Yang Terbaru

MENGARAHKAN AKTOR

Dalam mengarahkan aktor saya memberi gambaran soal latar belakang karakter yang mereka perankan. Mereka musti paham motivasi si karakter, pandangan hidup, pemikiran dan lain-lain. Kepada aktor, saya selalu menganjurkan riset atau melihat referensi.



Pada tahap awal aktor pemula cenderung membaca naskah sebagai teks belum sebagai narasi. Saya adalah sutradara yang lebih suka membebaskan aktor untuk menggali dialog mereka, memilih diksi paling nyaman untuk bahasa lisan. Tentu saja sejauh tidak menyimpang dari naskah atau garis besar akting yang saya pesan.

Aktor harus membuat dialognya sangat nyaman untuk ia ucapkan. Dengan begini akan mudah menghayati. Saya juga mengingatkan mereka tentang gesture yang sesuai. Akting selain dialog, juga berisi gesture. Setiap lirikan mata, gerak kepala, posisi badan, gerak tangan, kaki harus menjadi satu dengan akting sang aktor. Teori saya tidak muluk-muluk, pokoknya jangan sampai penonton memuji "aktingnya bagus!"...kalo gitu artinya kami gagal. Akting yang berhasil membuat penonton masuk ke cerita.

Ini nggak mudah. Beberapa kali bikin film saya belum merasakan akting yang pas. Tapi ini adalah latihan terus-menerus.

(Post pertama di Facebook 22 Oktober 2014) 

Dalam mengarahkan aktor saya memberi gambaran soal latar belakang karakter yang mereka perankan. Mereka musti paham motivasi si karakter, pandangan hidup, pemikiran dan lain-lain. Kepada aktor, saya selalu menganjurkan riset atau melihat referensi.



Pada tahap awal aktor pemula cenderung membaca naskah sebagai teks belum sebagai narasi. Saya adalah sutradara yang lebih suka membebaskan aktor untuk menggali dialog mereka, memilih diksi paling nyaman untuk bahasa lisan. Tentu saja sejauh tidak menyimpang dari naskah atau garis besar akting yang saya pesan.

Aktor harus membuat dialognya sangat nyaman untuk ia ucapkan. Dengan begini akan mudah menghayati. Saya juga mengingatkan mereka tentang gesture yang sesuai. Akting selain dialog, juga berisi gesture. Setiap lirikan mata, gerak kepala, posisi badan, gerak tangan, kaki harus menjadi satu dengan akting sang aktor. Teori saya tidak muluk-muluk, pokoknya jangan sampai penonton memuji "aktingnya bagus!"...kalo gitu artinya kami gagal. Akting yang berhasil membuat penonton masuk ke cerita.

Ini nggak mudah. Beberapa kali bikin film saya belum merasakan akting yang pas. Tapi ini adalah latihan terus-menerus.

(Post pertama di Facebook 22 Oktober 2014) 

Baca

Pengkhianatan G 30 S PKI, Sebuah Film Horor Politik Kosmik

 

Generasi kelahiran tahun 80-90an adalah generasi terakhir yang dibesarkan oleh TVRI. Tiap akhir September, TVRI punya ritual: memaksa orang-orang nonton film propaganda rejim (Suharto) yang berjudul Pengkhianatan G 30S PKI. TV swasta yang mulai makin mendominasi tontonan publik saat itu juga diwajibkan bersama-sama memutar film yang diproduksi pada tahun 1984 tersebut. Walhasil tak ada tontonan alternatif pada malam 30 september selain itu. Kami yang saat itu masih SD, diwajibkan menonton dan menulis rangkuman isi filmnya. Tugas ini diberikan setiap tahun yang filmnya sama.

Hasilnya, film ini sukses memberikan versi tunggal sejarah di benak masyarakat yang sekaligus membawa trauma psikologis bagi pribadi saya. Di tempat lahir saya, Blitar yang juga salah satu basis komunis pada masanya, orang-orang tua masih mengingat peristiwa 1965 seakan baru terjadi beberapa bulan saja. Ibu saya masih lancar menceritakan detail peristiwa yang ia alami di masa-masa itu. Hingga beberapa dekade Film Pengkhianatan G 30S PKI menjadi referensi utama mengenai sejarah resmi peristiwa 1965 di masyarakat.

Yang menarik bagi saya, negara yang diwakili oleh PPFN dengan produser G. Dwipayana, sutradara Arifin C. Noer dan ko-penulis Nugroho Notosusanto memilih genre horor untuk media propaganda. Meski resminya adalah sebuah dokudrama, namun tanpa ragu bahwa ini adalah film horor dengan beberapa elemen lazimnya: adegan berdarah, kematian, teror dan hantu. Secara spesifik saya menyebutnya sebagai genre horor politik kosmik. Kenapa kosmik?

Selama era Orde Baru dan bahkan beberapa tahun setelahnya, keterlibatan dengan komunis akan membawa sial hingga keturunan. Konsekuensinya bisa meluas tak hanya pribadi tapi juga anak dan keturunannya. Lingkungannya juga bakal diawasi aparat negara. Menyebut nama PKI bahkan seakan menyebut hantu yang tak boleh disebut nama. Tak heran “PKI” juga menjadi salah satu umpatan tabu. “Dasar PKI!” waktu itu lazim digunakan di lingkungan masa kecil saya untuk menggambarkan orang tak bermoral dan jahat. Lingkungan yang merupakan basis PKI mendapat citra buruk, misalnya Blitar Selatan pada masa itu. Jadi kehadiran komunis bahkan hanya dalam lambang saja dianggap sebagai ancaman gaib. Komunisnya runtuh tapi ideologinya dianggap sebagai hantu, bergentayangan secara kosmik. Maka negara (rejim Orde Baru) masa itu perlu melanggengkan kesadaran akan hadirnya hantu yang disebut bahaya laten itu dalam media propaganda.

Film dimulai dimulai dengan adegan penggambaran merajalelanya intimidasi oleh PKI kepada lawan politiknya, krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil dan rapuhnya pemerintahan Sukarno. Gambar-gambar yang mencekam dirajut dengan music score gubahan Embie C. Noer yang meneror secara subliminal. Adegan penyerbuan sebuah masjid pada subuh dan Al Quran yang dibacoki pakai celurit dan slideshow potongan koran yang memberitakan seorang dicangkul kepalanya menegaskan bahwa PKI adalah agen jahat yang meneror masyarakat. Awal-awal kemunculan karakter D.N. Aidit yang diperankan Syu’bah Asa disorot dengan teknik pencahayaan dari bawah, memperlihatkan pupil matanya seakan binatang buas nokturnal yang disorot senter. Adegan Sukarno yang diperankan Umar Kayam, tengah sakit disorot dengan pacing yang sangat lambat. Ia berdiri di depan jendela lalu menoleh dengan sangat lambat menyampaikan bahwa aura kematian semakin mendekat.

Puncak horornya tentu adegan subuh di Lubang Buaya. Adegan penyiksaan digambarkan seolah sekte pemuja iblis sedang mempersembahkan korban. Para jenderal diculik pada pagi buta, dibawa ke sebuah area terpencil untuk disiksa sebelum dibunuh. Di antara itu para PKI menari dan menyanyi dalam penerangan obor dan api unggun. Lagu “Genjer-Genjer” yang awalnya cuma lagu folk biasa seakan jadi lagu pemujaan setan, terlarang untuk diperdengarkan di publik seakan ditakutkan mengundang hantu komunis. Semua orkestrasi macabre itu pun ditandai dengan sebuah ungkapan paling ikonik dalam sejarah sinema Indonesia, “Darah itu merah, Jendral!”.

Horor tak lengkap rasanya tanpa comic relief. Ini ada juga dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI. Adegan ikonik close up shot mulut seorang bapak sedang bicara menampikan suasana yang lucu dan absurd. Sayangnya adegan ini dipotong pada versi VCD-nya. Adegan latihan baris berbaris di Lubang Buaya juga berisi dialog yang agak menggelitik. “Baris saja tidak becus kok mau mengganyang Nekolim?”

Tensi teror dan horor menurun pada babak akhir ketika angkatan bersenjata mulai bergerak menangkapi anggota PKI. Film ini sejenak berubah sedikit menjadi film action. Semesta yang suram oleh ancaman hantu komunisme mulai jadi cerah. Meski 7 jendral korban peristiwa itu diangkat sebagai pahlawan resmi negara, tumpasnya para hantu itu tidak dikatakan karena peran satu atau dua tokoh, bukan juga karena angkatan bersenjata (Angkatan Darat) melainkan karena Pancasila.

Meski ini film pesanan, tokoh Suharto (diperankan Amoroso Katamsi) sebagai pendiri Orde Baru tidak serta merta gamblang digambarkan sebagai pahlawan. Bukan juga Angkatan Darat di mana sentra konflik bermula. Jika musuh utama adalah bukan manusia yakni ideologi komunisme maka lawan sebandingnya harusnya juga sama-sama gaib. Film ini mengajukan satu entitas non-manusia dan non-organisasi yakni Pancasila. Sementara dalam alam pertarungan ideologi dunia lawan komunisme adalah kapitalisme, di Indonesia lawannya adalah Pancasila.

Pancasila (yang entah bagaimana cara implementasinya oleh para penguasa) seakan menjadi entitas kosmik penyelamat semesta. Para pahlawan revolusi menaruh percaya padanya dan seharusnya seluruh bangsa juga. Itulah yang disampaikan di akhir film. Namun tidak lantas film ini berubah jadi bernuansa heroisme. Sorotan patung pahlawan revolusi berlatar Garuda Pancasila alih-alih menimbulkan rasa nasionalisme malah terasa mencekam. Maka bisa dipahami jika bukan lagu “Garuda Pancasila” ciptaan Sudharnoto yang heroik nasionalis dipilih untuk membawa aura film ini melainkan “Gugur Bunga” karya Ismail Marzuki yang terasa pilu dan horor.

Pancasila digambarkan sebagai entitas kekuatan yang sakti telah menolong bangsa ini dari cekaman teror dan horor komunis di Indonesia. Bisa dibilang tanpa adanya film ini, propaganda anti komunisme tak akan sesukses itu hingga beberapa dekade. Mungkin itu prestasi (jika bisa diistilahkan demikian) tersukses yang bisa dicapai film Pengkhianatan G 30 S PKI jika dibandingkan dengan raihan Piala Citra atau film terlaris yang karena memang dipaksa. Ini sebuah film yang tak hanya horor dalam mise en scene-nya namun juga di realita.

 

Generasi kelahiran tahun 80-90an adalah generasi terakhir yang dibesarkan oleh TVRI. Tiap akhir September, TVRI punya ritual: memaksa orang-orang nonton film propaganda rejim (Suharto) yang berjudul Pengkhianatan G 30S PKI. TV swasta yang mulai makin mendominasi tontonan publik saat itu juga diwajibkan bersama-sama memutar film yang diproduksi pada tahun 1984 tersebut. Walhasil tak ada tontonan alternatif pada malam 30 september selain itu. Kami yang saat itu masih SD, diwajibkan menonton dan menulis rangkuman isi filmnya. Tugas ini diberikan setiap tahun yang filmnya sama.

Hasilnya, film ini sukses memberikan versi tunggal sejarah di benak masyarakat yang sekaligus membawa trauma psikologis bagi pribadi saya. Di tempat lahir saya, Blitar yang juga salah satu basis komunis pada masanya, orang-orang tua masih mengingat peristiwa 1965 seakan baru terjadi beberapa bulan saja. Ibu saya masih lancar menceritakan detail peristiwa yang ia alami di masa-masa itu. Hingga beberapa dekade Film Pengkhianatan G 30S PKI menjadi referensi utama mengenai sejarah resmi peristiwa 1965 di masyarakat.

Yang menarik bagi saya, negara yang diwakili oleh PPFN dengan produser G. Dwipayana, sutradara Arifin C. Noer dan ko-penulis Nugroho Notosusanto memilih genre horor untuk media propaganda. Meski resminya adalah sebuah dokudrama, namun tanpa ragu bahwa ini adalah film horor dengan beberapa elemen lazimnya: adegan berdarah, kematian, teror dan hantu. Secara spesifik saya menyebutnya sebagai genre horor politik kosmik. Kenapa kosmik?

Selama era Orde Baru dan bahkan beberapa tahun setelahnya, keterlibatan dengan komunis akan membawa sial hingga keturunan. Konsekuensinya bisa meluas tak hanya pribadi tapi juga anak dan keturunannya. Lingkungannya juga bakal diawasi aparat negara. Menyebut nama PKI bahkan seakan menyebut hantu yang tak boleh disebut nama. Tak heran “PKI” juga menjadi salah satu umpatan tabu. “Dasar PKI!” waktu itu lazim digunakan di lingkungan masa kecil saya untuk menggambarkan orang tak bermoral dan jahat. Lingkungan yang merupakan basis PKI mendapat citra buruk, misalnya Blitar Selatan pada masa itu. Jadi kehadiran komunis bahkan hanya dalam lambang saja dianggap sebagai ancaman gaib. Komunisnya runtuh tapi ideologinya dianggap sebagai hantu, bergentayangan secara kosmik. Maka negara (rejim Orde Baru) masa itu perlu melanggengkan kesadaran akan hadirnya hantu yang disebut bahaya laten itu dalam media propaganda.

Film dimulai dimulai dengan adegan penggambaran merajalelanya intimidasi oleh PKI kepada lawan politiknya, krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil dan rapuhnya pemerintahan Sukarno. Gambar-gambar yang mencekam dirajut dengan music score gubahan Embie C. Noer yang meneror secara subliminal. Adegan penyerbuan sebuah masjid pada subuh dan Al Quran yang dibacoki pakai celurit dan slideshow potongan koran yang memberitakan seorang dicangkul kepalanya menegaskan bahwa PKI adalah agen jahat yang meneror masyarakat. Awal-awal kemunculan karakter D.N. Aidit yang diperankan Syu’bah Asa disorot dengan teknik pencahayaan dari bawah, memperlihatkan pupil matanya seakan binatang buas nokturnal yang disorot senter. Adegan Sukarno yang diperankan Umar Kayam, tengah sakit disorot dengan pacing yang sangat lambat. Ia berdiri di depan jendela lalu menoleh dengan sangat lambat menyampaikan bahwa aura kematian semakin mendekat.

Puncak horornya tentu adegan subuh di Lubang Buaya. Adegan penyiksaan digambarkan seolah sekte pemuja iblis sedang mempersembahkan korban. Para jenderal diculik pada pagi buta, dibawa ke sebuah area terpencil untuk disiksa sebelum dibunuh. Di antara itu para PKI menari dan menyanyi dalam penerangan obor dan api unggun. Lagu “Genjer-Genjer” yang awalnya cuma lagu folk biasa seakan jadi lagu pemujaan setan, terlarang untuk diperdengarkan di publik seakan ditakutkan mengundang hantu komunis. Semua orkestrasi macabre itu pun ditandai dengan sebuah ungkapan paling ikonik dalam sejarah sinema Indonesia, “Darah itu merah, Jendral!”.

Horor tak lengkap rasanya tanpa comic relief. Ini ada juga dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI. Adegan ikonik close up shot mulut seorang bapak sedang bicara menampikan suasana yang lucu dan absurd. Sayangnya adegan ini dipotong pada versi VCD-nya. Adegan latihan baris berbaris di Lubang Buaya juga berisi dialog yang agak menggelitik. “Baris saja tidak becus kok mau mengganyang Nekolim?”

Tensi teror dan horor menurun pada babak akhir ketika angkatan bersenjata mulai bergerak menangkapi anggota PKI. Film ini sejenak berubah sedikit menjadi film action. Semesta yang suram oleh ancaman hantu komunisme mulai jadi cerah. Meski 7 jendral korban peristiwa itu diangkat sebagai pahlawan resmi negara, tumpasnya para hantu itu tidak dikatakan karena peran satu atau dua tokoh, bukan juga karena angkatan bersenjata (Angkatan Darat) melainkan karena Pancasila.

Meski ini film pesanan, tokoh Suharto (diperankan Amoroso Katamsi) sebagai pendiri Orde Baru tidak serta merta gamblang digambarkan sebagai pahlawan. Bukan juga Angkatan Darat di mana sentra konflik bermula. Jika musuh utama adalah bukan manusia yakni ideologi komunisme maka lawan sebandingnya harusnya juga sama-sama gaib. Film ini mengajukan satu entitas non-manusia dan non-organisasi yakni Pancasila. Sementara dalam alam pertarungan ideologi dunia lawan komunisme adalah kapitalisme, di Indonesia lawannya adalah Pancasila.

Pancasila (yang entah bagaimana cara implementasinya oleh para penguasa) seakan menjadi entitas kosmik penyelamat semesta. Para pahlawan revolusi menaruh percaya padanya dan seharusnya seluruh bangsa juga. Itulah yang disampaikan di akhir film. Namun tidak lantas film ini berubah jadi bernuansa heroisme. Sorotan patung pahlawan revolusi berlatar Garuda Pancasila alih-alih menimbulkan rasa nasionalisme malah terasa mencekam. Maka bisa dipahami jika bukan lagu “Garuda Pancasila” ciptaan Sudharnoto yang heroik nasionalis dipilih untuk membawa aura film ini melainkan “Gugur Bunga” karya Ismail Marzuki yang terasa pilu dan horor.

Pancasila digambarkan sebagai entitas kekuatan yang sakti telah menolong bangsa ini dari cekaman teror dan horor komunis di Indonesia. Bisa dibilang tanpa adanya film ini, propaganda anti komunisme tak akan sesukses itu hingga beberapa dekade. Mungkin itu prestasi (jika bisa diistilahkan demikian) tersukses yang bisa dicapai film Pengkhianatan G 30 S PKI jika dibandingkan dengan raihan Piala Citra atau film terlaris yang karena memang dipaksa. Ini sebuah film yang tak hanya horor dalam mise en scene-nya namun juga di realita.

Baca

MELACAK SEJARAH BIOSKOP DI BLITAR RAYA

Saat ini hanya ada 1 kompleks bioskop komersil yang ada di Blitar yakni CGV di Blitar Town Square. Selain itu hanya ada bioskop-bioskopan seperti yang dibikin oleh Nanocinema Wlingiwood. Namun sebenarnya pada tahun 70 hingga 80an, Blitar pernah semarak dengan wahana menonton film baik yang berupa bioskop atau layar tancap. Tak hanya di pusat kotanya namun juga di pelosoknya. Saat itu Blitar masih belum dipisah jadi Kota dan Kabupaten.

Catatan: Foto-foto berikut didapat secara anonim dari internet. Jika anda pemilik foto tersebut, kami mohon ijinnya untuk memasang.






Dari penelusuran jejak di media sosial dan diramu dengan ingatan masa kecil, inilah yang kami temukan. Berikut ini daftar bioskop yang pernah beroperasi di Blitar Raya.


KAWI

Terletak di Simpang Kawi, tepatnya di pojokan sisi timur dan utara. Ada yang bilang konon merupakan bioskop tertua di Blitar. Setelah tutup jadi lahan terbengkalai.


DIPAYANA

Terletak di jalan Merdeka Blitar. Merupakan bioskop paling populer di Kota Blitar. Kemudian hari lokasinya menjadi Bentar Swalayan yang kemudian jadi Blitar Town Square..


IRAMA

Terletak di jalan Mastrip. Termasuk kategori bioskop yang murah meriah terutama saat program “student show” setiap sabtu dan minggu sore. HTM saat itu seharga 500 rupiah. Sekarang lokasinya menjadi Hotel Patria.


CEPAKA

Terletak di jalan Cepaka Blitar. Harganya lebih murah dari yang lain namun kursinya banyak yang rusak. Lokasi ini kemudian menjadi Gereja Tiberias.


KARTIKA 21

Terletak di jalan Cepaka juga. Pada masanya merupakan gedung bioskop yang cukup elit di Blitar. Kartika 21 adalah bioskop yang terakhir tutup. Lokasi saat ini menjadi Bank BCA Blitar.


AMPERA

Sebenarnya ini nama perusahaan bioskop keliling yang menyewa gedung balai pertemuan Beru Wlingi. Beroperasi periodik terutama musim liburan. Setelah masa sewa habis mereka akan pindah ke tempat lain yang berprospek.


BIOSKOP MAJEKAN WLINGI

Tidak ingat apa nama bioskopnya. Pendowo? Pandowo? Saya tidak yakin. Bioskop ini terletak di Jalan Raya Tangkil, Majekan Wlingi. Beroperasi tahun 70-80an kemudian tutup. Sekarang jadi toko oleh-oleh khas Blitar.


BIOSKOP BABADAN WLINGI

Terletak di daerah Gurit, Babadan Wlingi dekat lokasi prasasti. Masa kecil saya pernah nonton di sini, duduk di balkon atas tempat projectionist. Bioskop ini beroperasi tahun 80an. Sekarang jadi kantor UPT kelurahan.


Ada yang tahu sejarah bioskop di Blitar atau bahkan punya foto-foto arsip? Boleh deh kontak Javora Institute biar diarsipkan juga hehehe.


Saat ini hanya ada 1 kompleks bioskop komersil yang ada di Blitar yakni CGV di Blitar Town Square. Selain itu hanya ada bioskop-bioskopan seperti yang dibikin oleh Nanocinema Wlingiwood. Namun sebenarnya pada tahun 70 hingga 80an, Blitar pernah semarak dengan wahana menonton film baik yang berupa bioskop atau layar tancap. Tak hanya di pusat kotanya namun juga di pelosoknya. Saat itu Blitar masih belum dipisah jadi Kota dan Kabupaten.

Catatan: Foto-foto berikut didapat secara anonim dari internet. Jika anda pemilik foto tersebut, kami mohon ijinnya untuk memasang.






Dari penelusuran jejak di media sosial dan diramu dengan ingatan masa kecil, inilah yang kami temukan. Berikut ini daftar bioskop yang pernah beroperasi di Blitar Raya.


KAWI

Terletak di Simpang Kawi, tepatnya di pojokan sisi timur dan utara. Ada yang bilang konon merupakan bioskop tertua di Blitar. Setelah tutup jadi lahan terbengkalai.


DIPAYANA

Terletak di jalan Merdeka Blitar. Merupakan bioskop paling populer di Kota Blitar. Kemudian hari lokasinya menjadi Bentar Swalayan yang kemudian jadi Blitar Town Square..


IRAMA

Terletak di jalan Mastrip. Termasuk kategori bioskop yang murah meriah terutama saat program “student show” setiap sabtu dan minggu sore. HTM saat itu seharga 500 rupiah. Sekarang lokasinya menjadi Hotel Patria.


CEPAKA

Terletak di jalan Cepaka Blitar. Harganya lebih murah dari yang lain namun kursinya banyak yang rusak. Lokasi ini kemudian menjadi Gereja Tiberias.


KARTIKA 21

Terletak di jalan Cepaka juga. Pada masanya merupakan gedung bioskop yang cukup elit di Blitar. Kartika 21 adalah bioskop yang terakhir tutup. Lokasi saat ini menjadi Bank BCA Blitar.


AMPERA

Sebenarnya ini nama perusahaan bioskop keliling yang menyewa gedung balai pertemuan Beru Wlingi. Beroperasi periodik terutama musim liburan. Setelah masa sewa habis mereka akan pindah ke tempat lain yang berprospek.


BIOSKOP MAJEKAN WLINGI

Tidak ingat apa nama bioskopnya. Pendowo? Pandowo? Saya tidak yakin. Bioskop ini terletak di Jalan Raya Tangkil, Majekan Wlingi. Beroperasi tahun 70-80an kemudian tutup. Sekarang jadi toko oleh-oleh khas Blitar.


BIOSKOP BABADAN WLINGI

Terletak di daerah Gurit, Babadan Wlingi dekat lokasi prasasti. Masa kecil saya pernah nonton di sini, duduk di balkon atas tempat projectionist. Bioskop ini beroperasi tahun 80an. Sekarang jadi kantor UPT kelurahan.


Ada yang tahu sejarah bioskop di Blitar atau bahkan punya foto-foto arsip? Boleh deh kontak Javora Institute biar diarsipkan juga hehehe.


Baca

HOW TO BE A KABUPATEN FILMMAKER: SEGRONJAL DEMI SEGRONJAL

Ini buat teman-teman yang tinggal di kabupaten yang ingin atau sedang berkarya film mungkin hal-hal berikut ini boleh jadi pertimbangan.



1. KONDISI PERFILMAN KABUPATEN
Dari pengamatan yang nggak metodis amat, biasanya perfilman di kabupaten itu dilakukan oleh amatir dan komunitas. Level kemajuan perfilman tiap kabupaten berbeda kondisi, tergantung pada kemajuan literasi orang-orangnya. Hal tipikal mengenai perfilman kabupaten biasanya:
- Mentok di jargon lokalitas. Tidak terbuka pada kemungkinan baru.
- Dibebani jargon menampilkan budaya dan kearifan lokal.
- Mandeg di distribusi. Abis diputar di komunitas, masuk harddisk selamanya.
Menurut saya, masalah perfilman kabupaten antara lain:
- Ketiadaan skema pendanaan eksternal yang konsisten. Biasanya filmmaker cenderung dibebani dengan hal-hal tipikal yang saya tulis di atas tadi.
- Ketersediaan talenta yang mumpuni. Meski banyak orang berbakat, nyatanya cukup sulit menemukan talent yang bersedia menyesuaikan dengan sistem kerja film yang standar. Dengan kata lain, maunya langsung syuting.
- Keberadaan skema distribusi yang minim. Belum ada entitas yang mengelola agar film diputar merata di wilayahnya sendiri. Kalau mau dibebankan di filmmaker, biasanya udah kecapekan duluan sehabis produksi.
- Banyak orang yang nggak ngerti soal ekosistem perfilman nasional dan pembuatnya nggak terhubung ke sana. Contohnya anak-anak SMA mentoknya ke FLS2N, jarang yang ke festival utama.
- Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai value budaya dari film. Pada nggak mau mbayar kalau dikasih tontonan. Ini mungkin sejak era Ken Arok adu pitik. Setahu saya nonton adu pitik jaman Ken Arok nggak bayar.
Dengan menyadari kondisi ini, maka anda bisa mengambil langkah-langkah yang perlu.
2. MELURUSKAN NIAT
Pertama-tama ketahui dulu tujuanmu berkarya, mau amatir apa profesional. Amatir artinya kamu cuman hobi aja, gak ada rencana terlalu jauh selain berkarya demi kepuasan batin. Profesional artinya kamu memiliki rencana bisnis yang diharapkan sustainable untuk pekerjaan jangka panjang. Kemungkinan kamu akan melibatkan banyak orang dengan kerjaan spesifik.
Untuk amatir. Jaman gini semua dimungkinkan dengan teknologi. Bikin film pakai HP doang juga udah dimungkinkan. Nggak ada kru? Bikin film yang dibintangi diri sendiri juga bisa. Untuk amatir namun lebih serius, ada baiknya membangun komunitas. Saya waktu pulang ke kabupaten dulu nggak ada teman bikin film. Lalu saya dan seorang teman membangun komunitas yang mengajari bikin film ke remaja-remaja SMA. Setelah karya pertama disusul lagi karya berikutnya yang membuat kita makin banyak belajar. Orang-orang yang dulu jadi murid lama-lama jadi kolaborator. Ko-Produser saya saat ini dulunya adalah murid saya.
Untuk profesional. Jangan dulu bayangin proyek-proyek besar di mana anda akan duduk di kursi sutradara dan peralatan syuting yang berat-berat. Jangan bayangin film anda diputer di bioskop-bioskop besar macam XXI atau CGV. Jika anda membayar kru dengan standar UMR, itu sudah langkah bagus menuju profesional. Juga ketika anda menghitung biaya makan saat syuting, transport dll.
Untuk jadi profesional di kabupaten sangat berat karena ekosistemnya belum ada. Makanya banyak orang kabupaten hijrah ke Jakarta. Kabar baiknya desentralisasi sekarang sedang berjalan. Aktivitas film mulai menyebar. Jogja adalah Mekkah baru untuk perfilman nasional. Purbalingga adalah the ndesopolitan of cinema. Makassar wah jangan ditanya ya. Banyak filmmaker hebat dari sana. Tapi gimana kalau kamu tinggal di kabupaten yang jalan propinsinya gronjal-gronjal kayak nasib percintaanku?
3. CARA JADI FILMMAKER KABUPATEN
Untuk masuk ke perfilman itu umumnya ada 3 cara:
- Sekolah film. Di sini kamu dapat privilege berupa jejaring. Kamu juga akan dapat akses ke teknologi standar industri. Lulus dari sini peluang kamu masuk industri agak lebih mudah karena modal jejaring itu. Kalaupun tidak lulus dan udah duluan diajak proyekan, kamu udah masuk circle.
- Orang dalam. Ada beberapa cerita orang yang gak sengaja masuk industri. Mungkin diajakin temennya, mungkin karena bapaknya produser atau jika kamu punya duit untuk masuk ke circle produksi tertentu.
- Festival. Ini cara merangkak dari bawah. Karyamu harus masuk festival sehingga mendapat kesempatan untuk masuk ke circle produksi. Festival adalah cara yang cukup fair namun sangat susah karena memilih yang terbaik di antara terbaik. Kamu bersaing dengan yang udah pro maupun orang-orang yang punya latar sekolah film.
Saya tidak sekolah film. Saya masuk ke perfilman lewat cara terakhir. Prosesnya ada selama 10 tahunan. Pertama bikin film 2006, masuk festival 2015, masuk profesional 2019.
4. MEMBENTUK EKOSISTEM DI KABUPATEN
Ekosistem artinya hadirnya sejumlah pihak yang berkepentingan dengan perfilman terutama kabupaten untuk bersinergi. Ekosistem yang sesungguhnya kompleks namun untuk level kabupaten kita bikin sederhana aja deh. 3 Ekosistem penting yang harus ada adalah:
1. Penonton. Penonton di sini idealnya yang juga sadar value dari film. Untuk itu perlu diedukasi. Edukasi bisa dilakukan oleh komunitas dengan menggelar diskusi selesai pemutaran.
2. Ruang putar. Idealnya ada pihak yang khusus menyediakan ruang putar entah di dalam ruang atau layar tancap keliling. Pembuat film tak selalu punya resource untuk ini. Kenyataannya sering dirangkap juga. Distribusi ideal kabupaten bisa dibagi berdasarkan satuan administratif. Jadi misal ketika film jadi, ada baiknya sudah direncanakan diputar di kecamatan mana saja.
3. Pembuat film. Ini meliputi sutradara, produser, talent dan kru. Di kabupaten biasanya hal ini dikerjakan secara komunal.
Kalau film cuma diputer di kabupaten, biasanya tipikalnya abis film diputer langsung ngendon di harddisk. Atau juga seringkali diupload di Yutub (ini ada plus minusnya). Bagaimana agar distribusi film hidup lebih lama?
Saatnya mikir sustainability.
5. SUSTAINABILITY DI KABUPATEN
Overview. Distribusi film independen saat ini masih berada pada tahap balita dan jumlah penonton film Indonesia belum cukup signifikan untuk membiayai balik modal yang dikeluarkan untuk produksi film independen. Untuk sustain di kabupaten nggak ada rumus pastinya. Tapi kalau mau ngeyel dengan tetap di kabupaten mungkin hal-hal ini bisa dipertimbangkan.
- Harus(nya) punya bisnis lain yang cukup buat hidup sehari-hari.
- Mengelola komunitas dan mengedukasinya.
- Berfestival dan berjejaring dengan filmmaker seindonesia.
- Mengkomersilkan intellectual property dari proyek film anda.
- Jadi bounty hunter. Ikut kompetisi film demi duit.
Ada juga hal-hal yang dilakukan beberapa orang untuk tetap berkarya namun saya tak menyarankan seperti mendekati pejabat yang mau nyaleg, terlalu bergantung pada kepedulian pemda dan semacamnya. Sebaiknya jangan berhutang untuk berkarya karena apa yang kita andalkan untuk membayarnya seringkali tidak pasti.

Ini buat teman-teman yang tinggal di kabupaten yang ingin atau sedang berkarya film mungkin hal-hal berikut ini boleh jadi pertimbangan.



1. KONDISI PERFILMAN KABUPATEN
Dari pengamatan yang nggak metodis amat, biasanya perfilman di kabupaten itu dilakukan oleh amatir dan komunitas. Level kemajuan perfilman tiap kabupaten berbeda kondisi, tergantung pada kemajuan literasi orang-orangnya. Hal tipikal mengenai perfilman kabupaten biasanya:
- Mentok di jargon lokalitas. Tidak terbuka pada kemungkinan baru.
- Dibebani jargon menampilkan budaya dan kearifan lokal.
- Mandeg di distribusi. Abis diputar di komunitas, masuk harddisk selamanya.
Menurut saya, masalah perfilman kabupaten antara lain:
- Ketiadaan skema pendanaan eksternal yang konsisten. Biasanya filmmaker cenderung dibebani dengan hal-hal tipikal yang saya tulis di atas tadi.
- Ketersediaan talenta yang mumpuni. Meski banyak orang berbakat, nyatanya cukup sulit menemukan talent yang bersedia menyesuaikan dengan sistem kerja film yang standar. Dengan kata lain, maunya langsung syuting.
- Keberadaan skema distribusi yang minim. Belum ada entitas yang mengelola agar film diputar merata di wilayahnya sendiri. Kalau mau dibebankan di filmmaker, biasanya udah kecapekan duluan sehabis produksi.
- Banyak orang yang nggak ngerti soal ekosistem perfilman nasional dan pembuatnya nggak terhubung ke sana. Contohnya anak-anak SMA mentoknya ke FLS2N, jarang yang ke festival utama.
- Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai value budaya dari film. Pada nggak mau mbayar kalau dikasih tontonan. Ini mungkin sejak era Ken Arok adu pitik. Setahu saya nonton adu pitik jaman Ken Arok nggak bayar.
Dengan menyadari kondisi ini, maka anda bisa mengambil langkah-langkah yang perlu.
2. MELURUSKAN NIAT
Pertama-tama ketahui dulu tujuanmu berkarya, mau amatir apa profesional. Amatir artinya kamu cuman hobi aja, gak ada rencana terlalu jauh selain berkarya demi kepuasan batin. Profesional artinya kamu memiliki rencana bisnis yang diharapkan sustainable untuk pekerjaan jangka panjang. Kemungkinan kamu akan melibatkan banyak orang dengan kerjaan spesifik.
Untuk amatir. Jaman gini semua dimungkinkan dengan teknologi. Bikin film pakai HP doang juga udah dimungkinkan. Nggak ada kru? Bikin film yang dibintangi diri sendiri juga bisa. Untuk amatir namun lebih serius, ada baiknya membangun komunitas. Saya waktu pulang ke kabupaten dulu nggak ada teman bikin film. Lalu saya dan seorang teman membangun komunitas yang mengajari bikin film ke remaja-remaja SMA. Setelah karya pertama disusul lagi karya berikutnya yang membuat kita makin banyak belajar. Orang-orang yang dulu jadi murid lama-lama jadi kolaborator. Ko-Produser saya saat ini dulunya adalah murid saya.
Untuk profesional. Jangan dulu bayangin proyek-proyek besar di mana anda akan duduk di kursi sutradara dan peralatan syuting yang berat-berat. Jangan bayangin film anda diputer di bioskop-bioskop besar macam XXI atau CGV. Jika anda membayar kru dengan standar UMR, itu sudah langkah bagus menuju profesional. Juga ketika anda menghitung biaya makan saat syuting, transport dll.
Untuk jadi profesional di kabupaten sangat berat karena ekosistemnya belum ada. Makanya banyak orang kabupaten hijrah ke Jakarta. Kabar baiknya desentralisasi sekarang sedang berjalan. Aktivitas film mulai menyebar. Jogja adalah Mekkah baru untuk perfilman nasional. Purbalingga adalah the ndesopolitan of cinema. Makassar wah jangan ditanya ya. Banyak filmmaker hebat dari sana. Tapi gimana kalau kamu tinggal di kabupaten yang jalan propinsinya gronjal-gronjal kayak nasib percintaanku?
3. CARA JADI FILMMAKER KABUPATEN
Untuk masuk ke perfilman itu umumnya ada 3 cara:
- Sekolah film. Di sini kamu dapat privilege berupa jejaring. Kamu juga akan dapat akses ke teknologi standar industri. Lulus dari sini peluang kamu masuk industri agak lebih mudah karena modal jejaring itu. Kalaupun tidak lulus dan udah duluan diajak proyekan, kamu udah masuk circle.
- Orang dalam. Ada beberapa cerita orang yang gak sengaja masuk industri. Mungkin diajakin temennya, mungkin karena bapaknya produser atau jika kamu punya duit untuk masuk ke circle produksi tertentu.
- Festival. Ini cara merangkak dari bawah. Karyamu harus masuk festival sehingga mendapat kesempatan untuk masuk ke circle produksi. Festival adalah cara yang cukup fair namun sangat susah karena memilih yang terbaik di antara terbaik. Kamu bersaing dengan yang udah pro maupun orang-orang yang punya latar sekolah film.
Saya tidak sekolah film. Saya masuk ke perfilman lewat cara terakhir. Prosesnya ada selama 10 tahunan. Pertama bikin film 2006, masuk festival 2015, masuk profesional 2019.
4. MEMBENTUK EKOSISTEM DI KABUPATEN
Ekosistem artinya hadirnya sejumlah pihak yang berkepentingan dengan perfilman terutama kabupaten untuk bersinergi. Ekosistem yang sesungguhnya kompleks namun untuk level kabupaten kita bikin sederhana aja deh. 3 Ekosistem penting yang harus ada adalah:
1. Penonton. Penonton di sini idealnya yang juga sadar value dari film. Untuk itu perlu diedukasi. Edukasi bisa dilakukan oleh komunitas dengan menggelar diskusi selesai pemutaran.
2. Ruang putar. Idealnya ada pihak yang khusus menyediakan ruang putar entah di dalam ruang atau layar tancap keliling. Pembuat film tak selalu punya resource untuk ini. Kenyataannya sering dirangkap juga. Distribusi ideal kabupaten bisa dibagi berdasarkan satuan administratif. Jadi misal ketika film jadi, ada baiknya sudah direncanakan diputar di kecamatan mana saja.
3. Pembuat film. Ini meliputi sutradara, produser, talent dan kru. Di kabupaten biasanya hal ini dikerjakan secara komunal.
Kalau film cuma diputer di kabupaten, biasanya tipikalnya abis film diputer langsung ngendon di harddisk. Atau juga seringkali diupload di Yutub (ini ada plus minusnya). Bagaimana agar distribusi film hidup lebih lama?
Saatnya mikir sustainability.
5. SUSTAINABILITY DI KABUPATEN
Overview. Distribusi film independen saat ini masih berada pada tahap balita dan jumlah penonton film Indonesia belum cukup signifikan untuk membiayai balik modal yang dikeluarkan untuk produksi film independen. Untuk sustain di kabupaten nggak ada rumus pastinya. Tapi kalau mau ngeyel dengan tetap di kabupaten mungkin hal-hal ini bisa dipertimbangkan.
- Harus(nya) punya bisnis lain yang cukup buat hidup sehari-hari.
- Mengelola komunitas dan mengedukasinya.
- Berfestival dan berjejaring dengan filmmaker seindonesia.
- Mengkomersilkan intellectual property dari proyek film anda.
- Jadi bounty hunter. Ikut kompetisi film demi duit.
Ada juga hal-hal yang dilakukan beberapa orang untuk tetap berkarya namun saya tak menyarankan seperti mendekati pejabat yang mau nyaleg, terlalu bergantung pada kepedulian pemda dan semacamnya. Sebaiknya jangan berhutang untuk berkarya karena apa yang kita andalkan untuk membayarnya seringkali tidak pasti.
Baca

SEJARAH RINGKAS FILM INDEPENDEN DI INDONESIA DAN DI KAMPUNG SAYA - BAGIAN XII - XIII (dari 13 bagian)

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================

 

XII. WLINGIWOOD, RIAK KECIL GELIAT PERFILMAN INDEPENDEN

DI KAMPUNG SAYA SENDIRI 

Mengikuti gairah rekan-rekannya di daerah lain, di sebuah kota kecamatan yang tak terkenal juga muncul gerakan perfilman indie. Wlingi adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah timur agak ke barat kabupaten Blitar. Bagi pengunjung dari kota lain, Wlingi mungkin paling mudah dicapai dengan kereta api. Kebetulan Stasiun Wlingi jadi tempat berhenti kereta api kelas eksekutif. Setiap dari Blitar ke Malang pasti lewat Wlingi. Dua kota besar terdekat dengan Wlingi adalah Kediri di sebelah barat dan Malang di sebelah timur (ingat, Wlingi masuk dalam kabupaten Blitar).

Wlingi tak pernah masuk dalam film hingga "Punk In Love" (Ody C. Harahap, 2009). Hanya satu shot (itu pun singkat) di mana karakternya naik mobil pickup melewetai gerbang Kota Wlingi. Sayang sekali padahal di Wlingi ada taman kota yang luas dengan arena bermain, ada pasar tradisional yang besar, pasar hewan juga ada, ada bendungan obyek wisata, bangunan-bangunan tua ada beberapa namun menunggu kehancuran. Meskipun produksi film sudah ada sejak 2009, mungkin baru mulai pada 2015 nama Wlingi lirih terdengar dalam jagad perfilman nasional. Itu karena aktivitas komunitas Wlingiwood Filmmakers.


Berawal dari SMAN 1 Talun, Kabupaten Blitar. Saya yang alumni dari sini mulai mengajari bikin film di ekskul Teater pada tahun 2009, yakni dengan produksi film pendek “Tanggal Merah” yang naskahnya ditulis murid dan saya membimbing murid untuk menyutradarai. Setelah itu saya selalu membagi kegiatan setahun jadi dua yakni semester pertama main teater, semester kedua bikin film. Ada dua film agak panjang yang pernah kami produksi yakni “Apyun” (2010) dan “Sakti” (2012). Nanti kegiatan film tersebut menjadi ekskul tersendiri sejak 2015. Akibatnya perfilman menjadi lumayan akrab di lingkungan SMA ini dan bahkan pada tiap acara Dies Natalies sekolah, ada program kompetisi film antar kelas. Alokasi bakat dari kegiatan film SMA ini antara lain adalah mengikuti FLS2N, sebuah event kesenian yang digelar Departemen Pendidikan Nasional tiap tahun. Film pendek adalah salah satu nomor yang dilombakan sejak tingkat kabupaten hingga nasional.

Aktivitas mentoring saya di SMAN 1 Talun ini kelak akan melahirkan komunitas lokal yang nanti dikenal dengan nama Wlingiwood Filmmakers. Wlingiwood Filmmakers bermula sejak tahun 2014 setelah saya membimbing tim sekolah untuk ikut FLS2N tahun itu. Pertemuan dengan aktor asal Blitar Betet Kunamsinam mendorong saya memproduksi film "Sandera" (2014) yang kemudian berkelanjutan menjadi pembentukan komunitas. Sandera adalah adalah film fiksi pertama yang dibikin dalam format Full HD di Wlingi. Film itu kami putar di beberapa titik di kota kami misalnya di halaman kantor Telkom Wlingi, di kelas, di UPT Bung Karno Blitar dan juga didiskusikan. Karena ini lalu saya mendapat permintaan membina perfilman di SMK PGRI Wlingi. Dalam membina sering saya ajak Wlingiwood Filmmakers terlibat. Dari sinilah kita makin jelas kegiatannya yakni antara lain memberikan mentoring produksi film di sekolah-sekolah dan kelompok kecil serta aktif mengikuti festival film di Indonesia.

Film yang diproduksi Wlingiwood bisa dikenali lewat posternya yang mencantumkan logo Wlingiwood di atasnya. Selain itu juga opening film akan menampakkan logo tersebut meskipun Wlingiwood sendiri bukanlah sebuah production house. Film yang mencantumkan logo ini berarti melibatkan Wlingiwood di aspek produksinya. Hingga tulisan ini dibuat, sistem produksi di Wlingiwood adalah 100% independen, yakni: 

·         Independen secara pendanaan, bukan dari badan pemerintah maupun swasta dan bukan juga donasi maupun investasi di luar anggota komunitas

·         Independen secara kreatif, tidak menyewa tenaga teknis maupun artistik di luar komunitas

·         Independen dari segi gagasan, tidak menuruti jargon-jargon atau idealisme di luar komunitas termasuk keharusan mengangkat isu terkini dan corak lokalitas

·         Independen dalam hal distribusi, tidak melewati jejaring bioskop atau industri yang mapan.

Komunitas Wlingiwood hingga kini terus aktif memberikan edukasi perfilman secara online maupun offline. Film dari komunitas ini misalnya "Bid & Run" (saya sutradaranya, 2015) finalis Festival Sinema Perancis 2015 dan "Anxietus Domicupus" (masih saya sutradaranya, 2020) Nominator Best Comedy di HelloFest #14, Nominator Film Terbaik di GenFlix Film Festival 2020 serta Pemenang Film Cerita Pendek Terpilih Piala Maya ke-9 tahun 2021. 

Prestasi yang pernah diraih warga Wlingiwood Filmmakers dan binaannya antara lain: 

·         2014: EXAM SUICIDE juara 2 FLS2N tingkat propinsi Jawa Timur

·         2015: BID & RUN finalis Festival Sinema Prancis, SIX PACK juara 2 lomba film pendek Kementrian Kesehatan

·         2016: HOBI MINORITAS PARKOUR masuk SODOC (Solo Documentary Film Festival)

·         2019: THE FICTION MASTER finalis HelloFest 13 dan didistribusikan oleh GoPlay

·         2020: ANXIETUS DOMICUPUS nominator Best Comedy HelloFest 14, nominator Sinematografi Terbaik, nominator Film Terbaik dan Special Jury Mention di Genflix Film Festival, Bronze Deer Award di Moviement Film Festival

·         2021: ANXIETUS DOMICUPUS memanangkan Film Cerita Pendek Terpilih pada Piala Maya Ke-9 

Di Wlingiwood tidak dikenal jabatan ketua melainkan Koordinator Umum. Koordinator ini bertugas mengkoordinasi seluruh kegiatan di Wlingiwood juga menjadi juru bicara jika diperlukan. Di dalam Wlingiwood ada beberapa kelompok produksi baik yang sifatnya amatir maupun pra-profesional. Produksi yang saya jalankan misalnya, saya sebut sebagai pra-profesional: Kru dibayar mepet UMR sehari, volunteer dikasih kaos.

Pada tahun 30 Maret 2017, Wlingiwood Filmmakers juga pernah mencoba membuat festival film untuk pertama kali. Di dalamnya hendak kami putar sederetan film buatan kami plus film undangan dari komunitas luar. Perijinan diurus mulai dari Kelurahan, Kepolisian hingga Koramil. Kami mendapat bantuan terob, soundsystem, proyektor dan panggung dari Camat Wlingi waktu itu Bapak Totok Tri Wibisono. Kami bahkan sudah memasang baliho besar sekitar 4 x 3 meter di depan halaman kecamatan Wlingi. Layar tancap kurang lebih 6 x 3 meter sudah kami pasang sejak sore. Sayang acara ini digagalkan oleh hujan lebat dan banjir setinggi mata kaki pada sekitar isya’, padahal jam setengah delapan acara mau dimulai. Acara lalu dipindah ke dalam gedung kecamatan. Acara tetap kami langsungkan hingga selesai. Seingat saya ada 5 orang saja dari luar komunitas yang hadir, sedangkan sisanya kami sendiri sejumlah tak kurang dari 15 orang dengan makanan yang disediakan gratis dan melimpah.

 

XIII. PENUTUP: SEBUAH KESIMPULAN 

Jika kita tilik dari sejarahnya di Amerika, apa yang disebut sinema independen adalah dinamika industri yang terjadi di Hollywood. Indie bukan selalu berupa film dengan budget murah yang dibuat secara digital. Ada juga film indie dengan budget jutaan. Warner Bros, studio besar itu pun pernah punya label Warner Independent Pictures (2003 - 2008) yang merilis "Before Sunset" dan "Slumdog Millionaire". Gimana ceritanya studio gede kok menyebut diri independen? Rupanya independen ini tak bermakna literal sama sekali. Istilah independen lalu digunakan secara longgar mengikuti situasi yang ada.

Ada 3 hal yang menjadi latar kelahiran film independen di Amerika: Edison Trust, dominasi Studio System dan lahirnya teknologi digital. Sedangkan di Indonesia sendiri tidak ada studio system sebagaimana di Amerika. Dalam amatan saya, gerakan film independen di Indonesia setidaknya merespon 4 hal: Regulasi pemerintah beserta aturan dalam asosiasi, dominasi kelompok bermodal, terpuruknya film nasional dan keterbatasan aset produksi. Jadi kita bisa melihat perbedaan dan persamaan konteksnya dengan Amerika. Sama halnya dengan Amerika dan belahan dunia lain, independen adalah istilah yang dinamik. Akan terus diredefinisikan menurut kondisi yang dihadapi. Perubahan akan direspon secara terus menerus dan wajah sinema tak akan pernah sama.

Jalur independen merupakan keumuman untuk filmmaker yang hendak membangun awal karir. Ini sekaligus menjadi ironis karena gerakan independen hanya terpakai sebagai batu pijakan ke industri. Bisa dimaklumi karena karier di film memerlukan stabilitas ekosistem yang mana industri mayor pun kadang kesusahan. Menurut produser Lifelike Pictures Sheila Timothy, bisnis film itu beresiko tinggi. Independen adalah ketidakpastian yang ternyata terus hidup bagai virus dalam sejarah. Kita ingat lagi bahwa bangkitnya industri film nasional pun diawali oleh gerakan independen, tak hanya kalangan profesional namun juga komunitas amatir. Keberadaan kaum independen inilah yang menjaga perfilman nasional tetap hidup sejak awal reformasi hingga kini. 

 

DAFTAR BACAAN 

Referensi Buku, Jurnal, Skripsi, Disertasi dan lain-lain: 

·         ANTARKOTA ANTARLAYAR Potret Komunitas Film di Indonesia oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Deden Ramadani, Levriana Yustriani, Dewan Kesenian Jakarta 2019.

·         JIWA REFORMASI DAN HANTU MASA LALU Sinema Indonesia Pasca Orde Baru oleh Quirine Van Heeren, Dewan Kesenian Jakarta 2019.

·         DIREKTORI FESTIVAL FILM Dunia Dan Indonesia, Komite Film Dewan Kesenian Jakarta & COFFIE (Coordination For Film Festival In Indonesia) 2019.

·         Mendefinisikan Ulang Film Indie: Deskripsi Perkembangan Sinema Independen Indonesia oleh Idola P Putri, Jurnal Komunikasi Indonesia 2013.

·         PARADOKS DAN MANAJEMEN KREATIVITAS DALAM INDUSTRI FILM INDONESIA oleh Elvy Maria Manurung, Disertasi Program Doktoral Universitas Kristen Satya Wacana 2017.

·         DINAMIKA SINEAS DALAM PEMBUATAN FILM INDEPENDEN (Studi Kasus Sineas di Kota Makassar) oleh Muh. Rifai Ramli, Skripsi Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar 2016.

·         RESISTENSI PRODUKSI FILM INDIE DI INDONESIA 1970-2001 (Indonesian Indie Movie Resistens 1970-2001) oleh Donny Dellyar Noer, SH, Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Muhammadiyah Jember -.

·         TINDAK TUTUR DIREKTIF DAN KOMISIF DALAM FILM MAK KELAPON KARYA ADRI ADDAYUNI oleh Elize Wardany, Patriantoro, Nanang Heryana, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untan Pontianak -.

·         MELAWAN KUASA MEDIA DENGAN MEDIA Studi Eksplorasi Manajemen Media Watchdoc Documentary Maker Sebagai Media Alternatif oleh Permata Putri Ismah Ariani, Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang 2017.

 Referensi Situs dan Blog:

·         filmindonesia.or.id

·         cinemapoetica.com

·         ericsasono.com

·         acehtrend.com

·         tirto.id

·         lokadata.id

·         jaff-filmfest.org

·         arkipel.org

·         in-docs.org

·         boemboe.org

·         minikino.org

·         rumata.or.id

·         ciptacitra.id

·         pialamaya.com

·         mantrianimasi.blogspot.com

·         pabriktjerita.blogspot.com

·         wlingiwood.blogspot.com

·         komunita.id

·         imdb.com

·         wikipedia.org

 dan lain-lain.

     (Kembali ke Bagian XI)

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================

 

XII. WLINGIWOOD, RIAK KECIL GELIAT PERFILMAN INDEPENDEN

DI KAMPUNG SAYA SENDIRI 

Mengikuti gairah rekan-rekannya di daerah lain, di sebuah kota kecamatan yang tak terkenal juga muncul gerakan perfilman indie. Wlingi adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah timur agak ke barat kabupaten Blitar. Bagi pengunjung dari kota lain, Wlingi mungkin paling mudah dicapai dengan kereta api. Kebetulan Stasiun Wlingi jadi tempat berhenti kereta api kelas eksekutif. Setiap dari Blitar ke Malang pasti lewat Wlingi. Dua kota besar terdekat dengan Wlingi adalah Kediri di sebelah barat dan Malang di sebelah timur (ingat, Wlingi masuk dalam kabupaten Blitar).

Wlingi tak pernah masuk dalam film hingga "Punk In Love" (Ody C. Harahap, 2009). Hanya satu shot (itu pun singkat) di mana karakternya naik mobil pickup melewetai gerbang Kota Wlingi. Sayang sekali padahal di Wlingi ada taman kota yang luas dengan arena bermain, ada pasar tradisional yang besar, pasar hewan juga ada, ada bendungan obyek wisata, bangunan-bangunan tua ada beberapa namun menunggu kehancuran. Meskipun produksi film sudah ada sejak 2009, mungkin baru mulai pada 2015 nama Wlingi lirih terdengar dalam jagad perfilman nasional. Itu karena aktivitas komunitas Wlingiwood Filmmakers.


Berawal dari SMAN 1 Talun, Kabupaten Blitar. Saya yang alumni dari sini mulai mengajari bikin film di ekskul Teater pada tahun 2009, yakni dengan produksi film pendek “Tanggal Merah” yang naskahnya ditulis murid dan saya membimbing murid untuk menyutradarai. Setelah itu saya selalu membagi kegiatan setahun jadi dua yakni semester pertama main teater, semester kedua bikin film. Ada dua film agak panjang yang pernah kami produksi yakni “Apyun” (2010) dan “Sakti” (2012). Nanti kegiatan film tersebut menjadi ekskul tersendiri sejak 2015. Akibatnya perfilman menjadi lumayan akrab di lingkungan SMA ini dan bahkan pada tiap acara Dies Natalies sekolah, ada program kompetisi film antar kelas. Alokasi bakat dari kegiatan film SMA ini antara lain adalah mengikuti FLS2N, sebuah event kesenian yang digelar Departemen Pendidikan Nasional tiap tahun. Film pendek adalah salah satu nomor yang dilombakan sejak tingkat kabupaten hingga nasional.

Aktivitas mentoring saya di SMAN 1 Talun ini kelak akan melahirkan komunitas lokal yang nanti dikenal dengan nama Wlingiwood Filmmakers. Wlingiwood Filmmakers bermula sejak tahun 2014 setelah saya membimbing tim sekolah untuk ikut FLS2N tahun itu. Pertemuan dengan aktor asal Blitar Betet Kunamsinam mendorong saya memproduksi film "Sandera" (2014) yang kemudian berkelanjutan menjadi pembentukan komunitas. Sandera adalah adalah film fiksi pertama yang dibikin dalam format Full HD di Wlingi. Film itu kami putar di beberapa titik di kota kami misalnya di halaman kantor Telkom Wlingi, di kelas, di UPT Bung Karno Blitar dan juga didiskusikan. Karena ini lalu saya mendapat permintaan membina perfilman di SMK PGRI Wlingi. Dalam membina sering saya ajak Wlingiwood Filmmakers terlibat. Dari sinilah kita makin jelas kegiatannya yakni antara lain memberikan mentoring produksi film di sekolah-sekolah dan kelompok kecil serta aktif mengikuti festival film di Indonesia.

Film yang diproduksi Wlingiwood bisa dikenali lewat posternya yang mencantumkan logo Wlingiwood di atasnya. Selain itu juga opening film akan menampakkan logo tersebut meskipun Wlingiwood sendiri bukanlah sebuah production house. Film yang mencantumkan logo ini berarti melibatkan Wlingiwood di aspek produksinya. Hingga tulisan ini dibuat, sistem produksi di Wlingiwood adalah 100% independen, yakni: 

·         Independen secara pendanaan, bukan dari badan pemerintah maupun swasta dan bukan juga donasi maupun investasi di luar anggota komunitas

·         Independen secara kreatif, tidak menyewa tenaga teknis maupun artistik di luar komunitas

·         Independen dari segi gagasan, tidak menuruti jargon-jargon atau idealisme di luar komunitas termasuk keharusan mengangkat isu terkini dan corak lokalitas

·         Independen dalam hal distribusi, tidak melewati jejaring bioskop atau industri yang mapan.

Komunitas Wlingiwood hingga kini terus aktif memberikan edukasi perfilman secara online maupun offline. Film dari komunitas ini misalnya "Bid & Run" (saya sutradaranya, 2015) finalis Festival Sinema Perancis 2015 dan "Anxietus Domicupus" (masih saya sutradaranya, 2020) Nominator Best Comedy di HelloFest #14, Nominator Film Terbaik di GenFlix Film Festival 2020 serta Pemenang Film Cerita Pendek Terpilih Piala Maya ke-9 tahun 2021. 

Prestasi yang pernah diraih warga Wlingiwood Filmmakers dan binaannya antara lain: 

·         2014: EXAM SUICIDE juara 2 FLS2N tingkat propinsi Jawa Timur

·         2015: BID & RUN finalis Festival Sinema Prancis, SIX PACK juara 2 lomba film pendek Kementrian Kesehatan

·         2016: HOBI MINORITAS PARKOUR masuk SODOC (Solo Documentary Film Festival)

·         2019: THE FICTION MASTER finalis HelloFest 13 dan didistribusikan oleh GoPlay

·         2020: ANXIETUS DOMICUPUS nominator Best Comedy HelloFest 14, nominator Sinematografi Terbaik, nominator Film Terbaik dan Special Jury Mention di Genflix Film Festival, Bronze Deer Award di Moviement Film Festival

·         2021: ANXIETUS DOMICUPUS memanangkan Film Cerita Pendek Terpilih pada Piala Maya Ke-9 

Di Wlingiwood tidak dikenal jabatan ketua melainkan Koordinator Umum. Koordinator ini bertugas mengkoordinasi seluruh kegiatan di Wlingiwood juga menjadi juru bicara jika diperlukan. Di dalam Wlingiwood ada beberapa kelompok produksi baik yang sifatnya amatir maupun pra-profesional. Produksi yang saya jalankan misalnya, saya sebut sebagai pra-profesional: Kru dibayar mepet UMR sehari, volunteer dikasih kaos.

Pada tahun 30 Maret 2017, Wlingiwood Filmmakers juga pernah mencoba membuat festival film untuk pertama kali. Di dalamnya hendak kami putar sederetan film buatan kami plus film undangan dari komunitas luar. Perijinan diurus mulai dari Kelurahan, Kepolisian hingga Koramil. Kami mendapat bantuan terob, soundsystem, proyektor dan panggung dari Camat Wlingi waktu itu Bapak Totok Tri Wibisono. Kami bahkan sudah memasang baliho besar sekitar 4 x 3 meter di depan halaman kecamatan Wlingi. Layar tancap kurang lebih 6 x 3 meter sudah kami pasang sejak sore. Sayang acara ini digagalkan oleh hujan lebat dan banjir setinggi mata kaki pada sekitar isya’, padahal jam setengah delapan acara mau dimulai. Acara lalu dipindah ke dalam gedung kecamatan. Acara tetap kami langsungkan hingga selesai. Seingat saya ada 5 orang saja dari luar komunitas yang hadir, sedangkan sisanya kami sendiri sejumlah tak kurang dari 15 orang dengan makanan yang disediakan gratis dan melimpah.

 

XIII. PENUTUP: SEBUAH KESIMPULAN 

Jika kita tilik dari sejarahnya di Amerika, apa yang disebut sinema independen adalah dinamika industri yang terjadi di Hollywood. Indie bukan selalu berupa film dengan budget murah yang dibuat secara digital. Ada juga film indie dengan budget jutaan. Warner Bros, studio besar itu pun pernah punya label Warner Independent Pictures (2003 - 2008) yang merilis "Before Sunset" dan "Slumdog Millionaire". Gimana ceritanya studio gede kok menyebut diri independen? Rupanya independen ini tak bermakna literal sama sekali. Istilah independen lalu digunakan secara longgar mengikuti situasi yang ada.

Ada 3 hal yang menjadi latar kelahiran film independen di Amerika: Edison Trust, dominasi Studio System dan lahirnya teknologi digital. Sedangkan di Indonesia sendiri tidak ada studio system sebagaimana di Amerika. Dalam amatan saya, gerakan film independen di Indonesia setidaknya merespon 4 hal: Regulasi pemerintah beserta aturan dalam asosiasi, dominasi kelompok bermodal, terpuruknya film nasional dan keterbatasan aset produksi. Jadi kita bisa melihat perbedaan dan persamaan konteksnya dengan Amerika. Sama halnya dengan Amerika dan belahan dunia lain, independen adalah istilah yang dinamik. Akan terus diredefinisikan menurut kondisi yang dihadapi. Perubahan akan direspon secara terus menerus dan wajah sinema tak akan pernah sama.

Jalur independen merupakan keumuman untuk filmmaker yang hendak membangun awal karir. Ini sekaligus menjadi ironis karena gerakan independen hanya terpakai sebagai batu pijakan ke industri. Bisa dimaklumi karena karier di film memerlukan stabilitas ekosistem yang mana industri mayor pun kadang kesusahan. Menurut produser Lifelike Pictures Sheila Timothy, bisnis film itu beresiko tinggi. Independen adalah ketidakpastian yang ternyata terus hidup bagai virus dalam sejarah. Kita ingat lagi bahwa bangkitnya industri film nasional pun diawali oleh gerakan independen, tak hanya kalangan profesional namun juga komunitas amatir. Keberadaan kaum independen inilah yang menjaga perfilman nasional tetap hidup sejak awal reformasi hingga kini. 

 

DAFTAR BACAAN 

Referensi Buku, Jurnal, Skripsi, Disertasi dan lain-lain: 

·         ANTARKOTA ANTARLAYAR Potret Komunitas Film di Indonesia oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Deden Ramadani, Levriana Yustriani, Dewan Kesenian Jakarta 2019.

·         JIWA REFORMASI DAN HANTU MASA LALU Sinema Indonesia Pasca Orde Baru oleh Quirine Van Heeren, Dewan Kesenian Jakarta 2019.

·         DIREKTORI FESTIVAL FILM Dunia Dan Indonesia, Komite Film Dewan Kesenian Jakarta & COFFIE (Coordination For Film Festival In Indonesia) 2019.

·         Mendefinisikan Ulang Film Indie: Deskripsi Perkembangan Sinema Independen Indonesia oleh Idola P Putri, Jurnal Komunikasi Indonesia 2013.

·         PARADOKS DAN MANAJEMEN KREATIVITAS DALAM INDUSTRI FILM INDONESIA oleh Elvy Maria Manurung, Disertasi Program Doktoral Universitas Kristen Satya Wacana 2017.

·         DINAMIKA SINEAS DALAM PEMBUATAN FILM INDEPENDEN (Studi Kasus Sineas di Kota Makassar) oleh Muh. Rifai Ramli, Skripsi Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar 2016.

·         RESISTENSI PRODUKSI FILM INDIE DI INDONESIA 1970-2001 (Indonesian Indie Movie Resistens 1970-2001) oleh Donny Dellyar Noer, SH, Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Muhammadiyah Jember -.

·         TINDAK TUTUR DIREKTIF DAN KOMISIF DALAM FILM MAK KELAPON KARYA ADRI ADDAYUNI oleh Elize Wardany, Patriantoro, Nanang Heryana, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untan Pontianak -.

·         MELAWAN KUASA MEDIA DENGAN MEDIA Studi Eksplorasi Manajemen Media Watchdoc Documentary Maker Sebagai Media Alternatif oleh Permata Putri Ismah Ariani, Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang 2017.

 Referensi Situs dan Blog:

·         filmindonesia.or.id

·         cinemapoetica.com

·         ericsasono.com

·         acehtrend.com

·         tirto.id

·         lokadata.id

·         jaff-filmfest.org

·         arkipel.org

·         in-docs.org

·         boemboe.org

·         minikino.org

·         rumata.or.id

·         ciptacitra.id

·         pialamaya.com

·         mantrianimasi.blogspot.com

·         pabriktjerita.blogspot.com

·         wlingiwood.blogspot.com

·         komunita.id

·         imdb.com

·         wikipedia.org

 dan lain-lain.

     (Kembali ke Bagian XI)

Baca

SEJARAH RINGKAS FILM INDEPENDEN DI INDONESIA DAN DI KAMPUNG SAYA - BAGIAN XI (dari 13 bagian)

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================

 

XI. RESPON TERHADAP GERAKAN FILM INDEPENDEN INDONESIA 

Respon atas ramainya pergerakan film independen direspon setidaknya oleh 4 pihak: Pemerintah, Lembaga Pendidikan (negeri dan swasta) beserta anggotanya, Industri dan Masyarakat. Saya mendapat banyak informasi dari buku seri wawasan sinema terbitan DKJ dan juga tulisan-tulisan di Cinema Poetica. 

PEMERINTAH

Yang paling jelas teramati adalah masalah perundang-undangan. Lembaga Sensor tak lagi seketat dulu, birokrasi izin produksi sudah tak lagi melewati departemen penerangan dan Pangkopkamtib. Pemerintah mengakomodir perkembangan gerakan film dengan pembukaan jurusan baru film di beberapa perguruan tinggi. Sebelum reformasi, jurusan film cukup langka. Institut Kesenian Jakarta menjadi lembaga yang paling terkemuka karena masih satu-satunya. Perlombaan seni yang diselenggarakan pemerintah lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga mulai membuka cabang film pendek, misalnya FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) yang berlangsung di tingkat kabupaten, propinsi hingga nasional.

Merespon maraknya perkembangan perfilman di masyarakat, Cinema Poetica mencatat bahwa negara mencoba hadir melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm). Unit dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu mengadakan sejumlah program dukungan bagi komunitas film, mulai dari pendanaan produksi, penyelenggaraan kegiatan, suplai film, hingga pengembangan kapasitas. Lembaga nonkementerian seperti Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut membuka pintu untuk komunitas film. BEKRAF bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) mengadakan forum pendanaan film bernama Akatara, yang menerima proposal film pendek dan festival film milik komunitas. Sementara KPK menyelenggarakan Anti-Corruption Film Festival (ACFF), yang salah satu programnya adalah penyediaan dana produksi film bertema antikorupsi bagi komunitas-komunitas film.

Sejumlah pemerintahan daerah juga mendukung dengan melibatkan komunitas film dalam perhelatan tingkat lokal atau regional, sebagaimana yang terjadi dalam penyelenggaraan Festival Film Malang dan Festival Film Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Yogyakarta, berkat Dana Keistimewaan, bahkan menyediakan dana khusus untuk produksi film fiksi dan dokumenter pendek—pembuat film bisa mengajukan proyeknya melalui forum pitching yang diselenggarakan setiap tahun sejak 2016. Contohnya film "Tilik" yang viral itu mendapatkan bantuan dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta.

Akan tetapi perkembangan di tiap daerah tak sama. Perkembangan film di Aceh agak menemui kesulitan karena beberapa faktor. Aceh menerapkan hukum berdasarkan syariat Islam yang membatasi pertemuan lelaki dan perempuan bukan muhrim dalam satu ruang tertutup. Dari sini akibatnya adalah ketiadaan bioskop. Meski begitu pada suatu kesempatan Walikota Kota Banda Aceh, Aminullah Usman mendukung penuh dunia perfilman Aceh. Dikatakan bahwa koordinasi terus dilakukan oleh pemerintah dengan pihak-pihak terkait agar bioskop dapat hadir dengan nuansa Islami. Aminullah mengatakan, pemerintah Banda Aceh akan mengadakan pembicaraan terkait pembuatan bioskop dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). Rencananya bioskop Banda Aceh akan dibuat dalam konsep yang berbeda, sesuai syariat. Hingga tulisan ini dibuat, bioskop syariah yang dibicarakan tersebut tidak kunjung hadir karena belum ada qanun yang mengatur tentang itu.

Selain itu respon dari pemerintah tak selalu menggembirakan. Dalam amatan saya pemerintah tidak memiliki ketegasan dalam melindungi kegiatan perfilman misalnya ketika pemutaran film diancam oleh organisasi masyarakat tertentu. Pemutaran film semacam "Jagal (The Act of Killing)" (Joshua Oppenheimer, 2012) dan "Pulau Buru Tanah Air Beta" (Rahung Nasution, 2016) selalu dibiarkan diintimidasi oleh kelompok tertentu. Beberapa acara festival seperti yang diselenggarakan CLC Purbalingga pun sering berurusan dengan aparat pemerintah. 

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah salah satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ali Sadikin, pada tanggal 7 Juni 1968. Tugas dan fungsi DKJ adalah sebagai mitra kerja Gubernur Kepala Daerah Propinsi DKI Jakarta untuk mendukung pengembangan kesenian di wilayah Propinsi DKI Jakarta. Anggota Dewan Kesenian Jakarta diangkat oleh Akademi Jakarta (AJ) dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta. Anggota DKJ terdiri dari para seniman, budayawan dan pemikir seni, yang terbagi dalam 6 komite: Komite Film, Komite Musik, Komite Sastra, Komite Seni Rupa, Komite Tari dan Komite Teater. Meski DKJ bekerjasama lembaga-lembaga nirlaba, perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap seni-budaya, dan dengan dewan kesenian kabupaten/kota/provinsi lainnya, namun pengelolaan organisasi dilakukan secara otonom. Kegiatan DKJ antara lain penelitian, pendokumentasian karya dan kegiatan, kajian seni-budaya, festival, penyediaan wahana apresiasi (pertunjukan seni, pemutaran film, pameran/gelar karya) dan lain-lain.

Sebagai ruang apresiasi film, di DKJ didirikan Kine Klub DKJ pada tahun 1969, tak lama setelah Ali Sadikin selaku gubernur DKI Jakarta meresmikan Taman Ismail Marzuki pada 10 November 1968. Dalam Cinema Poetica disebutkan bahwa di masa jayanya, Kine Klub DKJ rutin mengadakan acara pekan pemutaran film sekali dalam sebulan di Teater Tertutup TIM. Mereka bekerja sama dengan berbagai pusat kebudayaan dan juga sineas-sineas lokal dalam prosesnya. Usai pemutaran, para penonton bisa berinteraksi langsung dengan para tokoh dunia film tersebut. Menurut Marselli Sumarno, kritikus film sekaligus anggota Komite Film DKJ 2009-2015, Kine Klub DKJ bahkan pernah kedatangan dua sutradara besar dari Jerman, yaitu Wim Wenders dan Volker Schlöndorff.

Menurut Marselli, animo masyarakat terhadap Kine Klub DKJ mencapai puncaknya pada 1980an. Para penonton datang dari beragam latar belakang, entah mahasiswa, pekerja kantoran, hingga seniman. Mereka yang mendaftar jadi anggota hanya diwajibkan membayar setengah harga tiket masuk dalam sebuah pemutaran. Itu saja sudah cukup untuk menutupi biaya operasional sehari-hari.

Hingga tahun 1990, tumbuh banyak kine klub atau inisiatif sejenis di berbagai lembaga pendidikan dan kebudayaan. Dalam catatan Cinema Poetica, pertumbuhan kine klub lantas berujung pada penyelenggaraan Musyawarah Besar Kine Klub Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 19–22 September 1990. Difasilitasi oleh DKJ, musyawarah tersebut mempertemukan 42 kine klub dan berpuncak pada pembentukan Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia (SENAKKI) sebagai induk kegiatan kine klub di Indonesia. Selaras dengan kine-kine klub yang menghidupinya, kegiatan SENAKKI lebih banyak berkutat pada penayangan dan apresiasi film. Dalam beberapa kesempatan, SENAKKI bermitra dengan perusahaan-perusahaan swasta seperti 21 Cineplex dan Fuji Film untuk mengadakan program-program pelatihan. Semangat kegiatannya: pembinaan masyarakat.

Menjelang akhir 1990an industri film nasional merosot. Ditambah dengan kemunculan beberapa televisi swasta, krisis moneter dan kekisruhan politik mengakibatkan aktivitas Kine Klub DKJ menurun dan akhirnya bubar. Apalagi pada awal 2000an, Teater Tertutup yang kerap jadi lokasi pemutaran harus disingkirkan untuk pembangunan dua gedung pertunjukan baru di TIM: Teater Besar dan Teater Kecil.

Gotot Prakosa (yang tadi kita singgung di segmen sejarah awal) menjabat sebagai Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 2002-2006. Ia mencoba menggagas sebuah wadah bagi film-film independen yang ia istilahkan sebagai “film pinggiran”. Bersama dengan Ratna Sarumpaet, Ketua DKJ 2003-2006, dan beberapa kawan lainnya, Gotot melakukan negosiasi dengan pihak 21 Cineplex untuk memberi sebuah ruang bagi film-film non-komersial dalam bioskop mereka di kompleks Taman Ismail Marzuki. Permintaan itu disetujui. Mulai 29 Juni 2005, berdirilah Art Cinema yang rutin memutarkan film-film alternatif selama dua minggu tiap bulannya di studio 1 bioskop 21 Cineplex TIM dengan kapasitas 130 kursi. Pemutaran dilakukan sesuai program yang dirancang oleh Komite Film DKJ saat itu.

Setahun kemudian, terjadi pergantian kepengurusan di mana Marco Kusumawijaya diangkat sebagai Ketua DKJ dan untuk Ketua Komite Film ditunjuklah Farishad Latjuba. Sejak itu, Art Cinema berganti nama jadi Kineforum. Program pun tak lagi dirancang langsung oleh Komite Film. Lisabona Rahman (yang nanti akan kita sebut sebagai salah seorang yang aktif di filmindonesia.or.id) dijadikan Manajer Program pertama.

Dalam wawancara dengan Jurnal Footage pada Agustus 2008, Lisabona Rahman menyebut bahwa perbedaan antara Art Cinema dengan Kineforum adalah bahwa Art Cinema lebih mirip ke ruang pameran, dalam arti mereka memutar film-film yang dianggap kuratornya sebagai “film seni”. Sedangkan, Kineforum tidak membatasi diri pada film-film seni saja, melainkan film-film apapun selama ada keterkaitan dengan tema yang sudah diprogram. Dengan demikian Kineforum menjadi sebuah ruang pemutaran alternatif.

Perguruan tinggi memang lazim menjadi ruang tumbuhnya para mahasiswa pegiat film. Kegiatan film di kampus biasanya diorganisir dalam Lembaga Semi Otonom (LSO), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau oleh himpunan mahasiswa jurusan tertentu. Tak melulu dari jurusan film atau sejenis, kegiatan film dilakukan oleh mahasiswa jurusan apapun. Pasca reformasi fenomena menjamurnya kine klub menjalar ke seluruh Indonesia, baik di lembaga pendidikan negeri maupun swasta. Kiprah mereka ini mewarnai jejaring perfilman dengan terselenggaranya festival-festival film independent.

Di wilayah Jakarta misalnya ada UCIFEST - UMN Animation & Film Festival adalah sebuah festival film pendek yang diselenggarakan oleh Universitas Multimedia Nusantara sejak tahun 2010. Sasarannya adalah mahasiswa dan pelajar SMA/SMK se-Indonesia. UCIFEST juga menyelenggarakan program diskusi, pitching forum, hingga pemaparan materi dari filmmakers profesional.

Ada lagi UI Film Festival (UIFF) merupakan festival film yang dibesut oleh UKM Sinematografi UI. UIFF pertama kali diselenggarakan pada tahun 2014 dan berfokus pada literasi, apresiasi, kompetisi, juga diskusi film pendek mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Bandung malah lebih awal lagi. Ganesha Film Festival, atau yang biasa disingkat Ganffest, merupakan sebuah festival film pendek independen yang diselenggarakan oleh Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB sejak 2008. Acara ini diadakan setiap dua tahun sekali.

Kita coba telusuri kprah-kiprah kine klub sejenis di Jawa Tengah dan Jogja.

Kine Klub FISIP UNS sudah mengadakan pemutaran besar sejak akhir tahun 1990 – 2016. Sejak 2016, Pesta Film Solo digelar dengan menghadirkan tokoh-tokoh penting perfilman Indonesia sebagai pembicara untuk kegiatan diskusi usai pemutaran film. Pesta Film Solo selalu mengajak kurator di luar komunitas mereka untuk memilih film-film yang akan ditampilkan. Di kota yang sama, Solo Documentary Festival (SODOC) sejak 2015. Festival film khusus dokumenter ini diselenggarakan oleh para mahasiswa ISI Surakarta di kota Solo. Sesuai dengan namanya, festival film ini hanya menerima film dengan kategori dokumenter. Sodoc juga menjalankan program diskusi dan lokakarya film dokumenter.

Di Jogja kegiatan film di kampus tak selalu dari institut seni. Di UGM sejak awal tahun 2000an sudah ada program pemutaran film dan diskusi di Fakultas Teknik. Saat itu saya masih mahasiswa dan pernah menghadirinya. Namun sayangnya belum mencakup pemutaran film independen lokal. Di Fakultas Ilmu Budaya UGM kadang juga ada pemutaran film dari luar. Saya pernah menghadiri pemutaran film "Reinkarnasi" (Dede Yusuf, 1997). Mungkin yang cukup terkemuka di kalangan kampus adalah Sewon screening. Sewon Screening adalah salah satu program kerja himpunan Mahasiswa Jurusan Televisi dan Film Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2015, program ini berbentuk ekshibisi film. Festival ini mengusung semangat "Angin Segar dari selatan" (karena Sewon terletak di bagian selatan Yogyakarta) dengan sub tema yang berbeda setiap tahun.

Di Jawa Timur, misalnya. di Universitas Muhammadiyyah Malang berdiri Kine Klub UMM sejak tahun 1999. Kine Klub UMM memulai kegiatan produksinya sejak tahun 2003 dan merupakan penyelenggara Malang Film Festival (MAFI). Sementara itu di Universitas Brawijaya Malang, tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, pada tahun 2006 berdiri Societo Sineklub. Dari 2006 sampai 2011, Societo Sineklub sibuk dengan program-program produksi film pendek dan beberapa pemutaran untuk meluncurkan film-film produksi tersebut.

Di Makassar, gerakan film kampus dipelopori oleh para mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Hasanuddin yang kemudian diikuti oleh kampus lain seperti Universitas Muhammadiyah Makassar, Stikom Fajar Makassar dan lain-lain. Di tahun 2008, sekitar 20 kelompok film berkumpul dan menggagas pembentukan Forum Film (FOR FILM) Makassar. Secara rutin, mereka bertemu dan berdiskusi perihal perencanaan dan manajemen produksi film, bagaimana meningkatkan kualitas film, distribusi, penayangan dan lain-lain. FOR FILM Makassar menggagas Antologi Film Pendek untuk Makassar di tahun 2009 sebagai program pertamanya.

Di tahun 2008, Institut Kesenian Makassar (IKM) didirikan. Salah satu program studi yang dibentuk adalah Film dan Televisi. Kehadiran IKM beserta program studi Film dan Televisi-nya memberi angin sejuk bagi pekerja film di Makassar yang selama ini hanya mempelajari film secara otodidak, juga bagi mereka yang berminat menjadi pekerja film. Ada 2 film yang dikerjakan oleh mahasiswa-mahasiswa IKM yang mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat, yaitu film "Memburu Harimau" dan "Jejak-jejak Kecil". Film Memburu Harimau diproduksi dan ditayangkan dengan swadaya. Sebuah ruang di Gedung Kesenian Sulsel Societeit de Harmonie diubah menjadi semirip mungkin dengan bioskop pada lazimnya. Bioskop tersebut hanya berkapasitas 20 kursi. Film Memburu Harimau mendapat sambutan yang luar biasa. Selama 5 hari penayangan sekira 700 penonton hadir. Film terakhir yang dikerjakan mahasiswa-mahasiswa IKM adalah "Jejak-Jejak Kecil" yang berdurasi 75 menit, diproduksi oleh Tetta Production bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar. Film ini telah diproduksi dalam bentuk DVD dan terjual hingga 2.500 keping.

Di Lampung penggerak perfilman juga dari kalangan kampus. UKM Darmajaya Computer & Film Club (DCFC) yang merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Penalaran & Keilmuan di Institut Informatika & Bisnis Darmajaya serta bergerak di bidang komputer dan perfilman menyelenggarakan  Festival Film Indie Darmajaya (FFI Darmajaya) di tahun 2009. Di tahun 2015 FFI Damarjaya berganti nama menjadi FFI Lampung. Baru di tahun 2018 berganti nama menjadi Festival Film Lampung (FFL) hingga sekarang.

Setelah menjamur di kampus, klub film juga hadir di sekolah menengah. Di kota saya saja yang notabene cuma kecamatan, ada 2 sekolah yang memiliki kegiatan ekstra kurikuler film yakni di SMAN 1 Talun (sejak 2009) dan SMK PGRI Wlingi (sejak 2015). Saya dan komunitas membina dua klub tersebut. Mirip dengan pengalaman saya (dan saya menilainya istimewa) adalah sosok Aris Prasetyo. Dia adalah guru SMP Negeri 4 Satu Atap Karangmoncol Purbalingga. Mas Aris aktif mengajar ekstrakurikuler film dan muridnya banyak meraih penghargaan nasional. “Gendut” karya Eko Junianto, muridnya Mas Aris mengalahkan saya di Lomba Film Pendek HKN Kementrian Kesehatan 2015. Eko dapat juara 1, saya juara 2. Mas Aris dan timnya berkarya di tengah keterbatasan dan minimnya penghargaan dari lingkungan. Meski begitu muridnya banyak menjuarai lomba di luar lingkungannya. 

INDUSTRI

Banyaknya festival film yang melahirkan para sutradara baru memudahkan industri dalam merekrut bakat. Beberapa sutradara berawal dari jalur independen hingga masuk industri mayor. Hanung Bramantyo misalnya. Ia berangkat dari film pendek berjudul "Tlutur" (1998) yang dibuat saat ia masih kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Tlutur berhasil menjadi juara pertama di Festival Film Alternatif Dewan Kesenian Jakarta 1998. Beberapa rumah produksi pun berawal dari komunitas independen, misalnya Fourcolours dan Studio Antelope. Rumah produksi ini saat ini sudah menjadi bagian dari industri film nasional.

Saat ini antara pelaku independen dan non independen menjadi berbaur di dalam industri. Inilah yang di bagian awal cukup merepotkan saya dalam memberikan batasan atau definisi. Sejauh pengamatan saya, setelah reformasi sebagian besar filmmaker pernah mengawali lewat jalur independen.

Sementara itu bersamaan dengan makin tenarnya platform layanan menonton Over The Top (OTT) terutama Netflix, banyak OTT serupa muncul di Asia dan Indonesia. Ada yang membuka peluang untuk mengajukan ide cerita misalnya oleh Viu yang berbasis di Hongkong. Viu Indonesia membuka acara Viu Pitching Forum dan serangkaian pelatihan. Akan tetapi menurut saya terobosan terbaru adalah ketika ada kategori film pendek secara khusus pada aplikasi berbayar. Goplay Indonesia (perusahaan milik Gojek) misalnya melakukan kerjasama dengan para filmmaker film pendek untuk memasang film mereka di bawah fitur “Goplay Indie”. Terbosan semacam ini juga diikuti dengan munculnya beberapa platform baru yang mengkhususkan pada film independen dan atau film pendek. Saya pribadi setidaknya dihubungi oleh 4 platform baru yang meminta film saya diunggah pada platform mereka.

MASYARAKAT

Maraknya film independen juga menumbuhkan golongan penonton baru. Mereka ini jadi melek film karena edukasi dari komunitas dan terselenggaranya pemutaran alternatif. Di platform online, istilah subscriber Youtube menjadi sebuah komoditas yang penting. Lalu muncul pula para penonton "khusus", saya sebut demikian karena mereka memang bukan masyarakat yang menonton film secara biasa. Mereka ini mengapresiasi secara kritis, memiliki metode dan juga menyebarkan gagasannya. Mereka adalah para kritikus film seperti JB Kristanto, Ekky Imanjaya, Hikmat Dharmawan, Eric Sasono, Adrian Jonathan Pasaribu dan lain-lain.

Sebelum reformasi rata-rata kritikus menulis untuk media yang sudah mapan, baru bisa dibaca masyarakat. Dengan berkembangnya ragam media misalnya blog di internet, kritikus bisa mempublikasikan tulisannya secara langsung dan independen. JB Kristanto, senior kritikus penulis buku Katalog Film Indonesia, yang berisi data tentang film Indonesia sepanjang masa yang diperbaharui secara berkala, turut memprakarsai berdirinya situs filmindonesia.or.id, pusat data mengenai film dan perfilman Indonesia. Kemudian ada Eric Sasono dan kawan-kawan yang memprakarsai rumahfilm.org (sudah tak bisa diakses). Eric juga menulis di website pribadinya ericsasono.com. Yang lebih muda ada Rasyid Rahman Harry yang mempublikasikan tulisannya di blog movreak.blogspot.com dan tulisannya pernah mendapat nominasi kritik terpilih Piala Maya 2018. Piala Maya sendiri yang konon disetarakan dengan Piala Citra FFI juga lahir dari interaksi online para kritikus film yakni Hafiz Husni yang mengawalinya di Twitter sebelum kemudian menjadi perayaan offline. Perkembangan teknologi media ini memang membuat para kritikus film bisa lebih independen.

Yang paling terkemuka pasca reformasi menurut saya adalah Cinema Poetica. Media kritik film ini bermula setelah Adrian Jonathan Pasaribu, Windu Jusuf dan Makbul Mubarak sering berdiskusi di Kinoki Jogjakarta. Kinoki adalah ruang putar alternatif terkemuka pada masa itu di Jogja. Cinema Poetica juga terlibat dalam proyek penulisan buku Seri Wacana Sinema yang disponsori oleh Dewan Kesenian Jakarta. Buku tersebut menjadi sumber penting saya dalam menulis tulisan ini.

Perkembangan berikutnya adalah kritikus yang memuat kritiknya dalam format lebih ringan yakni berbentuk video blog atau vlog. Misalnya kelompok Cine Crib yang mempunyai kanal di Youtube. Kehadiran mereka ini menjadikan kritik film terasa lebih tercerna untuk masyarakat yang malas membaca. Adapun soal kedalaman kritik yang mereka lontarkan bisa menjadi wilayah kritik tersendiri. Cine Crib juga memproduksi film, antara lain "Merangkul Jarak" (Gerry Fairus, 2020) berkolaborasi dengan Kinovia.

(Kembali ke Bagian X)                                        (Bersambung ke Bagian XII - XIII)

(Bagian I - III)  (Bagian IV - V)  (Bagian VI - VII)  (Bagian VIII) 

(Bagian IX)  (Bagian X)  (Bagian XI)  (Bagian XII - XIII) 

==================================================================

 

XI. RESPON TERHADAP GERAKAN FILM INDEPENDEN INDONESIA 

Respon atas ramainya pergerakan film independen direspon setidaknya oleh 4 pihak: Pemerintah, Lembaga Pendidikan (negeri dan swasta) beserta anggotanya, Industri dan Masyarakat. Saya mendapat banyak informasi dari buku seri wawasan sinema terbitan DKJ dan juga tulisan-tulisan di Cinema Poetica. 

PEMERINTAH

Yang paling jelas teramati adalah masalah perundang-undangan. Lembaga Sensor tak lagi seketat dulu, birokrasi izin produksi sudah tak lagi melewati departemen penerangan dan Pangkopkamtib. Pemerintah mengakomodir perkembangan gerakan film dengan pembukaan jurusan baru film di beberapa perguruan tinggi. Sebelum reformasi, jurusan film cukup langka. Institut Kesenian Jakarta menjadi lembaga yang paling terkemuka karena masih satu-satunya. Perlombaan seni yang diselenggarakan pemerintah lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga mulai membuka cabang film pendek, misalnya FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) yang berlangsung di tingkat kabupaten, propinsi hingga nasional.

Merespon maraknya perkembangan perfilman di masyarakat, Cinema Poetica mencatat bahwa negara mencoba hadir melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm). Unit dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu mengadakan sejumlah program dukungan bagi komunitas film, mulai dari pendanaan produksi, penyelenggaraan kegiatan, suplai film, hingga pengembangan kapasitas. Lembaga nonkementerian seperti Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut membuka pintu untuk komunitas film. BEKRAF bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) mengadakan forum pendanaan film bernama Akatara, yang menerima proposal film pendek dan festival film milik komunitas. Sementara KPK menyelenggarakan Anti-Corruption Film Festival (ACFF), yang salah satu programnya adalah penyediaan dana produksi film bertema antikorupsi bagi komunitas-komunitas film.

Sejumlah pemerintahan daerah juga mendukung dengan melibatkan komunitas film dalam perhelatan tingkat lokal atau regional, sebagaimana yang terjadi dalam penyelenggaraan Festival Film Malang dan Festival Film Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Yogyakarta, berkat Dana Keistimewaan, bahkan menyediakan dana khusus untuk produksi film fiksi dan dokumenter pendek—pembuat film bisa mengajukan proyeknya melalui forum pitching yang diselenggarakan setiap tahun sejak 2016. Contohnya film "Tilik" yang viral itu mendapatkan bantuan dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta.

Akan tetapi perkembangan di tiap daerah tak sama. Perkembangan film di Aceh agak menemui kesulitan karena beberapa faktor. Aceh menerapkan hukum berdasarkan syariat Islam yang membatasi pertemuan lelaki dan perempuan bukan muhrim dalam satu ruang tertutup. Dari sini akibatnya adalah ketiadaan bioskop. Meski begitu pada suatu kesempatan Walikota Kota Banda Aceh, Aminullah Usman mendukung penuh dunia perfilman Aceh. Dikatakan bahwa koordinasi terus dilakukan oleh pemerintah dengan pihak-pihak terkait agar bioskop dapat hadir dengan nuansa Islami. Aminullah mengatakan, pemerintah Banda Aceh akan mengadakan pembicaraan terkait pembuatan bioskop dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). Rencananya bioskop Banda Aceh akan dibuat dalam konsep yang berbeda, sesuai syariat. Hingga tulisan ini dibuat, bioskop syariah yang dibicarakan tersebut tidak kunjung hadir karena belum ada qanun yang mengatur tentang itu.

Selain itu respon dari pemerintah tak selalu menggembirakan. Dalam amatan saya pemerintah tidak memiliki ketegasan dalam melindungi kegiatan perfilman misalnya ketika pemutaran film diancam oleh organisasi masyarakat tertentu. Pemutaran film semacam "Jagal (The Act of Killing)" (Joshua Oppenheimer, 2012) dan "Pulau Buru Tanah Air Beta" (Rahung Nasution, 2016) selalu dibiarkan diintimidasi oleh kelompok tertentu. Beberapa acara festival seperti yang diselenggarakan CLC Purbalingga pun sering berurusan dengan aparat pemerintah. 

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah salah satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ali Sadikin, pada tanggal 7 Juni 1968. Tugas dan fungsi DKJ adalah sebagai mitra kerja Gubernur Kepala Daerah Propinsi DKI Jakarta untuk mendukung pengembangan kesenian di wilayah Propinsi DKI Jakarta. Anggota Dewan Kesenian Jakarta diangkat oleh Akademi Jakarta (AJ) dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta. Anggota DKJ terdiri dari para seniman, budayawan dan pemikir seni, yang terbagi dalam 6 komite: Komite Film, Komite Musik, Komite Sastra, Komite Seni Rupa, Komite Tari dan Komite Teater. Meski DKJ bekerjasama lembaga-lembaga nirlaba, perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap seni-budaya, dan dengan dewan kesenian kabupaten/kota/provinsi lainnya, namun pengelolaan organisasi dilakukan secara otonom. Kegiatan DKJ antara lain penelitian, pendokumentasian karya dan kegiatan, kajian seni-budaya, festival, penyediaan wahana apresiasi (pertunjukan seni, pemutaran film, pameran/gelar karya) dan lain-lain.

Sebagai ruang apresiasi film, di DKJ didirikan Kine Klub DKJ pada tahun 1969, tak lama setelah Ali Sadikin selaku gubernur DKI Jakarta meresmikan Taman Ismail Marzuki pada 10 November 1968. Dalam Cinema Poetica disebutkan bahwa di masa jayanya, Kine Klub DKJ rutin mengadakan acara pekan pemutaran film sekali dalam sebulan di Teater Tertutup TIM. Mereka bekerja sama dengan berbagai pusat kebudayaan dan juga sineas-sineas lokal dalam prosesnya. Usai pemutaran, para penonton bisa berinteraksi langsung dengan para tokoh dunia film tersebut. Menurut Marselli Sumarno, kritikus film sekaligus anggota Komite Film DKJ 2009-2015, Kine Klub DKJ bahkan pernah kedatangan dua sutradara besar dari Jerman, yaitu Wim Wenders dan Volker Schlöndorff.

Menurut Marselli, animo masyarakat terhadap Kine Klub DKJ mencapai puncaknya pada 1980an. Para penonton datang dari beragam latar belakang, entah mahasiswa, pekerja kantoran, hingga seniman. Mereka yang mendaftar jadi anggota hanya diwajibkan membayar setengah harga tiket masuk dalam sebuah pemutaran. Itu saja sudah cukup untuk menutupi biaya operasional sehari-hari.

Hingga tahun 1990, tumbuh banyak kine klub atau inisiatif sejenis di berbagai lembaga pendidikan dan kebudayaan. Dalam catatan Cinema Poetica, pertumbuhan kine klub lantas berujung pada penyelenggaraan Musyawarah Besar Kine Klub Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 19–22 September 1990. Difasilitasi oleh DKJ, musyawarah tersebut mempertemukan 42 kine klub dan berpuncak pada pembentukan Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia (SENAKKI) sebagai induk kegiatan kine klub di Indonesia. Selaras dengan kine-kine klub yang menghidupinya, kegiatan SENAKKI lebih banyak berkutat pada penayangan dan apresiasi film. Dalam beberapa kesempatan, SENAKKI bermitra dengan perusahaan-perusahaan swasta seperti 21 Cineplex dan Fuji Film untuk mengadakan program-program pelatihan. Semangat kegiatannya: pembinaan masyarakat.

Menjelang akhir 1990an industri film nasional merosot. Ditambah dengan kemunculan beberapa televisi swasta, krisis moneter dan kekisruhan politik mengakibatkan aktivitas Kine Klub DKJ menurun dan akhirnya bubar. Apalagi pada awal 2000an, Teater Tertutup yang kerap jadi lokasi pemutaran harus disingkirkan untuk pembangunan dua gedung pertunjukan baru di TIM: Teater Besar dan Teater Kecil.

Gotot Prakosa (yang tadi kita singgung di segmen sejarah awal) menjabat sebagai Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 2002-2006. Ia mencoba menggagas sebuah wadah bagi film-film independen yang ia istilahkan sebagai “film pinggiran”. Bersama dengan Ratna Sarumpaet, Ketua DKJ 2003-2006, dan beberapa kawan lainnya, Gotot melakukan negosiasi dengan pihak 21 Cineplex untuk memberi sebuah ruang bagi film-film non-komersial dalam bioskop mereka di kompleks Taman Ismail Marzuki. Permintaan itu disetujui. Mulai 29 Juni 2005, berdirilah Art Cinema yang rutin memutarkan film-film alternatif selama dua minggu tiap bulannya di studio 1 bioskop 21 Cineplex TIM dengan kapasitas 130 kursi. Pemutaran dilakukan sesuai program yang dirancang oleh Komite Film DKJ saat itu.

Setahun kemudian, terjadi pergantian kepengurusan di mana Marco Kusumawijaya diangkat sebagai Ketua DKJ dan untuk Ketua Komite Film ditunjuklah Farishad Latjuba. Sejak itu, Art Cinema berganti nama jadi Kineforum. Program pun tak lagi dirancang langsung oleh Komite Film. Lisabona Rahman (yang nanti akan kita sebut sebagai salah seorang yang aktif di filmindonesia.or.id) dijadikan Manajer Program pertama.

Dalam wawancara dengan Jurnal Footage pada Agustus 2008, Lisabona Rahman menyebut bahwa perbedaan antara Art Cinema dengan Kineforum adalah bahwa Art Cinema lebih mirip ke ruang pameran, dalam arti mereka memutar film-film yang dianggap kuratornya sebagai “film seni”. Sedangkan, Kineforum tidak membatasi diri pada film-film seni saja, melainkan film-film apapun selama ada keterkaitan dengan tema yang sudah diprogram. Dengan demikian Kineforum menjadi sebuah ruang pemutaran alternatif.

Perguruan tinggi memang lazim menjadi ruang tumbuhnya para mahasiswa pegiat film. Kegiatan film di kampus biasanya diorganisir dalam Lembaga Semi Otonom (LSO), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau oleh himpunan mahasiswa jurusan tertentu. Tak melulu dari jurusan film atau sejenis, kegiatan film dilakukan oleh mahasiswa jurusan apapun. Pasca reformasi fenomena menjamurnya kine klub menjalar ke seluruh Indonesia, baik di lembaga pendidikan negeri maupun swasta. Kiprah mereka ini mewarnai jejaring perfilman dengan terselenggaranya festival-festival film independent.

Di wilayah Jakarta misalnya ada UCIFEST - UMN Animation & Film Festival adalah sebuah festival film pendek yang diselenggarakan oleh Universitas Multimedia Nusantara sejak tahun 2010. Sasarannya adalah mahasiswa dan pelajar SMA/SMK se-Indonesia. UCIFEST juga menyelenggarakan program diskusi, pitching forum, hingga pemaparan materi dari filmmakers profesional.

Ada lagi UI Film Festival (UIFF) merupakan festival film yang dibesut oleh UKM Sinematografi UI. UIFF pertama kali diselenggarakan pada tahun 2014 dan berfokus pada literasi, apresiasi, kompetisi, juga diskusi film pendek mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Bandung malah lebih awal lagi. Ganesha Film Festival, atau yang biasa disingkat Ganffest, merupakan sebuah festival film pendek independen yang diselenggarakan oleh Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB sejak 2008. Acara ini diadakan setiap dua tahun sekali.

Kita coba telusuri kprah-kiprah kine klub sejenis di Jawa Tengah dan Jogja.

Kine Klub FISIP UNS sudah mengadakan pemutaran besar sejak akhir tahun 1990 – 2016. Sejak 2016, Pesta Film Solo digelar dengan menghadirkan tokoh-tokoh penting perfilman Indonesia sebagai pembicara untuk kegiatan diskusi usai pemutaran film. Pesta Film Solo selalu mengajak kurator di luar komunitas mereka untuk memilih film-film yang akan ditampilkan. Di kota yang sama, Solo Documentary Festival (SODOC) sejak 2015. Festival film khusus dokumenter ini diselenggarakan oleh para mahasiswa ISI Surakarta di kota Solo. Sesuai dengan namanya, festival film ini hanya menerima film dengan kategori dokumenter. Sodoc juga menjalankan program diskusi dan lokakarya film dokumenter.

Di Jogja kegiatan film di kampus tak selalu dari institut seni. Di UGM sejak awal tahun 2000an sudah ada program pemutaran film dan diskusi di Fakultas Teknik. Saat itu saya masih mahasiswa dan pernah menghadirinya. Namun sayangnya belum mencakup pemutaran film independen lokal. Di Fakultas Ilmu Budaya UGM kadang juga ada pemutaran film dari luar. Saya pernah menghadiri pemutaran film "Reinkarnasi" (Dede Yusuf, 1997). Mungkin yang cukup terkemuka di kalangan kampus adalah Sewon screening. Sewon Screening adalah salah satu program kerja himpunan Mahasiswa Jurusan Televisi dan Film Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2015, program ini berbentuk ekshibisi film. Festival ini mengusung semangat "Angin Segar dari selatan" (karena Sewon terletak di bagian selatan Yogyakarta) dengan sub tema yang berbeda setiap tahun.

Di Jawa Timur, misalnya. di Universitas Muhammadiyyah Malang berdiri Kine Klub UMM sejak tahun 1999. Kine Klub UMM memulai kegiatan produksinya sejak tahun 2003 dan merupakan penyelenggara Malang Film Festival (MAFI). Sementara itu di Universitas Brawijaya Malang, tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, pada tahun 2006 berdiri Societo Sineklub. Dari 2006 sampai 2011, Societo Sineklub sibuk dengan program-program produksi film pendek dan beberapa pemutaran untuk meluncurkan film-film produksi tersebut.

Di Makassar, gerakan film kampus dipelopori oleh para mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Hasanuddin yang kemudian diikuti oleh kampus lain seperti Universitas Muhammadiyah Makassar, Stikom Fajar Makassar dan lain-lain. Di tahun 2008, sekitar 20 kelompok film berkumpul dan menggagas pembentukan Forum Film (FOR FILM) Makassar. Secara rutin, mereka bertemu dan berdiskusi perihal perencanaan dan manajemen produksi film, bagaimana meningkatkan kualitas film, distribusi, penayangan dan lain-lain. FOR FILM Makassar menggagas Antologi Film Pendek untuk Makassar di tahun 2009 sebagai program pertamanya.

Di tahun 2008, Institut Kesenian Makassar (IKM) didirikan. Salah satu program studi yang dibentuk adalah Film dan Televisi. Kehadiran IKM beserta program studi Film dan Televisi-nya memberi angin sejuk bagi pekerja film di Makassar yang selama ini hanya mempelajari film secara otodidak, juga bagi mereka yang berminat menjadi pekerja film. Ada 2 film yang dikerjakan oleh mahasiswa-mahasiswa IKM yang mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat, yaitu film "Memburu Harimau" dan "Jejak-jejak Kecil". Film Memburu Harimau diproduksi dan ditayangkan dengan swadaya. Sebuah ruang di Gedung Kesenian Sulsel Societeit de Harmonie diubah menjadi semirip mungkin dengan bioskop pada lazimnya. Bioskop tersebut hanya berkapasitas 20 kursi. Film Memburu Harimau mendapat sambutan yang luar biasa. Selama 5 hari penayangan sekira 700 penonton hadir. Film terakhir yang dikerjakan mahasiswa-mahasiswa IKM adalah "Jejak-Jejak Kecil" yang berdurasi 75 menit, diproduksi oleh Tetta Production bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar. Film ini telah diproduksi dalam bentuk DVD dan terjual hingga 2.500 keping.

Di Lampung penggerak perfilman juga dari kalangan kampus. UKM Darmajaya Computer & Film Club (DCFC) yang merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Penalaran & Keilmuan di Institut Informatika & Bisnis Darmajaya serta bergerak di bidang komputer dan perfilman menyelenggarakan  Festival Film Indie Darmajaya (FFI Darmajaya) di tahun 2009. Di tahun 2015 FFI Damarjaya berganti nama menjadi FFI Lampung. Baru di tahun 2018 berganti nama menjadi Festival Film Lampung (FFL) hingga sekarang.

Setelah menjamur di kampus, klub film juga hadir di sekolah menengah. Di kota saya saja yang notabene cuma kecamatan, ada 2 sekolah yang memiliki kegiatan ekstra kurikuler film yakni di SMAN 1 Talun (sejak 2009) dan SMK PGRI Wlingi (sejak 2015). Saya dan komunitas membina dua klub tersebut. Mirip dengan pengalaman saya (dan saya menilainya istimewa) adalah sosok Aris Prasetyo. Dia adalah guru SMP Negeri 4 Satu Atap Karangmoncol Purbalingga. Mas Aris aktif mengajar ekstrakurikuler film dan muridnya banyak meraih penghargaan nasional. “Gendut” karya Eko Junianto, muridnya Mas Aris mengalahkan saya di Lomba Film Pendek HKN Kementrian Kesehatan 2015. Eko dapat juara 1, saya juara 2. Mas Aris dan timnya berkarya di tengah keterbatasan dan minimnya penghargaan dari lingkungan. Meski begitu muridnya banyak menjuarai lomba di luar lingkungannya. 

INDUSTRI

Banyaknya festival film yang melahirkan para sutradara baru memudahkan industri dalam merekrut bakat. Beberapa sutradara berawal dari jalur independen hingga masuk industri mayor. Hanung Bramantyo misalnya. Ia berangkat dari film pendek berjudul "Tlutur" (1998) yang dibuat saat ia masih kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Tlutur berhasil menjadi juara pertama di Festival Film Alternatif Dewan Kesenian Jakarta 1998. Beberapa rumah produksi pun berawal dari komunitas independen, misalnya Fourcolours dan Studio Antelope. Rumah produksi ini saat ini sudah menjadi bagian dari industri film nasional.

Saat ini antara pelaku independen dan non independen menjadi berbaur di dalam industri. Inilah yang di bagian awal cukup merepotkan saya dalam memberikan batasan atau definisi. Sejauh pengamatan saya, setelah reformasi sebagian besar filmmaker pernah mengawali lewat jalur independen.

Sementara itu bersamaan dengan makin tenarnya platform layanan menonton Over The Top (OTT) terutama Netflix, banyak OTT serupa muncul di Asia dan Indonesia. Ada yang membuka peluang untuk mengajukan ide cerita misalnya oleh Viu yang berbasis di Hongkong. Viu Indonesia membuka acara Viu Pitching Forum dan serangkaian pelatihan. Akan tetapi menurut saya terobosan terbaru adalah ketika ada kategori film pendek secara khusus pada aplikasi berbayar. Goplay Indonesia (perusahaan milik Gojek) misalnya melakukan kerjasama dengan para filmmaker film pendek untuk memasang film mereka di bawah fitur “Goplay Indie”. Terbosan semacam ini juga diikuti dengan munculnya beberapa platform baru yang mengkhususkan pada film independen dan atau film pendek. Saya pribadi setidaknya dihubungi oleh 4 platform baru yang meminta film saya diunggah pada platform mereka.

MASYARAKAT

Maraknya film independen juga menumbuhkan golongan penonton baru. Mereka ini jadi melek film karena edukasi dari komunitas dan terselenggaranya pemutaran alternatif. Di platform online, istilah subscriber Youtube menjadi sebuah komoditas yang penting. Lalu muncul pula para penonton "khusus", saya sebut demikian karena mereka memang bukan masyarakat yang menonton film secara biasa. Mereka ini mengapresiasi secara kritis, memiliki metode dan juga menyebarkan gagasannya. Mereka adalah para kritikus film seperti JB Kristanto, Ekky Imanjaya, Hikmat Dharmawan, Eric Sasono, Adrian Jonathan Pasaribu dan lain-lain.

Sebelum reformasi rata-rata kritikus menulis untuk media yang sudah mapan, baru bisa dibaca masyarakat. Dengan berkembangnya ragam media misalnya blog di internet, kritikus bisa mempublikasikan tulisannya secara langsung dan independen. JB Kristanto, senior kritikus penulis buku Katalog Film Indonesia, yang berisi data tentang film Indonesia sepanjang masa yang diperbaharui secara berkala, turut memprakarsai berdirinya situs filmindonesia.or.id, pusat data mengenai film dan perfilman Indonesia. Kemudian ada Eric Sasono dan kawan-kawan yang memprakarsai rumahfilm.org (sudah tak bisa diakses). Eric juga menulis di website pribadinya ericsasono.com. Yang lebih muda ada Rasyid Rahman Harry yang mempublikasikan tulisannya di blog movreak.blogspot.com dan tulisannya pernah mendapat nominasi kritik terpilih Piala Maya 2018. Piala Maya sendiri yang konon disetarakan dengan Piala Citra FFI juga lahir dari interaksi online para kritikus film yakni Hafiz Husni yang mengawalinya di Twitter sebelum kemudian menjadi perayaan offline. Perkembangan teknologi media ini memang membuat para kritikus film bisa lebih independen.

Yang paling terkemuka pasca reformasi menurut saya adalah Cinema Poetica. Media kritik film ini bermula setelah Adrian Jonathan Pasaribu, Windu Jusuf dan Makbul Mubarak sering berdiskusi di Kinoki Jogjakarta. Kinoki adalah ruang putar alternatif terkemuka pada masa itu di Jogja. Cinema Poetica juga terlibat dalam proyek penulisan buku Seri Wacana Sinema yang disponsori oleh Dewan Kesenian Jakarta. Buku tersebut menjadi sumber penting saya dalam menulis tulisan ini.

Perkembangan berikutnya adalah kritikus yang memuat kritiknya dalam format lebih ringan yakni berbentuk video blog atau vlog. Misalnya kelompok Cine Crib yang mempunyai kanal di Youtube. Kehadiran mereka ini menjadikan kritik film terasa lebih tercerna untuk masyarakat yang malas membaca. Adapun soal kedalaman kritik yang mereka lontarkan bisa menjadi wilayah kritik tersendiri. Cine Crib juga memproduksi film, antara lain "Merangkul Jarak" (Gerry Fairus, 2020) berkolaborasi dengan Kinovia.

(Kembali ke Bagian X)                                        (Bersambung ke Bagian XII - XIII)

Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved