Yang Terbaru

THE ASSIGNMENT: FILM SPIONASE BAGUS YANG DIREMEHKAN

The Assignment (Christian Duguay, 1997) adalah film thriller spionase yang tak terkenal dan teremehkan. Sutradarnya nggak terkenal dan deretan pemainnya bukan barisan pemain fim box office kecuali Ben Kingsley dan Donald Sutherland. Padahal ini adalah film yang sangat bagus menurut saya. Kisahnya adalah perburuan teroris terkenal Carlos The Jackal. Carlos The Jackal alias Ilyich Ramírez Sánchez adalah teroris yang benar-benar ada dan sekarang sedang dipenjara seumur hidup di Perancis. Yang belajar sejarah perlawanan Palestina dan PLO mungkin masih ingat.


Apa bagusnya?

Plotnya yang seru dan performa meyakinkan Aidan Quinn.

Ceritanya adalah tentang Annibal Ramirez, seorang perwira angkatan laut yang direkrut CIA untuk melacak Carlos The Jackal. Annibal Ramirez punya kemiripan fisik yang nyaris identik dengan Carlos (yang nama aslinya ada Ramirez-nya juga). Skenarionya adalah, Annibal akan menyamar sebagai Carlos, lalu mengorek info detail soal rencana-rencananya yang mungkin dibocorkan ke beberapa orang. Salah satu tantangan beratnya adalah bahkan Annibal harus mampu menyamar sebagai Carlos di depan kekasih Carlos sendiri. Bayangin aja, menyamar sebagai kekasih di hadapan orang yang udah apal bau keteknya.

Meski capture scene ini serasa ber-aura film kelas B atau straight to DVD, percayalah, filmnya nggak semengerikan itu hehehe a good movie actually.

Tapi The Assignment nggak mau ngawur dengan memainkan suspension of disbelief pemirsa. Sebelum ditugaskan, Annibal musti menjalani latihan berat yang membuat kepribadiannya nyaris berubah sempurna. Sampai-sampai rumahtangganya ikutan kacau. Isterinya bingung sama perubahan sifat si Annibal.

Pelatihan Annibal adalah salah satu adegan terbaik soal pelatihan agen spionase. Saya sebutin salah satunya. Saat membuka kulkas, Annibal musti ingat detail isinya dalam sekilas pandang. Misal sarden di rak mana, susu di rak mana, terus lengkapnya isi kulkas apa aja.

Donald, Aidan and Ben. Aidan nggak terkenal-terkenal.

Yang paling menegangkan adalah ketika Annibal pada akhirnya berhadapan dengan Carlos yang asli dan CIA susah membedaan keduanya.

Bagi saya ini adalah a cult classic. Sayang sekali sampe sekarang filmnya nggak terkenal, nggak ada cult follower dan cuma sesekali tayang di TV (btw saya dulu nontonnya di TV).

Karir aktor utamanya redup sampai saat ini. Sutradaranya juga nggak terkenal-terkenal. Kalau Ben Kingsley dan Donald masih kedengeran lah.

Kalo suka film thriller spionase, ini salah satu yang recommended untuk anda.
The Assignment (Christian Duguay, 1997) adalah film thriller spionase yang tak terkenal dan teremehkan. Sutradarnya nggak terkenal dan deretan pemainnya bukan barisan pemain fim box office kecuali Ben Kingsley dan Donald Sutherland. Padahal ini adalah film yang sangat bagus menurut saya. Kisahnya adalah perburuan teroris terkenal Carlos The Jackal. Carlos The Jackal alias Ilyich Ramírez Sánchez adalah teroris yang benar-benar ada dan sekarang sedang dipenjara seumur hidup di Perancis. Yang belajar sejarah perlawanan Palestina dan PLO mungkin masih ingat.


Apa bagusnya?

Plotnya yang seru dan performa meyakinkan Aidan Quinn.

Ceritanya adalah tentang Annibal Ramirez, seorang perwira angkatan laut yang direkrut CIA untuk melacak Carlos The Jackal. Annibal Ramirez punya kemiripan fisik yang nyaris identik dengan Carlos (yang nama aslinya ada Ramirez-nya juga). Skenarionya adalah, Annibal akan menyamar sebagai Carlos, lalu mengorek info detail soal rencana-rencananya yang mungkin dibocorkan ke beberapa orang. Salah satu tantangan beratnya adalah bahkan Annibal harus mampu menyamar sebagai Carlos di depan kekasih Carlos sendiri. Bayangin aja, menyamar sebagai kekasih di hadapan orang yang udah apal bau keteknya.

Meski capture scene ini serasa ber-aura film kelas B atau straight to DVD, percayalah, filmnya nggak semengerikan itu hehehe a good movie actually.

Tapi The Assignment nggak mau ngawur dengan memainkan suspension of disbelief pemirsa. Sebelum ditugaskan, Annibal musti menjalani latihan berat yang membuat kepribadiannya nyaris berubah sempurna. Sampai-sampai rumahtangganya ikutan kacau. Isterinya bingung sama perubahan sifat si Annibal.

Pelatihan Annibal adalah salah satu adegan terbaik soal pelatihan agen spionase. Saya sebutin salah satunya. Saat membuka kulkas, Annibal musti ingat detail isinya dalam sekilas pandang. Misal sarden di rak mana, susu di rak mana, terus lengkapnya isi kulkas apa aja.

Donald, Aidan and Ben. Aidan nggak terkenal-terkenal.

Yang paling menegangkan adalah ketika Annibal pada akhirnya berhadapan dengan Carlos yang asli dan CIA susah membedaan keduanya.

Bagi saya ini adalah a cult classic. Sayang sekali sampe sekarang filmnya nggak terkenal, nggak ada cult follower dan cuma sesekali tayang di TV (btw saya dulu nontonnya di TV).

Karir aktor utamanya redup sampai saat ini. Sutradaranya juga nggak terkenal-terkenal. Kalau Ben Kingsley dan Donald masih kedengeran lah.

Kalo suka film thriller spionase, ini salah satu yang recommended untuk anda.
Baca

ANTARA POCONG DAN ZOMBIE: MENGENANG GEORGE A. ROMERO (1940 – 2017)

Dunia film horror musti berterimakasih pada Mbah George Andrew Romero. Mbah inilah yang membawa genre zombie mewabah.

Seperti yang sejarah sinema populer kisahkan, Mbah Romero mulai mengguncang jagad film horror dengan kisah “Malam Si Mayat Hidup” alias “Night of the Living Dead” pada tahun 1968. Ini adalah pelopor film zombie modern. Kesuksesan film berbujet rendah ini diikuti dengan karya-karyanya yang lain seperti Fajar Sang Modar (Dawn of the Dead, 1978), Hari Sang Modar (Day of The Dead, 1985) dan lain-lain. Larisnya film mayat hidup bikin produser-produser lain segera ikutan bikin film serupa yang pokoknya ada kata “The Dead”-nya.


Sejarah sinema horror dunia mencatat, Night of the Living Dead adalah pelopor film zombie modern. Pengaruhnya masih berjalan hingga kini, zombie sudah menjadi subgenre tersendiri. Anda penggemar zombie? Pasti anda tak melewatkan serial “Si Modar Jalan” alias The Walking Dead. Yang suka main game pasti ingat Resident Evil. Yang demen Korea mungkin suka Train To Busan yang sempat laris kemarin-kemarin. Agak jauh ke belakang, dari Hongkong juga ada Jiangshi alias “jumping corpse”, si zombie blasteran vampire yang jalannya melompat-lompat.

Kalau film zombie Indonesia gimana? Kita kan mahfum ya negara ini suka latah kalau bikin film (yang maunya) laris.

Nggak usah jauh-jauh latah sama Mbah Romero sih, kita juga punya zombie khas indonesia: Zombie Bungkus alias POCONG!

Baik pocong maupun zombie punya kesamaan:

-Keduanya sama-sama mayat. Hantu lain cuma arwah, yang ini mayatnya yang aktif.

-Keduanya suka bergerak. Zombie berjalan, pocong melompat (kecuali kalau capek). Makanya pocong bisa lebih sehat daripada zombie.

-Keduanya suka membunuh manusia lain tanpa mikir. Pocong mungkin cuma doyan nggigit, tapi kalau zombie suka makan orang. Zombie versi Return of The Living Dead sukanya makan otak…mungkin karena itu mereka jadi pinter dikit.

Memang tak ada koneksi jelas antara film pocong dengan film zombie-nya George A. Romero. Pengabdi Setan (Sisworo Gautama Putra, 1980) yang tahun ini diremake sama Joko Anwar konon lebih mirip film Phantasm (Don Coscarelli, 1979). Film pocong non zombie semisal Setan Pocong (Bachroem Halilintar, 1988) agaknya lebih terinspirasi oleh urban legend. Kalau pocong yang muncul di filmnya Warkop DKI Setan Kredit (Iksan Lahardi, 1981) nggak jelas terinspirasi siapa. Tapi itu film emang lucu banget. Pocongnya bisa kungfu.

Film pocong kembali laris di era pasca milenium baik di televisi (serial Pocong Mumun, 2002) dan sederet film bioskop “horror nggak serius”, misalnya Pocong Jadi Pocong, Pocong Mandi Goyang Pinggul, Pocong Ngesot dan lain-lain. Pengecualian tentu saja untuk film Pocongnya Rudi Soejarwo pada 2006. Konon Pocong 2 dibikin karena Pocong yang ori dicekal. Rudi Sudjarwo, bukan tipe sutradara yang menjual jiwanya untuk sekadar bikin film asal seram.

Adapun film bioskop Indonesia yang mau mencoba menghidupkan genre zombie ala barat (bukan pocong) di Indonesia adalah Kampung Zombie (Billy Christian & Helfi Kardit, 2015) dan Jakarta Undead (Rico Michael, rencana rilis 2017 namun entah…). Sayangnya nampaknya film zombie yang pertama tidak memberikan jotosan yang menohok dari segi logika cerita dan storytelling. Gagal seram.

Sebenarnya bikin film zombie bukan lagi soal tren-trenan. Pengaruh George A. Romero sudah mendarahdaging dalam perjalanan film horror. Banyak film zombie dibuat, diperbarui dan mengusung tema-tema baru.


Film zombie Romero yang klasik sarat dengan metafor. Beberapa kritikus menganggapnya sebagai sebuah kisah subversif soal kolapsnya masyarakat Amerika. Perang Vietnam yang tak didukung pada masa itu seakan mengirim putra bangsa menjadi zombie, bertarung tanpa alasan ideologis yang jelas. Mereka membunuh atau terbunuh. Seakan Amerika menjadi zombie, memakan daging warganya sendiri. Tingginya konsumerisme masyarakat Amerika juga makin lama mirip zombie. Kapitalisme ibarat mayat yang cuma haus daging manusia. Bergerak tanpa perasaan memangsa manusia-manusia lemah. Beda sama hantu-hantu legenda yang beraksi tunggal. Zombie beraksi dalam gerombolan. Kemusnahan mereka juga tak memberikan arti dan simpati. Alih-alih sebagi roh gentayangan, label mereka cuma “bekas orang hidup”. Makanya dikasih nama The Living Dead. Orangnya mati, tapi tubuhnya hidup. Udah gitu nggragas pula.

Hari ini pula metafor zombie bisa kita geser. Zombie juga merupakan pertarungan ideologis. Manusia hidup, mempersepsi orang lain sebagai zombie jika ideologinya berbeda. Mereka seakan sah untuk dihabisi tanpa interogasi. Dalam film zombie, salah satu pantangan adalah ngajak zombie ngobrol. Bisa dibrakoti kita kalau memperlakukan zombie dengan cinta kasih. Zombie adalah liyan. Mereka tak boleh berkembang. Pembasmian hanya bisa dilakukan dengan pemusnahan massal kayak di Return of The Living Dead.

Pocong agaknya masih agak mending. Ada beberapa pocong masih bisa diajak bicara, main-main. Lagian mereka nggak bisa nguber. Bisa kesrimpet kain mereka sendiri lah. Setidaknya dalam serial Mumun dia adalah superhero. Dia adalah bekas manusia yang belum selesai urusannya. Kain pocongnya membelit membatasi geraknya. Udah mati, nggak bebas pula geraknya. Maka pocong saya bilang ia mengusung ideologi kaum marjinal yang tertindas. Siapa yang bisa menguasai kaum tertindas? Ya mungkin marjinalitas mereka sendiri.

Marjinalitas ini bisa dimanfaatkan kaum penguasa. Ada kunci untuk menaklukkannya. Ibaratnya adalah nyolong tali pocong. Siapa yang bisa dapat tali pocong, dia akan sakti. Nggak usahlah dimakan segala kayak Sumanto. Makanya orang yang main politik suka nguber “tali pocong” kaum marjinal. Kepada mereka dikasih janji-janji. Tapi mereka sendiri terbelenggu oleh marjinalitas mereka. Mereka hanya pendulang suara. Mau protes? Mana bisa lha wong mereka cuma rakyat jelata. Mereka adalah pocong yang terikat di sekujur tubuhnya. Ndak bisa naik kelas jadi vampire, hantu yang lebih elit. Pocong nggak bisa lari, bisanya lompat. Marjinal bisa protes tapi nggak bisa bikin perubahan.

Namun setidaknya pocong itu muslim (duh…bahaya nih ngomongin agama). Masih hormat sama ajaran agama. Beda ama zombie yang gak mempan ayat kursi. Tapi saya rasa pocong dan zombie bisa berteman. Mereka bisa memaknai ulang aspirasi mereka yang ditekan. Pocong bisa belajar cara berorganisasi kayak zombie, dan zombie belajar kesalehan ala pocong…..ngelantur ya hehehe..

Ya udah. Yang paling jelas sebaiknya mereka hari ini turut berduka. George A. Romero, legenda film horror baru saja tiada 16 Juli 2017 kemarin. Semoga kita masih sadar sebagai manusia. Tidak berwatak zombie yang waton nggerudug memangsa manusia, yang hanya bergerak tanpa dorongan jiwa, mayat hidup peradaban.


Dunia film horror musti berterimakasih pada Mbah George Andrew Romero. Mbah inilah yang membawa genre zombie mewabah.

Seperti yang sejarah sinema populer kisahkan, Mbah Romero mulai mengguncang jagad film horror dengan kisah “Malam Si Mayat Hidup” alias “Night of the Living Dead” pada tahun 1968. Ini adalah pelopor film zombie modern. Kesuksesan film berbujet rendah ini diikuti dengan karya-karyanya yang lain seperti Fajar Sang Modar (Dawn of the Dead, 1978), Hari Sang Modar (Day of The Dead, 1985) dan lain-lain. Larisnya film mayat hidup bikin produser-produser lain segera ikutan bikin film serupa yang pokoknya ada kata “The Dead”-nya.


Sejarah sinema horror dunia mencatat, Night of the Living Dead adalah pelopor film zombie modern. Pengaruhnya masih berjalan hingga kini, zombie sudah menjadi subgenre tersendiri. Anda penggemar zombie? Pasti anda tak melewatkan serial “Si Modar Jalan” alias The Walking Dead. Yang suka main game pasti ingat Resident Evil. Yang demen Korea mungkin suka Train To Busan yang sempat laris kemarin-kemarin. Agak jauh ke belakang, dari Hongkong juga ada Jiangshi alias “jumping corpse”, si zombie blasteran vampire yang jalannya melompat-lompat.

Kalau film zombie Indonesia gimana? Kita kan mahfum ya negara ini suka latah kalau bikin film (yang maunya) laris.

Nggak usah jauh-jauh latah sama Mbah Romero sih, kita juga punya zombie khas indonesia: Zombie Bungkus alias POCONG!

Baik pocong maupun zombie punya kesamaan:

-Keduanya sama-sama mayat. Hantu lain cuma arwah, yang ini mayatnya yang aktif.

-Keduanya suka bergerak. Zombie berjalan, pocong melompat (kecuali kalau capek). Makanya pocong bisa lebih sehat daripada zombie.

-Keduanya suka membunuh manusia lain tanpa mikir. Pocong mungkin cuma doyan nggigit, tapi kalau zombie suka makan orang. Zombie versi Return of The Living Dead sukanya makan otak…mungkin karena itu mereka jadi pinter dikit.

Memang tak ada koneksi jelas antara film pocong dengan film zombie-nya George A. Romero. Pengabdi Setan (Sisworo Gautama Putra, 1980) yang tahun ini diremake sama Joko Anwar konon lebih mirip film Phantasm (Don Coscarelli, 1979). Film pocong non zombie semisal Setan Pocong (Bachroem Halilintar, 1988) agaknya lebih terinspirasi oleh urban legend. Kalau pocong yang muncul di filmnya Warkop DKI Setan Kredit (Iksan Lahardi, 1981) nggak jelas terinspirasi siapa. Tapi itu film emang lucu banget. Pocongnya bisa kungfu.

Film pocong kembali laris di era pasca milenium baik di televisi (serial Pocong Mumun, 2002) dan sederet film bioskop “horror nggak serius”, misalnya Pocong Jadi Pocong, Pocong Mandi Goyang Pinggul, Pocong Ngesot dan lain-lain. Pengecualian tentu saja untuk film Pocongnya Rudi Soejarwo pada 2006. Konon Pocong 2 dibikin karena Pocong yang ori dicekal. Rudi Sudjarwo, bukan tipe sutradara yang menjual jiwanya untuk sekadar bikin film asal seram.

Adapun film bioskop Indonesia yang mau mencoba menghidupkan genre zombie ala barat (bukan pocong) di Indonesia adalah Kampung Zombie (Billy Christian & Helfi Kardit, 2015) dan Jakarta Undead (Rico Michael, rencana rilis 2017 namun entah…). Sayangnya nampaknya film zombie yang pertama tidak memberikan jotosan yang menohok dari segi logika cerita dan storytelling. Gagal seram.

Sebenarnya bikin film zombie bukan lagi soal tren-trenan. Pengaruh George A. Romero sudah mendarahdaging dalam perjalanan film horror. Banyak film zombie dibuat, diperbarui dan mengusung tema-tema baru.


Film zombie Romero yang klasik sarat dengan metafor. Beberapa kritikus menganggapnya sebagai sebuah kisah subversif soal kolapsnya masyarakat Amerika. Perang Vietnam yang tak didukung pada masa itu seakan mengirim putra bangsa menjadi zombie, bertarung tanpa alasan ideologis yang jelas. Mereka membunuh atau terbunuh. Seakan Amerika menjadi zombie, memakan daging warganya sendiri. Tingginya konsumerisme masyarakat Amerika juga makin lama mirip zombie. Kapitalisme ibarat mayat yang cuma haus daging manusia. Bergerak tanpa perasaan memangsa manusia-manusia lemah. Beda sama hantu-hantu legenda yang beraksi tunggal. Zombie beraksi dalam gerombolan. Kemusnahan mereka juga tak memberikan arti dan simpati. Alih-alih sebagi roh gentayangan, label mereka cuma “bekas orang hidup”. Makanya dikasih nama The Living Dead. Orangnya mati, tapi tubuhnya hidup. Udah gitu nggragas pula.

Hari ini pula metafor zombie bisa kita geser. Zombie juga merupakan pertarungan ideologis. Manusia hidup, mempersepsi orang lain sebagai zombie jika ideologinya berbeda. Mereka seakan sah untuk dihabisi tanpa interogasi. Dalam film zombie, salah satu pantangan adalah ngajak zombie ngobrol. Bisa dibrakoti kita kalau memperlakukan zombie dengan cinta kasih. Zombie adalah liyan. Mereka tak boleh berkembang. Pembasmian hanya bisa dilakukan dengan pemusnahan massal kayak di Return of The Living Dead.

Pocong agaknya masih agak mending. Ada beberapa pocong masih bisa diajak bicara, main-main. Lagian mereka nggak bisa nguber. Bisa kesrimpet kain mereka sendiri lah. Setidaknya dalam serial Mumun dia adalah superhero. Dia adalah bekas manusia yang belum selesai urusannya. Kain pocongnya membelit membatasi geraknya. Udah mati, nggak bebas pula geraknya. Maka pocong saya bilang ia mengusung ideologi kaum marjinal yang tertindas. Siapa yang bisa menguasai kaum tertindas? Ya mungkin marjinalitas mereka sendiri.

Marjinalitas ini bisa dimanfaatkan kaum penguasa. Ada kunci untuk menaklukkannya. Ibaratnya adalah nyolong tali pocong. Siapa yang bisa dapat tali pocong, dia akan sakti. Nggak usahlah dimakan segala kayak Sumanto. Makanya orang yang main politik suka nguber “tali pocong” kaum marjinal. Kepada mereka dikasih janji-janji. Tapi mereka sendiri terbelenggu oleh marjinalitas mereka. Mereka hanya pendulang suara. Mau protes? Mana bisa lha wong mereka cuma rakyat jelata. Mereka adalah pocong yang terikat di sekujur tubuhnya. Ndak bisa naik kelas jadi vampire, hantu yang lebih elit. Pocong nggak bisa lari, bisanya lompat. Marjinal bisa protes tapi nggak bisa bikin perubahan.

Namun setidaknya pocong itu muslim (duh…bahaya nih ngomongin agama). Masih hormat sama ajaran agama. Beda ama zombie yang gak mempan ayat kursi. Tapi saya rasa pocong dan zombie bisa berteman. Mereka bisa memaknai ulang aspirasi mereka yang ditekan. Pocong bisa belajar cara berorganisasi kayak zombie, dan zombie belajar kesalehan ala pocong…..ngelantur ya hehehe..

Ya udah. Yang paling jelas sebaiknya mereka hari ini turut berduka. George A. Romero, legenda film horror baru saja tiada 16 Juli 2017 kemarin. Semoga kita masih sadar sebagai manusia. Tidak berwatak zombie yang waton nggerudug memangsa manusia, yang hanya bergerak tanpa dorongan jiwa, mayat hidup peradaban.


Baca

THE WITCH (Robert Eggers 2015)

Di jaman Inggris lama, hidup Wlliam beserta keluarganya: Catherine sang istri, Thomasin anak gadis tertua yang baru merekah kecantikannya, Caleb adiknya yang kadang nafsu melihat dada kakaknya, si kembar Jonas- Mercy yang suka ngobrol sama kambing dan termuda adalah Samuel yang masih bayi. William adalah pemeluk Kristen yang taat. Namun ia juga selalu merasa bahwa cara beragamanya lah yang paling benar. Dengan jemaat gereja setempat ia nggak rukun dan saling mengkafirkan.


Akibatnya William diusir dari desanya. Ia pun mengungsikan keluarganya ke hutan. Di sana ia mencoba memulai hidup baru dengan bertanam jagung dan berburu. Kebiasaan beribadahnya tetap meski udah nggak gabung gereja. Mereka selalu menghafal kitab suci dan berdoa. Berburu pun isinya rapalan ayat.

Suatu hari, Thomasin momong adik bayinya Samuel main cilukba. Saat matanya ciluk (nutup), Samuel diculik penyihir bugil. Oleh si penyihir, Samuel dicincang jadi body lotion. Konon body lotion dari baby oil ini (yes it is literally oil from baby), bisa bikin mereka terbang.


William sebenarnya nggak becus bertani dan berburu. Keluarganya mulai kelaparan. Tapi William terus mencekokinya dengan ajaran agama. Istrinya sudah nggak betah dan nyaris gila. Selain masih meratapi hilangnya Samuel, keluarga ini terancam kelaparan. Masalah makin runyam ketika Caleb juga diculik penyihir dan kutukan jahat dibawa ke seluruh anggota keluarga.

Mampukah William dan keluarganya mempertahankan iman di saat lapar dan ujian jahat?

Bayangan saya soal penyihir barat itu tak pernah menakutkan. Soalnya asupan masa kecil saya adalah majalah Bobo dan komik Walt Disney. Bayangan saya selalu Juwita dan Si Sirik, Madam Mikmak dan paling-paling Snow White & 7 Dwarfs. Snow White adalah gadis perawan (?) yang hidup tanpa ikatan resmi dengan 7 kakek tua. Cucu bukan, istri juga enggak (kayaknya).

Film The Witch mencoba menceritakan ulang kisah-kisah seram soal penyihir yang jadi bagian dari folklore lama. Penyihir yang tinggal di hutan, naik sapu dan suka berburu orang coba dituturkan ulang lewat film ini. Kita akan merasakan seolah-olah hidup dalam kengerian masa itu, lewat setting, dialog dan bahkan visualisasi mencekam lewat gambar-gambar bersaturasi rendah.

The Witch bukan film horror kacangan. Ia tak latah menghadirkan perang supranatural antara manusia yang taat dan penyihir kafir. Perang sebenarnya adalah di dalam batin manusia sendiri. Kita bisa merasakan itu ketika bencana tiba, masing-masing anggota keluarga William tidak saling mempercayai. Satu per satu kebohongan diungkap. Tak ada yang lugu di keluarga William.

Pesan moral yang saya dapat adalah, miskin itu bisa bikin iman jatuh hehehe bukan kemiskinan itu sendiri yang menghancurkan iman. Melainkan rapuhnya diri ketika kemiskinan menggerogoti kemandirian dalam mengambil keputusan. 

Okay. Sekarang penilaian berimbang... J

APIKE:

-Visualisasi yang keren. Sinematografi yang sangat-sangat beautiful. Hutan yang luas itu seakan malah bikin klaustrofobia. Bukan cuma karena aspect rationya namun juga cekaman cerita. Apalagi dipadu dengan scoring gesekan strings yang dissonance (melenceng).

-Disain kostum yang memukau. Nadyan muka para karakter masih bersih-bersih dan giginya rapih, tapi kostum nampak seakan dari jamannya. Lungset tak disetrika. Terasa otentik.

-Pembangunan konflik yang rapi dari awal ke tengah. Keluarga taat yang kemudian terjatuh dalam godaan iblis.

-Casting yang perfect terutama William (diperankan oleh Ralph Ineson). Deep voice-nya membuat saya melek untuk mengamati karakter ini lebih daripada yang lain. Juga Caleb (Harvey Scrimshaw). Scrimshaw memerankan karakter Caleb yang mulai puber dan galau. Sungguh repot hidup di keluarga bermoralitas ketat namun di sisi lain harus menahan gejolak pubertas di depan kakaknya yang sedang ranum. Rasa berdosa karena kecenderungan incest bertarung dengan perjuangan mempertahankan iman. Catherine (Kate Dickie) terlihat sangat rentan sebagai ibu yang peratap. Sejak Samuel diculik penyihir, Catherine yang sebelumnya beriman mulai kufur selangkah demi selangkah.

-Black Philip adalah hal yang paling mencekam di film ini. Bisa dibilang ngalah-ngalahin penyihirnya. Dia adalah seekor wedhus gibas eh maksudnya kambing hitam.  Black Philip hanya mau bicara sama si kembar Jonas-Mercy. Dialah yang jadi katalisator fitnah antara masing-masing anggota keluarga.

KURANGE:

-Kadang The Witch kurang tegas mengenai apa yang disampaikan? Apakah soal iman vs kekufuran? Soal dosa dan penebusan? Soal korupnya manusia yang sok beriman? Ya tone-tone itu ada dan bagi saya kurang nggigit pesannya.

-Thomasin (Anya Taylor-Joy) adalah karakter yang mustinya bisa lebih selain menjual keranuman. Dia adalah kunci cerita namun rasanya potensinya kurang keluar semuanya. Kalo bugilnya kurang total sih saya maklum hehehe soalnya ini bukan film yang tepat untuk jual aurat.

-Karakter penyihir nggak terlalu dapat panggung. Ngapain sih mereka? This can be bad or good. Mereka misterius, nggak jelas maunya, nggak jelas modus operandinya. Emang sih kemisteriusan bisa bikin suasana tambah horror, tapi konsekuensinya kayak cuma jadi plot device yang kurang nyantol. Cuma tempelan.

Jadi? Bagus nggak?

-BAGUS. Refreshing film horror yang mengangkat tema penyihir. Film penyihir terakhir yang saya tonton cuma Blair Witch Project belasan tahun silam.

-Recommended? SURE! Buat penggemar genre horror barat.



-
Di jaman Inggris lama, hidup Wlliam beserta keluarganya: Catherine sang istri, Thomasin anak gadis tertua yang baru merekah kecantikannya, Caleb adiknya yang kadang nafsu melihat dada kakaknya, si kembar Jonas- Mercy yang suka ngobrol sama kambing dan termuda adalah Samuel yang masih bayi. William adalah pemeluk Kristen yang taat. Namun ia juga selalu merasa bahwa cara beragamanya lah yang paling benar. Dengan jemaat gereja setempat ia nggak rukun dan saling mengkafirkan.


Akibatnya William diusir dari desanya. Ia pun mengungsikan keluarganya ke hutan. Di sana ia mencoba memulai hidup baru dengan bertanam jagung dan berburu. Kebiasaan beribadahnya tetap meski udah nggak gabung gereja. Mereka selalu menghafal kitab suci dan berdoa. Berburu pun isinya rapalan ayat.

Suatu hari, Thomasin momong adik bayinya Samuel main cilukba. Saat matanya ciluk (nutup), Samuel diculik penyihir bugil. Oleh si penyihir, Samuel dicincang jadi body lotion. Konon body lotion dari baby oil ini (yes it is literally oil from baby), bisa bikin mereka terbang.


William sebenarnya nggak becus bertani dan berburu. Keluarganya mulai kelaparan. Tapi William terus mencekokinya dengan ajaran agama. Istrinya sudah nggak betah dan nyaris gila. Selain masih meratapi hilangnya Samuel, keluarga ini terancam kelaparan. Masalah makin runyam ketika Caleb juga diculik penyihir dan kutukan jahat dibawa ke seluruh anggota keluarga.

Mampukah William dan keluarganya mempertahankan iman di saat lapar dan ujian jahat?

Bayangan saya soal penyihir barat itu tak pernah menakutkan. Soalnya asupan masa kecil saya adalah majalah Bobo dan komik Walt Disney. Bayangan saya selalu Juwita dan Si Sirik, Madam Mikmak dan paling-paling Snow White & 7 Dwarfs. Snow White adalah gadis perawan (?) yang hidup tanpa ikatan resmi dengan 7 kakek tua. Cucu bukan, istri juga enggak (kayaknya).

Film The Witch mencoba menceritakan ulang kisah-kisah seram soal penyihir yang jadi bagian dari folklore lama. Penyihir yang tinggal di hutan, naik sapu dan suka berburu orang coba dituturkan ulang lewat film ini. Kita akan merasakan seolah-olah hidup dalam kengerian masa itu, lewat setting, dialog dan bahkan visualisasi mencekam lewat gambar-gambar bersaturasi rendah.

The Witch bukan film horror kacangan. Ia tak latah menghadirkan perang supranatural antara manusia yang taat dan penyihir kafir. Perang sebenarnya adalah di dalam batin manusia sendiri. Kita bisa merasakan itu ketika bencana tiba, masing-masing anggota keluarga William tidak saling mempercayai. Satu per satu kebohongan diungkap. Tak ada yang lugu di keluarga William.

Pesan moral yang saya dapat adalah, miskin itu bisa bikin iman jatuh hehehe bukan kemiskinan itu sendiri yang menghancurkan iman. Melainkan rapuhnya diri ketika kemiskinan menggerogoti kemandirian dalam mengambil keputusan. 

Okay. Sekarang penilaian berimbang... J

APIKE:

-Visualisasi yang keren. Sinematografi yang sangat-sangat beautiful. Hutan yang luas itu seakan malah bikin klaustrofobia. Bukan cuma karena aspect rationya namun juga cekaman cerita. Apalagi dipadu dengan scoring gesekan strings yang dissonance (melenceng).

-Disain kostum yang memukau. Nadyan muka para karakter masih bersih-bersih dan giginya rapih, tapi kostum nampak seakan dari jamannya. Lungset tak disetrika. Terasa otentik.

-Pembangunan konflik yang rapi dari awal ke tengah. Keluarga taat yang kemudian terjatuh dalam godaan iblis.

-Casting yang perfect terutama William (diperankan oleh Ralph Ineson). Deep voice-nya membuat saya melek untuk mengamati karakter ini lebih daripada yang lain. Juga Caleb (Harvey Scrimshaw). Scrimshaw memerankan karakter Caleb yang mulai puber dan galau. Sungguh repot hidup di keluarga bermoralitas ketat namun di sisi lain harus menahan gejolak pubertas di depan kakaknya yang sedang ranum. Rasa berdosa karena kecenderungan incest bertarung dengan perjuangan mempertahankan iman. Catherine (Kate Dickie) terlihat sangat rentan sebagai ibu yang peratap. Sejak Samuel diculik penyihir, Catherine yang sebelumnya beriman mulai kufur selangkah demi selangkah.

-Black Philip adalah hal yang paling mencekam di film ini. Bisa dibilang ngalah-ngalahin penyihirnya. Dia adalah seekor wedhus gibas eh maksudnya kambing hitam.  Black Philip hanya mau bicara sama si kembar Jonas-Mercy. Dialah yang jadi katalisator fitnah antara masing-masing anggota keluarga.

KURANGE:

-Kadang The Witch kurang tegas mengenai apa yang disampaikan? Apakah soal iman vs kekufuran? Soal dosa dan penebusan? Soal korupnya manusia yang sok beriman? Ya tone-tone itu ada dan bagi saya kurang nggigit pesannya.

-Thomasin (Anya Taylor-Joy) adalah karakter yang mustinya bisa lebih selain menjual keranuman. Dia adalah kunci cerita namun rasanya potensinya kurang keluar semuanya. Kalo bugilnya kurang total sih saya maklum hehehe soalnya ini bukan film yang tepat untuk jual aurat.

-Karakter penyihir nggak terlalu dapat panggung. Ngapain sih mereka? This can be bad or good. Mereka misterius, nggak jelas maunya, nggak jelas modus operandinya. Emang sih kemisteriusan bisa bikin suasana tambah horror, tapi konsekuensinya kayak cuma jadi plot device yang kurang nyantol. Cuma tempelan.

Jadi? Bagus nggak?

-BAGUS. Refreshing film horror yang mengangkat tema penyihir. Film penyihir terakhir yang saya tonton cuma Blair Witch Project belasan tahun silam.

-Recommended? SURE! Buat penggemar genre horror barat.



-
Baca

KENAPA KAMU DIBOHONGI FILM KOK MAU AJA?

Film yang sukses itu adalah film yang berhasil ngapusi. Lha kok bisa? Ngawur tenan mase iki. Film yang bener itu ya kudu pake logika lah. Nha justru itu. Film itu saking pinternya ngapusi, semuanya jadi nampak logis hehehe

Istilahnya itu “Suspension of Disbelief”, yakni seberapa jauh sebuah film ngapusi anda, tapi andanya fine-fine aja. Istilah ini bisa dipakai juga dalam bentuk karya fiksi yang lain; novel, cerpen dan lain-lain. Bagaimana kita diapusi tapi tetep fine? Itu karena cara bercerita yang maknyus.

"What do you know?! Haven't you heard of suspension of disbelief?" — Ed Wood
(movie directed by Tim Burton, 1994)

Misalnya Superman. Seperti kita tahu kostum standarnya adalah baju senam ketat warna biru, nggak pake topeng, jubah merah tersampir di punggung, logo S di dada dan pake sempak merah bersabuk kuning. Setidaknya itu gambaran Superman klasik. Versi Man of Steel-nya Zack Snyder emang bid’ah karena gak pake sempak lagi. Nah, alter ego Superman ini namanya Clark Kent, seorang jurnalis di perusahaan media. Sehari-harinya, Clark Kent ini Cuma pakai kacamata untuk menyamarkan identitas aslinya. Orang-orang satu kota tetep gak ngenalin dia. Apa ya mungkin? Tapi sejauh ini itu no problem. Karena kita udah cukup terhibur sama cerita Superman, maka kita nggak protes. Dalam keseharian tentu itu nggak realistis. Bisa dibayangin, misalnya anda yang biasanya pake kacamata dan kemeja, suatu hari demi menghindari debt collector terus anda Cuma pakai sempak dan nggak pake kacamata. Mungkinkah anda tidak dikenali? Itulah cara kerja suspension of disbelief dalam film.

Jadi gimana sih logika film itu?

Sebenarnya ya sama aja. Logika kan universal. Tapi kita musti sadar kalau istilah logika dalam filsafat berbeda maknanya dalam bahasa sehari-hari. Sehubungan dengan itu, kita harus membedakan dulu antara logis dan realistis. Logis kalo di filsafat kan ada kaidahnya sedangkan kalo realistis itu adalah soal peluang kemungkinan. Alien dari planet lain datang ke bumi, secara logis mungkin. Tapi secara realistis tidak. Seandainya secara realistis planet Krypton itu nyata, bisa repot kita. Bayangin aja misalnya Superman itu ke bumi dalam rangka dakwah agama asli Krypton gitu. Perang agama bisa jadi antar galaksi. Ceritanya bakal jadi Religious Star Wars.

Kalo film kartun udah beda lagi lho. Suspension of disbeliefnya bisa parah banget dan justru itu selling point-nya. Misal film-filmnya Tom and Jerry. Ditabok martil jadi gepeng, eh abis itu sehat kembali. Di universe kartun Walt Disney, Gufi itu anjing (bukan makian). Nah tapi ada Pluto yang juga anjing tapi dia beda ama Gufi. Gufi pake baju bisa ngomong, tapi Pluto enggak. Mungkin Gufi itu anjing sapiens yakni anjing yang telah makan buah khuldi. Jadi Gufi ini kelak bakal dimintai pertanggungjawaban atas amal dan perbuatannya, kalo Pluto tidak. 

Balik ke soal logika film. Misalnya dalam cerita berikut.

Gara-gara emaknya salah baca surat kontrak, Timun Mas menjadi korban perbudakan oleh Buto Terong. Demi menyelamatkan diri, Timun Mas pergi ke luar negeri (bukan ke masa lalu). Di sana ia bilang pada emaknya agar tidak bikin kontrak sama Buto Terong. Kemudian Timun Mas lahir setelah Buto Terong batal bikin kontra sama emaknya.

Anda bisa membaca bahwa cerita di atas superkacau. Kaitan peristiwanya jelas-jelas nggak logis. Tentu saja karena prinsip sebab akibat dilanggar di situ. Namun istilah “logis” yang berbeda juga sering dijumpai pada kalimat berikut ini:

“Pasangan nganu itu nggak logis. Yang cewek cantik dan cerdas, yang cowok jelek dan miskin. Ya mungkin si cewek kena pelet kali ya?”

Kalo logis di sini artinya kurang atau nggak realistis. Secara realistis (baca aja probabilitas statistik) bisa nggak cewek dengan karakter gitu dapat cowok dengan kondisi begitu?

Film, peristiwanya sering tidak realistis namun tetap logis. Prinsip kausalitas tak boleh dilanggar. Misal ada karakter mati di awal, maka nggak logis kalo dia hidup lagi tanpa ada penjelasan. Dalam membikin cerita yang nggak realistis si filmmaker bebas-bebas aja berimajinasi.

Yang repot ketika mbahas film genre sejarah. Emang ada film yang musti “setia” pada sejarah, tapi ada juga film yang berlatar sejarah “alternatif” alias ngarang. Misalnya film Inglourious Basterds (sutradara Quentin Tarantino). Di situ Adolf Hitler mati ditembak di bioskop. Tak ada yang protes sih. Mungkin karena Hitler bukan tokoh agama. Ada juga film Abraham Lincoln jadi tukang basmi vampir. Nha yang repot di sini. Kalo misal bikin film berlatar Majapahit, bisa diprotes kalo gak sesuai sejarah. Lho itu Gajah Madanya kok bukan Islam? (BTW udah fixed belum sih Gajah Mada agamanya apa?)

Genre religi juga sama repotnya. Di Hollywood, bikin karakter pendeta pervert, korup dll itu udah biasa. Nah di Indonesia, kita musti pakai suspension of disbelief demi stabilitas sosial. Jangan ada tokoh agama korup, perempuan berhijab jangan jadi antagonis dll. Jadi meski dalam kesehariannya beda ya musti pake suspensioan of disbelief lah kalo mau aman hehehe. Sudah belajar dari kasus pemenang festival film polisi dan video kampanye Ahok kemarin kan? Anda kasih satu aja karakter nggak bener di antara karakter seagama yang bener, pasti deh yang satu itu diributin.


Suspension of disbelief juga terjadi dalam sehari-hari. Berapa banyak kita percaya tentang sesuatu, bahwa itu oke, itu real hanya berdasarkan testimoni orang lain? Kita merasa fine karena itu enjoyable, apalagi kita tak merasa penasaran menyelidikinya secara mendalam. Film Matrix (sutradara Wachowski brothers) dan juga Truman Show (sutradara Peter Weir) adalah film yang mendalam mengenai suspension of disbelief dalam kehidupan nyata. Bagi yang belum nonton saya rekomendasikan deh. Film selain merupakan produk hiburan, juga bisa jadi media pembelajaran terasyik soal realitas hehehe.

Film yang sukses itu adalah film yang berhasil ngapusi. Lha kok bisa? Ngawur tenan mase iki. Film yang bener itu ya kudu pake logika lah. Nha justru itu. Film itu saking pinternya ngapusi, semuanya jadi nampak logis hehehe

Istilahnya itu “Suspension of Disbelief”, yakni seberapa jauh sebuah film ngapusi anda, tapi andanya fine-fine aja. Istilah ini bisa dipakai juga dalam bentuk karya fiksi yang lain; novel, cerpen dan lain-lain. Bagaimana kita diapusi tapi tetep fine? Itu karena cara bercerita yang maknyus.

"What do you know?! Haven't you heard of suspension of disbelief?" — Ed Wood
(movie directed by Tim Burton, 1994)

Misalnya Superman. Seperti kita tahu kostum standarnya adalah baju senam ketat warna biru, nggak pake topeng, jubah merah tersampir di punggung, logo S di dada dan pake sempak merah bersabuk kuning. Setidaknya itu gambaran Superman klasik. Versi Man of Steel-nya Zack Snyder emang bid’ah karena gak pake sempak lagi. Nah, alter ego Superman ini namanya Clark Kent, seorang jurnalis di perusahaan media. Sehari-harinya, Clark Kent ini Cuma pakai kacamata untuk menyamarkan identitas aslinya. Orang-orang satu kota tetep gak ngenalin dia. Apa ya mungkin? Tapi sejauh ini itu no problem. Karena kita udah cukup terhibur sama cerita Superman, maka kita nggak protes. Dalam keseharian tentu itu nggak realistis. Bisa dibayangin, misalnya anda yang biasanya pake kacamata dan kemeja, suatu hari demi menghindari debt collector terus anda Cuma pakai sempak dan nggak pake kacamata. Mungkinkah anda tidak dikenali? Itulah cara kerja suspension of disbelief dalam film.

Jadi gimana sih logika film itu?

Sebenarnya ya sama aja. Logika kan universal. Tapi kita musti sadar kalau istilah logika dalam filsafat berbeda maknanya dalam bahasa sehari-hari. Sehubungan dengan itu, kita harus membedakan dulu antara logis dan realistis. Logis kalo di filsafat kan ada kaidahnya sedangkan kalo realistis itu adalah soal peluang kemungkinan. Alien dari planet lain datang ke bumi, secara logis mungkin. Tapi secara realistis tidak. Seandainya secara realistis planet Krypton itu nyata, bisa repot kita. Bayangin aja misalnya Superman itu ke bumi dalam rangka dakwah agama asli Krypton gitu. Perang agama bisa jadi antar galaksi. Ceritanya bakal jadi Religious Star Wars.

Kalo film kartun udah beda lagi lho. Suspension of disbeliefnya bisa parah banget dan justru itu selling point-nya. Misal film-filmnya Tom and Jerry. Ditabok martil jadi gepeng, eh abis itu sehat kembali. Di universe kartun Walt Disney, Gufi itu anjing (bukan makian). Nah tapi ada Pluto yang juga anjing tapi dia beda ama Gufi. Gufi pake baju bisa ngomong, tapi Pluto enggak. Mungkin Gufi itu anjing sapiens yakni anjing yang telah makan buah khuldi. Jadi Gufi ini kelak bakal dimintai pertanggungjawaban atas amal dan perbuatannya, kalo Pluto tidak. 

Balik ke soal logika film. Misalnya dalam cerita berikut.

Gara-gara emaknya salah baca surat kontrak, Timun Mas menjadi korban perbudakan oleh Buto Terong. Demi menyelamatkan diri, Timun Mas pergi ke luar negeri (bukan ke masa lalu). Di sana ia bilang pada emaknya agar tidak bikin kontrak sama Buto Terong. Kemudian Timun Mas lahir setelah Buto Terong batal bikin kontra sama emaknya.

Anda bisa membaca bahwa cerita di atas superkacau. Kaitan peristiwanya jelas-jelas nggak logis. Tentu saja karena prinsip sebab akibat dilanggar di situ. Namun istilah “logis” yang berbeda juga sering dijumpai pada kalimat berikut ini:

“Pasangan nganu itu nggak logis. Yang cewek cantik dan cerdas, yang cowok jelek dan miskin. Ya mungkin si cewek kena pelet kali ya?”

Kalo logis di sini artinya kurang atau nggak realistis. Secara realistis (baca aja probabilitas statistik) bisa nggak cewek dengan karakter gitu dapat cowok dengan kondisi begitu?

Film, peristiwanya sering tidak realistis namun tetap logis. Prinsip kausalitas tak boleh dilanggar. Misal ada karakter mati di awal, maka nggak logis kalo dia hidup lagi tanpa ada penjelasan. Dalam membikin cerita yang nggak realistis si filmmaker bebas-bebas aja berimajinasi.

Yang repot ketika mbahas film genre sejarah. Emang ada film yang musti “setia” pada sejarah, tapi ada juga film yang berlatar sejarah “alternatif” alias ngarang. Misalnya film Inglourious Basterds (sutradara Quentin Tarantino). Di situ Adolf Hitler mati ditembak di bioskop. Tak ada yang protes sih. Mungkin karena Hitler bukan tokoh agama. Ada juga film Abraham Lincoln jadi tukang basmi vampir. Nha yang repot di sini. Kalo misal bikin film berlatar Majapahit, bisa diprotes kalo gak sesuai sejarah. Lho itu Gajah Madanya kok bukan Islam? (BTW udah fixed belum sih Gajah Mada agamanya apa?)

Genre religi juga sama repotnya. Di Hollywood, bikin karakter pendeta pervert, korup dll itu udah biasa. Nah di Indonesia, kita musti pakai suspension of disbelief demi stabilitas sosial. Jangan ada tokoh agama korup, perempuan berhijab jangan jadi antagonis dll. Jadi meski dalam kesehariannya beda ya musti pake suspensioan of disbelief lah kalo mau aman hehehe. Sudah belajar dari kasus pemenang festival film polisi dan video kampanye Ahok kemarin kan? Anda kasih satu aja karakter nggak bener di antara karakter seagama yang bener, pasti deh yang satu itu diributin.


Suspension of disbelief juga terjadi dalam sehari-hari. Berapa banyak kita percaya tentang sesuatu, bahwa itu oke, itu real hanya berdasarkan testimoni orang lain? Kita merasa fine karena itu enjoyable, apalagi kita tak merasa penasaran menyelidikinya secara mendalam. Film Matrix (sutradara Wachowski brothers) dan juga Truman Show (sutradara Peter Weir) adalah film yang mendalam mengenai suspension of disbelief dalam kehidupan nyata. Bagi yang belum nonton saya rekomendasikan deh. Film selain merupakan produk hiburan, juga bisa jadi media pembelajaran terasyik soal realitas hehehe.

Baca

THE STAR MAKER/L'UOMO DELLE STELLE (Giuseppe Tornatore, 1995)


Nonton film-film Tornatore itu selalu penuh keceriaan. Meski berlatar kepahitan kondisi sosial politik, karakter-karakternya selalu digambarkan karikatural. Nuovo Cinema Paradiso, Legend of 900 dan juga The Star Maker alias L'uomo Delle Stelle. Tornatore selalu piawai membikin karakter yang hidup, berwarna sekaligus tragis. Tak cuma itu, Ennio Morricone sebagai komposer musiknya membuat saya jatuh hati bulat-bulat sama film-filmnya.

By the way, tulisan saya mengandung sedikit SPOILER. Tapi menurut saya, gak masalah sih. Filmnya Tornatore tidak menjual twisted story. Meski anda ngerti arah ceritanya gimana, anda akan tetap terhibur. Menikmati fim Tornatore itu adalah menikmati karakter-karakter unik. Nggak cuma karakter utama, para karakter latarnya selalu menawan dengan keunikan mereka. Simak saja.

Beata dan Morelli

L'uomo Delle Stelle adalah kisah soal Joe Morelli, seorang penipu yang menyamar sebagai agen casting atau pencari bakat. Ia berkeliling di pedesaan Sisilia dengan modal mobil box dan kamera. Kepada orang-orang ndeso, ia menjanjikan harapan untuk menjadi bintang film di Roma. Kepada yang mau di-casting, ia memungut bayaran dengan janji akan dikabari beberapa minggu lagi. Macam-macam orang yang ikutan casting. Mulai dari janda yang membayar uang casting pakai tubuhnya, mantan tentara yang trauma sampai polisi yang merasa salah profesi. Morelli membujuk dengan sangat meyakinkan. sampai-sampai gerilyawan pemberontak saja ia tipu.

Beata, adalah seorang gadis yatim piatu di kampung. Body-nya semlohay naudzubillah (yes, you will see her naked and showing her stuff...makanya jangan tonton bareng anak-anak!). Kerjaannya serabutan bantu-bantuin tetangga yang butuh; mencuci, menyetrika, bersih-bersih dan lain-lain. Upahnya dikit. Tapi kalo dia mau nunjukin nenen-nya, dapet duit lebih. Jadi Beata ini meski cantik semlohay, lugu dan begonya minta ampun. makanya jadi korban pelecehan lelaki hidung belang tetangganya.

Melihat Morelli datang ke kampungnya bawa janji-janji jadi bintang, Beata tertarik. Bela-belain ia digrepe-grepe sama rentenir agar bisa bayar uang casting. Karena bodonya lebay, Morelli malah eneg liat Beata. Diusir dan disepelekan malah bikin Beata jatuh cinta sama Morelli. Morelli risih dan mencoba meninggalkan Beata. Beata nekad sampe ngejar dia ke Roma.

Ternyata emang Morelli gak ke Roma. Tipuannya ketahuan. Maka dihajarlah ia sama orang-orang yang ia tipu. Saat itu hanya Beata yang peduli. Selanjutnya tonton sendiri hehee.

Film Tornatore satu ini mirip-mirip ama sebelumnya, menggambarkan Itali jadul; tahun 50an. Saat itu masa pemilu di Italia. Kelompok Kristen demokrat bertarung dengan komunis sosialis dan lain-lain. Di samping itu juga ada milisi pemberontak dan mafia. Tornatore menggambarkan persentuhan karakter Morelli dengan mereka secara karikatural. Morelli, si penipu ini diperankan apik oleh Sergio Castellitto. sayang dia nggak terkenal di luar Itali. Meski jelas merupakan bajingan, ada juga sisi baik si Morelli. Sewaktu Beata menawarkan diri digrepe-grepe ama jasa coli sebagai bayaran agar jadi artis, Morelli menolak. Ia tahu betapa pahit nasib Beata. Ia nggak mau nambah-nambahin ngerusak Beata. Beata ini perempuan korban kebangsatan lingkungan. Anak haram yang dilecehkan. Yaaa meski akhirnya Morelli mau juga nyicipin...lha wong emang tubuh Beata aduhai semlohay naudzubillah. Beatanya mau-mau aja sih.

Beata, karakternya agak membingungkan. Apakah ia benar mencintai Morelli? Apa hanya karena ambisinya jadi artis? Kalaupun cinta, ia begitu lugu dan nekad. Nah, apakah akhirnya Morelli bisa juga mencintai Beata? Nggak cuma demen bodynya thok? Tonton aja hehehe.

APIKE:
-Tornatore udah kayak jaminan mutu. Suka ama Cinema Paradiso? Malena? Legend of 900? Maka ini juga akan anda sukai.
-Musik dari Ennio Morricone adalah alasan lain selain yang saya sebut tadi.
-Ada bugilnya. Astaghfirullah.

KURANGE:
-Adegan Morelli ngapusi warga kadang terasa berkepanjangan. Plot seakan muter di situ. Karena Tornatore piawai bikin adegan maka masih tetap nikmat, tapi ceritanya jadi terulur-ulur.

Kesimpulan? Kalo suka film klasik ala Cinema Paradiso, this is RECOMMENDED.





Nonton film-film Tornatore itu selalu penuh keceriaan. Meski berlatar kepahitan kondisi sosial politik, karakter-karakternya selalu digambarkan karikatural. Nuovo Cinema Paradiso, Legend of 900 dan juga The Star Maker alias L'uomo Delle Stelle. Tornatore selalu piawai membikin karakter yang hidup, berwarna sekaligus tragis. Tak cuma itu, Ennio Morricone sebagai komposer musiknya membuat saya jatuh hati bulat-bulat sama film-filmnya.

By the way, tulisan saya mengandung sedikit SPOILER. Tapi menurut saya, gak masalah sih. Filmnya Tornatore tidak menjual twisted story. Meski anda ngerti arah ceritanya gimana, anda akan tetap terhibur. Menikmati fim Tornatore itu adalah menikmati karakter-karakter unik. Nggak cuma karakter utama, para karakter latarnya selalu menawan dengan keunikan mereka. Simak saja.

Beata dan Morelli

L'uomo Delle Stelle adalah kisah soal Joe Morelli, seorang penipu yang menyamar sebagai agen casting atau pencari bakat. Ia berkeliling di pedesaan Sisilia dengan modal mobil box dan kamera. Kepada orang-orang ndeso, ia menjanjikan harapan untuk menjadi bintang film di Roma. Kepada yang mau di-casting, ia memungut bayaran dengan janji akan dikabari beberapa minggu lagi. Macam-macam orang yang ikutan casting. Mulai dari janda yang membayar uang casting pakai tubuhnya, mantan tentara yang trauma sampai polisi yang merasa salah profesi. Morelli membujuk dengan sangat meyakinkan. sampai-sampai gerilyawan pemberontak saja ia tipu.

Beata, adalah seorang gadis yatim piatu di kampung. Body-nya semlohay naudzubillah (yes, you will see her naked and showing her stuff...makanya jangan tonton bareng anak-anak!). Kerjaannya serabutan bantu-bantuin tetangga yang butuh; mencuci, menyetrika, bersih-bersih dan lain-lain. Upahnya dikit. Tapi kalo dia mau nunjukin nenen-nya, dapet duit lebih. Jadi Beata ini meski cantik semlohay, lugu dan begonya minta ampun. makanya jadi korban pelecehan lelaki hidung belang tetangganya.

Melihat Morelli datang ke kampungnya bawa janji-janji jadi bintang, Beata tertarik. Bela-belain ia digrepe-grepe sama rentenir agar bisa bayar uang casting. Karena bodonya lebay, Morelli malah eneg liat Beata. Diusir dan disepelekan malah bikin Beata jatuh cinta sama Morelli. Morelli risih dan mencoba meninggalkan Beata. Beata nekad sampe ngejar dia ke Roma.

Ternyata emang Morelli gak ke Roma. Tipuannya ketahuan. Maka dihajarlah ia sama orang-orang yang ia tipu. Saat itu hanya Beata yang peduli. Selanjutnya tonton sendiri hehee.

Film Tornatore satu ini mirip-mirip ama sebelumnya, menggambarkan Itali jadul; tahun 50an. Saat itu masa pemilu di Italia. Kelompok Kristen demokrat bertarung dengan komunis sosialis dan lain-lain. Di samping itu juga ada milisi pemberontak dan mafia. Tornatore menggambarkan persentuhan karakter Morelli dengan mereka secara karikatural. Morelli, si penipu ini diperankan apik oleh Sergio Castellitto. sayang dia nggak terkenal di luar Itali. Meski jelas merupakan bajingan, ada juga sisi baik si Morelli. Sewaktu Beata menawarkan diri digrepe-grepe ama jasa coli sebagai bayaran agar jadi artis, Morelli menolak. Ia tahu betapa pahit nasib Beata. Ia nggak mau nambah-nambahin ngerusak Beata. Beata ini perempuan korban kebangsatan lingkungan. Anak haram yang dilecehkan. Yaaa meski akhirnya Morelli mau juga nyicipin...lha wong emang tubuh Beata aduhai semlohay naudzubillah. Beatanya mau-mau aja sih.

Beata, karakternya agak membingungkan. Apakah ia benar mencintai Morelli? Apa hanya karena ambisinya jadi artis? Kalaupun cinta, ia begitu lugu dan nekad. Nah, apakah akhirnya Morelli bisa juga mencintai Beata? Nggak cuma demen bodynya thok? Tonton aja hehehe.

APIKE:
-Tornatore udah kayak jaminan mutu. Suka ama Cinema Paradiso? Malena? Legend of 900? Maka ini juga akan anda sukai.
-Musik dari Ennio Morricone adalah alasan lain selain yang saya sebut tadi.
-Ada bugilnya. Astaghfirullah.

KURANGE:
-Adegan Morelli ngapusi warga kadang terasa berkepanjangan. Plot seakan muter di situ. Karena Tornatore piawai bikin adegan maka masih tetap nikmat, tapi ceritanya jadi terulur-ulur.

Kesimpulan? Kalo suka film klasik ala Cinema Paradiso, this is RECOMMENDED.




Baca

SHIN GODZILLA (Hideaki Anno & Shinji Higuchi, 2016)

Film monster-monsteran (creature movie) yang dalam istilah Jepangnya "kaiju" adalah genre yang agak jarang dibikin. Bandingin aja ama film-film horror lainnya. Maka setiap muncul genre ini saya musti bersorak gembira, karena saya emang fans monster-monsteran sejak kecil. Ngoleksi figure-nya pula. Apalagi monster segede gedung macam Godzilla. Sayangnya tak banyak dari genre kaiju ini yang dapat sambutan positif oleh kritikus. Udah langka, yang bagus juga jarang. Bagi saya pribadi film monster terbaik masih lah Jurassic Park. Godzilla adalah nomer dua. Namun keduanya memiliki tema yang mirip yakni keseimbangan alam. Ya, film monster tak selalu sedangkal yang kita kira. Cuma soal kadal nuklir raksasa? No! Godzilla sesungguhnya adalah perlambang kengerian akan perang nuklir. Orang Jepang bisa sangat menghayati Godzilla karena seperti yang kita tahu, mereka adalah korban dari tragedi nuklir itu sendiri. Shin Godzilla yang mau saya omongin ini bukanlah reboot 100 persen dari film Godzilla-nya Ishirō Honda taun 1954. Beda sama Kingkong-nya Peter Jackson sih. Jackson masih setia ama film aslinya sedangkan Shin Godzilla tidak. Godzilla ori 54 ada selipan kisah romans-nya.

Parlemen dibikin repot ama kadal

Cerita dimulai dengan ditemukannya sebuah kapal terlantar. Penghuninya hilang. Tak lama kemudian muncul satu sosok makhluk raksasa dari laut. Kemunculan itu bikin kepanikan nasional. Tiap departemen di pemerintahan Jepang berdebat bagaimana cara menangani makhluk ini. Ancaman jadi makin besar, karena makhluk yang kemudian dipanggil Godzilla itu bisa berubah jadi gede dan sakti. Amerika pun mendesak untuk turut campur. Atas ijin perdana menteri, Godzilla dihantam missil habis-habisan. Tapi ternyata Godzilla itu terlalu kuat. Metabolisme Godzilla menggunakan energi dari reaksi nuklir. Tubuhnya keras banget kayak baja. Alih-alih kebeset, Godzillanya malah muntahin radiasi yang bikin kota kayak kesapu kiamat.

Macet lagi...macet lagi...gara-gara si Goji lewat.

Serangan penumpasan Godzilla dinyatakan gagal. Akibatnya Jepang dapat tekanan dari banyak negara agar segera membereskan hal itu. Kalo tidak Godzilla bakal jadi ancaman internasional. Lalu, tanpa konflik yang cukup berarti, parlemen Jepang manut ama rencana Amerika yang dibekingi PBB; menggunakan senjata nuklir. "Mak syuttttt jblarrr" njut Godzilla modar. Gitu teorinya. Tapi orang Jepang yang trauma sama masa lalu berusaha cari alternatif lain. Mereka adalah para ilmuwan yang kurang suka ama rencana Amerika. Tim ini (dibantu gabungan dari antar departemen) lantas berusaha keras mikir gimana agar Godzilla mati tanpa harus pakai nuklir. Saat itu si Godzilla udah mulai mengancam Tokyo. Menggabungkan pemikiran banyak orang, akhirnya ditemukan cara. Yakni si Godzilla akan digelonggong pakai cairan pembeku.

Saya cukup pesimis waktu film ini diluncurkan. Meski saya demen Godzilla (sebagai karakter dan action figure), nonton film-film kaiju Jepang jadul itu serasa nonton wayang kostum hehehe. Kayak filmnya anak-anak. Tapi Godzilla original 1954 adalah perkecualian ya. Emang sih Godzilla-nya wagu (meski keren untuk ukuran tahun segitu), tapi ada kedalaman cerita. Kedalaman ini sayangnya nggak dimiliki ama Shin Godzilla 2016. Shin Godzilla cuma kisah satu negara lawan monster. Itu thok. Nggak ada romans blas meski ada cewek bening macam Satomi Ishihara di sana.

Semua karakter manusianya pada tipis semua. Dialognya "nrecel" dari awal sampe akhir. Perhatian kita dipaksa lompat-lompat ke banyak karakter sampe nggak sempat ngapalin nama mereka satu-satu. Nggak ada pause untuk kita sedikit merenung. Joke-joke untuk rileks sejenak, mungkin semacam comic relief nggak ada. Bahkan adegan makan aja sampe nggak ada. Ada sih satu scene menampilkan ramen. Eh nggak dimakan juga. Saking gawatnya serbuan Godzilla jadi gak sempat kali ya. Pokoknya yang terlihat adalah kerepotan antar departemen dan negara yang hendak menggempur si Godzilla. Konflik pribadi antar karakter yang terdapat di versi 1954 nggak ada.

Namun saya nggak bilang ini film jelek lho ya.

Bagi anda kaiju fans ini tetep highly recommended. Disain Godzillanya paling keren di antara semua film Godzilla yang udah dibikin (menurut saya aja loh). Kekhawatiran saya soal Godzillanya bakal wagu mirip kayak orang berkostum terbantahkan. Kesan megah, grande, monstrous sang Godzilla sangat dapet. Saat dishoot pakai low angle di deket kakinya tuh terasa wuiii gede banget monsternya. Saya begitu demen ama tekstur kulitnya yang "mlethek-mlethek" kayak batu menyimpan bara lava. Saat si Godzilla "angop" memuntahkan radiasi, mulutnya membuka lebar dan mengeluarkan cahaya. That's what I love about Godzilla. Jadi kelemahan-kelemahan naratif dan teknis bisa saya maafkan. Saya emang butuh nonton monster yang "masuk selera". Dan kayaknya ngasih drama di film monster tak selalu harus sih. Lha saya ngantuk tuh nonton Godzilla bikinan Gareth Edwards. Jadi lupakan tuntutan yang terlalu tinggi soal suspension of disbelief. Nikmatilah Shin Godzilla sebagai pengagum monster kadal nuklir ini hehehe. Just be like a kid. You gonna like it.

So? Yok opo?

APIKE:

-Yang pertama jelas disain Godzilla-nya. Yang jelas paling keren menurut saya dari semua film Godzilla ever made. Godzilla versi lawas kebanyakan kayak beruang atau srigala. Godzilla Amerika 1998 malah kayak bunglon. Godzilla versi Gareth Edwards yang udah lumayan. Shin Godzilla lebih keren lagi. Perhatikan tekstur kulitnya yang melambangkan kengerian soal bencana nuklir. Perhatikan giginya yang "cringih-cringih", matanya yang bulet kecil. Kalo suara aumannya, masih sama kayak versi ori. Ngoaaaaakkkkk. Gitu suaranya.

-Visual Effectnya lumayan. Ndak terlalu mirip miniature effect kayak di film Ultraman lah.

-Godzilla banyak kelihatan di siang hari. Nggak main gelap-gelapan kayak di versi Amerika.

-Musik tema dari Godzilla 1954 dimunculin. Jadi nostalgic.

KURANGE:

-Yang paling kurang adalah karakterisasi Godzillanya. Mungkin lebih parah dari versi Amerika 1998 yang dicibir banyak orang itu. Karena di film ini si Godzilla cuman monster yang ketiban apes. Tergopoh-gopoh ke darat entah mo ngapain, terus dibantai manusia yang lebih kejam dari monster. Ia nggak punya kedalaman latar. Tidak dieksplor hubungannya dengan semestanya. Padahal dalam seri-seri Godzilla yang ada, makhluk ini kayak dewa. Ia merupakan pelindung dan penghancur sekaligus, menjaga agar alam seimbang. Di Shin Godzilla, ia cuma makhluk malang yang nyasar.

-Directornya kayak nggak total ketika nggambarin situasi kota yang chaos. Sebenarnya udah meyakinkan bikin reruntuhan gedung, tapi orang-orangnya kayak kelihatan tenang. Nggak dapet kesan chaos. Macetnya Jakarta pas jelang lebaran aja malah lebih chaos deh.

-Juga saat menggambarkan kota yang diporakporandakan Godzilla pake "abab" nuklirnya. Mustinya tuh bakal banyak orang mati maupun ngungsi. Minimal tampangnya bakal kayak pengungsi Syria. Tapi di sini kotanya agak adem ayem. Yang ngungsi bajunya rapi. Dikit pula. Kondisi listrik pun gak masalah. Masih nyala. Indonesia aja yang gak ada Godzilla bisa mota-mati. Trus ada juga jalan yang masih lengang dan bersih. Padahal itu dekat sama lokasi Godzilla nyasar. Lagipula abab Godzilla itu kayak kiamat lho. Saat penyerangan Godzilla yang memanfaatkan infrastruktur pun lancar jaya padahal saat Godzilla ngamuk, kudunya jalan-jalan pada rusak. Liat aja pas adegan ribuan mobil diobrak-abrik Godzilla kayak semudah kita "ngorat-arit" Hotwheels.

-Drama emang tak harus ada, tapi tanpa adanya konflik personal nih film jadi garing.

-Terlalu banyak karakter bermunculan.

-Se-badass-badass-nya sang Godzilla, ia tumbang terlalu gampang.

Kesimpulan saya; LUMAYAN APIK. Tapi jika anda emang suka kaiju movie or monster movie fans.
Film monster-monsteran (creature movie) yang dalam istilah Jepangnya "kaiju" adalah genre yang agak jarang dibikin. Bandingin aja ama film-film horror lainnya. Maka setiap muncul genre ini saya musti bersorak gembira, karena saya emang fans monster-monsteran sejak kecil. Ngoleksi figure-nya pula. Apalagi monster segede gedung macam Godzilla. Sayangnya tak banyak dari genre kaiju ini yang dapat sambutan positif oleh kritikus. Udah langka, yang bagus juga jarang. Bagi saya pribadi film monster terbaik masih lah Jurassic Park. Godzilla adalah nomer dua. Namun keduanya memiliki tema yang mirip yakni keseimbangan alam. Ya, film monster tak selalu sedangkal yang kita kira. Cuma soal kadal nuklir raksasa? No! Godzilla sesungguhnya adalah perlambang kengerian akan perang nuklir. Orang Jepang bisa sangat menghayati Godzilla karena seperti yang kita tahu, mereka adalah korban dari tragedi nuklir itu sendiri. Shin Godzilla yang mau saya omongin ini bukanlah reboot 100 persen dari film Godzilla-nya Ishirō Honda taun 1954. Beda sama Kingkong-nya Peter Jackson sih. Jackson masih setia ama film aslinya sedangkan Shin Godzilla tidak. Godzilla ori 54 ada selipan kisah romans-nya.

Parlemen dibikin repot ama kadal

Cerita dimulai dengan ditemukannya sebuah kapal terlantar. Penghuninya hilang. Tak lama kemudian muncul satu sosok makhluk raksasa dari laut. Kemunculan itu bikin kepanikan nasional. Tiap departemen di pemerintahan Jepang berdebat bagaimana cara menangani makhluk ini. Ancaman jadi makin besar, karena makhluk yang kemudian dipanggil Godzilla itu bisa berubah jadi gede dan sakti. Amerika pun mendesak untuk turut campur. Atas ijin perdana menteri, Godzilla dihantam missil habis-habisan. Tapi ternyata Godzilla itu terlalu kuat. Metabolisme Godzilla menggunakan energi dari reaksi nuklir. Tubuhnya keras banget kayak baja. Alih-alih kebeset, Godzillanya malah muntahin radiasi yang bikin kota kayak kesapu kiamat.

Macet lagi...macet lagi...gara-gara si Goji lewat.

Serangan penumpasan Godzilla dinyatakan gagal. Akibatnya Jepang dapat tekanan dari banyak negara agar segera membereskan hal itu. Kalo tidak Godzilla bakal jadi ancaman internasional. Lalu, tanpa konflik yang cukup berarti, parlemen Jepang manut ama rencana Amerika yang dibekingi PBB; menggunakan senjata nuklir. "Mak syuttttt jblarrr" njut Godzilla modar. Gitu teorinya. Tapi orang Jepang yang trauma sama masa lalu berusaha cari alternatif lain. Mereka adalah para ilmuwan yang kurang suka ama rencana Amerika. Tim ini (dibantu gabungan dari antar departemen) lantas berusaha keras mikir gimana agar Godzilla mati tanpa harus pakai nuklir. Saat itu si Godzilla udah mulai mengancam Tokyo. Menggabungkan pemikiran banyak orang, akhirnya ditemukan cara. Yakni si Godzilla akan digelonggong pakai cairan pembeku.

Saya cukup pesimis waktu film ini diluncurkan. Meski saya demen Godzilla (sebagai karakter dan action figure), nonton film-film kaiju Jepang jadul itu serasa nonton wayang kostum hehehe. Kayak filmnya anak-anak. Tapi Godzilla original 1954 adalah perkecualian ya. Emang sih Godzilla-nya wagu (meski keren untuk ukuran tahun segitu), tapi ada kedalaman cerita. Kedalaman ini sayangnya nggak dimiliki ama Shin Godzilla 2016. Shin Godzilla cuma kisah satu negara lawan monster. Itu thok. Nggak ada romans blas meski ada cewek bening macam Satomi Ishihara di sana.

Semua karakter manusianya pada tipis semua. Dialognya "nrecel" dari awal sampe akhir. Perhatian kita dipaksa lompat-lompat ke banyak karakter sampe nggak sempat ngapalin nama mereka satu-satu. Nggak ada pause untuk kita sedikit merenung. Joke-joke untuk rileks sejenak, mungkin semacam comic relief nggak ada. Bahkan adegan makan aja sampe nggak ada. Ada sih satu scene menampilkan ramen. Eh nggak dimakan juga. Saking gawatnya serbuan Godzilla jadi gak sempat kali ya. Pokoknya yang terlihat adalah kerepotan antar departemen dan negara yang hendak menggempur si Godzilla. Konflik pribadi antar karakter yang terdapat di versi 1954 nggak ada.

Namun saya nggak bilang ini film jelek lho ya.

Bagi anda kaiju fans ini tetep highly recommended. Disain Godzillanya paling keren di antara semua film Godzilla yang udah dibikin (menurut saya aja loh). Kekhawatiran saya soal Godzillanya bakal wagu mirip kayak orang berkostum terbantahkan. Kesan megah, grande, monstrous sang Godzilla sangat dapet. Saat dishoot pakai low angle di deket kakinya tuh terasa wuiii gede banget monsternya. Saya begitu demen ama tekstur kulitnya yang "mlethek-mlethek" kayak batu menyimpan bara lava. Saat si Godzilla "angop" memuntahkan radiasi, mulutnya membuka lebar dan mengeluarkan cahaya. That's what I love about Godzilla. Jadi kelemahan-kelemahan naratif dan teknis bisa saya maafkan. Saya emang butuh nonton monster yang "masuk selera". Dan kayaknya ngasih drama di film monster tak selalu harus sih. Lha saya ngantuk tuh nonton Godzilla bikinan Gareth Edwards. Jadi lupakan tuntutan yang terlalu tinggi soal suspension of disbelief. Nikmatilah Shin Godzilla sebagai pengagum monster kadal nuklir ini hehehe. Just be like a kid. You gonna like it.

So? Yok opo?

APIKE:

-Yang pertama jelas disain Godzilla-nya. Yang jelas paling keren menurut saya dari semua film Godzilla ever made. Godzilla versi lawas kebanyakan kayak beruang atau srigala. Godzilla Amerika 1998 malah kayak bunglon. Godzilla versi Gareth Edwards yang udah lumayan. Shin Godzilla lebih keren lagi. Perhatikan tekstur kulitnya yang melambangkan kengerian soal bencana nuklir. Perhatikan giginya yang "cringih-cringih", matanya yang bulet kecil. Kalo suara aumannya, masih sama kayak versi ori. Ngoaaaaakkkkk. Gitu suaranya.

-Visual Effectnya lumayan. Ndak terlalu mirip miniature effect kayak di film Ultraman lah.

-Godzilla banyak kelihatan di siang hari. Nggak main gelap-gelapan kayak di versi Amerika.

-Musik tema dari Godzilla 1954 dimunculin. Jadi nostalgic.

KURANGE:

-Yang paling kurang adalah karakterisasi Godzillanya. Mungkin lebih parah dari versi Amerika 1998 yang dicibir banyak orang itu. Karena di film ini si Godzilla cuman monster yang ketiban apes. Tergopoh-gopoh ke darat entah mo ngapain, terus dibantai manusia yang lebih kejam dari monster. Ia nggak punya kedalaman latar. Tidak dieksplor hubungannya dengan semestanya. Padahal dalam seri-seri Godzilla yang ada, makhluk ini kayak dewa. Ia merupakan pelindung dan penghancur sekaligus, menjaga agar alam seimbang. Di Shin Godzilla, ia cuma makhluk malang yang nyasar.

-Directornya kayak nggak total ketika nggambarin situasi kota yang chaos. Sebenarnya udah meyakinkan bikin reruntuhan gedung, tapi orang-orangnya kayak kelihatan tenang. Nggak dapet kesan chaos. Macetnya Jakarta pas jelang lebaran aja malah lebih chaos deh.

-Juga saat menggambarkan kota yang diporakporandakan Godzilla pake "abab" nuklirnya. Mustinya tuh bakal banyak orang mati maupun ngungsi. Minimal tampangnya bakal kayak pengungsi Syria. Tapi di sini kotanya agak adem ayem. Yang ngungsi bajunya rapi. Dikit pula. Kondisi listrik pun gak masalah. Masih nyala. Indonesia aja yang gak ada Godzilla bisa mota-mati. Trus ada juga jalan yang masih lengang dan bersih. Padahal itu dekat sama lokasi Godzilla nyasar. Lagipula abab Godzilla itu kayak kiamat lho. Saat penyerangan Godzilla yang memanfaatkan infrastruktur pun lancar jaya padahal saat Godzilla ngamuk, kudunya jalan-jalan pada rusak. Liat aja pas adegan ribuan mobil diobrak-abrik Godzilla kayak semudah kita "ngorat-arit" Hotwheels.

-Drama emang tak harus ada, tapi tanpa adanya konflik personal nih film jadi garing.

-Terlalu banyak karakter bermunculan.

-Se-badass-badass-nya sang Godzilla, ia tumbang terlalu gampang.

Kesimpulan saya; LUMAYAN APIK. Tapi jika anda emang suka kaiju movie or monster movie fans.
Baca

FILOSOFI KOPI (Angga Dwimas Sasongko, 2015)

Kenangan saya soal kopi itu cuma satu; kopi campur beras yang dibikin nenek saya. Bagi saya ya kopi kayak gitu yang memorable hehehe kopi yang lain tidak. Emang saya bukan apresiator kopi melainkan es jeruk. Saya mungkin satu-satunya di galaksi Bima Sakti yang mengapresiasi es jeruk sedalam orang menyukai kopi. Ah karepmu lah....btw saya baru nonton film Filosofi Kopi. Ini adalah sajian hiburan yang memang senikmat kopi. Dulu saya baca bukunya Dee dan suka sama kisah Ben dan Jody. Meski udah diubah banyak dari bukunya (dan emang demikian seharusnya), Filosofi Kopi the movie mampu menyajikan cerita yang tak kalah hebat. Filosofi Kopi adalah kisah tentang persahabatan, dedikasi dan keluarga.

Ben's Perfecto

Ceritanya ada dua sahabat; Ben (Chico) adalah seorang barista yang sangat passion ama kopi. Dia bisa sangat detail, cerewet dan emosional kalo udah ngebahas kopi. Ben kerja bareng sama sobatnya, si Jody (Rio) yang punya modal dan tempat usaha. Duo Chico Jericho dan Rio Dewanto membawakan karakter Ben dan Jody dengan sangat pas. Ndak terlalu manis, ndak terlalu pahit. Jody yang perhitungan, nalar, ekonomis harus mengimbangi Ben yang gila, njlimet, gegabah namun sangat passionated terhadap kopi. Nah, cafe bernama Filosofi Kopi ini suatu ketika lagi krisis. Dililit utang dan pengunjung nggak banyak. Apalagi Ben yang idealis menolak pasang wi-fi. "Kopi tu kalo enak pengunjung tetap akan datang." Kurang lebih gitu bacotnya si Ben. Tapi kondisi riil berbeda. Utang usaha yang ditanggung Jody udah ratusan juta. Sampai suatu ketika ada seorang pengusaha ngasih tantangan agar Ben bikin kopi terenak se-Indonesia. Taruhannya seratus juta. Bukannya memanfaatkan kesempatan itu buat bayar utang, Ben malah balik nantang si penantang agar taruhannya naik ke level milyar. Jadilah Jody mumet super puyeng menghadapi ulah gila sobatnya itu. Sampai di sini saya ketawa terbahak-bahak. Misal ada kayak Ben di dunia nyata, dan saya jadi Jody bakal takcemplungke sumur menungso koyo ngono kuwi hahaha.

Tapi Ben itu sebenarnya jenius kopi sejak kecil. Ada latar belakangnya yang cukup pahit ternyata. Di sinilah karakter Ben tidak seenteng kelihatannya. Ada latar yang membentuknya begitu. Jody pun juga bukan sekadar anak orang tajir. Tanpa ada akal sehat dia, Ben mungkin nggak akan jadi barista di Jakarta. Tanpa jadi barista, Filosofi Kopi tak pernah ada. Nah, balik ke soal tantangan. Si Ben nih lalu bertapa agar bisa meramu kopi yang terhebat. Jadilah Ben's Perfecto, racikan kopi yang akan dijadikan sebagai jawaban dari tantangan itu. Sampai mereka ketemu Elle (Julie Estelle), si neng geulis keturunan Prancis, bajunya necis, parasnya manis, bibirnya tipis kalau mendesah bikin kebelet pipis. Saat mencoba Ben's Perfecto, dia cuma bilang "lumayan". Dibilang lumayan ya jelas Ben nggak terima. Kopinya itu perfect masak dibilang lumayan? Dan Elle bilang bahwa ada kopi yang lebih enak. Namanya Tiwus.

Perjalanan Ben, Jody dan Elle menemui Pak Seno, pembikin kopi Tiwus membawa Ben kembali mengarungi masa kecilnya yang pahit. Pahit dalam arti pahitnya hidup, bukan pahitnya kopi. Tapi itulah yang akan menjadi katalisator bagi Ben untuk menemukan jati dirinya. Ini pun juga berdampak pada Jody dan Filosofi Kopinya. Dari pertengahan film ke akhir, Angga Dwimas memainkan perasaan penontonnya bak naik dokar. Kadang dibuat terharu, kadang gregetan, kadang ketawa. Sayang banget sih beberapa momen yang harusnya menyentuh agak terasa gagal gara-gara musiknya yang nggak pas. Ibarat kopi Tiwus kecelup buntut cecak. Eh tapi cecaknya mentas jadi kopinya masih bisa diminum hehehe.

Okay. Gimana kesimpulan saya?

APIKE:
-Duo Chico dan Rio yang solid, natural dan pas kayak racikan kopi Ben.
-Kedalaman cerita soal dedikasi, cinta dan kasih sayang keluarga yang diwakilkan pada racikan kopi. Ummmhhh dahsyat benar.
-Film ini tidak berusaha hebat, namun sudah pas. Dan itu hebat.
-Setiap Ben mencicipi kopi, imajinasi kita ikutan nyeruput. Saya aja yang bukan maniak kopi jadi pengen juga nih siang-siang gini.
-Filsofinya kopi pun nyampe tanpa harus menghamburkan dialog-dialog sok filosofis. Tak bisa diceritakan. Anda bisa menyerapnya dari minum kopi beneran.

KURANGE:
-Product placement yang lebay. Tuh merk kopi sponsor bertebaran mulai dari adegan minimarket hingga jalanan. Iya maklum emang yang punya duit, tapi kok rasanya ngoyo banget agar produknya gak dilupain penonton.
-Musik yang kurang "membawa". ya perasaan kita kayak salah kebawa gitu. Pas adegan emosional musiknya nggak dapet kalo nurut taste saya.
-Endingnya agak terasa diulur-ulur meskipun saya suka closingnya. Pada akhirnya apa yang dilepas berakibat dengan datangnya hal yang lebih baik. Yakni kesempatan untuk mendalami jiwa sesungguhnya dari Filosofi Kopi; petualangan dan persahabatan!

Jadi? Ini film BAGUS. Saya jarang memuji film lokal loh. Kalo kopi yang paling enak lebih enak daripada kopi Tiwus?...

Kopi Suguh.



Kenangan saya soal kopi itu cuma satu; kopi campur beras yang dibikin nenek saya. Bagi saya ya kopi kayak gitu yang memorable hehehe kopi yang lain tidak. Emang saya bukan apresiator kopi melainkan es jeruk. Saya mungkin satu-satunya di galaksi Bima Sakti yang mengapresiasi es jeruk sedalam orang menyukai kopi. Ah karepmu lah....btw saya baru nonton film Filosofi Kopi. Ini adalah sajian hiburan yang memang senikmat kopi. Dulu saya baca bukunya Dee dan suka sama kisah Ben dan Jody. Meski udah diubah banyak dari bukunya (dan emang demikian seharusnya), Filosofi Kopi the movie mampu menyajikan cerita yang tak kalah hebat. Filosofi Kopi adalah kisah tentang persahabatan, dedikasi dan keluarga.

Ben's Perfecto

Ceritanya ada dua sahabat; Ben (Chico) adalah seorang barista yang sangat passion ama kopi. Dia bisa sangat detail, cerewet dan emosional kalo udah ngebahas kopi. Ben kerja bareng sama sobatnya, si Jody (Rio) yang punya modal dan tempat usaha. Duo Chico Jericho dan Rio Dewanto membawakan karakter Ben dan Jody dengan sangat pas. Ndak terlalu manis, ndak terlalu pahit. Jody yang perhitungan, nalar, ekonomis harus mengimbangi Ben yang gila, njlimet, gegabah namun sangat passionated terhadap kopi. Nah, cafe bernama Filosofi Kopi ini suatu ketika lagi krisis. Dililit utang dan pengunjung nggak banyak. Apalagi Ben yang idealis menolak pasang wi-fi. "Kopi tu kalo enak pengunjung tetap akan datang." Kurang lebih gitu bacotnya si Ben. Tapi kondisi riil berbeda. Utang usaha yang ditanggung Jody udah ratusan juta. Sampai suatu ketika ada seorang pengusaha ngasih tantangan agar Ben bikin kopi terenak se-Indonesia. Taruhannya seratus juta. Bukannya memanfaatkan kesempatan itu buat bayar utang, Ben malah balik nantang si penantang agar taruhannya naik ke level milyar. Jadilah Jody mumet super puyeng menghadapi ulah gila sobatnya itu. Sampai di sini saya ketawa terbahak-bahak. Misal ada kayak Ben di dunia nyata, dan saya jadi Jody bakal takcemplungke sumur menungso koyo ngono kuwi hahaha.

Tapi Ben itu sebenarnya jenius kopi sejak kecil. Ada latar belakangnya yang cukup pahit ternyata. Di sinilah karakter Ben tidak seenteng kelihatannya. Ada latar yang membentuknya begitu. Jody pun juga bukan sekadar anak orang tajir. Tanpa ada akal sehat dia, Ben mungkin nggak akan jadi barista di Jakarta. Tanpa jadi barista, Filosofi Kopi tak pernah ada. Nah, balik ke soal tantangan. Si Ben nih lalu bertapa agar bisa meramu kopi yang terhebat. Jadilah Ben's Perfecto, racikan kopi yang akan dijadikan sebagai jawaban dari tantangan itu. Sampai mereka ketemu Elle (Julie Estelle), si neng geulis keturunan Prancis, bajunya necis, parasnya manis, bibirnya tipis kalau mendesah bikin kebelet pipis. Saat mencoba Ben's Perfecto, dia cuma bilang "lumayan". Dibilang lumayan ya jelas Ben nggak terima. Kopinya itu perfect masak dibilang lumayan? Dan Elle bilang bahwa ada kopi yang lebih enak. Namanya Tiwus.

Perjalanan Ben, Jody dan Elle menemui Pak Seno, pembikin kopi Tiwus membawa Ben kembali mengarungi masa kecilnya yang pahit. Pahit dalam arti pahitnya hidup, bukan pahitnya kopi. Tapi itulah yang akan menjadi katalisator bagi Ben untuk menemukan jati dirinya. Ini pun juga berdampak pada Jody dan Filosofi Kopinya. Dari pertengahan film ke akhir, Angga Dwimas memainkan perasaan penontonnya bak naik dokar. Kadang dibuat terharu, kadang gregetan, kadang ketawa. Sayang banget sih beberapa momen yang harusnya menyentuh agak terasa gagal gara-gara musiknya yang nggak pas. Ibarat kopi Tiwus kecelup buntut cecak. Eh tapi cecaknya mentas jadi kopinya masih bisa diminum hehehe.

Okay. Gimana kesimpulan saya?

APIKE:
-Duo Chico dan Rio yang solid, natural dan pas kayak racikan kopi Ben.
-Kedalaman cerita soal dedikasi, cinta dan kasih sayang keluarga yang diwakilkan pada racikan kopi. Ummmhhh dahsyat benar.
-Film ini tidak berusaha hebat, namun sudah pas. Dan itu hebat.
-Setiap Ben mencicipi kopi, imajinasi kita ikutan nyeruput. Saya aja yang bukan maniak kopi jadi pengen juga nih siang-siang gini.
-Filsofinya kopi pun nyampe tanpa harus menghamburkan dialog-dialog sok filosofis. Tak bisa diceritakan. Anda bisa menyerapnya dari minum kopi beneran.

KURANGE:
-Product placement yang lebay. Tuh merk kopi sponsor bertebaran mulai dari adegan minimarket hingga jalanan. Iya maklum emang yang punya duit, tapi kok rasanya ngoyo banget agar produknya gak dilupain penonton.
-Musik yang kurang "membawa". ya perasaan kita kayak salah kebawa gitu. Pas adegan emosional musiknya nggak dapet kalo nurut taste saya.
-Endingnya agak terasa diulur-ulur meskipun saya suka closingnya. Pada akhirnya apa yang dilepas berakibat dengan datangnya hal yang lebih baik. Yakni kesempatan untuk mendalami jiwa sesungguhnya dari Filosofi Kopi; petualangan dan persahabatan!

Jadi? Ini film BAGUS. Saya jarang memuji film lokal loh. Kalo kopi yang paling enak lebih enak daripada kopi Tiwus?...

Kopi Suguh.



Baca

ON THE JOB (Erik Matti, 2013)


Kesan saya terhadap film Filipina itu kayak kesan saya ama film kelas B Indonesia. Soalnya dulu saya nontonnya film-film Pinoy semi gitu sih hihihi apalagi yang ada Joyce Jimenez, Diana Zubiri, Angel Locsin. Ya di-skip-skip cuman buat liat cakepnya doang. Filipina dan Indonesia kayaknya emang mirip secara kultur dan infrastruktur. Pantes aja dulu The Year of Living Dangerously-nya Peter Weir syutingnya di Filipina. Pemandangan kumuh tepian Manila dalam film On The Job mirip banget sama tepian Jakarta yang marjinal. Tapi On The Job jelas bukan film kelas kacangan.

Daniel dan Tatang

Ceritanya seputar dua pembunuh bayaran, Mario alias Tatang dan Daniel. Tatang lebih senior sedangkan Daniel masih belajar dan sering ceroboh. Bagi Daniel, Tatang adalah mentor dan sosok ayah. Keduanya tinggal di sebuah penjara. Jika ada job menjagal, mereka akan dikeluarkan untuk sementara. Setelah tugas terlaksana, mereka balik lagi ke penjara. Dengan demikian nggak ada yang curiga.

Setelah keduanya dapat job membunuh seorang kriminal narkoba, suatu jaringan kejahatan tingkat tinggi mulai terbongkar. Ternyata puncak pengelola bisnis jagal ini adalah seorang jendral yang mau mencalonkan diri jadi senator. Sang Jendral mau bersih-bersih agar langkahnya lancar. Acosta adalah seorang polisi yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan tersebut. Ia makin depresi selain gara-gara pangkatnya nggak naik-naik, kasus yang ditanganinya tak kunjung selesai. Sampai seorang polisi muda bernama Coronel menggantikannya. Coronel sendiri bukannya tanpa beban masalah. Masalahnya mertuanya adalah anggota komgres yang juga sobat karib sang jendral.

Kembali ke Tatang dan Daniel. Sementara Daniel ingin sekali sejago Tatang, Tatang malah ingin pensiun. Tatang punya isteri yang semlohay dan anak perempuan yang sedang sekolah hukum. Keduanya adalah alasan Tatang ingin tobat. Tapi niat itu jadi kacau setelah ketahuan isteri Tatang selingkuh sama "tukang ledeng". Emang ini film bukan sekadar bicara soal konflik kriminal politik tingkat tinggi namun juga soal kesetiaan. Ada banyak pengkhianatan di film ini. On The Job adalah film neo noir dengan twist.

Selain gambar sinematik realitistis yang berhasil menangkap kesemrawutan yang "megah" di Manila, On The Job menyajikan cerita yang solid. Semua karakter di dalamnya tak bisa lepas dari cengkeraman intrik. Kita bisa menyimak mulai dari Tatang. Sebagai pria paruh baya yang mustinya menyemangati putrinya ujian skripsi, atau nganu istrinya yang semlohay, ia harus menerima kerjaan kotor dari tempat sampah. Sang jendral yang merupakan puncak tertinggi dari bisnis yang Tatang jalani, bersih melenggang ke tampuk kekuasaan. "Putang ina!" gitu kalo orang Filipina misuh. Saat mau insyaf pun eh ternyata isterinya Tatang malah main "pipa ledeng" pria lain.

Sementara itu, orang bersih macam Acosta tak bisa apa-apa sebagai polisi pangkat rendahan. Ada Coronel yang diharapkan bakal jadi pendobrak sendiri ternyata malah terpenjara dalam pangkatnya yang konon hasil negosiasi mertuanya. Salah sendiri jadi polisi idealis kok malah nikahin anak anggota DPR eh kongres. Setiap perbuatan dapat karmanya, setiap perjuangan ada konsekuensinya. Cepat atau lambat semua akan membayar.

Okay. Is this Filipino crime drama movie recommended? Inilah kesimpulan saya.

APIKE:
-Sinematografi noir yang menangkap sudut-sudut kumuh Filipina. Ada bau-bau filmnya Michael Mann gitu...perasaan saya sih.
-Performa casting yang kuat terutama Joel Torre sebagai Mario "Tatang" Maghari
-Cerita yang solid dan storytelling yang mengalir. Ndak ada drama-dramaan lebay.
-Beware of puting nongol dikit. Ada erotic scene but not that much. Padahal Filipina gudangnya model FHM kan ya?

KURANGE:
-Mungkin perlu aroma noir yang kuat lewat musik. Nha musiknya bagi saya ndak memorable. Padahal Filipina juga kandangnya suara bagus (kayak Indonesia).
-Saya merasa karakter Daniel (diperankan Gerald Anderson) kurang terbangun lebih banyak. Dia ini "anak magang" yang ambisi ingin sejago Tatang. Tapi proses belajarnya kurang terlihat. Mungkin karena harus berbagi layar sama karakter lain.
-Saya paling males nonton film yang dibintangin model. Udah suudzon dulu. Alih-alih sebagai polisi idealis, Piolo Pascual masih bawa gaya modelnya saat memerankan Coronel. Hanya naskah Erik Matti yang menyelamatkan karakternya.

So? Recommended or not? Bagi penggemar CRIME DRAMA apalagi NOIR, it's very RECOMMENDED.




Kesan saya terhadap film Filipina itu kayak kesan saya ama film kelas B Indonesia. Soalnya dulu saya nontonnya film-film Pinoy semi gitu sih hihihi apalagi yang ada Joyce Jimenez, Diana Zubiri, Angel Locsin. Ya di-skip-skip cuman buat liat cakepnya doang. Filipina dan Indonesia kayaknya emang mirip secara kultur dan infrastruktur. Pantes aja dulu The Year of Living Dangerously-nya Peter Weir syutingnya di Filipina. Pemandangan kumuh tepian Manila dalam film On The Job mirip banget sama tepian Jakarta yang marjinal. Tapi On The Job jelas bukan film kelas kacangan.

Daniel dan Tatang

Ceritanya seputar dua pembunuh bayaran, Mario alias Tatang dan Daniel. Tatang lebih senior sedangkan Daniel masih belajar dan sering ceroboh. Bagi Daniel, Tatang adalah mentor dan sosok ayah. Keduanya tinggal di sebuah penjara. Jika ada job menjagal, mereka akan dikeluarkan untuk sementara. Setelah tugas terlaksana, mereka balik lagi ke penjara. Dengan demikian nggak ada yang curiga.

Setelah keduanya dapat job membunuh seorang kriminal narkoba, suatu jaringan kejahatan tingkat tinggi mulai terbongkar. Ternyata puncak pengelola bisnis jagal ini adalah seorang jendral yang mau mencalonkan diri jadi senator. Sang Jendral mau bersih-bersih agar langkahnya lancar. Acosta adalah seorang polisi yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan tersebut. Ia makin depresi selain gara-gara pangkatnya nggak naik-naik, kasus yang ditanganinya tak kunjung selesai. Sampai seorang polisi muda bernama Coronel menggantikannya. Coronel sendiri bukannya tanpa beban masalah. Masalahnya mertuanya adalah anggota komgres yang juga sobat karib sang jendral.

Kembali ke Tatang dan Daniel. Sementara Daniel ingin sekali sejago Tatang, Tatang malah ingin pensiun. Tatang punya isteri yang semlohay dan anak perempuan yang sedang sekolah hukum. Keduanya adalah alasan Tatang ingin tobat. Tapi niat itu jadi kacau setelah ketahuan isteri Tatang selingkuh sama "tukang ledeng". Emang ini film bukan sekadar bicara soal konflik kriminal politik tingkat tinggi namun juga soal kesetiaan. Ada banyak pengkhianatan di film ini. On The Job adalah film neo noir dengan twist.

Selain gambar sinematik realitistis yang berhasil menangkap kesemrawutan yang "megah" di Manila, On The Job menyajikan cerita yang solid. Semua karakter di dalamnya tak bisa lepas dari cengkeraman intrik. Kita bisa menyimak mulai dari Tatang. Sebagai pria paruh baya yang mustinya menyemangati putrinya ujian skripsi, atau nganu istrinya yang semlohay, ia harus menerima kerjaan kotor dari tempat sampah. Sang jendral yang merupakan puncak tertinggi dari bisnis yang Tatang jalani, bersih melenggang ke tampuk kekuasaan. "Putang ina!" gitu kalo orang Filipina misuh. Saat mau insyaf pun eh ternyata isterinya Tatang malah main "pipa ledeng" pria lain.

Sementara itu, orang bersih macam Acosta tak bisa apa-apa sebagai polisi pangkat rendahan. Ada Coronel yang diharapkan bakal jadi pendobrak sendiri ternyata malah terpenjara dalam pangkatnya yang konon hasil negosiasi mertuanya. Salah sendiri jadi polisi idealis kok malah nikahin anak anggota DPR eh kongres. Setiap perbuatan dapat karmanya, setiap perjuangan ada konsekuensinya. Cepat atau lambat semua akan membayar.

Okay. Is this Filipino crime drama movie recommended? Inilah kesimpulan saya.

APIKE:
-Sinematografi noir yang menangkap sudut-sudut kumuh Filipina. Ada bau-bau filmnya Michael Mann gitu...perasaan saya sih.
-Performa casting yang kuat terutama Joel Torre sebagai Mario "Tatang" Maghari
-Cerita yang solid dan storytelling yang mengalir. Ndak ada drama-dramaan lebay.
-Beware of puting nongol dikit. Ada erotic scene but not that much. Padahal Filipina gudangnya model FHM kan ya?

KURANGE:
-Mungkin perlu aroma noir yang kuat lewat musik. Nha musiknya bagi saya ndak memorable. Padahal Filipina juga kandangnya suara bagus (kayak Indonesia).
-Saya merasa karakter Daniel (diperankan Gerald Anderson) kurang terbangun lebih banyak. Dia ini "anak magang" yang ambisi ingin sejago Tatang. Tapi proses belajarnya kurang terlihat. Mungkin karena harus berbagi layar sama karakter lain.
-Saya paling males nonton film yang dibintangin model. Udah suudzon dulu. Alih-alih sebagai polisi idealis, Piolo Pascual masih bawa gaya modelnya saat memerankan Coronel. Hanya naskah Erik Matti yang menyelamatkan karakternya.

So? Recommended or not? Bagi penggemar CRIME DRAMA apalagi NOIR, it's very RECOMMENDED.



Baca

UANG PANAI (Amril Nuryan & H.G. Safia, 2016)

Jangankan film indie, pada film nasional berbujet waww aja saya susah naruh ekspektasi tinggi. Nggak tau ya... bukannya merendahkan. Jarang ada film nasional yang bisa membuat saya terhanyut pada cerita dan penceritaannya. Rupanya Uang Panai adalah film indie lokal yang melampaui ekspektasi saya. Saya ini kan kalo disodorin film Indonesia udah suudzon dulu...lah paling filmnya "gitu" hehehe . BTW lokal maksud saya semua talent yang bikin dan tema yang diangkat ini "non Jakarta" (haha).

A good local flick to watch

Apanya yang melampaui ekspektasi?

Saya pikir nih film cuma komedi ala eF-Ti-Vian yang bercerita masalah cinta berat di ongkos semata, paling-paling dengan bumbu-bumbu komedi absurd atau maksa. Ya tetep ada absurdnya sih. Komedinya, mostly nggak nangkep saya. Bukan garing dan bukan pula soal nggak paham. Saya ngerti maunya itu gitu tapi saya nggak "tergitukan" hehe. Jangan-jangan kelenjar tawa saya dah rusak. Butuh sesuatu yang sangat ultra lucu buat bikin saya ngakak. Tapi ternyata pada film ini bukan cuman lelucon absurd local Makassar style yang dijual. Ceritanya solid, konfliknya bagus dan tema yang diangkat aktual.

Uang Panai itu ceritanya tentang Si Ancha yang mau kawin sama kekasihnya Risna, tapi kehalang Uang Panai yang kelewat muahal. Nha konfliknya gak cuma itu. Setiap masalah dari kubu Si Ancha (selaku pelamar) dan Risna (yang dilamar) saling terkait. Misalnya, kenapa uang panainya Risna mahal? Karena bapaknya punya utang ke orang lain. Ancha sendiri bukan anak orang kaya. Pacaran aja yang njemput Risna. Yang nyetir Risna pulak. Nglamar kerja aja kalo gak ditolong Risna, Ancha gak bakal bisa dapet kerjaan. Itupun bukan posisi yang tinggi. Cuma karyawan sales. Gimana bisa Ancha mengumpulkan Uang Panai dalam waktu cepat?

Untung Ancha ditolong sama duo absurd Cumming eh Tumming dan Abu. Duo absurd ini mungkin bagi kawan-kawannya lucu sekali. Tapi karena keduanya bukan kawan saya, maka saya tidak bisa ketawa. Omong-omong soal ketawa, saya cuma ketawa (itupun satu suku kata aja "ha" nggak hahaha) sama dua kali tersenyum. Saya ketawa waktu Ancha pilih baju dengan ngundi pake bismillah. Saya senyum ketika Risna salah arah mau ke parkiran. Adegan satunya saya lupa senyum karena apa...berarti ya gak usah diitung. Tapi lumayan banget kan bisa bikin saya ketawa satu suku kata...ha.

Aktor-aktor yang main di Uang Panai semua saya gak kenal. Lokal semua. Semua nyaman dengan peran masing-masing dalam lokalisasinya...eh lokalitasnya. Mereka nggak tampak ingin menjadi "kejakarta-kejakartananan". Itu bagus menurut gue eh saya. Film ini pun membawa suasana Makassar tanpa harus lebay dalam berlokal-lokalria. Sering saya lihat beberapa film (TV) yang mengangkat daerah...misalnya Jawa...itu yang akting medoknya lebih dari orang Jowo asline. Guys...I think we are not too medhok nganti kaya ngono kuwi lah. That's too "kenemenen". Uang Panai sangat cukup. Porsinya cukup...and Makassaristik ji. .Jadi kebawa logatnya Uang Panai deh...hehe

Film ini memang fenomenal. Sebagai film indie non Jakarta dan bisa sukses relatif di bioskop, itu sebuah hal hebat. Film ini sukses mengangkat persoalan budaya tanpa latah jadi film propaganda budaya yang ngasih wejangan lebay. Ya tetep aja ada wejangan sih di film ini...soalnya kayaknya film ini juga menyasar segmen bapak-bapak dan emak-emak. Tapi porsinya gak sampai bikin enek.

Oke. Saya akan kasih good and bad-nya film ini. Btw saya nontonnya secara ilegal di youtube, dengan kualitas grading belang-belang dan audio mixing yang kayak dibikin anak magang. Tapi kata sutradaranya emang yang di youtube itu belum finished material sih. Jadi saya gak akan kritisi teknis audio visual. Sori ya Pak Sutradara....di kampung saya gak ada bioskop.

APIKE:
-Ceritanya solid, konfliknya meyakinkan
-Karakter-karakternya rata-rata "tipis" tapi peran mereka rata dalam cerita. Aktornya juga membawakan peran dengan pas, nggak lebay
-Banyak hal Makassaristik kita bisa tahu mulai dari logat hingga nama-nama makanan
-Komedinya tidak latah, banyak yang unik (meski ya itu....tidak terlalu lucu)

KURANGE:
-Resolusi konflik terlalu mudah, gali lubang tutup lubang bareng-bareng
-Scoringnya semrawut, dikit-dikit musik
-Muka aktor ceweknya mirip semua, saya bingung mbedain Risna, Hasna dll.
-3 gadis ribut tetangga Ancha ni ngapain ya kerjanya?

KESIMPULAN:
-Sangat layak ditonton dan diperhitungkan
-True local flick!
-Jangan berekspektasi lebih dan jangan cerewet. Nikmati!






Jangankan film indie, pada film nasional berbujet waww aja saya susah naruh ekspektasi tinggi. Nggak tau ya... bukannya merendahkan. Jarang ada film nasional yang bisa membuat saya terhanyut pada cerita dan penceritaannya. Rupanya Uang Panai adalah film indie lokal yang melampaui ekspektasi saya. Saya ini kan kalo disodorin film Indonesia udah suudzon dulu...lah paling filmnya "gitu" hehehe . BTW lokal maksud saya semua talent yang bikin dan tema yang diangkat ini "non Jakarta" (haha).

A good local flick to watch

Apanya yang melampaui ekspektasi?

Saya pikir nih film cuma komedi ala eF-Ti-Vian yang bercerita masalah cinta berat di ongkos semata, paling-paling dengan bumbu-bumbu komedi absurd atau maksa. Ya tetep ada absurdnya sih. Komedinya, mostly nggak nangkep saya. Bukan garing dan bukan pula soal nggak paham. Saya ngerti maunya itu gitu tapi saya nggak "tergitukan" hehe. Jangan-jangan kelenjar tawa saya dah rusak. Butuh sesuatu yang sangat ultra lucu buat bikin saya ngakak. Tapi ternyata pada film ini bukan cuman lelucon absurd local Makassar style yang dijual. Ceritanya solid, konfliknya bagus dan tema yang diangkat aktual.

Uang Panai itu ceritanya tentang Si Ancha yang mau kawin sama kekasihnya Risna, tapi kehalang Uang Panai yang kelewat muahal. Nha konfliknya gak cuma itu. Setiap masalah dari kubu Si Ancha (selaku pelamar) dan Risna (yang dilamar) saling terkait. Misalnya, kenapa uang panainya Risna mahal? Karena bapaknya punya utang ke orang lain. Ancha sendiri bukan anak orang kaya. Pacaran aja yang njemput Risna. Yang nyetir Risna pulak. Nglamar kerja aja kalo gak ditolong Risna, Ancha gak bakal bisa dapet kerjaan. Itupun bukan posisi yang tinggi. Cuma karyawan sales. Gimana bisa Ancha mengumpulkan Uang Panai dalam waktu cepat?

Untung Ancha ditolong sama duo absurd Cumming eh Tumming dan Abu. Duo absurd ini mungkin bagi kawan-kawannya lucu sekali. Tapi karena keduanya bukan kawan saya, maka saya tidak bisa ketawa. Omong-omong soal ketawa, saya cuma ketawa (itupun satu suku kata aja "ha" nggak hahaha) sama dua kali tersenyum. Saya ketawa waktu Ancha pilih baju dengan ngundi pake bismillah. Saya senyum ketika Risna salah arah mau ke parkiran. Adegan satunya saya lupa senyum karena apa...berarti ya gak usah diitung. Tapi lumayan banget kan bisa bikin saya ketawa satu suku kata...ha.

Aktor-aktor yang main di Uang Panai semua saya gak kenal. Lokal semua. Semua nyaman dengan peran masing-masing dalam lokalisasinya...eh lokalitasnya. Mereka nggak tampak ingin menjadi "kejakarta-kejakartananan". Itu bagus menurut gue eh saya. Film ini pun membawa suasana Makassar tanpa harus lebay dalam berlokal-lokalria. Sering saya lihat beberapa film (TV) yang mengangkat daerah...misalnya Jawa...itu yang akting medoknya lebih dari orang Jowo asline. Guys...I think we are not too medhok nganti kaya ngono kuwi lah. That's too "kenemenen". Uang Panai sangat cukup. Porsinya cukup...and Makassaristik ji. .Jadi kebawa logatnya Uang Panai deh...hehe

Film ini memang fenomenal. Sebagai film indie non Jakarta dan bisa sukses relatif di bioskop, itu sebuah hal hebat. Film ini sukses mengangkat persoalan budaya tanpa latah jadi film propaganda budaya yang ngasih wejangan lebay. Ya tetep aja ada wejangan sih di film ini...soalnya kayaknya film ini juga menyasar segmen bapak-bapak dan emak-emak. Tapi porsinya gak sampai bikin enek.

Oke. Saya akan kasih good and bad-nya film ini. Btw saya nontonnya secara ilegal di youtube, dengan kualitas grading belang-belang dan audio mixing yang kayak dibikin anak magang. Tapi kata sutradaranya emang yang di youtube itu belum finished material sih. Jadi saya gak akan kritisi teknis audio visual. Sori ya Pak Sutradara....di kampung saya gak ada bioskop.

APIKE:
-Ceritanya solid, konfliknya meyakinkan
-Karakter-karakternya rata-rata "tipis" tapi peran mereka rata dalam cerita. Aktornya juga membawakan peran dengan pas, nggak lebay
-Banyak hal Makassaristik kita bisa tahu mulai dari logat hingga nama-nama makanan
-Komedinya tidak latah, banyak yang unik (meski ya itu....tidak terlalu lucu)

KURANGE:
-Resolusi konflik terlalu mudah, gali lubang tutup lubang bareng-bareng
-Scoringnya semrawut, dikit-dikit musik
-Muka aktor ceweknya mirip semua, saya bingung mbedain Risna, Hasna dll.
-3 gadis ribut tetangga Ancha ni ngapain ya kerjanya?

KESIMPULAN:
-Sangat layak ditonton dan diperhitungkan
-True local flick!
-Jangan berekspektasi lebih dan jangan cerewet. Nikmati!






Baca

JOHN WICK Chapter 2 (2017, Chad Stahelski)

Film bagus apalagi dibuat ama orang yang ngerti banget sama dunia action secara langsung adalah kekerenan tersendiri. Chad, si sutradara adalah mantan stuntmannya Keanu Reeves dan dia paham soal filmnya. Dia punya taste dan style. Tak sia-sia naskah film action basic punya Derek Kolstad ia urus. Derek ni kayaknya penulis naskah film-film action ala kelas B gitu.

John Wick, "Wani nyedak taktembak koen!"

Sebelumnya saya sudah suka sama John Wick pertama. Saya agak kuatir Chad bisa mengulang sukses di film sekuelnya. Maklum, stuntman kan urusannya lebih ke otot motorik bukan pikiran analitik. Bikin film laga berkualitas, meski kita nggak nuntut intricated plot ala Nolan, setidaknya harus punya cerita yang solid. John Wick has it. Jika di film pertamanya dia adalah sosok mantan penjagal misterius, di chapter dua ini dunia gelapnya terbuka lebih luas. Jadi nggak misterius tapi tetap exciting sih.

John Wick punya mitologinya sendiri. Di dunia ini profesi pembunuh bayaran memiliki aturan dan kode etik. Tanpa itu, "We are only animals" katanya Winston, manajer Hotel Continental. Coba cermati sebagian dari mitologi dunia para assassin ala John wick ini:

-Hotel Continental: Tempat transit dan berlindung para pembunuh bayaran. Hotel ini punya cabang di luar negeri. Aturan yang berlaku adalah tak boleh ada "bisnis" di dalam dan di area hotel. Gak boleh asal ngebunuh. Kalo ngelanggar bakal "excommunicado", status dicabut dan tak dapat perlindungan apapun.
-Koin emas khusus: Ini adalah mata uang khusus yang berlaku di dunia para assassin. Buat membayar jasa apapun.
-Marker: Adalah janji memenuhi permintaan pada seseorang. Ditandai dengan cap darah. Itu berarti hutang yang harus dibayar. Marker ini yang nanti menjadi plot utama kisah John Wick chapter 2.
-High Tables: Di chapter ini masih misterius detail fungsinya. Mereka sepertinya puncak pimpinan dunia hitam secara internasional.

SINEMATOGRAFI
Sinematografernya John Wick, Dan Laustsen berhasil memanjakan mata saya dengan warna warni biru, merah dan ungu kayak di poster film Neon Demon-nya Nicolas Winding Refn. Agak sulit menangkap action scene yang banyak dilakukan gelap-gelapan, untungnya Dan Lautsen mampu membuat perimbangan antara gerak, warna dan cahaya. Pertarungan di museum cermin (yang diakui sebagai tribute to Enter The Dragon-nya Bruce Lee) sangat artsy. Nyeni dan berkelas. Soal sinematografi gelut, rupanya udah diajari sama si Chad gimana carai mengambil gambar tarung yang baik. Koreografi di film John Wick sangat technical dan detail jadi eman-eman kalo ngambil gambarnya shaky ala Bourne-nya Paul Greengrass. Bahkan untuk The Raid aja saya masih merasa sinematografinya eman. Banyak detail koreo yang kurang ketangkep.

KOREOGRAFI DAN DISAIN LAGA
Anda yang akrab sama Jiu Jitsu, Sambo, Judo, Aiki Jutsu, Jeet Kune Do dan Eskrima pasti akrab dengan teknik-teknik yang digelar. Bantingan, jegalan, lontaran dan "Silek Bedil" alias Gun-fu versi John Wick sangat exciting. Serasa main game. Nggak heran, Om Keanu dihajar habis-habisan dengan latihan keras mulai dari mbedil hingga BJJ. Nggak tanggung-tanggung, yang ngajarin BJJ adalah Machado Brothers, bo'.

Mungkin karena John Wick mengutamakan hand to hand and gun combat, jadi stunt tabrak dan kebut-kebutan kurang banyak. Ada sih dan lumayan tapi Bad Boys-nya Michael Bay lebih seru kalo urusan kebut-kebutan. Tapi jangan coba-coba ngasih John Wick 3 ke Michael Bay ya.

Tak lengkap muji-muji tanpa ngasih kurangnya. Here it is what John Wick Chapter 2 missed:

-Over exploitation about John Wick background can be exciting but can be devastating also. Ya karena jadi gak misterius lagi. ada yang bilang film pertama itu udah cukup jadi Cult. gak perlu ada chapter 2. Well, saya sih terhibur sama chapter 2 tapi saya juga menyimpan kekhawatiran. Gimana kalo kharisma misterius John Wick bakal hilang di Chapter 3? Gimana nanti jika yang tersisa cuma plot padahal nilai badass John Wick itu pada awalnya ya karakternya?

-Pada beberapa sisi John Wick ini terlalu sakti. Susah mati. Ndilalah lawannya kok ya pada gagal nembak kepalanya John Wick yang tidak terlindung sama kain jas special pesen di Roma. Ini membuat karakternya jadi "melangit".

-John Wick nyaris gak punya titik lemah. Anjingnya dibunuh, dia bakal tambah kuat dan ngamuk. Alhamdulillah anjingnya yang baru nggak dibunuh. Dengan demikian sesulit apa hidup John Wick, kita pasti optimis...John will be alright, his enemies will be fucked up. Senggol modar! Demikian kata John Wick ke Winston kalo ada yang coba-coba berani ganggu hidupnya.

-John nggak punya lawan sebanding, physically and intellectually. Cassian (pengawalnya Giana)? Nggak juga. Lama-lama dia bisa jadi dewa kayak Legendary Chuck Norris atau Yang Terjago Di Kolong Langit Sinema Steven Seagal. Padahal John Wick pertama itu kharismanya adalah kehidupan pembunuh yang "gritty".

Kesimpulan:
-Wajib tonton untuk semua pecinta action bedil-bedilan dan MMA. Meski bukan sajian berat layaknya film-film Nolan, John Wick adalah well made action movie. It has taste and style. Classy. Kalo anda asupannya cuma vintage Hong Kong style action, mungkin anda nggak cocok sama film ini.
-Intricated plot? Yup ada dikit. Bahkan lumayan untuk film action simpel kayak gini. The plot is good actually.


Film bagus apalagi dibuat ama orang yang ngerti banget sama dunia action secara langsung adalah kekerenan tersendiri. Chad, si sutradara adalah mantan stuntmannya Keanu Reeves dan dia paham soal filmnya. Dia punya taste dan style. Tak sia-sia naskah film action basic punya Derek Kolstad ia urus. Derek ni kayaknya penulis naskah film-film action ala kelas B gitu.

John Wick, "Wani nyedak taktembak koen!"

Sebelumnya saya sudah suka sama John Wick pertama. Saya agak kuatir Chad bisa mengulang sukses di film sekuelnya. Maklum, stuntman kan urusannya lebih ke otot motorik bukan pikiran analitik. Bikin film laga berkualitas, meski kita nggak nuntut intricated plot ala Nolan, setidaknya harus punya cerita yang solid. John Wick has it. Jika di film pertamanya dia adalah sosok mantan penjagal misterius, di chapter dua ini dunia gelapnya terbuka lebih luas. Jadi nggak misterius tapi tetap exciting sih.

John Wick punya mitologinya sendiri. Di dunia ini profesi pembunuh bayaran memiliki aturan dan kode etik. Tanpa itu, "We are only animals" katanya Winston, manajer Hotel Continental. Coba cermati sebagian dari mitologi dunia para assassin ala John wick ini:

-Hotel Continental: Tempat transit dan berlindung para pembunuh bayaran. Hotel ini punya cabang di luar negeri. Aturan yang berlaku adalah tak boleh ada "bisnis" di dalam dan di area hotel. Gak boleh asal ngebunuh. Kalo ngelanggar bakal "excommunicado", status dicabut dan tak dapat perlindungan apapun.
-Koin emas khusus: Ini adalah mata uang khusus yang berlaku di dunia para assassin. Buat membayar jasa apapun.
-Marker: Adalah janji memenuhi permintaan pada seseorang. Ditandai dengan cap darah. Itu berarti hutang yang harus dibayar. Marker ini yang nanti menjadi plot utama kisah John Wick chapter 2.
-High Tables: Di chapter ini masih misterius detail fungsinya. Mereka sepertinya puncak pimpinan dunia hitam secara internasional.

SINEMATOGRAFI
Sinematografernya John Wick, Dan Laustsen berhasil memanjakan mata saya dengan warna warni biru, merah dan ungu kayak di poster film Neon Demon-nya Nicolas Winding Refn. Agak sulit menangkap action scene yang banyak dilakukan gelap-gelapan, untungnya Dan Lautsen mampu membuat perimbangan antara gerak, warna dan cahaya. Pertarungan di museum cermin (yang diakui sebagai tribute to Enter The Dragon-nya Bruce Lee) sangat artsy. Nyeni dan berkelas. Soal sinematografi gelut, rupanya udah diajari sama si Chad gimana carai mengambil gambar tarung yang baik. Koreografi di film John Wick sangat technical dan detail jadi eman-eman kalo ngambil gambarnya shaky ala Bourne-nya Paul Greengrass. Bahkan untuk The Raid aja saya masih merasa sinematografinya eman. Banyak detail koreo yang kurang ketangkep.

KOREOGRAFI DAN DISAIN LAGA
Anda yang akrab sama Jiu Jitsu, Sambo, Judo, Aiki Jutsu, Jeet Kune Do dan Eskrima pasti akrab dengan teknik-teknik yang digelar. Bantingan, jegalan, lontaran dan "Silek Bedil" alias Gun-fu versi John Wick sangat exciting. Serasa main game. Nggak heran, Om Keanu dihajar habis-habisan dengan latihan keras mulai dari mbedil hingga BJJ. Nggak tanggung-tanggung, yang ngajarin BJJ adalah Machado Brothers, bo'.

Mungkin karena John Wick mengutamakan hand to hand and gun combat, jadi stunt tabrak dan kebut-kebutan kurang banyak. Ada sih dan lumayan tapi Bad Boys-nya Michael Bay lebih seru kalo urusan kebut-kebutan. Tapi jangan coba-coba ngasih John Wick 3 ke Michael Bay ya.

Tak lengkap muji-muji tanpa ngasih kurangnya. Here it is what John Wick Chapter 2 missed:

-Over exploitation about John Wick background can be exciting but can be devastating also. Ya karena jadi gak misterius lagi. ada yang bilang film pertama itu udah cukup jadi Cult. gak perlu ada chapter 2. Well, saya sih terhibur sama chapter 2 tapi saya juga menyimpan kekhawatiran. Gimana kalo kharisma misterius John Wick bakal hilang di Chapter 3? Gimana nanti jika yang tersisa cuma plot padahal nilai badass John Wick itu pada awalnya ya karakternya?

-Pada beberapa sisi John Wick ini terlalu sakti. Susah mati. Ndilalah lawannya kok ya pada gagal nembak kepalanya John Wick yang tidak terlindung sama kain jas special pesen di Roma. Ini membuat karakternya jadi "melangit".

-John Wick nyaris gak punya titik lemah. Anjingnya dibunuh, dia bakal tambah kuat dan ngamuk. Alhamdulillah anjingnya yang baru nggak dibunuh. Dengan demikian sesulit apa hidup John Wick, kita pasti optimis...John will be alright, his enemies will be fucked up. Senggol modar! Demikian kata John Wick ke Winston kalo ada yang coba-coba berani ganggu hidupnya.

-John nggak punya lawan sebanding, physically and intellectually. Cassian (pengawalnya Giana)? Nggak juga. Lama-lama dia bisa jadi dewa kayak Legendary Chuck Norris atau Yang Terjago Di Kolong Langit Sinema Steven Seagal. Padahal John Wick pertama itu kharismanya adalah kehidupan pembunuh yang "gritty".

Kesimpulan:
-Wajib tonton untuk semua pecinta action bedil-bedilan dan MMA. Meski bukan sajian berat layaknya film-film Nolan, John Wick adalah well made action movie. It has taste and style. Classy. Kalo anda asupannya cuma vintage Hong Kong style action, mungkin anda nggak cocok sama film ini.
-Intricated plot? Yup ada dikit. Bahkan lumayan untuk film action simpel kayak gini. The plot is good actually.


Baca

KONG: SKULL ISLAND (2017, Jordan Vogt-Roberts)

Setelah ngantuk berat nonton Godzilla bikinan Gareth Edwards, harapan saya cerah lagi setelah nonton KONG: SKULL ISLAND. Ini film kaiju murni, nggak pake ribet character development ama intricated plot. Kaijunya nggak sok misterius dan muncul malem-malem. Di awal-awal scene wujudnya udah langsung ketahuan. Disain Kong lebih mendekati versi aslinya, yakni monyet raksasa berjalan tegak (dan tanpa titit). Sayangnya makhluk-makhluknya nggak seaneh dan sebanyak di film Peter Jackson. Bahkan kaiju kadal bipedal yang jadi musuh Kong menurut selera saya kurang badass bentuknya. Ada beberapa scene yang bikin saya excited. Yaitu aerial shot yang mengingatkan pada adegan Jurassic Park saat John Hammond membawa Dr. Grant ke Isla Nubar. Tidak semegah Apocalypse Now namun sebanding sama Platoon.

Kong melawan cicak raksasa


Baik kisah Godzilla dan Kong adalah metafor untuk perimbangan kekuatan alam, semacam Yin dan Yang. Jika kita merusak alam, ia akan bereaksi kembali dengan besar tenaga sebanding untuk membuat posisi semesta seimbang. Itulah yang membuat saya menyukai film Kong ini. Kehadirannya di sebuah pulau yang tertutup badai petir bukan sekadar soal makhluk besar yang suka ngamuk. Kong adalah penyeimbang kekuatan yang tak kalah mengerikannya, si kadal buntung. Kehadiran tim peneliti plus militer ke pulau itu juga bukan tanpa alasan yang kuat. Mereka berlomba agar nggak kedahuluan sama Rusia. Jadi ide cerita menggelikan seperti "tim pencari monster" terasa sangat masuk akal dan meyakinkan di film ini.

Buat saya pribadi, backstory yang solid lah yang bikin saya tergila-gila sama kaiju. Sampe-sampe saya tuh koleksi figure, bikin patung, nggambar dll. bertema kaiju. Godzilla adalah favorit awal saya. Kayaknya saya juga akan memasukkan Kong ke dalam daftar saya.

Okay. these what I can say about Kong.

Apike:
-Kong super badass, jago atletik dan MMA.
-Signature tepuk dada KingKong klasik ada dan keren
-Pertarungan kaiju terjadi siang terang benderang, nggak gelap-gelapan
-Kong jembutnya di sekujur badan, jadi tititnya kagak dipamerin
-Unsur klasik karakter Kong, kayak demen ama cewek masih dipertahankan dalam porsi nggak lebay
-Kong: Skull Island lebih kuat bercerita soal Kong daripada para karakter manusianya. Gak papa, emang film kaiju, bukan drama dengan bintang tamu kaiju.
-Di film ini nyawa manusia lumayan murah, entah itu bikin bagus atau enggak
-Karakter yang diperankan Samuel L. Jackson ngena banget, bikin jengkel, marah
-Post creditnya bikin para kaiju lovers merinding

Kurange:
-Musuh utamanya kurang sangar penampakannya, kayak cicak kesetrum garing
-Koreografi laganya lebay dan hiperkinetik
-Kurang banyak monster-monster pendamping, kurang aneh
-Karakter manusianya tipis-tipis, meski fokus kita si Kong tapi eman aja kalo mereka cuma jadi pion-pion plot
-Alam Skull Island-nya kurang liar. Masih liar alamnya versi Peter Jackson
-Kebudayaan penduduk nativenya kurang dieksplor, misalnya kenapa mereka gak pernah bicara

Kesimpulan:
-Recommended for monster/kaiju fans but not for film critic cerewet yang suka nuntut macem-macem.

Setelah ngantuk berat nonton Godzilla bikinan Gareth Edwards, harapan saya cerah lagi setelah nonton KONG: SKULL ISLAND. Ini film kaiju murni, nggak pake ribet character development ama intricated plot. Kaijunya nggak sok misterius dan muncul malem-malem. Di awal-awal scene wujudnya udah langsung ketahuan. Disain Kong lebih mendekati versi aslinya, yakni monyet raksasa berjalan tegak (dan tanpa titit). Sayangnya makhluk-makhluknya nggak seaneh dan sebanyak di film Peter Jackson. Bahkan kaiju kadal bipedal yang jadi musuh Kong menurut selera saya kurang badass bentuknya. Ada beberapa scene yang bikin saya excited. Yaitu aerial shot yang mengingatkan pada adegan Jurassic Park saat John Hammond membawa Dr. Grant ke Isla Nubar. Tidak semegah Apocalypse Now namun sebanding sama Platoon.

Kong melawan cicak raksasa


Baik kisah Godzilla dan Kong adalah metafor untuk perimbangan kekuatan alam, semacam Yin dan Yang. Jika kita merusak alam, ia akan bereaksi kembali dengan besar tenaga sebanding untuk membuat posisi semesta seimbang. Itulah yang membuat saya menyukai film Kong ini. Kehadirannya di sebuah pulau yang tertutup badai petir bukan sekadar soal makhluk besar yang suka ngamuk. Kong adalah penyeimbang kekuatan yang tak kalah mengerikannya, si kadal buntung. Kehadiran tim peneliti plus militer ke pulau itu juga bukan tanpa alasan yang kuat. Mereka berlomba agar nggak kedahuluan sama Rusia. Jadi ide cerita menggelikan seperti "tim pencari monster" terasa sangat masuk akal dan meyakinkan di film ini.

Buat saya pribadi, backstory yang solid lah yang bikin saya tergila-gila sama kaiju. Sampe-sampe saya tuh koleksi figure, bikin patung, nggambar dll. bertema kaiju. Godzilla adalah favorit awal saya. Kayaknya saya juga akan memasukkan Kong ke dalam daftar saya.

Okay. these what I can say about Kong.

Apike:
-Kong super badass, jago atletik dan MMA.
-Signature tepuk dada KingKong klasik ada dan keren
-Pertarungan kaiju terjadi siang terang benderang, nggak gelap-gelapan
-Kong jembutnya di sekujur badan, jadi tititnya kagak dipamerin
-Unsur klasik karakter Kong, kayak demen ama cewek masih dipertahankan dalam porsi nggak lebay
-Kong: Skull Island lebih kuat bercerita soal Kong daripada para karakter manusianya. Gak papa, emang film kaiju, bukan drama dengan bintang tamu kaiju.
-Di film ini nyawa manusia lumayan murah, entah itu bikin bagus atau enggak
-Karakter yang diperankan Samuel L. Jackson ngena banget, bikin jengkel, marah
-Post creditnya bikin para kaiju lovers merinding

Kurange:
-Musuh utamanya kurang sangar penampakannya, kayak cicak kesetrum garing
-Koreografi laganya lebay dan hiperkinetik
-Kurang banyak monster-monster pendamping, kurang aneh
-Karakter manusianya tipis-tipis, meski fokus kita si Kong tapi eman aja kalo mereka cuma jadi pion-pion plot
-Alam Skull Island-nya kurang liar. Masih liar alamnya versi Peter Jackson
-Kebudayaan penduduk nativenya kurang dieksplor, misalnya kenapa mereka gak pernah bicara

Kesimpulan:
-Recommended for monster/kaiju fans but not for film critic cerewet yang suka nuntut macem-macem.

Baca

HARGA SENI

Saya sering mendengar keluhan dari teman-teman seniman (terutama) disainer grafis, baik yang profesional maupun yang amatir. Begini... Sering ada sahabat yang dengan entengnya minta dibuatin gambar, logo, disain atau cuma minta dirapihkan disain yang sudah ada.
Dumengkul Congoringbutoterong

"Eh lu bikinin gue logo komunitas gue, dong..."

"Oke sip. Mau jadi kapan?"

"Ya secepatnya...kan mo gue pake nyablon kaos."

"Oke, ntar gue kasih lu nomor rekening gue yak.."

"Rekening buat ape?"

"Gak butuh rekening gue? Mo kasih cash?"

"Emang gue kudu bayar? Kan cuma gambar garis-garis doang. Coba lu lihat ni logo, kan cuma garis-garis doang..."

"Ya tapi lu tetep make jasa disain gue sekalipun cuma satu garis. Logo Nike juga cuma satu garis harganya mahal loh.."

"Alah mung ngono wae mbayar, Bro? Lagian lu ama gue kan wis kekancan ket suwe..."

Aduh... :D 

Jadi rupanya logo yang cuma "garis-garis" itu dianggap gratis. Memang masyarakat kita sekalipun mengalami "revolusi konsumsi teknologi" (konsumsi sekali lagi KONSUMSI ya), pola pikirnya masih tertinggal di era swasembada beras repelita jaman bapak pembangunan :D jaman dulu itu semua dilakukan berdasarkan azas gotong royong dan kerja bakti RT. Ora ono duite.

Seni sebagai komoditas bukanlah barang atau jasa yang jelas penentuan harganya. Penentuan harga seni emang agak absurd. Temen saya utak-atik logo aja bisa beli rumah....sementara tetangga ada yang kerja banting tulang sepanjang hari kondisinya begitu-gitu aja. Tapi ini juga bukan berarti semua seniman itu berlimpah pemasukannya.

Jadi darimana menentukan harga karya seni?

Kenapa bikin video company profile lima menit harganya jutaan, berkali-kali lipat dibanding video mantenan? Kenapa bikin logo or disain cuma sak-crit nilainya jutaan dibanding nglukis pot-pot pinggir jalan sekabupaten?

NILAI

Bisnis seni adalah bisnis gagasan atau ide-ide. Nilai ide tidak selalu terikat oleh alat pembuat maupun materi wadahnya. Contohnya lukisan. Harga kanvas itu paling cuma beberapa ribu. Cat yang mahal mungkin sampe ratusan ribu. Tapi sebuah lukisan karya seorang seniman bisa berjuta-juta. Ini masih bisa lebih gila lagi. Lukisan corat-coret nggak jelas seniman besar (misal karyanya Pollock), jauh lebih mahal sama karya mahasiswa pelukis hiper realis yang kuliah 5 tahun di ISI. Lho kok bisa corat-coret harganya berjuta-juta? 

Karena nilai seni itu emang tidak pada aspek materialnya. Agak mirip kayak harga barang antik dan barang memorabilia. Pensil yang harganya cuma seribuan tapi kalo itu pensil yang pernah dipake Bung Karno nggambar ya wajar kalo bisa naik ratusan kali lipat harganya. 

Ada pula hubungan antara harga sebuah karya dengan prestise sang seniman. Makin terkenal, karya seseorang akan semakin mahal. Apalagi kalo udah mati. Tapi jangan coba-coba mati supaya mo jual karya biar mahal ya... Ada rahasia umum gini...beberapa seniman kaya udah gak sempet nglukis, dia punya gagasan lantas mbayar seorang pelukis junior bikin lukisan buatnya. Seniman tinggal bubuhkan tanda tangan. Mahal juga harganya. Jadi di sini seniman juga semacam director kayak di film. Dia yang punya konsep, orang lain yang eksekusi. Dan konsep itu harganya mahal. Dan mahalnya itu karena prestise sang seniman. Makin senior, makin mateng, makin mahal.

Itu tadi saya kasih contoh yang fine art ya? Kalo disain gimana?

Disain beda sama fine art. Kalo fine art yang dinilai adalah gagasannya, disain lebih ke nilai fungsi. Misalnya... bikin perguruan silat terus logonya pisang kan ya nggak mungkin... terus bikin usaha kripik dikasih logo palu arit kan ya nggak pantes. Nilai disain itu secara nggak sadar kita rasakan sehari-hari. Bayangin aja ngetik di laptop font-nya nggak serapih ini, atau smartphone bentuknya lamtoro. Tanpa sadar kita sudah memakai nilai seni dari sebuah disain. Kenyamanan anda sudah dibayar oleh pabrik-pabrik yang menggaji disainer.

Film, komik, novel gimana? Fungsinya emang penting kok bisa mahal gitu?

Seninya film, komik dan novel beda lagi ama disain dan fine art. Sama-sama yang dijual adalah gagasan tapi karya-karya tersebut sifatnya hiburan. Akan tetapi bukan sembarang hiburan, ada nilai intelektual di situ. Oke...hiburan mah nggak harus seni... mbakar kembang saat demo juga bisa jadi hiburan. Namun intelektualitas adalah tuntutan peradaban mendasar dalam masyarakat...bahkan untuk hiburan sekalipun! 

Tanpa intelektualitas (baca kebudayaan), kita cuma akan menjadi segerombolan binatang berakal. Di sinilah fungsi seniman. Menjaga "sifat kemanusiaan" masyarakat. 

Anda bunuh seniman, maka anda telah membunuh kebudayaan, dan ujungnya anda akan membinatangkan masyarakat.

Nilai kertas, kaset dll semua itu nilai benda, tapi apa yang membuat anda terhibur, merenung, tertawa, tercerahkan dll itulah yang berharga. Itu yang membuat membelinya bukan sekadar beli kaset dan kertas. Anda membeli untuk membayar pemakaian sebuah ide.

PROSES

Dalam membuat karya seni ada proses. Ada proses yang sifatnya individu, ada yang kolektif. Individual di saat sang seniman mencari ide-ide. Kolektif adalah saat sang seniman berkolaborasi dengan banyak orang.

Ada seni yang cukup dilakukan individu, misalnya melukis. Ada yang sifatnya kolektif seperti bikin film. Bahkan komik yang bisa dilakukan individu, kalo skalanya industri dilakukan oleh tim; penciler sendiri, penulis sendiri, inker sendiri, color sendiri dst.

Anda perlu tahu ada seniman yang profesional dan ada yang amatir. Yang amatir pun ada yang emang cuma hobby, ada yang benar-benar komitmen ama kegiatannya. Yang komitmen ini beda tipis ama yang profesional. Bedanya hanya dalam bayaran saja. Yang komitmen ini ndak bisa seenaknya juga kita kasih harga hehehe (kecuali anda sadis)...

"Mas, nggak profesional kan? Saya ganti uang rokok aja ya?"

Ya kalo yang minta gebetan ya gak papa sih gratis...apa sih yang enggak buat kamu?

Harga sebuah seni juga nggak bisa dipreteli kayak beli sparepart mesin.

"Mas, kamu yang nyuting, tapi kamera pake punyaku, tripod punyaku, artisnya tetanggaku, lagunya aku yang bikin...jadi tadi ongkos bikin videoklipnya 5 juta bisa kurang kan ya?"

"5 juta itu hanya jasa videografinya, Bro."

"Yo wis..aku yang ngedit"

"Editing mah udah masuk ke kesuluruhan perhitungan, Bro. Lagian juga gak bisa dipretelin gitu lah.."

"Yo wis Mas... namaku nggak usah ditulis aja. Pake namanya situ. Gimana? Bisa kurang?"

"Gini aja...(udah taraf ultra mangkel) video klipnya ntar saya kasih bonus aplikasi jurus dumengkul congoringbutoterong...kasih saya uang rokok aja."

Meskipun begitu...ketika seniman ngasih harga, untuk sesuatu yang kayaknya remeh...pelajarilah darimana harga itu diajukan. Seniman juga tak bisa seenaknya udelnya menentukan harga sewenang-wenang. Baru blajar photoshop kemaren sore ya nggak mungkin dong ngasih nilai setara pekerja kantor disain. Baru blajar pegang kamera sebulan lalu ya nggak mungkin dong kasih tarif setara Darwis Triadi. Tapi bisa aja hal-hal "X" yang membuat harga itu jadi gak wajar. Dan itulah uniknya seni.

Gimana? Masih berpendapat, "Mung ngono wae"?

Saya sering mendengar keluhan dari teman-teman seniman (terutama) disainer grafis, baik yang profesional maupun yang amatir. Begini... Sering ada sahabat yang dengan entengnya minta dibuatin gambar, logo, disain atau cuma minta dirapihkan disain yang sudah ada.
Dumengkul Congoringbutoterong

"Eh lu bikinin gue logo komunitas gue, dong..."

"Oke sip. Mau jadi kapan?"

"Ya secepatnya...kan mo gue pake nyablon kaos."

"Oke, ntar gue kasih lu nomor rekening gue yak.."

"Rekening buat ape?"

"Gak butuh rekening gue? Mo kasih cash?"

"Emang gue kudu bayar? Kan cuma gambar garis-garis doang. Coba lu lihat ni logo, kan cuma garis-garis doang..."

"Ya tapi lu tetep make jasa disain gue sekalipun cuma satu garis. Logo Nike juga cuma satu garis harganya mahal loh.."

"Alah mung ngono wae mbayar, Bro? Lagian lu ama gue kan wis kekancan ket suwe..."

Aduh... :D 

Jadi rupanya logo yang cuma "garis-garis" itu dianggap gratis. Memang masyarakat kita sekalipun mengalami "revolusi konsumsi teknologi" (konsumsi sekali lagi KONSUMSI ya), pola pikirnya masih tertinggal di era swasembada beras repelita jaman bapak pembangunan :D jaman dulu itu semua dilakukan berdasarkan azas gotong royong dan kerja bakti RT. Ora ono duite.

Seni sebagai komoditas bukanlah barang atau jasa yang jelas penentuan harganya. Penentuan harga seni emang agak absurd. Temen saya utak-atik logo aja bisa beli rumah....sementara tetangga ada yang kerja banting tulang sepanjang hari kondisinya begitu-gitu aja. Tapi ini juga bukan berarti semua seniman itu berlimpah pemasukannya.

Jadi darimana menentukan harga karya seni?

Kenapa bikin video company profile lima menit harganya jutaan, berkali-kali lipat dibanding video mantenan? Kenapa bikin logo or disain cuma sak-crit nilainya jutaan dibanding nglukis pot-pot pinggir jalan sekabupaten?

NILAI

Bisnis seni adalah bisnis gagasan atau ide-ide. Nilai ide tidak selalu terikat oleh alat pembuat maupun materi wadahnya. Contohnya lukisan. Harga kanvas itu paling cuma beberapa ribu. Cat yang mahal mungkin sampe ratusan ribu. Tapi sebuah lukisan karya seorang seniman bisa berjuta-juta. Ini masih bisa lebih gila lagi. Lukisan corat-coret nggak jelas seniman besar (misal karyanya Pollock), jauh lebih mahal sama karya mahasiswa pelukis hiper realis yang kuliah 5 tahun di ISI. Lho kok bisa corat-coret harganya berjuta-juta? 

Karena nilai seni itu emang tidak pada aspek materialnya. Agak mirip kayak harga barang antik dan barang memorabilia. Pensil yang harganya cuma seribuan tapi kalo itu pensil yang pernah dipake Bung Karno nggambar ya wajar kalo bisa naik ratusan kali lipat harganya. 

Ada pula hubungan antara harga sebuah karya dengan prestise sang seniman. Makin terkenal, karya seseorang akan semakin mahal. Apalagi kalo udah mati. Tapi jangan coba-coba mati supaya mo jual karya biar mahal ya... Ada rahasia umum gini...beberapa seniman kaya udah gak sempet nglukis, dia punya gagasan lantas mbayar seorang pelukis junior bikin lukisan buatnya. Seniman tinggal bubuhkan tanda tangan. Mahal juga harganya. Jadi di sini seniman juga semacam director kayak di film. Dia yang punya konsep, orang lain yang eksekusi. Dan konsep itu harganya mahal. Dan mahalnya itu karena prestise sang seniman. Makin senior, makin mateng, makin mahal.

Itu tadi saya kasih contoh yang fine art ya? Kalo disain gimana?

Disain beda sama fine art. Kalo fine art yang dinilai adalah gagasannya, disain lebih ke nilai fungsi. Misalnya... bikin perguruan silat terus logonya pisang kan ya nggak mungkin... terus bikin usaha kripik dikasih logo palu arit kan ya nggak pantes. Nilai disain itu secara nggak sadar kita rasakan sehari-hari. Bayangin aja ngetik di laptop font-nya nggak serapih ini, atau smartphone bentuknya lamtoro. Tanpa sadar kita sudah memakai nilai seni dari sebuah disain. Kenyamanan anda sudah dibayar oleh pabrik-pabrik yang menggaji disainer.

Film, komik, novel gimana? Fungsinya emang penting kok bisa mahal gitu?

Seninya film, komik dan novel beda lagi ama disain dan fine art. Sama-sama yang dijual adalah gagasan tapi karya-karya tersebut sifatnya hiburan. Akan tetapi bukan sembarang hiburan, ada nilai intelektual di situ. Oke...hiburan mah nggak harus seni... mbakar kembang saat demo juga bisa jadi hiburan. Namun intelektualitas adalah tuntutan peradaban mendasar dalam masyarakat...bahkan untuk hiburan sekalipun! 

Tanpa intelektualitas (baca kebudayaan), kita cuma akan menjadi segerombolan binatang berakal. Di sinilah fungsi seniman. Menjaga "sifat kemanusiaan" masyarakat. 

Anda bunuh seniman, maka anda telah membunuh kebudayaan, dan ujungnya anda akan membinatangkan masyarakat.

Nilai kertas, kaset dll semua itu nilai benda, tapi apa yang membuat anda terhibur, merenung, tertawa, tercerahkan dll itulah yang berharga. Itu yang membuat membelinya bukan sekadar beli kaset dan kertas. Anda membeli untuk membayar pemakaian sebuah ide.

PROSES

Dalam membuat karya seni ada proses. Ada proses yang sifatnya individu, ada yang kolektif. Individual di saat sang seniman mencari ide-ide. Kolektif adalah saat sang seniman berkolaborasi dengan banyak orang.

Ada seni yang cukup dilakukan individu, misalnya melukis. Ada yang sifatnya kolektif seperti bikin film. Bahkan komik yang bisa dilakukan individu, kalo skalanya industri dilakukan oleh tim; penciler sendiri, penulis sendiri, inker sendiri, color sendiri dst.

Anda perlu tahu ada seniman yang profesional dan ada yang amatir. Yang amatir pun ada yang emang cuma hobby, ada yang benar-benar komitmen ama kegiatannya. Yang komitmen ini beda tipis ama yang profesional. Bedanya hanya dalam bayaran saja. Yang komitmen ini ndak bisa seenaknya juga kita kasih harga hehehe (kecuali anda sadis)...

"Mas, nggak profesional kan? Saya ganti uang rokok aja ya?"

Ya kalo yang minta gebetan ya gak papa sih gratis...apa sih yang enggak buat kamu?

Harga sebuah seni juga nggak bisa dipreteli kayak beli sparepart mesin.

"Mas, kamu yang nyuting, tapi kamera pake punyaku, tripod punyaku, artisnya tetanggaku, lagunya aku yang bikin...jadi tadi ongkos bikin videoklipnya 5 juta bisa kurang kan ya?"

"5 juta itu hanya jasa videografinya, Bro."

"Yo wis..aku yang ngedit"

"Editing mah udah masuk ke kesuluruhan perhitungan, Bro. Lagian juga gak bisa dipretelin gitu lah.."

"Yo wis Mas... namaku nggak usah ditulis aja. Pake namanya situ. Gimana? Bisa kurang?"

"Gini aja...(udah taraf ultra mangkel) video klipnya ntar saya kasih bonus aplikasi jurus dumengkul congoringbutoterong...kasih saya uang rokok aja."

Meskipun begitu...ketika seniman ngasih harga, untuk sesuatu yang kayaknya remeh...pelajarilah darimana harga itu diajukan. Seniman juga tak bisa seenaknya udelnya menentukan harga sewenang-wenang. Baru blajar photoshop kemaren sore ya nggak mungkin dong ngasih nilai setara pekerja kantor disain. Baru blajar pegang kamera sebulan lalu ya nggak mungkin dong kasih tarif setara Darwis Triadi. Tapi bisa aja hal-hal "X" yang membuat harga itu jadi gak wajar. Dan itulah uniknya seni.

Gimana? Masih berpendapat, "Mung ngono wae"?

Baca
 
Copyright © 2011.   JAVORA INSTITUTE - All Rights Reserved