sensor negara berserta aturan birokratifnya. Maka otomatis ini dimanfaatkan para pegiat dan pemerhati film untuk bergerak. Yang profesional memproduksi film tanpa kekangan, sedangkan yang amatir mendirikan organisasi, komunitas dan ruang exhibisi film sebagai sarana edukasi alternatif.

Kita flashback sebentar ke masa orde baru. Bicara soal ruang ekshibisi film, di Indonesia didominasi oleh Festival Film Indonesia sejak tahun 1955. Pada tahun 1987 beberapa wartawan, pengamat film dan pemerhati Budaya mengorganisir Festival Film Bandung (FFB), yang kemudian diubah jadi Forum Film Bandung karena tekanan pemerintah. Kehadiran FFB menjadi wacana alternatif diluar FFI. FFI selama bertahun-tahun menjadi tolok ukur kemajuan perfilman Indonesia, yang mana digugat pada tahun 2006 karena skandal film "Ekskul" (Nayato Fio Nuala, 2006). Dengan demikian kehadiran wacana alternatif dirasa urgen demi perkembangan film nasional. Lantas siapakah yang paling awal menjawab kebutuhan ini?

Mulai tahun 1999, diadakanlah Festival Film Video Independen Indonesia (FFVII) yang kemudian berganti menjadi Festival Film Pendek Konfiden pada tahun 2006. Konfiden kemudian berbentuk Yayasan, membuka submisi untuk film-film independen yang diproduksi oleh siapapun di Indonesia, gratis dan diselenggarakan per tahun. Penyelenggaraan Konfiden tercatat pada tahun 1999, 2000, 2001, 2002, 2006, 2007, 2008, 2009 dan 2010. Sejak 2010 festival ini mengubah arah dari ekshibisi film menjadi pengarsipan yakni dengan dimulainya website Film Indonesia di filmindonesia.or.id

Di kurun awal pasca reformasi ini ada festival lain yang diselenggarakan oleh beragam pihak. Antara lain:

·         JiFFest (Jakarta International Film Festival) yang memutar film-film tak hanya dari Hollywood, tetapi juga negara asing lain, seperti Iran, Prancis, Belanda dan Jerman. JiFFest memfokuskan programnya untuk film-film alternatif. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia (MMFI) meskipun pendanaannya tidak mandiri. JiFFest yang awalnya mendapat donatur dari asing ini terus terselenggara hingga berhenti pada tahun 2010 karena masalah dana. 

·         Europe on Screen oleh Pusat Budaya Eropa, Lembaga Eropa dan Kedutaan Besar Eropa. Festival ini pada awalnya bernama European Film Festival (1999 dan 2003) dan merupakan bagian dari JiFFest (2004, 2005 dan 2006). Kemudian festival tersebut menggunakan nama Europe on Screen sejak 2007 dan diselenggarakan secara mandiri dari JiFFest. Berbeda dengan Festival Film Pendek Konfiden, Europe on Screen mengadakan roadshow pemutaran di beberapa kota di Indonesia seperti Medan, Bandung, Jogja, Surabaya dan Denpasar. Festival ini diselenggarakan setiap tahun dan hingga kini masih berlangsung. 

·         OK. Video — Jakarta International Video Festival (sekarang bernama OK.Video: Jakarta International Video Festival) yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa di Jakarta. OK. Video - Jakarta International Video Festival adalah festival seni video internasional pertama di Indonesia yang telah diselenggarakan sejak 2003 oleh Ruang Rupa, sebuah organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta. OK. Video membuka ruang bagi karya-karya yang membahas fenomena sosial dan budaya di Indonesia dan mancanegara dalam format festival bertema spesifik. 

·         LA Indie Movie, sebuah festival yang disponsori perusahaan rokok. Dimulai pada 2007 dibawah manajemen pimpinan Garin Nugroho. Festival ini juga memunculkan para aktor dan aktris yang memulai debut sebagai sutradara film pendek misalnya Ringo Agus Rahman, Wulan Guritno dan lain-lain. 

Untuk kategori, fokus dan genre yang lebih spesifik ada beberapa festivalnya, antara lain: 

·         Festival Film Animasi Indonesia (FFAI) diselenggarakan sejak 2001. Sesuai namanya festival ini khusus untuk kategori animasi dan bertaraf internasional. 

·         Q! Film Festival Jakarta diselenggarakan sejak 2002. Festival ini mengangkat dan mengkampanyekan wacana lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT). Diselenggarakan di Jakarta oleh Q-Munity. Diklamim sebagai festival terbesar di Asia untuk area fokus kampanyenya namun diselenggarakan secara tertutup karena sering menuai kontroversi. 

·         Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta diselenggarakan sejak 2002. Sesuai namanya, festival ini hanya menerima kategori dokumenter. Festival ini diselenggarakan oleh Komunitas Dokumenter. 

·         HelloFest Jakarta diselenggarakan sejak 2004. Digagas oleh HelloMotion Academy, sebuah sekolah singkat animasi. Awalnya festival ini memfokuskan pada kategori animasi, namun belakangan juga mencakup film live action. HelloFest memfokuskan pada popular culture sehingga festival ini memiliki banyak pengunjung. 

·         Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Jogjakarta diselenggarakan sejak 2006. JAFF bekerjasama dengan NETPAC (Network for The Promotion of Asian Cinema) yang berpusat di Srilanka. JAFF memfokuskan diri pada perkembangan film Asia. 

·         Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) diselenggarakan sejak 2007. Awalnya bernama ScreamfestIndo. Festival ini mengkhususkan pada genre fantastic (horror, thriller, sci-fi, anime dan fantasy). Kegiatan iNAFFF mendapat dukungan penuh dari brand rokok, diselenggarakan setiap tahun dengan menggandeng bioskop BlitzMegaplex di Bandung dan Jakarta. iNAFFF sudah tak terselenggara sejak 2011. 

Selain festival besar di level nasional dan internasional tersebut, ada banyak pula festival atau pemutaran film yang diselenggarakan oleh komunitas daerah dan kampus. Misalnya Festival Film Purbalingga, Festival Film Solo, Sewon Screening, Malang Film Festival, Festival Film Ponorogo (FEFO), Bali Documentary Film Festival, Moviement Film Festival Mataram NTB, Festival Film Cianjur, Festival Film Pelajar, Festival Film Lampung, Festival Film Kalimantan Barat dan lain sebagainya. Pendanaan festival macam ini lebih swadaya daripada festival yang besar tadi.

Peran media televisi juga tak bisa dilupakan. SCTV menyelenggarakan Festival Film Independen Indonesia (FFII) pada 2002 dan juga Indonesian Short Film Festival (ISFF) pada 2015. Global TV menyelenggarakan Global Indie Film Festival (GIFF) pada 2005. Metro TV menyelenggarakan Eagle Awards juga pada 2005. Festival-festival tersebut baik yang bertaraf internasional, lokal, on air atau off air menjadi ajang exhibisi bagi komunitas pembuat film independen yang mulai tumbuh.

Mulai mapannya platform internet membuat iklim perfilman makin mudah. Bahkan kini dikenal istilah "Youtuber", yakni orang yang menggunakan platform Youtube untuk berkarya. Tak sedikit para Youtuber ini kelak ikut dalam arus perfilman. Memiliki jumlah subscriber yang signifikan, membuat sang Youtuber punya posisi tawar untuk go industrial. Ini belum terjadi sebelumnya di mana dulu proses menemukan talent hanya dilakukan oleh produser resmi dan agensi. Tak semua orang bisa atau boleh jadi bintang. Internet mendorong banyak orang membuat film sendiri dan melakukan distribusi mandiri. Beberapa filmmaker yang berangkat dari Youtube misalnya Chandra Liow yang memulai debut film panjangnya "Bucin" (2020) setelah bertahun-tahun berkarya di Youtube, M. Amrul Ummami yang populer dengan film pendek "Cinta Subuh" (2014) yang kemudian membuat film panjang pertamanya "Mengejar Halal" (2017), Bayu Eko Moektito yang dikenal dengan nama Bayu Skak yang lewat serangkaian vlognya di Youtube kemudian mewujudkan "Yo Wis Ben" (2018) dan lain-lain. Novelis populer Raditya Dika juga mendistribusikan "Malam Minggu Miko" (2012), serial independennya lewat kanal Youtube sebelum ditayangkan oleh Kompas TV.

Platform internet juga menjadi ruang baru untuk festival online. Yang terkemuka adalah Piala Maya yang dipelopori oleh Hafiz Husni dengan direktur festivalnya Rangga Wisesa. Meski awalnya hanya merupakan aktivtitas memberikan pilihan film terbaik di Twitter, acara ini kemudian menjadi acara resmi offline sejak 15 Desember 2012 di Jakarta (lalu terpaksa online pada 2021 karena pandemi Covid-19). Media lokal, Liputan6.com menjuluki Piala Maya sebagai "Indonesian Golden Globe" (dengan berasumsi bahwa FFI adalah Indonesian Academy Awards). Penjurian dilakukan secara independen melibatkan lebih dari 200 orang yang kompeten di industri, akademisi dan para jurnalis. Piala Maya memiliki kategori yang tidak diselenggarakan oleh FFI atau jarang ada di festival lainnya. Misalnya ada kategori untuk Disain Poster Terpilih.

 


RUANG EKSHIBISI FILM ALTERNATIF

Kali ini kita singgung sedikit soal ekshibisi selain festival dan bioskop. Lembaga afiliasi asing seperti Institute Francais d'Indonesie (IFI) sudah sejak lama menyediakan ruang pemutaran film yang kerap diisi dengan pemutaran film independen. Di Taman Ismail Marzuki juga ada Kine Forum yang memutar film-film non komersil dengan jumlah kursi tak sebanyak bioskop reguler. Bagaimana dengan ruang yang dikelola secara mandiri (non pemerintah atau bukan organisasi)?

Di Bandung, Kineruku didirikan pada 29 Maret 2003 oleh Ariani Darmawan bersama rekannya Oky Kusprianto. Awalnya bernama Rumah Buku Kineruku yang pada Januari 2012 berubah menjadi Kineruku saja. Kineruku adalah kafe yang dilengkapi perpustakaan yang berisi buku-buku, musik dan film. Tempat ini juga dipakai untuk pemutaran dan diskusi film.

Di Yogyakarta, Kedai Kebun Forum (KKF) didirikan oleh pasangan Yustina Neni dan Agung Kurniawan sejak September 1996 sebagai sebuah restoran dan galeri alternatif. KKF memiliki ruang pertunjukkan yang dapat digunakan sebagai tempat pemutaran film, diskusi dan teater. Sementara itu ada juga Kinoki, sebuah rumah makan yang juga menjadi ruang kolektif film didirikan oleh Elida Tamalagi pada 2005. Kinoki juga memiliki ruang putar film alternatif. Kritikus film Adrian Pasaribu, Windu Jusuf dan Makbul Mubarak pada masa awal belajarnya sering menjadikan Kinoki tempat berkumpul dan berdiskusi. Kelak mereka mendirikan Cinema Poetica, media kritik film yang independen. Elida Tamalagi meninggal pada 13 September 2011 sehingga kegiatan di sini tak berlanjut lagi. Adrian Pasaribu menyebut Elida sebagai mentor yang mengajarinya literasi film. 

Sedikit sorotan khusus untuk Elida. Patricia Elida Tamalagi pernah menjadi programmer di Konfiden sejak tahun 2007. Elida terlibat sebagai produser, penata artistik, dan penanggung jawab pemain pada film "Kuda Laut" (2009). Film itu sempat diikutkan kompetisi SEA Shorts Program Cinemanila International Film Festival 2009. Pada tahun 2010, Elida mengikuti Berlinale Talent Campus, di Berlin, Jerman.

Di Jakarta beberapa ruang putar alternatif juga didirikan. Misalnya Paviliun 28 yang dikelola personal oleh Eugene Panji sejak Juni 2015 di Jakarta. Ruang putar ini menyatu dengan restoran dan kafe, kapasitasnya sekitar 40 orang. Di sini diputar film-film non arus utama dan juga jadi tempat berdiskusi. Mirip dengan Paviliun 28, ada lagi ruang putar di Jakarta dengan konsep serupa yakni Kinosaurus yang berdiri sejak Desember 2015. Kapasitasnya lebih kecil, 30an orang. Lewat organisasi yang menaunginya, Yayasan Cipta Citra, Kinosaurus yang dipelopori 4 orang ini (Muhammad Zaidy, Meiske Taurisia, Edwin, dan Adinda Simanjuntak) tak hanya sebagai tempat memutar film tapi juga untuk menyelenggarakan banyak program pengembangan perfilman. Sayangnya karena terbatasnya pendanaan, Kinosaurus harus beralih online untuk sementara waktu.

Di Makassar ada Rumata’ Artspace yang didirikan oleh Riri Riza dan Lili Yulianti Farid pada 18 Februari 2011. Rumata dijalankan secara independen dengan pendanaan yang sebagian besar berasal dari sumbangan publik. Ruang budaya ini memiliki galeri dan ruang pemutaran film. Program unggulan Rumata antara lain Makassar International Writers Festival dan Makassar-South East Asian Film Academy, atau yang lebih dikenal dengan sebutan SEAScreen.

Ruang-ruang putar alternatif tersebut berfungsi salah satunya memperpanjang rantai distribusi film independen.

(Kembali ke Bagian VI - VII)                                        (Bersambung ke Bagian IX)

Baca

SEJARAH RINGKAS FILM INDEPENDEN DI INDONESIA DAN DI KAMPUNG SAYA - BAGIAN VI - VII (dari 13 bagian)

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================

 

VI. FILM EKSPERIMENTAL GOTOT PRAKOSA TAHUN 1970-AN

HINGGA GARIN NUGROHO TAHUN 1990-AN 

Setelah pergantian rezim dari orde lama ke orde baru, industri film Indonesia mulai dibanjiri film impor. Untuk mengimbangi derasnya persaingan tersebut, pemerintah sempat memberlakukan kewajiban produksi film bagi pengusaha importir film. Di sisi lain kontrol dilakukan oleh Departemen Penerangan (Deppen) yang berada di bawah koordinasi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam). Asosiasi didirikan agar pemerintah bisa mengawasi jika ada kecenderungan penyimpangan dari moralitas yang digariskan negara atau jika ada isu subversif.

Di masa ini untuk menjalani karir perfilman pun harus mengikuti aturan semisal aktor/aktris harus jadi anggota PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia), kru film harus jadi anggota KFT (Karyawan Film dan Televisi) dan produser harus masuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia). Lebih detail lagi, untuk menjadi sutradara harus dimulai dengan menjadi asisten selama minimal 4 kali. Belum lagi nanti keribetan di proses distribusi. Harus lulus sensor, harus mengisi sekurangnya 38 lembar formulir sebelum film diijinkan tayang secara publik. Belum lagi alur birokrasinya yang tak cukup satu instansi. Dalam aturan ketat ini, pada kurun 1970an hingga 1980an film nasional mencapai perkembangan puncaknya hingga kemudian terpuruk di tahun 1990an. Sumber daya perfilman kemudian dialokasikan di televisi sementara film-film eksploitatif masih mencoba bertahan di layar lebar.

Pada tahun 1974, Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Festival Film Mini di mana aturannya adalah film harus dibuat memakai seluloid 8mm. Populernya penggunaam seluloid 8mm melahirkan komunitas bernama Sinema 8 dimotori oleh Johan Teranggi dan Norman Benny. Komunitas ini secara simultan terus mengkampanyekan penggunaan seluloid 8mm sebagai media kreatif. Festival Film Mini tidak lagi diselenggarakan sejak tahun 1981 karena kekurangan dana.

Nama yang patut disebut juga dalam era ini adalah Gotot Prakosa. Gotot menyebut karyanya sebagai "film pinggiran" yakni independen dari arus utama industri. Gatot bereksperimen dengan animasi memakai seluloid bekas yang dilukisi. Filmnya yang pertama "Meta meta" dan "Impuls" (keduanya dibuat pada 1976) memakai pendekatan eksperimental non-naratif semata karena masalah terbatasnya fasilitas. Harga film seluloid mahal. Perlu kita singgung juga bahwa mentor dari Gotot, yakni D.A. Peransi mendirikan Kine Klub yang menjadi ruang diskusi dan eksperimentasi untuk ide-ide non arus utama. Ini melengkapi kebutuhan adanya ekosistem mikro untuk gerakan independen.

Karya Gotot Prakosa termasuk film independen Indonesia awal yang bisa menembus jejaring internasional. Yakni karena keikutsertaannya dalam Oberhausen International Film Festival, Jerman pada tahun 1984. Sepulang dari Jerman, Gotot dan kawan-kawan memulai gerakan komunal bernama Forum Film Pendek sebagai ajang diskusi antara pemerhati film lintas kampus. Forum ini berakhir pada 1986.

Gerakan independen ala Gotot Prakosa tidak bergaung dalam merespon situasi industri perfilman nasional. Perfilman nasional kemudian didominasi oleh film-film komedi slapstick dan film erotik yang makin lama memperparah terpuruknya industri karena buruknya kualitas produksi dan naratif. Bahkan untuk film erotik pun juga nanggung karena berurusan dengan gunting sensor. Kelirihan gaung ini mungkin karena karya Gotot hanya terbatas dibicarakan di kalangan elit terpelajar (mahasiswa film/seni). Di masa ini yang melek film rata-rata adalah kalau tidak wartawan ya orang yang sekolah film. Adapun media untuk bicara film terbatas hanya membicarakan film industri (dan kebanyakan film impor) misalnya majalah Ria Film, Tabloid Bintang, acara Apresiasi Film Nasional di TVRI, acara Cinema-Cinema di RCTI.

Di era 90an awal, ada sutradara muda mulai mencari gagasan baru dan memberontak dari kekangan aturan. Garin Nugroho menolak bergabung dengan asosiasi resmi (KFT) dan nekad menyutradarai "Cinta Dalam Sepotong Roti" (1991). Film ini memenangkan Piala Citra di FFI dan menginspirasi para filmmaker berikutnya untuk lebih berani. Meski begitu, pemberontakan atas status quo yang lebih terasa baru terjadi pada tahun 1998 dengan diproduksinya film "Kuldesak". 

 


VII. KULDESAK DAN GENERASI BARU

FILM INDONESIA PASCA REFORMASI 1998 

Kuldesak (1998) adalah sebuah film omnibus yang disutradarai oleh Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Menentang aturan yang bertahun-tahun dijalankan dalam asosiasi, mereka memproduksi film tanpa melewati jenjang yang baku. Pendanaan dan distribusinya pun dijalankan secara gerilya mengabaikan birokrasi yang ada. Secara teknis, filmmaker Kuldesak mulai merangkul kemajuan yang ada yakni penggunaan kamera video. Secara industri film ini menjadi signifikan karena menjadi film independen nasional pertama yang berhasil menembus jejaring bioskop besar, Cineplex 21.

Harus diingat bahwa pada masa Kuldesak perfilman nasional sedang mati suri. Menurut Lokadata.id, tercatat pada dekade ini produksi film nasional komersial hanya ada 332 film saja, padahal pada dekade 1980-an ada 723 film. Tahun 1998 dan 1999 kemerosotan itu mencapai titik nadir. Dalam periode dua tahun itu, hanya ada delapan film lokal yang masuk bioskop. Krisis ekonomi dan kekisruhan politik menjadi kendalanya. Kemudian sumber daya perfilman teralokasikan di pertelevisian yang mana sinetron merajai wahana tontonan di Indonesia. Imam Tantowi misalnya, sutradara "Saur Sepuh" itu kemudian menulis lebih untuk sinetron. Saat ini bioskop didominasi film impor, sedangkan televisi didominasi sinetron.

Kemunculan Kuldesak dan tumbangnya Orde Baru, memicu serangkaian gerakan pembangkitan perfilman nasional. Pada tahun 1999 sebuah manifesto ditandatangani 13 orang yang tergabung dalam kelompok I-sinema. Kelompok ini menandatangani sebuah manifesto yang agaknya mirip dengan gerakan Dogme 95 di Denmark. Saya membaca catatan peristiwa ini melalui tulisan Eric Sasono.

I-sinema dicetuskan di Jakarta pada 8 Oktober 1999 beranggotakan Riri Riza, Nan Achnas, Richard Buntario, Sentot Sahid, Mira Lesmana, Srikaton M, Enison Sinaro, Ipang Wahid, Teddy Soeriaatmadja, Dimas Djayadiningrat, Rizal Mantovani, Jay Subyakto dan Yato Fionuala. Manifesto tersebut intinya ingin membebaskan diri dari aturan yang sudah ada, mencari gaya artistik yang berbeda serta mencari terobosan cara produksi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Filmmaker dari I-sinema menghasilkan 5 buah film yakni "Sebuah Pertanyaan untuk Cinta" (Enison Sinaro, 2000), "Eliana Eliana" (Riri Riza, 2002), "Lima Sehat Empat Sempurna" (Richard Buntario, 2002), "Bendera" (Nan Achnas, 2002) dan "Titik Hitam" (Sentot Sahid, 2002). Mereka ini mewakili golongan independen dari kalangan profesional.

Selain kelompok tersebut beberapa film profesional ikut menempuh strategi distribusi independen antara lain adalah "Beth" (Aria Kusumadewa, 2000), "Bintang Jatuh" (Rudy Soedjarwo, 2000), "Satu Nyawa dalam Denting Lonceng Kecil" (Abiprasidi, 2002), "Pachinko and Everyone’s Happy" (Harry Suharyadi, 2000), "Novel Tanpa Huruf ‘R’" (Aria Kusumadewa, 2003), "Betina" (Lola Amaria, 2006), "cin(T)a" (Sammaria Simanjuntak, 2009) dan "Kita Versus Korupsi" (Lasja F. Susatyo, Ine Febrianti, Emil Heradi, Chairun Nisa, 2012).

Ada dua film yang menjadi ikon kebangkitan perfilman nasional setelah era Kuldesak yakni film "Petualangan Sherina" (Riri Riza, 2000) dan "Ada Apa Dengan Cinta" (Rudi Soedjarwo, 2000). Jika kita amati mulai era ini makin banyak tokoh film perempuan. Sederetan nama yang patut kita masukkan dalam amatan kritis antara lain adalah para sutradara perempuan visioner: Nia Dinata dengan "Arisan" (2003) yang juga produser untuk "Janji Joni" (2005), Lola Amaria dengan "Minggu pagi di Victoria Park" (2010) setelah sebelumnya menggarap "Betina" (2006). Mouly Surya yang kelak membuat "Marlina, Pembunuh Dalam Empat Babak" (2017) dan lain-lain.

Tak lupa juga beberapa produser perempuan visioner: Mira Lesmana yang mendirikan Miles Film, rumah produksi di balik "Petualangan Sherina" dan "Ada Apa Dengan Cinta", Meiske Taurisia yang memproduseri film karya Edwin, "Babi Buta yang Ingin Terbang" (2008) sekaligus pendiri Palari Films bersama Muhammad Zaidy, Sheila Timothy yang mendirikan Lifelike Pictures, memproduseri "Pintu Terlarang" (Joko Anwar, 2009) dan lain-lain.

Di masa ini masyarakat juga mulai mendapat akses film lewat menjamurnya rental video. Seingat saya, era reformasi hingga era 2000an akhir adalah masa emas bagi industri rental film. Saat itu platform audio visual di internet masih pada awal perkembangannya. Youtube, platform paling populer baru mulai pada 2005. Akan tetapi ada satu sisi gelap pada masa ini. Pembajakan juga marak terjadi salah satunya sebagai sampingan imbas menjamurnya usaha Warung Internet (Warnet). Tak bisa dipungkiri hal yang berdampak negatif bagi industri ini ikut membantu generasi independen awal jadi melek dengan sinema alternatif.

(Kembali ke Bagian IV - V)                                        (Bersambung ke Bagian VIII)

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================

 

VI. FILM EKSPERIMENTAL GOTOT PRAKOSA TAHUN 1970-AN

HINGGA GARIN NUGROHO TAHUN 1990-AN 

Setelah pergantian rezim dari orde lama ke orde baru, industri film Indonesia mulai dibanjiri film impor. Untuk mengimbangi derasnya persaingan tersebut, pemerintah sempat memberlakukan kewajiban produksi film bagi pengusaha importir film. Di sisi lain kontrol dilakukan oleh Departemen Penerangan (Deppen) yang berada di bawah koordinasi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam). Asosiasi didirikan agar pemerintah bisa mengawasi jika ada kecenderungan penyimpangan dari moralitas yang digariskan negara atau jika ada isu subversif.

Di masa ini untuk menjalani karir perfilman pun harus mengikuti aturan semisal aktor/aktris harus jadi anggota PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia), kru film harus jadi anggota KFT (Karyawan Film dan Televisi) dan produser harus masuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia). Lebih detail lagi, untuk menjadi sutradara harus dimulai dengan menjadi asisten selama minimal 4 kali. Belum lagi nanti keribetan di proses distribusi. Harus lulus sensor, harus mengisi sekurangnya 38 lembar formulir sebelum film diijinkan tayang secara publik. Belum lagi alur birokrasinya yang tak cukup satu instansi. Dalam aturan ketat ini, pada kurun 1970an hingga 1980an film nasional mencapai perkembangan puncaknya hingga kemudian terpuruk di tahun 1990an. Sumber daya perfilman kemudian dialokasikan di televisi sementara film-film eksploitatif masih mencoba bertahan di layar lebar.

Pada tahun 1974, Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Festival Film Mini di mana aturannya adalah film harus dibuat memakai seluloid 8mm. Populernya penggunaam seluloid 8mm melahirkan komunitas bernama Sinema 8 dimotori oleh Johan Teranggi dan Norman Benny. Komunitas ini secara simultan terus mengkampanyekan penggunaan seluloid 8mm sebagai media kreatif. Festival Film Mini tidak lagi diselenggarakan sejak tahun 1981 karena kekurangan dana.

Nama yang patut disebut juga dalam era ini adalah Gotot Prakosa. Gotot menyebut karyanya sebagai "film pinggiran" yakni independen dari arus utama industri. Gatot bereksperimen dengan animasi memakai seluloid bekas yang dilukisi. Filmnya yang pertama "Meta meta" dan "Impuls" (keduanya dibuat pada 1976) memakai pendekatan eksperimental non-naratif semata karena masalah terbatasnya fasilitas. Harga film seluloid mahal. Perlu kita singgung juga bahwa mentor dari Gotot, yakni D.A. Peransi mendirikan Kine Klub yang menjadi ruang diskusi dan eksperimentasi untuk ide-ide non arus utama. Ini melengkapi kebutuhan adanya ekosistem mikro untuk gerakan independen.

Karya Gotot Prakosa termasuk film independen Indonesia awal yang bisa menembus jejaring internasional. Yakni karena keikutsertaannya dalam Oberhausen International Film Festival, Jerman pada tahun 1984. Sepulang dari Jerman, Gotot dan kawan-kawan memulai gerakan komunal bernama Forum Film Pendek sebagai ajang diskusi antara pemerhati film lintas kampus. Forum ini berakhir pada 1986.

Gerakan independen ala Gotot Prakosa tidak bergaung dalam merespon situasi industri perfilman nasional. Perfilman nasional kemudian didominasi oleh film-film komedi slapstick dan film erotik yang makin lama memperparah terpuruknya industri karena buruknya kualitas produksi dan naratif. Bahkan untuk film erotik pun juga nanggung karena berurusan dengan gunting sensor. Kelirihan gaung ini mungkin karena karya Gotot hanya terbatas dibicarakan di kalangan elit terpelajar (mahasiswa film/seni). Di masa ini yang melek film rata-rata adalah kalau tidak wartawan ya orang yang sekolah film. Adapun media untuk bicara film terbatas hanya membicarakan film industri (dan kebanyakan film impor) misalnya majalah Ria Film, Tabloid Bintang, acara Apresiasi Film Nasional di TVRI, acara Cinema-Cinema di RCTI.

Di era 90an awal, ada sutradara muda mulai mencari gagasan baru dan memberontak dari kekangan aturan. Garin Nugroho menolak bergabung dengan asosiasi resmi (KFT) dan nekad menyutradarai "Cinta Dalam Sepotong Roti" (1991). Film ini memenangkan Piala Citra di FFI dan menginspirasi para filmmaker berikutnya untuk lebih berani. Meski begitu, pemberontakan atas status quo yang lebih terasa baru terjadi pada tahun 1998 dengan diproduksinya film "Kuldesak". 

 


VII. KULDESAK DAN GENERASI BARU

FILM INDONESIA PASCA REFORMASI 1998 

Kuldesak (1998) adalah sebuah film omnibus yang disutradarai oleh Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani. Menentang aturan yang bertahun-tahun dijalankan dalam asosiasi, mereka memproduksi film tanpa melewati jenjang yang baku. Pendanaan dan distribusinya pun dijalankan secara gerilya mengabaikan birokrasi yang ada. Secara teknis, filmmaker Kuldesak mulai merangkul kemajuan yang ada yakni penggunaan kamera video. Secara industri film ini menjadi signifikan karena menjadi film independen nasional pertama yang berhasil menembus jejaring bioskop besar, Cineplex 21.

Harus diingat bahwa pada masa Kuldesak perfilman nasional sedang mati suri. Menurut Lokadata.id, tercatat pada dekade ini produksi film nasional komersial hanya ada 332 film saja, padahal pada dekade 1980-an ada 723 film. Tahun 1998 dan 1999 kemerosotan itu mencapai titik nadir. Dalam periode dua tahun itu, hanya ada delapan film lokal yang masuk bioskop. Krisis ekonomi dan kekisruhan politik menjadi kendalanya. Kemudian sumber daya perfilman teralokasikan di pertelevisian yang mana sinetron merajai wahana tontonan di Indonesia. Imam Tantowi misalnya, sutradara "Saur Sepuh" itu kemudian menulis lebih untuk sinetron. Saat ini bioskop didominasi film impor, sedangkan televisi didominasi sinetron.

Kemunculan Kuldesak dan tumbangnya Orde Baru, memicu serangkaian gerakan pembangkitan perfilman nasional. Pada tahun 1999 sebuah manifesto ditandatangani 13 orang yang tergabung dalam kelompok I-sinema. Kelompok ini menandatangani sebuah manifesto yang agaknya mirip dengan gerakan Dogme 95 di Denmark. Saya membaca catatan peristiwa ini melalui tulisan Eric Sasono.

I-sinema dicetuskan di Jakarta pada 8 Oktober 1999 beranggotakan Riri Riza, Nan Achnas, Richard Buntario, Sentot Sahid, Mira Lesmana, Srikaton M, Enison Sinaro, Ipang Wahid, Teddy Soeriaatmadja, Dimas Djayadiningrat, Rizal Mantovani, Jay Subyakto dan Yato Fionuala. Manifesto tersebut intinya ingin membebaskan diri dari aturan yang sudah ada, mencari gaya artistik yang berbeda serta mencari terobosan cara produksi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Filmmaker dari I-sinema menghasilkan 5 buah film yakni "Sebuah Pertanyaan untuk Cinta" (Enison Sinaro, 2000), "Eliana Eliana" (Riri Riza, 2002), "Lima Sehat Empat Sempurna" (Richard Buntario, 2002), "Bendera" (Nan Achnas, 2002) dan "Titik Hitam" (Sentot Sahid, 2002). Mereka ini mewakili golongan independen dari kalangan profesional.

Selain kelompok tersebut beberapa film profesional ikut menempuh strategi distribusi independen antara lain adalah "Beth" (Aria Kusumadewa, 2000), "Bintang Jatuh" (Rudy Soedjarwo, 2000), "Satu Nyawa dalam Denting Lonceng Kecil" (Abiprasidi, 2002), "Pachinko and Everyone’s Happy" (Harry Suharyadi, 2000), "Novel Tanpa Huruf ‘R’" (Aria Kusumadewa, 2003), "Betina" (Lola Amaria, 2006), "cin(T)a" (Sammaria Simanjuntak, 2009) dan "Kita Versus Korupsi" (Lasja F. Susatyo, Ine Febrianti, Emil Heradi, Chairun Nisa, 2012).

Ada dua film yang menjadi ikon kebangkitan perfilman nasional setelah era Kuldesak yakni film "Petualangan Sherina" (Riri Riza, 2000) dan "Ada Apa Dengan Cinta" (Rudi Soedjarwo, 2000). Jika kita amati mulai era ini makin banyak tokoh film perempuan. Sederetan nama yang patut kita masukkan dalam amatan kritis antara lain adalah para sutradara perempuan visioner: Nia Dinata dengan "Arisan" (2003) yang juga produser untuk "Janji Joni" (2005), Lola Amaria dengan "Minggu pagi di Victoria Park" (2010) setelah sebelumnya menggarap "Betina" (2006). Mouly Surya yang kelak membuat "Marlina, Pembunuh Dalam Empat Babak" (2017) dan lain-lain.

Tak lupa juga beberapa produser perempuan visioner: Mira Lesmana yang mendirikan Miles Film, rumah produksi di balik "Petualangan Sherina" dan "Ada Apa Dengan Cinta", Meiske Taurisia yang memproduseri film karya Edwin, "Babi Buta yang Ingin Terbang" (2008) sekaligus pendiri Palari Films bersama Muhammad Zaidy, Sheila Timothy yang mendirikan Lifelike Pictures, memproduseri "Pintu Terlarang" (Joko Anwar, 2009) dan lain-lain.

Di masa ini masyarakat juga mulai mendapat akses film lewat menjamurnya rental video. Seingat saya, era reformasi hingga era 2000an akhir adalah masa emas bagi industri rental film. Saat itu platform audio visual di internet masih pada awal perkembangannya. Youtube, platform paling populer baru mulai pada 2005. Akan tetapi ada satu sisi gelap pada masa ini. Pembajakan juga marak terjadi salah satunya sebagai sampingan imbas menjamurnya usaha Warung Internet (Warnet). Tak bisa dipungkiri hal yang berdampak negatif bagi industri ini ikut membantu generasi independen awal jadi melek dengan sinema alternatif.

(Kembali ke Bagian IV - V)                                        (Bersambung ke Bagian VIII)

Baca

SEJARAH RINGKAS FILM INDEPENDEN DI INDONESIA DAN DI KAMPUNG SAYA - BAGIAN IV - V (dari 13 bagian)

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================


 IV. LATAR BELAKANG DI HINDIA BELANDA TAHUN 1900-AN 

Industri perfilman di Nusantara dimulai sejak tahun 1900, oleh orang-orang Belanda yang mendistribusikan film-film impor untuk ditonton  masyarakat elit di Hindia Belanda. Film "Loetoeng Kasaroeng" (L. Heuveldorp, 1926) dikatakan sebagai produksi film yang pertama dilakukan di bumi Nusantara oleh orang Belanda. Gelombang berikutnya, beberapa orang keturunan Cina mengambil peran dalam pengembangan perfilman di Nusantara yakni Nelson Wong dan kawan-kawan memproduksi film "Lily Van Java" (1928). Langkah ini disambung lagi oleh The Teng Chun yang memproduksi "Boenga Roes Dari Tjikembang" pada 1931 sehingga orang-orang keturunan Cina mendominasi perfilman nasional era itu. Kedatangan Jepang membuat situasi berubah karena perusahaan film dikuasai untuk memproduksi film propaganda perang. Orang Indonesia yang termasuk awal menjadi sutradara adalah Andjar Asmara dengan filmnya "Gadis Desa" (1949). Film tersebut menggunakan aktor dan tenaga lokal, termasuk di antaranya Usmar Ismail. Film Gadis Desa urung untuk disebut sebagai film nasional lantaran diproduksi oleh NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie) alias Belanda. Catatan menarik, istri Andjar bernama Ratna Asmara kelak menjadi sutradara perempuan pertama di Indonesia.

 


V. USMAR ISMAIL DENGAN PERFINI TAHUN 1950-AN

HINGGA KINE KLUB TAHUN 1960-AN 

Produksi yang benar-benar diakui sebagai karya Indonesia sendiri adalah baru pada 1950 ketika Usmar Ismail memproduksi "Darah dan Doa" lewat perusahannya sendiri, Perfini. Perfini adalah perusahaan asli Indonesia dibiayai secara patungan oleh kawan-kawan dan relasi Usmar Ismail sendiri. Adanya perfilman asli Indonesia mendapat sokongan dari rezim Sukarno karena jargon kebanggaan nasionalisme. Di era ini, film karya Usmar Ismail juga berkesempatan diputar di festival internasional. "Pedjuang" (1960), film yang ia sutradarai terseleksi di 2nd Moscow International Film Festival dimana aktornya Bambang Hermanto memenangkan Silver Prize untuk The Best Actor.

Usmar Ismail menjadi ikon bapak film Indonesia dan tanggal syuting film Darah dan Doa diperingati sebagai Hari Film Nasional setiap 30 Maret. Dalam konteks ini terminologi independen boleh lah mengacu pada independensi kedaulatan negara. Karena baru sejak era Perfini lah, Indonesia dikatakan mandiri dalam memproduksi filmnya sendiri setelah sebelumnya didominasi oleh perusahaan bermodal Belanda. Di tahun-tahun ini, setidaknya menurut apa yang tercatat, mulai muncul komunitas film yang disebut dengan "Kine Klub".

Menurut buku "Antarkota Antarlayar" terbitan Dewan Kesenian Jakarta, Adrian Jonathan Pasaribu menuliskan bahwa Kine klub paling awal adalah Liga Film Mahasiswa (LFM) di Universitas Indonesia (UI), Jakarta, pada 1950. Lima tahun kemudian, berdiri LFM di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang masih bertahan sampai sekarang. Lalu pada 1969, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membentuk Kine Klub Jakarta. Dengan sistem keanggotaan berbasis iuran, kegiatan Kine Klub milik DKJ tak banyak berbeda dengan kegiatan LFM di kampus-kampus — penayangan film lalu diskusi. Kine klub LFM ITB, nantinya turut merambah ke perekaman video dan fotografi, umumnya untuk kebutuhan dokumentasi kegiatan kampus. Tidak ada catatan terkait kegiatan produksi film di lingkar kine klub tersebut. Saat itu produksi film masih mengandalkan pita seluloid yang harganya mahal dan perangkat pengolahannya tidak tersedia umum. Satu dari sedikit lembaga yang punya akses ke perangkat produksi film adalah Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kelak akan menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

(Kembali ke Bagian I - III)                                        (Bersambung ke Bagian VI - VII)                                                                        

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================


 IV. LATAR BELAKANG DI HINDIA BELANDA TAHUN 1900-AN 

Industri perfilman di Nusantara dimulai sejak tahun 1900, oleh orang-orang Belanda yang mendistribusikan film-film impor untuk ditonton  masyarakat elit di Hindia Belanda. Film "Loetoeng Kasaroeng" (L. Heuveldorp, 1926) dikatakan sebagai produksi film yang pertama dilakukan di bumi Nusantara oleh orang Belanda. Gelombang berikutnya, beberapa orang keturunan Cina mengambil peran dalam pengembangan perfilman di Nusantara yakni Nelson Wong dan kawan-kawan memproduksi film "Lily Van Java" (1928). Langkah ini disambung lagi oleh The Teng Chun yang memproduksi "Boenga Roes Dari Tjikembang" pada 1931 sehingga orang-orang keturunan Cina mendominasi perfilman nasional era itu. Kedatangan Jepang membuat situasi berubah karena perusahaan film dikuasai untuk memproduksi film propaganda perang. Orang Indonesia yang termasuk awal menjadi sutradara adalah Andjar Asmara dengan filmnya "Gadis Desa" (1949). Film tersebut menggunakan aktor dan tenaga lokal, termasuk di antaranya Usmar Ismail. Film Gadis Desa urung untuk disebut sebagai film nasional lantaran diproduksi oleh NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie) alias Belanda. Catatan menarik, istri Andjar bernama Ratna Asmara kelak menjadi sutradara perempuan pertama di Indonesia.

 


V. USMAR ISMAIL DENGAN PERFINI TAHUN 1950-AN

HINGGA KINE KLUB TAHUN 1960-AN 

Produksi yang benar-benar diakui sebagai karya Indonesia sendiri adalah baru pada 1950 ketika Usmar Ismail memproduksi "Darah dan Doa" lewat perusahannya sendiri, Perfini. Perfini adalah perusahaan asli Indonesia dibiayai secara patungan oleh kawan-kawan dan relasi Usmar Ismail sendiri. Adanya perfilman asli Indonesia mendapat sokongan dari rezim Sukarno karena jargon kebanggaan nasionalisme. Di era ini, film karya Usmar Ismail juga berkesempatan diputar di festival internasional. "Pedjuang" (1960), film yang ia sutradarai terseleksi di 2nd Moscow International Film Festival dimana aktornya Bambang Hermanto memenangkan Silver Prize untuk The Best Actor.

Usmar Ismail menjadi ikon bapak film Indonesia dan tanggal syuting film Darah dan Doa diperingati sebagai Hari Film Nasional setiap 30 Maret. Dalam konteks ini terminologi independen boleh lah mengacu pada independensi kedaulatan negara. Karena baru sejak era Perfini lah, Indonesia dikatakan mandiri dalam memproduksi filmnya sendiri setelah sebelumnya didominasi oleh perusahaan bermodal Belanda. Di tahun-tahun ini, setidaknya menurut apa yang tercatat, mulai muncul komunitas film yang disebut dengan "Kine Klub".

Menurut buku "Antarkota Antarlayar" terbitan Dewan Kesenian Jakarta, Adrian Jonathan Pasaribu menuliskan bahwa Kine klub paling awal adalah Liga Film Mahasiswa (LFM) di Universitas Indonesia (UI), Jakarta, pada 1950. Lima tahun kemudian, berdiri LFM di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang masih bertahan sampai sekarang. Lalu pada 1969, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membentuk Kine Klub Jakarta. Dengan sistem keanggotaan berbasis iuran, kegiatan Kine Klub milik DKJ tak banyak berbeda dengan kegiatan LFM di kampus-kampus — penayangan film lalu diskusi. Kine klub LFM ITB, nantinya turut merambah ke perekaman video dan fotografi, umumnya untuk kebutuhan dokumentasi kegiatan kampus. Tidak ada catatan terkait kegiatan produksi film di lingkar kine klub tersebut. Saat itu produksi film masih mengandalkan pita seluloid yang harganya mahal dan perangkat pengolahannya tidak tersedia umum. Satu dari sedikit lembaga yang punya akses ke perangkat produksi film adalah Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kelak akan menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

(Kembali ke Bagian I - III)                                        (Bersambung ke Bagian VI - VII)                                                                        

Baca

SEJARAH RINGKAS FILM INDEPENDEN DI INDONESIA DAN DI KAMPUNG SAYA - BAGIAN I - III (dari 13 bagian)

(Bagian I - III) (Bagian IV - V) (Bagian VI - VII) (Bagian VIII) 

(Bagian IX) (Bagian X) (Bagian XI) (Bagian XII - XIII) 

==================================================================


DAFTAR PEMBAHASAN

PENGANTAR                                                                                                           

I. PENDAHULUAN: MASALAH DEFINISI                                                          

II. LATAR BELAKANG DI AMERIKA TAHUN 1908 HINGGA 1940-AN 

III. NEW HOLLYWOOD TAHUN 1950-AN

            HINGGA GERAKAN INDEPENDEN TAHUN 1990-AN                          

IV. LATAR BELAKANG DI HINDIA BELANDA TAHUN 1900-AN                

V. USMAR ISMAIL DENGAN PERFINI TAHUN 1950-AN

            HINGGA KINE KLUB TAHUN 1960-AN                                                  

VI. FILM EKSPERIMENTAL GOTOT PRAKOSA TAHUN 1970-AN

            HINGGA GARIN NUGROHO TAHUN 1990-AN                                      

VII. KULDESAK DAN GENERASI BARU

            FILM INDONESIA PASCA REFORMASI 1998                                        

VIII. EXHIBISI FILM INDEPENDEN INDONESIA SEJAK TAHUN 1999

            - FESTIVAL FILM                                                                                          

            - RUANG EXHIBISI FILM ALTERNATIF                                                   

IX. KOMUNITAS DAN INDIVIDU PERFILMAN INDEPENDEN

INDONESIA SEJAK TAHUN 1999

            - JAKARTA, JAWA BARAT DAN SEKITARNYA                                     

            - JAWA TENGAH, JOGJAKARTA DAN SEKITARNYA                           

            - JAWA TIMUR, BALI DAN SEKITARNYA                                               

            - KALIMANTAN, SULAWESI, PAPUA DAN SEKITARNYA                   

            - ACEH, SUMATRA DAN SEKITARNYA                                                   

            - FORUM KOMUNAL ONLINE                                                                   

X. SOROTAN KHUSUS: PENGARSIP FILM INDEPENDEN INDONESIA

XI. RESPON TERHADAP GERAKAN FILM INDEPENDEN INDONESIA

            - PEMERINTAH                                                                                              

            - LEMBAGA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN                                   

            - INDUSTRI                                                                                                     

            - MASYARAKAT                                                                                           

XII. WLINGIWOOD, RIAK KECIL GELIAT PERFILMAN INDEPENDEN

            DI KAMPUNG SAYA SENDIRI                                                                 

XIII. PENUTUP: SEBUAH KESIMPULAN                                                           

DAFTAR BACAAN                                                                                      


PENGANTAR 

Tulisan ini saya buat untuk memahamkan terutama pada diri sendiri, bagaimana pelaku perfilman independen Indonesia membentuk wajah perfilman nasional saat ini. Meskipun kecil sekali, saya merupakan bagian darinya. Saya membuat film sejak 2005 namun baru belajar mengenai ekosistem perfilman Indonesia sejak membuat tulisan ini. Ini bukan sebuah tulisan akademis yang layak. Saya menganggapnya sebagai semacam "coretan buku harian" untuk merayakan Bulan Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret. Jadi ini proyek pribadi semata.

Sumber tulisan ini sebagian besar dari penelusuran di internet yang sebisa mungkin saya cek silang antar situs. Jika mungkin dengan pelakunya, namun sayangnya saya tak banyak kenal orang-orang di ekosistem perfilman. Sebagian lain dari tulisan ini juga bersumber dari buku-buku yang saya baca terutama Seri Wacana Sinema diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Saya juga membaca beberapa skripsi, paper, esai dan artikel yang bisa saya temukan di internet. Terakhir, sebagian kecil (sekecil pengalaman saya) dari tulisan ini bersumber dari pengalaman saya pribadi yang mengalami masa kecil tahun 80an, jadi remaja di tahun 90an akhir dan mulai belajar film di tahun 2000an pertengahan. Saya mengamati peristiwa itu dan juga sedikit berinteraksi dengan beberapa orang yang bergerak di perfilman.

Di bagian ujung bab sebelum penutup nanti saya akan menulis mengenai sejarah komunitas saya sendiri. Tidak dengan niat membesar-besarkan perannya, apalagi kami memang terlalu kecil untuk masuk dalam catatan resmi sejarah perfilman Indonesia. Jadi ya siapa lagi kalau bukan saya sendiri yang mencatatnya? 

            Terimakasih saya ucapkan kepada:

·                             Johan Argono sahabat saya sewaktu bersama mendirikan Sanggar Saanane. Tanpa bermula di situ saya mungkin tak akan berkarya film di kota kecamatan ini. Anggota komunitas dan murid kami dari tiap angkatan sungguh membantu saya menapaki jalan film yang “pahit dan bergizi” ini.

·             Putera Iga Arrahma (Tera) yang melanjutkan saya jadi koordinator komunitas Wlingiwood Filmmakers. Wawasan perfilman independen lokalnya sangat jauh berkembang dan saya meminta masukan mengenai tokoh-tokoh yang perlu disebut di tulisan ini.

·                              Mbak Lulu Ratna yang telah memberikan soft copy buku-buku yang bisa saya baca.

·                   Wim Hof Method. Saya menulis ini selama kurang lebih seminggu dari pagi hingga malam. Mustahil saya tetap sehat tanpa menggunakan ilmu pernapasan ajaib ini.

·                         Individu-individu pelaku peristiwa yang pernah chat dan ngobrol sama saya. Beberapa informasi yang bukan berasal dari literatur adalah hasil dari chat dan ngobrol dengan mereka sebagai pelaku peristiwa misalnya Benny Kadarhariarto, Fauzan Abdillah, Betet Kunamsinam, Terry Tjung, Adri Addayuni, Adi Victory, Aris Prasetyo dan lain-lain.

·             Pihak-pihak yang tak tersebutkan, yang secara tak langsung membuat saya bisa merampungkan tulisan pendek ini.

          Salam dari Wlingiwood!

  

Wlingi, 30 Maret 2021


I. PENDAHULUAN: MASALAH DEFINISI 

Istilah independen adalah istilah ambigu dan selalu digunakan dalam konteks berbeda sepanjang sejarah perfilman. Pertanyaan mendasar yang perlu dilontarkan adalah independen versi mana? Independen dalam hal apa? Independen dari segi apa? 

·                         - Independen secara pendanaan?

·                         - Independen dari tekanan aspek kreatif oleh investor?

·                         - Independen dalam hal distribusi?

·                         - Independen dalam hal semangat?

·                         - Independen dalam hal gagasan? 

Pertanyaan ini perlu karena istilah "film independen", saya percaya, awalnya populer di Amerika (Hollywood) lalu digunakan dalam konteks yang berbeda di Indonesia. Jadi sebelum membicarakan soal film independen atau "indie" di Indonesia, kita perlu menelusurinya jauh ke belakang. Kita perlu melihat konteksnya di sejarah perfilman Amerika khususnya Hollywood.

  

II. LATAR BELAKANG DI AMERIKA TAHUN 1908 HINGGA 1940-AN 

Pada awalnya yang disebut dengan sinema independen adalah gerakan sekelompok pembuat film Amerika tahun 1908 yang ingin lari dari sebuah aturan bernama “Edison Trust”. Edison Trust adalah suatu perjanjian hukum yang dibuat oleh perusahaan milik Thomas Alfa Edison. Pada masa itu Edison menguasai banyak aspek yang berhubungan dengan film (mulai dari hak paten kamera hingga stok film). Untuk melindungi kepentingan bisnisnya, Edison mematenkan produknya sehingga siapapun yang bikin film memakai teknologinya harus membayar royalti kepadanya. Para pembuat film lain tidak suka terhadap aturan yang terlalu menguntungkan pihak Edison ini, sehingga mereka lari dari wilayah hukum dimana “Edison Trust” berlaku.

Para “pelarian” ini lalu menemukan Hollywood, sebuah wilayah di California yang menyambut ramah kedatangan para pembuat film. Makin lama Hollywood berkembang setelah para pembuat film lain ikut-ikutan pindah ke situ. Dari Hollywood dimulailah apa yang disebut “studio system”, sebuah sistem pembuatan film yang kemudian mapan menjadi cara yang dipakai oleh industri film di Amerika. Film-film yang mereka produksi kemudian dikenal dengan istilah film Hollywood. Puncak keemasan Hollywood menjadikan 5 studio besar berikut ini mendominasi produksi film Amerika alias Hollywood: Metro Goldwyn Meyer, RKO Pictures, Paramount Pictures, 20th Century Fox Studio dan Warner Bros. Film-film klasik seperti "Gone With The Wind" dan "Wizard of Oz" (keduanya disutradarai Victor Fleming dan rilis pada 1939) menjadi penanda era ini.

Bagaimanapun ada pihak yang tidak terima dengan kondisi ini. Studio system adalah sistem tertutup yang kemudian memonopoli semua aspek industri perfilman Amerika saat itu. Bikin film seperti pabrik, karyawan digaji tetap dan jenjang karir tidak mudah. Terdorong oleh masalah pembagian pendapatan secara adil, Charlie Chaplin, Douglas Fairbanks dan kawan-kawan mendirikan United Artists pada 1919 agar bisa independen dari studio system dalam mengatur hak-hak pendapatannya. Sementara 5 studio besar masih menjadi the major studio alias "The Big Five", United Artists bersama Universal Pictures dan Colombia menjadi "the major minors".  

Tahun 1941 The Society of Independent Motion Picture Producers (SIMPP) didirikan untuk melindungi dan memberi ruang gerak bagi para pekerja film dari studio system. SIMPP lalu mengajukan tuntutannya kepada pemerintah agar perusahan-perusahan besar di Hollywood tidak memonopoli gedung bioskop. Hal ini bertujuan agar biaya produksi film bisa lebih terjangkau dan selanjutnya biaya distribusi lebih murah. Tuntutan ini dikabulkan oleh pengadilan tinggi Amerika pada tahun 1948, yang kemudian melemahkan Studio System. Rupanya lemahnya Studio System berdampak luas pada melemahnya industri perfilman Amerika secara keseluruhan.

Di saat itu ada studio kecil yang membuat film dengan budget lebih rendah, pakai aktor yang tak terkenal dan hanya diputar di bioskop kelas dua di Amerika. Monogram Pictures Corporation (Allied Artists Pictures Corporation) meluncurkan "It Happened on Fifth Avenue" (1947) yang dimasukkan dalam kategori baru, "film kelas B". Seorang mantan pegawainya, Roger Corman meneruskan hal serupa hingga ia kelak dijuluki sebagai "bapak film kelas B". Roger Corman kelak menjadi mentor dari banyak filmmaker besar seperti Francis Ford Coppolla, Martin Scorsese, James Cameron dan lain-lain.

 

III. NEW HOLLYWOOD TAHUN 1950-AN

HINGGA GERAKAN INDEPENDEN TAHUN 1990-AN 

Gerakan French New Wave’s Art Cinema di Prancis pada kurun 1950 sampai 1960an membawa pengaruh ke mana-mana termasuk Amerika. Pendekatan yang lebih artistik dan personal memunculkan gagasan baru dalam bikin film. Film menjadi lebih realis, mendobrak hal-hal tabu dan mulai diperbincangkan sebagai karya seni.

Studio besar Hollywood yang terancam kolaps mulai beradaptasi dengan memakai sutradara muda baru. Mulailah era "New Hollywood". Ikon dari era ini antara lain film "Bonnie and Clyde" (Arthur Penn, 1967) dan "Easy Rider" (Dennis Hopper, 1969) yang selain dapat nominasi Oscar juga diputar di Cannes Film Festival. Juga aktor dan sutradara John Cassavetes yang mendapat nominasi Academy Award for Best Original Screenplay untuk film "Faces" (1968) serta Academy Award for Best Director untuk film "A Woman Under the Influence" (1974). The Independent Spirit Awards, salah satu festival film independen bergengsi di Amerika menamakan salah satu penghargaannya "the John Cassavetes Award" untuk menghormatinya.

Pada tahun 1978, Sterling Van Wagenen, Charles Gary Allison dab Robert Redford mendirikan Utah/US Film Festival sebagai ajang menampilkan film independen. Ini kelak menjadi cikal bakal Sundance Film Festival yang mendapat namanya secara resmi pada tahun 1991. Pada tahun 1992, Robert Rodriguez melalui filmnya "El Mariachi" berhasil menembus distribusi jalur mayor. Kesuksesan Robert Rodriguez membuatnya jadi ikon gerakan indie tahun 90an yang nanti akan berpengaruh ke Indonesia. Ciri dari gerakan sinema indie tahun ini adalah biasanya memakai kamera video analog yang kelak berkembang jadi digital pada tahun 2000-an.

Nah, sekarang mari membahas dinamika gerakan independen di Indonesia.

(Bersambung ke Bagian IV - V)


(Bagian I - III) (Bagian IV - V) (Bagian VI - VII) (Bagian VIII) 

(Bagian IX) (Bagian X) (Bagian XI) (Bagian XII - XIII) 

==================================================================


DAFTAR PEMBAHASAN

PENGANTAR                                                                                                           

I. PENDAHULUAN: MASALAH DEFINISI                                                          

II. LATAR BELAKANG DI AMERIKA TAHUN 1908 HINGGA 1940-AN 

III. NEW HOLLYWOOD TAHUN 1950-AN

            HINGGA GERAKAN INDEPENDEN TAHUN 1990-AN                          

IV. LATAR BELAKANG DI HINDIA BELANDA TAHUN 1900-AN                

V. USMAR ISMAIL DENGAN PERFINI TAHUN 1950-AN

            HINGGA KINE KLUB TAHUN 1960-AN                                                  

VI. FILM EKSPERIMENTAL GOTOT PRAKOSA TAHUN 1970-AN

            HINGGA GARIN NUGROHO TAHUN 1990-AN                                      

VII. KULDESAK DAN GENERASI BARU

            FILM INDONESIA PASCA REFORMASI 1998                                        

VIII. EXHIBISI FILM INDEPENDEN INDONESIA SEJAK TAHUN 1999

            - FESTIVAL FILM                                                                                          

            - RUANG EXHIBISI FILM ALTERNATIF                                                   

IX. KOMUNITAS DAN INDIVIDU PERFILMAN INDEPENDEN

INDONESIA SEJAK TAHUN 1999

            - JAKARTA, JAWA BARAT DAN SEKITARNYA                                     

            - JAWA TENGAH, JOGJAKARTA DAN SEKITARNYA                           

            - JAWA TIMUR, BALI DAN SEKITARNYA                                               

            - KALIMANTAN, SULAWESI, PAPUA DAN SEKITARNYA                   

            - ACEH, SUMATRA DAN SEKITARNYA                                                   

            - FORUM KOMUNAL ONLINE                                                                   

X. SOROTAN KHUSUS: PENGARSIP FILM INDEPENDEN INDONESIA

XI. RESPON TERHADAP GERAKAN FILM INDEPENDEN INDONESIA

            - PEMERINTAH                                                                                              

            - LEMBAGA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN                                   

            - INDUSTRI                                                                                                     

            - MASYARAKAT                                                                                           

XII. WLINGIWOOD, RIAK KECIL GELIAT PERFILMAN INDEPENDEN

            DI KAMPUNG SAYA SENDIRI                                                                 

XIII. PENUTUP: SEBUAH KESIMPULAN                                                           

DAFTAR BACAAN                                                                                      


PENGANTAR 

Tulisan ini saya buat untuk memahamkan terutama pada diri sendiri, bagaimana pelaku perfilman independen Indonesia membentuk wajah perfilman nasional saat ini. Meskipun kecil sekali, saya merupakan bagian darinya. Saya membuat film sejak 2005 namun baru belajar mengenai ekosistem perfilman Indonesia sejak membuat tulisan ini. Ini bukan sebuah tulisan akademis yang layak. Saya menganggapnya sebagai semacam "coretan buku harian" untuk merayakan Bulan Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret. Jadi ini proyek pribadi semata.

Sumber tulisan ini sebagian besar dari penelusuran di internet yang sebisa mungkin saya cek silang antar situs. Jika mungkin dengan pelakunya, namun sayangnya saya tak banyak kenal orang-orang di ekosistem perfilman. Sebagian lain dari tulisan ini juga bersumber dari buku-buku yang saya baca terutama Seri Wacana Sinema diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Saya juga membaca beberapa skripsi, paper, esai dan artikel yang bisa saya temukan di internet. Terakhir, sebagian kecil (sekecil pengalaman saya) dari tulisan ini bersumber dari pengalaman saya pribadi yang mengalami masa kecil tahun 80an, jadi remaja di tahun 90an akhir dan mulai belajar film di tahun 2000an pertengahan. Saya mengamati peristiwa itu dan juga sedikit berinteraksi dengan beberapa orang yang bergerak di perfilman.

Di bagian ujung bab sebelum penutup nanti saya akan menulis mengenai sejarah komunitas saya sendiri. Tidak dengan niat membesar-besarkan perannya, apalagi kami memang terlalu kecil untuk masuk dalam catatan resmi sejarah perfilman Indonesia. Jadi ya siapa lagi kalau bukan saya sendiri yang mencatatnya? 

            Terimakasih saya ucapkan kepada:

·                             Johan Argono sahabat saya sewaktu bersama mendirikan Sanggar Saanane. Tanpa bermula di situ saya mungkin tak akan berkarya film di kota kecamatan ini. Anggota komunitas dan murid kami dari tiap angkatan sungguh membantu saya menapaki jalan film yang “pahit dan bergizi” ini.

·             Putera Iga Arrahma (Tera) yang melanjutkan saya jadi koordinator komunitas Wlingiwood Filmmakers. Wawasan perfilman independen lokalnya sangat jauh berkembang dan saya meminta masukan mengenai tokoh-tokoh yang perlu disebut di tulisan ini.

·                              Mbak Lulu Ratna yang telah memberikan soft copy buku-buku yang bisa saya baca.

·                   Wim Hof Method. Saya menulis ini selama kurang lebih seminggu dari pagi hingga malam. Mustahil saya tetap sehat tanpa menggunakan ilmu pernapasan ajaib ini.

·                         Individu-individu pelaku peristiwa yang pernah chat dan ngobrol sama saya. Beberapa informasi yang bukan berasal dari literatur adalah hasil dari chat dan ngobrol dengan mereka sebagai pelaku peristiwa misalnya Benny Kadarhariarto, Fauzan Abdillah, Betet Kunamsinam, Terry Tjung, Adri Addayuni, Adi Victory, Aris Prasetyo dan lain-lain.

·             Pihak-pihak yang tak tersebutkan, yang secara tak langsung membuat saya bisa merampungkan tulisan pendek ini.

          Salam dari Wlingiwood!

  

Wlingi, 30 Maret 2021


I. PENDAHULUAN: MASALAH DEFINISI 

Istilah independen adalah istilah ambigu dan selalu digunakan dalam konteks berbeda sepanjang sejarah perfilman. Pertanyaan mendasar yang perlu dilontarkan adalah independen versi mana? Independen dalam hal apa? Independen dari segi apa? 

·                         - Independen secara pendanaan?

·                         - Independen dari tekanan aspek kreatif oleh investor?

·                         - Independen dalam hal distribusi?

·                         - Independen dalam hal semangat?

·                         - Independen dalam hal gagasan? 

Pertanyaan ini perlu karena istilah "film independen", saya percaya, awalnya populer di Amerika (Hollywood) lalu digunakan dalam konteks yang berbeda di Indonesia. Jadi sebelum membicarakan soal film independen atau "indie" di Indonesia, kita perlu menelusurinya jauh ke belakang. Kita perlu melihat konteksnya di sejarah perfilman Amerika khususnya Hollywood.

  

II. LATAR BELAKANG DI AMERIKA TAHUN 1908 HINGGA 1940-AN 

Pada awalnya yang disebut dengan sinema independen adalah gerakan sekelompok pembuat film Amerika tahun 1908 yang ingin lari dari sebuah aturan bernama “Edison Trust”. Edison Trust adalah suatu perjanjian hukum yang dibuat oleh perusahaan milik Thomas Alfa Edison. Pada masa itu Edison menguasai banyak aspek yang berhubungan dengan film (mulai dari hak paten kamera hingga stok film). Untuk melindungi kepentingan bisnisnya, Edison mematenkan produknya sehingga siapapun yang bikin film memakai teknologinya harus membayar royalti kepadanya. Para pembuat film lain tidak suka terhadap aturan yang terlalu menguntungkan pihak Edison ini, sehingga mereka lari dari wilayah hukum dimana “Edison Trust” berlaku.

Para “pelarian” ini lalu menemukan Hollywood, sebuah wilayah di California yang menyambut ramah kedatangan para pembuat film. Makin lama Hollywood berkembang setelah para pembuat film lain ikut-ikutan pindah ke situ. Dari Hollywood dimulailah apa yang disebut “studio system”, sebuah sistem pembuatan film yang kemudian mapan menjadi cara yang dipakai oleh industri film di Amerika. Film-film yang mereka produksi kemudian dikenal dengan istilah film Hollywood. Puncak keemasan Hollywood menjadikan 5 studio besar berikut ini mendominasi produksi film Amerika alias Hollywood: Metro Goldwyn Meyer, RKO Pictures, Paramount Pictures, 20th Century Fox Studio dan Warner Bros. Film-film klasik seperti "Gone With The Wind" dan "Wizard of Oz" (keduanya disutradarai Victor Fleming dan rilis pada 1939) menjadi penanda era ini.

Bagaimanapun ada pihak yang tidak terima dengan kondisi ini. Studio system adalah sistem tertutup yang kemudian memonopoli semua aspek industri perfilman Amerika saat itu. Bikin film seperti pabrik, karyawan digaji tetap dan jenjang karir tidak mudah. Terdorong oleh masalah pembagian pendapatan secara adil, Charlie Chaplin, Douglas Fairbanks dan kawan-kawan mendirikan United Artists pada 1919 agar bisa independen dari studio system dalam mengatur hak-hak pendapatannya. Sementara 5 studio besar masih menjadi the major studio alias "The Big Five", United Artists bersama Universal Pictures dan Colombia menjadi "the major minors".  

Tahun 1941 The Society of Independent Motion Picture Producers (SIMPP) didirikan untuk melindungi dan memberi ruang gerak bagi para pekerja film dari studio system. SIMPP lalu mengajukan tuntutannya kepada pemerintah agar perusahan-perusahan besar di Hollywood tidak memonopoli gedung bioskop. Hal ini bertujuan agar biaya produksi film bisa lebih terjangkau dan selanjutnya biaya distribusi lebih murah. Tuntutan ini dikabulkan oleh pengadilan tinggi Amerika pada tahun 1948, yang kemudian melemahkan Studio System. Rupanya lemahnya Studio System berdampak luas pada melemahnya industri perfilman Amerika secara keseluruhan.

Di saat itu ada studio kecil yang membuat film dengan budget lebih rendah, pakai aktor yang tak terkenal dan hanya diputar di bioskop kelas dua di Amerika. Monogram Pictures Corporation (Allied Artists Pictures Corporation) meluncurkan "It Happened on Fifth Avenue" (1947) yang dimasukkan dalam kategori baru, "film kelas B". Seorang mantan pegawainya, Roger Corman meneruskan hal serupa hingga ia kelak dijuluki sebagai "bapak film kelas B". Roger Corman kelak menjadi mentor dari banyak filmmaker besar seperti Francis Ford Coppolla, Martin Scorsese, James Cameron dan lain-lain.

 

III. NEW HOLLYWOOD TAHUN 1950-AN

HINGGA GERAKAN INDEPENDEN TAHUN 1990-AN 

Gerakan French New Wave’s Art Cinema di Prancis pada kurun 1950 sampai 1960an membawa pengaruh ke mana-mana termasuk Amerika. Pendekatan yang lebih artistik dan personal memunculkan gagasan baru dalam bikin film. Film menjadi lebih realis, mendobrak hal-hal tabu dan mulai diperbincangkan sebagai karya seni.

Studio besar Hollywood yang terancam kolaps mulai beradaptasi dengan memakai sutradara muda baru. Mulailah era "New Hollywood". Ikon dari era ini antara lain film "Bonnie and Clyde" (Arthur Penn, 1967) dan "Easy Rider" (Dennis Hopper, 1969) yang selain dapat nominasi Oscar juga diputar di Cannes Film Festival. Juga aktor dan sutradara John Cassavetes yang mendapat nominasi Academy Award for Best Original Screenplay untuk film "Faces" (1968) serta Academy Award for Best Director untuk film "A Woman Under the Influence" (1974). The Independent Spirit Awards, salah satu festival film independen bergengsi di Amerika menamakan salah satu penghargaannya "the John Cassavetes Award" untuk menghormatinya.

Pada tahun 1978, Sterling Van Wagenen, Charles Gary Allison dab Robert Redford mendirikan Utah/US Film Festival sebagai ajang menampilkan film independen. Ini kelak menjadi cikal bakal Sundance Film Festival yang mendapat namanya secara resmi pada tahun 1991. Pada tahun 1992, Robert Rodriguez melalui filmnya "El Mariachi" berhasil menembus distribusi jalur mayor. Kesuksesan Robert Rodriguez membuatnya jadi ikon gerakan indie tahun 90an yang nanti akan berpengaruh ke Indonesia. Ciri dari gerakan sinema indie tahun ini adalah biasanya memakai kamera video analog yang kelak berkembang jadi digital pada tahun 2000-an.

Nah, sekarang mari membahas dinamika gerakan independen di Indonesia.

(Bersambung ke Bagian IV - V)


Baca

ANXIETUS DOMICUPUS DI BALIK LAYAR (Catatan Sutradara)

MENCARI IDE

Dimulai sedari bulan oktober 2019, saya mengalami masalah dengan mood. Kondisi ini memuncak pada bulan Januari 2020. Mulai bulan Februari saya mulai kehilangan kesenangan pada hal-hal yang wajarnya sangat saya suka. Misalnya film. Saya tak begitu berselera menontonnya. Naluri saya mengatakan, jika film saja sudah tak menarik lagi, maka tak akan ada lagi hal lain yang bisa membangkitkan semangat saya. Sebelum ada himbauan karantina pun saya sudah mengurung diri berbulan-bulan. Sekuat hati saya paksakan tersenyum pada orang.

Kadang ada anak komunitas mampir, sedikit ngobrol ingin tahu saya lagi garap apa. Saya bilang, gak ada. Hari-hari saya isi dengan tidur dan latihan kanuragan. Tapi toh saya tetap gembrot karena banyak makan dan ngemil. Ketika ditanya apa saya mau bikin film lagi, saya bilang padanya: Mbok kamu produserin aku. Tentu dia bingung karena nggak punya duit. Saya bilang, "Sak nduwemu piro?" Bahkan kalo cuma ada 100 ribu aja saya mau jalan. Entah film macam apa itu nantinya.

Tiba-tiba saja, mulai ada keinginan bikin film lagi. Saya merindukan masa-masa syuting. Tahun lalu, sebelum pandemi dan sebelum depresi, kami bikin film yang seru. Kemudian saya merasa... Saya harus bikin film apapun agar semangat saya kembali pulih. Tapi film apa?

Pencarian ide dilakukan berdasarkan beberapa kriteria produksi sesuai kondisi yang selalu tim saya alami.

- Produksi maksimal 3 hari (terlalu banyak hari akan susah mengendalikan komitmen tim)
- Budget maksimal 500 ribu (masa pandemi susah cari uang, di mana pula nyarinya?)
- Kru maksimal 5 orang (kebanyakan kru saya sudah tinggal di luar kota)

Genre yang dipilih harus berdasar kriteria sesuai preferensi saya selaku produser:

- Monster movie durasi 5 - 10 menit (genre yang selalu ingin saya bikin)
- Harus bikin banyak orang suka (ini terlalu mengada-ada, saya tak bakat menyenangkan orang banyak)
- Membawa pesan relevan (tema pilihan: isu kesehatan mental dan internet)

Lalu hasil temuan ide:

- Dopamin dalam mie (karena saat depresi saya banyak makan mie instan)
- Tone film dark comedy (karena saya tak bisa bikin film yang di luar suasana hati)
- Genre ganti laga (kembali ke genre asal, lagipula bikin film monster tak ada dana cukup)

Bagaimana dengan biaya?

Ndilalah kok ada garapan yang kembali ngisi rekening. Alhamdulillah meskipun masih kurang kalo buat bikin film.

MENCARI PEMAIN

Saat ini komunitas film kami makin paceklik bakat. Kualitas anggota baru komunitas rata-rata menurun, kolaborator makin susah karena jarak dan kondisi baru mereka. Kolaborator lama ada yang pindah kota, menikah, berkembangbiak dan lain-lain sehingga agak susah mengikuti jadwal produksi. Pra produksi kami mulai akhir bulan Agustus 2020.


Kami dapatkan Angel, salah satu anggota baru, masih muda sekali baru kelas dua SMA. Dia tak nampak ada bakat aksi laga. Maka kami latih dia dalam waktu yang sangat singkat bahkan untuk aktor profesional, 6 hari! Saya hanya mengandalkan pengalaman dan sistem pelatihan yang saya ciptakan. Oh iya, selama masa mengurung diri saya menulis buku beladiri setebal 280an halaman agar otak tidak semakin depresif. Sebagian materi di dalamnya saya pakai untuk melatih koreografi film. Angel akan memerankan karakter utama, Dopaminus.

Pemain lainnya, Coklat udah langganan saya sejak 2010. Coklat baru menikah jadi udah lumayan sulit untuk mencari waktunya secara full. Paundra murid saya yang baru, langsung rekrut. Dia mahasiswa baru belum sibuk-sibuk amat. Produser eksekutif utamanya adalah Putera, karena saya punya hutang beberapa ratus ribu rupiah yang belum lunas. Putera baru lulus kuliah dan lagi nyari kerjaan. Ya udah saya todong jadi produser eksekutif ngerangkap kameramen. Urusan bayaran saya terapkan gali lubang tutup lubang dan untung dia setuju. Karena bikin VFX pedang sinar akan makan waktu, kami serahkan pada orang lain yakni Alif. Alif temannya Putera, suka edit-edit video dan robotika. Dia satu-satunya tim yang nggak pernah ketemu saya selama rangkaian produksi.

Tim kami total hanya 6 orang dan rencana syuting cuma punya waktu 3 hari. Budget membengkak, awalnya cuma 500an ribu belakangan dihitung film ini butuh setidaknya 5 jutaan. Ya udah hutang lagi... (sialan). Duit yang semula mau saya pakai mendanai film udah saya kerikiti secuil demi secuil untuk...beli cemilan. Saya beli cemilan macam Chitato atau wafer coklat, juga es krim nyaris tiap hari. Gila...Yah tapi demi kewarasan mental.

Sekarang dengan semakin mepetnya budget, kami peras lagi perencanaan pengeluaran biar makin irit. Lumayan... butuh 2 jutaan. 

MASA PRODUKSI

Bulan September 2020 produksi dimulai. Kami syuting di lingkungan sekitar, nggak pakai ijin karena toh receh sekali production valuenya. Sampai hari H ada satu peran yang belum fix dan terpaksa saya gantikan yakni karakter Endorfinus. Saya pakai kostum dari kelambu dan sarung bantal. Di post pro tampak memalukan, maka saya hapus semua frame berisi gambar saya. Saya ganti dengan puppet effect boneka gurita karet dalam robot kaleng. Tak ada waktu bikin animasi yang halus maka saya animasikan apa adanya.






Adegan laga, meski belum sempurna karena latihan cuma 6 hari, berjalan cukup lancar kecuali celana stuntfighter robek karena dipakai salto. Syuting berjalan sangat efektif dan ditonton anak-anak yang pulang mengaji dari langgar. Tetangga kami heran melihat ada orang pake kostum silat antah berantah. Produksi ini kadang saya rasa terlalu cepat sampai tak ada waktu buat merindukan suasana syuting.

POST PRODUKSI

Masih di bulan September 2020 post produksi dijalankan. Saat semua sudah bisa santai, saya sibuk di laptop siang malam. Kebetulan semua kerjaan saya (ngelatih, ngursusin dll) terhenti selama pandemi jadi saya bisa full time ngerjain film. Saya melakukan rotoscoping sendirian, memperbaiki gambar-gambar yang error dan mengutak-atik secara digital kekurangan yang ada. 


Animasi saya lakukan manual pakai aplikasi gratisan dari Playstore. Bukan aplikasi animasi, melainkan aplikasi ilustrasi digital. Ilustrasi itu nanti saya animasikan pakai software editing, bukan software animasi. Karena waktu yang terbatas, tak mungkin menganimasikan full frame. Jadi saya terapkan teknik dari anime Jepang, dua tiga gambar bisa ngisi beberapa sekuens frame.

Musik saya compose sendiri pakai digital sampling dan rekaman akustik. Kecuali musik penutup, saya ambil komposisi klasik yang saya aransemen ulang. Angel mengisi vokal, saya main musik akustiknya. Semua dilakukan secara remote dari rumah masing-masing.

DISTRIBUSI

Rencana awalnya film ini akan dibarengkan dengan peluncuran komik saya namun ternyata banyak kendalanya. Komik itu masih belum rampung sedangkan filmnya sudah beredar di festival. Pada bulan November 2020, Anxietus Domicupus masuk final di HelloFest ke 14 dan juga menyabet beberapa nominasi di Genflix Film Festival. Saya pribadi nggak berharap menang, karena itu film buat menanggulangi depresi saja, bukan dirancang untuk menang. Tujuan umum saya adalah selain ngobati psikis saya, juga agar film itu ditonton lebih banyak orang setidaknya penikmat film independen.

Kalau anda denger judulnya, Anxietus Domicupus (dibaca Angsietus Domikapus) sudah menyiratkan kandungan tematiknya: anxiety dan mie instan. Nggak ada hubungannya. Tapi selama anxiety saya banyak banget makan mie instan terutama yang cup noodles. Kebiasaan makan junk food rada berkurang setelah saya mulai latihan kanuragan lebih intens. Pengalaman itu saya bukukan tersendiri.


TENTANG FILM ANXIETUS DOMICUPUS

Dopaminus, seorang gadis pengidap kecemasan yang tinggal di sarkofagus terbang mendapat job mengantar barang ke Endorfinus, alien yang tinggal di planet mini. Di sana Dopaminus dibayang-bayangi oleh Rampokanus, anggota sekte berhaluan garis keras. Dopaminus menghajar mereka dalam pertarungan pedang. Sementara itu Dopaminus mencari jalan untuk meredakan kecemasannya.

Ini adalah sebuah tribute receh untuk Pink Floyd, Spaghetti Western, Star Wars, film Tampopo, film Cowboy Bebop dengan bumbu sedikit ludruk.
MENCARI IDE

Dimulai sedari bulan oktober 2019, saya mengalami masalah dengan mood. Kondisi ini memuncak pada bulan Januari 2020. Mulai bulan Februari saya mulai kehilangan kesenangan pada hal-hal yang wajarnya sangat saya suka. Misalnya film. Saya tak begitu berselera menontonnya. Naluri saya mengatakan, jika film saja sudah tak menarik lagi, maka tak akan ada lagi hal lain yang bisa membangkitkan semangat saya. Sebelum ada himbauan karantina pun saya sudah mengurung diri berbulan-bulan. Sekuat hati saya paksakan tersenyum pada orang.

Kadang ada anak komunitas mampir, sedikit ngobrol ingin tahu saya lagi garap apa. Saya bilang, gak ada. Hari-hari saya isi dengan tidur dan latihan kanuragan. Tapi toh saya tetap gembrot karena banyak makan dan ngemil. Ketika ditanya apa saya mau bikin film lagi, saya bilang padanya: Mbok kamu produserin aku. Tentu dia bingung karena nggak punya duit. Saya bilang, "Sak nduwemu piro?" Bahkan kalo cuma ada 100 ribu aja saya mau jalan. Entah film macam apa itu nantinya.

Tiba-tiba saja, mulai ada keinginan bikin film lagi. Saya merindukan masa-masa syuting. Tahun lalu, sebelum pandemi dan sebelum depresi, kami bikin film yang seru. Kemudian saya merasa... Saya harus bikin film apapun agar semangat saya kembali pulih. Tapi film apa?

Pencarian ide dilakukan berdasarkan beberapa kriteria produksi sesuai kondisi yang selalu tim saya alami.

- Produksi maksimal 3 hari (terlalu banyak hari akan susah mengendalikan komitmen tim)
- Budget maksimal 500 ribu (masa pandemi susah cari uang, di mana pula nyarinya?)
- Kru maksimal 5 orang (kebanyakan kru saya sudah tinggal di luar kota)

Genre yang dipilih harus berdasar kriteria sesuai preferensi saya selaku produser:

- Monster movie durasi 5 - 10 menit (genre yang selalu ingin saya bikin)
- Harus bikin banyak orang suka (ini terlalu mengada-ada, saya tak bakat menyenangkan orang banyak)
- Membawa pesan relevan (tema pilihan: isu kesehatan mental dan internet)

Lalu hasil temuan ide:

- Dopamin dalam mie (karena saat depresi saya banyak makan mie instan)
- Tone film dark comedy (karena saya tak bisa bikin film yang di luar suasana hati)
- Genre ganti laga (kembali ke genre asal, lagipula bikin film monster tak ada dana cukup)

Bagaimana dengan biaya?

Ndilalah kok ada garapan yang kembali ngisi rekening. Alhamdulillah meskipun masih kurang kalo buat bikin film.

MENCARI PEMAIN

Saat ini komunitas film kami makin paceklik bakat. Kualitas anggota baru komunitas rata-rata menurun, kolaborator makin susah karena jarak dan kondisi baru mereka. Kolaborator lama ada yang pindah kota, menikah, berkembangbiak dan lain-lain sehingga agak susah mengikuti jadwal produksi. Pra produksi kami mulai akhir bulan Agustus 2020.


Kami dapatkan Angel, salah satu anggota baru, masih muda sekali baru kelas dua SMA. Dia tak nampak ada bakat aksi laga. Maka kami latih dia dalam waktu yang sangat singkat bahkan untuk aktor profesional, 6 hari! Saya hanya mengandalkan pengalaman dan sistem pelatihan yang saya ciptakan. Oh iya, selama masa mengurung diri saya menulis buku beladiri setebal 280an halaman agar otak tidak semakin depresif. Sebagian materi di dalamnya saya pakai untuk melatih koreografi film. Angel akan memerankan karakter utama, Dopaminus.

Pemain lainnya, Coklat udah langganan saya sejak 2010. Coklat baru menikah jadi udah lumayan sulit untuk mencari waktunya secara full. Paundra murid saya yang baru, langsung rekrut. Dia mahasiswa baru belum sibuk-sibuk amat. Produser eksekutif utamanya adalah Putera, karena saya punya hutang beberapa ratus ribu rupiah yang belum lunas. Putera baru lulus kuliah dan lagi nyari kerjaan. Ya udah saya todong jadi produser eksekutif ngerangkap kameramen. Urusan bayaran saya terapkan gali lubang tutup lubang dan untung dia setuju. Karena bikin VFX pedang sinar akan makan waktu, kami serahkan pada orang lain yakni Alif. Alif temannya Putera, suka edit-edit video dan robotika. Dia satu-satunya tim yang nggak pernah ketemu saya selama rangkaian produksi.

Tim kami total hanya 6 orang dan rencana syuting cuma punya waktu 3 hari. Budget membengkak, awalnya cuma 500an ribu belakangan dihitung film ini butuh setidaknya 5 jutaan. Ya udah hutang lagi... (sialan). Duit yang semula mau saya pakai mendanai film udah saya kerikiti secuil demi secuil untuk...beli cemilan. Saya beli cemilan macam Chitato atau wafer coklat, juga es krim nyaris tiap hari. Gila...Yah tapi demi kewarasan mental.

Sekarang dengan semakin mepetnya budget, kami peras lagi perencanaan pengeluaran biar makin irit. Lumayan... butuh 2 jutaan. 

MASA PRODUKSI

Bulan September 2020 produksi dimulai. Kami syuting di lingkungan sekitar, nggak pakai ijin karena toh receh sekali production valuenya. Sampai hari H ada satu peran yang belum fix dan terpaksa saya gantikan yakni karakter Endorfinus. Saya pakai kostum dari kelambu dan sarung bantal. Di post pro tampak memalukan, maka saya hapus semua frame berisi gambar saya. Saya ganti dengan puppet effect boneka gurita karet dalam robot kaleng. Tak ada waktu bikin animasi yang halus maka saya animasikan apa adanya.






Adegan laga, meski belum sempurna karena latihan cuma 6 hari, berjalan cukup lancar kecuali celana stuntfighter robek karena dipakai salto. Syuting berjalan sangat efektif dan ditonton anak-anak yang pulang mengaji dari langgar. Tetangga kami heran melihat ada orang pake kostum silat antah berantah. Produksi ini kadang saya rasa terlalu cepat sampai tak ada waktu buat merindukan suasana syuting.

POST PRODUKSI

Masih di bulan September 2020 post produksi dijalankan. Saat semua sudah bisa santai, saya sibuk di laptop siang malam. Kebetulan semua kerjaan saya (ngelatih, ngursusin dll) terhenti selama pandemi jadi saya bisa full time ngerjain film. Saya melakukan rotoscoping sendirian, memperbaiki gambar-gambar yang error dan mengutak-atik secara digital kekurangan yang ada. 


Animasi saya lakukan manual pakai aplikasi gratisan dari Playstore. Bukan aplikasi animasi, melainkan aplikasi ilustrasi digital. Ilustrasi itu nanti saya animasikan pakai software editing, bukan software animasi. Karena waktu yang terbatas, tak mungkin menganimasikan full frame. Jadi saya terapkan teknik dari anime Jepang, dua tiga gambar bisa ngisi beberapa sekuens frame.

Musik saya compose sendiri pakai digital sampling dan rekaman akustik. Kecuali musik penutup, saya ambil komposisi klasik yang saya aransemen ulang. Angel mengisi vokal, saya main musik akustiknya. Semua dilakukan secara remote dari rumah masing-masing.

DISTRIBUSI

Rencana awalnya film ini akan dibarengkan dengan peluncuran komik saya namun ternyata banyak kendalanya. Komik itu masih belum rampung sedangkan filmnya sudah beredar di festival. Pada bulan November 2020, Anxietus Domicupus masuk final di HelloFest ke 14 dan juga menyabet beberapa nominasi di Genflix Film Festival. Saya pribadi nggak berharap menang, karena itu film buat menanggulangi depresi saja, bukan dirancang untuk menang. Tujuan umum saya adalah selain ngobati psikis saya, juga agar film itu ditonton lebih banyak orang setidaknya penikmat film independen.

Kalau anda denger judulnya, Anxietus Domicupus (dibaca Angsietus Domikapus) sudah menyiratkan kandungan tematiknya: anxiety dan mie instan. Nggak ada hubungannya. Tapi selama anxiety saya banyak banget makan mie instan terutama yang cup noodles. Kebiasaan makan junk food rada berkurang setelah saya mulai latihan kanuragan lebih intens. Pengalaman itu saya bukukan tersendiri.


TENTANG FILM ANXIETUS DOMICUPUS

Dopaminus, seorang gadis pengidap kecemasan yang tinggal di sarkofagus terbang mendapat job mengantar barang ke Endorfinus, alien yang tinggal di planet mini. Di sana Dopaminus dibayang-bayangi oleh Rampokanus, anggota sekte berhaluan garis keras. Dopaminus menghajar mereka dalam pertarungan pedang. Sementara itu Dopaminus mencari jalan untuk meredakan kecemasannya.

Ini adalah sebuah tribute receh untuk Pink Floyd, Spaghetti Western, Star Wars, film Tampopo, film Cowboy Bebop dengan bumbu sedikit ludruk.
Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved